Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

BUAYA SANG RAJA PATI

Oleh: Riswo,S.E., M.Si

Di sebuah desa kecil,yang dikelilingi aliran sungai, tinggalah sepasang suami istri yang telah bertahun-tahun menikah, namun belum juga dikaruniai momongan. Mereka adalah Pak Nasib dan Bu Nasih, yang sehari-hari bekerja sebagai pencari ikan, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Siang dan malam pasangan suami istri ini, selalu memanjatkan do’a, memohon kepada Sang Pencipta agar dikaruniai keturunan. "Ya Allah, Ya Tuhan ku. Berilah kami seorang anak, agar kami tidak lagi merasa kesepian.”

Begitulah yang mereka lakukan, siang dan malam selalu memanjatkan do’a. Hingga suatu ketika Bu Nasih bermimpi, didatangi oleh seorang Kakek Tua, berpakaian serba hitam.“Wahai, Cucu ku carilah sebutir telur buaya, rebus dan makanlah. Niscaya kamu akan mempunyai seorang anak.”

Pada pagi harinya, Bu Nasih menceritakan prihal mimpinya kepada suaminya. Pak Nasib mendengarkan cerita Bu Nasih dengan wajah berseri-seri. “Bagaimana menurut Bapak? Apakah mimpi ini sebagai petunjuk, bahwa kita akan mempunyai seorang anak?”

“Tidak ada salahnya kita mencobanya, Bu. Tapi dari mana kita mendapatkan telur buaya itu?” Pak Nasib tampak berpikir keras.

Hari itu juga Pak Nasib tidak mau buang-buang waktu. Ia membuat rakit dari bambu, lalu menyusuri sungai. Seharian melakukan pencarian, namun tidak membuahkan hasil.

Keesokan harinya, Pak Nasib kembali melakukan pencarian, menyusuri sepanjang sungai. Dari mulai hulu sampai ke hilir, begitu seterusnya. Pandanganya menyapu ke seluruh sudut sunga, lagi-lagi ia harus menelan pil pahit.

Hingga hari ketujuh, laki-laki parubaya itu kembali menyusuri sungai. Tiba-tiba hujan deras disertai angin topan, menyandra dirinya. Ia menghentikan laju rakitnya, dan menambatkannya pada sebuah pohon besar, lalu berteduh di bawahnya.

Tiba-tiba, matanya menangkap sepasang benda bercahaya, dari balik semak-semak. Karenan penasaran, Pak Nasib mendekatinya, dan ternyata sepasang benda bercahaya itu adalah sepasang mata buaya betina yang sedang bersarang. "Wah, ternyata seekor buaya betina, sedang bersarang." Gumam Pak Nasib.

Pak Nasib mengusir buaya betina itu agar keluar dari sarangnya. Sayangnya buaya itu tak mau pergi, malah mengibaskan ekornya, menyerang Pak Nasib. Pak Nasib tidak mau gegabah. Ia mencabut goloknya, dan mencincang buaya betina itu hingga tewas.

Bangkai buaya itu dikeluarkan dari sarangnya, dan didapat sebutir telur dari dalam sarang. Dengan sedikit tangan gemetar, Pak Nasib mengambilnya, dan membawanya pulang. “Mudah-mudahan dengan telur buaya ini saya akan punya anak,” gumam Pak Nasib, girang.

Bu Nasih menyambut suaminya dengan senyum semringah. Ia mencuci dan merebus telur buaya itu, lalu menyantapnya. Tiba-tiba tubuhnya serasa terbakar, Bu Nasih mengerang kepanasan. “Panas, panas, panas, panas.”

Pak Nasib bingung harus berbuat apa, nalurinya menuntun pada ramuan obat tradisional warisan leluhurnya. Ia mengoleskan ke sekujur tubuh istrinya, yang terasa panas. Dalam sekejap, rasa panasnya menghilang, tubuhnya serasa remuk seperti habis dipukuli oleh orang sekampung.

Sebulan kemudian Bu Nasih mutah-mutah, dan ternyata telah mengandung seorang bayi. Pak Nasib sangat bahagia mendengar istrinya sedang mengandung. Ia berpesan kepada istrinya agar menjaga kandungannya, dan tidak melakukan pekerjaan yang berat.

Seiring berjalannya waktu, kandungan Bu Nasih kian membesar. Tepat diusia sembilan bulan, Bu Nasih mengerang kesakitan. Dengan cekatan, Pak Nasib memanggil dukun bayi, untuk menolong istrinya.

Saat istrinya sedang berjuang melahirkan anaknya, ia mendengar suara gaib seorang Kakek Tua, agar masuk ke kolong ranjang. “Cucu ku, masuklah kamu ke kolong ranjang untuk mengetahui takdir, anak mu.”

Tanpa berpikir panjang, Pak Nasib mengikuti suara gaib itu. Tiba-tiba ia kembali mendengar, suara dari kakek Tua."Wahai Cucu ku. Ketahuilah, oleh kalian. Umur anak mu hanya sebatas sepuluh tahun saja.”

“Kenapa begitu, Kek?’ tanya Pak Nasib.

“Diusia sepuluh tahun, ia akan tewas diterkam, Buaya Sang Raja Pati." Suara gaib itu tiba-tiba menghilang.

"Tidak! Tidak!" Bersama teriakan Pak Nasib, terdengar tangisan seorang bayi, pertanda anaknya telah lahir.

"Oe, oe, oe, oe." Pak Nasib keluar dari kolong ranjang, menghampiri istrinya, yang sedang memeluk bayinya. Setelah dibedong, Pak Nasib menggendong bayinya, dengan wajah sedih, tak bahagia.

"Kenapa Bapak tampak didak bahagia? Bukankah anak yang kita nanti-nantikan telah bersama kita?”

Lalu Pak Nasib menceritakan bisikan gaib kepada istrinya. "Kalau begitu, kita harus pindah dari sini, Pak. Kita harus menjauhkan anak kita dari sungai, agar tidak dimangsa buaya."

Pak Nasib mengangguk, menyetujui usul istrinya. Keesokan harinya, mereka berkemas dan pergi menuju pegunungan yang jauh dari sungai.

“Kita tinggal di tempat ini aja, Bu. Bapak rasa tempat ini sangat cocok untuk kita tinggali." Pak Nasib membangun gubuk sederhana, untuk tinggal mereka bertiga.

Seiring berjalannya waktu, Bagus telah tumbuh menjadi anak yang tampan dan pintar. Pertanyaan demi pertanyaan ia lontarkan kepada kedua orang tuanya. Bertanya tentang nama-nama ikan, sampai jenis-jenis hewan lainnya. Membuat kedua orang tuanya sangat bagaia.

Menginjak usia hampir sepuluh tahun, Bagus terlihat sangat pintar. Hari itu ia menggambar jenis-jenis ikan dan hewan lainnya. Ia menunjukan hasil menggambarnya kepada kedua orang tuanya. "Ayah, Ibu coba lihat gambar Bagus ini. Bagus kan, Yah?"

“Wah, gambarnya bagus sekali. Ayah sampai sulit membedakan dengan ikan yang asli. Kalau yang ini gambar apa? Mirip ikan tapi ada kakinya?” tanya Pak Nasib.

"Kalau yang ini bukan gambar ikan, Yah.”

“Kalau bukan gambar ikan, terus gambar apa, Nak?”

“Itu gambar buaya, Yah.”

Mendengar jawaban Bagus, Pak Nasib dan istrinya bagai disambar petir di siang bolong. Bagaimana tidak? Bagus yang selama ini tidak pernah melihat buaya, tiba-tiba menggambar seekor buaya, walaupun hasilnya tidak mirip buaya.

Kejadian itu membuat Pak Nasib dan istrinya menjadi sangat syok. "Dari mana anak kita tahu tentang buaya, Pak? "

"Bapak sendiri tidak tahu, Bu. Di tempat ini, hanya kita bertiga saja yang tinngal. Tapi kenapa anak kita tahu tentang buaya?” Pak Nasib memijat keningnya yang tiba-tiba terasa sakit, berusaha melupakan apa yang telah terjadi.

Bagus kembali menyalurkan kegemaran menggambarnya. Tak seperti biasanya hari ini Bagus terlihat sangat kesal. Pak Nasib, mendekati putra kesayangannya, mencari tahu yang membuatnya marah. "Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu, Nak?"

"Aku sangat kesal, Ayah. Aku bisa menggambar apa saja, tapi kalau untuk menggambar seekor buaya, aku tak bisa, Yah. Tolong gambarkan sih, Yah.” Bagus memohon.

Diluar kesadarannya, Pak Nasib meraih pensil dan buku gambar, lalu menggambar seekor buaya yang sedang mangap, yang siap menerkam mangsanya. “Ini loh, Nak, yang namnya buaya.” Pak Nasib menunjukan gambarnya kepada Bagus.

Bagus menatap gambar buaya buatan ayahnya. Tiba-tiba tubuhnya gemetar dan kejang-kejang. Dari mulutnya mengeluarkan darah segar, hingga Bagus meregang nyawa. Pak Nasib dan Bu Nasih menjerit histeris, menyaksikaan anaknya pergi untuk selama-lamanya.

Mereka baru ingat, hari ini usia Bagus, telah genap sepuluh tahun. Ia tak menyangka anaknya akan tewas oleh gambar buaya buatan ayahnya. Sekeras apa pun usahanya untuk menolak takdir anaknya, namun semuanya kembali kepada Sang Pencipta. Hidup, mati dan jodoh seseorang, sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post