NAGA EMAS DAN TUKANG KAYU
Oleh : Riswo, S.E., M.Si
Hujan angin, disertai petir, menghentikan langkah Si Tukang kayu. Pemilik tubuh kurus, kerempeng itu, menutupi wajahnya yang sedikit basah. Setelah menurunkan kayu bakarnya, ia berteduh di emperan bangunan megah.
Dinginnya hujan membuat tubuhnya menggigil. Sambil bersedakep, ia menatap gulungan kabut, menyelimuti jalan di hadapannya. “Silahkan masuk, Tuan. Di luar dingin.” Sapa Si Pemilik rumah, mengagetkan Si Tukang Kayu.
Pemilik rumah itu mengantarkan Si Tukang Kayu, pada sebuah kamar. “Tuan, Tuan, perkenalkan tamu saya, Pak Arya.”
“Silahkan masuk Pak Arya,” sambut kedua pedagang kain itu, kompak.
Tukang Kayu, masuk kamar, dan memperkenalkan diri. Dalam sekejab ketiganya terlihat sangat akrab.
“Silahkan diminum teh hangatnya.” Pemilik rumah itu menyuguhkan minuman, kepada ketiga tamunya.
“Sudah, nggak usah sungkan-sungkan. Gratis kok, Tuan. Kamar ini saya siapkan, untuk siapa saja yang membutuhkannya,” kata Si pemilik rumah, berwajah tampan itu.
“Terima kasih, Tuan. Tuan baik sekali.” Pak Arya menganggukan kepala, tanda hormat.
Ketiganya kembali bercengkeramah, menunggu hujan reda. Sayangnya hujannya semakin deras, dibarengi suara petir, yang menyambar-nyambar.
“Tuan, Tuan. Silahkan dimakan.” Pemilik rumah itu menyuguhkan makan malam.
“Kenapa repot-repot, Tuan. Kami sudah diberi tumpangan saja, sudah cukup,” kata Pak Arya Si Tukang Kayu, lembut.
Dua orang pedagang kain itu berebut mengambil makanan, hingga tak tersisa. Sementara Si Tukang Kayu, memperhatikan mereka sambil menahan perutnya yang lapar.
Malam semakin larut. Kilatan cahaya membelah dikegelapan malam. Dibarengi gemuruh suara halilintar, menyambar-nyambar. Dua orang pedagang kain, terlihat sudah lelap. Suara dengkurannya, membuat Si Tukang Kayu tak dapat tidur.
Tiba-tiba dari lantai kamar, terdengar guncangan hebat. Naluri Si Tukang Kayu, harus menyelamatkan diri, naik ke atas plafon.
Tak lama kemudian, seekor naga emas raksasa, keluar dari sudut lantai, sambil mendesis. Menatap tajam, tubuh dua orang pedagang kain yang sedang mendengkur. Lidahnya menjulur-julur, keluar air liur.
Lalu mendekati dua tubuh yang masih tidur. Secepat kilat, naga emas itu menyambar dan melahap kedua pedagang kain itu. Membuat Si Tukang Kayu, terjungkal ke belakang. Lemas tak bertenaga.
Setelah memangsa dua orang bertubuh gemuk, naga emas itu meliuk-liuk, dan mengibas-ngibaskan tubuhnya. Satu-persatu sisiknya berjatuhan, berubah menjadi koin emas. Lalu pergi melalui celah sudut lantai kamar.
Pemilik rumah masuk ke kamar tamunya. Mengumpulkan koin-koin emas yang berserakan di lantai. “Uhuk, uhuk.” Terdengar suara batuk.
Pemilik rumah itu kaget, melihat ke atas. “Pak Arya, turunlah. Jangan takut. Saya tidak akan mencelakai, Pak Arya. Bawalah semua koin emas ini. Tapi ingat, jangan pernah menceritakan kejadian ini kepada orang lain.”
Pak Arya, Si Tukang Kayu turun, lalu mengumpulkan dua karung koin emas, dan berjanji tidak akan memberi tahu kepada siapa pun.
Sejak itu Si Tukang Kayu nasibnya telah berubah menjadi seorang yang kaya-raya. Namun tetap rendah hati dan sangat dermawan. Tukang Kayu itu mau menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongannya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan