RAJA SEMUT DAN NAGA PENJAGA BUMI
Oleh : Riswo
Khandza dan Fadhil saling berbisik, mengangguk-angguk, tersenyum lalu menggeleng. Kakak beradik berusia 8 dan 6 tahun itu sepertinya sedang membahas dan merencanakan sesuatu.
"Hayooo! Sedang buat rencana apa?" Ibu mengejutkan mereka dari belakang.
"Ihh, Ibu ini ingin tahu aja!" Tangan mungil Khandza menutup mulut Fadhil agar menjaga rencananya.
"Ibu jadi penasaran," bergegas menuju ke dapur lalu menanak nasi.
Khandza dan Fadhil, mengendap-endap, mengikuti dari belakang secara diam-diam. Dari balik pintu dapur, 2 pasang bola mata indah itu memperhatikan Ibunya yang sedang menanak nasi, menunggu Ibu lengah.
Sementara sepasang bola mata Ibu menyudut ke kiri, tersenyum memperhatikan gerak -gerik mereka, seolah tak melihatnya. Ibu lalu pergi ke kamar mandi, mencuci sayuran. Kesempatan itu tidak mereka sia-siakan. Khandza dan Fadhil, berjalan mengendap-endap mendekat ke dapur. Lalu mengambil bumbu, dan peralatan untuk memasak.
“Eh, eh. Apa yang kalian lakukan?" Ibu kembali mengejutkan mereka, menatap wajah kedua bocah itu ketakutan. Khandza dan Fadhil menyembunyikan tangannya ke belakang, terlihat sedikit gemetar. Ibu merundukan tubuhnya, mengusap kepala anak kesayangannya secara bergantian. Fadhil yang terlihat masih ketakutan, tanpa sengaja menjatuhkan butiran lada dari genggaman tangannya.
"Apa yang kamu jatuhkan itu, Nak?"
"Lada, Bu" jawab Fadhil polos.
"Oh rupanya ini toh rencana kalian. Kalian mau main masak-masakan ya?"
"Kok Ibu tahu sih," sambung Khandza.
"Ibu tahu lah,Nak," sambil tersenyum.
"Ya, Bu. Sebenarnya kami mau main masak-masakan," Khandza menjelaskan.
“Kalau mau main masak-masakan, kenapa merahasiakannya dari Ibu, Nak? Kalian boleh kok main masak-masakan. Asalkan kalian tetap berhati-hati. Jangan mainan api sembarangan ya. Nanti terjadi kebakaran. Apa lagi sekarang sedang musim panas,” Ibu memberikan nasihat kepada buah hatinya. Khandza mengambil sapu, membersihkan lada-lada yang jatuh berserakan.
"Jangan disapu, Nak. Pungutin saja,” kata Ibu.
"Kalau dipungutin selesainya lama, Bu. Biar Khandza saja yang membereskan. "
"Tidak usah disapu, Nak. Pungutin saja. Kalau disapu malah akan bercampur dengan debu."
"Kalau banyak debunya kita buang saja ladanya, Bu," timpal Fadhil.
"Kita tidak boleh sembarangan membuang Lada, Nak. Nanti Naga Penjaga Bmi ini marah.”
"Kenapa bisa begitu, Bu?" tanya Khandza.
“Begini ceritanya.”
Pada jaman dahulu ada seorang Nenek yang membiarkan bumbu dapurnya berserakan di dapur. Termasuk butiran lada dibiarkannya berserakan. Kawanan semut yang melihatnya, membawa butiran lada tersebut ke lubang dan masuk ke dalam bumi, lalu melaporkannya ke Naga Penjaga Bumi.
“Ampun, Tuan Naga Penjaga Bumi. Kami membawa tengkorak kepala manusia ini dari atas bumi. Di sana semua manusia sudah meninggal semua, tak satupun yang tersisa,” kata Raja Semut.
“Benarkah yang kau katakan itu, Raja Semut?”
“Benar, Tuan Naga. Tengkorak-tengkorak kepala manusia yang kami bawa ini adalah sebagai buktinya. Kalau Tuan tidak percaya, silahkan cek sendiri.”
“Kalau begitu, sudah waktunya saya untuk menghancurkan bumi ini,” mengibaskan ekornya. Tak ayal lagi, sekali kibas terjadilah gempa di muka bumi. Pada saat itulah seluruh penghuni bumi ketakutan, dan lari kocar-kacir, sambil berterika sejadi-jadinya. Ada yang berteriak wat, wat, wat yang dalam bahasa Lampung yang artinya, ada, ada, ada. Mendengar teriakan manusia, seketika Naga Penjaga Bumi pun menghentikan kibasan ekornya. Ia menatap Raja Semut, sangat murka.
“Kurang ajar kamu Raja Semut! Kamu telah membohongi saya! Untung saja saya baru sedikit mengibaskan ekor saya ini. Seandainya tadi saya mengibaskan ekor saya ini dengan sekuat tenaga saya, pasti bumi sudah luluh lantak. Kurang ajar kamu Raja Semut! Enyahlah dari hadapan ku ini,” sambil menyemburkan api ke arahnya.
Raja Semut dan anak buahnya lari tunggang langgang, menyelamatkan diri dari semburan api yang mematikan. Sejak itu lah jika terjadi gemba, seluruh manusia berteriak, ada, ada, ada, untuk memberi tahu kepada Naga Penjaga Bumi, bahwa di bumi ini masih ada manusia.
“Oh begitu ceritanya ya, Bu,” ujar Khandza lalu membantu Ibunya munguti butiran lada yang masih berserakan di lantai.
“Betul, Nak. Oleh sebab itu kita harus selalu menjaga kebersihan. Jangan biarkan butiran lada jatuh berserakan. Nanti dimanfaatkan oleh Raja Semut untuk melaporkannya ke Naga Penjaga Bumi. Kalau begitu apa yang akan terjadi?”
“Naga Penjaga Bumi itu pasti mengira kita sudah tidak ada di bumi ini, dan akan mengibaskan ekornya ya, Bu,”timpal Khandza.
“Betul sekali, Nak.”
“Wah serem sekali ya, Bu,” timpal Fadhil sembari mengangguk-angguk.
"Maka dari itu kita harus selalu menjaga kebersihan, dan jangan membuang Lada sembarangan. Kalian mau melihat Naga Bumi marah?'
"Tidaklah, Bu. Saya takut. Saya tidak mau lagi melihat lada-lada ini jatuh berserakan,” kata Khandza.
“Ya Bu. Nanti dibawa Raja Semut, tamat deh riwayat kita, hehehe," imbuh Fadhil.
“Ah, kamu bisa aja, Nak,” mencubit pipinya. Setelah membantu Ibunya munguti butiran lada, lalu keduanya pergi ke belakang rumah, bermain masak-masakan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan