Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

DISERANG WABAH PENYAKIT

Oleh : Riswo

Setelah diusir dari desanya, Marni bingung harus pergi ke mana ? Langkahnya gontai tak tahu arah. Dia hanya mengikuti ke mana kakinya melangkah. Kini Marni telah sampai di sebuah jalan yang dikelilingi oleh hutan belantara. Suara nyanyian binatang melata mengiringi langkahnya. Membuat nyalinya ciut, dan perasaannya bertambah carut marut.

Dia menghentikan langkahnya memandang hamparan hutan belantara. Wajahnya terlihat semakin pucat menyelimuti jiwanya yang lara. Terlihat di wajahnya ada segumpal keputus asaan. Sementara pandangannya hampa menerawang jauh ke depan.

Kini langkahnya semakin jauh menembus hutan belantara. Namun di tengah perjalanan, dia merasakan langkahnya ada yang mengikutinya. Dia berhenti sejenak, memandang di sekelilingnya. Indera penglihatannya tajam menyapu di setiap sudut yang sepi. Tiba-tiba jantungnya berdetak keras, kala matanya menangkap sosok bayangan yang sedang mengendap-endap di balik pepohonan.

Marni berusaha menjerit sekuat tenaganya. Namun lidahnya keluh serasa melihat hantu. Lalu dia mengambil langkah seribu meninggalkan tempat itu. Sayangnya dia terjerat oleh sebuah benda yang melilit kakinya. Tak ayal lagi dia jatuh tersungkur. Dengan rasa ketakutan dia menangis berusaha melepaskannya dengan mata terpejam. Suara langkah kaki itu kini terdengar semakin mendekatinya. Begitu dia membuka matanya, Marni tersentak kagit melihat dua sosok laki-laki sudah berdiri di hadapannya.

“Hahaha…, Hahaha… . Jangan takut ndu, kami ini orang baik-baik kok, hahahaha…. .” Ucap laki-laki bertubuh gempal itu.

“Ya ndu, kami ini orang baik-baik. Jangan takut ya ? hahaha… .” Ucap laki-laki satunya yang terlihat sedikit kurus.

“Siapa kalian ? kalian mau apa ?” tanya Marni sambil menangis.

“Kita mau apa ? Masa kamu nggak tahu sih, hahaha… .” Jawab dua laki-laki itu kompak.

Lalu kedunya mendekati Marni dan berusaha menyergapnya. Marni yang merasa dirinya sedang terancam tak tinggal diam. Dengan sisa tenaganya, dia membuang tubuhnya ke samping, dan jatuh bergulingan. Namun kedua laki-laki itu segera menangkap, dan menyeretnya ke dalam hutan. Kemudian berusaha meruda paksa Marni. Marni yang sangat ketakutan akhirnya pingsan tak sadarkan diri.

Disaat Marni benar-benar dalam keadaan tak berdaya, tiba-tiba muncul seekor ular belang dan langsung menyerang laki-laki biadab itu. Keduanya tumbang seketika dengan tubuh membiru. Tak lama kemudian Marni kembali sadar dan melihat kedua orang jahat itu sudah tewas. Marni menjerit sekencang-kencangnya terlihat sangat ketakutan.

Kemudian mengambil langkah seribu dan pergi meninggalkan tempat itu. Di tengah perjalan Marni bertemu dengan seorang laki-laki paru baya, bertubuh tinggi besar, sedang memperhatikan dia yang sedang memperhatikannya. Lalu laki-laki itu mendekatinya sambil menyapanya.

“Ada apa ndu ? Kenapa kamu menangis ?”

Marni yang sedang ketakutan diam membisu. Namun laki-laki itu seolah tahu apa yang sedang dirasakan oleh Marni.

“Kamu mau ke mana ndu ? Kenapa kamu sendirian di tempat ini ? Jangan takut ndu. Saya Pak Darman. Kalau kamu bingung tak punya tujuan yang pasti, mari ikut bapak.” Ucapnya lalu pergi.

Dengan rasa ragu Marni mengikutinya dari belakang. Setengah jam kemudian mereka sudah memasuki sebuah desa kecil yang dihuni kurang lebih tujuh puluh kepala keluarga. Selama diperjalanan, Marni melihat banyak orang yang menyapa Pak Darman dengan penuh hormat. Sehingga rasa takut Marni kepada Pak Darman mulai sirna. Setelah yakin Pak Darman adalah orang baik, Marni memberanikan diri untuk menegurnya.

“Pak ? Tunggu pak.”

Pak Darman menghentikan langkahnya dan menunggu Marni yang tertinggal sepuluh langkah di belakangnya.

“Ada apa ndu ? Sebentar lagi kita akan sampai di rumah.” Ucapnya.

“I…, I ya pak.” Jawab Marni gugup.

Lalu Marni mendekati Pak Darman dan mengikutinya sampai ke rumahnya. Kemudian Pak Darman disambut oleh istri tercinta.

“Oh, bapak sudah palang ?” tanya wanita cantik itu sambil melirik ke Marni.

Pak Darman yang tidak mau melihat istrinya salah paham, tanpa diminta dia menjelaskan kepada istrinya.

“Gadis ini namanya Marni bu. Bapak temukan dia sedang kebingungan sambil menangis di jalan dekat hutan.”

“Sini masuk ndu.” Sapa Bu Darman ramah.

Marni mengangguk lalu masuk dan duduk di ruang tamu. Air matanya kembali bercucuran menahan rasa sedih.

“Sepertinya kamu sedang punya masalah berat ndu. Ceritalah sama ibu.” Bujuk Bu Darman.

Sambil menangis, Marni menceritakan masalah yang dialaminya kepada Bu Darman. Bu Darman mendengarkan cerita Marni dengan rasa iba.

“Kasihan nasib kamu ndu.” Ucapnya sembari mengusap air mata Marni penuh kasih sayang.

Sejak itu Marni tinggal dirumah Pak Darman. Marni juga merasa betah tinggal di sana. Apa lagi di rumah Pak Darman selalu ramai didatangi oleh gadis-gadis cantik yang ingin belajar menari dengan Bu Darman. Bu Darman adalah seorang guru tari tayub yang sangat mumpuni. Sementara Pak Darman sendiri adalah pimpinan tari tayub tersebut.

Setiap harinya Marni memperhatikan Bu Darman yang sedang mengajar menari. Matanya tajam memperhatikan setiap gerak tari itu. Tanpa sadar tangan Marni mulai mengikuti gerak tari yang diajarkan Bu Darman. Marni merasa hatinya damai mana kala sedang melihat Bu Darman sedang menari. Sejak itu dia diam-diam mulai tertarik pada seni tari. Dia juga sering memperagakan gerakan tari yang dilihatnya selama ini.

Namun tanpa disadari oleh Marni dari balik pintu ada sepasang mata indah yang sedang memperhatikannya. Sementara Marni masih asyik memperagakan tariannya. Tubuhnya lemah gemulai, lenggak lenggok seakan mengikuti suara gamelan. Kedua tangannya meliuk-liuk seperti angin. Bu Darman tersenyum melihat anak angkatnya yang ternyata sangat berbakat dalam hal seni tari.

Setelah mengetahui bahwa Marni memiliki bakat menari, Bu Darman sering memperagakan tariannya ketika suaminya tidak di rumah. Hari itu di rumah hanya ada Marni dan Bu Darman saja. Di ruang tamu Bu Darman mulai memperagakan tariannya secara berulang-ulang. Dia sadar dari balik pintu Marni sedang memperhatikan dan sedang mengikutinya. Dia pura-pura tidak mengetahuinya. Karena Bu Darman paham betul dengan sikap Marni yang pemalu.

Hari demi hari telah berlalu. Seperti biasa Bu Darman kembali memperagakan tariannya di ruang tamu. Tujuannya agar Marni semakin mengasah ketrampilannya dalam menari. Sementara Marni tahu waktu yang sering digunakan Bu Darman untuk memperagakan tariannya. Dia tak mau kesempatan itu hilang begitu saja.Hari itu secara diam-diam Marni kembali mengikuti gerakan tari yang dipraktekan ibu angkatnya. Wal hasil Marni kini sudah menguasainya tarinya dengan sempurna.

Sebulan kemudian rombongan tari tayub pimpinan Pak Darman menggelar latihan bersama. Baik penabuh gamelan atau pun para penari berkumpul dan menampilkan tariannya. Beberapa penari mulai menampilkan kebolehannya masing-masing. Tak terkecuali Bu Darman memperagakan tariannya dengan penuh semangat. Parasnya yang cantik, senyumnya yang menawan membuatnya ingin memperagakan ilmunya.

Bu Darman melempar senyum pada Marni yang dari tadi tak berkedip memperhatikannya. Seakan dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Marni. Setelah selesai menari, Bu Darman mendekati Marni. Kemudian menggandeng tangannya dan mengajaknya menari.

“Ndu, temani ibu menari ya ?” ajaknya sambil tersenyum.

Mendengar ajakan ibu angkatnya, Marni terlihat sangat gugup, dan berusa menolaknya.

“Ibu, Marni tidak bisa bu.” Jawabnya.

“Tidak apa-apa ndu. Temani ibu ya.” Ucapnya lagi sambil menarik tangannya.

Marni tak bisa menolak ajakannya. Dengan rasa canggung, dia mulai menunjukan kebolehannya. Pak Darman sangat kaget melihat anak angkatnya ternyata sudah bisa menari. Padahal selama ini dia tak pernah melihat Marni belajar menari.

“Sejak kapan kamu belajar menari ndu ?” tanya Pak Darman.

“Belum lama pak.” Jawabnya.

“Ya pak. Ternyata Marni berbakat sekali.”

“Ah ibu bisa aja. Marni hanyalah anak kampung bu.” Ucap Marni merendah.

“Mulai sekarang kamu jangan malu-malu untuk berlatih ya ndu. Ibu akan mengajari kamu menari sampai sempurna.”

“Ya bu, terima kasih.”

Semenjak itu Marni selalu diajak manggung oleh Bu Darman disetiap ada pesta pernikahan ataupun pesta ulang tahun di kampung. Sehingga Marni bisa mengasah kemampuannya di bidang tari. Berkat kegigihannya, Marni kini telah menjadi seorang penari yang sangat handal. Kehadiran Marni di di dunia tari mendongkrak populeritas grup tari tayub yang diketuai ayah angkatnya. Maka tak heran jika tari tayub pimpinan Pak Darman ini menjadi sangat tersohor dan menjadi salah satu hiburan pavorit warga.

Sementara di Desa Dadap sendiri, Pasca diusirnya Marni desa itu sedang dilanda kemarau panjang. Sawah yang biasanya dapat ditanami padi, kini menjadi kering kerontong. Sumur-sumur warga yang selama ini menjadi sumber air bersih, sudah tak cukup lagi untuk memenuhi kebutuhannya. Akibatnya banyak warga yang memanfaatkan sawah untuk digali dan dijadikan sumur. Itu pun masih tak cukup menghasilkan air bersih. Karena sumur buatannya tak memiliki mata air. Hanya memanfaatkan air rembesan yang masuk ke dalam sumur.

Kemarau yang cukup panjang tersebut membuat warga tak bisa lagi menanam padi, umbi-umbian dan sayur mayur. Akibatnya mereka terancam kelaparan. Belum cukup dengan peristiwa kemarau panjang, Desa Dadap juga diserang wabah penyakit gatal yang susah dicarikan obatnya. Anehnya yang terserang penyakit gatal-gatal adalah mereka yang dulu pernah mengusir Marni. Mulai dari keluarga Pak Panjul sampai ke keluarga Pak Trimo. Pak Panjul dan Pak Trimo sudah berobat ke mana-mana.

Namun penyakit gatal yang menyerang keluarganya tak kunjung sembuh. Bahkan tubuh mereka mulai digerogoti koreng yang sangat menjijikan. Karena merasa putus asa, mereka akhirnya meminta bantuan kepada Pak Wiro Kepala Desa Dadap.

“Mohon maaf Pak Lurah, keluarga saya sekarang kena penyakit gatal-gatal. Saya sudah berobat ke mana-mana tapi tak sembuh juga. Sekarang tolong saya pak. Tolong carikan kami obat Pak Lurah.” Ucap Pak Panjul.

“Benar Pak Lurah. Keluarga saya juga menderita penyakit yang sama. Kami minta tolong kepada Pak Lurah. “Timpal Pak Trimo.

“Sebagai Kepala Desa saya akan berusaha keras untuk membantu kalian untuk mencari obatnya. Kalian harus sabar ya ? Sekarang kalian pulang dan tunggu saja di rumah. Beri tahu warga yang lain agar sabar menunggu.” Jawab Pak Wiro.

“Ya pak terima kasih atas bantuan Pak Lurah.” Ucap Pak Trimo.

“Kami tidak sia-sia telah milih bapak menjadi Lurah di desa ini.” Ujar Pak Panjul lalu pulang ke rumahnya.

Hari itu juga Pak Wiro pergi menghadap gurunya di padepokan. Di sana dia menceritakan prihal penyakit aneh yang telah menyerang warganya. Sambil tersenyum Mbh Panembahan berdiri lalu pergi ke belakang. Diambilnya sebuah bungkusan hitam lalu menyerahkannya kepada muridnya.

“Terimalah ini Wiro. Bagikan obat ini kepada warga mu. Gunakan air hangat untuk melarutkannya, lalu balurkan ke tubuh yang gatal-gatal. Mudah-mudahan obat ini mampu mengobati penyakit warga mu.”

“Terima kasih guru atas bantuannya. Sekarang saya mohon pamit Mbah.”

“Yo hati-hati nang dalan yo.” Jawab gurunya.

Sampai di rumah Pak Wiro langsung mengumpulkan warganya dan langsung membagikan obat itu kepada warganya.

“Warga Desa Dadap yang saya cintai. Kita sedang diuji oleh yang Maha Kuasa. Selain diuji kemarau panjang, kita juga diuji oleh penyakit gatal-gatal yang susah untuk disembuhkan. Namun kalian jangan panik dan harus tetap semangat. Mudah-mudahan obat yang saya bawa ini mampu menyembuhkan penyakit kalian. Kalian akan menerima satu bungkus-satu bungkus. Gunakan air hangat untuk melarutkannya, dan balurkan pada bagian yang gatal-gatal. Kalian paham.” Ujar Pak Wiro.

“Paham Pak Lurah.” Jawab warga serentak.

Setelah menerima obat dari Pak Wiro, mereka pulang ke rumahnya masing-masing,dan langsung meracik obat itu lalu membalurkannya pada bagian yang gatal-gatal. Setelah dibaluri obat, rasa gatalnya mulai berkurang. Namun itu hanya sesaat saja. Setelah itu rasa gatalnya kembali datang dan sampai obat habis tak berhasil menyembuhkannya. Bahkan kini mulai tumbuh korenag akibat digaruk, karena tak tahan menahan rasa gatal.

Hal itu membuat mereka semakin panik dan kembali lagi mendatangi rumah Kepala Desanya.

“Mohon maaf Pak Lurah, obat yang Pak Lurah berikan ternyata tak bisa menyembuhan penyakit itu. Sekarang malah semakin terasa gatal. Bahkan sudah mulai tumbuh koreng di tubuh saya Pak Lurah.” Ujar Pak Trimo.

“Coba saya lihat.” Kata Pak Wiro.

“Ini Pak Lurah.” Jawab Pak Trimo sembari menunjukan bagian tubuh yang ditumbuhi koreng.

Pak Wiro mengerutkan keningnya melihat Pak Trimo. Bahkan tubuh Pak Trimo mulai tumbuh sisik seperti sisik ular. Lalu Kepala Desa itu berdiri mondar-mandir, tampak gelisah. Kemudian dia menatap Pak Trimo, dan berjanji akan terus membantu warga untuk mencari obatnya.

“Tenag Pak Trimo, nanti saya cari obatnya lagi. Sekarang Pak Trimo pulang ya.” Ucapnya.

“Ya Pak Lurah. Atas nama warga dadap saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Pak Lurah.”

“Itu sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu kalian Pak Trimo. Sebagai Kepala Desa, saya bertanggung jawab apa pun yang terjadi di desa ini.” Jelasnya.

Setelah pak Trimo pergi, Pak Wiro duduk termangu di ruang tamu. Untuk mengusir rasa gundah gulananya, dia menyalakan korek dan membakar sebatang kretek, lalu menghisapnya. Sementara pandangannya nanar sambil jari-jemarinya menyentil-nyentil rokok yang dipegangnya. Sementara Bu Wiro sedang memperhatikan suaminya yang sedang galau. Dia buru-buru menghampirinya dan menyodorkan segelas teh hangat.

“Ada apa toh pak ?” tanya Bu Wiro sambil menyodorkan minumannya.

“Dosa apa yang pernah kita lakukan di desa ini bu ? Sehingga kita dicoba oleh penyakit yang susah dicarikan obatnya.”

“Jangan mikirin yang macam-macam toh pak. Semua penyakit pasti ada obatnya. Coba bapak temui lagi Mbah Panembahan. Beliau pasti tahu apa yang harus kita lakukan.”

“Saya malu bu selalu datang dan merepotkan beliau.”

“Tidak apa-apa pak. Yang kita lakukan ini demi warga kita. Kenapa harus malu pak ?”

“Baiklah bu. Kalau begitu sekarang siapkan perbekalan. Sore ini saya akan menemui guru.”

Dengan diantar Rendol, sore itu juga Pak Wiro berangkat menemui gurunya. Rendol hanya bisa mengantar sampai di depan padepokan saja. Karena tidak sembarang orang yang boleh masuk ke padepokan itu. Kemudian Pak Wiro berjalan kaki menelusuri kaki bukit sejauh dua ratus meter menuju pendopo. Ternyata di pendopo, Mbah Panembahan sudah menunggunya sejak tadi. Kakek tua itu berdiri menatap Pak Wiro yang baru saja tiba, lalu mempersilahkan duduk.

“Guru sudah tahu ya kalau saya mau ke sini lagi ? Saya mau minta tolong lagi guru.”

“Saya bisa apa Wiro ?”

“Anu Mbah, obat yang kemaren saya terima ternyata tidak bisa menyembuhkan penyakit gatal-gatal itu.”

“Yang bisa menyembuhkan penyakit itu hanyalah kalian sendiri. Tidak ada seorang pun yang mampu mengobatinya, kecuali kalian harus meminta maaf.”

“Maksudnya bagaimana mbah ?” tanya Pak Wiro.

“Coba ingat-ingat, dosa apa yang pernah kalian lakukan di desa itu Wiro.”

“Seingat saya, saya tidak pernah melakukan dosa apa-apa guru.”

“Coba ingat-ingat lagi Wiro. Kalau obat yang saya berikan saja tak mempan untuk mengobati penyakit itu, pasti itu bukan penyakit sembarangan Wiro. Bisa jadi itu adalah penyakit kutukan Wiro.”

“Maksud guru kutukan bagaimana ? Kutukan dari siapa guru ?” tanya Pak Wiro lagi.

“Apakah kamu pernah berlaku tidak adil di desa mu ?” tanya Mbah Panembahan.

“Yang saya ingat, saya tidak pernah berbuat tidak adil guru. Semua warga saya perlakukan sama. Saya tidak pernah membeda-bedakan mereka.”

“Atau barang kali ada warga mu yang telah melakukan kesewenang-wenangan terhadap warga yang lainnya ?” tanya Mbah panembahan lagi.

“seingat saya tidak ada guru.”

“Jangan mungkir kamu Wiro. Kamu telah berbuat tidak adil kepada menantu mu.”

“Maksudnya kepada Marni guru ?”.

“Ya. Bukankah kamu tak mencegah warga mu saat mereka mengisir Marni dari desa itu ? Apa salah Marni Wiro ? Kematian anakmu bukan salah dia. Marni tidak tahu-menahu soal itu. Seharusnya kamu justru melindunginya, bukan malah membiarkan mereka mengusir Marni.”

“Maaf kan saya guru.”

“Kalau mau minta maaf, mintalah kepada Marni. Itupun kalau wargamu mau sembuh dari kutukan itu.”

“Jadi penyakit itu adalah buatan Marni ya guru ?”.

“Bukan Marni yang membuatnya Wiro. Tapi penjaga Marnilah yang membuat penyakit itu. Dia murka dan marah atas perlakuan kalian kepada Marni.”

“Terus bagaimana caranya kami minta maaf guru ? Sedangkan keberadaan Marni saja kami tak tahu.”

“Itu bukan urusan saya Wiro. Carilah dia sampai dapat. Kalian juga harus minta maaf kepada kedua orang tuanya. Karena kalian telah berbuat dzolim dan membuat kepalanya bocor. Kalian membiarkan orang tua itu saat berlumuran darah dan pergi begitu saja. Sekarang pulanglah Wiro. Hanya itulah yang bisa kamu lakukan untuk menolong warga mu.”

“Baik guru. Kalau begitu saya mohon pamit.” Pungkas Wiro lalu pergi meninggalkan gurunya.

Sampai di rumah, Pak Wiro langsung mengumpulkan warganya, dan menyuruhnya untuk mencari Marni.

“Saudara-saudara warga Desa Dadap yang saya cintai. Saya turut prihatin atas musibah yang terjadi di desa kita. Sekarang kita sedang mengalami kemarau panjang. Akibat kemarau tersebut, kita pun mengalami gagal panen. Perekonomian kita menjadi susah, dan maling mulai menyatroni desa kita. Belum cukup dengan itu, sekarang telah muncul wabah penyakit gatal-gatal. Penyebab semua ini adalah kesalahan kita sendiri.

“Kesalahan kita ? Apa maksud Pak Lurah ?” sela Pak Panjul.

“Ya kesalahan kita.” Tegas Pak Wiro lagi.

“Apa kesalahan kita Pak Lurah ?” timpal Pak Trimo.

“Ya pak Pak Lurah ? Mengapa Pak Lurah bilang ini kesalahan kita ? Apa hubungannya dengan semua peristiwa yang terjadi pada Desa kita ?” tanya warga lainnya.

“Apakah kalian lupa dengan apa yang pernah kalian lakukan ? Ingat Pak Trimo, Pak Panjul dengan kejadian satu tahun yang lalu ? Dengan semena-mena kalian telah mengusir Marni dari desa ini.”

“Marni memang pantas diusir dari desa ini Pak Lurah. Karena Marni adalah perempuan pembawa sial. Kalau dia masih saja tinggal di desa ini, kami takut desa kita akan ketiban sial.” Kata pak Panjul.

“Benar Pak Lurah. Marni memang pantas keluar dari desa kita.” Sela pak Trimo yang diamini warga lainnya.

“Tapi nyatanya setelah kalian usir Marni, apakah desa kita baik-baik saja ? Tidak kan ? Malah justru desa kita mengalami kemarau panjang dan juga deserang wabah penyakit.” Ucap Pak Wiro.

“Itu hanya kebetulan saja Pak Lurah. Semua kejadian di desa ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Marni.” Kilah Pak Panjul.

“Kalian ingat obat yang pernah saya berikan kepada kalian ? Obat itu tak mampu mengobati penyakit gatal-gatal yang kalian derita. Pedahal obat itu adalah obat mujarab pemberian guru saya. Kalau penyakit gatal yang menyerang kalian adalah penyakit biasa, sudah barang tentu akan bisa disembuhkan.” Jawab Kepala Desa itu.

“Saya masih tidak percaya kalau penyakit ini ada hubungannya dengan Marni. Lagian Marni memang pantas diusir dari desa kita.” Ucap Pak Trimo.

“Tenang-tenang jangan ribut, dengarkan saya. Coba saya ingin tahu penjelasan dari Pak Pannjul Kesalahan apa yang pernah Marni lakukan di desa ini ? Ayo jelaskan Pak Panjul, Pak Trimo ?” desak Pak Wiro.

Pak Panjul dan Pak Trimo yang diminta untuk menjelaskan tentang kesalahan Marni justru diam saja. Akibatnya warga menyorakinya.

“Huh…, huh… Ayo Pak Panjul, Pak Trimo jelaskan. Kalian kan yang mempropokasi kami agar ikut mengusir Marni ? Kenapa kalian diam. Ayo jelaskan !” pinta Pak Jono.

“Ya kalian harus bertanggung jawab atas semua musibah yang menimpa desa kita.” Kata warga lainnya.

“Sudah-sudah jangan diributkan lagi. Yang berlalu biarlah berlalu. Mari kita lupakan saja. Yang terpenting adalah kita harus terlepas dari musibah ini.” Ucap Pak Wiro.

“Caranya bagimana Pak Lurah ?” tanya Pak Jono.

“Kita harus minta maaf kepada Marni dan keluarganya.” Pinta Pak Wiro.

“Bagaimana cara minta maafnya Pak Lurah ? Keberadaan Marni saja kami tak tahu.” Ucapnya.

“Kalian harus mencari tahu keberadaan Marni. Ajaklah dia pulang ke desa ini. Saya minta juga, Pak Trimo dan pak Panjul temui Pak Warto dan kalian harus minta maaf.” Ucap Pak Wiro lagi.

“Apakah Pak Warto mau memaafkan kami Pak Lurah ?” tanya Pak Panjul.

“Ya Pak Lurah. Apakah Pak Warto mau memaafkan kami ?” kata Pak Trimo.

“Masalah itu urusan nanti saja. Yang penting kalian temui mereka dan mintalah maaf.”

Kemudian hari itu juga keduanya pergi ke rumah Pak Warto untuk meminta maaf. Saat mereka datang, sepasang suami istri itu sedang duduk di depan rumahnya, ditemani singkong rebus dan secangkir teh manis. Mereka sedang membicarakan nasib anaknya. Tampak di wajah mereka tergambar sebuah kesedihan.

“Bagaimana nasib anak kita ya bu ? Sudah setahun lamanya tak ada kabar beritanya.” tanya Pak Warto kepada istrinya.

“Ibu juga sangat mengkhawatirkan Si Endu pak. Ibu kangen sekali.” Ucap Bu sarti sambil mengusap air matanya.

“Mudah-mudahan anak kita baik-baik saja ya Bu.” Kata Pak Warto lalu meneguk minumannya.

Saat mereka sedang membicarakan Marni, Pak Panjul dan Pak Trimo datang menghampirinya. Pak Warto yang melihat kedatangannya menyapanya dengan penuh ramah.

“Eh Pak Trimo dan Pak Panjul, silahkan masuk pak.” Sapa Pak Warto.

“Terima kasih ya pak.” Jawab keduanya.

“Ada angin apakah yang membuat bapak berdua sampai datang ke gubuk kami ini ? Apakah ada yang bisa kami bantu ?” tanya Pak Warto.

“Begini pak, maksud kedatangan kami ke sini, pertama untuk bersilahturahmi dan yang kedua kami mau minta maaf kepada bapak sekeluarga. Maafkan kami ya pak. Kami sangat menyesal sekali telah mengusir Marni dari desa ini.” Ucap Pak Panjul.

“Ya pak. Saya juga sangat menyesal telah mengusir Marni pak. Maafkan kami ya pak.” Sela Pak Trimo.

“Sebelum bapak berdua minta maaf, kami sudah memaafkannya kok pak. Bahkan kami sudah berusaha untuk melupakannya.” Jawab Pak Warto.

“Apa ? Tidak semudah itu kami memaafkan kalian ! Setelah kalian mengusir Marni dan membuat kepala suami saya terluka, lalu kalian datang dan dengan mudah minta maaf ? Kami tidak akan pernah maafkan kalian.” Ucap Bu Sarti.

“Udah bu, udah. Maafkan mereka bu.”

“Bapak mungkin bisa memaafkannya. Tapi ibu tidak bisa pak. Sembilan bulan ibu mengandung dan melahirkan Marni. Mereka semaunya mengusir anak kita tanpa kesalahan yang jelas. mereka orang jahat dan tak pantas untuk dimaafkan pak. Sekarang kalian pergi dari rumah ini !” Ucap Bu Sarti mengusir keduanya.

“Sabar bu sabar.” Kata Pak Warto kepada istrinya.

“Tidak pak. Apakah mereka pernah memikirkan nasib anak kita ? Apakah mereka pernah bertanya Marni di mana ? Ibu tidak bisa memaafkan mereka pak.” Ketusnya lalu pergi ke kamarnya.

“Maafkan istri saya ya pak.” Kata Pak Warto kepada tamunya.

“Tidak apa-apa pak, bu Sarti memang benar. Apa yang pernah kami lakukan kepada anak bapak tak pantas untuk dimaafkan. Sekarang kami mohon diri ya pak.” Ucap Pak Trimo.

Setelah meminta maaf, lalu keduanya pergi ke rumah Pak Wiro. Disana mereka menceritakan hasil pertemuannya dengan keluarga Pak Warto.

“Tadi kami sudah ke rumah Pak Warto dan meminta maaf Pak Lurah.” Kata Pak Panjul.

“Ya pak. Tapi Bu Sarti marah dan tak mau memaafkan kami.” Imbuh Pak Trimo.

“Ya jelaslah mereka marah. Setelah kalian mengusir anaknya, lalu tanpa beban tiba-tiba kalian datang meminta maaf. Mau dimaafkan atau tidak yang penting kalian sudah minta maaf.” Kata Pak Wiro.

“Ya Pak Lurah. Untuk menebus kesalahan kami, kami juga bermaksud untuk mencari Marni.” Kata Pak Trimo.

“Baguslah kalau begitu. Peristiwa ini jadikanlah pengalaman agar tidak terulang kembali. Karena siapa yang menanam dia yang akan menuainya.” Ungkap Pak Wiro.

Walaupun warga Desa Dadap telah meminta maaf kepada keluarga Pak Warto, namun penyakit yang diderita warga tidak banyak berubah. Akibatnya warga mencari obat ke mana-mana sampai menyimpang dari ajaran agamanya. Perdukunan pun merajalela demi ingin sembuh dari penyakitnya. Namun sayangnya apapun yang mereka lakukan untuk sembuh dari penyakit itu tetap sia-sia.

Bagus yang baru saja pulang dari pesantren tak mau membiarkan keadaan ini semakin memburuk. Dengan tekad amar ma’ruf nahi mungkar, Bagus berusaha menyadarkan mereka dan kembali ke agamanya. Pemuda gagah yang namanya pernah tercoreng oleh Parmin, sekarang menjadi seorang penda’wah. Dia merasa prihatin kepada nasib warga Desa Dadap yang sedang diuji oleh kemarau panjang dan juga wabah penyakit gatal. Sehingga mereka menjadi gelap mata dan melakukan kemusrikan. Alih-alih ingin sembuh dari penyakit dan segera datang hujan, mereka malah jatuh kepada kemusrikan. Mereka telah menyimpang dari ajaran agamanya.

Adalah tugas Bagus untuk mengingatkan warganya agar kembali kepada Sang Penciptanya. Bukannya malah meminta kepada dukun ataupun yang lainnya. Namun sayangnya ajakan Bagus justru ditolaknya mentah-mentah oleh mereka.

“Bapak-bapak, ibu-ibu warga Desa Dadap yang saya hormati. Kembalilah kalian ke agama Allah. Janganlah kalian menyekutukan-Nya. Siapa pun tak akan bisa mendatangkan hujan selain Allah. Wabah penyakit gatal ini adalah mahluk Allah. Jadi kalau Allah berkehendak, penyakit gatal-gatal itu akan segera sirna dari desa kita.”

“Jangan mengajari kami Gus ! Kamu ini anak kemaren sore tahu apa ha ?” kata Pak Panjul.

“Baru keluar dari pesantren aja so belagu seperti ustadz. Kamu tidak perlu repot-repot mengajari kami tentang agama Gus. Pergi kamu dari sini !” Usir Pak Trimo.

“Maaf pak, saya hanya berkewajiban untuk mengingatkan saja. Mau ikut atau pun tidak, itu adalah hak kalian semua.” Ucap Bagus lembut.

“Saya akan menjajal dulu kemampuan kamu Gus. Apakah ilmu mu sama dengan bacot mu itu ? Kalau saya kalah, saya akan mengikuti apa kata kamu. Tapi kalau saya yang menang, kamu harus keluar dari desa ini.” Ucap Pak Panjul Geram.

“Maaf Pak Panjul, saya pulang ke desa ini bukan untuk mencari permusuhan. Tapi pantang bagi saya, jika ada yang jual pasti akan saya beli.” Jawab Bagus tegas.

“Kamu menantang saya Gus ? Jangan salahkan saya kalau kepala mu saya remukan dengan pukulanku ini.” Ancam Pak Panjul.

Lalu Pak Panjul membuka kaki kanannya dan memasang kuda-kuda. Kedua tangannya mengepal, giginya gemertak. Sorot matanya tajam siap menerkam Bagus. Bagus hanya tersenyum menatap laki-laki yang sebaya dengan orang tuanya itu. Pak Panjul semakin geram ketika melihat Bagus tersenyum kepadanya. Dia tak sabar dan langsung mengeluarkan jurus cimandenya. Tubuhnya sedikit merunduk sementara kedua tangannya membuka gerakan silatnya. Dia melangkah perlahan mendekati Bagus, kemudian melayangkan pukulannya.

Bagus hanya menggeser langkahnya sedikit menyambut serangan Pak panjul. Sehingga serangannya mengenai ruang kosong, membuat Pak Panjul semakin terpancing emosinya. Kali ini Pak Panjul mengeluarkan segala kemampuannya dan menyarangkan tendangannya ke dada Bagus. Sayangnya lagi-lagi serangannya tak mengenai sasarannya.

“Hiat….! Kurang ajar. Rupanya kamu sengaja mempermainkan saya Gus.”

“Saya bukan mempermainkan bapak, tapi saya hanya menghindar.”

“Halah dalah bocah kemaren sore ini banyak bacot.”

Bagus belum melakukan perlawanan. Dia hanya berdiri dan menggeser sedikit tubuhnya untuk menghalau serangannya. Melihat sahabatnya dipermainkan oleh Bagus, Pak Trimo yang dari tadi diam melompat ke gelanggang dan menantang Bagus.

“Kamu boleh meremehkan serangan Panjul Gus, tapi hati-hati dengan serangan ku ini. Hiat…!

Melihat Pak Trimo menyerangnya dengan tiba-tiba, Bagus menundukan kepalanya sambil tangan kanannya menangkis serangan itu. Serangan Pak Trimo pun dapat dilumpuhkan oleh Bagus. Pak Trimo kembali memasang kuda-kudanya dan siap menyerangnya. Kemudian maju beberapa langkah dan langsung menyarangkan tendangan berantainya ke arah Bagus. Kali ini Bagus sedikit dibuat keteteran menghadapi serangannya. Maklum Pak Trimo adalah mantan jawara di Desa Dadap. Dengan sangat terpaksa Bagus menjatuhkan diri ke tanah lalu menggunting kakinya. Tak ayal lagi Pak Trimo jatuh bergulingan. Kemudian dia berdiri lagi lalu memasang kuda-kudanya.

Kali ini Bagus bukan saja menghadapi Pak Trimo tetapi juga Pak Panjul. Keduanya sudah bersiap mengeroyok anak muda yang baru saja keluar dari pesantren. Pak Trimo dan Pak Panjul membuka langkahnya dan kedua tangannya meliuk-liuk menyarangkan pukulannya kepada Bagus. Kemudian keduanya kembali merangsak dan melakukan serangan secara bersamaan. Bagus yang merasa terancam nyawanya melakukan lompatan salto ke belakang menghindari mereka.

Kemudian Bagus melepas sorbannya dan dijadikan senjata andalannya. Sorban itu meliuk-liuk seperti cambuk menghajar keduanya.

Jedar…, jedar…, jedar.

Kemudian Pak Panjul dan Pak Trimo mencabut badiknya lalu menyerang Bagus. Sementara Bagus menyambut serangan mereka dengan sorbannya. Hanya sekali sabetan saja, dua badik itu pun terlepas dari tangannya. Lalu keduanya secara seportif mengakui kekalahannya dan siap mengikuti apak kata Bagus.

“Cukup Gus, kami menyerah dan mengaku kalah. Saya bersedia meninggalkan kemusrikan itu dan siap kembali lagi mengikuti ajaran islam.” Ucap Pak Panjul.

“Saya juga mau ikut kamu Gus, tapi dengan satu syarat kamu harus bisa mendatangkan hujan dan mengobati penyakit yang ada di desa kita.” Kata pak Trimo.

“Yang bisa mendatangkan hujan dan bisa mengobati penyakit itu hanyalah Allah SWT. Kita hanya bisa berdo’a dan memohon kepada-Nya. Jawab Bagus penuh karismatik.

Lalu Bagus menengadahkan kedua tangannya seraya berdo’a kepada Allah SWT, untuk meminta hujan. Tak lama kemudian langit terlihat mendung disusul oleh kilatan cahaya. Kemudian terdengar suara gemuruh diiringi hujan. Pak Trimo dan Pak Panjul yang menyaksikannya secara langsung duduk bersimpuh sambil mengucapkan kata syukur kepada Allah SWT.

“Ya Allah terima kasih ya Allah. Setelah sekian lama desa kami dilanda kemarau panjang, Engkau telah mengirimkan seorang pemuda untuk menyelamatkan desa kami.” Ujar Pak Trimo.

“Terima kasih Mas Bagus.” Ucap Pak Panjul.

Pasca dikalahkannya Pak Trimo dan Pak Panjul oleh Bagus, kedua orang itu sekarang menjadi pengikut setia Bagus. Bahkan penyakit gatal-gatal yang menimpa keluarga kedua mantan jawara itu telah sembuh seketika. Hal itu membuat warga desa lainnya berbondong-bondong menemui Bagus minta disembuhkan.

“Mas Bagus tolong sembuhkan penyakit anak saya mas.”

“Yang bisa menyembuhkan anak ibu hanyalah Allah Swt bu. Kewajiban kita hanyalah berusaha sambil berdo’a. Silahkan ambil serbuk ini, dan oleskan pada bagian yang gatal-gatal ya bu.”

“Terima kasih Mas Bagus. Mudah-mudahan dengan obat ini anak saya bisa sembuh.”

Dalam waktu yang tidak begitu lama, akhirnya wabah penyakit gatal-gatal yang menyatroni Desa Dadap hilang seketika. Hal ini membuat nama Bagus semakin bersinar, dan sangat mudah melakukan da’wahnya. Sehingga Warga Desa Dadap yang sebelumnya telah terjerumus kepada kekufuran kini sudah kembali kepada ajaran islam di bawah bimbingan Bagus.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post