PENARI BERTOPENG
Oleh : Riswo
Ahir-akhir ini Pak Warto dan Bu Sarti sering merindukan Marni. Sampai-sampai Pak Warto jatuh sakit, karena selalu memikirkan anak semata wayangnya. Sedangkan Bu Sarti sendiri sering menangis, dan memanggil-manggil Marni. Marni yang diharapkan akan kembali, sampai saat ini belum juga ada kabar beritanya. Dia menghilng bagaikan ditelan bumi.
Untung saja Diah, teman akrab Marni sering berkunjung ke rumah orang tua itu. Sehingga kehadirannya dapat pengobat rasa rindunya kepada Marni. Diah yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri, turut merasakan apa yang dirasakan oleh kedua orang tua itu. Bahkan Diah sering dipeluk bahkan dicium seperti anaknya sendiri. Ketika Bu Sarti sadar bahwa dia bukanlah Marni, dia menangis sejadi-jadinya. Membuat Diah ikut berlinangan air mata tak tega melihatnya.
Namun kesedihan itu berangsur-angsur hilang setelah ada hiburan tari tayub di desa itu. Sebuah tari yang diiringi tembang jawa yang dapat menyentuh sanubarinya. Lirik lagunya terdengar mendayu-dayu mampu menyirami jiwanya yang lara. Apalagi salah satu penari tayub itu ada yang mirip Marni. Sayangnya mereka tak dapat mengenali wajahnya karena dia selalu menutupi wajahnya dengan topeng. Gerak penari tayub itu terlihat begitu lincah mengundang kagum para penontonnya.
Dari yang muda sampai yang tua dibuatnya sangat penasaran. Mereka saling berebut agar dapat menari dengan penari bertopeng itu. Hingga keributanpun tak terelakan lagi. Diantara mereka terjadi saling serang dan saling pukul. Untungnya Pak Darman sangat sigap dan dapat mengatasi kejadian itu.
“Saudara-saudara sekalian, pertunjukan ini akan saya bubarkan jika kalian tak bisa diatur. Terserah kalian. Apakah hiburan ini tetap kita lanjutkan, atau cukup sampai di sini saja ?” tegas Pak Darman.
“Lanju, pak .” Jawab penonton kompak.
“Kalau mau dilanjut, kalian harus tertib. Apabila ada yang mencoba lagi membuat keributan, maka kalian akan berhadapan dengan saya.” Ancam Pak Darman yang juga dikenal sebagai Jawara dari desa sebelah.
Setelah dianggap aman, tari tayub itu kembali dilanjutkan. Suara gamelan kembali ditabuh mengiringi para penari cantik yang sedang menari. Kali ini giliran Penari bertopeng yang akan menunjukan kebolehannya. Seorang laki-laki melompat ke panggung dan langsung menari dengan Penari bertopeng itu. Berkali-kali dia mencari kesempatan agar bisa membuka topengnya. Namun dengan sigap dia melibaskan selendangnya menghalau tangan nakal itu. Sorak-sorai penonton mewarnai pertunjukan itu.
Sementara Laki-laki itu merasa dipermainkan oleh Penari bertopeng. Kemudian secepat kilat tangannya merampas topeng itu. Akan tetapi Si Penari bertopeng itu tak membiarkan identitasnya diketahui oleh banyak orang. Dia berkelit ke samping mempertahankan topengnya. Membuat laki-laki itu dibuatnya semakin penasaran.
Laki-laki itu berpikir ada dua kemungkinan mengapa penari itu selalu menutupi wajahnya dengan topeng ? Mungkin karena wajahnya buruk rupa sehingga tak mau memperlihatkan wajahnya. Kemungkinan kedua, penari itu sangat cantik hingga harus menutupi identitasnya.
Bu Sarti sendiri meyakini kalau penari bertopeng itu adalah Marni, anaknya. Meskipun dia sedikit ragu karena selama ini Marni tak bisa menari dan sangat pemalu. Sedangkan Penari bertopeng itu terlihat sangat lincah dan sangat percaya diri. Sifat yang dimilikinya sangat bertolak belakang dengan sifat Marni.
Namun jika dilihat dari postur tubuhnya, penari bertopeng itu mirip sekali dengan Marni, yang menghilang bagai ditelan bumi. Keyakinannya itulah yang membuatnya selalu hadir di setiap ada pertunjukan tari tayub. Kini Penari bertopeng itu tampak bersemangat ketika melihat Bu Sarti yang sedang bertepuk tangan menyemangatinya. Lalu dia mengibaskan selendangnya meliuk-liuk bagai ular kobra yang sedang mencari mangsa. Bu Sarti kembali bertepuk tangan, tak sadar memanggilnya dengan melambakian tangan.
“Marni…, ayo semangat !”
Teriakan itu menerobos suara gamelan hingga terdengar sampai ke telinga Penari bertopeng itu. Anehnya Penari bertopeng itu mendadak diam, dan menatap Bu Sarti. Tatapan matanya seolah mengenal perempuan cantik yang mulai ditumbuhi oleh uban. Kini kedua perempuan beda usia itu saling bertatapan. Marni terlihat gugup ketika Bu sarti kembali memanggil dan mengajaknya pulang.
“Marni... Ibu kangen. Pulanglah nak.”
Teriakan Bu Sarti mengagetkan Penari bertopeng itu. Kemudian dia kembali melanjutkan tariannya pura-pura tak mendengar teriakan Bu Sarti. Sayangnya dia tidak fokus menari. Akibatnya tariannya berantakan tak mengikuti irama gamelan. Apa lagi ketika melihat Bu sarti menangis tersedu-sedu. Dia terlihat ikut sedih lalu ikut menangis. Itu diketahui dari balik topengnya ada tetesan air mata.
Pada saat Penari bertopeng itu sedang tak fokus, Pak Darman memberi kode agar Penari bertopeng itu menutup jati dirinya. Dia kembali menari tanpa menghiraukan lagi teriakan dari Bu Sarti. Membuat Bu Sarti semakin sedih dan akhirnya dia pulang ke rumahnya. Sampai di rumah, dia langsung membangunkan Pak Warto yang sedang tidur, untuk menceritakan perihal Penari bertopeng itu.
“Pak bangun pak. Anak kita pak.” Teriaknya.
Mendengar teriakan istrinya yang menyebut anaknya, Pak Warto kaget hingga bangun dari tidurnya.
“Ada apa bu, teriak-teriak ?”.
“Itu pak anak kita pak.”
“Anak kita bagaimana bu ? Apakah ibu sudah bertemu dengan Marni ? Ketemu di mana bu ? Terus dia di mana sekarang ?” tanya Pak Warto bertubi-tubi.
“Tadi ibu melihat Penari bertopeng itu mirip anak kita pak.”
“Walah bu, bu. Kirain ibu bertemu langsung dengan Marni. Nggak tahunya tentang Penari bertopeng itu toh.”
“Ibu yakin pak, kalau Penarari bertopeng itu adalah anak kita, Marni.”
“Ibu tahu dari mana kalau dia adalah Marni. Wong wajahnya saja ditutupi oleh topeng. Terus dari mana ibu yakin kalau dia adalah anak kita bu ?”
“Ibu kan yang melahirkan dia pak. Jadi ibu tahu kalau dia adalah anak kita. Naluri seorang ibu tak mungkin bisa dibohongi pak.” Ucap Bu Sarti meyakinkan suaminya.
“Apa lagi waktu ibu panggil namanya. Dia menatap ibu sambil menangis pak.” Ucap Bu Sarti lagi.
“Apa ibu yakin kalau dia adalah Marni bu ?”
“Saya yakin pak.”
“Kalau ibu yakin dia adalah Marni, besok kita cari tahu tentang Penari bertopeng itu bu.”
“Besok kita cari tahu alamat Penari tayub itu ya pak.”
“Ya bu. Sekarang tidurlah dulu.”
“Ya pak. Ibu yakin dia adalah Marni.” Pungkasnya.
Keesokan harinya Pak Warto dan Bu Sarti pergi ke rumah Pak Samiun, orang yang telah menanggap tari tayub itu. Setelah mendapatkan alamatnya, keduanya bergegas menuju ke Desa Wonosari yang letaknya satu hari perjalanan kaki dari rumahnya. Keduanya berangkat menggunakan sepedah ontel miliknya. Perjalanan yang mereka lalui melewati hutan belantara, dan jalannya berkelok serta naik turun. Sehingga Pak Warto harus ekstra hati-hati mengayuh sepedahnya.
Berulang kali Bu Sarti mengelap wajah suaminya yang mulai dibanjiri oleh keringat. Karena usianya yang sudah tak muda lagi, napasnya pun ngos-ngosan dan mukanya berubah memerah.
“Kita istirahat dulu ya pak. Tidak usah terburu-buru.” Ajak Bu Sarti.
Pak Warto menghentikan laju sepedahnya, dan berteduh di bawah pohon yang rindang. Lalu Bu Sarti membuka bungkusan yang berisi singkong rebus. Keduanya menikmati singkong rebus itu sambil melepas dahaga.
“Loh ibu kok sempat-sempatnya membawa bekal bu ?”.
“Ya toh pak. Kalau tidak ada singkong rebus, bagaimana mungkin bapak akan semangat mencari Si Ndu ?”.
“Ya bu. Terima kasih ya.”
“Lah bapak ni pakai terima kasih segala. Ini sudah menjadi kewajiban ibu sebagai seorang istri toh pak.” Ucap Bu Sarti sambil memandang suaminya yang sedang menikmati bekal bawaannya.
Setelah itu keduanya kembali mengayuh sepedahnya, dan telah sampai di Kampung Wonosari. Pak warto menghentikan laju sepedahnya, sedangkan Bu Sarti menemui penduduk yang kebetulan sedang lewat di dekatnya.
“Maaf pak, apa benar ini Kampung wonosari ?”.
“Betul bu, ini Kampung Wonosari.”
“Kalau rumah Pak Darman sebelah mana ya pak ?”.
“Maksudnya Pak Darman ketua rombongan tari tayub itu ya bu ?”.
“Benar sekali pak.”
“Ibu ikuti saja jalan ini. Kira-kira lima ratus meter lagi ada pertigaan jalan. Di pertigaan jalan itu, Ibu pilih jalan yang ke kiri. Kira-kira tiga ratus meter lagi di sebelah kanan jalan, ada rumah yang paling bagus, itu adalah rumah Pak Darman bu.”
“Terima kasih ya pak.” Ucap Bu Sarti lalu kembali melanjutkan perjalanannya.
Sampai di rumah yang dimaksud, Pak Warto berhenti lalu menyandarkan sepedahnya. Bu Sarti buru-buru mengetuk pintu rumah itu. Beberapa saat kemudian, pintu pun dibuka oleh seorang perempuan cantik yang sangat dikenalnya. Keduanya beradu pandang dan saling bertatapan.
“Ibu…, ibu…”
“”Benarkah yang ibu lihat ini ? Apakah ibu tidak sedang bermimpi ?” tanya Bu Sarti.
“Ibu tidak sedang bermimpi bu. Ini Marni bu.” Ucap gadis itu yang ternyata adalah Marni.
Pak Warto yang sedang menyandarkan sepedahnya lari dan memeluk anak gadisnya yang selama ini menghilang. Sementara dari dalam rumah Pak Darman pergi ke ruang tamu setelah mendengar Marni menangis.
“Ada apa ndu ribut-ribut ? Kenapa tamunya tidak disuruh masuk ?” tanya Pak Darman.
“Mereka bapak dan ibu saya pak.” Jawab Marni yang sedang menangis.
“Silahkan masuk pak.” Sapa Pak Darman.
Sambil merangkul Marni, Bu Sarti masuk rumah diikuti Pak Warto. Kemudian mereka dipersilahkan duduk di ruang tamu. Marni pergi ke dapur dan tak lama kemudian membawakan tiga gelas teh manis, lalu disuguhkan kepadanya.
“Bapak, ibu, silahkan diminum tehnya.”
“Silahkan diminum airnya pak.” Ucap Pak Daraman.
“Terima kasih pak.” Ucap Pak Warto lalu meneguk teh manisnya.
“Oh ya pak. Perkenalkan nama saya Pak Darman. Kalau boleh tahu dari mana bapak dan ibu tahu kalau Marni ada di sini ? Pedahal selama ini kami sengaja merahasiaakannya ? Itu juga karena permintaan Marni sendiri pak.” tanya Pak Darman.
“Kalau orang lain mungkin bisa Marni bohongi pak. Saya ini ibunya yang telah melahirkan dia. Walaupun dia selalu mengenakan topeng saat menari, tapi saya yakin Penari bertopeng itu adalah Marni. Makanya kami mencarinya ke sini pak. Kamu nakal yo ndu.” Ujar Bu Sarti, lalu mencubit pipi Marni.
“Maafkan Marni ya bu, hehehe…”
“Terus kamu belajar menari dari siapa ndu ?” tanya Bu Sarti lagi.
“Bu Darman yang mengajari saya menari bu.”
“Marni sudah saya anggap seperti anak saya sendiri bu. Kebetulan kami tidak dikaruniai keturunan.” Jelas Bu Darman.
“Terus bagaimana ceritanya kamu bisa sampai ke sini ndu ?” tanya Pak Warto.
“Waktu Marni pergi dari rumah, Marni bertemu Pak Darman di tengah jalan bu. Pak Darmanlah yang menolong saya.”
“Betul bu. Saat pulang dari ladang, saya melihat Marni sedang menangis di jalan. Lalu saya mengajaknya ke rumah.” Jawab Pak Darman.
“Buruk sekali nasib mu ndu. Untung ada Pak Darman. Terima kasih pak sudah mau merawat anak saya Marni. Terima kasih Bu Darman.” Ucap Bu Sarti.
“Sama-sama Bu Sarti. Kami minta maaf juga ya. Karena tidak memberitahukan tentang keberadaan Marni di sini.” Ungkap Bu Darman.
“Sekarang bapak dan ibu sangat lega setelah melihat kamu di sini ndu. Tapi ibu mohon kamu ikut pulang ya ndu.”
“Maaf untuk sementaraa waktu, biar saya di sini dulu ya bu. Saya belum siap untuk pulang.”
“Loh kenapa ndu ? Apa kamu nggak kasihan kepada ibu mu ini.” Ujar Pak Warto.
“Ya ndu. Warga juga sudah menyesal telah mengusir kamu dari desa kita. Mereka sudah minta maaf kepada Bapak dan ibumu. Bahkan mereka mengharapkan kamu pulang ndu.” Kata Bu Sarti meyakinkan Marni.
Hari itu meskipun Pak Warto dan Bu Sarti telah memintanya pulang, namun dia tetap kekeh pada pendiriannya. Dia tidak mau ikut pulang.
“Bagaimana ini pak, Marni nggak mau pulang ?” kata Bu Sarti pada suaminya.
“Biarkan saja Marni di sini dulu bu. Yang penting kita sudah tahu kalau Marni dalam keadaan baik-baik saja.” Jawab Pak Warto.
“Ya bu, biarkan saja Marni tetap di sini dulu. Dia sudah kami anggap seperti anak sendiri. Kalau tiba-tiba Marni pulang kami akan merasa kehilangan pak, bu.” Sela Bu Darman.
“Baiklah kalau begitu ndu. Nanti kalau waktunya sudah tepat, pulanglah ke rumah ya.” Jawab Bu Sarti.
“Kalau begitu kami pamit pulang ya Pak Darman. Titip Marni di sini.” Kata Pak Warto.
“Jangan khawatir pak, Marni akan baik-baik saja di sini.” Ucap Pak Darman.
“Terima kasih ya pak. Maaf saya telah merepotkan bapak dan ibu di sini.” Ujar Bu Sarti.
“Kalau begitu kamu baik-baik ya ndu di sini. Pak Darman kaami pamit dulu ya.” Ucap Pak Warto.
“Ya hati-hati di jalan pak.” Jawab Pak Darman sambil menetap kepergiannya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan