Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

TEKA-TEKI DIBALIK KEMATIAN PARMIN

Oleh : Riswo

Sekarang sudah tidak ada lagi orang yang dapat menghalang-halangi Parmin untuk mendapatkan Marni. Bagus yang selama ini menjadi batu sandungannya, sudah berhasil dia singkirkan. Lewat fitnah yang dia buat telah menjauhkan Bagus dari Marni. Sekarang di mata Marni Bagus tidak lebih dari seorang pecundang. Sebaliknya Parmin adalah satu-satunya laki-laki yang saat ini ucapannya dianggap paling benar.

Dia tak menyadari apa yang dituduhkan kepada Bagus hanyalah siasatnya untuk menjauhkannya dari Marni. Akibatnya nama baik Bagus tercoreng, hingga dia pergi meninggalkan desanya. Pedahal dia hanyalah korban dari fitnah yang dibuat Parmin. Melihat Bagus telah berhasil dia singkirkan, dia menjadi lupa bahwa sepandai-pandainya tupai melompat pasti suatu ketika akan terjatuh juga.

Di bawah pengaruh minuman keras, Parmin membeberkan apa yang sudah dia lakukan kepada Bagus. Parmin mengoceh dan mengakui sendiri kalau dialah orang yang membayar para begundal itu untuk mengganggu Marni. Tanpa dia sadari ada sepasang telinga yang sedang menguping pengakuannya. Dia adalah Diah yang secara kebetulan sedang lewat mau pergi ke rumah Marni.

“Ayo Rendol…, habiskan minuman ini. Ayo habiskan sampai kamu mabuk, hahaha…,hahaha… ”

“Tenang saja bos. Pasti minuman ini akan saya tenggak sampai habis semua, haaa…”

“Ayo kita rayakan keberhasilan kita ini Rendol. Tidak lama lagi Marni akan menikah dengan saya, hahaha… ”

“Siasat Bos Parmin memang sangat jitu sekali. Bagus akan menangis darah jika dia mendengar kekasihnya akan segera menikah dengan Bos Parmin. Kemudian dia akan gantung diri dan arwahnya akan gentayangan, hahaha… ”

“Jangan dibilang Parmin kalau tidak bisa menyingkirkan Bagus. Lagian Marni juga bodoh sih, gampang saya kadalin. Marni tidak tahu kalau saya yang membayar preman-preman itu. Hahaha…, hahaha… .” Celoteh Parmin.

“Ya Bos. Neng Marni memang terlalu bodoh. Dia percaya saja apa yang dikatan Bos Parmin. Sebentar lagi Neng Marni akan menjadi Nyoya Rendol, hahaha…”

“Hus, apa yang baru saja kamu katakan Rendol ? Kurang ajar kamu ! Berani sekali kamu mengatakan Neng Marni akan menjadi Nyonya Rendol.”

“Maaf bos, saya salah bicara. Maksud saya, sebentar lagi Neng Marni akan menjadi Nyonya Parmin, hahaha… .”

“Nah gitu dong. Dan kamu akan menjadi abdiku yang paling setia, hahaha…” Timpal Parmin.

“Dasar laki-laki bejad. Rupanya benar apa yang dikatakan Mas Bagus. Parmin adalah dalang di balik semua ini. Ini tidak boleh dibiarkan. Sekarang Marni harus tahu semua ini.” Ungkap Diah kesal.

Diah berjalan mengendap-endap pergi meninggalkan Parmin dan Rendol menuju rumah Marni. Sampai di rumah Marni, Diah menceritakannya apa yang baru saja dia dengar. Dengan napas ngos-ngosan, Diah meminta marni segera membatalkan pertunangannya dengan Parmin.

“Marni…, sekarang juga batalkan pertunangan kalian dengan Parmin.” Kata Diah.

“Eh, eh, eh. Ada apa kamu teriak-teriak Diah ? Datang-datang langsung minta batalkan pertunangan.”

“Kamu akan menyesal seumur hidup Marni. Batalkan sekarang juga.” Pinta Diah lagi.

“Loh, loh, loh. Memangnya ada apa ini ?” tanya Marni.

“Ternyata benar apa yang dikatakan Mas Bagus Marni. Parmin adalah manusia berbulu domba. Parmin adalah manusia biadab.”

“Jangan asal mangap kamu Diah. Apa buktinya kalau Parmin adalah manusia berbulu domba ? Sudah saya katakan, jangan pernah lagi kamu sebut nama pemuda itu di depan saya. Saya sudah muak mendengarnya !”

“Kali ini giliran kamu yang harus mendengarkan saya Marni. Kamu akan menyesal seumur hidup. Karena kamu telah mendzolimi Mas Bagus.”

“Apa maksud kamu Diah ?” tanya Marni sambil berdiri.

“Sabar Marni, duduklah. Dengarkan dulu penjelasan saya. Secara tak sengaja, saya melihat Parmin dan Rendol sedang mabuk-mabukan di gubug dekat jalan. Karena saya penasaran, lalu saya menguping pembicaraan mereka. Kamu tahu apa yang mereka katakan Marni ?”

“Apa yang dia katakan ?” tanya Marni memotong cerita Diah.

“Parmin mengatakan kalau dirinya yang membayar preman-preman itu.”

“Apa ? Apa benar yang kamu katakan itu Diah ?”.

“Itulah yang saya dengar dan saya lihat sendiri, Marni. Jadi selama ini kamu telah salah menuduh Mas Bagus.”

Mendengar kebenaran yang disampaikan Diah, Marni pun menangis dan menyesali perbuatannya. Jika saja dia mendengar apa yang Bagus katakan saat itu, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini.

“Maafkan saya Mas Bagus. Saya sangat menyesal tak mempercayai perkataanmu. Sekarang saya harus bagaimana Diah ?”

“Sekarang juga kamu harus membatalkan pertunangan itu.” ucap Diah.

“Saya tidak berani untuk membatalkannya. Mungkin hanya Mas Baguslah yang bisa menolong saya. Tolong sekarang temani saya menemui Mas Bagus. Ayo kita berangkat sekarang.”

“Kamu harus nyalin dulu Marni. Sekarang Mas Bagus ada di pesantren. Kalau pakaian kamu seperti ini rasanya kurang sopan kalau kita pergi ke sana.”

“Saya tak perduli Diah. Yang penting sekarang saya bisa bertemu dengan Mas Bagus. Ayo kita berangkat sekarang.” Desak Marni.

“Dengan pakaian seperti ini kita mau ke pesantren ? Kita harus menutup aurat dulu Marni.” Ucap Diah.

“Baiklah, tunggu sebentar.”

Setelah memakai hijab, keduanya berjalan kaki menuju ke pesantren. Namun naas sekali, di tengah jalanan mereka bertemu dengan Rendol. Rendol pun melaporkan apa yang baru dilihatnya kepada Parmin.

“Bos, tadi saya melihat Marni dan Diah sedang berjalan. Kelihatannya sangat terburu-buru sekali.”

“Apa ? Kira-kira mau ke mana mereka ?”.

“Saya tidak tahu bos. Yang jelas mereka mengenakan hijab, dan kelihatannya sangat terburu-buru sekali.”

“Jangan-jangan mereka mau menemui Bagus di pesantren. Ini tidak bisa kita biarkan Rendol. Ayo temani saya mengejar mereka !” ajak Parmin lalu mengengkol motornya.

Kemudian mereka melesat mengejar Marni. Hanya dalam hitungan menit saja, mereka sudah berhasil mengejar Marni. Alangkah kagetnya Marni tiba-tiba melihat Parmin dan Rendol sudah berada di belakangnya.

“Kamu mau ke mana neng ? Kelihatannya sangat terburu-buru sekali.” Sapa Parmin.

“Eh Mas Parmin, kamu mau ke mana mas ?”.

“Ditanya kok malah kamu nanya balik. Kalian mau ke pesantren kan ? Hayo jawab !”.

“Kalau iya memangnya kenapa ha ? Dasar bajingan, pembohong. Ternyata selama ini kamu hanya berpura-pura baik dengan saya. Kamu kan yang membayar preman-preman itu untuk mengganggu saya ? Ternyata kamu adalah musang berbulu domba ya. Pura-pura baik di depan, tetapi menusuk dari belakang.” Ucap Marni kesal.

“Oh rupanya kamu sudah tahu semuanya ya, hahaha… .” Jawab Parmin.

“Kalau begitu pertunangan kita batal. Mulai sekarang jangan pernah lagi ganggu saya.” Ketus Marni.

“Enak saja. Tak semudah itu kamu membatalkan pertunangan kita. Sekarang ayo pulang. Kalau tidak…”

“Kalau tidak apa mas ?” tantang Marni.

“Kalau tidak saya akan buat perhitungan dengan keluarga kamu. Apa lagi kalau kamu sampai berani membatalkan pertunangan kita.” Ancam Parmin lalu pergi meninggalkan Marni.

“Gimana Marni, apakah kita tidak jadi ke pesantren ?” tanya Diah.

“Kita pulang saja.”

“Apakah kamu takut dengan ancaman Parmin ?”

“Saya sangat paham dengan sifat Parmin. Dia tidak pernah main-main dengan ucapannya.”

“Kalau begitu kamu pulang saja Mani. Biar saya yang menemui Mas Bagus.”

“Tidak Diah, sekarang kita pulang saja. Kalau kamu mau ke pesantren, besok pagi saja. Pastikan jangan sampai ada yang melihatnya. Kalau tidak kamu akan mendapat masalah.”

“Baiklah kalau begitu. Ayo sekarang kita pulang saja.” Jawab Diah.

Setelah mengantar Marni, Diah pun langsung pulang ke rumahnya. Keesokan harinya di pagi buta, Diah sudah sampai di pesantren. Kemudian Diah menemui santri yang sedang berada di depan gerbang, menyampaikan maksud kedatangannya.

“Ada yang bisa ana bantu uhti ?” tanya santri itu.

“Apakah saya bisa bertemu dengan Mas Bagus ?”.

“Afwan, siapa nama uhti ?”.

“Nama saya Diah mas.”

“Tunggu sebentar ya. Saya panggil Mas Bagus dulu.” Ucap santri itu. Tak lama kemudian santri itu sudah kembali lagi bersama Bagus.

“Oh Neng Diah. Ada apakah gerangan yang membawa mu sampai ke pesantren ini neng ?” tanya Bagus.

“Marni mas.”

“Ada apa dengan Marni ?” tanya Bagus sedikit kaget.

“Sekarang Marni sudah tahu kalau Mas Bagus tidak bersalah. Marni sangat menyesal dan dia minta maaf ke Mas Bagus.”

“Kenapa bukan Marni saja yang minta maaf langsung ke saya ?” tanya Bagus lagi.

“Kemaren saya dan Marni pergi ke sini mas. Namun di tengah jalan kami dihadang oleh Parmin dan Rendol. Dia mengancam akan membuat perhitungan dengan keluarganya jika Marni sampai datang ke sini. Apa lagi jika Marni sampai membatalkan pertunangannya. Sekarang Marni dalam bahaya mas. Tolong Marni mas.”

“Saya tidak mau merusak hubungan mereka neng. Biarlah mereka menjalani takdirnya.”

“Kamu tega ya mas. Sampai hati membiarkan Marni jatuh ke pelukan pemuda jahat itu.”

“Sekarang pulang dan sampaikan pada Marni. Bilang saya sudah memaafkannya.” Ucap Bagus lalu kembali lagi ke pesantren.

Mendebgar jawaban Bagus, Diah terlihat putus asa. Dengan berat hati, dia kembali pulang ke rumah Marni. Kemudian menyampaikannya pesan dari Bagus.

“Tadi saya sudah bertemu dengan Mas Bagus Marni.”

“Bagaimana keadaan Mas bagus ?” tanya Marni.

“Mas Bagus terlihat kurus. Dia juga seperti orang yang tak bersemangat. Waktu saya menyampaikan kalau kamu menyesal dan minta maaf kepada Mas Bagus, katanya dia sudah memaafkan kamu.”

“Apa kamu juga sudah menceritakan kalau saya sedang membutuhkan pertolongannya ?”

“Sudah Marni. Mas Bagus bilang biarkan kalian menjalankan takdirnya.”

“Ya Allah Mas Bagus. Kamu sudah tak perduli lagi dengan saya. Mungkin karena dosa saya yang tak termaafkan. Maafkan saya yang telah melukai hatimu mu mas. Biarlah saya menjalani takdir ini bersama orang yang telah berbuat jahat kepada saya. Biarlah saya menikah dengan orang yang berhati iblis.” Sesal Marni.

Marni hanya bisa menyesali perbuatannya kepada Bagus. Dia sangat menyesal dulu tak mau mempercayai ucapannya. Mengapa dulu justru dia lebih percaya kepada Parmin. Laki-laki jahat berhati iblis yang telah membuatnya tak berdaya. Kini Nasi telah menjadi bubur. Bagus telah pergi meninggalkannya dengan membawa sejuta luka. Luka yang tak kan pernah sembuh walaupun Marni bersimpuh di hadapannya.

Sekarang Marni telah kembali menjadi pribadi yang sangat pemurung. Dia sangat sedih akan menjalani takdirnya yang tak lama lagi akan menjemputnya. Dengan sangat terpaksa dia harus menikah dengan seorang Parmin yang telah meracuni hidupnya. Sampai-sampai dia terlena dan harus jutuh ke pelukannya. Tidak demikian dengan Parmin. Dia terlihat sangat bahagia sekali. Karena tidak lama lagi akan menikah dengan pujaan hatinya.

Waktu yang ditunggu-tunggu Parmin akhirnya telah tiba. Sekarang parmin duduk di pelaminan bersama Marni. Wajahnya terlihat sangat berseri-seri. Seperti baru saja mendapatkan durian yang runtuh. Sesekali dia mencuri pandang kepada Marni, sambil melempar senyum. Sedangkan Marni sendiri terlihat begitu muram tak menampakan ada tanda-tanda kebahagiaan. Sampai-sampai tamu yang hadir pun membicarakan sepasang pengantin itu.

“Jeng Tuti, coba lihat pengantinnya. Parmin tampak bahagia sekali. Wajahnya sangat berseri-seri. Anehnya pengntin perempuannya malah tampak murung dan terlihat tak bahagia.”

“Benar Jeng Ani. Mungkin karena Marni masih malu-malu. Sehingga terlihat canggung sekali.”

“Ya Jeng, tapi kan seharusnya mereka sangat bahagia. Bukankah pernikahan itu kemauan mereka sendiri. Bukan karena paksaan kan ?” kata Tuti.

“Kalau gosip yang pernah saya dengar sih, awalnya mereka saling suka. Tapi belakangan ini diketahui Parmin telah berbuat curang.” Ucap Ani.

“Maksudnya curang bagaimana Jeng Ani ?”.

“Kabarnya sih, Parmin telah memfitnah Nak Bagus pacarnya Marni.”

“Oh Nak Bagus anaknya saudagar kaya itu ya Jeng ?”.

“Ya Jeng Tuti. Parmin mendapatkan Marni dengan jalan yang tidak baik. Parmin memfitnah Nak Bagus. Sampai membuat Marni membencinya. Itu yang saya dengar sih Jeng. Makanya setelah Marni tahu kebenarannya, Marni merasa terpaksa menikah dengan Parmin.”

“Kasihan Marni dan Nak Bagus ya Jeng Ani. Nak Bagus harus pergi meninggalkan desanya karena merasa malu. Sedangkan Marni sendiri harus menikah dengan orang yang tidak dicintainya.”

“Ya Jeng Tuti. Tapi mungkin ini sudah kehendak yang di atas.” Ucap Ani.

Dalam pesta itu, digelar hiburan wayang kulit. Suara gamelan terus ditabuh mengiringi Sang Dalang yang sedang melakukan pembukaan menggunakan bahasa Sansekerta, Jawa kuno. Sang Dalang mengangkat gunung di tengah layar sambil membacakan mantra pembuka.

“Memungkung awak ku kadya gunung, kul-kul dhingkul. Rep-rep sirep, wong sabuwana teka kedhep, teka lerep, teka welas teka asih. Asih saking kersane Allah.” Ucap Dalang sambil membunyikan kepraknya.

Prak, prak, prak.

Lalu Sang Dalang menurunkan gunung disusul Pengrawit memainkan gamelannya. Lantunan suara merdu diperdengarkan oleh seorang Sinden cantik. Satu lagu telah selesai. Sang Dalang kembali membunyikan kepraknya sambil mengangkat Semar. Semar adalah tokoh pewayangan yang memiliki badan gemuk, namun selalu bijak dalam bertutur kata. Sang Dalang kemudian membunyikan kepraknya lagi.

Prak, prak, prak.

Sura dira jaya jayaningrat, leburing dening pangastuti (semua sifat picik, keras hati, dan angkara murka, cuma bisa dikalahkan dengan sikap yang bijaksana, lembut hati dan sabar).

Prak, prak, prak.

Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorak, sakti tanpa aji-aji, sugih tanpa banda ( berjuanglah tanpa membawa massa, menanglah tanpa harus merendahkan dan mempermalukan, kewibawaan tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan, dan keturunan, kaya tanpa harus didasari hal-hal yang bersifat materi).

Prak, prak, prak.

Suara gamelan kembali ditabuh mengiringi Sinden yang sedang mengalunkan tembang jawa. Pertunjukan Sang Dalang mampu menghipnoptis semua penonton. Dari anak-anak sampai yang berumur tak ketinggalan menyaksikan pertunjukan itu.

Diceritakan oleh Sang Dalang bahwa di negeri pewayangan ada seoarng gadis yang setiap kali menikah suaminya langsung meninggal. Gadis semacam ini kata Sang Dalang, telah mendapat kutukan dari Dewa. Oleh karena itu dia akan selalu mendatangkan musibah. Untuk menolak bala dan menghilangkan kutukan itu, maka Sang gadis harus diruat terlebih dahulu sebelum menikah. Setelah diruat maka hilanglah kutukannya.

Pertunjukan itu pun berakhir sampai pagi hari. Satu-persatu penonton sudah pulang ke rumahnya. Sementara kedua pengantin masih terlelap di kamarnya. Bu Wiro menyambangi kamar anak dan menantunya yang belum bangun. Sambil membawa dua gelas minuman tradisional ala Jawa, Bu Wiro mengetuk pintu.

Tok.., tok…, tok…

“Bangun Ndu sudah siang. Ini ibu bawakan wedang jahe untuk menghangatkan badan.” Kata Bu Wiro.

Marni membuka pintu sambil menusap matanya. Dia masih lengkap dengan pakian pengantinnya. Bu Wiro merasa heran melihat menantunya yang masih berpakaian pengantin. Dia pun nyelonong masuk ke dalam kamarnya, lalu meletakan dua gelas wedang jahe di meja.

“Loh kamu kok masih berpakain pengantin Ndu ?” tanya Bu Wiro.

“Ya bu. Tadi malam Marni sangat ngantuk sekali dan langsung ketiduran. Makanya Marni tak sempat ganti baju bu.” Jawab Marni sambil mengusap matanya.

“Bangunkan suami mu ndu. Suruh dia minum wedang jahe dulu. Biar badannya hangat.” Ucap Bu Wiro lagi.

Marni pun membangunkan suaminya yang hanya mengenakan celana pendek saja.

“Mas bangun mas. Ini ibu membuat minuman untuk kita mas.” Ucap Marni kepada suaminya.

“Coba dipanggil lebah keras lagi ndu.” Perintah Bu Wiro.

“Mas, bangun mas.” Sapa Marni sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.

“Bu, Mas Parmin kok badannya dingin dan kaku bu ? Mas Parmin kenapa bu ?” teriak marni.

Mendengar teriakan Marni, Bu Wiro membangunkan Parmin sambil mengguncang-gucangkan tubuhnya. Dia menjerit melihat tubuh anaknya yang sudah kaku.

“Bangun lih, bangun. Kenapa kamu diam saja lih. Pak…, pak…, anak kita pak…” Teriak Bu Wiro memanggil suaminya.

“Ada apa dengan anak kita bu.” Jawab Pak Wiro sambil berlari menuju kamar anaknya.

“Anak kita meninggal pak. Kenapa kamu pergi meninggalkan ibu lih. Bangun lih, bangun.” Teriak Bu Wiro histeris.

“Bagaimana ceritanya ndu ? Kenapa ini bisa terjadi ?” tanya Pak Wiro kepada Marni.

“Saya tidak tahu pak. Tadi malam saya dan Mas Parmin langsung tidur. Saya baru bangun setelah ibu yang membangunkan pak.” Ucap Marni.

Mendengar penjelasan Marni kepada suaminya, Bu Wiro merasa tak puas. Secepat kilat dia berdiri dan langsung menjambak rambut Marni sambil menghujani pertanyaan.

“Pembunuh kamu ! Kamu telah membunuh anak saya. Apa salah anak saya Marni ?” teriak Bu Wiro sambil tangannya tak mau melepaskan jambakannya.

“Saya tahu dari dulu kamu memang tidak suka dengan anak saya Marni. Tapi mengapa kamu menerima pinangannya, ha ? Kamu sengaja ya menikahi Tangguh hanya untuk menghabisi nyawanya ?” teriak Bu Wiro lagi.

“Ampun bu, ampun. Saya tidak membunuh Mas Tangguh.” Ucap Marni sambil memohon kepada Ibu Mertuanya.

“Udah bu, udah. Bapak yakin Marni tidak tahu apa-apa soal ini. Lepaskan Marni bu.” Kata Pak Wiro sambil memeluk istrinya.

Perlahan Bu Wiro melepaskan Marni lalu ambruk dan duduk didepan suaminya sambil meraung-raung seperti kesurupan.

“Udah bu udah. Mungkin ini sudah nasib anak kita bu.” Bisik pak Wiro pelan.

Sedangkan Marni masih menangis sambil memeluk jasad suaminya sambil terus membangunkannya.

“Bangun mas bangun. Kenapa kamu pergi secepat ini ? Bangun mas.” Ucapnya sambil sesegukan.

Melihat menantunya terus memeluk jasad anaknya, Pak Wiro berbisik ke istrinya.

“Lihat Marni Bu. Dia terlihat sangat sedih sekali. Bapak yakin dia tak tahu apa-apa soal kematian Parmin.” Ucap Pak Wiro.

Bu Wiro melirik anak menantunya yang masih memeluk tubuh anaknya yang terus menangis. Dia menggeser tubuhnya lalu mendekati Marni. Tangan kanannya merangkul pundak Marni lalu memeluk menantunya. Dua wanita beda usia itu kini saling berpelukan sambil menangis histeris.

“Maafkan ibu ya ndu.” Ucap Bu Wiro.

“Ya bu, maafkan Marni juga ya bu. Marni tidak bisa menjaga Mas Parmin. Marni tidak tahu apa-apa bu. Marni bukan pembunuh bu.”

“Sudah ndu, sudah. Maafkan ibu juga ya ndu.”

Mendengar ucapan menantunya, Bu Wiro memeluk erat Marni sambil membelai rambutnya yang panjang. Perlahan tangisan Marni terdengar lirih diiringi suara sesegukan. Pak Wiro memandang iba pada istri dan menantunya. Lalu dia menoleh ke Rendol dan memintanya agar segera memberitahuakan ke warga prihal meninggalnya Parmin.

“Rendol kamu beritahu warga sekarang ya.”

Tanpa menjawab sepatah kata, Rendol mengangguk mendengar perintah juragannya. Kemudian mendatangi pos ronda dan memukul kentongan. Dalam hitungan detik warga sudah berkumpul di pos ronda.

“Ada apa Rendol ? Mengapa kamu memukul kentongan tanda kematian ?” tanya Pak Trimo.

Memangnya siapa yang meninggal Rendol ?”tanya Pak Panjul menyela.

“Mas Parmin Pak.” Jawab Rendol sambil terus memukul kentongan.

Sementara Pak Trimo dan Pak Panjul saling berpandangan mendengar jawaban Rendol mereka tak percaya.

“Jangan bercanda Rendol. Ngomong yang benar.” Desak Panjul.

“Benar Pak. Mas Parmin meninggal. Saya disuruh Pak Lurah untuk memberi tahu warga. Silahkan datang saja ke rumah Pak Lurah.” Jawab Rendol.

Setelah mendengar penjelasan Rendol, Pak Trimo dan beberapa warga lainnya pergi ke rumah Pak Wiro. Mereka menuju kerumunan warga dan ternyata benar apa yang dikatakan Rendol. Pak Trimo dan Pak Panjul membuka jasad Parmin yang sudah ditutupi selimut. Di samping jasad itu Bu Wiro dan Marni masih menangisi kepergian Parmin.

“Mohon maaf Pak Lurah, Parmin sakit apa ?” tanya Pak Panjul.

“Kami sendiri tidak tahu Parmin sakit apa Pak Panjul. Itu juga yang membuat kami binging. Karena semalam dia terlihat baik-baik saja. Tapi sudahlah. Mungkin ini kehendak yang di atas.”

“Saya turut berbela sungkawa ya Pak Lurah. Mudah-mudahan Mas Parmin dilancarkan jalannya. Amiin.” Ucap Pak Trimo.

“Terima kasih Pak Trimo.”

“Oh ya Pak Lurah, apa tidak sebaiknya jasad Mas Parmin kita pindahkan saja ke ruang tamu. Agar warga yang lain bisa melihatnya.” Ucap Pak Panjul.

“Oh ya silahkan Pak panjul.” Jawab Pak Wiro.

Trimo, Panjul dan Rendol pun memindahkan jasad Parmin ke ruang tamu. Satu-persatu warga yang mulai berdatangan langsung melihat jasadnya untuk terahir kalinya. Mereka semua merasa terkejut atas meninggalnya Parmin yang secara tiba-tiba. Mereka pun mengiringi kepergian Parmin dengan do’a.

Pesta di rumah Pak Wiro kini berubah menjadi banjir air mata. Kebahagiannya berganti menjadi duka lara. Anak kesayangannya yang baru saja menikah kini telah tiada. Rumah Pak Wiro kembali ramai didatangi para pelayat untuk mengucapkan bela sungkawa. Kematian Parmin yang secara tiba-tiba dihubung-hubungkan dengan cerita pertunjukan wayang semalam. Bahwa di negeri pewayangan ada seorang gadis yang mendapat kutukan dari Dewa. Siapa pun yang menikahinya pasti akan berakhir dengan kematian.

Kemudian kejadian itu dihubung-hubungkan dengan gadis yang diceritakan oleh Sang Dalang semalam. Apa lagi Marni sudah dua kali menikahi dan keduanya meninggal tanpa sebab yang jelas. Tangguh anak juragan kaya yang menikahi Marni tewas dimalam pengantin. Kali ini Parmin juga bernasib sama seperti Tangguh. Dia juga harus tewas di malam pengantin. Kejadian itu membuktikan bahwa Marni adalah gadis yang dimaksud oleh Sang Dalang dalam cerita di pewayangan itu.

“Rupanya orang yang dimaksud oleh Sang Dalang semalam adalah Marni ya bi. Sudah dua orang yang menikah dengan dia semuanya tewas. Jadi Marni adalah gadis yang mendapat kutukan Dewa ya bi ?” tanya Karsih kepada bibinya yang kebetulan ikut melayat.

“Hus ojo seru-seru ndu. Nggak enak didengar orang.” Jawab Bi Ijah kepada ponakannya.

“Tapi kejadiannya sama persis dengan yang diceritakan oleh Sang Dalang semalam kan bi. Siapa saja laki-laki yang menikahi gadis itu pasti semuanya akan meninggal. Begitu juga dengan Marni kan bi.” Ucapnya lagi.

“Sudah-sudah, jangan diteruskan lagi. Sekarang Pak Lurah sedang berkabung, nggak enak kalau dia sampai dengar. Nanti kalau dia dengar malah tambah brabe urusannya.” Ucap Bi Ijah kepada ponakannya.

Hari itu juga jenajah Parmin akan dikuburkan. Parmin dilepas dengan upacara perpisahan. Banjir air mata pun mewarnai keluarga Pak Wiro. Tak terkecuali dengan Marni. Marni terlihat sangat terpukul melepas kepergian suaminya. Bahkan dia menyalahkan dirinya yang menjadi penyebab kematian suaminya.

“Benarkah saya ini perempuan pembawa sial ? Benarkah saya mendapat kutukan dari Dewa ? Sehingga semua laki-laki yang menikah dengan ku pasti akan berahir di malam pengantin.” Gumamnya sambil menangis tersedu-sedu.

Setelah pemakaman suaminya, Marni berpamitan kepada mertuanya untuk pulang ke rumah orang tuanya. Rumah sederhana berdinding anyaman bambu yang membuatnya sangat nyaman. Sejak itu Marni kembali mengurung diri dan hampir tidak pernah lagi keluar rumah. Hanya Diah satu-satunya teman yang selalu menghiburnya.

Berita tentang kematian Parmin tersiar sampai ke desa lain. Banyak orang yang percaya kalau Marni adalah perempuan pembawa sial. Tidak sedikit orang tua yang memiliki anak laki-laki merasa khawatir anaknya jatuh cinta kepada Marni dan akhirnya menjadi korban. Kehawatiran yang berlebihan itu membuat warga meminta kepada Kepala Desa untuk mengusir Marni dari desanya. Hari itu juga warga sudah berkumpul di rumah Kepala Desa, dan menuntut agar Marni diusir dari desa.

“Ada apa ribut-ribut di luar Bu ? tanya Pak Wiro.

“Ibu juga nggak tahu pak.” Jawab Bu Wiro lalu keduanya keluar rumah.

“Bapak-bapak, ada apa ini rebut-ribut di rumah saya ?” sapa Pak Wiro.

“Pak Lurah, kami minta keadilan. Kami minta hari ini juga Marni diusir dari desa kita.” Kata Pak Panjul.

“Ya pak Lurah. Kami takut anak kami menjadi korban berikutnya. Marni harus keluar dari desa ini Pak Lurah. Kalau Pak Lurah tidak mengusrir dia, biar kami yang akan mengusirnya” Sela Pak Trimo mendukung ucapan Pak panjul.

“Ya betul kami setuju. Sekarang juga Marni harus pergi dari desa kita. Teman-teman ayo kita ke ruamah Marni. Kita usir dia.” Ucap Panjul lagi.

“Tunggu dulu, kalian jangan gegabah ! Yang mestinya harus khawatir adalah saya yang telah kehilangan anak. Urusan Marni adalah urusan saya. Sekarang kalian bubar, dan kembali ke rumah masing-masing.” Perintah Pak Wiro kepada warganya.

Tanpa dikomando lagi, satu-persatu mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Sedangkan Pak Wiro tampak pusing berdiri mondar-mandir di depan rumahnya.

“Kenapa toh pak, berdiri mondar-mandir di depan rumah ?” tanya Bu Wiro.

“Saya pusing bu. Baru saja kita kehilangan anak, ini warga malah meminta kita untuk mengusir Marni. Bagaimana pun Marni adalah anak mantu kita bu. Saya jadi bingung harus berbuat apa ?” ujar Pak Wiro.

“Udah-udah nggak usah dipikirkan. Ini pak minum dulu tehnya.” Ucap Bu Wiro sambil menyodorkan secangkir teh manis kepada suaminya.

“Nggak usah dipikirkan bagaimana bu ? Kalau mereka ternyata benar mengusir Marni, lalu mau ditaro di mana muka kita bu. Terus apa yang harus kita katakan kepada Pak Warto.”

“Kalau menurut saya sih pak, yang menjadi ketakutan warga memang cukup beralasan.” Sambung Bu Wiro.

“Maksudnya apa bu ?” tanya Pak Wiro.

“Kalau ibu nggak salah dengar, tadi warga bilang kalau Marni tetap tinggal di desa ini, mereka takut anaknya akan jatuh cinta kepada Marni. Mereka tidak mau anak laki-lakinya akan bernasib sama seperti anak kita pak.” Lanjut Bu Wiro.

“Terus kita harus bagaimana bu ? Apa kita harus mengusir Marni dari desa ini ? Tidak bu, tidak mungkin.”

“Dengarkan dulu toh pak. Siapa juga yang mau ngusir Marni ? Maksud ibu coba bapak cari tahu penyebab kematian anak kita ke orang pintar ? Menurut ibu, kematian Parmin bukan hanya secara kebetulan. Karena kematiannya sama persis dengan suami Marni yang terdahulu. Kalau kita sudah tahu penyebab kematiannya, kita tidak penasaran lagi pak.”

“Ya juga ya bu. Kalau begitu bapak berangkat sekarang.”

“Habiskan dulu tehnya pak.” Ucap Bu Wiro.

Kemudian dengan diantar Rendol, Pak Wiro menemui gurunya yang biasa dipanggil Mbah Panembahan. Pak Wiro kemudian menceritakan masalah yang telah menimpa anaknya.

“Apakah gerangan yang telah membawa mu ke sini Wiro ? Kamu tidak akan datang kalau tidak ada masalah yang sangat penting.” Sapa laki-laki tua itu.

“Ya Mbah. Kedatangan saya kemari tidak lain dan tidak bukan untuk minta pertolongan kepada Mbah Panembahan.”

“Pertolongan apa Wiro ?” tanya Mbah Panembahan lagi.

“Saya ingin tahu penyebab kematian anak saya Parmin. Menurut saya kematiannya sangat tidak wajar Mbah.”

Tanpa menjawab sepatah katapun, laki-laki tua itu langsung duduk bersilah. Lalu kedua matanya terpejam. Sementara mulutnya komat-kamit membaca mantra. Tak lama kemudian, laki-laki tua itu membuka matanya lalu menyampaikan apa yg dilihat oleh mata batinnya.

“Ciloko Wiro, Ciloko.” Ucap Mbah Panembahan.

“Ciloko kenapa Mbah ? Apa penyebab kematian anak saya ?” tanya Wiro lagi.

“Kematian anak mu karena dimangsa oleh ular siluman.”

“Tidak mungkin Mbah. Anak saya meninggalnya di dalam kamar. Mana mungkin dia dimangsa oleh ular siluman ?” sanggah Wiro tak percaya.

“Menantu kamu Wiro, menantu kamu.” Jawab Mbah Panembahan singkat.

“Apa Mbah, menantu saya ? Tidak mungkin Mbah. Tidak mungkin. Menantu saya bukan ular jadi-jadian Mbah.” Sanggah Wiro lagi.

“Apakah menantu mu memiliki tanda lahir Wiro ?”

“Saya kurang tahu Mbah.”

Mbah Panembahan kembali duduk bersila sambil memejamkan matanya. Kemudian bibirnya komat-kamit mengeluarkan suara yang tak jelas. Tak lama kemudian dia kembali membuka matanya .

“Benar dugaan ku Wiro. Menantu mu memiliki tanda lahir.”

“Maksud Mbah Panembahan, Marni memiliki tanda lahir ? Kalau soal tanda lahir saya juga punya Mbah. Coba lihat ini mbah.” Ucapnya sambil membuka bajunya dan memperlihatkan tanda hitam yang ada di perutnya.

“Hahaha…, Wiro, Wiro. Itu mah namanya tompel Wiro. Tidak ada hubungannya dengan tanda lahir yang saya maksud.”

“Terus tanda lahir yang seperti apa mbah ? Apa hubungannya tanda lahir dengan ular siluman itu ?” tanya Wiro lagi.

“Tanda lahir yang dimiliki Marni namanya toh Bromo. Warnanya coklat kemerahan. Bentuknya melingkar seperti gambar ular. Itulah yang dinamakan toh Bromo. Dari dalam toh bromo itu sewaktu-waktu akan keluar ular siluman jika ada laki-laki yang mau menggaulinya. Termasuk anak kamu Wiro.”

“Jadi anak saya dimangsa oleh ular siluman itu sebelum menggauli Marni ya Mbah ?” tanya Wiro lagi.

“Betul. Anak kamu meninggal karena dipatok oleh ular siluman itu saat berusaha menggauli Marni. Meskipun Marni sudah dua kali menikah, tapi sampai saat ini Marni masih perawan ting ting. Setiap gadis yang memiliki tanda lahir semacam itu, dia akan dijaga oleh ular siluman. Ular siluman itu tidak mau ada laki-laki lain yang memilikinya.”

“Terus saat kejadian itu apakah Marni sendiri sadar Mbah ?”

“Tidak. Karena sebelum melakukan pembunuhan itu, Pengemongannya menidurkan Marni terlebih dahulu. Dalam hal ini Marni tidak tahu apa-apa soal kematian suaminya.”

“Pantas saja Marni tidak pernah merasa telah membunuh anak saya. Terus bagaimana caranya untuk mengusir mahluk jahat itu dari tubuh Marni Mbah ?”.

“Ada sebuah proses ritual yang harus kita lakukan. Tapi tarohannya adalah nyawa Wiro. Untuk bisa menemui mahluk ular itu, kita harus merogoh sukmo. Setelah itu kita suruh dia pergi dari tubuh Marni. Kalau dia membandel, terpaksa kita harus duel dengan dia. Jika dalam pertarungan itu kita yang menang, maka Marni akan terlepas dari cengkraman mahluk terkutuk itu. Namun sebaliknya jika kita yang kalah, maka sukmo atau roh kita tidak akan bisa kembali lagi ke tubuh kita. Artinya kita akan mati dan menjadi tawanan mahluk itu.” Paparnya.

“Terus apa yang harus saya lakukan Mbah ?” tanya Wiro lagi.

“Sekarang kamu pulang. Tepat di malam purnama nanti, siapkan proses ritualnya. Jangan lupa siapkan bunga tujuh rupa dan sepasang ayam cemani.” Perintah Mbah Panembahan.

“Ya Mbah.” Jawab Pak Wiro lalu sungkem kepada gurunya. Setelah itu pulang ke rumahnya.

Tepat di malam purnama, Kepala Desa itu sudah menyiapkan prosesi ritual yang diminta oleh gurunya. Entah mengapa suasana di malam itu tiba-tiba sangat mencekam. Hanya suara lolongan anjing yang terdengar menakutkan. Membuat bulu gudug Pak Wiro menjadi merinding, dan membuat kakinya terasa gemetar. Tiba-tiba datang suara angin berputar-putar di atas rumah. Hal itu membuat Pak Wiro semakin ketakutan. Ditambah lagi pundak Pak Wiro terasa ada yang meraba dari belakang. Wiro pun menjerit ketakutan, tak berani memandang ke belakang.

“Hahaha…, Kamu kenapa Wiro ? Tubuh mu gemetar seperti orang ketakutan.”

“I…, i…, ya guru. Entah mengapa malam ini begitu sangat menakutkan.”

“Kamu ada-ada aja Wiro. Namanya juga malam purnama, pasti banyak sekali setan-setan yang gentayangan, hahaha…”

“Jangan nakut-nakuti saya guru.”

“Ya sudah. sekarang kamu siapkan proses ritualnya. Tolong jaga raga saya selama saya merogoh sukmo. Kalau tiba-tiba raga saya berguncang hebat, itu pertanda saya sedang bertarung dengan siluman itu. Bakarlah dupa ini jangan sampai lupa. Kamu paham Wiro ?”

“Paham guru.”

Kemudian Mbah Panembahan duduk bersila, matanya terpejam. Bibirnya komat-kamit membaca mantra. Kedua tangannya diletakan di atas lutut. Sementara jari telunjuk dan jampolnya bertemu membentuk lingkaran. Sedangkan jari tangan yang lain dibuka mirip orang yang sedang melakukan meditasi. Saat itulah Mbah Panembahan seperti orang yang sudah meninggal. Tubuhnya lemas seolah tak bernyawa.

Sedangkan Pak Wiro terus mengawasi raga gurunya yang sedang merogoh sukmo. Rasa takut semakin menghantui dirinya, ketika melihat raga gurunya berguncang hebat. Apa lagi ketika gurunya mengeluarkan umpatan sambil mulutnya mendesis.

“Kurang ajar kamu mahluk jelek.” Umpatnya.

Tak lama kemudian tubuhnya kembali berguncang dan kedua tangannya mengeluarkan jurus-jurus silatnya. Sampai-sampai Pak Wiro menyangga raga gurunya agar tidak roboh. Sementara raga tua itu telah dibanjiri oleh keringat.

“Kena kamu mahluk jelek.” Gumamnya.

Sementara Marni yang sedang tidur di rumahnya tiba-tiba menjerit disertai suara mendesis mirip seekor ular. Jeritannya terdengar sangat keras sekali. Sehingga kedua orang tuanya yang sedang tidur pulas terbangun. Kemudian mereka menyambangi Marni di kamarnya. Ternyata Marni sedang tidur pulas.

“Tadi jelas sekali terdengar jeritan Marni.”

“Mungkin tadi Marni sedang mengigau pak.”

“Kalau mengigau kenapa teriakannya keras sekali bu.” Jawab Pak warto.

“Mungkin Marni sedang mimpi buruk pak. Sudahlah pak, kita kembali lagi ke kamar. Kasihan Marni, nanti tidurnya terganggu.” Ucap Bu Sarti.

Sementara di rumah Pak Wiro masih terjadi pertarungan yang sangat sengit. Kali ini tubuh Mbah Panembahan kembali bergetar hebat sambil mengerang kesakitan. Kemudian tubuhnya terpental beberapa langkah ke belakang sambil mutah darah.

“Wek…, wek…, wek…”

“Apa yang terjadi guru ?” teriak Pak Wiro.

“Iblis itu sangat kuat sekali Wiro. Saya tak sanggup untuk menghadapinya. Wek…, wek…”

Kamar berukuran empat kali empat meter itu kini telah bersimbah darah. Mbah Panembahan tak mampu lagi menaklukan ular siluman itu. Dia pun menyerah lalu menghilang dari hadapan Pak Wiro. Wiro semakin ketakutan ditinggal pergi oleh gurunya.

“Guru…, guru…, tunggu guru.” Teriak Wiro, sampai teriakannya membangunkan istrinya.

“Ada apa pak ? Malam-malam begini teriak-teriak.”Ucapnya lalu mendekati suaminya yang terlihat pucat.

“Itu darah siapa pak ?” tanya istrinya lagi.

“Itu darah Mbah Panembahan bu. Dia tadi datang ke sini, bertarung menghadapi siluman ular itu. Tapi guru kalah dan pergi bu.”

“Terus sekarang kita harus bagaimana pak ? Mau nggak-mau kita harus mengusir Marni dari desa ini. Kalau tidak, kita semua yang bakal celaka.”

Keesokan harinya puluhan warga mendatangi rumah Pak Warto, sambil teriak-teriak memanggil namanya.

“Pak Warto, keluar…! Suruh Marni pergi dari desa ini. Kalu tidak rumah ini akan kami bakar !” ancam panjul dengan warga lainnya.

Mendengar teriakan warga, Pak warto dan Bu Sarti keluar rumah lalu menemuai warga yang terlihat tak bersahabat itu.

“Hai ada apa dengan kalian ? Mengapa kalian teriak-teriak di rumah saya. Apa salah kami ?” tanya Pak Warto.

“Suruh Marni keluar dan pergi dari Desa ini ! Atau kami akan memaksa Marni !” ancam panjul.

“Sabar, sabar. Ada apa ini ? Apa salah anak saya ?” tanya Pak Warto lagi.

“Marni adalah perempuan pembawa sial di desa ini ! Sudah dua kali laki-laki yang menikahi dia telah menjadi korbannya. Keluar Marni…!” bentak Trimo.

Plak !

“Aduh !” teriak Pak Warto sambil memegangi kepalanya.

Ternyata salah satu warga ada yang melempar kepala Pak Warto menggunakan batu. Darah pun mengucur dari kepalanya.

“Bapak…, bapak…” Teriak Bu Sarti sambil merangkul suaminya.

Mendengar jeritan Bu Sarti, Marni keluar dari kamarnya dan memeluk ayahnya yang sudah bersimbah darah. Setelah itu Marni berdiri sambil berkacak pinggang lalu marah kepada warga.

“Hai kalian ? Saya akan pergi dari desa ini sekarang juga. Tapi tolong jangan ganggu keluarga saya. Tapi ingat, saya tidak akan tinggal diam atas perlakuan kalian kepada orang tua saya. Sekarang kalian bubar.” Bentak Marni lantang.

“Bapak-bapak, ayo kita pulang. Kalau nanti sore Marni belum juga pergi dari desa ini, kita bakar rumahnya.” Ancam Panjul.

“Silahkan bakar rumah ini kalau saya tidak menepati janjinya.” Jawab Marni tegas.

Mendengar Marni berjanji akan pergi dari desa itu, mereka lalu pergi meninggalkan rumah sederhana berdinding anyaman bambu. Kemudian Marni berkemas dan menemui kedua orang tuanya. Setelah itu berpamitan lalu pergi.

“Pak, Bu, Marni pamit dulu ya ? Jaga kesehatan ya pak, bu.”

“Kamu mau pergi ke mana ndu ?” tanya Bu Sarti.

“Ya ndu, kamu mau pergi ke mana ?” tanya Pak Warto sambil memegang kepalanya.

“Marni nggak tahu mau pergi ke mana pak, bu.” Jawab Marni sambil menangis.

“Tolong jangan pergi ndu ?” ucap Bu Sarti.

Kemudian Marni memeluk kedua orang tuanya, sambil bercucuran air mata. Sebenarnya Marni merasa tak tega meninggalkan kedua orang yang sangat dicintainya. Apa lagi mereka terlihat semakin tua. Namun keadaanlah yang memaksanya harus pergi.

“Marni…, Marni..., jangan pergi ndu.” Teriak Bu Sarti.

“Udah bu udah. Relakan dia pergi. Bapak yakin suatu ketika Marni akan kembali lagi ke rumah ini. Sekarang kita do’akan saja agar dia baik-baik saja. Mungkin ini sudah kehendak Tuhan bu.” Ucap Pak Warto berusaha menenangkan istrinya.

Kini langkah Marni semakin jauh meninggalkan rumahnya. Pak Warto dan Bu Warto menatap kepergian anaknya sampai menghilang dari pandangannya. Lalu keduanya kembali masuk ke rumah diiringi isakan tangis. Bu Sarti memeluk baju Marni yang tertinggal di kamarnya, sambil mengeluarkan sumpah serapah kepada mereka yang telah mengusir anaknya.

“Mudah-mudahan orang yang telah membuat mu susah mendapat balasan yang setimpal ndu.” Ucapnya sambil meratapi kepergian Marni.

Sedangkan Pak Warto tak mampu berbuat apa-apa melihat istrinya sedang menangis histeris. Dia berusaha tabah sambil mengelus dadanya yang terasa sesak. Sementara kepalanya masih berlumuran darah akibat lemparan batu oleh warga.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post