TELAGA ANGKER
Oleh : Riswo
Malam semakin larut, cahaya bulan tampak remang berselimut kabut. Dedaunan masih merunduk sayu, diantara ranting dan pohonnya. Sementara burung cangak terdengar mengoak. Menyerupai jeritan bayi yang sedang ketakutan. Seakan ia tahu malam itu ada insan yang dirundung pilu.
Adalah Bu Sarti, sudah larut malam belum juga terlena dalam mimpinya. Hatinya gelisah, pikirannya melayang, merenungi nasibnya yang malang. Bagaimana tidak ? Sepuluh tahun telah berlalu. Bu Sarti hidup dalam penantian yang teramat panjang. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulanpun telah berganti tahun. Berbagai usaha telah mereka lakukan untuk memiliki seorang anak. Namun Sang Pemilik takdir belum juga mempercayainya.
Kenyataan pahit ini telah membuat hidupnya terasa hampa. Batinnya tersiksa. Rasa sepi kian menggerogoti jiwanya yang lara. Acapkali dia keluar rumah, ada saja omongan dan cacian yang sangat menyakitkan. Memojokan, bahkan menghujani seribu satu pertanyaan. Sudah menikah sepuluh tahun, kok kamu belum juga dikaruniai momongan ? Jangan-jangan kamu ini mandul ? Kamu ini tidak akan pernah punya anak. Karena usiamu sudah tak muda lagi.
Kata-kata sadis itu serasa memecahkan selaput telinga. Terdengar begitu miris, dan sangat menusuk hati. Terlontar begitu tajam tanpa memikirkan si pemilik hati. Belum lagi ketika dia mendengar kata-kata sindiran yang terucap dari bibir yang tak bertulang. Si malang ini hanya bisa menangis sambil mengelus dadanya yang terasa sesak. Sambil menutupi rasa sakitnya, dia berusaha tersenyum dan menyimpan kata demi kata yang ditujukan kepadanya.
Baginya, kata demi kata itu terdengar sangat pahit. Bagai mengunyah empedu yang pecah di mulut. Yang membuat tenggorokan terasa kering dan bagai tercekik. Namun semua itu dia jadikan sebagai cambuk, dan tak lantas membuatnya putus asa. Dia malah semakin bersemangat mencari jalan untuk mewujudkan impiannya. Persetan dengan omongan orang dengan apa yang dia lakukan. Termasuk meminta bantuan kepada seorang dukun, bahkan memuja pada sebuah gunung. Demi hadirnya Si buah hati yang selalu dia nantikan.
Sampai akhirnya Bu Sarti bertemu dengan seorang nenek yang bernama Nek Lasmi. Di depan Nenek Lasmi, Bu Sarti menceritakan nasibnya yang malang. Sambil bercucuran air mata, suaranya terdengar parau dan terbatah-batah.
“Ada apa cucuku ? Kenapa sorot matamu begitu hampa dan mencerminkan sebuah keputus asaan ?” ujar Nenek Lasmi.
“Bagaimana saya tidak putus asa nek ? Sudah sepuluh tahun menikah, tapi saya belum juga mendapatkan momongan. Bahkan saya sering dikatakan mandul dan tak akan pernah bisa mendapatkan keturunan. Karena katanya umur saya sudah tak muda lagi. Apakah benar yang mereka katakan itu nek ?” ucapnya sambil terisak-isak.
Sementara sang nenek hanya dapat mendengarkan cerita pilu dari perempuan cantik itu. Tergambar di wajah nenek itu ada guratan sedih yang menyelimutinya. Tak terasa pada sudut mata cekungnya menitikan butiran air mata. Dia tak kuasa mendengar cerita sedih yang dialami wanita cantik yang ada di depannya. Nenek itu lalu menggeser duduknya, dan menggenggam tangan Bu Sarti. Sambil menatap matanya yang sayu, dia memeluk erat Bu Sarti dengan kasih sayang.
Tak henti tangan kurus berbalut keriput itu mengusap air matanya. Seolah wanita cantik yang dipeluknya adalah cucunya sendiri. Kini bibir nenek itu terlihat gemetar. Kedua bibirnya berbisik seolah memberi harapan kepada Bu Sarti.
“Jangan bersedih cucuku. Nenek akan membantumu.” Bisiknya lembut, sambil membelai rambut panjangnya yang terurai.
Mendengar ucapan nenek itu, serasa jiwanya melayang membayangkan sang buah hati yang tak lama lagi akan datang. Perlahan Bu Sarti mengangkat wajahnya sambil menatap nenek yang baru saja dikenalnya. Dia beradu pandang pada pemilik bola mata yang hampir tertutup kerutan keriput. Matanya terlihat menyipit, terpancar ada sebuah ketulusan pada dirinya. Kemudian nenek itu tersenyum kepada Bu Sarti seraya memberikan motivasi.
“Jangan putus asa cucuku. Yakinlah usahamu selama ini tidak akan pernah sia-sia.”
“Apakah benar yang nenek katakan itu ? Terus saya harus bagaimana nek agar bisa mendapatkan seorang anak ?” tanya Bu Sarti.
“Datanglah kamu ke Kedung Ombo, temui Mbah Kuncen. Katakan pada dia, Nenek Lasmi yang menyuruhmu. Nenek yakin dia tidak akan berani menolak permintaan nenek. Sekarang pulanglah cucuku ! Suamimu sudah mengkhawatirkanmu.”
“Ya nek.” Jawab Bu Sarti lalu memeluknya erat.
Dengan wajah berbinar-binar, Bu Sarti pulang ke rumahnya. Sementara Pak Warto terlihat begitu cemas berdiri mondar-mandir di depan pintu. Begitu melihat istrinya datang, wajahnya berubah cerah. Rasa khawatir akan dirinya sirna seketika. Sekarang dia duduk di kursi dengan selembar senyum menyambut kedatangannya.
“Ibu dari mana saja ? Sudah sore begini kok baru pulang ? Jangan membuat bapak khawatir bu ?” ucapnya.
“Sudahlah pak. Tidak ada lagi yang perlu dirisaukan. Yang penting sekarang ibu sudah pulang.” Ucap Bu Sarti lembut sambil tersenyum diiringi secercah harapan.
Namun entah mengapa pada malam harinya Bu Sarti sulit untuk tidur. Dia masih memikirkan ucapan Nenek Lasmi tadi sore. Kata-katanya masih terngiang-ngiang di telinganya. Meski berulang kali dia sudah menutup telinganya, namun ucapan nenek itu masih saja terdengar dengan jelas. Kini Bu Sarti merubah posisi tidurnya. Kadang miri ng ke kanan, dan kadang miring ke kiri. Kali ini dia tidur dengan posisi sujud sambil memeluk bantal guling. Namun sekuat apapun usahanya tetap saja sia-sia.
Sekarang Bu Sarti tidur terlentang sambil menatap langit-langit. Pandangannya hampa penuh keraguan. Sementara napasnya naik turun tak beraturan. Pak Warto yang tidur di sebelahnya sedikit merasa terganggu. Dia pun bangun dan berusaha menghibur istrinya.
“Sudah selarut malam ini kenapa ibu masih belum tidur juga ? Apa yang sedang ibu pikirkan ? Kalau ada masalah, coba ceritakan bu. Siapa tahu bapak bisa mengurangi beban pikiranmu.” Ucap Pak Warto.
“Ibu tak bisa tidur pak, pikirannya melayang tak karuan.”
“Loh memang ibu sedang mikirin apa ? Coba ceritakan pada bapak. Masalahnya jangan dipendam sendiri toh bu.” Ucap Pak Warto lalu membelai rambut istrinya.
“Kita sudah sepuluh tahun menikah pak. Tapi sampai sekarang belum juga dikaruniai momongan.”
“Sabar bu, sabar. kalau sudah tiba waktunya, nanti juga kita diberi momongan bu.”
“Sabar-sabar. Sampai kapan kita harus menunggu terus pak ? Sampai ibu jadi nenek-nenek ? Ibu malu pak setiap hari mendengar omongan tetangga. Ibu dibilang mandulah, inilah.” Ucapnya, tanpa terasa matanya berkaca-kaca.
“Kenapa harus mendengarkan omongan mereka bu ?”
“Ya iyalah pak ? Mereka juga bilang kalau ibu tidak punya anak, bapak pasti akan pergi meninggalkan ibu dan kawin lagi. Seperti para laki-laki pada umumnya ?”
“Bu, bu. Sudah berulang kali bapak katakan kepada ibu. Apapun yang terjadi pada ibu, bapak tidak akan pernah meninggalkan ibu. Apa lagi mau kawin. Punya istri satu saja sudah cukup bu.” Ungkap Pak Warto.
“Yah namanya juga laki-laki pak. Sekarang bilang tidak, nggak tahu nanti. Eh begitu melihat perawan kinyis-kinyis, bapak lupa deh sama ibu.”
“Jangan samakan bapak dengan laki-laki lain bu. Bapak tidak seperti itu.”
“Ya sekarang sih begitu. Nggak tahu nanti pak. Apa tidak sebaiknya kita datang ke orang pintar saja pak ?”
“Ke orang pintar mana lagi lah bu ? Kita sudah berulang kali mendatangi mereka, tapi hasilnya tetap nol. Apa ibu punya pandangan lain ?”
“Ada pak. Tadi sore ibu bertemu dengan nenek Lasmi. Kata dia sebaiknya kita pergi ke Kedung Ombo. Disana kita disuruh menemui Mbah Kuncen pak.”
“Kedung Ombo itu dimana Bu ? Siapa Mbah Kuncen itu ?”
“Kata nenek Lasmi, Kedung Ombo itu setengah hari perjalanan dari sini pak. Sedangkan Mbah Kuncen itu adalah juru kunci Kedung Ombo Itu.”
“Apa ibu yakin kalau kita pergi ke sana akan berhasil ?”
“Ibu yakin pak.”
“Ya sudah, besok pagi kita pergi ke sana bu. Sekarang ibu tidurlah dulu.” Ucap Pak Warto.
Setelah mendapat izin suaminya, Bu Sarti terlihat lega. Dia membaringkan tubuhnya, kemudian tidur Pulas. Sekarang giliran Pak Warto yang tak bisa memejamkan mata. Berulang kali dia menatap wajah istri yang sangat dicintainya. Dalam hati Pak Warto ada keraguan untuk pergi ke Kedung Ombo. Namun keraguan itu segera ia tepis jauh-jauh. Pak Warto kembali menatap istrinya penuh iba.
“Kasihan kamu bu. Bapak akan mengikuti apa saja keinginanmu. Asalkan kamu bahagia bu.” Ujarnya sambil menarik napas panjang. Pak Warto kembali menatap istrinya, kemudian mencium keningnya. Setelah itu menarik selimutnya lalu tidur.
Keesokan harinya sepasang suami istri itu pergi ke Kedung Ombo. Sebuah telaga angker yang konon dihuni oleh ribuan mahluk siluman. Sampai di sana keduanya tak menemukan tempat yang dimaksud. Mereka hanya melihat pemandangan hutan belantara yang dihuni oleh ribuan ular belang. Binatang melata itu berjejer di sepanjang hutan, sambil menjulur-julurkan lidahnya. Matanya merah seakan tak bersahabat. Membuat Pak Warto dan Bu Sarti sangat ketakutan. Wajahnya pucat dan tubuhnya mulai gemetar.
Sehingga mereka berusaha menjauh dari hutan itu, dan beristirahat sejenak. Setelah itu mereka kembali mencari jalan yang menuju ke Kedung Ombo. Namun mereka tak menemukan jalan itu. Anehnya lagi mereka hanya berputar-putar mengelilingi hutan, lalu kembali lagi ke tempat yang sama. Melihat kejadian yang sangat tak wajar itu membuat keduanya semakin takut. Mereka pun menyerah dan memutuskan untuk pulang.
Namun baru saja keduanya membalikan badan, tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar. Suara itu menghentikan langkah keduanya.
“Tunggu… ! Sedang apa kalian di sini ?” tanya seorang kakek yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka.
“Kami sedang mencari Mbah Kuncen mbah.” Jawab Bu Sarti sedikit gugup, tak berani menatap wajahnya.
“Untuk apa kalian mencari dia ?” bentak kakek itu.
“Saya disuruh Nenek Lasmi untuk menemuai Mbah Kuncen.” Jawab Bu Sarti, dengan wajah sedikit pucat.
“Nenek Lasmi ?” gumamnya sembari mengerutkan keningnya.
“Ya mbah.” Jawab Bu Sarti lagi.
Kalau begitu, kalian ikuti saya.” Ajak kakek itu berubah ramah.
Tanpa sepatah kata, keduanya berjalan mengikuti kakek itu. Baru beberapa langkah, secara mengejutkan di hadapan mereka muncul pemandangan yang sangat menakjubkan. Terbentang sebuah telaga biru, dengan airnya yang sangat tenang. Seolah di telaga itu tak ada tanda-tanda kehidupan. Sementara di telaga itu dikelilingi pohon bambu yang sangat rindang. Anehnya lagi semua pucuk bambu, terlihat merunduk ke telaga. Seolah mereka sedang bersujud pada tuannya.
Sedangkan di sela-sela bambu, bergelantungan ribuan kelalawar yang selalu menyicit. Suaranya terdengar memekikan telinga, seperti sedang membacakan sebuah mantra. Membuat bulu kudug sepasang suami istri itu merinding. Sementara ribuan kelalawar lainnya terbang berseliweran di atas kepala mereka. Layaknya seperti polisi yang sedang berpatroli, untuk mengawasi keduanya. Sehingga membuat nyali mereka menjadi ciut dan tak berani untuk menatapnya.
“Mari ikuti kakek cucuku.” Ucap kakek itu membuyarkan lamunannya.
Lagi-lagi mereka mengikuti saja apa yang dikatakan kakek itu. Keduanya berjalan mengikutinya, menuju ke sebuah pondok yang terbuat dari anyaman bambu. Di sebelahnya lagi ada sebuah pondok yang bentuknya sedikit lebih besar dibanding pondok yang satunya.
“Lihatlah cucuku. Di depan kita ada dua pondok bambu. Pondok yang agak besar itu untuk kalian beristirahat nanti. Sedangkan yang satunya lagi adalah tempat kakek tinggal. Sekarang kita menuju ke pondok kakek ya.” Ujar kakek itu.
Ketiganya melangkahkan kaki menuju pondok itu. Hanya berapa langkah saja mereka sudah sampai ke pondok yang dimaksud. Kemudian kakek itu menghentikan langkahnya. Diikuti Pak Warto dan Bu Sarti. Tak lama kemudian kakek itu mempersilahkan keduanya masuk ke dalam pondok. Sampai di dalam, kakek yang mengenakan ikat kepala hitam itu duduk bersila, dan diam sesaat.
Matanya menatap tajam pada Pak Warto dan Bu Sarti. Pada bola matanya mengeluarkan cahaya seperti mata kucing. Membuat keduanya menundukan kepala dan tak berani menatapnya. Tak lama kemudian kakek itu menarik napas panjang, lalu memperkenalkan dirinya.
“Saya adalah Mbah Kuncen, orang yang kalian cari. Sekarang ceritakan apa maksud kedatangan kalian berdua ke sini ?”
“Kedatangan kami ke sini untuk meminta tolong kepada Mbah Kuncen.” Kata Pak Warto.
“Kalian mau minta tolong apa ?” tanya kakek itu lagi.”
“Tolong kami mbah. Kami sudah menikah sepuluh tahun, tapi sampai hari ini belum juga dikaruniai anak mbah.” Ucap Bu Sarti sedih.
“Apakah kalian sanggup menjalankan persyaratannya ?” tanya Mbah Kuncen..
“Kami sanggup mbah.” Jawab keduanya kompak.
“Kalau begitu, jam satu malam nanti saya tunggu kalian ke tempat ini. Kamu harus berendam di Kedung Ombo ini. Ingat, selama berendam kamu tidak boleh memakai baju atau pun penutup lainnya.” Kata kakek itu menunjuk Bu Sarti.
“Maksudnya istri saya yang harus berendam di telaga ini, dan harus telanjang bulat mbah ?” tanya Pak Warto.
“Ya. Apakah kamu sanggup cucuku ?” tanya Mbah Kuncen
“Biarlah saya saja yang berendam di Kedung Ombo itu mbah. Kasihan istri saya. Nanti dia malah sakit.” Ucap Pak Warto memohon.
“Yang mau hamil kamu apa istri mu sih ? Hahaha... .” Jawab Mbah Kuncen sambil tertawa lepas.
“Saya sanggup mbah.” Ucap Bu Sarti menyela.
“Tapi apakah ibu kuat ? Gimana kalau nanti malah ibu sakit ?” tanya Pak Warto kepada istrinya.
“Jangan khawatir pak. Ibu kuat kok.”
“Kalau kalian ragu sebaiknya sekarang pulang saja sana. Lupakan mimpi kalian untuk memiliki anak.” Ucap Mbah Kuncen kepada pasangan suami istri itu.
“Tidak mbah, saya kuat kok.”
“Ya sudah kalau kamu sudah mantap. Sekarang kalian istirahat di pondok itu. Ingat, tepat jam satu malam kalian kakek tunggu di tempat ini.”
“Baik mbah.” Jawab keduanya kompak.
Benar saja setelah jam satu malam Bu Sarti sudah tiba di tempat yang dijanjikan. Selanjutnya Mbah Kuncen memandikannya dengan bunga tujuh rupa. Sambil komat-kamit membaca mantra, kakek itu terus menyiramkan air yang sudah dicampur dengan bunga. Tiba-tiba dari langit terlihat kilatan cahaya mirip seekor naga. Tak lama kemudian terdengar suara gemuruh dari langit disusul suara letusan halilintar yang menggelegar.
Duaaar…! Duaaar…! Duaaar…!
Suara itu memekikan telinga Bu Sarti yang sedang dimandikan. Tidak demikian dengan Mbah Kuncen. Dia terlihat sangat tenang seolah tak mendengar apa-apa.
“Itu suara apa mbah ? Tidak ada hujan, dan tidak mendung, tapi kok ada petir ?” tanya Bu Sarti polos.
“Itu bukan suara petir cucuku. Itu adalah jawaban dari do’a kalian yang sebentar lagi akan terkabulkan.” Terang Mbah Kuncen.
“Maksudnya apa mbah ? Saya masih kurang mengerti ?” tanya Bu Sarti lagi.
“Tidak lama lagi kamu akan punya anak cucuku.” Jawab Mbah Kuncen singkat.
Mendengar jawaban itu, Bu Sarti semakin bersemangat untuk menjalani proses ritual berikutnya. Kini Bu Sarti menuju ke tengah telaga. Sampai di sana dia melepas semua pakaiannya lalu berendam sebatas leher. Rasa dingin mulai menggerogoti tulang sumsumnya. Wajahnya mulai memucat, dan kedua rahangnya gemertak saling beradu.
Sementara Pak Warto memperhatikan istrinya dengan rasa cemas. Dia berdiri mondar mandir sambil mengawasi istrinya. Menjelang terbit fajar, Mbah Kuncen menyuruhnya untuk mengangkat istrinya. Dengan sigap Pak Warto menceburkan diri berenang menghampiri istrinya. Kemudian menggendong dan membawanya ke pondok, lalu mengeringkan tubuhnya. Setelah itu menyelimuti istrinya yang masih menggigil sambil menyuapi bubur hangat.
Kini wajahnya berangsur-angsur mulai memerah. Dia membuka matanya sambil tersenyum tipis. Bibirnya terbuka pelan menyapa suaminya.
“Pak…”
“Ya bu…, ada apa bu ?” tanya Pak Warto.
“Ibu baik-baik saja kok, pak.” Ucapnya manja.
Mendengar ucapan istrinya Pak Warto merasa lega lalu memeluknya. Dia berulang kali mencium keningnya penuh cinta. Tak lama kemudian Bu Sarti sudah bisa duduk lalu berceloteh kepada suaminya. Pak Warto tersenyum lega melihat istrinya sudah sehat seperti sedia kala. Kemudian mereka pun berpamitan kepada Mbah Kuncen. Namun sebelum pergi, Mbah Kuncen memberi sebuah logam berbentuk naga kepada pasangan itu.
“Cucuku, tolong simpan baik-baik benda ini. Bawalah benda ini jika kalian ingin menemui kakek. Tanpa benda ini, kalian tak akan menemukan tempat ini lagi. Kemudian pulanglah kalian. Jangan sekali-kali kalian menengok ke belakang selama kalian masih berada di sekitar Kedung Ombo ini. Ingat pesan kakek cucuku.”
“Ya mbah. Terima kasih.” Jawab pasangan itu kompak.
Lalu keduanya pergi meninggalkan telaga angker tersebut. Selama perjalanan pulang, Bu Sarti merasakan langkahnya ada yang mengikutinya. Namun setiap kali nengok ke belakang, dia tak melihat sosok misterius itu. Dalam benaknya, apakah suaminya juga merasakan apa yang dia rasakan. Untuk menjawab teka-teki itu dia menanyakan kepada suaminya.
“Apakah bapak tidak merasakan sesuatu ?”
“Tidak bu. Memangnya ada apa ?”
“Saya merasakan ada seseorang yang sedang mengikuti kita pak.”
“Mana bu ? Tidak ada apa-apa. Mungkin itu hanya perasaan ibu saja.”
“Mungkin juga pak.”
“Masalah itu sudah kita lupakan saja. Mungkin karena ibu terlalu capek. Ayo bu kita lanjutkan perjalanan lagi.” Ucap Pak Warto.
Sampai di rumah Bu Sarti merasakan ada kehadiran orang lain di rumahnya. Kemanapun dia pergi, dia merasakan langkahnya ada yang mengikutinya. Bahkan setiap malam dia selalu bermimpi dengan laki-laki yang sama sekali belum pernah bertemu. Laki-laki itu sangat gagah dan mirip seorang raja. Dia juga baik dan sangat perhatian kepada dirinya. Hingga suatu ketika dia jatuh dipelukan laki-laki itu. Kejadian itu pun berlangsung hampir setiap malam, tanpa sepengetahuan Pak Warto.
Sebulan kemudian Bu Sarti sakit dan sering mutah-mutah. Pak Warto mengira istrinya masuk angin. Namun setelah dibawa ke dukun urut, ternyata Bu Sarti sedang hamil muda. Berita tentang hamilnya Bu Sarti, tersiar sampai ke telinga keluarganya. Dia yang selama ini dicap sebagai perempuan mandul ternyata tidak terbukti. Karena sebentar lagi mimpinya untuk memiliki momongan akan segera terwujud. Pak Warto sangat senang setelah mengetahui istrinya sedang hamil.
Sejak itu dia melarang istrinya melakukan pekerjaan berat. Dia meminta kepada istrinya agar menjaga kandungannya. Sementara pekerjaan yang biasa dikerjakan istrinya, untuk sementara waktu diambil alih. Sehingga bayi yang dikandungnya tumbuh sehat seperti yang mereka harapkan.
Sembilan bulan kemudian lahirlah seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Bayi cantik tersebut mereka beri nama Marni. Setiap malam purnama, marni selalu menngis dan susah untuk tidur. Karena bingung, Pak Wartu dan Bu Sarti mengajaknya pergi ke Kedung Ombu untuk menemui Mbah Kuncen. Sampai disana keduanya menceritakan perihal yang dialami Marni.
“Kenapa setiap malam purnama, Marni selalu menangis mbah ? Apakah ada masalah dengan Marni ?” tanya Bu Sarti.
“Marni tidak apa-apa cucuku. Dia hanya kangen dengan Kedung Ombo ini. Sebaiknya setiap malam purnama, bawalah Marni ke sini. Biarkan dia melepas rasa kangennya pada tempat ini.” Ucap Mbah Kuncen.
“Oh begitu ya mbah. Saya pikir Marni kenapa-kenapa.” Ucap Pak Warto lega.
Sejak itu setiap malam purnama, Marni selalu diajak menginep di pondok Mbah Kuncen. Di tempat ini Marni terlihat sangat bahagia. Anehnya lagi setelah bermain, dia tidurnya sangat pulas sekali. Dia juga suka mandi di telaga itu sambil bermain air. Di tempat itu juga pertama kalinya Marni mulai berceloteh. Seolah-olah dia ingin mengungkapkan rasa bahagianya kepada kedua orang tuanya. Yang mengejutkan lagi adalah ketika Marni mengucapkan kata pertamanya yaitu ,”Kedung Ombo.”
Hal itu membuat kedua orang tuanya saling berpandangan. Karena merasa heran apa yang baru saja mereka dengar dari bibir balitanya. Pedahal lazimnya kata pertama yang biasa diucapkan oleh anak yang baru belajar bicara adalah menyebut nama orang tuanya. Seperti ayah atau ibu. Namun tidak demikian dengan Marni. Dia malah menyebut Kedung Ombo. Sebuah telaga angker yang sering dikunjunginya.
Namun apa yang baru saja mereka dengar dari putri kesayangannya, mereka tak mau ambil pusing. Mereka menganggap ucapan Marni adalah suatu hal yang sangat lumrah. Karena dia sering mengunjungi tempat ini, bahkan dia sudah menyatu dengan telaga angker tersebut. Tujuh belas tahun kemudian Marni telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik dan dikagumi oleh para pemuda di desanya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
