Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Air Keramat Yang Tak Keramat

Air Keramat Yang Tak Keramat

Oleh : Riswo, S.E., M.Si

Ketua Forum Guru Motivator Penggerak Literasi Lampung Selatan

“Dimana kau sembunyikan perhiasan itu, Mak!? Dimana!?” Amon menatap tajam Perempuan Tua yang ada di hadapannya. Perempuan berumur tujuh puluh tahun itu menggelengkan kepala, bercucuran air mata.

Sementara Amon dan Istrinya terlihat beringas, mengacak-acak seisi rumah. Sayangnya mereka tak menemukan apa-apa. Hal itu membuatnya kesal, hingga mengusir Perempuan yang pernah melahirkannya.

“Pergi kamu dari rumah ini! Pergi...! Bentak Laki-laki bertubuh kekar, menunjuk ke wajah Ibunya.

Perempuan berbalut keriput yang baru saja ditinggal suaminya, sangat ketakutan. Tubuhnya sempoyongan masuk ke kamar, dan menguncinya dari dalam. Belum sempat duduk pintu kamarnya jebol, ditendang Amon. Hampir saja tubuh kurusnya tertimpa pintu yang terbuat dari kayu ukir.

Laki-laki berhati iblis itu sudah berdiri di depan pintu, menatap tajam pada Mbok Inah. Gigi gerahamnya gemertak, mengepalkan kedua lengan tangannya mengusir Ibunya. “Pergi kamu dari sini! Pergi...! Kemasi semua barang-barangmu!” Bentak laki-laki perut buncit itu, tanpa belas kasihan.

Tanpa pikir panjang, Mbok Inah mengemasi pakaiannya dan membungkusnya dengan selembar kain hitam. .

Saat itu lah Amon menatap bungkusan hitam, dan secepat kilat tangan kekarnya merampasnya, lalu mengeluarkan semua isinya. Lagi-lagi, cincin, gelang dan kalung yang ia cari tak ada dilipatan baju lusuhnya.

Hal itu membuatnya murka, dan menendang bungkusan itu hingga mengenai wajah Mbok Inah. Tak ayal lagi pakaian lusuh itu tersangkut di wajah Mbok Inah, bak jemuran baju. “Pergi kamu dari rumah ini, dan jangan pernah kembali lagi!” Bentak laki-laki tangan besi yang pernah melanglang buana ke lembah hitam.

Sambil menangis Perempuan berambut putih itu memunguti pakaiannya, dan membungkusnya kembali dengan selembar kain hitam. Setelah itu berdiri sambil memegangi pinggangnya yang mau copot.

Untuk beberapa saat Perempuan malang yang giginya masih utuh itu menatap anak dan menantunya tanpa sepatah kata. Sementara Amon dan Istrinya tak kalah garangnya. Keduanya melotot pada Mbok Inah, dan kembali mengusirnya.

“Mau apa kamu, Mak?! Mulai detik ini, rumah ini menjadi milik kami. Emak tidak punya hak lagi atas rumah ini,” Timpal istri Amon, sembari berkacak pinggang.

Mbok Inah yang sejak tadi diam, tiba-tiba menggerakan bibir keriputnya. Dengan suara datar Nenek malang itu mengeluarkan ancaman. “Ingat ya, Nak. Walau pun Emak tidak lagi tinggal di sisni, tapi penjaga Emak akan tetap tinggal di sini, dan akan membinasakan kalian semua,” lalu pergi meninggalkan rumahnya.

Dengan langkah gontai, Perempuan Tua itu menerebos dikegelapan malam hingga sampai pada sebuah rumah berukuran sepuluh kali lima belas meter. Tampak sedikit ragu, pemilik mata cekung dengan kerutan keriput di sekeliling kelopak matanya, menatap dua lampu redup yang tergantung pada sudut rumah.

Perempuan yang usianya menjelang satu abad itu membuka gerbang, dan duduk di kursi depan. Sembari napasnya tersengal-sengal, Mbok Inah memegangi dadanya yang terasa sesak. Diiringi suara tangis yang sangat memilukan.

Riyan yang belum tidur mencari tahu dari mana suara aneh itu berasal. Laki-laki tampan itu menyingkap hordeng, menatap sosok bayangan yang ada di balik jendela. Matanya mendadak terbelalak, menatap Perempuan Tua yang ternyata adalah Ibu mertuanya. Dengan cepat ia membuka pintu, dan menghampirinya

“Ada apa, Mak? Kenapa Mak seperti habis diusir?” tanya sang Menantu, mendapatkan mertuanya yang sedang menangis. Mery yang baru saja terbangun, memeluk ibunya yang terlihat sangat ketakutan.

Sementara, sang menantu menyuguhkan segelas air putih. Sambil terbatah-batah, Mbok Inah menceritakan pengusiran dirinya, diiringi cucuran air mata.

Mendengar cerita Mertuanya, Riyan sangat geram. Tangannya mengepal, dan gigi gerahamnya gemertak. Pandangannya nanar menatap jauh ke depan. Ia membayangkan wajah Iparnya yang telah tega mengusir Ibunya.

“Nak Riyan, Emak takut, sama Abangmu. Kalau dia datang ke sini, siapa yang akan melindungi Emak, Nak?” Ujar Perempuan Tua, teringat akan perlakuan Amon.

“Jangan takut, Mak. Emak aman di rumah saya. Jika Amon datang ke sini dan ingin mengganggu Emak, saya akan menghadapinya,” kata Riyan meyakinkan mertuanya.

Sejak itu Mbok Inah tinggal bersama menantunya. Tak lama kemudian Mbok Inah jatuh sakit. Perempuan tua itu selalu menangis, diiringi sumpah serapah kepada anak dan menantunya yang jahat.

Hingga suatu ketika sumpah Mbok Inah pun menjadi kenyataan. Terdengar kabar, Amon jatuh sakit. Tubuhnya yang dulu gempal tinggal tulang belulang. Wajahnya yang dulu tampan, tampak menua seperti seorang kakek renta berumur delapan puluh tahun.

Hal ini berbanding terbalik dengan wajah Mbok Inah yang sekarang terlihat lebih muda. Seakan ibu dan anak ini telah bertukar peran.

Istri Amon sibuk ke sana ke mari, mencari obat untuk kesembuhan suaminya. Entah sudah berapa banyak dukun dan orang pintar yang telah mereka datangi. Entah sudah berapa kali bolak-balik berobat ke rumah sakit. Namun sampai hari ini sakitnya tak kunjung sembuh.

Hingga suatu ketika, datanglah Udin teman sebayanya, yang menyarankan agar Amon mendatangi Ibunya, dan meminta maaf.

“Percuma kamu mencari obat ke sana ke mari, Mon. Datang dan minta maaflah kepada Ibumu?” kata Udin kepada Amon yang telah berubah seperti mayat hidup.

Namun bukannya Amon datang sendiri menemui ibunya, Amon malah menyuruh anaknya, menjemput sang Ibu. “Kata Ayah, Nenek disuruh ke rumah,” ujar Ari menirukan ayahnya. Mbok Inah yang masih sakit hati langsung menolaknya.

Ari membujuk sang Nenek, sambil menceritakan ayahnya yang sedang sakit, dan ingin meminta maaf. Mendengar cerita sang Cucu, Perempuan tua itu langsung luluh. Namun saat hedak pergi, tiba-tiba teringat akan perlakuan Amon. Ia teringat kembali saat dicekik dan dibacok kepalanya hingga berlumuran darah.

“Katakan pada Ayahmu, Nenek tidak mau kesana.”

“Bagaimana nasib saya Nek, kalau Nenek tidak mau ke rumah,” kata Ari, memohon. Mbok Inah terlihat bingung akan nasib cucunya. Saat itulah Riyan baru pulang kerja,

Mbok Inah meminta Riyan untuk menemaninya. “Nak, Emak disuruh Abangmu ke rumah sana. Katanya Abangmu mau minta maaf. Tapi Emak takut, diapa-apain lagi sama dia, Nak,” kata sang Mertua.

Riyan menatap wajah Mertuanya, lalu menatap Keponakannya yang ingin menjemput Mbok Inah. “Siapa yang mau minta maaf, Ri?”

“Ayah, Om,” jawab Ari singkat.

“Dunia memang sudah terbalik ya, Ri. Seharusnya Ayahmu yang datang ke sini. Bukan Nenekmu yang suruh datang ke sana,” ujar Riyan ketus. Dengan sangat terpaksa, Mbok Inah pun pergi bersama Cucunya.

Sampai di sana Amon mencuci kakinya, sembari meminta maaf. Sementara Mbok Inah terlihat pasrah. Pikirannya mengembara ke masa silam. Ia teringat saat diusir dan rumahnya dirampas. Mbok Inah juga teringat akan perlakuan anaknya kepada suaminya, saat masih hidup. Saat dimana Amon datang meminta warisan, dan mengancam akan merobek perutnya.

Kesalahan demi kesalahan dimasa lalu datang silih berganti. Perempuan Tua bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Amon sambil menangis.

Setelah Mbok Inah pergi, Amon menuangkan air cucian kaki Ibunya ke dalam botol-botol kecil untuk dijadikan obat. Sayangnya air yang dianggap keramat itu tak mampu menyembuhkan penyakitnya.

Laki-laki garang, bertangan besi yang dulu sangat ditakuti oleh semua orang, kini meringkuk bak macan ompong yang tak bertuah. Air keramat yang diharapkan dapat menyembuhkan sakitnya, tak mampu mengobatinya. Sekarang Amon hanya pasrah, berharap datang sebuah keajaiban.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post