Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Lembayung Senja Di Dermaga Bom Kalianda

Lembayung Senja Di Dermaga Bom Kalianda

Oleh : Riswo, S.E., M.Si

Ketua Forum Guru Motivator Penggerak Literasi Lampung Selatan

Suasana di pelataran SMA Harapan pagi ini terlihat ramai sekali. Hilir mudik kendaraan roda dua dan empat, datang silih berganti. Tampak dua orang satpam sedang mengatur keluar masuk kendaraan.

Beberapa orang guru cantik telah datang dengan roda empatnya. Pada wajahnya terselip sebuah kerinduan yang mendalam. Bagaimana tidak, setelah hampir satu bulan lamanya sekolah libur. Hari ini mereka dipertemukan kembali di tahun ajaran baru, dengan suasana yang baru.

Saat sedang melepas rindu dengan candaan konyolnya, mereka lari berhamburan karena disiram hujan. Sampai di ruang guru tampak Kepala Seolah sudah menunggu.

Hari ini ada rapat pembagian tugas awal tahun. Termasuk pembagian tugas tambahan sebagai Wali Kelas. Rapat yang awalnya berjalan lancar, tiba-tiba berubah alot. Tidak ada satu guru pun yang bersedia menjadi Wali Kelas Sebelas Delapan.

Penolakan ini bukan tanpa alasan, karena di kelas ini berkumpul anak-anak biang yang memiliki banyak catatan. Rapat yang diwarnai hujan intrupsi ini membuat Kepala Sekolah tampak kecewa. Ditambah lagi satu persatu guru mulai meninggalkan rapat. Hanya beberapa gelintir orang saja yang masih setia mengikuti rapat.

Hal itu membuat Perempuan cantik berperawakan padat dan berbobot, kepalanya terasa cekat cekit cekot, bak tertimpa lima kwintal karung beras.

Pak Roy yang sejak tadi diam, berdiri di depan, menatap satu-persatu peserta yang masih tersisa. Setelah itu menatap Kepala Sekolah, yang sedang memijat-mijat kepalanya. Suasana di ruang rapat itu pun menjadi hening. Semua mata tertuju pada guru berumur setengah abad, yang diam tanpa sepatah kata.

Pak Roy membalikan tubuhnya dan kembali menatap satu-persatu rekannya. Suasana di ruang rapat itu semakin hening. Tak satu pun dari mereka yang berani membuka suara. Hanya detak jam dinding yang tak terpengaruh oleh suasana yang terasa kaku. .

Laki-laki itu mendekati perempuan paruhbaya yang ada di hadapannya, sembari berbisik. “Saya bersedia menjadi Wali Kelas Sebelas Delapan, Bu.”

Sorak sorai diiringi tepuk tangan merobek kebisuan suasana itu. Perempuan berwajah oval yang sedang menekuk wajahnya, mendadak semringah. “Terima kasih, Pak Roy. Selamat bertugas di kelas yang baru,” ucapnya sambil menyodorkan dokumen setebal tiga ratus halaman.

Laki-laki berperawakan kurus, berkulit sawo matang itu kembali ke tempat duduknya. Jari-jemarinya membuka lembaran demi lembaran catatan dari Kepala Sekolah.

Saat membaca catatan keramat, laki-laki berambut belah samping itu mengerutkan keningnya. Napasnya turun naik tak beraturan, menyandarkan tubuh kurusnya pada kursi usang yang mulai dimakan rayap.

Sepasang mata cekungnya menatap kipas angin yang tergantung, mirip baling-baling pesawat yang berputar.

Entah sudah berapa lama Pak Roy hanyut dalam lamunannya. Waktu yang dihabiskan mungkin cukup untuk nonton satu episode film Vina.

“Pak Roy, ini catatan tambahan,” kata Pak Didit, Wali Kelas sebelumnya. Pak Roy kembali membuka lembaran-demi lembaran catatan itu. Lalu pergi menuju ke kelas Sebelas Delapan..

Samar-samar ia mendengar suara gaduh, mirip orkestra yang sedang konser. Beberapa murid sedang asyik mukul-mukul meja diiringi lagu-lagu kekinian. Rody yang sedang tidur pulas di atas meja, melompat sembari mengusap-usap wajahnya seperti orang linglung.

“Anak-anak, mulai hari ini Bapak menjadi Wali Kelas kalian. Hari ini kita akan membuat kesepakatan kelas. Tolong tuliskan satu saja kalimat positif di kertas note yang Bapak bagikan. Contoh kalimat positif, datang lebih awal ke sekolah. Apakah kalian mengerti?”

“Mengerti, Pak,” murid menjawab kompak.

“Sekarang kita sudah punya kesepakatan kelas. Mulai besok tidak ada lagi yang datang terlambat. Apakah kalian paham?”

Hari pertama setelah membuat kesepakatan kelas, ternyata masih banyak murid yang datang terlambat. Contohnya Bunga. “Sekarang sudah jam berapa, Nak?” Pak Roy melirik jam tangannya, Bunga sedikit gugup. Hari ini Pak Roy kembali memanggil Bunga.

“Bunga tahu, kenapa Bapak panggil ke sini?” ujar guru yang pernah mendapat predikat sebagai guru berprestasi. Mendapat pertanyaan Pak Roy, Bunga terdiam

Pak Roy kembali mengirim surat panggilan orang tua, untuk kedua kalinya. Namun lagi-lagi Bunga datang terlambat, tanpa orang tuanya.

Pak Roy kembali memanggil Bunga menanyakan orang tuanya. Remaja cantik berumur tujuh belas tahun itu, diam seribu bahasa, sambil menggoyang jempol kaki kirinya yang menyembul dibalik kaos kakinya yang bolong.

Saat pulang sekolah, Bunga dijemput seorang pemuda dengan sepedah motornya. Seorang laki-laki berkostum ala petani, mengikutinya dari belakang, menuju kaki Gunung Rajabasa.

Bunga masuk ke rumah tua, berdinding anyaman bambu, beratapkan daun ilalang. Dari dalam rumah keluar seorang laki-laki membawa alat penangkap ikan, dan pergi bersama pemuda yang menjemput Bunga.

Kesempatan itu tak disia-siakan oleh sosok misterius berpakaian ala petani. Ia berjalan mengendap-endap mendekati rumah.

“Kenapa rumah ini di gembok? Pedahal saya melihat dengan jelas, tadi Bunga masuk ke rumah ini. Lalu siapa laki-laki yang keluar dari rumah ini?”gumam laki-laki misterius itu, sembari mencari sesuatu.

“Tadi yang masuk ke rumah ini perempuan, kenapa yang keluar laki-laki?” sambung sosok misterius itu, menggaruk kepalanya lalu pergi.

Keesokan harinya Pak Roy kembali menyambut kedatangan siswanya. Ia berdiri mondar-mandir di gerbang sekolah, sesekali menatap jam tangan merek ternama miliknya. Saat hendak menutup gerbang sekolah, Bunga datang bersama ojek yang mengantarnya. “Maaf, Pak saya terlambat,” kata Bunga, menyalimi gurunya.

Pulang sekolah seorang laki-laki kurus berkostum serba hitam, menguntit Bunga. Mototor yang membawanya melaju kencang, menuju kaki Gunung Rajabasa, hingga sampai ke ke rumah. Sementara pemuda yang mengantarnya pergi meninggalkan Bunga.

Saat itulah sosok misterius kembali mengendap-endap mendekati rumah Bunga. Tiba-tiba langkahnya mendadak terhenti lantaran pemuda yang mengantar jembut Bunga, telah kembali. Dari dalam rumah keluar seorang laki-laki membawa alat penangkap ikan dan pergi bersama seorang pemuda yang biasa mengentar Bunga sekolah.

“Rumah ini digembok dan di dalam tidak ada siapa-siapa. Siapa laki-laki yang keluar dari rumah ini? Jangan-jangan...” Menghentikan gumamannya, lalu menyusul dua orang pemuda yang baru saja pergi.

Selama menguntit, sosok misterius itu menerka-nerka siapa sebenarnya laki-laki yang dibonceng pemuda itu? “Celaka ! Kemana mereka pergi? Hampir saja saya kehilangan jejaknya,” gumam sosok misterius itu, yang ternyata adalah Pak Roy yang sedang melakukan penyamaran.

Di pertigaan jalan, kedua laki-laki itu berbelok arah menuju Dermaga Bom Kalianda. Tempat pelelangan ikan dan bersandarnya perahu para nelayan. Setelah menurunkan penumpangnya, pemotor itu pun pergi begitu saja.

Sedangkan laki-laki yang membawa alat penangkap ikan berdiri tegak, menatap puluhan perahu nelayan yang bersenggolan, diterjang ombak.

Diam-diam Pak Roy menggeser motornya mendekati pemuda itu agar terlihat dengan jelas. Tiba-tiba topi caping yang menutupi wajah pemuda itu, terhempas angin. Hingga wajah pemuda itu terlihat jelas.

“Apakah saya tidak salah lihat? Bukankah pemuda itu adalah Bunga?”

Bunga melompat ke atas perahu nelayan, lalu menghidupkan mesin. Pak Roy berlari mendekati Bunga, sembari memanggilnya. Sayangnya Bunga melesat bersama perahunya, meninggalkan Dermaga Bom Kalianda. Laki-laki tua itu berdiri mematung, menatap lembayung senja, dimana Bunga menghilang.

“Kamu anak yang baik, Nak. Kenapa tidak mau berterus terang kepada guru mu ini?” Pak Roy menangis terisak-isak, tak percaya melihat perjuangan muridnya yang selama ini dicap sebagai murid yang nakal.

Keesokan harinya Pak Roy menyambut kedatangan muridnya. Bunga yang ditunggunya, belum juga datang. Pak Roy terlihat panik, mengambil langkah seribu pergi bersama motor bututnya.

Sampailah ia di rumah Bunga yang pintunya terlihat sedikit terbuka. Dari dalam keluar seorang gadis berwajah pucat membukakan pintu. Alangkah kagetnya Bunga ketika melihat orang yang mengetuk pintu itu ternya adalah Pak Roy.

“Silahkan masuk, Pak. Maaf, dari mana Bapak tahu rumah saya ini?” ujar Bunga, menggigil kedinginan.

“Maafkan Bapak ya, Nak. Kalau kedatangan Bapak ini mengagetkan Bunga,” Pak Roy tersenyum, dan duduk di ruang tamu yang berukuran empat kali tiga meter. Setelah itu mnjawab pertanyaan Bunga.

“Yang membawa Bapak ke rumah ini karena kamu sering datang terlambat ke sekolah. Tapi sekarang Bapak sudah tahu jawabannya.” Sambung Pak Roy.

“Ja, ja...di..., Bapak sudah tahu semua tentang Bunga?” Bunga terlihat gugup.

“Ya, Nak. Di mana kedua orang tua mu? Kenapa kamu bekerja seorang diri?” Bunga menundukan wajahnya. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Ia mengusap air matanya lalu bercerita kepada gurunya.

“Ibu meninggl saat melahirkan Bunga, Pak. Sedangkan Ayah meninggal saat Bunga duduk di kelas sembilan. Sejak itu Bunga bekerja sebagai seorang nelayan, untuk biaya sekolah,” ungkap gadis itu, menagis tersedu-sedu.

Pak Roy menggeser duduknya mendekati gadis itu, berharap dapat meredakan tangisannya. Saat itu lah Bunga memegang erat tangan gurunya, sembari mencium tangan gurunya. Rupanya gadis malang itu sedang merindukan orang tuanya yang telah pergi untuk selama-lamanya.

“Yang sabar ya, Nak. Jangan pernah merasa sendiri lagi. Sekarang ada Bapak di sini. Anggaplah Bapak ini sebagai orang tua mu sendiri. Kamu boleh cerita apa saja sama Bapak ya, Nak.”

Mendengar ucapan gurunya, membuat Bunga merasa lega. Isak tangisannya mulai reda. Kini gadis yatim piatu itu menyandarkan tubuhnya pada sosok laki-laki yang telah dianggapnya seperti Ayahnya sendiri.

“Mulai hari ini kamu ikut Bapak tinggal di rumah ya, Nak. Ibu dan adik-adik mu pasti sangat senang senang sekali,” ujar Pak Roy. Sejak itu Bunga tinggal bersama keluarga barunya yaitu keluarga Pak Roy.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post