Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Panggil Aku, Jati

Panggil Aku, Jati

Oleh: Riswo, S.E., M.Si

Ketua Forum Guru Motivator Penggerak Literasi

Kabupaten Lampung Selatan

Debur ombak memecah dikegelapan malam. Mencakar dan mengusik bebatuan dan pasir-pasir pantai yang berserakan. Diseret dan dihempas gelombang samudra sekehendaknya, bagaikan prajurit yang kalah perang. Rintik hujan dibarengi angin kencang menyatroni insan yang sedang terlelap. Menbuat tubuh-tubuh mungil menggigil kedinginan, mendekap dalam pelukan sang ibu.

Sementara di Kesultanan Banten, tampak seorang laki-laki karismatik sedang mengumandangkan adzan. Suaranya merdu, mendayu-dayu menerobos ke relung-relung hati yang paling dalam. Seruan shalat subuh tersebut menyelinap ke alam mimpi Sultan Banten, hingga membangunkan tidurnya.

Dengan dikawal beberapa orang prajurit, Maulana Hasannudin yang baru saja dinobatkan sebagai Sultan Banten pertama, mendatangi suara adzan, lalu menunaikan shalat berjamaah bersama ayahandanya, Sultan Cirebon dua.

Selesai shalat berjamaah, Wali Allah itu memberikan nasihat kepada Sultan Banten, dan para petinggi di Kesultanan Banten. "Ingat, jabatan adalah amanah. Setiap amanah suatu ketika akan diambil kembali, dan akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah Swt. Oleh karena itu, jadilah pemimpin yang arif dan bijaksana, yang selalu mengutamakan kepentingan rakyatnya. Apakah saudara-saudara mengerti yang saya maksud?”

“Mengerti Sinuwun,” kata Sultan Banten, Maulana Hasanuddin yang bergelar Pangeran Sabakingkin. Sunan Gunung Jati, menyudahi tausyiahnya dengan mengucapkan salam.

Satu-persatu para petinggi di Kesultanan Banten, mulai meninggalkan Masjid Agung yang menjadi pusat penyebaran agama islam di Banten. Masjid yang memiliki atap bersusun lima, yang melambangkan rukun islam. Sedangkan Sunan Gunung Jati dan anak pertamanya, yaitu Sultan Banten masih berada di masjid Agung

“Ayah tidak bisa berlama-lama di Kesultanan Banten ini, anakku. Ada tugas lain yang sedang menunggu ayah di sana. Pagi ini juga. ayah mohon pamit.”

“Selama ayahanda tidak berada di Cirebon, lalu siapa yang menjalankan roda pemerintahan di sana Kanjeng?”

“Ibu Permaisuri. Oleh karena itu, selama ayah tidak berada di Cirebon, tolong sekali-kali jenguk, ibumu.”

“Sendiko dawuh, Kanjeng Sultan.”

Pagi itu Sultan Syarief Hidayatullah atau yang biasa disapa Sunan Gunung Jati, meninggalkan Kesultanan Banten. Dengan menggunakan sampan berukuran kecil, ia menyebrangi derasnya arus Selat Sunda. menuju ke Negeri Swarnadwipa atau Pulau Emas (Sumatra).

Deburan ombak saling berkejaran, menghempas dan memecah diantara dua gelombang. Onggokan buih berwarna putih turut mewarnai kebahagiaan bocah-bocah polos yang sedang bermain di tepi pantai.

Saat meninggalkan pantai, Sunan Gunung Jati tersenyum lebar menyaksikan kejahilan diantara bocah-bocah itu dengan teman-temannya. Mereka berlari ke sana, kemari, bermain onggokan buih putih.

“Aduh, Tatang nakal.” Asep mengusap buih putih yang dilempar Tatang tepat mengenai wajahnya. Dengan perasaan kesal, Asep menatap Tatang yang sedang berlari menuju tepi pantai sambil tertawa terbahak-bahak.

“ Hahaha...hahaha…hahaha…”

“Awas kamu, Tatang!” Bocah kurus berkepala plontos itu menunjuk Tatang dengan gigi gemertak.

Asep mengejarnya, dan menangkap Tatang dari belakang, hingga keduanya jatuh bergulingan ke pantai sampai basah kuyup. Kini giliran Asep membalas Tatang, melumuri wajahnya dengan buih putih. Asep tertawa terbahak-bahak merasa puas, dapat membalas kenakalan Tatang, lalu pergi meninggalkan sahabatnya yang sedang membersihkan wajahnya.

Saat itulah ia terhempas gelombang hingga jatuh tersungkur. Seakan ombak samudra itu turut mengajak bermain dengan bocah-bocah lucu itu. Tingkah polah bocah-bocah plontos itu membuat Sultan Cirebon dua, tersenyum lebar ikut merasakan kebahagiaan mereka.

Sambil mendayung sampan kecilnya, Sunan Gunung Jati semakin jauh pergi meninggalkan pantai Banten yang penuh keceriaan. Tanpa terasa matahari sudah berada tepat di atas kepalanya. Sementara sampan yang ditumpanginya, telah membawanya pada sebuah perkampungan yang jarang penduduknya.

Saat memasuki perkampungan yang sepi itu, ia merubah penampilannya layaknya seorang rakyat jelata. Kemudian kembali melanjutkan perjalanannya. Pada saat itulah ia melihat sebuah pondok kecil yang dihuni oleh sepasang suami istri dan satu orang anaknya yang masih kecil.

Sepasang suami istri itu sedang menampih dan menjemur padi, di depan rumahnya. “Maaf kisanak, bolehkah aku minta air minum untuk mengisi kendi ini?” Sambil menunjukan tempat air minum yang dibawanya yang terlihat kosong.

“Ada kisanak, ada,” kata suaminya, bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil air minum. Namun langkahnya mendadak terhenti lantaran sang istri menarik tangan suaminya agar mengurungkan niatnya mengambil air minum.

"Kami tidak punya air, kisanak. Cari saja ke tempat lain," kata perempuan muda itu sambil mengedipkan mata ke suaminya.

"Bolehkah aku minta air minum satu teguk saja untuk sekedar melepas dahaga?"

"Sudah ku bilang, kami tidak punya air minum,” ketus perempuan itu dengan nada songong.

“Kalau tidak ada air minum, bolehkah numpang ke sumur untuk mengisi kendi ini? Aku yakin kisanak punya sumur di belakang rumahn ini,” dengan nada lembut.

"Sudah ku bilang kami tidak punya air. Air sumur pun sudah kering semua. Pergi sana!” kata perempuan pelit itu menghardik.

"Aku tahu, kalian bukannya tidak punya air minum. Tapi hati kalianlah yang telah tertutup dari kebaikan.” Tangannya merogoh kantung bajunya, lalu menebarkan sesuatu ke halaman rumahnya. Tiba-tiba di halaman rumahnya, ditumbuhi puluhan pohon jati yang sangat rimbun dan sangat indah. Melihat orang yang ada di hadapannya bukan orang sembarangan, sepasang suami istri itu pun terkejut, dan memohon maaf.

“Maafkan kami, tuan. Sebenarnya kami punya air minum. Baik, akan saya ambilkan air minum di dalam, tuan,” kata perempuan itu.

“Tidak usah, kisanak. Aku tidak butuh air dari kalian.”

Sepasang suami istri itu pun berlutut meminta maaf kepada orang asing yang ada di hadapannya. “Maafkan kami, tuan. Siapakah tuan ini sebenarnya?”

“Panggil aku, Jati.”

“Tuan, Jati?” sahut mereka kompak.

“Wahai kisanak, mulai hari ini kampung ini akan selalu mengalami kesulitan air untuk selama-lamanya. Hal ini disebabkan karena perbuatan kalian sendiri. Pohon jati yang indah ini, kelak akan menjadi saksi bagi anak cucu kalian, kalau aku pernah singgah di kampung ini,” kata Sunan Gunung Jati lalu pergi meninggalkan mereka.

“Celaka, Bu, celaka.”

“Celaka kenapa, Pak?”

“Semua air yang kita miliki kering semua.”

“Yang benar, Pak?” Perempuan itu masuk ke dalam rumah, mengecek kebenaran ucapan suaminya. Tiba-tiba semua air minum yang ada di dalam rumah dan air yang ada di dalam sumur mengering seketika. Sepasang suami istri itu pun menyesali perbuatannya yang mereka lakukan pada orang asing itu.

Sejak itu, kampung yang dulunya subur dan banyak menyimpan cadangan air bersih, tiba-tiba tanahnya berubah tandus dan sulit air bersih. Para penduduk di kampung itu pun menggali sumur lebih dalam lagi, namun hasilnya tetap sia-sia.

Sejak itulah kampung yang pernah disinggahi oleh Sunan Gunung Jati tersebut dinamakan Kampung Jati Indah, yang sekarang terletak di Kelurahan Way Urang, Kecamatan Kalianda Lampung Selatan.

Sultan Cirebon dua, kembali melanjutkan perjalanannya, hingga sampai di sebuah perkampungan yang dihuni oleh sepasang suami istri paruhbaya. Walaupun mereka sudah menikah puluhan tahun lamanya, namun mereka belum juga dikarunia keturunan.

Laki-laki berpakaian serba hitam, ala rakyat jelata itu mengetuk pintu rumah berukuran kecil, yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Sepasang suami istri itu pun membukakan pintu, dengan sangat ramah.

“Silahkan masuk, tuan. Apa yang bisa kami bantu?” kata sang suami yang didampingi istrinya, tersenyum ramah.

"Bolehkah aku minta air minum untuk mengisi kendi ini, kisanak?"

"Boleh, tuan. Silahkan masuk, dulu." Tersenyum ramah mempersilahkan tamunya masuk ke rumah.

“Aku duduk di luar saja kisanak,” kata Sunan Gunung Jati sembari membalas senyuman mereka. Sang suami menemani Wali Allah, ngobrol di depan rumah, sementara sang Istri menyuguhkan singkong rebus ditemani segelas air putih, duduk di kursi panjang, yang terbuat dari bambu bulat.

Setelah kendinya diisi air minum oleh tuan rumah, laki-laki karismatik itu menatap keduanya dengan tatapan yang sangat meneduhkan.

“Terima kasih atas kebaikan kisanak. Semoga tidak lama lagi Allah akan mengabulkan do’a-do’a kisanak berdua.” Sembari menaburkan puluhan butiran biji kayu jati. Puluhan butiran biji kayu jati itu tumbuh seketika berjejer di sebelah rumah mereka.

“Ampun, tuan. Maafkan kami yang tak pandai menghargai kedatangan tuan. Siapakah Wong Agung yang ada di hadapan kami ini?” kata sepasang suami istri itu sambil berlutut di hadapan Sunan Gunung Jati.

“Bangunlah kisanak. Kisanak jangan berlutut seperti ini. Panggil aku, Jati,” dengan nada lembut, sembari membangunkan mereka. Setelah itu berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanannya.

Beberapa bulan setelah kedatangan Sunan Gunung Jati, do’a keduanya telah terkabulkan. Sang istri yang selama ini dicap sebagai perempuan mandul, kini telah mengandung seorang bayi yang mereka idam-idamkan. Seiring berjalannya waktu, sepasang suami istri yang baik hati itu pun dikaruniai seorang anak laki-laki yang sangat tampan yang diberi nama Jati Agung.

Jati Agung tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat tampan dan sangat baik hatinya. Maka tidak heran banyak gadis di kampungnya berlomba-lomba ingin menjadi istrinya. Bahkan ketampanan dan kebaikan hati Jati Agung terdengar sampai ke kampung seberang.

Sejak itu kampung yang ditinggali oleh pemuda yang bernama Jati Agung, dikenal dengan sebutan Kampung Jati Agung. Kampung Jati Agung sekarang menjadi nama sebuah kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post