KETIKA CINTA MENABRAK DINDING TUHAN
Oleh : Riswo, S.E., M.Si.
TAK SEINDAH PELANGI
Awan hitam bergelayut di atas pedukuhan yang dikelilingi hamparan bukit kecil. Raja siang perlahan hilang dan memudar tertelan gumpalan awan yang menggelap. Kawanan burung kembali ke peraduan, seolah mereka tahu bahwa tidak lama lagi hari akan hujan.
Pedukuhan yang berpenghuni tak lebih dari seratus kepala keluarga itu berprofesi sebagai petani gurem. Hasil padi menjadi andalan pendapatan mereka, sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja jauh dari kata cukup. Meski berada di tengah hidup yang penuh himpitan, tak dinyana suasana akrab dan kekeluargaan masih sangat kental terasa di antara mereka.
Suasana sore itu terlihat begitu hiruk dan penuh keriangan. Gelak tawa mengiringi permainan petak umpet dan lompat tali yang dilakukan anak-anak di pedukuhan itu. Kebahagiaan pun tergambar pada wajah polos mereka.
Di pojok lainnya, ibu-ibu duduk berjejer di teras rumah sambil bercengkerama. Ada yang sambil menyisir rambut dan lainnya menertawakan rambut yang mulai memutih. Sesekali suara ibu-ibu bergantian bersorak sorai meneriaki anak-anak yang memanjat pohon asam.
Namun tidak demikian dengan Firman, masa remajanya terampas oleh kerasnya takdir dan kejamnya kehidupan. Firman terlahir dari keluarga yang kurang mampu, waktunya dihabiskan untuk membantu kedua orang tuanya. Sayang, perjalanan hidupnya tak seindah pelangi setelah datangnya hujan.
Ibarat bunga yang baru mekar, bunga itu harus terboncai oleh pahit getirnya kehidupan yang menimpanya. Sudah barang tentu pertumbuhannya tak seindah bunga yang tumbuh di taman. Di mana bunga yang seharusnya mekar dan bebas bergerak ke mana saja, di kala sang bayu menyapanya.
Sore itu Firman masih berada di tengah persawahan. Tiba-tiba, duaaarrrr…, duaaarrr… suara halilintar menghantam sebuah pohon. Tak ayal pohon itu tumbang dan mengeluarkan onggokan api memberangus dedaunan. Dalam waktu sekejap pohon itu menjadi kering kerontang dilalap si jago merah.
Halilintar itu kembali membabi-buta diiringi kilatan cahaya menghantam batang pohon yang tidak berdosa. Pohon naas itu langsung tumbang. Beruntung hujan deras datang sehingga api itu padam dan tidak menjalar ke pepohonan lain.
Belum cukup kejadian itu, tiba-tiba gulungan puting beliung datang dan memorakmorandakan pepohonan. Kawanan burung bertengger di sarang, kocar-kacir berusaha menyelamatkan diri dari amukan puting beliung.
Firman yang sejak tadi berteduh di antara pepohonan, hampir saja menjadi korban amukan puting beliung. Dahan pohon tempat Ia berteduh tumbang, beruntung tak mengenai kepalanya karena tersangkut di antara dahan yang lain. Firman pun luput dari maut.
Firman menggigil kedinginan, kedua tangannya memeluk lutut berusaha menghangatkan badannya. Ia mengepalkan tangannya lalu digosok-gosokan berharap rasa dingin yang mulai menggerogoti tulang sumsumnya pergi menjauh.
Tak jauh dari tempat Ia duduk, bersandar sekarung padi pada akar pohon yang bentuknya setengah melingkar mirip capit udang. Beberapa kali Firman menatap langit yang masih tertutup awan hitam, sambil menggaruk keningnya yang sudah mulai mengerut kedinginan.
Satu jam lebih Firman berteduh di bawah pohon menanti hujan reda. Sementara gemuruh angin disertai kilatan petir terus menyambar menghampiri remaja yang baru berumur belasan tahun itu.
Firman tidak mampu berbuat apa-apa. Hanya do’a yang bisa Ia lakukan untuk memohon perlindungan kepada Sang Pencipta. Ia menengadahkan kedua tangannya dan mengangkat wajahnya lalu memanjatkan do’a kepada Sang pemilik jagad raya ini.
“Ya Allah Tuhan pemilik semesta alam, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak. Ya Allah turunkanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah, dan tumbuhnya pepohonan. Ya Allah redakanlah hujan ini, dan lancarkanlah segala urusan ku, aamiin.”
Benar saja, dalam waktu yang tidak lama hujan itu perlahan berhenti. Sang Raja siang kembali menampakan wajahnya. Sinar keemasannya menyinari bumi. Tubuh Firman kini terasa hangat. Firman kembali menengadahkan kedua telapak tangannya dan mengangkat wajahnya, seraya mengucapkan Puji syukur kepada Sang Pencipta yang telah mengabulkan do’anya.
Pemandangan yang sangat menajubkan terlihat diantara butiran air. Dari hamparan bukit muncul pelangi dengan warna indahnya. Terbersit di hatinya ternyata datang pelangi setelah hujan badai. Jika hujan adalah kesulitan dan matahari adalah kebahagiaan, maka kita membutuhkan keduanya untuk bisa melihat indahnya pelangi.
Pelangi adalah sebuah harapan baru. Dimana untuk dapat melihat pelangi harus melalui ujian berat terlebih dahulu, termasuk hujan badai. Karena pada dasarnya setiap ujian akan membuat seseorang menjadi semakin tangguh dalam menghadapi cobaan hidup.
Kini pakaian yang dikenakan Firman mulai mengering. Lalu Ia beranjak dari duduknya dan pandangannya tertuju pada sekarung padi yang bersandar di sebelahnya. Ia bangun dari tempat duduknya, lalu mendekati karung itu dan mengangkatnya.
Jari-jemari tangannya mencengkram kuat karung itu. Guratan urat tangannya terlihat jelas menandakan bahwa beban yang diangkatnya sangat berat. Pada hitungan ke tiga, karung itu sudah bertengger di atas punggungnya. Kedua kakinya gemetar dan giginya gemertak saling beradu. Selangkah demi langkah Ia berjalan sambil terhuyung-huyung.
Pemilik badan kurus itu berulang kali jatuh tersungkur. Tanpa putus asa Ia kembali mengangkatnya. Kedua kakinya kembali gemetar dan berjalan tertatih-tatih membawa beban yang bobotnya lebih berat dari tubuhnya.
Keringatnya menganak sungai mengalir ke legokan tubuh kurusnya. Langkahnya gontai menelusuri jalan setapak yang licin penuh berlumpur. Sehingga Ia harus ekstra hati-hati berjalan melewati jalan itu. Kini tubuh Firman terlihat semakin lemah, langkahnya semakin lambat. Lalu Firman menjatuhkan beban yang dibawa dengan posisi tidur terlentang. Pandangannya kabur dan terasa berputar laksana sedang berada di baling-baling pesawat.
Untuk beberapa saat Firman memejamkan matanya menahan rasa pusing. Kemudian membuka matanya sambil menatap langit yang sudah kembali cerah. Dengan gerakan reflek, tangannya meraih sebotol air yang tergantung di pinggang kirinya dan langsung meneguknya. Rasa dahaga yang mencekik tenggorokannya sirna seketika.
Ia kembali berdiri lalu menggoyang-goyang pingganngnya yang terasa sakit. Dengan hitungan satu, dua dan tiga, Firman kembali mengangkat beban yang dibawanya. Wajahnya kembali memerah, laksana udang rebus. Menandakan bahwa beban yang dibawanya sangat berat sekali. Langkahnya kembali tertatih-tatih menelusuri jalan setapak yang sangat licin.
Usaha Firman membawa sekarung padi itu telah membuahkan hasil. Ia telah sampai di rumah dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tumpukan padi. Napasnya tersengal-sengal turun naik tak beraturan. Rasa letihnya kini telah membawa Firman tidur di atas tumpukan padi sampai keringatnya mengering. Bu Sastro sangat sedih namun tak sampai hati untuk membangunkan Firman. Air matanya mengalir mengiringi do’a untuk anaknya yang sangat berbakti itu.
“Kasihan kamu nak, sebenarnya ibu tidak sampai hati melihat kamu seperti ini. Tapi apa hendak di kata, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Kehidupan kita yang memaksa kamu harus seperti ini. Mudah-mudahan kelak hidup mu seindah pelangi setelah datangnya hujan.”
DILARANG JATUH CINTA
Kabut tipis bagai salju menyelimuti hamparan bukit kecil. Desir angin semilir dan kicau burung bersahutan terdengar begitu merdu di balik rerimbunan daun-daun yang bergesek perlahan tertiup angin. Suasana pagi di pedukuhan itu terasa sejuk dan damai. Sementara mentari mengintip jagat raya tersenyum di balik bukit. Memberi satu isyarat bahwa pengais rejeki memulai beraktifitas.
Tidak demikian dengan Firman, pagi itu Ia terlihat sedang bermuram durja. Wajahnya kusut, dan rambutnya acak-acakan. Dengan bertelanjang dada, Ia membolak-balik ijazahnya yang baru saja Ia terima. Matanya menatap angka-angka pada ijazah sambil ngedumel melampiaskan kekecewaannya.
“Percuma saja saya mendapat nilai baik, jika pada akhirnya saya tidak bisa melanjutkan sekolah.”
Pandangannya masih tertuju pada angka-angka di ijazah. Satu persatu diamatinya, lalu meletakannya kembali di atas tumpukan buku, sambil menggeser tubuhnya. Kemudian Ia berbaring matanya menatap hampa pada langit-langit kamar.
Ia tersentak kaget melihat ibunya datang secara tiba-tiba di kamar, sambil menyapanya.
“Kamu sedang mikirin apa nak ?” sapa bu Sastro secara tiba-tiba.
Firman pun terkejut dan bangun lalu menatap wajah ibunya sembari tersenyum.
“Apa yang sedang kamu pikirkan nak ?” tanya bu Sastro lagi.
“Tidak ibu, saya tidak sedang mikirkan apa-apa.” Jawab Firman pelan.
“Meskipun kamu menyembunyikannya dari ibu, tapi Ibu tahu anak ibu sedang menyembunyikan sesuatu dari ibu.”
Firman kembali menatap ibunya, guratan keriput kelopak matanya membuat Ia tak sampai hati untuk mengutarakan niatnya. Ia tak mau membebani ibunya yang sudah terlihat semakin tua. Firman pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, untuk meyakinkan bahwa Ia tidak sedang memikirkan sesuatu.
Bu Satro yang dari tadi berdiri, lalu mendekati dan duduk di sebelahnya, seraya berbisik sambil mengusap punggungnya.
“Kalau boleh tahu, apa yang sedang kamu pikirkan nak ? Katakanlah kepada ibu, ibu tidak akan marah kok.” Ucapnya lagi.
“Maaf bu, saya tidak sedang memikirkan apa-apa ?”.
“Kalau kamu jujur ibu tidak akan marah, nak ?” ucap bu Sastro mengulangi lagi.
“Sebenarnya saya ingin melanjutakan sekolah bu.”Ucap Firman pelan.
Bu Sastro menatap wajah polos Firman sambil tersenyum.
“Tidak masalah kamu akan melanjutkan sekolah sampai ke manapun nak. Tapi kamu juga harus mengerti kondisi ekonomi kita saat ini nak.” Jawab Bu Sastro sedih.
“Ya bu maafkan saya. Ibu tidak usah memikirkan apa yang baru saja saya ucapkan. Ibu jangan sedih ya, saya tidak mau melihat Ibu sedih.” Ucap Firman polos.
Firman sadar kedua orang tuanya tak mungkin mampu membiayainya sekolah. Untuk makan saja masih sangat sulit, apa lagi untuk membiayainya. Namun himpitan ekonominya tidak lantas mematahkan niatnya untuk mengejar cita-citanya. Sedikit demi sedikit Firman menyisihkan hasil keringatnya untuk melanjutkan sekolah.
Kabar Firman ingin melanjutkan sekolah terdengar senter sampai ke telinga warga. Akibatnya tak sedikit Ia mendapat cibiran dari mereka. Bahkan sebagian warga di pedukuhan itu menganggap Firman sudah tidak waras lagi. Seperti yang dikatakan Pak Parmo.
“Sudahlah Fir, urungkan saja niat kamu untuk melanjutkan sekolah. Jangan lagi kamu bebani orang tuamu, kasihan mereka sudah tua. Nanti kalau kamu sekolah, siapa lagi yang akan membantunya ?”.
“Sadarlah Fir, kamu harus ikhlas menerima takdirmu menjadi orang susah. Kamu tidak usah neko-neko lah Fir. Sarjana sudah banyak, Presiden sudah ada. Memangnya kamu mau jadi apa sih ?” ucap pak Parmo tetangga dekat Firman.
“Terima kasih nesihatnya Pak Parmo. Biarkan waktu yang akan membuktikannya. Pak Parmo tidak perlu susah payah ngopenin hidup saya pak.”
“Bukan maksud bapak untuk mencampuri hidup kamu Fir. Tapi bapak khawatir jika kamu kandas di tengah jalan nantinya kamu akan kecewa.”
“Pak Parmo percaya kan sama ungkapan,” Man Jadda Wa Jada ? Barang siapa yang bersungguh-sungguh insya allah akan berhasil. Orang tua yang miskin tak selamanya mewariskan kemiskinan pula. Saya yakin suatu ketika impian itu akan saya raih pak.” Ucap Firman dengan sangat semangat.
Pak Parmo terkejud mendengar ucapan Firman. Firman yang selama ini dikenal sebagai pribadi yang pendiam, ternyata hari ini mengeluarkan kata-kata yang sangat mengejutkan. Ucapan Firman membuatnya tercengang. Bahkan Pak Parmo sedikit merasa malu dibuatnya. Ia pun menelan ludah sambil menatap wajah Firman tak percaya. Ia merefresh kembali kata-kata yang baru saja diucapkan oleh remaja polos itu.
“Maafkan bapak Fir, bukan maksud bapak untuk menghalang-halangi niat baik kamu. Tapi kalau tekad mu sudah bulat, kejarlah cita-cita mu ! Raihlah impian mu ! Bapak hanya bisa berdo’a semoga apa yang kamu cita-citakan tercapai.” Ucap Pak Parmo memberi semangat kepada Firman.
“Ya pak, tidak apa-apa. Terima kasih atas nasihatnya.” Ucap Firman.
Setelah mendengar ucapan Pak Parmo, Firman merasa tertantang. Ucapan itu selalu terngiang di benaknya. Kata-kata pedas itu Ia jadikan sebuah cambuh untuk merajut asa.
Ketika tahun ajaran baru tiba, dengan niat dan tekad yang bulat Firman mendaftar sekolah. Waktunya dihabiskan untuk belajar dan membantu kedua orang tuanya. Di pagi buta usai shalat subuh, Firman sudah berangkat ke sekolah. Maklum jarak tempuh ke sekolah sangat jauh. Kemudian menyusul kedua orang tuanya membantu bekerja. Sudah barang tentu ini sangat melelahkan sekali. Hari-harinya dipenuhi rutinitas yang sangat padat. Bahkan Firman merasa kekuranga waktu untuk mengerjakan PR di rumah. Mau tidak mau Ia harus bangun jam tiga pagi dan berkemas berangkat ke sekolah.
Di usianya yang masih belia, Ia harus bergelut dengan waktu untuk mengejar cita-citanya. Di saat orang dewasa sedang tidur pulas dan terlena dalam mimpinya, Ia harus bangun di tengah malam, sambil. matanya berkaca-kaca memohon kepada Sang Pencipta.
Tak dapat dibayangkan, betapa lelahnya Firman dalam menjalani hidup. Ia kurang tidur dan juga kurang istirahat. Tubuhnya kurus berbalut keriput. Kulitnya hitam legam terbakar Si Raja Siang. Himpitan ekonomi membuatnya kurang asupan gizi. Namun Allah maha adil, Firman diberikan fisik yang kuat dan jarang sakit. Perjuangan dan kerja kerasnya pun berbuah manis. Firman mendapat predikat nilai terbaik umum kedua dari teman-temannya.
Saat duduk di kelas dua Firman terpilih sebagai ketua OSIS di sekolahnya. Ini adalah ujian berikutnya di tengah kebingungannya untuk membagi waktunya. Namun jangan dibilang Firman kalau Ia tidak bisa mengatur waktunya untuk mengemban amanah sebagai ketua OSIS. Di sisi lain Firman juga masih bisa membantu kedua orang tuanya.Firman yang piawai dalam orasi dan berpuisi sangat dikagumi teman-temannya. Prestasinya tidak lantas membuatnya sombong. Ia tetap menjadi seorang Firman yang polos dan lugu. Tutur katanya yang lembuat serta pandai bergaul membuatnya memiliki banyak teman.
Prestasinya yang gemilang juga membuat mata kedua orang tuanya terbelalak. Firman yang dulu dianggap gila kini benar-benar telah mewujudkan kegilaannya. Sekarang Ia mendapat suport dari berbagai temannya, suport dari para tetangganya yang pernah menganggapnya tak waras. Namun yang membuat Firman tak mampu membendung air matanya adalah karena Firman kini mendapat dukungan dari Ibunya.
“Maafkan ibu ya nak. Selama ini kamu harus berjuang seorang diri untuk mengejar cita-cita mu nak. Prestasimu telah membuka mata Ibu nak, Ibu bangga sekali. Maafkan ibu ya nak ?” ucapnya sambil memeluk Firman.
“Tidak ada yang harus dimaafkan bu. Justru saya yang harus minta maaf. Karena saya telah membuat Ibu tambah susah.”
“Tidak nak. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu tidak punya salah apa-apa. Ibulah yang selama ini justru kurang perduli sama kamu nak.”
“Bukannya ibu yang kurang perduli sama saya Bu. Tapi sayalah yang terlalu memaksakan kehendak.”
“Sudah nak, tidak apa-apa.”
Semua itu karena keadaan kita yang memang kurang beruntung. Tapi apakah kita harus menyerah dengan kondisi ini bu ? Tidak kan bu ? Yakinlah bu, kalau kita mau berdo’a dan mau berusaha kita pasti bisa keluar dari masa-masa sulit ini.” Ucap Firman sambil menangis terisak-isak.
“Terima kasih ya Allah, Engkau telah menganugerahkan seorang anak yang mampu membuka pikiran hamba. Maafkan kehilafan hamba ya Allah. Anak ku yang selama ini pendiam, hari ini telah membukakan mata hamba. Bahkan kata-kata yang seharusnya keluar dari mulut hamba malah keluar dari bibir polosnya.” Ucap Ibunya sambil berderaian air mata.
Tangis Firman semakin pecah melihat ibunya yang ternyata samgat menyayanginya. Firman mendekap ibunya sambil mengusap air matanya.
“Udah bu jangan diteruskan. Tangis ibu menambah saya semakin merasa bersalah bu.”
Mendengar ucapan Firman, Ibunya berusaha menghentikan kesedihannya dengan mengusap air matanya.
“Nak…, mulai hari ini ibu akan mendukung apa yang menjadi cita-cita kamu. Ibu akan berusaha sekeras mungkin untuk mendukung kamu. Tapi ada satu syarat yang harus kamu penuhi.”
“Syarat apa itu Ibu ?” tanya Firman.
“Selama kamu masih sekolah, kamu dilarang jatuh cinta. Sampai kamu berhasil mengejar cita-citamu.”
“Baik bu. Pesan ibu akan selalu saya ingat, terima kasih atas dukungan ibu.”
“Ya nak samaa-sama. Do’a ibu akan selalu menyertai niat baik mu. Semoga apa yang menjadi harapan mu akan terkabulkan.”
Mendengar dukungan dari ibunya Firman memeluk ibunya dengan penuh haru. Sambil menahan rasa haru Ia mencium ibunya berulang kali. Ia bersyukur do’anya selama ini telah mampu membuka hati Ibunya. Ternyata impian, harapan akan selalu ada. Selama masih ada harapan, kebahagiaan pasti akan datang. Itulah sebuah motto yang membuat Firman yakin akan bisa meraih impiannya.
PENARI PENDET
Dipagi yang cerah, kicau burung saling bersahutan. Nyiur hijau melambai-lambai berbisik menyambut datangnya pagi yang penuh berkah. Pagi itu Firman dan Daeng datang lebih awal ke sekolah, untuk mengecek kebersihan kelas.
Usai mengecek kelas, Firman duduk di teras OSIS sambil membaca buku. Daeng yang memiliki hobby bernyanyi melantunkan beberapa lagu Faforitnya. Lagu itu menghipnotis Firman yang masih asyik membaca buku. Jempol kakinya ikut bergoyang, diiringi tepuk tangan seirama dengan alunan lagu.
Namun tiba-tiba matanya tertuju pada sesosok gadis cantik yang baru saja melintas lima puluh meter di depannya. Ia terpesona oleh kecantikan remaja itu. Tatapan matanya membuat Firma lemah lunglai. Jantungnya berdebar kencang serasa mau copot. Maklum selama ini Firman hanya disibukan aktivitasnya, sehingga Ia tak sempat memperhatikan satu-persatu teman sekolahnya. Termasuk gadis cantik berperawak manis yang membuatnya terperangah.
Sementara Daeng sudah merampungkan satu lagu. Ia menoleh Firman yang masih bengong menatap gadis berkepang dua yang menghilang di balik pintu kelas. Lalu Daeng menepuk pundaknya, membuat Firman tersentak kaget.
“Kamu melihat apa Fir, kelihatannya serius banget ?”.
“Tidak, Dang tidak.” Jawab Firman gugup.
“Kenapa kamu gugup begitu Fir, hayo…, ada apa hayo…?”.
“Saya baru saja melihat seekor burunng cantik melintas di atas atap itu Daeng.” Jawab Firman sambil menunjuk ke atas.
“Kalau hanya melihat seekor burung, kenapa kamu sampai seserius itu Fir ?”.
“Burung yang satu ini berbeda dengan burung yang lain Daeng. Bentuknya indah dan sangat menawan. Saya baru pertama kali melihat burung secantik ini.”
“Apa kamu tau nama burung itu Fir ?”.
“Justru saya sendiri tidak tahu, kalau saya tahu mengapa saya seheran ini.” Ucap Firman ngeles.
Daeng Pun percaya dengan alasan yang dibuat Firman. Tanpa menaruh curiga Ia kembali melantunkan tembang favoritnya. Pedahal yang dilihat Firman bukanlah seekor burung. Melainkan seorang gadis cantik berkulit putih bersih. Dari ciri kulit dan wajahnya yang sangat cantik, Firman meyakini gadis itu adalah gadis BE. Pada kedua lengan tangannya ditumbuhi bulu-bulu halus. Alis matanya melingkar seperti selendang bidadari yang membentang dari balik bukit menuju ke sungai.
Sorot matanya yang tajam membuat kaum Adam yang memandangnya, akan klepek-klepek dibuatnya. Apa lagi jika gadis itu sedang tersenyum. Lesung pipitnya indah bagaikan secawan anggur yang memabukan. Membuat Firman jadi ingin tahu siapa gadis itu sebenarnya ?
“Siapakah gerangan gadis cantik itu ? Mungkinkah Daeng tahu nama gadis itu ? Apakah saya harus menanyakannya ? Ah, Daeng tidak boleh tahu tentang hal ini. Biarlah saya saja yang akan menyelidiki.” Gumamnya.
Sifat pemalu yang dimiliki Firman membuatnya tak berani menanyakan gadis itu kepada Daeng. Diam-diam Firman pun menyelidikinya. Dengan alasan mengecek kebersihan kelas, Firman memberanikan diri datang ke kelas itu dan menguping percakapan gadis itu dengan temannya.
“Dayu, kamu sudah mengerjakan PR belum ?” tanya gadis itu.
“Sudah Put. Tapi entah benar atau salah aku nggak tahu Put. Coba lihat saja sini.” Jawab remaja yang disapa Dayu.
“Coba kita tanya pekerjaan Ketut, siapa tahu sudah. Tut, sini dulu ?” sapa gadis itu kepada Ketut.
“Ada apa Putri, kayaknya serius banget ?” jawab Ketut.
“Oh…ternyata nama gadis itu adalah Putri toh, namanya sangat serasi dengan wajahnya cantik. Kulitnya putih dan bersih, saya yakin Putri berasal dari suku BE.” Gumam Firman.
Keesokan harinya Firman kembali datang ke kelas Putri. Putri yang tahu kedatangan Firman menyapanya lembut sambil melempar senyum.
“Dari mana Fir ?” tanya Putri lembut.
Mendengar suara lembut itu membuat Firman berbunga-bunga bagaikan melayang-layang di udara. Ia memejamkan mata sambil mendekap jantungnya yang dag, dig, dug, ser, menjawab gugup.
“Ha…,ha…,bis keli..ling kelas Put.” Jawab Firman lalu pergi meninggalkannya.
Berawal dari saling menyapa hubungan keduanya terlihat semakin akrab. Bahkan semenjak itu mereka selalu berangkat dan pulang bersama. Hingga suatu ketika saat acara perpisahan di sekolah, Putri menampilkan sebuah tari khas dari Bali. Seorang MC memanggil nama lengkapnya dengan sebutan Ni Made Putri Astuti. Mendengar nama lengkap Putri, Firman tersentak kaget.
“ Apa…? Nama lengkap Putri, Ni Made Putri Astuti ? Jadi dia orang Bali, bukan orang Lampung ? Tidak ! Tidak mungkin ?!” Teriak Firman sepontan.
Untung saja teriakannya tidak terdengar orang lain. Karena tersamarkan oleh suara gamelan yang mengiringinya. Hari itu Putri menampilkan tari pendet, sebuah tari khas dari Pulau Dewata. Tari pendet adalah sebuah tari yang menjadi icon istimewa dari Pulau Bali. Tari pendet juga sebuah tari yang sangat disakralkan oleh masyarakat Hindu. Dimana tari pendet adalah salah satu wujud dari tari pemujaan. Secara filosofis tarian ini memiliki makna yang cukup menarik. Sebuah bentuk tari sebagai penghormatan atas kehadiran Dewata ke muka bumi.
Putri sangat piawai menampilkan tariannya. Gerakannya luwes dan lemah gemulai, lenggak-lenggok mengikuti irama. Bola matanya nakal melirik ke kanan dan ke kiri laksana bola pimpong. Kepiawaian Putri menari sangat memukau semua penonton termasuk Firman. Kostum yang dikenakan bercorak motif kuning ungu. Rambutnya bersanggul mahkota berhiaskan bunga kamboja dan cempaka. Sementara kedua lengan tangannya terdengar gemericik gelang perak.
Rambutnya yang panjang, tertiup angin membuat Putri terlihat semakin cantik. Tangan kanannya memegang bokor berhiaskan janur kuning dan warna-warni bunga. Putri menaburkan bunga dari bokor sambil tersenyum kepada Firman. Firman bertepuk tangan memberi semangat kepada Putri. Melihat Firman sangat antusias akan tariannya, gerakan Putri semakin lincah dan matanya semakin genit.
Semenjak Putri menunjukan kepiawaiannya dalam menari, Firman terhipnotis dan mulai jatuh cinta kepada kebudayaan Bali. Lenggak-lenggok Putri selalu hadir dalam lamunannya. Bahkan Firman tak mampu melupakan wajah cantik Si penari pendet itu. Akibatnya Firman sering duduk menyendiri dan tersenyum sendiri.
Teng…,teng…,teng…,suara lonceng membangunkan Firman dari lamunannya. Firman yang dari tadi duduk di belakang kelas kaget lalu beranjak ke kelas. Dari luar terdengar suara langkah sepatu dengan irama yang sangat khas mendekati kelas.
Tak, tuk, tak, tuk, langkahnya terdengar semakin dekat. Firman sangat mengenali siapa pemilik sepatu itu. Benar saja, dia adalah bu Pipit guru bahasa Indonesia. Bu Pipit memiliki wajah cantik, berperawakan kecil mungil. Gerakannya lincah bagaikan seekor burung pipit. Mungkin karena alasan itu sehingga beliau diberi nama Pipit. Nama seekor burung yang bentuknya kecil tapi sangat lincah.
Gayanya yang perlente membuatnya terlihat semakin anggun. Apa lagi jika Ia mengenakan kaca matanya, akan terlihat semakin aduh hai. Bu Pipit masuk kelas dan berdiri di dekat pintu. Dari balik kaca matanya, terlihat jelas bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu. Pandangannya menyapu ke sudut ruang kelas dan bergeser tepat memandang Firman. Firman menundukan kepala tak berani menatap wajah cantiknya.
“Fir, kamu disuruh menghadap Bapak Kepala Sekolah Sekarang.” Ucap bu guru cantik itu dengan lembut.
“Baik bu.” Jawab Firman penuh hormat.
Firman berdiri dan minta izin kepada Bu Pipit lalu pergi ke ruang kepala sekolah, sambil menerka kesalahan apa yang telah Ia buat. Sampai Ia dipanggil oleh Kepala Sekolah. Firman menarik napas untuk menghilangkan rasa geroginya lalu mengetuk pintu.
Tok, tok, tok…
“Silahkan masuk ?”.
Firman mendorong pintu lalu masuk. Terlihat seorang laki-laki tua penuh wibawa sedang duduk di kursi goyang.
“Maaf, bapak memanggil saya ?” tanya Firman sedikit gugup.
“Silahkan duduk Fir .” Jawab Kepala Sekolah sambil tersenyum.
Laki-laki tua itu berdiri lalu menghampiri Firman. Firman mencium tangan laki-laki yang tampak berwibawa itu.
“Silahkan duduk Fir.” Ucapnya.
“Terima kasih pak.” Jawab Firman lalu duduk.
“Begini Fir, kita mendapat undangan untuk mengikuti kegiatan Lomba tingkat dua di bumi perkemahan Lampung. Waktu pelaksanaannya satu minggu lagi. Tolong sekarang juga kamu pilih teman-temanmu yang kamu anggap cakap untuk mengikuti kegiatan tersebut ya Fir.” Ucap Kepala Sekolah.
“Baik pak. Sekarang saya mohon pamit ya pak ?” ucap Firman.
“Silahkan Fir, semoga sukses ya.”
“Aamiin. Terima kasih ya pak.” Jawab Firman lalu kembali ke kelasnya.
“Sudah menghadap ke Kepala sekolah, Fir ?” tanya Bu Pipit.
“Sudah bu.” Jawab Firman singkat.
“Terus apa kata Kepala Sekolah Fir ?”Tanya Bu Pipit lagi.
“Kita mendapat undangan untuk mengikuti kegiatan Lomba Tingkat dua Gerakan Pramuka bu.”
“Kapan pelaksanaannya dan di mana tempatnya Fir ?”.
“Pelaksanaannya satu minggu lagi di Bumi Perkemahan Lampung bu.”
“Waduh satu minggu lagi Fir. Kalau begitu kamu harus cepat mempersiapkannya ya.”
“Ya bu. Sekarang juga saya diminta oleh bapak Kepala Sekolah untuk memilih satu regu Putra dan satu regu Putri bu.”
“Silahkan laksanakan sekarang juga Fir.”
“Terima kasih bu. Tapi kalau ibu mengizinkan saya minta bantuan Daeng untuk membantu saya bu.”
“Daeng, tolong bantu Firman ya ?”.
“Baik bu.” Jawab Daeng.
Lalu keduanya minta izin kepada bu Pipit dan pergi meninggalkan kelas. Mereka mendata satu-persatu anak-anak yang dipandang cakap dan langsung membagi tugas.
Di regu putra yang membidangi semaphore, morse, tali-temali dan berbagai macam sandi adalah Firman dan Daeng. Untuk bidang lukis yaitu Warto dan Hendro. Untuk bidang ketangkasan cerdas cermat dipercayakan kepada Warto, Hendro dan Firman. Sedangkan bidang lainnya seperti kecakapan dalam hal berpidato, cipta baca pusi dan seni lainnya dipercayakan kepada Firman. Di regu putra Firman sangat mendominasi di semua bidang kegiatan.
Di regu putri sendiri Firman memilih beberapa nama yang handal dibidangnya. Dayu dan ketut membidangi Semapore, tali-temali dan berbagai jenis sandi. Dibidang ketangkasan cerdas cermat dipercayakan kepada Latifah, Dayu dan Ketut.
Di bidang seni dipercayakan kepada Nyoman dan Putri. Putri memiliki kepiawaian dalam hal seni terutama berbagai macam jenis tari Bali. Regu putra dan putri bentukan Firman dan Daeng terdiri dari anak-anak pilihan yang kemampuannya tidak dapat diragukan lagi. Kedua regu ini saling bahu membahu dan saling bertukar pengalaman untuk mewakili sekolahnya.
Berawal dari kegiatan ini hubungan Firman dan Putri semakin dekat. Firman bersemangat sekali mengikuti kegiatan tersebut. Apa lagi Putri ikut dalam kegiatan itu. Membuat Firman seolah mendapat energi baru untuk memenangkan setiap cabang lomba. Semangatnya pun telah membuahkan hasil. Regu putra meraih juara umum di tingkat Cabang dan berhak mewakili ke tingkat Daerah. Nama Firman semakin melejit di kalangan pelajar. Bahkan banyak sekali peserta yang minta tanda tangan dan alamat Firman. Mereka tertarik dan ingin mengenal Firman lebih dekat lagi.
Salah satunya Veny gadis berambut panjang yang diam-diam mengaguminya. Gadis itu memberanikan diri mengirim sepucuk surat kepadanya. Firman yang selama hidupnya belum pernah mendapat kiriman surat dari seorang gadis terliht sangat gerogi. Jantungnya berdebar dan tangannya gemetar.
“Mas kenalan dong, nama saya Veny. Saya dari sekolah swasta di kota ini.” Ucap Veny sambil mengulurkan tangannya.
“Sa…,sa...ya, Firman.” Jawab Firman gemetar.
“Maaf ya mas, sejak hari pertama saya melihat mas Firman, saya sangat terkesan dengan mas Firman. Mas Firman sangat baik dan ramah.”
“Ah mba Veny terlalu berlebihan memuji saya mba.”
“Benar loh mas, saya tidak mengada-ngada. Dari hari pertama saya ingin sekali berkenalan dengan mas Firman, tapi mas Firman kelihatannya sangat sibuk sekali. Baru kali ini saya punya kesempatan untuk menemui mas Firman.”
“Ma…,af kan saya ya mba, kalau selama ini saya tak menyadarinya.”
“Ya nggak apa-apa mas, saya juga minta maaf ya sudah berani lancang kepada mas Firman.”
“Loh…loh…, kok mba Veny yang minta maaf ? Seharusnya saya dong yang minta maaf, memangnya mba Veny punya salah apa ?” Firman balik bertanya.
“Jangan marah ya mas. Maaf saya memberanikan diri untuk menulis surat untuk Mas Firman. Soalnya hari ini adalah hari terakhir kegiatan kita. Saya tidak bisa membohongi perasaan saya kepada Mas Firman. Saya ingin mengenal mas Firman lebih dekat lagi.” Ucap Veny sambil memberikan surat.
“Ini surat untuk siapa mba ?” tanya Firman polos.
“Untuk Mas Firman dong, tolong dibalas ya mas sebelum kita berpisah.”
Firman menerima surat dari Veny lalu keduanya kembali ke tendanya masing-masing. Dengan sedikit ragu Firman memberikan surat itu ke bu Pipit.
“Maaf bu, saya baru saja dapat surat dari seseorang, tapi saya takut untuk membukanya bu ? Suratnya untuk ibu saja ya ?” tutur Firman polos.
“Kenapa di kasih ke ibu Fir, baca saja tidak apa-apa ?”.
“Ibu saja yang baca bu, saya takut.”
“Takut kenapa Fir, ya udah sini ibu backan.”
“Ya bu.” Jawab Firman singkat.
Bu Pipit membuka lalu membaca suratnya. Firmat terlihat malu-malu ketika suratnya dibacakan gurunya. Setelah selesai membaca, bu Pipit melipat kembali suratnya.
“Isi suratnya bagus Fir, Veny hanya ingin menjadi teman dekat kamu. Menurut ibu, itu sih wajar-wajar saja. Dia juga minta agar kamu membalas suratnya.”
“Terus saya harus balas apa bu ? Ibu aja yang balas ya ?” ucap Firman Polos.
“Loh kok ibu yang harus membalas Fir ? Mana ibu tahu perasaan kamu dengan Veny Fir ?” jawab bu Pipit sambil tersenyum.
“Ya bu, terima kasih. Sekarang saya pamit dulu ya bu ?” ucap Firman malu-malu lalu pergi meninggalkan bu Pipit.
Bu Pipit memandang Firman sambil menggeleng-gelengkan kepalanya diiringi senyum.
“Fir…,Fir, kamu terlihat sangat polos dan lucu sekali.” Gumamnya.
Setelah sampai tenda, Firman pun bingung mau menjawab apa kepada Veny. Karena baru kali pertamanya Ia mendapat surat dari seorang gadis. Di saat Firman sedang bingung, Firman dikejutkan oleh suara seorang gadis yang baru saja dikenalnya.
“Mas Firman sedang apa ?” tanya Veny.
“Ti…ti…dak sedang apa-apa mbak Veny.” Jawab Firman gugup.
“Loh kok Mas Firman kelihatan gugup sekali sih ? Mana surat balasannya mas ?” tanya Veny lagi.
“Ma…, ma…af mba Veny, saya belum buat suratnya ?” jawab Firman polos.
Untung saja tiba-tiba Daeng datang. Sehingga Firman punya alasan untuk tidak menjawab pertanyaan Veny.
“Fir, kamu dipanggil bu Pipit ?”.
“Ada apa bu Pipit memanggil saya Daeng ?” tanya Firman.
“Saya juga tidak tahu Fir, saya hanya disuruh memanggil kamu saja.” Jawab Daeng.
“Tolong sampaikan ke bu Pipit, saya segera ke sana.”
“Baiklah Fir.” Jawab Daeng lalu pergi meninggalkan Firman.
“Mba Veny maaf saya tinggal dulu ya ?” Ucap Firman.
“Terus kapan mas Firman akan membalas surat saya ? Sebentar lagi kita berpisah loh ?” ucap Veny penuh harap.
“Maaf Saya belum bisa membalasnya mba, saya pergi dulu ya ?”.
Veny terdiam dan terlihat sangat kecewa, lalu Ia pun pergi. Sementara Firman sudah sampai ke tenda bu Pipit.
“Ibu memanggil saya, ada apa bu ?” tanya Firman.
“Satu jam lagi ada jadwal pawai Karnaval Fir, tolong kamu persiapkan ya ?”.
“Baik bu, saya pamit dulu untuk mempersiapkannya.” Ucap Firman lalu pergi meninggalkan Bu Pipit.
Sampai di tenda Firman mengumpulkan rekan-rekannya untuk membahas persiapan pawai karnaval.
“Teman-teman tolong kita kumpul dulu ya, ada hal penting yang harus kita bahas sekarang juga.” Ucap Firman.
“Kayaknya penting banget Fir, memangnya ada apa sih ?” sahut Ketut.
“Kita disuruh mempersiapkan pawai karnaval, kira-kira kita mau menampilkan apa ?”.
“Oh itu masalahnya ? Kalau itu sih gampang Fir. Bagaimana kalau kita menampilkan adat Bali saja ? Setuju ngga kawan-kawan ?” sahut Dayu.
“Ya saya sangat setuju, temanya adalah sepasang pengantin Bali.” Usul Ketut.
“Terus siapa yang akan menjadi pengantin pria dan wanitanya ?” tanya Firman.
“Yang menjadi pengantin wanitanya kamu aja ya Put.” Ucap Dayu.
“Ya saya mau.” Jawab Putri mengangguk.
“Terus siapa yang bersedia menjadi pengantin prianya ?” Tanya Firman lagi.
“Yang menjadi pengantin prianya kamu ajalah Fir.” Jawab Dayu.
“Loh kenapa harus saya ? Memangnya tidak ada orang lagi ?” ucap Firman mengelak.
“Ya saya sangat setuju, kayaknya cuma kamu deh Fir yang paling cocok untuk mendampingi Putri.” Ucap Ketut menyela.
“Terus bagaimana masalah pakaiannya ?” tanya Firman lagi.
“Pakai baju saya aja Fir, kebetulan bajunya sudah saya bawa.” sahut Putri.
“Masalah baju tidak usah kamu pikirkan Fir. Biar Putri saja yang menyiapkan. Keperluan lainnya biar saya aja yang menyiapkan semua.” Ucap Dayu.
Dayu dan Ketut lalu mendandani Putri dan Firman. Putri terlihat sangat cantik, sampai-sampai Firman sendiri hampir tidak dapat mengenalinya lagi. Putri yang memiliki wajah cantik nan menawan laksana seorang bidadari. Sedangkan Firman mengenakan kemeja putih dan didandani ala pengantin pria Bali. Firman terlihat begitu wibawa laksana seorang dewa yang akan disandingkan dengan bidadari kahyangan.
Keduanya lalu diarak berjalan beriringan laksana Rama dan Sinta. Wajah sepasang pengantin itu terlihat sangat berseri-seri. Seolah keduanya menjadi pengantin sungguhan. Firman sangat bahagia bisa mendampingi Putri menjadi mempelai prianya. Ia larut dan hanyut dalam lamunannya, dan membayangkan kelak akan menjadi pengantin sesungguhnya mendampingi Putri.
Pemilik wajah cantik itu melirik dan melempar senyum manisnya kepada Firman. Firman tak kuasa menatap mata Putri yang begitu tajam dengan lesung pipitnya bak secawan anggur yang memabukan. Bertubi-tubi Putri kembali melempar senyum kepada Firman. Firman membalas senyuman itu lalu menundukan kepalanya menutupi rasa geroginya.
Sesekali Firman mencuri pandang ketika Putri sedang lengah. Kesempatan itu tidak di sia-siakannya. Ketika Putri sedang memperbaiki sanggulnya, Firman dengan leluasa memandang wajah cantik Putri yang mulai dibasahi oleh peluh.
Firman pun terlena memandang pasangannya yang begitu menawan. Firman terlalu ceroboh hingga Putri tersadar bahwa ada sepasang bola mata yang sedang menatapnya. Putri menoleh untuk memastikan bahwa dugaannya benar. Firman terkejut dan kalah cepat untuk menghindar dari tatapan pemilik wajah ayu itu. Hingga akhirnya sepasang remaja itu pun saling beradu pandang. Putri tersenyum memandang Firman yang terlihat semakin salah tingkah.
“Ada apa Fir ?” tanya Putri.
“Anu Put, itu ada rambut kamu yang rontok menempel di punggungmu.” Jawab Firman spontan.
Untung saja Firman melihat ada rambut Putri yang rontok menempel di punggungnya. Firman mengambil rambut itu dan menunjukannya kepada Putri.
“Ini rambutnya Put.” Ucap Firman menunjukannya ke Putri.
“Oh ya terima kasih ya Fir.” Ucap Putri tersenyum manja.
“Ya Put sama-sama.”
Tanpa terasa keduanya sudah sampai finish, lalu keduanya berjalan beriringan menuju ke tendanya masing-masing. Hari itu mereka sangat bahagia menjadi sepasang pengantin yang tak akan terlupakan sampai kapan pun. Pengalamannya menjadi sepasang pengantin di acara lomba tingkat dua cabang gerakan Pramuka, menjadikan hubungan mereka semakin akrab. Keakraban itu semakin terasa ketika keduanya berangkat dan pulang sekolah bersama.
Firman merasa hatinya damai jika selalu dekat dengan Putri. Begitu juga dengan Putri, rasanya kurang lengkap jika tidak ada Firman di sampingnya. Keduanya merasa saling membutuhkan dan saling menghargai. Walapun diantara mereka ada jarak yang akan memisahkannya di depan mata. Hari berganti hari, menggu berganti minggu, kini satu bulan telah berlalu.
Bayangan Putri selalu hadir dalam ingatannya. Apapun yang Firman kerjakan di situ selalu ada bayangan Putri. Senyum dan tutur katanya yang lembut tak pernah berlalu dari ingatannya. Bahkan di hati Firman mulai tumbuh perasaan sayang kepada Putri. Hatinya selalu berbunga-bunga jika selalu bersama dengannya.
Perasaan ini baru pertama kali Ia rasakan. Sebelumnya sama sekali belum pernah Ia alami. Hanya Firman saja yang bisa menjawab pertanyaan itu. Semakin lama Firman tak mampu lagi menutupi perasaannya pada Putri. Rasa sayangnya, tak mampu lagi Ia sembunyikan. Hingga suatu ketika Firman tak sanggup lagi membendung perasaannya kepada Putri dan Ia pun menceritakannya kepada Daeng.
“Daeng, kenapa akhir-akhir ini saya selalu memikirkan Putri ? Pedahal setiap hari kami selalu bertemu tapi perasaan saya menjadi resah ketika jauh darinya.” Ungkap Firman.
“Tidak salah dugaan ku selama ini Fir, saya yakin kamu telah jatuh cinta kepada Putri ?” Jawab Daeng.
“ Apa ?! Kamu jangan ngaco Daeng ?” ucap Firman.
“Saya ngaco dari mana Fir ? Meskipun selama ini kamu berusaha menyembunyikannya, tapi tatapan matamu dengan Putri tak bisa membohongi saya. Katakan saja apa yang sedang kamu rasakan selama ini Fir.”
“Maksudmu saya harus mengutarakannya kepada Putri ? Mana mungkin Daeng ?”.
“Mana mungkin bagaimana ?! Katakan saja Fir, saya tidak mau menjadi gila gara-gara Putri.”
“Jangan asal mangap kamu Daeng, tidak mungkin saya gila gara-gara dia.”
“Tanpa kamu sadari saya sering melihat kamu cengar-cengir sendiri, tertawa sendiri. Apakah itu bukan gila Fir ?” ucap Daeng lagi.
“Kamu juga gila Daeng ! Bahkan kamu juga sudah tidak waras lagi. Mana mungkin saya jatuh cinta kepada Putri ? Bukankah saya dilarang untuk jatuh cinta ?”.
“Sekuat apa pun kamu pendam perasaan itu, kamu tidak akan bisa menolak takdir Fir .”
“Kamu kan tahu kalau saya dilarang jatuh cinta oleh ibu ku. Selama ini saya selalu berusaha untuk tidak jatuh cinta Daeng. Sebelum saya berhasil menjadi orang yang sukses, kamu ingat itu Daeng ?”.
“Saya ingat pesan itu Fir, tapi apakah kamu sanggup memendam perasaan kamu pada Putri ? Sampai kapan kamu bisa bertahan Fir ? Sampai kakek-kakek ?” Ucap Daeng ketus.
“Saya tak punya nyali untuk mengatakannya Daeng ?”.
“Masalahnya apa, sehingga kamu tidak punya nyali ?” tanya Daeng.
“Keyakinan kami yang berbeda, saya pemeluk islam sedangkan dia pemeluk Hindu. Manalah mungkin, Daeng ?” Ucapnya lagi.
“Terus kamu mau sampai kapan begini terus Fir ? Sampai rambutmu memutih semua ? Sampai menunggu kamu kering kerontang ? Lihat badan kamu sekarang ini, Kamu terlihat semakin kurus Fir.” Ucap Daeng kesal.
“Apa mungkin masalahnya akan selesai jika saya berterus terang kepada Putri ? Tidak kan Daeng ?! Ini semua gara-gara agama, kenapa harus banyak agama di dunia ini ? Saya jadi bingung semua agama mengaku yang paling benar ! Gara-gama agama, mimpi saya harus kandas di tengah jalan !”
“Jangan pernah menyalahkan agama Fir. Mungkin ini adalah ujian untuk kamu.”
“Terus saya harus menyalahkan siapa ? Apa perlu saya memeluk dua agama sekali gus ? Memeluk islam dan Hindu beitu ?” ucap Firman meledak-ledak.
“Sekalian saja kamu peluk semua agama. Biar setiap hari kerja kamu hanya beribadah melulu. Memeluk satu agama saja kamu belum becus, apa lagi memeluk semua agama ? Bisa-bisa kamu gempor di tengah jalan, Fir.” Ucap Daeng tak mau kalah.
“Kenapa ini harus terjadi pada diri saya Daeng ? Kenapa ?! Masalah yang saya hadapi ini sangat rumit sekali ? Apa mungkin saya harus berterus terang kepada Putri ? Apakah mungkin dia akan menerima saya ? Terus bagaimana dengan keyakinan kami ? Bukankah semakin menjadi rumit masalahnya Daeng ?”.
“Setidaknya kamu sudah berani berterus terang dan berani mengatakannya Fir.” Ucap Daeng.
“Bagaimana kalau saya ditolak Daeng ?”.
“Itu sudah menjadi resiko kamu Fir.”
“Bukan itu maksud saya Daeng, kalau saya di tolak resiko saya akan sakit hati. Tapi sakit hati itu akan segera pulih jika dibandingkan ketika Putri menerima cinta saya ? Itu akan membuat masalah baru untuk saya, sebab keyakinan kami berbeda.”
“Jalan satu-satunya diantara kalian ada yang harus mau mengalah Fir tapi siapa yang mau mengalah ?” Ucap Daeng.
“Itu tak mungkin Daeng, saya tidak mau pindah agama. Begitu juga dengan Putri, apa lagi dia anak seorang pemuka agama di kampungnya.”
“Kalau begitu tidak ada jalan lain Fir, kamu harus bisa melupakan Putri sekarang juga ! Kamu harus bisa !” Ucap Daeng dengan nada tinggi.
“Kalau itu jalan satu-satunya, saya akan berusaha untuk melupakannya.”
Sejak itu Firman berusaha menjauh dari Putri, Ia bertekad untuk melupakannya. Bahkan demi melupakan Putri, Firman mengikuti semua kegiatan di sekolah agar tidak ada waktu lagi untuk memikirkan Putri. Untuk sementara waktu cara itu bisa membuat Firman melupakan Putri. Setelah itu bayangan Putri kembali hadir dan menggodanya. Pikirannya kembali pada wajah cantik yang selalu menggoda hatinya. Lenggak-lenggok tubuhnya membuat matanya merem melek dibuatnya.
Satu-persatu bayangan itu datang silih berganti, dan menggodanya. Membuat Firman semakin sedih dan terkadang menangis seorang diri. Nafasnya tersengal-sengal lalu tanpa sadar air matanya mengalir sambil menyebut nama Putri.
“Putri…, Putri…, Putri…”
Demikian hari-hari Firman dilauinya dengan duka yang mendalam. Hatinya pedih bagaikan diiris-iris sembilu. Terkadang Firman juga ingin segera mengakhiri gundah gulananya. Tapi Firman sendiri tak tau harus berbuat apa. Usahanya untuk melupakannya sudah berulang kali Ia coba. Tapi lagi-lagi usahanya selalu kandas di tengah jalan.
Kini wajah Firman semakin pucat, badannya semakin kurus dan terlihat sangat putus asa. Firman lebih banyak menyendiri di kelas. Daeng merasa kasihan melihat perubahan yang terjadi pada Firman, tapi Ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Maaf ya Fir saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membantu kamu. Saya juga menghargai perjuangan kamu untuk bisa melupakan Putri. Mudah-mudahan cobaan ini akan berbuah manis kelak.” Ucapnya.
Sementara Putri tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Firman. Mengapa akhir-akhir ini Firman mempersibuk diri dan menjauhinya. Di jam sekolah Firman juga selalu berada di dalam kelas dan setelah istirahat hilang entah ke mana. Putri mencari Firman ke sana ke mari namun yang dicarinya tak kunjung jumpa. Sampai akhirnya Putri menanyakannya kepada Daeng.
“Daeng, sudah beberapa minggu ini saya tidak pernah melihat Firman, apakah Firman tidak sekolah Daeng ?” tanya Putri.
“Setiap hari Firman selalu sekolah kok Put.” Jawab Daeng.
“Terus selama ini dia ada di mana ? Kok saya tidak pernah lihat ?” tanya Putri lagi.
“Ada tuh di dalam kelas.” Jawab Daeng sambil mengarahkan telunjuk kanannya ke arah kelas.
“Oh di kelas, terima kasih ya Daeng.” Ucap Putri lalu pergi ke kelas yang dimaksud Daeng.
Di kelas Putri melihat Firman sedang duduk menyendiri sambil membaca buku. Ia tidak tahu kalau Putri sedang mengamatinya dari tadi. Ia baru sadar setelah Putri menegurnya.
“Kemana aja kamu selama ini Fir ? Saya mencari-cari tapi kamu selalu tidak ada ?” tanya Putri.
“Saya selalu di dalam kelas Put.” Jawab Firman pelan.
“Idih…, ngapain aja kamu di dalam kelas, Fir ? Apa kamu tidak jenuh ya ? Ataukah memang kamu sengaja menghindar dari saya ? Apa salah saya Fir ?” desak Putri.
“Kamu tidak punya salah apa-apa Put. Justru saya lah yang salah” Jawab Firman.
“Memangnya kamu menyalahkan diri sendiri ? Selama ini hubungan kita baik-baik saja kan ? Coba katakan Fir !” desak Putri lagi.
“Sebenarnya diantara kita tidak ada yang salah Put.” Jawab Firman.
“Terus apa dong masalahnya !” desak Putri lagi.
“Takdirlah yang salah Put !” Jawab Firman pelan.
“Kenapa kamu menyalahkan takdir Fir ? Kenapa… ?!” desak Putri lagi.
“Udahlah Put, saya tidak mau membahas itu lagi.” Jawab Firman sambil matanya berkaca-kaca.
“Kamu tega ya Fir, kamu bukanlah Firman yang pernah saya kenal dulu, kamu telah berubah.”
“Saya tidak berani untuk mengatakannya sekarang Put, tolong jangan paksa saya untuk menjawabnya !” Jawab Firman dengan nada yang tinggi.
Mendengar ucapan Firman, Putri diam seketika dan duduk di sebelah Firman. Untuk sesaat suasana di kelas itu menjadi hening. Kemudian dengan suara paruh Putri kembali bicara.
“Kenapa kamu sekarang menjadi galak begitu Fir ? Saya jadi takut deh ?”.
Firman menarik napas berusaha menenangkan sikapnya.
“Maafkan saya Put, saya terbawa oleh perasaan. Saya tidak berani untuk mengatakannya Put.” Imbuhnya lagi.
“Terus sampai kapan kamu akan merahasiakan sesuatu itu dari ku Fir, sampai kapan ?” desak Putri pelan.
“Apa kamu tidak akan marah kalau saya bicara jujur ?” ucap Firman.
“Apapun yang akan kamu katakan saya tidak akan marah Fir. Justru saya akan marah jika kamu tetap diam begitu.” Jawab Putri sedih.
“Baiklah akan saya katakan Put.” Ucap Firman sambil menari napas.
Tidak lama kemudian bibir Firman mulai bergerak, namun bibirnya terlihat keluh. Pandangan kosong menatap Putri. Putri sadar ada beban berat yang sedang dihadapi Firman, Ia tak tega melihat penderitaannya.
“Kalau kamu berat untuk mengatakannya tidak apa-apa Fir, mungkin lain kali aja ya ?” Ucap Putri sambil menatap wajaf Firman yang terlihat pucat.
“Kamu sakit ya Fir ? Kenapa wajah kamu pucat sekali ?” tanya Putri sambil mengusap butiran keringat dingin yang menganak sungai di pipinya.
“Mungkin karena saya kurang istirahat Put, bentar lagi juga baikan kok ?” jawabnya.
“Baiklah Fir, saya pergi dulu ya ?” ucap Putri lalu berdiri dari tempat duduknya.
Tiba-tiba Firman menarik tangan Putri dan berjanji akan memberitahukan masalahnya pada Putri.
“Tunggu dulu saya akan mengatakannya Put ?”.
“Baiklah Fir.” Jawab Putri lalu duduk kembali
“Tapi saya bingung dari mana saya harus memulainya Put ?”.
“Tidak usah bingung-bingung, katakan saja apa yang harus kamu katakan Fir.” Ucap Putri.
“Semenjak saya mengenal kamu, hubungan kita makin hari semakin dekat, dan saya merasa takut untuk kehilangan kamu Put.”
“Kenapa begitu Fir, apa yang kamu takutkan ?”.
“Saya sayang sama kamu, tapi masalahnya diantara kita ada dinding pemisah. Kita terlahir dari suku dan agama yang berbeda. Tak mungkin kelak kita akan bisa bersatu Put ?”.
Mendengar penjelasan Firman, Putri diam tak bicara. Wajahnya terlihat tegang mendengarkan kata-demi kata yang disampaikan Firman.
“Kamu orang pertama yang bisa membuat saya bahagia, dan kamu juga orang pertama yang membuat saya sangat menderita. Karena diantara kita beda keyakinan. Di depan kita ada dinding Tuhan yang akan memisahkan kita, dan kita tak mungkin mampu untuk merobohkannya.” Tutur Firman.
“Kenapa tidak kamu perjuangkan Fir ? Mengapa kamu menyerah begitu saja ?” ucap Putri sambil mencengkeram pundaknya lalu mengguncang-guncang tubuh Firman.
“Terus saya harus bagaimana Put ?” tanya Firman pelan.
“Mestinya kamu tidak menyerah dulu Fir, untuk sementara waktu biarlah kita jalani dulu, sampai….?”.
“Sampai kapan ?!” ucap Firman menyela.
“Sampai kita dewasa Fir, siapa tahu kita akan menemukan jalan keluarnya.” Bujuk Putri.
“Justru itu yang sangat saya takutkan Put, jika hubungan ini berlanjut dan ternyata kelak tidak ada jalan keluarnya. Sedangkan kita semakin menyayangi, apakah itu tidak akan menyakitkan ? Apakah bisa dengan mudah kita saling melupakan ? Tidak kan Put ?”.
“Maaf kan saya Fir, saya tidak berfikir sampai sejauh itu. Apa yang kamu ucapkan benar adanya. Memang tidak ada jalan lain selain salah satu diantara kita yang mau mengalah. Kamulah yang harus mengalah Fir.” Ucap Putri.
“Apa yang saya takutkan kini terjawab sudah, biarlah waktu yang akan menentukannya.” Jawab Firman lirih.
“Maafkan saya ya, Fir, saya sudah memaksa kamu untuk menjawab semua pertanyaan itu. Tentu itu sangat menyakitkan bagi mu. Tapi jujur ya Fir, apa yang kamu rasakan, sama dengan yang saya rasakan juga. Mungkin semua ini sudah takdir kita berdua Fir. Maafkan saya ya ?” ucap Putri sedih.
“Tidak ada yang harus dimaafkan Put, justru saya yang harus berterima kasih sama kamu. Setidaknya saya sudah merasa sedikit lega. Beban yang selama ini saya pendam sudah terasa berkurang. Mungkin semua ini sudah menjadi takdir kita berdua Put.” Jawab Firman.
“Ya Fir, kita jalani saja seperti air yang mengalir. Tidak usah terlalu dirisaukan ya. Saya tidak mau melihat kamu sakit. Mengapa kita harus repot memikirkannya ? Terima kasih ya Fir, kamu sudah mau menceritakannya.” Ucap Putri.
“Oh ya Put, boleh nggak saya minta foto kamu ?” ucap Firman.
“Kebetulan saya membawa fotonya, tapi maaf loh fotonya jelek.” Ucap Putri sambil memberikan Foto.
“Tidak apa-apa Put, yang penting ini bukan foto nenek Kamu kan?” Goda Firman.
“Ih…, sekarang kamu sudah pandai ngelawak ya Fir. Saya pikir selama ini kamu hanya pandai dalam hal pelajaran saja, he…,he…,he…” Ledek Putri.
Terima kasih ya Put, kamu sudah menghibur saya. Foto ini akan menemani saya di kala saya sedang merindukan kamu.” Ucap Firman sedih.
“Ya Fir, tolong jangan tinggalkan saya ya ? Kamu jangan pernah menjauh dariku ?”.
“Ya Put.” Jawab Firman singkat.
Oh ya Fir, ada salam dari ayah, kata ayah pulang sekolah nanti kamu disuruh min ke rumah.”
“Baik Put, pulang sekolah nanti saya ke sana.”
“Pulang sekolah nanti kita barengan aja ya Fir saya takut nanti malah kamu nyasar. Nanti malah saya yang ketempuhan deh, hehehe…”Goda Putri.
Firman menganggukan kepala sambil melempar senyum. Setelah itu Putri pergi meninggalkan Firman sambil melambaikan tangan.
Setelah pulang sekolah, Firman ikut Putri ke rumahnya. Mereka mengayuh sepedah berjalan beriringan. Sampai di sana kereka menyandarkan sepedahnya di bawah pohon kamboja. Kemudian Putri mengetuk pintu rumahnya. Dari dalam tampak seorang laki-laki gagah keluar dan membukakan pintu.
“Itu siapa Put ?” tanya Pak Wayan.
“Itu Firman yah, teman yang sering saya ceritakan.”
“Oh ini yang namanya Firman, silahkan masuk nak Firman.” Sapa Pak Wayan ramah.
Firman mengangguk lalu mencium tangan Pak Wayan dan duduk di ruang tamu ditemani Putri. Pak Wayan tersenyum melihat wajah polos Firman yang terlihat sedikit canggung.
“Nak Firman, anggap saja ini rumah sendiri ya. Putri sudah cerita banyak tentang nak Firman. Selain pintar katanya nak Firman juga anak yang baik.” Ucap Pak Wayan.
“Ah Bapak bisa aja, Putri terlalu berlebihan pak. Saya hanya anak kampung yang tidak mengerti apa-apa, pak.” Ucap Firman.
“Putri tidak berlebihan nak Firman, baru saja nak Firman merendahkan diri, itu sebuah bukti bahwa ucapan Putri memang benar. Bapak juga banyak mendengar cerita dari guru nak Firman, bapak senang Putri punya teman sebaik nak Firman. Tolong titip Putri ya nak ?” ucap Pak Wayan.
“Ya pak.” Jawab Firman.
“Boleh nggak bapak menganggap kamu sebagai anak bapak sendiri ?”.
“Boleh pak, saya malah merasa sangat tersanjung dan senang sekali kalau saya dianggap anak.”
“Terima kasih ya nak, bapak juga sangat senang. Meskipun kita memiliki keyakinan yang berbeda tapi, tapi tolong jaga persaudaraan kita ya ?” ucap Pak Wayan.
“Baik pak, terima kasih atas kepercayaan yang bapak berikan ke saya.”
Walaupun mereka baru bertemu tapi sudah sangat akrab sekali, Putri membiarkan Pak Wayan dan Firman berbincang-bincang di ruang tamu. Ia pergi ke dalam dan keluar membawa teh botol lalu menyuguhkannya. Dari belakang seorang ibu cantik menyusul Putri membawa dua piring berisi buah rambutan.
“Silahkan diminum tehnya nak.” Ucap Bu Wayan.
“Ya bu terima kasih.” Ucap Firman lalu menyaliminya.
“Saya Ibunya Putri, nak.” Sapa bu wayan.
“Ya bu, maaf kalau kedatangan saya merepotkan ibu sekeluarga di sini.”
“Kami tidak merasa direpotkan kok nak, kami justru merasa senang nak Firman mau main ke rumah.” Ucap Pak Wayan menyela.
“Ya nak Firman, kami sengaja mengundang nak Firman karena ingin kenal. Kata Putri, selain nak Firman baik juga katanya nak Firman pintar.” Ucap bu Wayan.
“Putri terlalu berlebihan menyanjung saya bu, saya hanyalah anak kampung yang tak tahu apa-apa.”
“Jangan selalu merendah nak Firman, ya udah ibu tinggal dulu ya nak.” Ucap Bu Wayan lalu pergi ke dapur.
“Silahkan diminum tehnya Fir ?” ucap Putri.
“Ya nak Firman, kok dari tadi didiamkan saja. Bapak sengaja nyuruh Putri metik rambutan dan membeli teh botol agar nak Firman tidak ragu meminumnya. Karena bapak tahu kepercayaan yang dianut nak Firman.” Ucap Pak Wayan menyela.
“Aduh pak, saya jadi tidak enak, kok malah saya merepotkan.” Ucap Firman.
“Tidak apa-apa nak Firman, bapak malah senang kamu mau main ke rumah. Sudah lama loh bapak nyuruh Putri untuk ngajak nak Firman main ke rumah. Tapi kata Putri dia lupa untuk menyampaikannya. Silahkan dimakan rambutannya nak ?” ucap Pak Wayan.
“Ya pak terima kasih.” Ucap Firman sambil mengupas buah rambutan yang masih segar. Setelah itu Ia memohon diri untuk pamit.
“Terima kasih ya pak, bapak baik sekali. Saya mohon pamit ya pak.” Ucap Firman.
“Kenapa buru-buru Fir ?” tanya Putri.
“Ya kenapa buru-buru nak Firman ? Jangan kapok main ke sini ya ?” Ucap Pak Wayan menyela.
“Bu…, ibu..., ini nak Firman mau pamitan ?” ucap Pak Wayan.
“Loh…, loh…, mengapa buru-buru nak ?” tanya Bu Wayan.
“Maaf bu, ada sesuatu hal yang harus saya kerjakan di rumah.” Jawab Firman.
“Oh begitu, ya udah hati-hati di jalan ya nak. Jangan kapok lain kali main lagi.” Ucap Bu Wayan.
“Ya Bu, terima kasih.”
Firman lalu menyalimi mereka dan pergi meninggalkannya. Setelah Firman pulang mereka duduk di ruang tamu memperbincangkan Firman.
“Anaknya sangat sopan sekali ya pak ? Jarangloh saya melihat anak seperti nak Firman.” Puji bu Wayan.
“Makanya bapak suruh dia main ke sini bu, karena bapak sendiri merasa penasaran mendengar cerita Putri.” Jawab Pak Wayan.
Sementara Putri senyum-senyum sendiri melihat kedua orang tuanya membanggakan Firman. Dalam hati Ia merasa bahagia mendapat dukungan dari kedua orang tuanya.
KETIKA CINTA BICARA
Terik mentari tak lagi menyengat, menyapa ramah seantera jagat raya. Ia mengucap kata pamit sambil tersenyum pada alam semesta. Menghantarkan pada kerumunan remaja yang baru saja keluar dari kelas. Remaja itu mengayuh sepedah bergegas pulang ke rumahnya. Gedung mentereng yang sebelumnya hiruk pikuk kini terlihat hampa nan sunyi, ditinggal para pengabdi negeri yang pulang kembali menemui pujaan hati.
Sore itu Firman pulang paling belakang. Hatinya merasa resah sebelum Putri sampai dengan selamat. Kecemasan Firman hari itu benar-benar terbukti. Ia melihat Putri sedang menuntun sepedahnya yang kempes. Dengan sangat khawatir Ia menghampirinya.
“Kenapa dengan sepedahmu Put ?”.
“Bannya kempes Fir.”
“Coba saya lihat dulu ya ?” ucap Firman sambil memeriksa sepedahnya.
“Pentil karetnya harus di ganti Put.” Ucap Firman.
“Waduh, terus gimana ini Fir ? Mana hari sudah semakin gelap lagi.” Ucap Putri panik.
“Jangan panik Put, kayaknya saya pernah naro pentil karet di kantung tas deh. Coba saya cari dulu ya ?”.
Lalu Firman mengaduk-aduk isi tasnya. Selang beberapa detik yang dicarinya ketemu.
“Ini dia yang ku cari !” celetuk Firman sembari menunjukannya ke Putri.
“Kok pentil karetnya pendek Fir, memang masih bisa digunakan ?” tanya Putri.
Firman tak menjawabnya, dengan serius Ia mengganti pentil ban sepedah Putri.
“Walaupun pendek tapi masih bisa dipakai kok Put.” Ucap Firman sambil memandang wajah cantiknya.
Mendengar ucapan Firman, wajahnya kembali berseri-seri.
“Kita cari bengkel dulu ya Put.” Ajak Firman.
Putri mengangguk lalu menuntun sepedahnya mengikuti Firman. Sampai di pertigaan jalan mereka berhenti di sebuah bengkel.
“Kamu tunggu di sini ya Put, saya ke bengkel itu dulu.”
“Kan bengkelnya sudah tutup Fir.”
“Tak mengapa, saya hanya mau pinjam pompanya saja.”
“Biar saya saja Fir, kamu pulang aja duluan. Rumahmu kan masih jauh, kasihan nanti kamu kemalaman.” Ucap Putri menyela.
“Bagaimana mungkin saya tega meninggalkan kamu sendiri di sini Put ?”.
“Jangan mengkhawatirkan saya Fir, saya akan baik-baik aja kok. Nggak apa-apa kamu pulang duluan, ya ?”.
“Jangan ngeyel kamu Put !” bentak Firman.
Putri terdiam setelah mendengar Firman marah, lalu perlahan mengangkat wajahnya sambil menatap Firman.
“Jangan kamu sangka saya tidak mencemaskan mu Fir. Pulang sana nanti kamu kemalaman.” Ucap Putri pelan.
Mendengar ucapan itu, Firman menatap wajah Putri yang sangat mencemaskannya. Dua remaja yang berbeda keyakinan itu beradu pandang. Entah berapa lama keduanya larut dalam lamunannya.
“Fir…?”.
Mendengar suara lembut dari gadis yang sangat dicintainya, Firman tersadar dari lamunannya dan menjawab lembut ucapan Putri.
“Ya, Put ?”.
“Kamu pulang duluan ya, saya tidak apa-apa sendiri di sini.” Bujuk Putri lagi.
“Sekalipun kamu melarang, saya tak akan bergeming sedikitpun dari tempat ini Put !” ucap Firman dengan nada tinggi.
“Saya sangat mencemskan mu Fir, percayalah tidak akan terjadi apa-apa dengan saya.” Ucap Putri tak mau kalah.
Firman terdiam sambil menopangkan dagunya di setang sepedanya. Putri menatap wajah polos itu. Tersirat di wajahnya tergambar ada kecemasan pada dirinya. Ia pun luluh dan mengizinkan Firman untuk menemaninya.
“Maafkan ucapan saya ya Fir. Sekarang saya mengizinkan kamu untuk menemani.” Ucap Putri lembut.
Mendengar jawaban Putri, Firman mengangkat kepalanya yang dari tadi ditopangkan di atas setang sepedahnya.
“Terima kasih ya Put, kamu tunggu di sini saja. Saya mau pinjam pompa di bengkel itu ya.”
Putri mengangguk dan membiarkannya pergi ke bengkel yang jaraknya hanya beberapa langkah saja. Firman menyambangi bengkel itu lalu mengetuk pintunya.
Tok, tok, tok….
Seorang laki-laki keluar dan menghampirinya.
“Ada apa Mas ?”.
“Maaf Pak, boleh kah saya pinjam pompanya ?” ucap Firman.
“Oh boleh, itu pompanya silahkan ambil saja.” Ucap laki-laki itu menunjuk ke arah pompa.
Tanpa membuang-buang waktu, Firman mengambilnya lalu kembali lagi ke Putri dan memompa ban sepedahnya. Tubuhnya turun naik, perutnya kembang kempis, napasnya tersengal-sengal. Keringatnya mengucur deras membasahi tubuh kurusnya. Putri menatap wajah Firman lalu mengambil sapu tangan dan mengelap wajahnya yang mulai bercucuran keringat. Sementara Firman membiarkan saja tangan Putri menari-nari di wajahnya.
“Maaf ya Fir, gara-gara saya kamu jadi direpotkan.” Ucap Putri sambil tersenyum.
“Tidak apa-apa Put, yang penting sekarang kamu bisa pulang dengan selamat sampai rumah. Oh ya, kayaknya bannya sudah keras deh Put.”
Tangan Firman menekan ban sepedah sembari jari-jemarinya menyentil-nyentil bannya. Putri pun tak mau ketinggalkan ikut memeriksa untuk memastikan sepedahnya sudah bisa dinaiki.
“Oh ya sudah keras Fir.”Ucap Putri dengan wajah berbinar-binar..
“Syukurlah Put.” Jawab Firman sambil mencuri pandang.
“Terima kasih ya Fir, untung ada kamu. Coba deh kalau tidak ada kamu, pasti saya sudah…?”.
“Sudah nangis kan ?” ucap Firman menyela.
“Ih…, nakal kamu Fir.” Canda Putri sambil mencubit perut Firman.
“Aduh… ! Sakit tau !” teriak Firman.
“Alah…, alah, Cuma dicubit sedikit saja kamu sudah kesakitan begitu Fir. Dasar lebay, hehehe…” Ledek Putri.
“Ih…, dasar kamu Put. Sini gentian saya cubit. Sekali-kali mencubit kamu agar merasakan cubitan saya.” tantang Firman.
“Yakin kamu mau mencubit ku, apa kamu sudah tega Fir ? Apa kamu mau melihat saya sedih ? He…, he…, he…” Ledek Putri lagi.
“Ih…, GR banget sih kamu Put. Udah dulu ya, saya mau mengembalikan pompa ini ?” ucap Firman.
Putri mengangguk sambil tersenyum dengan lesung pipitnya yang indah. Firman membalas senyumnya lalu pergi mengembalikan pompa. Tak berapa lama Ia sudah kembali lagi menghampiri Putri yang masih menekan-nekan ban sepedahnya.
“Sekarang saya sudah merasa tenang Fir, ban sepedahnya sudah tidak kempes lagi. Terima kasih ya Fir.” Ucap Putri gembira.
“Sama-sama Put, semoga saja kita sampai di rumah ya. Mari kita pulang, sebentar lagi maghrib loh” Ajak Firman.
Putri pun mengayuh sepedahnya ditemani Firman. Mereka berjalan beriringan, Putri di sebelah kiri, sedangkan Firman di sebelah kanan. Mereka bercerita ngalor ngidul tanpa terasa sudah sampai di pertigaan jalan. Keduanya berhenti di pertigaan dekat Sekolah Dasar.
“Fir…, ngantarnya sampai di sini saja ya.” Bujuk Putri.
“Saya antar sampai rumah mu ya Put ? Rumah mu kan masih cukup jauh.” Bujuk Firman.
“Sudah dekat Fir, kira-kira masih setengah kilo lagi kok.”
“Tapi ini sudah malam lo Put, mana sudah gelap lagi. Apa lagi kamu melewati makam. Saya tidak ingin sesuatu terjadi dengan kamu Put.”
“Percayalah Fir, tidak akan terjadi apa-apa dengan saya. Kamu pulang saja ya ?” ucap Putri.
“Baiklah Put, hati-hati di jalan ya ?”.
“Kamu juga hati-hati ya Fir, nggak usah kebut-kebutan. Jalannya pelan-pelan saja. Terima kasih dan sampai ketemu besok ya.” Ucap Putri sambil melambaikan tangannya.
Firman pun melambaikan tangan, tampak dari wajah kedua remaja yang berbeda keyakinan itu terlihat saling mencemaskan. Sementara Sang Ratu malam baru keluar dari peraduannya. Sinarnya menerangi Putri yang sedang mengayuh sepedanya. Samar-samar Ia melintasi jalan bebatuan di dekat pekuburan. Firman menatap bayangan Putri hingga hilang di kegelapan malam. Setelah itu Firman kembali melanjutkan perjalanannya.
Dalam hitungan menit Putri sudah sampai di rumahnya. Pak Wayan terlihat panik dan berdiri mondar-mandir di depan pintu. Di wajahnya tergambar kecemasan yang mendalam. Putri yang ditunggunya kini baru saja sampai. Ia buru-buru menyambut Putri dengan wajah sedikit cerah.
“Dari mana saja kamu Putri ? Kenapa kamu baru sampai rumah ?” tanya Pak Wayan cemas.
“Maaf yah, ban sepedah saya kempes. Untung bertemu Firman di jalan. Dialah yang menolong ku dan mengantar pulang.”
“Terus di mana nak Firman nya ? Kenapa tidak kamu ajak mampir Putri ?” tanya Pak Wayan lagi.
“Tadinya sih Firman mau ngantar sampai ke rumah yah. Tapi saya melarangnya. Soalnya rumah dia jauh Yah. Kalau saya suruh mampir, nanti pulangnya kemalaman. Kasihan kan dia Yah?” ucap Putri.
“Ya sudah sekarang sana kamu nyalin, tolong besok sampaikan salam ayah sama dia. Sampaikan terima kasih ayah ya ? Apa jadinya kalau tadi kamu tidak ditolong nak Firman.” Ucap Pak wayan.
Putri menyandarkan sepedahnya dan masuk ke rumah. Sementara Firman masih mengayuh sepedah ontelnya dengan kecepatan tinggi. Ia menerobos dikeremangan malam. Keringatnya menganak sungai membasahi seragam sekolahnya. Firman baru sampai di rumah setelah terdengar suara adzan . Lalu Ia masuk rumah dengan napas masih ngos-ngosan.
Kemudian Ia duduk sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Jari-jemarinya bergerak silih berganti seperti sedang memainkan sebuah piano. Firman hatinya sedang kacau dan bimbang untuk melupakan Putri. Di sisi lain Ia ingin melupakan Putri namun di sisi lain hatinya sangat bimbang. Kemudian tangannya merogoh kantung celana dan mengeluarkan foto hitam putih dari dompetnya.
Firman memandang foto itu. Jari telunjuknya membelai wajah kekasihnya yang cantik nan rupawan. Tanpa terasa Ia berlinang air mata. Firman sangat berat untuk melupakan Putri. Malam itu Firman dirundung kesedihan. Dadanya terasa sesak dan napasnya tersengal-sengal sambil memandang Putri. Berulang kali Firman mencium Putri, hingga tangisannya pecah tak terbendung lagi.
“Ya Allah mengapa kami harus saling dipertemukan ? Jika pada akhirnya Engkau ciptakan sebuah dinding untuk memisahkan. Ya Allah mengapa Engkau berikan kami cinta ? Jika pada akhirnya kami harus saling tersiksa. Jika ini adalah kehendak-Mu ya Allah, apalah dayaku. Tuntunlah hamba-Mu ke jalan-Mu. Palingkanlah hati ini darinya ya Allah.”
Firman lalu merebahkan tubuhnya sambil menggenggam erat foto Putri dan menangis terisak-isak.
Keesokan harinya di pagi buta, Firman dan Daeng sudah sampai di pertigaan jalan. Di sana sudah menunggu tiga orang gadis cantik yaitu Ketut, Putri dan Dayu. Tiga remaja cantik yang sama-sama berambut panjang dan berkepang dua itu melempar senyum pada Firman dan Daeng. Firman tersipu malu melirik Putri tersenyum kepadanya. Jantungnya dag, dig, dug ser serasa mau copot.
Firman kembali melirik Putri. Ia mengkerutkan keningnya ketika melihat tangan dan wajahnya ditumbuhi bintik-bintik merah. Meskipun demikian Putri masih tetap terlihat cantik. Firman melirik ketiga kalinya, matanya mencari sepedah Putri.
“Di mana sepedahnya ?” matanya mencari ke sana ke mari.
Pikirannya masih fokus pada sepedahnya, sehingga ketika Dayu memanggilnya, Firman tidak mendengarnya sama sekali.
“Fir, bisa nggak kamu mbonceng Putri ? Fir bisa nggak kamu mbonceng Putri ?”.
Firman tetap diam. Mereka pun mentertawakan Firman yang terlihat masih bengong. Sehingga Putri ikut memanggilnya.
“Fir…, kamu nggak dengar ya Dayu memanggilmu.” Ucap Putri.
“Ya, a..da a...pa Put ?” jawab Firman sedikit gugup.
“Ha…,ha…,ha…,ha…” Spontan mereka mentertawakan Firman.
“Kalian sedang menertawakan apa sih, kok kompak begitu ?” ucap Firman tanpa bersalah sedikitpun.
“Makanya lah Fir, kamu jangan bengong terus. Memangnya kamu sedang mikirin apa sih ?” tanya Ketut.
“Mikirin apa lagi kalau bukan mikirin itu, tu…hehehe…” Ledek Daeng.
“Maaf saya sedang memperhatikan orang itu, jadi tidak dengar.” Ucap Firman ngeles.
“Halah Fir, Fir, ngeles aja kamu. Dari tadi tidak ada orang lain di sini. Tadi saya bilang ke kamu, bisa nggak kamu mbonceng Putri “ ucap Dayu mengulanginya.
“Kenapa kamu tidak bilang dari tadi, Yu.” Jawab Firman.
“Tadi Dayu sudah bilang berulang kali, tapi kamu tidak mendengarnya Fir. Giliran Putri yang ngomong, kamu langsung nyambung, hehehe…” Ledek Ketut.
“Oh bisa, silahkan naik Put.” Ucap Firman.
“Terima kasih Fir.” jawab Putri lalu naik di belakang Firman.
“Ya sama-sama.” Jawab Firman lalu mengayuh sepedahnya.
Firman merasa canggung dan jantungnya berdebar-debar ketika membawa Putri. Suasana itu menjadi cair setelah Putri mengajaknya bicara.
“Kemaren sampai di rumah jam berapa Fir ?” tanya Putri
“ Jam tujuh Put, memang kenapa ?” Firman balik bertanya.
“Enggak kenapa-kenapa kok Fir, cuma khawatir aja.”
“Kemarin bapak nanya nggak kenapa kamu pulangnya terlambat ?” Firman balik bertanya.
“Ya ayah nanya. Katanya ayah sangat mencemaskan ku. Terus saya ceritakan saja masalahnya, setelah itu ayah baru diam.”
“Terus di mana sepedah mu Put ?”.
“Sepedahnya mau di dandan dulu sama ayah. Oh ya Fir, ada salam dari ayah. Saya suruh menyampaikan ucapan terima kasih dari ayah. Kata ayah untung ada Nak Firman kemarin. Apa jadinya kalau nak Firman tidak ada.” Ungkap Putri menirukan ayahnya.
“Bapak bilang begitu Put ?”.
“Ya Fir.”
“Tolong sampaikan salam saya untuk bapak dan Ibu ya Put ?”.
“Siap bos.” Jawab Putri.
“Oh ya Put, kenapa tangan dan wajah kamu keluar bintik-bintik merah begitu ?” Tanya Firman.
“Saya sendiri nggak tahu Fir. Yang jelas setiap kali saya merasa capek saya selalu keluar bintik-bintik merah seperti ini. Mungkin karena saya punya alergi Fir.” Ungkap Putri.
“Bisa jadi itu pengaruh angin karena kamu kedinginan Put.”
Ya Fir, mungkin saja saya punya alergi.” Jawab Putri.
“Asal tidak alergi dengan saya aja ya Put.” Sahut Firman.
“Ih…, ada-ada aja kamu Fir.” Jawab Putri sambil mencubit perutnya.
Pagi itu Firman hatinya kembali luluh ketika cintanya yang bicara. Perasaannya terombang-ambing dan hatinya menjadi ragu untuk melupakan Putri. Selama berangkat sekolah mereka ngobrol ngalor ngidul disertai gelak tawa dan canda. Tanpa terasa keduanya sudah sampai di gerbang sekolah. Firman menghentikan laju sepedahnya dan menurunkan Putri. Lalu Putri turun dari sepedah sambil melempar senyum. Rambutnya yang panjang tertiup angin mengeluarkan semerbak aroma sampai menusuk indra penciumannya. Firman memejamkan mata sambil menghirup aroma itu. Sementara Putri menatap Firman sambil tersenyum.
“Terima kasih ya Fir. Pulangnya saya ikut lagi ya.” Ucap Putri lembut.
“Ya Put, nanti saya tunggu di sini ya ?” Jawab Firman sambil menyandarkan sepedah.
Pagi itu Firman mendapat ujian berat dari Putri. Tekadnya untuk melupakan Putri kembali goyah. Hatinya terombang-ambing dan bimbang, antara melupakan dan tidak. Hubungan keduanya semakin hari malah semakin dekat dan terasa berat untuk berpisah. Firman rela berkorban apa saja demi Putri.
Terkadang Firman juga sangat cemburu ketika melihat Putri sedang digoda Bambang. Firman melihat Bambang dengan sesuka hatinya mencolek Putri tanpa memikirkan perasaannya. Di saat itulah Firman cemburu dan marah. Giginya gemertak menahan geram. Untung saja Bambang cepat sadar dan pergi meninggalkan Putri. Sehingga kemarahan Firman mereda. Rasa sayangnya pada Putri tidak bisa diukur oleh apapun. Rasa sayangnya pada Putri bahkan melebihi tingginya gunung dan dalamnya lautan. Firman lebih banyak memikirkan perasaan Putri ketimbang dirinya.
Begitu besar rasa sayangnya pada Putri sehingga sangat berat untuk melupakannya. Perjuangannya untuk melupakannya tak semudah membalikan telapak tangannya. Meski sudah berulang kali Ia coba untuk meninggalkannya, bayangan Putri selalu datang dan menggodanya. Membuat hati Firman rapuh dan bertekuk lutut di hadapan Putri. Akibatnya Firman pasrah dan lebih banyak melamun seorang diri. Hingga suatu ketika Daeng melihat Firman duduk sendiri di belakang kelas sambil menangis tersedu-sedu.
“Kenapa kamu menagis Fir ?” tanya Daeng.
“Saya tidak menangis Daeng.” Jawab Firman sambil mengusap air matanya.
“Kalau tidak sedang menangis, kenapa kamu berlinang air mata ?”.
“Mata saya kelilipan debu, Daeng.”
“Jangan bohong kamu Fir ! Jelas-jelas saya lihat kamu sedang menangis. Coba ceritakan apa yang telah terjadi Fir !” desak Daeng.
“Saya bingung Daeng.”
“Kamu bingung kenapa Fir !” desak Daeng lagi.
“Saya sudah berulang kali berusaha untuk melupakan Putri, tapi lagi-lagi saya luluh di hadapannya. Saya sudah coba berulang kali menjauh darinya. Tapi usahaku selalu gagal dan sia-sia. Rasanya kepalaku mau pecah.” Keluh Firman.
“Setiap kali saya mencoba untuk melupakannya, bayangan Putri selalu hadir dan menganggu pikiranku. Jika tidak ingat dosa, rasanya saya lebih baik mati saja Daeng. Dari pada hidup tersiksa begini.” Imbuhnya lagi.
“Jangan gila kamu Fir ! Dunia ini tak selebar daun kelor, berusaha dan mintalah pertolongan Allah. Niscaya Dia akan mendengar semua keluh kesah kamu Fir.” Ucap Daeng.
“Saya sudah sering berdo’a, Daeng. Tapi Allah tidak pernah mengabulkan do’a saya. Saya lelah Daeng.”
“Yang sabar Fir. Mungkin Allah sedang menguji kesabaran kamu. Apakah kamu akan lulus menjalani ujian ini ataukah tidak. Yakinlah di balik ujian ini jika kamu lulus Allah akan mengangkat derajat kamu lebih tinggi lagi.” Ucap Daeng berusaha meyakinkan Firman.
“Apakah salah saya mencintai Putri yang jelas-jelas tidak seakidah dengan saya ?”.
“Tidak salah Fir, Siapa saja berhak untuk jatuh cinta, termasuk kamu. Cinta itu datangnya tidak pernah kita rencanakan. Cinta itu bisa datang dan pergi kapan saja. Kamu sudah berusaha keras melawan takdirmu. Selebihnya serahkan saja kepada pemilik takdir ini.”
“Kata-kata itu sangat mudah diucapkan, namun sangat sulit untuk dijalaninya Daeng.”
“Mungkin itulah yang dinamakan cinta yang tulus Fir.” Imbuh Daeng.
“Sok tahu kamu Daeng. Seolah-olah kamu pernah jatuh cinta saja. Kata-kata kamu seperti ucapan orang yang sudah lanjut usia saja.”
“Kata bijak tidak selalu harus keluar dari mulut orang yang sudah tua Fir. Saya juga pernah merasakan apa yang sedang kamu rasakan saat ini. Hanya saja masalah yang sedang kamu hadapi lebih berat dari yang pernah saya rasakan.” Ungkap Daeng.
“Sudah berulang kali saya coba untuk mlupakan Putri, tapi-lagi-lagi gagal. Sekarang saya pasrah Daeng. Saya mau belajar agama Hindu. Mungkin inilah cara penyelesaiannya.”
“Kamu jangan gila Fir. Apakah kamu mau pindah agama ?” tanya Daeng.
“Saya tidak tahu Daeng, biarlah waktu yang akan menjawabnya.”
“Terserah kamulah Fir. Saya tidak akan mencampuri masalah kamu lagi. Kamu mau belajar agama Hindu kek, mau murtad kek itu bukan urusan saya.” Ucap Daeng kesal lalu pergi meninggalkan Firman.
Sementara Firman masih duduk menyendiri di belakang kelas. Ia baru meninggalkan tempat itu setelah mendengar bunyi bel pulang.
DIBUTAKAN OLEH CINTA
Pagi telah tiba, mentari baru bangun dari peraduannya. Cahayanya mengiringi langkah beberapa remaja yang berangkat ke sekolah. Sementara dedaunan bergerak malu-malu menyongsong datangnya pagi.
Di jalan pedukuhan terlihat seorang petani tua berjalan kaki menuju ke sawah. Sambil memanggul cangkul, petani itu menghisap lintingan rokok yang terbuat dari kulit jagung. Asap pun mengepul keluar dari lintingan itu disusul aroma klembak menyan. Aromanya menambah suasana di pagi itu sangat kental dengan suasana di pedesaan.
Di pagi itu juga, Firman dan Daeng baru berangkat ke sekolah. Tampak di wajah Daeng tersirat sebuah optimis tentang masa depan. Sambil mengayuh sepedah, Ia mendendangkan lagu milik Betharia Sonata yang berjudul,” Hati Yang Luka.”
Namun tidak demikian dengan Firman, Ia masih berkutat dalam kesedihannya. Di wajahnya tergambar keputus asaan yang mendalam. Sambil mengayuh sepedah, matanya berkaca-kaca. Hatinya mengalami goncangan hebat setelah semalaman penuh berfikir akan mempelajari agama Hindu. Sementara Daeng masih asyik melantunkan lagunya sambil bersyiul mengiringinya. Ia tak menyadari bahwa sahabat karibnya sedang dirundung kesedihan.
Sampai di sekolah Firman terlihat sangat terburu-buru dan tidak langsung masuk ke kelasnya. Ia malah pergi ke kelas sebelah menemui Made.
“Selamat pagi Made ?”.
“Selamat pagi Fir. Tumben pagi-pagi kamu ke sini. Ada apa Fir ?” tanya Made.
“Saya ingin belajar agama Hindu. Apakah kamu mau mengajarinya ?” ucap Firman.
“Mimpi apa kamu semalam Fir, apa saya tidak salah dengar ?” tanya Made.
“Tidak Made, saya serius. Saya ingin belajar agama hindu.”
“Yakin kamu sudah mantap ingin belajar agama hindu ?”.
“Saya sudah mantap Made. Kapan kita bisa mulai ?”.
“Pulang sekolah nanti kamu ke rumah saya ya Fir.”
“Ok Made. Terima kasih ya.” Ucap Firman.
Setelah itu Firman kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Setelah selesai, Ia ikut Made ke rumahnya. Firman benar-benar membuktikan ucapannya untuk mempelajari ajaran Hindu. Made mulai memperkenalkan tentang tata cara persembahyangan dan berbagai kegiatan ritual lainnya. Seperti membuat sesaji kepada Sanghyang Widi Wasa.
Cintanya kepada Putri benar-benar telah membutakan mata hatinya. Ia rela belajar agama Hindu demi pujaan hatinya. Ia pun mendapat bimbingan dari Made dua kali seminggu untuk mengenal lebih jauh tentang ajaran Hindu. Bahkan Firman sudah diajarkan tentang praktek peribadatan di Pura Batu Putih. Sebuah Pura yang terletak di bibir sebuah pantai.
Di Pura itu banyak hal yang dipelajarinya. Dengan tekun Ia mendengarkan wejangan yang disampaikan Made. Berbagai pertanyaan pun Ia lontarkan kepada Made. Dengan sabar Made menjawab dan menjelaskan semua pertanyaan yang diajukan Firman. Kemudian Firman membandingkan ajaran yang baru didapat dengan agama yang sudah dipeluknya.
Seiring berjalannya waktu, terjadilah perang pemikiran dalam dirinya. Firman tersadar bahwa Ia terlahir dari suku, adat dan keyakinan yang berbeda dengan Putri. Ia juga sadar bahwa dirinya terlahir dari keluarga yang taat beribadah. Sampai akhirnya Firman pun jatuh sakit.
Tentang sakitnya Firman sengaja tidak diberitahukan kepada Daeng agar beritanya tidak menyebar. Namun karena sudah beberapa minggu Firman tidak sekolah, Daeng pun berkunjung ke rumahnya. Kedatangan Daeng pun disambut bu Sastro di rumahnya.
“Ada apa dengan Firman bu, sudah beberapa minggu ini dia tidak masuk sekolah ?”.
“Firman sakit Daeng.”
“Sejak kapan Firman sakit Bu ?” tanyanya lagi
“Sudah beberapa minggu yang lalu Ia sakit. Mungkin karena Ia sering telat makan lantaran sering pulang malam.”
“Memang Firman selama ini pergi ke mana Bu ?” tanya Daeng.
“Loh memangnya nak Daeng tidak tahu ke mana selama ini Firman pergi ?”.
“Saya tidak tahu bu.”
“Kirain perginya sama nak Daeng. Katanya sih dia main ke tempat temannya yang bernama Made.”
“Loh rumah Made kan cukup jauh bu. Terus sebelum sakit, ada kejanggalan nggak bu dengan Firman ?”.
“Semenjak itu Firman sering melamun dan sering mengurung diri di kamarnya. Setiap ibu tanya Ia diam saja tak mau menjawab. Kira-kira ada apa dengan Firman ya nak ?” Bu Sastro balik bertanya.
“Saya sendiri malah tidak tahu bu. Coba nanti saya tanya Firman ya bu. Oh ya bu, Firman di mana ?”.
“Itu di kamarnya nak. Mari ibu antar.” Ucap bu Sastro lalu mengantar Daeng.
“Fir…, Fir…. Kenapa badan kamu panas sekali ?” sapa Daeng sambil meletakan telapak tangannya ke kepala Firman.
Firman berusaha membuka matanya. Dengan pandangan yang masih kabur Ia melihat Daeng yang baru saja datang.
“Kamu sakit apa Fir ?” tanya Daeng lagi.
“Ke…pa…la saya seperti mau pecah Daeng, dan pandangannya berkunang-kunang.
“Sudah satu minggu ini Firman tidak mau makan. Setiap kali Ibu suapin langsung mutah. Ibu jadi bingung nak Daeng.” Jawab bu Sastro.
“Mudah-mudahan Firman cepat sembuh ya bu.”
“Aamiin. Terima kasih nak Daeng.”
“Fir…, semoga cepat sembuh ya.”
“Terima kasih Daeng. Saya minta tolong sama kamu.”
“Kamu minta tolong apa Fir ?”.
“Tolong jangan kasih tau yang lain kalau saya sakit ya ?”.
“Loh kok begitu ? Memangnya kenapa ?”.
“Tidak kenapa-kenapa. Saya hanya butuh istirahat saja. Tolong ya dirahasiakan ?”.
“Baiklah Fir kalau itu mau mu. Sekarang saya pamit dulu ya. Bu saya pulang dulu ya ?”
“Terima kasih nak Daeng, do’akan agar Firman cepat sembuh ya.” Jawab bu Sastro.
“Ya bu.” Jawab Daeng lalu pergi.
Setelah Daeng pulang Firman kembali berbaring. Sudah hampir satu bulan ini Firman menderita sakit. Salah satu penyebab sakitnya Firman karena beban masalah yang dihadapinya. Firman sangat putus asa dan hatinya rapuh. Tak sesuap nasi pun masuk ke perutnya. Firman hanya minum air putih yang diberikan ibunya. Karena setiap kali disuapi, seketika itu pula dimuntahkan kembali. Hingga suatu ketika Firman demam tinggi dan sangat kritis. Sampai-sampai bicaranya ngelantur di luar kesadarannya, membuat Bu sastro histeris.
“Saya mau pulang bu.” Ucap Firman sambil matanya terbalik lalu pingsan.
“Kamu mau pulang ke mana nak ?. Jangan tinggalkan ibu nak, tolong sadarlah nak.” Teriak Bu Sastro sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya.
Entah sampai berapa lama Firman tak sadarkan diri. Bu Sastro berusaha membangunkan Firman sambil menangis. Firman kembali sadar setelah bu Sastru mengoleskan balsam ke hidungnya sambil memanggil namanya.
Sedangkan di sekolah, ketidak hadiran Firman yang sudah satu bulan lamanya dipertanyakan oleh teman sekolahnya. Termasuk Putri dan Ketut. Keduanya mendesak Daeng agar memberi tahu tentang kabarnya.
“Daeng, sudah satu bulan ini Firman tidak sekolah ada apa ya ?” tanya Ketut.
“Ya Daeng, tolong kasih tahu ya ? Ada apa dengan Firman ?” bujuk Putri.
“Sebenarnya saya tidak boleh ngasih tau ke kalian tentang Firman.”
“Loh ! Kenapa ?” tanya Ketut dan Putri serempak.
“Firman sakit Put.”
“Sudah berapa lama Firman sakit Daeng ?” tanya Putri.
“Sejak Ia tidak berangkat sekolah.”
“Apa…!?” Jawab Putri kaget.
“Kamu jahat sekali Daeng ! Kenapa kami tidak diberi tahu ?” ucap Putri.
“Maafkan saya Put. Firman yang minta saya untuk tidak memberitahukannya kepada kalian.”
“Ya sudah, kalau begitu terima kasih ya informasinya.” Ucap Ketut.
“Tapi tolong jangan bilang-bilang kalau saya yang ngasih tahu ke kalian ya ?”.
“Siap Bos !” jawab mereka kompak.
Setelah tahu Firman sakit, Ketut dan Putri kembali ke kelasnya. Mereka berencana menjenguknya sore ini. Setelah pulang sekolah keduanya berboncengan menjenguk Firman. Kedatangan mereka disambut bu Satro yang kebetulaan sedang menyapu di halaman rumah.
“Permisi bu, apa ini rumah Firman ?” tanya salah satu gadis berambut panjang berkepang dua.
“Betul nak. Kalian siapa ?” tanya Bu Sastro.
“Kami teman sekolah Firman bu.” Jawab gadis satunya lagi.
“Oh, saya Ibunya Firman nak.”
“Mana Firman bu ?” tanya gadis berwajah cantik nan gemulai.
“Mari nak Ibu antar.” Ajak bu Sastro menemui Firman.
“Fir, coba lihat siapa yang datang.” Bisik bu Sastro.
Firman sama sekali tidak meresponnya. Matanya terpejam, wajahnya sangat pucat. Tubuh Firman sedikit bergerak setelah mendengar sapaan dari gadis yang sangat disayanginya.
“Fir…, Fir…bangun Fir.” Sapa gadis itu.
Firman membuka matanya mencari sumber suara itu. Namun karena kondisi Firman masih sangat lemah, Ia tak bisa menggerakan tubuhnya dengan leluasa.
“Fir…?” Sapa gadis itu lagi.
Firman kembali membuka matanya. Samar-samar pandangannya tertuju pada dua gadis cantik berkepang dua. Salah satu gadis itu terselip sekuntum bunga kamboja. Ia pun tersentak kaget.
“Apakah saya tidak sedang bermimpi ?” Ucap Firman sambil mengusap kedua matanya.
“Kamu sakit apa Fir ?” sapa gadis itu lagi.
“Kamu Putri, kan ?” Ucap Firman kaget.
“Benar Fir, dia Putri.” Sapa gadis satunya.
“Dan kamu Ketut, kan ?” tanya Firman sambil menunjuk ke Ketut.
“Betul sekali Fir, saya ketut. Memangnya kamu sakit apa Fir ?” tanya Ketut.
“Ngga tahu Tut.” Jawab Firman
“Apa yang kamu rasakan Fir ?” Putri menyela.
“Saya sakit kepala, pandangan berkunang-kunang dan terasa lemas Put.” Ungkap Firman sambil berusaha untuk bangun.
“Tidak usah bangun Fir, berbaring saja.” Ucap Ketut lagi.
“Kalian ke sini naik apa ?” tanya Firman
“Kami berboncengan naik sepedah Fir” Jawab Ketut.
“Kalian terlalu nekad datang ke sisni, naik sepedah lagi. Gimana kalau terjadi apa-apa dengan kalian. Saya khawatir dengan keselamatan kalian.” Ucap Firman cemas.
“Jangan kau pikirkan itu Fir. Yang penting kamu harus cepat sembuh ya ?” ucap Putri menyela.
“Maaf ya, saya telah merepotkan kalian, saya jadi tidak enak. Jauh-jauh kalian ke sini hanya untuk menjenguk ku.” Ucap Firman sambil meringis menahan rasa sakit.
“Tidak Fir, kami justru sangat mengkhawatirkan kamu. Kok sudah satu bulan kamu tidak ada kabar.” Ucap Ketut.
“Ya Fir, kami semua merasa sangat kehilangan kamu. Sudah satu bulan ini kok kamu tidak sekolah dan tidak ada kabar lagi. Saya baru tahu tadi pagi kalau kamu sakit. Makanya sore ini kami langsung ke sini menjenguk mu Fir.”Ucap Putri.
“Terima kasih ya Put. Terima kasih ya Tut.” Ucap Firman terharu.
“Ya sama-sama Fir. Semoga cepat sembuh ya. Sekarang kami pamit dulu ?” ucap Putri sambil melempar senyumnya.
“Hati-hati di jalan ya. Jangan kebut-kebutan.” Ucap Firman khawatir.
“Jangan khawatir Fir. Pokoknya rebes deh.”
“Bukan rebes, tapi beres Tut.” Ucap Putri.
“Maksud saya begitu Put, hehehe…” Ketut ngeles.
“Tidak akan terjadi apa-apa dengan saya Fir. Ketut siap ngantar saya sampai ke rumah dengan selamat.” Ucap Putri menggoda Firman.
Lalu keduanya pergi mengayuh sepedahnya. Selama di perjalanan keduanya terjadi perdebatan membahas penyebab sakitnya Firman.
“Sebelum Firman sakit, saya sering melihat dia duduk menyendiri di belakang sekolah Put. Kira-kira kamu tahu nggak, apa yang terjadi dengan Firman ?”.
“Loh kok kamu tanya ke saya sih.” Jawab Putri.
“Dulu saya sering melihat kalian selalu bersama. Tapi akhir-akhir ini saya sudah tak pernah lagi melihat kalian berdua. Memangnya ada masalah apa sih diantara kalian Put ?” tanya Ketut lagi.
“Mungkin itu hanya perasaan kamu saja Tut. Hubungan saya dengan Firman baik-baik saja kok.” Jawab Putri.
“Yakin, hubungan kalian baik-baik saja ?”.
“Maaf ya Put, tanpa sengaja saya pernah mendengar percakapan antara Firman dengan Daeng. Kebetulan waktu itu saya sedang berada di dalam kelas. Dari dalam kelas saya melihat Firman dan Daeng sedang berdebat. Kamu tahu nggak Put, apa yang sedang mereka perdebatkan ?” tanya Ketut lagi.
“Masa sih. Masalah apa yang sedang mereka perdebatkan, Tut ?” Putri balik bertanya.
“Kalau saya tidak salah dengar, mereka sedang memperdebatkan masalah agama. Katanya Firman akan mempelajari agama kita Put. Tapi Daeng melarangnya.” Jawab Ketut.
“Sampai sejauh itu kah Firman ?” ucap Putri.
“Jangan-jangan sakitnya Firman ada hubungannya dengan kalian Put ?”.
“Saya tak tahu pasti Tut. Tapi saya tidak yakin benar kalau Firman sampai senekad itu mau belajar agama kita.” Jawab Putri.
“Loh kenapa tidak yakin ?” tanya Ketut lagi.
“Yang saya tahu selama ini Firman selalu teguh dalam pendiriannya Tut. Mana mungkin Firman mau mempelajari agama yang kita anut ?” Imbuh Putri.
“Bisa jadi kan Put ? Itu semua karena Firman sangat menyayangi kamu. Sampai-sampai Ia rela berkorban demi kamu. Sudahlah kamu jujur saja. Tidak usah pakai rahasia-rahasiaan segala Put. Walaupun kalian selalu menutupinya, tapi saya tahu kok. Kalau Firman sangat tulus menyayangi kamu Put.” Desak Ketut.
“Terus apa lagi yang kamu ketahui tentang Firman Tut ?” tanya Putri.
“Tuh kan akhirnya kamu penasaran juga. Menurut saya Firman sakit akibat terjadi kontradiksi di hatinya setelah mempelajari agama kita Put.”
“Kamu tahu informasi itu dari mana Put, terus Firman belajar agama sama siapa ?”.
“Saya tahu dari teman kita yaitu Made. Made pernah bilang kalau Firman minta diajari agama Hindu.” Jawab Ketut.
“Saya tak pernah tahu itu Tut. Ternyata dia benar-benar membuktikan ucapannya.” Ungkap Putri.
“Saya yakin Put, sakitnya Firman ada hubungannya dengan kamu.” Ucap Ketut.
“Kita do’akan saja agar Firman cepat sembuh dan cepat kembali ke sekolah ya Tut.” Ucap Putri.
“Ya kita hanya bisa mendo’akan Firman semoga Ia baik-baik saja ya Put.” Ucap Ketut yang diamini Putri.
Keduanya masih larut memperbincangkan masalah yang sedang dihadapi Firman. Tanpa terasa mereka pun sudah sampai di rumahnya. Sementara Firman masih tiduran sambil memikirkan nasibnya. Yang ada dalam benaknya Ia harus kuat menghadapi semua cobaan itu. Ia harus bisa mengalahkan rasa sayangnya kepada Putri dan akan tetap berusaha untuk bisa melupakannya.
Semangatnya pun kembali muncul dan Ia memaksakan diri untuk makan. Benar saja beberapa hari kemudian kondisi Firman berangsur-angsur mulai membaik. Bahkan Firman memaksakan dirinya agar secepatnya bisa kembali ke sekolah.
Dengan tubuh sempoyongan Ia mengayuh sepedahnya berangkat ke sekolah. Perjalanan yang biasanya Ia tempuh hanya satu setengah saja, hari ini ditempuh sampai dua jam lebih. Beberapa kali Ia harus berhenti ketika pandangannya sudah mulai kabur. Setelah itu Ia kembali melanjutkan perjalanannya hingga sampai ke sekolah.
Melihat Firman datang ke sekolah hari itu, rekan sekolahnya mengerumuninya. Celotehan demi celotehan dilontarkan untuk menghibur Firman yang terlihat sangat kurus. Ketika Putri datang, Firman terlihat sangat cuek. Ia hanya menjawab sapaan Putri seperlunya saja.
“Apa kabar Fir…?” Sapa Putri.
“Baik Put.” Jawab Firman pelan.
“Kenapa hari ini kamu memaksakan diri berangkat sekolah Fir ?”
“Saya jenuh Put., di rumah terus.” Jawab Firman cuek.
“Ya udah jangan terlalu di porsir ya.” Ucap Putri lalu pergi meninggalkannya.
“Kamu tak boleh cuek begitu Fir, Itu bukan sifat kamu yang sebenarnya Fir ?” ucap Daeng.
“Terpaksa saya harus bersikap cuek pada Putri Daeng. Ini jalan satu-satunya cara saya untuk melupakannya.”
“Loh, memang apa salah Putri ?”.
“Tidak ada yang salah dengan Putri. Sikap baik Putri justru membuatku sangat tersiksa. Saya jadi tak kuasa untuk melupakannya.”
“Maksudmu ?” tanya Daeng menyela.
“Sikap Putri yang sangat baik, justru membuat saya semakin bimbang untuk bisa melupakannya Daeng.”
“Jadi itu yang membuatmu bersikap cuek kepada Putri hari ini ?” tanya Daeng lagi.
“Ya Daeng.” Jawab Firman lirih sambil mengusap air matanya yang mengalir.
“Memang sangat berat masalah yang sedang kamu hadapi Fir. Saya turut prihatin dengan masalah yang menimpa kamu.”
“Bagaimana tidak berat Daeng, terpaksa saya harus bisa untuk melupakannya. Saya takut hubungan saya semakin dekat dan pada akhirnya saya akan merasa sangat kehilangan dia. Kalau itu terjadi justru akan menyiksa batinku. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik.”
“Jadi kamu sudah mantap untuk melupakannya ?” imbuh Daeng.
“Ya Daeng, apapun resikonya akan saya hadapi.”
“Bukankah Putri selama ini tidak pernah mempermainkan hidupmu Fir ?” tanya Daeng.
“Bukan masalah Putrinya Daeng ?”.
“Terus masalahnya apa ?”.
“Masalahnya adalah keyakinan kami yang berbeda. Tak mungkin kami hidup tak seiring jalan.”
“Apakah dengan kamu melupakan Putri lantas hatimu tidak akan tersiksa Fir ? Saya tahu sakitnya kamu karena kamu berusaha untuk melupakan Putri kan ?” tanya Daeng.
“Benar sekali Daeng. Mungkin sekaranglah waktu yang paling tepat untuk melupakannya.”
“Hayo…! Lagi pada ngomongi apa ? Pasti lagi ngomongin saya kan ?” tanya Putri yang datang tiba-tiba.
Kedatangan Putri yang secara tiba-tiba, menghentikan percakapan mereka. Untuk mencairkan suasana Daeng menjawab pertanyaan Putri.
“Ah kamu sok tahu Put.” Jawab Daeng.
Firman tetap diam ketika Daeng dan Putri terlibat percakapan. Ia menundukan wajahnya tak berani menatapnya.
“Kalau tidak sedang membicarakan saya, lalu kalian sedang membicarakan apa hayo…?” tanya Putri lagi.
“Sedang membicarakan acara perpisahan nanti Put.” Jawab Daeng ngeles.
“Oh ya, kitakan sebentar lagi mau lulus ya. Dan pastinya tidak lama lagi kita akan perpisahan.” Jawab Putri sembari melirik Firman.
“Ya, makanya sekarang saya sedang berdiskusi dengan Firman membahas masalah itu. Betul ga, Fir…?” tanya Daeng.
“Kenapa dari tadi kamu diam saja Fir ?”mendadak diam Fir?” sapa Putri menyela.
“Wah-wah, kayaknya Firman lagi ada yang sedang dipikirkan nih. Hayo… lagi mikirin apa ? He…,he…,he…”Ledek Ketut.
“Emang kamu sedang mikirin apa sih Fir ?” tanya Putri.
“Cie…,cie…ada yang curiga nih. Yang pasti Firman sedang mikirin kamu lah Put, masa mikirin saya sih, hehehe...” Goda Ketut lagi.
Firman yang dari tadi terdiam akhirnya terpancing juga. Ia menimpali ketut berusaha mengalihkan pembicaraannya.
“Ketut, Ketut. Kamu kerjanya ngeledek aja ya.”
“Habis dari tadi kamu diam-diam bae. Kaya lagi sariawan aja, hehehe...” Ledek Ketut lagi.
“Ada-ada aja kamu, Tut. Kan kita sudah tahu kalau Firman sedang sakit.” Jawab Daeng.
“Saya tahu Daeng, kalau Firman itu sedang sakit. Tapi saya juga ingin melihat Firman sembuh seperti sedia kala. Seperdi dahulu, bercanda dan tertawa. Tidak seperti sekarang ini Firman lebih banyak diam.” Ungkap Ketut.
“Ya kita maklumin aja Tut, namanya juga sedang sakit.” Ucap Daeng meyakinkan Ketut.
Diam-diam Putri merasa sedih melihat perubahan yang terjadi pada diri Firman. Memang benar apa yang dikatakan Ketut tentang Firman. Sekarang Firman berubah menjadi pribadi yang sangat pendiam dan lebih suka menyendiri. Berbicarapun hanya sekedarnya saja.
“Begitu berat penderitaan yang kamu rasakan Fir. Sampai-sampai kamu mempelajari agama yang saya anut. Maafkan saya Fir. Kamu sangat tulus menyayangi ku. Kalau sekarang kamu mau melupakan saya dan mau menjauh dari hidup saya, saya terima Fir.” Gumam Putri sambil matanya berkaca-kaca. Untuk sesaat suasana menjadi hening. Tanpa sepatah kata keluar dari bibir empat sahabat itu. Mereka diam dan saling pandang. Ketut dan Daeng menatap Firman lalu kemudian menatap Putri. Tampak di matanya tersimpan goresan rindu.
Ketut mencari akal untuk mencairkan suasana. Kebetulan Ia melihat wajah Putri yang terlihat sedikit pucat. Putri yang sedang berdiri mematung tangannya ditarik Ketut sampai tubuhnya jatuh bergulingan di pelukan Ketut.
“Aduh…!” teriak Putri kaget.
“Kamu kenapa Put ? Apa kamu sakit ? Kenapa wajah kamu pucat seperti ini ?” ucap ketut sengaja mengeraskan suaranya.
Firman yang dari tadi diam saja dengan reflek melompat mendekati Putri yang masih bergulingan dalam dekapan Ketut.
“Kamu kenapa Put ? Bangun Put ?” Teriak Firman mencemaskannya..
“Putri Pingsan Fir.” Ucap Ketut.
“Pingsan kenapa ? Apakah dia belum makan ?” tanya Firman lagi.
Mendengar pertanyaan Firman, Ketut dan Putri menahan tertawa. Sedangkan Daeng hanya mesem-mesem saja melihat tingkah Ketut dan Putri.
“Put bangun Put. Kenapa Putri diam Tut ?” ucap Firman mencemaskannya.
Ketut yang dari tadi menahan tawa melihat tingkah Firman semakin tak terbendung lagi. Gelak tawa pun pecah seketika.
“Ha…, ha…, ha…”
“Kenapa kalian malah tertawa ha…?” tanya Firman.
Tak lama kemudian Putri pun bangun dengan wajah merah merona sambil tersenyum pada Firman.
“Katanya mau melupakan ? Tapi mendengar saya pingsan kamu terlihat sangat cemas Fir ?” ucap Putri.
Sadar dirinya sedang dipermainkan, Firman duduk sambil meluruskan kakinya yang mulai gemetar. Ia berusaha menenangkan hatinya sambil mengelus dadanya yang berdebar kencang.
“Keterlaluan ya kalian.” Ucap Firman kesal.
“Maaf Fir…, jangan marah ya. Habis dari tadi kamu diam terus sih. Senyum dong, hehehe…” Ucap Ketut merayu.
Firman pun tersenyum sambil memandang Putri.
“Nah begitu dong, kan enak dilihatnya kalau kamu tersenyum Fir. He…,he…, he…” Imbuh Ketut.
“Saya lagi sariawan Tut.” Ucap Firman menyela.
“Oh ya, maksud ku diamnya kamu karena lagi sariawan ya, he…, he…,he…” Ledek Ketut lagi.
Suasana yang tadinya hening mencekam berubah menjadi gelak tawa. Mereka kembali melanjutkan obrolannya. Putri duduk di sebelah Firman sambil memandang wajahnya yang sangat pucat. Kelopak matanya terlihat cekung dan matanya terlihat layu. Putri sangat sedih melihat penderitaan Firman. Tanpa terasa Ia meneteskan air mata meratapi nasib kekasihnya.
PERPISAHAN
Putri melihat Firman dengan langkah yang tergesa-gesa, air mata mengalir di wajahnya. Isak tangisnya tertahan, keluar dari mulutnya dengan berat dan parau. Jari-jemarinya meremas buku dan mengoyaknya lalu menaburkan ke tanah. Seakan-akan tanah itu adalah gundukan makam yang ditaburi warna bunga.
Diantara cercahan kertas yang bertaburan Firman jongkok menangis tersedu-sedu. Pandangannya nanar dan hampa menatap kertas-kertas yang berserakan. Putri masih mengawasi gerak-gerik Firman yang sedang tenggelam dirundung kesedihannya. Ia tak sampai hati melihat kekasihnya berlarut-larut dalam duka nestapa.
Dengan hati-hati Ia berjalan mendekatinya lalu memeluk Firman dari belakang. Sentuhan lembut itu mengejutkan Firman yang dari tadi dirundung kesedihan. Firman meraih tangan Putri lalu menatap wajahnya yang juga bercucuran air mata.
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini Fir ?”.
“Saya sedang berusaha untuk melupakanmu. Meskipun tiada seorangpun yang dapat menggantikan mu di hatiku.”
“Kenapa sikapmu sekarang berubah dan tak perhatian lagi ? Jika saya punya salah saya minta maaf. Tapi tolong jangan diamkan saya seperti ini. Kembalilah bersikap seperti dahulu yang selalu perhatian padaku Fir.”
“Itu tak mungkin saya lakukan lagi Put, meskipun kamu tahu bagaimana besarnya rasa sayangku padamu ? Untuk apa lagi kamu berharap sikapku kembali seperti dahulu ? Kalau akhirnya justru akan semakin menyiksa ku.”
“Saya tahu Fir. Tapi bila suatu saat nanti kita berpisah, jangan pernah kamu lupakan semua kenangan indah kita. Saya yakin dibalik semua kesedihan ini, pasti akan ada kebahagiaan yang menunggu di sana.” Ucap Putri.
Firman menatap wajah cantik yang bertutur lembut itu sambil mengusap air matanya.
“Maafkan saya Put, rasa sayang ini sangat berat untuk bisa melupakanmu. Terpaksa saya lakukan agar kesedihan ini tidak berlaut-larut bersemayam di hatiku.”
“Saya mengerti alasan kamu untuk melupakanku Fir. Tapi kamu juga harus tahu bahwa saya sangat menyayangimu. Bila saatnya perpisahan itu tiba, setidaknya saya akan bangga bahwa hati ini pernah kamu miliki.”
Lalu mereka berpandangan dan saling melempar senyum. Firman mengusap air mata Putri yang masih mengalir di pipinya. Begitu juga dengan Putri, Ia mengusap sisa-sisa air mata Firman yang sudah mulai mengering. Firman membiarkan tangan lembut itu mengusap air matanya. Jatungnya berdebar keras seakan mau copot. Kemudiaan Firman menatap wajah kekasihnya yang kembali bercucuran air mata.
Firman merasa ragu tak sanggup berpisah dengan Putri. Ia tak kuasa melihat Putri yang sedang berderaian air mata. Jiwanya kembali rapuh dan bimbang. Tangisannya pun pecah bersama tangisan Putri. Dengan reflek keduanya saling berpelukan seolah tak mau berpisah
Pelukan itu hanya sesaat saja. Karena tiba-tiba hati Firman mantap untuk melupakannya. Firman menarik napas, berusaha meneguhkan pendiriannya untuk mengucapkan kata berpisah.
“Ma..af..kan saya Put…” Ucap Firman dengan terbatah-batah.
“Katakanlah Fir apa yang akan kamu katakan. Jangan pernah ragu dengan apa yang telah kamu yakini. Ikutilah kata hatimu. Saya akan menerima apapun keputusanmu.”
Mendengar dukungan Putri, hatinya semakin mantab untuk mengambil sebuah keputusan.
“Terima kasih atas dukungannya Put, biarlah saya mengorbankan perasaan ini. Biarlah saya memilih untuk berpisah.”
Mendengar ucapan Firman, Putri diam membisu. Lidahnya terasa kaku dan beku. Meskipun bibir manisnya berusaha untuk berkata-kata. Tak lama kemudian Putri menjawab ucapan Firman sambil menangis.
“Saya terima keputusan mu Fir.” Ucap Putri dengan nada sedih.
“Maafkan saya Put.”
“Tak ada yang perlu dimaafkan Fir. Mungkin ini jalan terbaik untuk kita berdua.” Jawab Putri lalu memeluk Firman.
“Terima kasih ya Put. Sampai kapan pun saya akan mengenang kebaikan mu. Tapi saya tidak yakin apakah saya bisa melupakanmu ?”.
“Begitu juga dengan saya Fir, tapi kita harus mencobanya.
Di tempat itu mereka telah sepakat untuk berpisah, dan berjanji akan berteman sampai akhir hidupnya. Setelah itu mereka kembali ke kelasnya.
Firman duduk di teras sambil membolak-balikan bukunya. Tak lama kemudian datanglah seorang laki-laki berperawakan langsing menghampirinya. Laki-laki itu tak lain adalah Pak Wanto guru Bahasa inggrisnya. Pak Wanto duduk di sebelahnya, sambil merangkul pundak Firman.
“Kamu sedang baca apa Fir ?” tanya Pak Wanto.
“Sedang baca buku Biologi pak.”
“Fir…, kalau ada anak yang butuh tempat tinggal tolong kasih tahu bapak ya ? Bapak sedang mencari orang yang mau tinggal di rumah.”
“Kalau boleh saya aja pak, soalnya rumah saya jauh dari sekolah. Saya ingin fokus belajar pak.”
“Wah kebetulan dong, kapan kamu mau ke rumah Fir.”
“Insya Allah mulai besok ya pak.”
“Ok Fir, besok bapak tunggu di rumah ya ?”.
“Ya pak, terima kasih sebelumnya.” Ucap Firman.
Esok harinya Firman sudah tinggal dengan pak Wanto. Sejak itu Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar dan membantu Pak Wanto. Pak Wanto yang selama ini hanya tinggal seorang diri, kini sudah tidak kesepian lagi. Keduanya begitu akrab serasa sahabat karib.
Pak wanto yang berasal dari Jogja memiliki sikap pendiam dan sangat cuek. Awalnya Firman sangat risih tinggal di rumahnya karena Ia tak mau bicara kalau tak ditegurnya. Seiring berjalannya waktu Firman tahu Pak Wanto memiliki sifat pendiam namun sangat perhatian.
Suatu ketika Firman mendapatkan tasnya ada sejumlah uang. Firman yang merasa tidak memiliki uang, mencoba menerkanya. Siapa pemilik uang itu ? Karena bingung Ia pun menanyakan langsung ke Pak Wanto.
“Maaf pak, kok di tas saya ada uang ya pak ? Itu uang siapa ya pak ?” tanya Firman.
“Itu uang kamu Fir, pakai saja nggak apa-apa.”Jawab Pak Wanto singkat.
“Maksudnya itu uang dari bapak ya ?” tanya Firman lagi.
“Ya uang itu untuk kamu Fir.”
“Aduh pak, saya jadi merepotkan bapak.”
“Tidak apa-apa Fir, pakai saja ya ?”.
“Oh ya pak terima kasih.”
Kebaikan Pak Wanto kepada Firman membuat beberapa gurunya sangat khawatir Firman akan murtad. Mengingat Pak Wanto selain sebagai guru di sekolah itu, Ia juga seorang Pastor.
“Fir…, kamu sekarang tinggal dengan Pak Wanto ya ?”.
“Ya bu.”
“Maaf ya, Pak Wanto itu seorang Pastor. Ibu takut kamu akan diajak pindah ke agama dia.”
“Terima kasih ya bu sudah mengingatkan saya. Do’akan agar saya tetap istikhomah.”
“Ya Fir, ibu hanya khawatir saja.”
“Tidak apa-apa bu, malah saya sangat berterima kasih kepada ibu yang sudah mengingatkan saya.”
Ucapan bu Tina membuat Firman ingin membuktikan apakah benar Pak Wanto punya tujuan tertentu kepada dirinya ? Hingga suatu ketika tepatnya di hari minggu, ketika Pak Wanto mau ke gereja, Firman basa-basi menawarkan diri untuk ikut dengannya. Namun tawarannya langsung ditolak sambil berpesan agar Firman menjalankan agamanya.
“Bapak mau ke gereja ya pak ?” tanya Firman.
“Ya Fir.” Jawab Pak Wanto singkat.
“Boleh nggak saya ikut ke gereja pak ?”.
“Tidak boleh. Lakum dinukum waliadzin, untumu agamamu dan untuk ku agama ku.”Jawab pak Wanto.
“Loh kok bapak tahu ayat itu sih Pak ?” tanya Firman.
“Ya Fir. Biarpun kamu tinggal dengan bapak, tapi bapak tak mengizinkan kamu ikut ke gereja. Kamu harus tetap menjalankan keyakinan mu Fir ?”.
“Oh ya pak, terima kasih.”
Mendengar jawaban pak Wanto, Firman merasa lega. Ternyata kebaikan pak Wanto kepada dirinya tidak memiliki maksud tertentu. Pak Wanto begitu tulus menyayangi Firman seperti anaknya sendiri. Yang membuatnya Firman kagum adalah Ia selalu mengingatkan Firman untuk melaksanakan shalat jika waktunya telah tiba. Termasuk membelikan seperangkat alat shalat dan membelikan al-qur,an. Firman bukan hanya murid pak Wanto tetapi sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
Untuk sementara waktu selama tinggal di rumah pak Wanto, Firman bisa melupakan Putri. Meskipun terkadang Ia masih sering terlihat melamaun. Seperti di pagi itu Firman sedang duduk di teras. Ia tak sadar ada sepasang mata lentik beralis bulan sabit, diam-diam sedang memperhatikan gerak-geriknya. Pemilik wajah cantik itu adalah Si tomboy yang akrab disapa Yana.
Sudah beberapa menit lamanya Yana duduk di sebelah Firman. Namun Firman tetap cuek seakan tak mau tahu. Ia masih asyik membuka lembaran demi lembaran halaman buku yang dibacanya, tanpa menghiraukan remaja cantik berperwakan langsing yang mengenkan caping hitam. Yana menatap Firman dan membiarkannya tanpa terucap kata di bibirnya.
Namun lama kelamaan Yana sangat kesal dengan sikap acuhnya. Ia pun mencubit perut Firman yang dari tadi terlihat kembang kempis saat menarik napas.
“Aduh !” Teriaknya.
“Kamu sih dari tadi cuek sekali. Pedahal saya sudah lama duduk di sini.”
“Ya tah kamu sudah lama duduk di sini ?”.
“Pakai nanya lagi. Kamu ini nyebelin banget sih Fir. Memangnya tubuh saya kurang besar apa ? Sampai kamu tidak bisa melihat saya di sini ?”.
“Makanya makan yang banyak dong, biar tubuh kamu agak gedean dikit , he…,he…,he…” Goda Firman.
“Halah…! Kaya badan kamu besar aja Fir. Sama-sama pemilik tubuh kurus jangan saling ngeledek ya, he…,he…,he…” Balasnya.
“Oh ya Fir…, akhir-akhir ini saya sering melihat kamu duduk menyendiri di sini. Ada apa dengan kamu Fir ?”.
Mendengar pertanyannya, Firman menghentikan aktivitasnya lalu menatap wajah Yana. Ia sama sekali tidak menjawabnya lalu kembali membaca buku.
“Fir…, saya juga sering lihat kamu akhir-akhir ini sudah tak lagi bersama Putri. Ya kan ?”.
Firman menutup buku dan kembali menatap wajah Yana lalu balik bertanya.
“Kamu tahu dari mana kalau saya tidak lagi bersama Putri, Yana ?” tanya Firman.
“Kan setiap hari saya sering lihat kamu duduk sendiri saja di sini.”
“Oh rupanya selama ini kamu selalu memata-matai saya ya ? Hayo ngaku kamu !”.
“Ih…, GR amat sih kamu Fir.” Jawab Yana tersipu malu.
“Lah buktinya kamu tahu semua yang telah saya lakukan. Benarkan selama ini kamu memata-matai ku ?” tanya Firman lagi.
“Ya dikit, hehehe… Habis setiap hari kamu hanya berteman dengan buku saja. Pantesan kamu jadi pinter deh Fir.”
“Yana kamu ngeledek apa ngeledek ?”.
“Saya serius Fir, nggak ngeledek. Memang benar kan kamu ini pinter ? Pedahal selama ini kamu sangat sibuk sekali dengan kegiatan. Tapi kamu bisa membagi waktunya untuk belajar.”
“Ah kamu terlalu berlebihan memujiku Yana. Pada dasarnya setiap orang kalau mau belajar dengan sungguh-sungguh pasti akan berhasil. Man Jadda Wajada, benar kan ?”.
“Ini yang paling saya suka dari kamu Fir, kamu selalu merendahkan diri.”
“Jangan terlalu memuji, awas loh hidungku tambah mekar.”
“Bisa aja kamu Fir. Oh ya ngomong-ngomong katanya sekarang kamu tinggal di rumah pak Wanto ya ?”.
“Ya benar, sekarang saya tinggal di rumah pak Wanto. Saya mau fokus menghadapi ujian Yana.”
“Wah-wah asyik dong Fir. Kalau begitu saya bisa dong belajar di tempat kamu. Kamu kan pinter pelajaran bahasa Inggris. Ajarin saya dong tentang Question tags ?”.
“Ok siap bos, Kalau kamu mau belajar pasti bisa deh.”
“Saya jadi tambah semangat nih Fir.”
“Ya tapi saya minta izin dulu dengan Pak Wanto ya ?”.
“Baiklah Fir, saya tunggu jawabannya besok ya.”
“Ok Yana, sampai ketemu besok.”
Keduanya lalu melambaikan tangan dan pulang ke rumahnya masing-masing. Sampai di rumah Firman menemui Pak Wanto yang sedang duduk santai di teras rumahnya. Ia mengenakan kaos oblong sambil menghisap keretek. Pandangannya hampa menerawang jauh ke depan. Kakinya dilipat sambil digoyang-goyangkan. Firman menyapanya lalu duduk di sebelahnya sambil memandang Pak Wanto yang masih terlihat cuek.
“Pak, maaf saya mengganggu.” Sapa Firman.
“Ada apa Fir ?”Jawab Pak Wanto sambil menoleh ke arahnya.
“Maaf Pak, Yana mau ngajak belajar di rumah, kira-kira boleh nggak pak ?”.
“Tentu boleh Fir, kenapa harus minta izin sama bapak ?”.
“Terima kasih ya pak ?” ucap Firman lega.
Keesokan harinya Firman melihat Yana sudah menunggu di gerbang sekolah. Yana buru-buru menghampirinya setelah melihat Firman.
“Gimana Fir, boleh nggak ?” tanya Yana tergesa-gesa.
“Boleh dong.”
“Asyik…”Teriak Yana kegirangan.
“Kapan kamu mulai belajar di rumah ?” tanya Firman.
“Nanti sore ya Fir, sepulang sekolah.” Jawab Yana.
“Ok Yana, nanti sore saya tunggu di rumah ya. Sekarang kita ke kelas dulu yuk ?” ajak Firman.
Lalu keduanya berjalan menuju ke kelas masing-masing. Firman masuk kelas tiga A sedangkan Yana Masuk ke kelas tiga C.
Setelah pulang sekolah, sore itu Yana datang ke rumah Pak Wanto mengenakan celana Jean dan kaos lengan pendek. Tidak ketinggalan Yana memakai caping warna hitam. Firman mempersilahkan Ia masuk ke rumah. Gadis tomboy itu masuk dan membuka capingnya lalu melepas rambutnya yang tergulung di tutupi caping. Dengan leluasa Firman menatap rambut Yana yang terurai panjang. Gadis tomboy itu sekarang terlihat sangat menawan.
Firman yang selama ini hanya melihat Yana sebagai sosok gadis tomboy, namun tidak demikian dengan sekarang. Yana terlihat sangat anggun hari ini. Rambutnya yang terurai panjang menebar aroma wangi menusuk indra penciumannya. Bibir merah delimanya membuat Firman menahan air liurnya yang hampir saja menetes.
Sadar dengan apa yang sedang Firman perhatikan, Yana pun tersenyum lalu meminta Firman untuk mengajarinya.
“Fir tolong sih ajari saya dulu ?”.
“Siap bos. Kita mulai dengan pengertian Question Tag dulu ya ? Menurut kamu apa sih Question tag itu ?”.
“Belum tahu tuh, hehehe…”Jawab Yana sambil tertawa.
“Kok malah tertawa ? Dasar tomboy, he…,he…,he…”
“Ha…? Saya tomboy ? Kamu salah lihat kali, saya ini keibuan loh, he…,he…,he…”
“Keibuan dari hongkong. Yuk kita kembali ke pokok bahasan ? Question Tag adalah pola kalimat khusus dalam Bahasa Inggris yang digunakan untuk meminta konfirmasi, persetujuan atau penegasan. Question Tag berupa pernyataan atau statement yang diikuti oleh pertanyaan singkat. Gimana Yana, dah mengerti belum ?” jelas Firman layaknya seorang guru.
“Nyambung dikit, he…,he…,he…” Jawab Yana.
“Untuk lebih jelasnya coba lihat penjelasan di bawah ini ya. Cara membuat kalimat Question Tag adalah dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang secara pemaknaan tidak perlu di jawab oleh pendengar ataupun oleh pembaca teks bahasa inggris.” Jelas Firman lagi.
“Secara umum cara penulisan jawaban dibalik dari Questionnya, jika Questionnya positif maka jawabannya negative dan begitu pula sebaliknya. Paham Yana ?”.
“Sekarang saya baru mulai mudeng deh Fir.” Jawab Yana sambil mengangguk-angguk.
“Sekarang perhatikan contoh di bawah ini Yana. You love me, don’t you ?” tanya Firman.
“Yes, I do.”
“Asyik…, he…,he…,he…” Jawab Firman.
“Asyik gimana Fir, kok kamu malah tertawa bahagia ?”
“Ya iyalah saya tertawa bahagia. Karena hari ini saya tahu kalau kamu mencintai saya.”
“Kamu tahu dari mana Fir, kalau saya mencintai kamu ?”.
“Baru saja kamu ucapkan kalimat kalau kamu mencintai saya. Kamu bilang yes I do ketika saya katakan, You love me, don’t you ?” jawab Firman nakal.
“Kamu nakal Fir, kamu sengaja menjebak saya” Ucap Yana sembari mencubit Firman.
“Aduh !, kenapa kamu mencubit saya Yana ?”.
“Habis kamu nakal sih Fir, saya kan jadi malu.”
“Malu apa seneng, hayo jujur, he…,he…,he…”
Yana terdiam, wajahnya merah merona terlihat salah tingkah. Firman hanya tersenyum sambil memandang Yana yang berusaha menutupi groginya.
“Bagaimana Yana ? Sudah mengerti, belum ?” tanya Firman mengalihkan pembicaraannya.
“Nah sekarang saya mulai mengerti Fir.”
“Bagus dong, sekarang coba kamu kerjakan latihan di bawah ini ya ?”.
“Baik Fir.” Ucap Yana bersemangat.
Firman membuat beberapa soal kalimat Question Tag, dengan serius Yana mengerjakannya. Disela-sela Yana sedang mengerjakan soal, dengan leluasa Firman memandang wajah Yana tanpa sepengetahuannya. Karena Yana sedang asyik mengerjakan tugas yang diberikan Firman. Firman segera menarik pandangannya lantaran Yana mulai tersadar bahwa dirinya sedang ada yang memperhatikannya.
“Ada apa sih Fir kamu segitunya memandangku ?”.
“Saya baru sadar orang yang selama ini saya anggap tomboy ternyata hari ini terlihat sangat cantik.”
“Ah gombal kamu Fir, membuat saya tambah grogi tahu.”
“Hebat kamu Yana, dengan cepat kamu sudah bisa menyelesaikan soal ini dengan benar.” Jawab Firman mengalihkan pembicaraannya.
“Saya juga bingung Fir, di kelas saya tidak mudeng. Tapi kok setelah kamu yang menjelaskan saya jadi cepat mudeng, hehehe…”
“Itu berarti kamu sudah ada kemajuan Yana.”
“Coba berikan soal lagi Fir, agar saya lebih mengerti lagi.”
“Baiklah Yana.”
Firman membuat beberapa soal untuk Yana. Lagi-lagi Yana dapat mengerjakan semua soal dengan benar. Kali ini Firman membuat soal lagi yang lebih sulit dari soal sebelumnya. Yana terlihat sedikit kesulitan saat mengerjakan soal itu. Lalu tangannya meraih caping dan mengenakannya. dengan leluasa Firman memandang Yana yang sedang serius mengerjakan soal.
Alis matanya melingkar bak bulan sabit. Matanya yang lentik dikelilingi bulu mata terlihat begitu anggun. Firman menarik napas sambil memandang gadis tomboy itu. Kemudian berdiri dan berpura-pura akan jatuh hingga topi yang dikenakan Yana ikut terjatuh. Rambut panjangnya kembali terurai dan terlihat begitu indah.
Melihat Firman yang sempoyongan dan mau jatuh, Yana buru-buru mendekap Firman untuk menyelamatkannya. Sekarang Firman masih dalam dekapan Yana. Jantungnya berdebar kencang seakan mau copot saat beradu pandang.
“Kamu tidak apa-apa Fir ?” tanya Yana.
“Tidak apa-apa Yana ? Hampir saja saya terjatuh. Untung ada bidadari yang menyelamatkan Sang Pangeran, he…,he…,he…” Canda Firman.
“Kamu masih saja bisa bercanda Fir, padahal hampir saja kamu jatuh.”
“Tapi nggak jadi jatuh, kan ?” Firman balik bertanya.
“Wah, wah…,tanpa kamu sadari baru saja kamu mengucapkan kalimat Question Tag ya Fir.” Ucap Yana menghubungkan ke materi yang sedang dipelajari.
“Ucapan yang mana Yana ?”.
“Kamu baru saja bilang, tapi ga jatuh, kan ? Itu kan salah satu contoh kalimat Question Tag kan Fir ?” ucap Yana.
“Ya betul sekali, berarti saya sudah tidak perlu susah payah lagi mengajari kamu Yana ? Kamu sudah sangat paham Sekarang.”
“Kok bisa begitu Fir ?” tanya Yana lagi.
“Hari ini kamu sudah cukup mengerti tentang materi itu Yana, lalu apa lagi yang harus saya ajarkan ke kamu ?”.
“Terima kasih ya Fir, tapi saya masih butuh bimbingan dari kamu tentang...”
“Tentang apa Yana ?” Firman menyela.
“Tentang apa sajalah, he…, he…, he….” Celetuk Yana sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Semenjak itu hubungan keduanya terlihat semakin akrab. Bahkan setiap hari mereka selalu berangkat bersama, dan pulang bersama. Keduanya terlihat semakin lengket bak perangko dan amplopnya. Namun kedekatannya dengan Yana, membuat Firmat takut hatinya akan terluka kembali. Ia pun mengambil langkah seribu membuat surat untuk Yana, seolah-olah Firman sudah jatuh cinta. Dengan tujuan jika Yana menolaknya Ia tak akan sakit hati.
Sementara itu Yana kembali mengerjakan soal yang diberikan Firman. Namun entah mengapa sore itu Firman terlihat sangat canggung sekali. Rasa mindernya pun muncul, sehingga lebih banyak diam. Mungkinkah karena ada hubungannya dengan surat yang ditulisnya ? Keanehan pada Firman pun dirasakan oleh Yana. Membuat Yana langsung menanyakannya.
“Ada apa Fir ? Tak seperti biasanya kamu terlihat kurang bersemangat ?”.
“Nggak apa-apa Yana.” Jawab Firman.
“Apakah ada ucapan saya yang menyinggung mu ? Katakanlah Fir, agar saya tak merasa bersalah ?”.
“Saya takut kalau saya katakan nanti kamu marah Yana.”
“Kalau kamu mau mengatakannya, manalah mungkin saya akan marah Fir. Selama ini kamu sudah sangat baik dengan saya.”
“Ini Yana ?” ucap Firman singkat sambil menyodorkan sebuah buku kepada Yana.
“Apa itu Fir ?” tanya Yana.
“Di dalam buku ini ada surat. Tolong dibaca di rumah ya ?”.
“Surat dari siapa Fir ?” tanya Yana lagi.
“Dari saya, tolong dibaca di rumah aja ya ?”.
“Ok Fir, terima kasih ya.” Jawab Yana sambil menerima buku yang disodorkan Firman.
Melihat sikap Yana yang biasa-biasa saja, membuat Firman kembali bersemangat. Kemudian memperhatikan Yana yang sedang mengerjakan soal. Setelah itu memintanya agar pekerjaannya dikoreksi.
“Fir tolong koreksi dong, maaf kalau ada jawaban yang salah ?”.
“Wah, wah…, hasilnya sangat sempurna Yana. Tidak ada satu pun jawaban yang salah. Kamu hebat Yana.”
“Siapa dulu dong gurunya ? Firman he…,he…” Ucap Yana merasa bangga.
“Yang hebat bukan saya, tapi kamu Yana ?” jawab Firman merendah.
“Penjelasan kamu sangat mudah saya pahami. Terima kasih ya Fir, kamu sudah mau mengajari saya. Saya senang sekali bisa belajar dengan kamu.”
“Sama-sama Yana. Untuk sementara, sore ini belajarnya sudah cukup ya.”
“Ya Fir, saya pamit dulu ya sampai ketemu besok.”
“Ok Yana.”
Yana berpamitan lalu melambaikan tangannya sambil tersenyum. Firman membalas senyuman Yana sambil melambaikan tangan menatap kepergian Yana. Pagi harinya mereka kembali bertemu namun saling membisu. Firman merasa minder dengan Yana. Begitu juga dengan Yana, Ia terlihat sangat kaku seolah baru bertemu.
Sudah tiga hari Firman menunggu jawaban Yana. Namun jawabannya yang ditunggunya tak kunjung datang. Hal ini membuat Firman merasa malu dan berusaha untuk meyakinkan apakah Yana benar-benar menolaknya ?.
Ia pun punya ide untuk mengetahui jawabannya dengan memperalat Wati agar Yana cemburu. Wati pun nurut saja ketika digandeng Firman di depan Yana. Karena Wati diam-diam juga menyukai Firman. Rencana Firman ternyata berjalan sangat mulus. Yana marah sambil mengeluarkan umpatan kepada Firman.
“Huh ! Dasar laki-laki playboy.” Umpat Yana sambil menghentakan kedua kakinya lalu pergi meninggalkan Firman.
Melihat ekspresi Yana, Firman justru tertawa terbahak-bahak dan merasa puas.
“Hahaha…, hahaha…, ternyata kamu cemburu juga Yana. Tapi kenapa kamu tidak membalas surat saya, hahaha…” Ucap Firman tertawa lepas.
Wati baru sadar dirinya sedang diperalat oleh Firman. Ia pun berbalik arah dan melabrak Firman.
“Apa-apaan kamu Fir, kamu sedang memperalat saya ya ? Saya benci kamu deh Fir.” Ucap Wati lalu pergi meninggalkannya.
Yana yang sedang meledak-ledak kemarahannya dilihat oleh Daeng. Daeng pun menghampiri Yana dan bertanya apa yang membuatnya marah ?.
“Kenapa kamu marah Yana ? Tidak seperti biasanya hari ini kamu ngomel-ngomel sendiri. Seperti orang sedang kesambet saja kamu ?” tanya Daeng.
“Dasar lelakai playboy.” Umpat Yana lagi.
“Siapa yang kamu maksud laki-laki playboy itu Yana ?” tanya Daeng.
“Tanya saja tuh, sama teman kamu Firman.” Ketus Yana meledak-ledak sambil menunjuk Firman.
“Memang apa yang sudah Firman lakukan ke kamu Yana ?” tanya Daeng lagi.
“Bilang tuh sama Firman, saya benci dia !” Ketus Yana.
Melihat Yana marah, Daeng pergi menemui Firman yang sedang senyum-senyum sendiri.
“Ada apa sih Fir kok Yana marah sama kamu ?” tanya Daeng.
“Memangnya ada apa dengan Yana Daeng ?” Firman balik bertanya.
“Katanya kamu playboy, dan dia benci kamu.”
“Hahaha…,hahaha…”
“Loh kok malah kamu tertawa, Fir. Memangnya ada apa Fir ?” tanya Daeng lagi.
“Begini ceritanya Daeng. Tadi saya berjalan sambil menggandeng Wati. Eh, malah Yana marah-marah begitu, hahaha…”
“Ah kamu kurang kerjaan aja Fir, itu tandanya Yana cemburu tahu. Emangnya ada hubungan apa diantara kalian berdua ?” tanya Daeng .
“Tidak ada hubungan apa-apa Fir, cuma tiga hari yang lalu saya kirim surat kepada Yana. Tapi dia tidak membalas surat saya. Makanya untuk memastikan apakah dia suka sama saya atau tidak, saya kerjain aja dia. Eh, ternyata dia cemburu juga Daeng.”
“Hahaha…, dasar semprul kamu. Cari penyakit aja Fir.” Ucap Daeng sambil tertawa.
“Saya hanya ingin memastikan saja sama Yana Daeng, saya tidak mau lagi sakit hati seperti yang pernah saya rasakan.” Ucapnya.
Berbagai cara Firman lakukan demi bisa melupakan Putri, termasuk membuka hatinya untuk orang lain. Namun bayangan Putri tak pernah berlalu darinya. Kedekatannya dengan Yana pun harus pupus lantaran dirinya selalu dibayang-bayangi akan masa lalunya. Sehingga Firman tidak serius menjalaninya.
Tiga tahun sudah Firman duduk di bangku sekolah, waktu yang ditunggu akhirnya telah tiba. Mereka harus mengakhiri pendidikannya di sekolah itu dengan ditandai kata berpisah. Hari itu adalah sebuah hari yang sangat bersejarah bagi remaja belasan tahun itu. Suka dan duka telah mereka lalui bersama di sekolah ini. Hari ini merupakan momen terindah bagi mereka untuk berbagi cerita dan bersenda gurau untuk terakhir kalinya.
Namun tidak demikin dengan Firman. Hari ini Firman dan Putri duduk berdua dan saling pandang. Tanpa terucap sepatah katapun dari bibir mereka. Hanya deraian air mata menghiasi pipinya. Firman memandang Putri lalu mengusap air matanya yang telah membasahi pipinya. Putri meraih tangan Firman dan menggenggamnya erat di dadanya. Sambil napasnya terengah-engah dan sesegukan, seolah ada seribu kata yang akan Ia sampaikan.
Namun lidahnya terlihat sangat kaku, menahan sedih dan tak mampu untuk bicara. Giginya gemertak dan bibirnya bergetar mendesis mengeluarkan suara tak jelas. Firman mengusap punggung Putri berusaha menenangkan hatinya, sambil mengucap rangkaian kata.
“Jangan pernah kamu tangisi apa yang akan terjadi hari ini, karena sampai kapanpun namamu akan selalu ada di hati ku.”
“Saya tahu akan ketulusan hatimu Fir, tapi keyakinan yang berbeda membuat kita akan berpisah untuk selamanya. Yang membuat ku sangat sedih adalah, apakah saya akan bisa hidup tanpa drimu Fir ?”.
“Jangan katakan itu lagi Put ! Kata-katamu membuat saya semakin sedih. Biarlah ini menjadi rahasia kita untuk selamanya.” Ucap Firman sembari meneteskan air mata.
“Fir…, kamu adalah sahabat terbaik ku, sekali gus orang pertama yang pernah singgah di hatiku. Saya sangat menyayangi mu Fir, maafkan jika aku pernah melukai hatimu.”
“Terima kasih sahabat kecilku, terima kasih kekasihku.” Ucap Firman sembari menangis.
Lalu keduanya berdiri dan berjabat tangan sambil berderaian air mata. Keduanya beradu pandang, bibirnya bergetar tak mampu berucap. Firman mengusap air mata Putri yang membanjiri pipinya. Begitu juga dengan Putri, mengusap air matanya lalu meraih tangan Firman dan mencium tangannya.
Firman mendekap Putri dan membelai rambutnya yang panjang. Mereka menangis tersedu-sedu berusaha meneguhkan hatinya. Firman tersenyum, begitu juga denngan Putri. Lalu keduanya melambaikan tangan dan bergabung dengan teman lainnya. Hari itu adalah hari terahir mereka bertemu dan berpisah. Entah sampai kapan mereka akan terpisah. Hanya waktu yang akan menjawabnya.
DENDAM ASMARA SI PENABUR CINTA
Keputusan Firman untuk melupakan Putri semakin besar. Setelah lulus Ia kembali melanjutkan sekolah di sebuah kota di Lampung. Di sana Ia berusaha melupakan bayang-bayang Putri. Bahkan untuk membuktikan keseriusannya, Firman juga memusnahkan Foto kenangan dari Putri.
Namun apa yang terjadi pada Firman ? Disaat rindunya datang Ia tak dapat lagi menatap wajahnya. Akibatnya Ia sangat tersiksa menahan rindu. Ia hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Bila malam tiba, Ia terjaga dari mimpinya. Hatinya merintih pedih, jiwanya terasa hampa menanggung derita. Karena bayang-bayang Putri selalu hadir menghampirinya.
Firman benar-benar sangat tersiksa.Hari itu Ia berharap ada kabar tentang Putri. Harapan itu pun terjawab setelah tukang pos datang mengantarkan surat. Seakan gayung pun bersambut. Pada sampul depan surat, tertulis nama Firman. Melihat itu hati Firman berbunga-bunga ketika namanya ada di sampul surat. Ia lalu membalik sampul surat, dan ternyata tidak ada nama pengirimnya. Hal itu membuat Firman sangat penasaran, hatinya dag, dig, dug tak karuan. Dalam hati Firman yakin bahwa surat itu dari Putri, orang yang sedang dirindukannya.
Perlahan Ia membuka surat itu dan ternyata isinya adalah tulisan cina yang tak Ia mengerti. Dari dalam surat juga terdapat sebuah keterangan bertuliskan, barang siapa yang menggandakan dan membagikan surat ini maka akan mendapat rejeki yang tak disangka-sangka. Dan barang siapa yang mengabaikan surat ini maka akan ditimpa musibah. Membaca surat itu Firman duduk lemas menahan kecewa. Ia merasa ada orang yang sedang mempermainkan hidupnya.
Disaat Firman sepi dalam kesendiriannya, hadir seorang gadis cantik berambut panjang yang mengaku bernama Susi. Gadis berambut panjang semata kaki itu datang menghampirinya dan mengajak berkenalan. Ternyata Susi juga sekolah di tempat yang sama.
“Maaf, nama kamu Firman kan ? Kenalan dong, nama saya Susi. Saya juga sekolah di sini.” Sapa gadis itu.
“Ya betul nama saya Firman.” Jawabnya sambil menerima uluran tangan Susi.
“Kalau boleh tahu, kelas mu di mana ?” tanya Susi lagi.
“Kelas saya di sini. Kelasmu di mana Sus ?”.
“Wah kebetulan dong. Berarti kita satu kelas Fir. Oh ya, kamu duduknya di mana ?” tanya Susi.
“Kebetulan saya duduk di sini Sus.”
“Kalau kamu masih duduk sendiri, boleh nggak saya duduk sama kamu Fir ?”.
“Oh silahkan Sus, tapi kenapa kamu mau duduk dengan saya ? Pedahal kita baru saja kenal. Apa lagi masih banyak kursi yang kosong.”
“Saya juga tidak tahu Fir, entah mengapa saya kok sangat nyaman dengan kamu. Kamu sangat baik dan sangat pengertian.”Jawab Susi.
“Terima kasih ya Sus kamu sudah mau duduk di sini. Saya juga belum punya kenalan.”
“Memangnya kamu dari mana Fir ?”.
“Saya dari padukuhan kecil di kabupaten ini. Kira-kira jaraknya seratus kilo meter dari sini.”
“Wah jauh juga ya Fir. Terus kamu tinggal di mana Fir ?” tanya Susi lagi.
“Saya ngekos tidak jauh dari sekolah ini Sus. Kira-kira enam ratusan meterlah. Kamu sendiri tinggal di mana Sus ?”.
“Kalau saya tinggal di desa sebelah dari sekolah ini. Berarti kita bisa pulang bareng dong Fir, sambil nunggu angkot yang lewat.”
“Boleh juga Sus.” Jawab Firman.
Dengan waktu yang singkat, keduanya sudah terlihat akrab sekali. setiap hari mereka selalu berangkat dan pulang bersama. Di mana ada Firman, sudah barang tentu di situ pasti ada Susi. Keduanya saling mensuport dalam berbagai hal. Termasuk teman curhat di kala hatinya sedang gundah gulana. Susi juga sangat perhatian pada Firman, sehingga Firman sangat nyaman dengan Susi.
Susi yang pandai mengaji mempu meluluhkan Firman. Membuat Firman perlahan bisa melupakan Putri. Gadis cantik itu juga yang selalu memotivasi agar Firman bisa melupakan Putri. Susi selalu memberi semangat agar Firman selalu tabah dalam menjalani hidup ini. Begitu perhatiannya Susi kepada Firman, sampai-sampai satu-satunya kitab suci Al-qur’an miliknya Ia berikan kepada Firman.
Firman sangat senang menerima pemberian Susi. Al-Qur’an itu selalu Ia rawat dan selalu Ia baca di setiap waktu. Susi memberikan itu bukan tanpa alasan. Ia ingin menjadikan Firman sebagai seorang pemuda yang alim dan bertanggung jawab.
Kedekatan mereka bukan seperti seorang sahabat namun terlihat seperti sepasang kekasih yang saling menjaga satu sama lainnya. Perhatian dan kebaikan Susi membuat Firman tidak mau jauh dengannya. Namun kedekatan mereka harus bubar lantaran ada seorang laki-laki yang datang ke kosannya. Laki-laki itu datang dan mengintrogasi Firman tentang keberadaan Susi.
“Kamu yang bernama Firman ya ?” tanya pemuda bertubuh tinggi besar itu.
“Ya bang saya Firman, maaf ada apa abang mencari saya ?”.
“Saya abangnya Susi, Susi ada di sini nggak !?” tanya pemuda itu tanpa menyebutkan nama.
“Maaf saya tidak tahu bang. Karena tadi pagi Susi tidak sekolah, jadi saya tidak tahu ke mana Susi pergi. Memangnya ada apa dengan Susi bang ?”.
“Dari kemarin Susi tidak pulang ke rumah, saya kira dia sama kamu.”Jawab laki-laki bertubuh tinggi besar itu.
“Saya tdak tahu bang, kemarin setelah pulang sekolah dia langsung pulang ke rumah kok. Maaf kalau boleh tahu nama abang siapa ?” tanya Firman lagi.
“Saya Beny, saya abangnya Susi, Jawab laki-laki itu lalu pergi begitu saja.
Firman masih bingung pada pemuda yang mengaku abangnya Susi. Pedahal selama ini Susi tidak pernah cerita kalau Ia punya abang yang bernama Beny. Firman pun sangat penasaran pada pemuda itu.
“Seingat ku, Susi tidak punya abang. Kalau pemuda itu adalah abangnya, lalu mengapa Susi merahasiakannya selama ini? Mencurigakan !” Gumamnya.
Firman merasa tidak yakin kalau pemuda itu adalah abangnya Susi. Oleh karena itu Ia pun melakukan penyelidikan. Wal hasil ada titik terang tentang Beny.
“Rul, kemarin saya didatangi seorang pemuda yang bernama Beny. Pemuda itu datang ke kosan mengaku dia abangnya Susi. Ia menanyakan tentang Susi karena mengira Susi ada dengan saya. Apakah kamu mengenal pemuda itu Rul ?” tanya Firman.
“Ciri-ciri pemuda itu seperti apa Fir ?” Amrul balik bertanya.
“Badannya tinggi besar Rul.”
“Hahaha…, mungkin dia mengira Susi ada sama kamu Fir.”
“Kok bisa begitu ? Memang siapa pemuda itu Rul ?”.
“Pemuda itu bernama Beny kan ?”.
“Ya benar, namanya Beny dan dia mengaku abangnya Susi.”
“Abang dari mana ? Hahaha…, dia itu kekasih Susi tahu. Kamu dikadalin Fir.”
“ Apa ? Saya dikadalin ? Jadi benar Beny itu bukan abang Susi, tapi kekasihnya ? Sialan !” Gerutu Firman.
“Ya benar Fir.”
“Terima kasih ya Rul atas informasinya.”
“Ok, Fir. Sama-sama.”
Setelah tahu Susi telah memiliki seorang kekasih, Firman mengirim surat kepada Susi untuk membuktikan kebenarannya. Surat itu berisi curahan hatinya kepada Susi. Hanya berselang satu malam saja Firman sudah mendapat jawaban dari Susi.
Dengan perasaan dag, dig, dug, ser, Firman membuka dan membacanya..
“Fir saya sangat bersyukur telah dicintai orang sebaik kamu. Di mata ku kamu adalah seorang pemuda yang sangat sempurna. Saya tidak pantas menerimamu sebagai seorang kekasih. Sebab saya takut suatu ketika kita akan berpisah. Saya takut kehilangan kamu Fir. Sampai kapanpun saya ingin hubungan kita selalu terjaga. Untuk itu saya lebih memilih kamu sebagai sahabat sejatiku, ketimbang kekasih. Terima kasih atas kepercayaanmu, terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Dari sahabatmu Susi.”
Setelah membacanya Firman meremas dan membuang surat itu. Firman marah bukan karena isi suratnya, melainkan penolakan itu sebuah bukti bahwa Susi sudah memiliki seorang kekasih. Firman putus asa dan sangat kecewa pada Susi. Ia berlari masuk kamar dan membuka Al-qur’an pemberian Susi. Ternyata pada halaman depan di Al-Qur’an tertulis nama Beny. Firman tambah cemburu dan sangat kecewa. Ia pun memutuskan untuk mengembalikannya kepada Susi.
“Oh rupanya Al-Qur’an ini pemberian Beny ?” gumamnya sambil meradang.
Keesokan harinya Firman terlihat sedang duduk di kelas dengan wajah kusut. Begitu Susi datang Ia langsung menghampirinya dan menyodorkan Al-Qurannya kepada Susi. Susi merasa kaget melihat sikap Firman yang tak seperti biasanya. Pedahal selama ini Firman selalu berkata lembut dan tidak pernah marah.
“Sus ini Al-Qur’annya saya kembalikan.”
“Kenapa kamu kembalikan Fir ? Itukan untuk kamu ?”.
“Saya sudah tidak membutuhkannya lagi, terima kasih ya kamu selama ini sudah baik pada ku.”
“Ada apa dengan kamu Fir ?” tanya Susi.
Setelah mengembalikan Al-Qur’an lalu Firman pergi. Sementara Susi masih bingung sambil mengerutkan keningnya, mencari tahu apa yang menyebabkan Firman berbuat begitu.
“Ada apa ya dengan Firman, mengapa Ia mengembalikan Al-Qur’an ini ? Apakah saya punya salah dengannya ? Ah sudahlah, mungkin Firman lagi punya masalah.” Gumamnya.
Semenjak itu Firman tak pernah menegur Susi dan terlihat sangat cuek. Bahkan Firman sengaja menjauh dan sudah tidak perduli lagi. Bajunya terlihat kusut dan tidak dimasukan serta rambutnya acak-acakan. Susi pun menghampiri Firman lalu menegurnya.
“Ada apa dengan kamu Fir ? Kenapa hari ini kamu tidak rapih ?” sapa Susi sembari merapihkan bajunya.
“Fir…, bajunya di masukan ya, rasanya kurang enak dipandang.” Ucapnya lagi.
“Apa perduli kamu Sus ?! Mulai hari ini tidak usah lagi perdulikan saya !” Ketusnya.
Susi tidak perduli dengan ucapan Firman. Ia kembali merapihkan rambut Firman dengan tangannya.
“Kok mulut kamu bau rokok Fir, kamu habis merokok ya ? Apa yang telah terjadi Fir ? Kamu jangan merusak diri sendiri ?”.
“Pikir saja sendiri Sus, mengapa saya jadi begini ?” Firman balik bertanya.
“Apakah mungkin kamu telah mengetahui suatu hal tentang saya Fir ? Apa yang saya takutkan ternyata hari ini benar-benar terjadi. Saya tahu kamu sangat menyayangi ku Fir. Kamu orang baik dan rasanya saya tidak pantas menjadikan kamu sebagai seorang kekasih.”
“Lebih baik kita bersahabat saja. Saya takut hubungan kita akan retak di tengah jalan dan akibatnya kita akan saling bermusuhan. Saya tidak mau itu Fir. Saya mau persahabatan kita akan langgeng sampai akhir hayat.” Ungkap susi dengan nada sedih.
Firman terdiam mendengar alasan Susi. Alasan yang diberikan Susi belum mampu mengobati rasa kecewanya. Dengan rasa putus asa, Firman pulang sambil menghisap keretek. Rasa marah dan sedih melebur menjadi satu hingga Firman pun jatuh sakit. Demamnya sangat tinggi, tenggorokannya terasa sakit dan suaranya hilang. Firman benar-benar sangat putus asa dan lebih banyak menyendiri.
Namun disaat dalam keputus asaan, Firman terhibur karena diutus mengikuti Pertida Kencana tingkat tiga mewakili kabupatennya. Selama perjalanan menuju Bumi Perkemahan, Firman lebih banyak diam. Apa lagi peserta yang dikirim tak satu pun yang Ia kenal. Firman benar-benar merasa kesepian.
Begitu tiba di bumi perkemahan, samar-samar mendengar seseorang memanggilnya.
“Fir…, Firman…?”.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara, kemudian Ia tak menghiraukannya lagi. Samar-samar suara itu kembali terdengar memanggilnya.
“Fir…, Firman...,ini saya Fir.” Ucap gadis berhijab yang mengenakan seragam Pramuka. Firman menatap gadis itu namun merasa tak mengenalnya. Sambil berdiri mematung Firman berusaha mengingat siapa gadis itu.
“Rasa-rasanya saya mengenal suara itu, tapi siapa ya ?”.
“Ini aku Fir Yana ?” Sambil menunjuk dirinya lalu gadis itu menghampiri Firman.
Firman bengong tak percaya kalau gadis berhijab itu adalah Si tomboy yang menghilang beberapa tahun lalu. Gadis yang selalu berpenampilan kelaki-lakian itu sekarang sudah berhijab dengan seragam Pramukanya.
“Apakah benar kamu ini Yana ?” tanya Firman tak percaya.
“Ya saya Yana teman sekolah mu dulu.”
“Sejak kapan kamu menjadi anggota Pramuka Yana ?”.
“Sejak saya berpisah dari kamu Fir, kamu tak percaya ya ? Hehehe…” Jawab Yana tertawa lepas.
“Yana sekarang kamu sekolah di mana ?” tanya Firman.
“Saya sekolah di kota ini Fir, dan saat ini saya menjadi salah satu utusannya.”
“Hahaha…, hahaha…” Firman tertawa terbahak-bahak.
“Loh kenapa kamu tertawa Fir, kamu ngeledek saya ya ? Memang sih, kalau bicara masalah Pramuka kamulah biangnya Fir.”
“Nggak ngeledek sih, hanya sedikit lucu aja kedengarnya.”
“Lucunya di mana Fir ?”.
“Ya luculah, seorang Yana yang dulu paling anti dengan Pramuka kok tiba-tiba diutus mewakili kotanya. Memangnya tidak ada orang lain di sana ?”.
“Kamu jangan ngeledek Fir, tapi faktanya saya menjadi utusannya kan, hehehe…?”.
“Ya, ya, saya percaya deh. Oh ya, di mana tenda kamu Yana ?” tanya Firman.
“Itu tenda saya.”Jawab Yana menunjuk ke tendanya.
Kamu baru sampai ya Fir ?” Yana balik bertanya.
“Ya saya baru sampai.” Jawab Firman.
“Oh ya Fir, sore nanti saya tunggu kamu di baso itu ya ? Tenang nanti saya yang mentraktir.” Ucap Yana.
“Ok Yana.”
“Awasloh kalau kamu nggak datang !”.
“Idih…,sadis banget sih pakai ngancam segala ? Tenang kalau masalah makan-makan pasti saya akan datang.”
“Ok deh Fir, saya tunggu ya ?’.
“Tenang Yana saya pasti akan datang, apa lagi mau ditraktir makan baso, hehehe…”
“Bener ya datang.”
“Ok Yana, pasti saya datang, sekarang saya pasang tenda dulu ya ?” Ucap Firman lalu pergi meninggalkan Yana.
Yana memandang Firman hingga hilang dari pandangannya. Kemudian Ia pergi ke tendanya bergabung dengan teman-temannya. Sampai di tenda Firman dan teman-temannya mendirikan tenda dan mempersiapkan segala keperluan lomba. Setelah itu pergi ke warung baso tempat yang dijanjikan Yana. Firman menengok ke sana ke mari mencari Yana. Tak lama kemudian Yana memanggilnya.
“Hai…, Fir sini. Saya kira kamu tidak datang, terima kasih kamu sudah mau menepati janji.”
“Saya dong yang seharusnya berterima kasih, hehehe…”
“Silahkan di makan basonya Fir.” Ucap Yana.
Sambil menyantap baso, mereka ngobrol mengenang masa-masa sekolahnya dulu. Ada rasa rindu yang tergambar pada wajah mereka. Namun rasa itu telah terobati setelah mereka bertemu di bumi perkemahan. Sebuah pertemuan yang datangnya tanpa mereka duga sebelumnya. Firman mengulas kembali pertemuannya dengan Yana.
“Tadi begitu saya turun dari mobil, kamu langsung mengenali ku ya Yana ?”.
“Ya ialah Fir, masa saya lupa sih sama kamu ? Beda dengan kamu Fir, baru dua tahun berpisah kamu sudah melupakan ku.”
“Bukan begitu Yana, sekarang saya pangling sih sama kamu. Masalahnya sekarang kamu berhijab dan terlihat sangat cantik sekali.”
“Bisa aja kamu Fir, memangnya dulu saya seperti apa sih ? Hehehe…”
“Dulu cantik juga sih, tapi kamu sangat tomboy. Kalau sekarang kamu begitu anggun dan keibuan.”
“Hus, jangan bilang-bilang kalau dulu saya tomboy ya. Saya jadi malu tahu, hehehe…”
“Hahaha…, rupanya kalau mengingat masa lalu lucu juga ya Yana.”
“Ya, ya, dan tak menyangka juga kita bisa bertemu di sini ya Fir.”
“Mungkin inilah yang dinamakan pucuk dicinta, baso pun ludes Yana.”
“Hehehe…, bukan begitu Fir, yang benar adalah pucuk dicinta ulan pun tiba.”
“Ya maksud saya juga begitu Yana? Sekarang kamu tambah pinter ya ?”.
“Kan saya dulu pernah diajari sama Si Jenius, makanya saya ketularan pinternya hehehe...”
“Rupanya kamu masih inget ya kalau dulu kita pernah belajar bersama ?”.
“Jelas inget dong, masa lupa sih. Bahkan sampai sekarang contoh kalimatnya pun masih inget.”
“Contoh kalimat yang mana tuh ?”.
“Tentang question Tag Fir. You love me, don’t you ?” Ucap Yana.
“Yes, I do.”Jawab Firman.
“Kena deh, hehehe….” Ucap Yana puas.
“Nakal kamu ya ?”.
“Dulu kamu pernah mengatakan kalimat itu dan sekarang saya merasa puas deh, hehehe…” Jawab Yana tertawa lepas.
“Yana, ngomong-ngomong kita sudah terlalu lama duduk di tempat ini. Nggak enak tahu, tuh yang mau duduk sudah pada ngantri.”
“Ya Fir, tanpa terasa sudah banyak yang telah kita bicarakan, terima kasih ya Fir sudah mau menemani saya.”
“Ok Yana, terima kasih traktirannya hari ini ya.”
“Sama-sama Fir, jangan lupa besok sore kita ke sini lagi ya. Tapi ingat loh, besok giliran kamu yang mentraktir ya, hehehe…?”.
“Ok Yana, siapa takut.”
Lalu keduanya berpisah menuju tendanya masing-masing untuk mengikuti kegiatan selanjutnya. Firman mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba pidato. Walhasil Firman memperoleh juara satu. Banyak sekali peserta Putri yang mengajak kenalan dan meminta tanda tangannya sebagai kenang-kenangan.
Esok harinya sesuai yang dijanjikan, Firman dan Yana kembali bertemu di warung baso. Wajah mereka berseri-seri mencerminkan sebuah kebahagiaan. Pertemuan dua sahabat yang saling merindu itu berjalan hanya sekejab. Di saat mereka sedang asyik menyantap baso, tiba-tiba datang seorang pemuda yang menghampirinya dan langsung melabrak Yana.
“Oh…, rupanya kamu ada di sini ya ? Pantesan kakak cari ke mana-mana kamu tidak ada, ternyata kamu sedang berduaan. Itu cowok kamu Yana ?” tanya laki-laki itu sembari menunjuk Firman.
“Bukan kak, itu bukan cowok Yana.” Jawab Yana terbatah-batah.
Percekcokan antara Yana dan laki-laki itu membuat Firman sangat terusik dan menguji kesabarannya. Seketika Firman terbakar api cemburu setelah tahu bahwa Yana telah memiliki seorang kekasih. Ia bangkit dari tempat duduk dan marah kepada Yana.
“Hari ini saya tidak jadi mentraktir kamu Yana, kamu saja yang bayar.” Ucap Firman lalu pergi begitu saja.
Semenjak kejadian itu Firman tak menyapa Yana selama berada di bumi perkemahan. Sebelum mereka saling minta maaf dan minta alamat, keburu ada sebuah insiden saling protes kepada panitia. Aksi protes dilakukan karena panitia dianggap tidak adil dalam menentukan juara umum. Aksi protes itu berlanjut saling lempar menggunakan tanah liat yang kebetulan terjadi banjir bandang.
Untung aksi protes itu tidak berlanjut sampai berkepanjangan. karena masing-masing peserta langsung membubarkan diri dan pulang ke daerahnya masing-masing, termasuk Firman dan Yana.
Firman kembali ke sekolah usai mengikuti kegiatan Pertida Kencana. Wajahnya kembali berseri-seri walaupun tanpa Susi. Retaknya persahabatan antara Firman dan Susi, dimanfaatkan oleh Efi. Efi yang selama ini memendam perasaan pada Firman tak bisa mendekati Firman lantaran ada Susi. Gadis berkulit putih dan bertubuh sintal ini menebar pesona kepada Firman. Firman yang baru saja menelan pil pahit dengan Susi tak menanggapinya.
Firman acuh dan pura-pura tak tahu kalau Efi menaruh harapan kepadanya. Apa lagi belakangan ini Firman tahui bahwa Efi adalah adik kandung Beny cowok dari Susi. Jelas Firman berbalik arah seratus delapan puluh derajat dan tidak pernah meresponnya. Firman semakin cuek kepada lawan jenisnya dan menjaga pandanganny agar tidak jatuh cinta lagi. Namun karena penampilannya yang selalu rapi ada saja yang datang mendekatinya.
Hingga suatu ketika, setiap Firman pulang sekolah Ia selalu dihadang di gerbang sekolah oleh gadis berambut panjang, berperawakan tinggi dan berkulit putih.
“Sudah pulang kak ?” sapa gadis itu lembut.
Firman hanya mengangguk tak berani memandangnya. Kejadian serupa salalu Ia dapatkan setiap kali pulang sekolah. Lagi-lagi gadis itu sudah menunggunya di gerbang lalu menyapanya.
“Sudah pulang kak ?” sapa gadis itu lagi.
Firman kembali menjawab sapaan gadis itu dengan menganggukan kepala tanpa mengucap sepatah kata. Karena tak bosan-bosannya gadis itu selalu menunggu dirinya di gerbang, menimbulkan rasa penasaran kepada Firman. Berhari-hari gadis itu selalu berusaha untuk meluluhkan Firman namun belum membuahkan hasil.
Sampai akhirnya gadis itu kembali berdiri di gerbang, ketika Firman datang Ia langsung meraih tangan Firman. Mau tak mau Firman pun menghentikan langkahnya.
“Ada apa dek ?” sapa Firman.
“Kenapa sih selama ini kak Firman selalu cuek ?” Gadis itu balik bertanya.
“Ya, ya dek ?”Jawab Firman singkat.
“Kenapa kak Firman terlihat gugup kak ? Oh ya kak, perkenalkan nama saya Maria, saya yang pernah kakak ospek dulu.”
“Adek sekolah di SMA nya apa di SMEA nya dek ?” tanya Firman kepada gadis itu.
“Ah masa kak Firman lupa sih, itu loh kak yang pernah memberi sekuntum mawar saat kak Firman terpilih sebagai panitia terbaik ?”.
“Oh rupanya itu kamu ya dek, maaf ya saya baru inget.”
“Jangan lupa lagi ya kak, nama saya Maria.” Ucap nya tak mau melepas tangan Firman.
“Ya dek.”
“Maaf kalau boleh tau kak Firman rumahnya di mana ?”.
“Di Jadimulya dek, seratus kilo meter dari sini.”
“Wah kita searah dong kak. Kapan-kapan kita pulang bareng ya kak ? Kapan kak Firman mau pulang ?”.
“Rencananya sih sore ini saya mau pulang dek.”
“Kita pulang bareng ya kak ?”.
“Ok dek, tapi saya ke kosan dulu mau siap-siap ya ?’.
“Oh ya kak silahkan.” Ucap gadis itu lalu melepaskan tangannya.
Firman pergi meninggalkan gadis yang akrap disapa Maria. sementara Maria masih berdiri memandang Firman yang pergi meninggalkannya. Hampir satu jam lamanya Maria menunggu Firman di halte. Namun yang ditunggunya belum kunjung datang. Maria mondar-mandir berdiri menunggu Firman, sesekali Ia menatap pertigaan jalan siapa tahu Firman sudah datang.
“Kak Firman kok lama sekali ya, apakah dia tidak jadi pulang ?” gumamnya.
Di saat keraguan sedang menyelimuti Maria, tiba-tiba Firman muncul. Maria tersenyum melihat Firman datang sambil melompat kegirangan.
“Kak Firman…!” teriak Maria.
“Sudah lama nunggu ya dek ?”.
“Ya kak, kirain tidak jadi pulang.”
“Maaf, saya tadi nunggu ojek tapi tidak ada. Terpaksa deh saya jalan kaki.”
“Memangnya jauh tah kak kosannya ?”.
“Lumayanlah dek sekitar enam ratus meter dari sini.”
“Pantesan sampai keluar keringatan begitu, kak.” Ucap Maria sambil menyodorkan selembar sapu tangan.
“Terima kasih sapu tangannya ya dek.”
“Ya kak, sama-sama.”
Kemudian mereka duduk di halte menunggu bus yang lewat. Setengah jam kemudian bus yang ditungu pun datang dan berhenti di halte.
“Itu kak busnya sudah datang, kak.” Ucap Maria sambil menunjuk bus yang datang.
Firman menyetop bus yang baru datang, setelah itu keduanya naik.
“Silahkan kamu naik duluan dek.”
“Ya kak, terima kasih.”
Maria naik terlebih dahulu disusul Firman, lalu keduanya duduk di kursi paling belakang. Selama diperjalanan mereka bersenda gurau menceritakan pengalamannya saat mengikuti ospek. Percakapan mereka harus berhenti karena Maria sudah sampai tujuan.
“Saya sudah sampai kak, saya turun duluan ya.”
“Memang rumah kamu di situ dek ?”.
“Ya kak, terima kasih sudah mau pulang samaan.”
“Sama-sama dek.”
“Hati-hati di jalan ya kak ?” ucap Maria.
“Ya dek terima kasih, kamu juga hati-hati ya ?”.
Maria mengangguk lalu melambaikan tangannya. Perjuangan Maria untuk menundukan Firman tidak berhenti sampai di situ. Semenjak itu Maria mengeluarkan jurus keduanya yaitu selalu menitip salam untuk Firman. Maria juga selalu mengingatkan agar Firman tidak telat makan. Perhatian Maria membuat Firman merasa nyaman. Firman sudah tidak lagi terlihat canggung bila bertemu dengan Maria.
Dirasa jurus yang maria lancarkan sedikit demi sedikit telah berhasil menjinakan Firman, kini Maria melancarkan jurus berikutnya. Esok harinya Maria sudah berdiri lagi di gerbang sekolah menunggu Firman. Wajah gadis itu terlihat berseri-seri ketika melihat Firman datang. Sambil tersenyum Maria berteriak memanggil namanya.
“Kak Firman…? Apa kabar kak ?”.
“Alhamdulillah baik dek, gimana kabar kamu hari ini ?”.
“Baik juga kak. Oh ya besok pagi kak Firman sibuk nggak kak ?”.
“Tidak, memangnya ada apa dek ?”.
“Kalau tidak keberatan besok main ke kosan Mala ya kak ?”.
“Memangnya kamu tidak pulang dek ?”.
“Tidak kak, sekarang saya ngekos sama Mala.”
“Baiklah besok akan ku usahakan ya ?”.
“Terima kasih ya kak, besok saya tunggu di kosan.”
“Ngomong-ngomong kamu sekolahnya masuk sore ya dek ?”.
“Ya kak, maklum lah namanya juga sekolah nebeng. Terpaksa deh masuk sore, hehehe…”
“Ah kamu bisa aja dek. Oh ya dek, saya pulang dulu ya ?” ucap Firman.
“Baik kak, hati-hati di jalan ya ?” jawab Maria ramah.
Firman belum menyadari bahwa dibalik keramahan Maria tersimpan sebuah rencana busuk yang mengancam dirinya. Firman yang selalu berbaik sangka kepada siapa pun, sedikit pun tak menaruh curiga kepada maria. Yang Ia tahu Maria adalah sosok gadis cantik yang baik hati dan sangat ramah.
Firman pun menepati janjinya datang ke kosan Mala. dari luar Firman mendengar Maria dan Mala sedang menyanyikan tembang kenangan. Firman masih berdiri di samping pintu menikmati alunan lagu yang dibawakan oleh dua dara cantik yang masih duduk di bangku SMEA. Setelah mereka mermpungkan satu lagu, lalu Firman mengetuk pintu dan mengucap salam.
Tok, tok, tok…
Assalamu’alaikum, Maria ?”.
“Eh kak Firman, masuk kak.” ucap kedua gadis itu kompak lalu menyalami Firman.
“Silahkan duduk kak.” Ucap Maria.
Firman duduk di kursi dekat pintu ditemani Mala, sedangkan Maria pergi ke dapur lalu menyuguhkan teh manis.
“Silahkan diminum teh manisnya, kak.”
“Terima kasih ya dek.” ucap Firman sambil menyeruput teh manis itu.
Sruput…, sruput…
“Wah kamu tahu sekali selera ku dek, tehnya mantap banget. Terima kasih ya dek.”
“Sama-sama kak, saya yang seharusnya berterima kasih kepada kak Firman yang sudah mau datang ke sini.”
“Ya dek, namanya juga janji kan wajib ditepati. Ya kan ? Hehehe…”
“Wah kak Firman ini benar-benar menepati janjinya ya, terima kasih ya kak.”
“Cie…, cie…, rupanya kalian sudah janjian sebelumnya ya ?” ledek Mala.
“Ih…, apaan sih Mala ini, ngeledek apa ngeledek, hehehe…” Ucap Maria.
“Bukannya ngeledek, tapi cuma ngejek, hehehe…”Jawab Mala.
“Ya sudah saya tinggal dulu ya ?” ucap Mala lalu pergi meninggalkan mereka.
“Kamu mau ke mana sih dek ?” tanya Firman.
“Ya kamu mau ke mana sih Mala ?” Maria menimpali.
“Ya saya harus tahu dirilah, kalau di sini terus nanti mengganggu dong, hehehe… Saya tinggal dulu ya, dada…” Ucap Mala sembari melambaikan tangannya.
Setelah Mala pergi Firman menanyakan kepada Maria mengapa dirinya disuruh datang ke kosannya.
“Oh ya dek, kalau boleh tahu ada apakah gerangan hingga memintaku datang ke sini ?” tanya Firman kepada Maria.
“Suruh main ajalah kak, kasian kan kak Firman di kosan manyun sendirani. Hehehe…” Jawab Maria menggodanya.
“Oh, kirain ada yang mau kamu bicarakan.” Ucap Firman sambil menyeruput teh manisnya.
Keduanya terlihat akrab ngobrol ngalor-ngidul. Membuat Firman merasa nyaman dengan gadis Sriwijaya itu. Begitu juga dengan Maria, sehari saja tak bertemu dengannya, Ia selalu menitip salam untuk Firman. Namun rasa nyaman itu membuat Firman justru merasa takut jatuh cinta kepada Maria. Ia kembali berfikir ingin membuat surat kepada maria sebelum Ia benar-benar jatuh cinta kepadanya.
Sesaat Firman terlena dalam lamunannya. Namun lamunannya buyar seketika setelah Maria mengajaknya main ke kosan Firman. Ia ingin tahu tempat di mana Firman ngekos.
“Kak boleh nggak saya main ke kosan kak Firman ?”.
“Apa dek ?”.
“Ih kakak ini loh, ditanya malah ngelamun. Hayo kak Firman sedang mikirin apa ?”.
“Maaf dek, tadi bilang apa ?”.
“Boleh nggak saya main ke kosan kak Firman ?”.
“Jangan lah dek, malu.”
“Kenapa harus malu lah kak, memangnya Maria ini Jelek ya kak, sampai merasa malu kalau Maria datang ke kosan kak Firman ?”.
“Maksudku bukan begitu dek.”
“Terus masalahnya apa dong kak ?”.
“Biasalah dek, namanya juga anak kos, pasti kamarnya berantakan, hehehe…”
“Tidak apa-apa lah kak, saya juga maklum. Namanya juga laki-laki, hehehe…” Ucap Maria sambil tertawa kecil.
“Baiklah dek, kapan kamu mau main ke kosan ?”.
“Sekaraang lah kak ?”.
“Waduh ! Besok aja lah dek, kamarnya masih berantakan.”
“Tidak apa-apa kak, saya hanya ingin tahu kosan kak Firman aja kok.”
“Ya udah deh kalau kamu memaksa, tapi jangan menyesal ya, hehehe…”
“Menyesal bagaimanalah kak ?” tanya Maria lagi.
“Takutnya setelah tahu kosan saya kamu jadi kapok ?”.
“Tak mungkinlah kak.”
“Ya udah deh, yu berangkat ?”.
Maria tersenyum girang mendengar Firman mengizinkan dirinya main ke kosannya. Tanpa ada rasa risih Maria langsung menggandeng Firman. Sambil jalan keduanya bersendau gurau hingga tanpa terasa mereka sudah sampai ke kosan Firman. Firman mempersilahkan Maria masuk sambil menunjuk ke kamar kosan.
“Ini dek kosannya, maaf ya sedikit berantakan.”
“Tidak apa-apa kak.”
Setelah masuk pandangan Maria tertuju pada sapu yang berada di balik pintu. Ia meraih sapu itu lalu membersihkan kamar Firman. Setelah itu pergi ke dapur mencari sesuatu.
“Kak Firman sudah masak belum kak ?”.
“Belum dek ?”.
Dengan sigap Maria mengambil beras lalu mencucinya dan kemudian menanaknya. Dilanjutkan membuat dadar telur untuk Firman lalu menyuguhkannya.
“Makan dulu kak, coba cicip masakan Maria.”
“Ya dek terima kasih ya.” Jawab Firman lalu menikmati hidangan yang telah disiapkan.
“Gimana rasanya, kak ? Ga enak ya ?”.
“Wah enak sekali masakan kamu dek, rupanya kamu jago masak juga ya ?” ucap Firman sambil menyanjung.
“Ah bisa aja kakak ini, nanti saya jadi tambah GR loh kak, hehehe…”
“Ini beneran loh, masakan kamu memang enak.”
“Ya tah kak ?”.
“Ya, beneran.”
“Syukurlah, saya pikir kak Firman tidak mau makan masakan saya, hehehe….”
“Wah-wah kalau sering-sering begini pasti saya tak perlu repot-repot lagi untuk masak nih.”
“Boleh, asalkan ?”.
“Asalkan apa ?”.
“Ada deh, hehehe…”
“Awas ya pakai rahasiaan segala.” Ucap Firman.
“Idih, pakai ngancam segala. Memangnya saya takut kalau diancam kak Firman. Saya tahu itu bukan sifat kak Firman, hehehe...”
“Ya, ya…”
“Nah gitu dong, kalau kak Firman tersenyum begitu kan kelihatan tambah manis he…”
“Ah, gombal kamu dek !”.
Firman menyantap dengan lahap masakan Maria. Maklum sejak dari tadi pagi Firman belum sarapan. Maria sangat bahagia melihat Firman lahap menyantap masakannya. Ia pun menawarinya lagi untuk menambah porsinya.
“Nambah lagi ya kak ? Sini saya ambilkan.”
“Terima kasih dek, tapi saya sudah kenyang.”
“Kalau makannya sudah selesai saya bereskan ya kak ?”.
“Terima kasih dek, kamu ini baik sekali sih.”
“Ya sama-sama kak, saya juga senang kok bisa membantu kakak. Oh ya kak, saya pamit dulu ya.
“Kalau begitu saya antar ya ?”.
“Terima kasih ya kak, maaf sudah merepotkan kak Firman.”
“Saya tidak merasa direpotkan kok.”
Lalu keduanya kembali berjalan kaki menuju kosan Maria. Selama mereka jalan, sesekali Maria mencubit lengan tangan Firman ketika mendengar celotehan Firman yang lucu. Firman yang selama ini terlihat pendiam dan sedikit jaim, ternyata asik juga diajak bercanda. Membuat Maria merasa betah jika bersama Firman.
“Ternyata kak Firman orangnya asyik juga ya ?”.
“Asyik bagaimana, dek ?”.
“Pokoknya asyiklah, kak.” Ucap Maria lalu mencubit lengan Firman.
“Aduh ! Sakit loh dek.”
“Maaf ya kak, soalnya kak Firman ngegemesin sih, hehehe...”
“Ah kamu ini ada-ada aja sih dek. Oh ya dek kita sudah sampai, saya langsung pamit ya ?”.
“Kak Firman, mampir…?” teriak Mala keluar dari kosannya.
“Maaf lain kali aja ya dek.”
“Buru-buru amat sih kak ?”.
“Ya dek maaf ya lain kali aja, saya pamit dulu ya ?”.
“Ya hati-hati kak.”Jawab Maria dan Mala kompak.
Lalu mereka melambaikan tangannya, Firman membalasnya lalu pergi meninggalkan mereka. Sementara Maria dan Mala masih berdiri di depan pintu melepas kepergian Firman. Setelah Firman pergi tiba-tiba Mala menarik tangan Maria sampai keduanya jatuh tersungkur di kasur sambil mencecar pertnyaan kepada Maria.
“Apa yang sedang kamu rencanakan kepada kak Firman ? Jangan sakiti dia, dia orang baik Maria ?”.
“Mau dia orang baik kek, orang jahat kek, emang gua pikirin ? apa hak lo melarang gua ha ?”.
“Saya bukan melarang lo punya hubungan dengan kak Firman ? Yang jadi urusan gua adalah jika kamu punya niat buruk kepada kak Firman, gua orang pertama yang akan menghalangi lo.”
“Gua tahu lo punya pengalaman pahit dengaan seorang lki-laki yang pernah merenggut kesucian lo. Tapi jangan sekali-kali kebencian lo, lo tumpahkan kepada kak Firman.” Ucap Mala lagi.
“Apa peduli lo Mala ?! Pokoknya gua benci pada semua laki-laki !”.
“Ya tapi jangan lo lakukan itu kepada kak Firman Maria ? Kasihan dia orang baik. Orang sebaik kak Firman tak pantas lo sakiti. Sadar Maria, sadar…! Gua sebagai teman lo, punya hak untuk mengingatkan lo !” Ucap Mala sambil mencengkeram pundak Maria.
Maria tertunduk lesu sambil menangis tersedu-sedu. Ia tetap pada pendiriannya dan tidak perduli dengan apa yang dilarang sahabatnya itu.
“Gua tahu kak Firman orang baik. Tapi dia juga seorang laki-laki, jadi pantas dong gua perlakukan sama seperti laki-laki lainnya. Gua akan rayu dia, setelah itu baru akan gua campakan ! Ingat, ini janji gua. Janji Si penabur Cinta !”.
“Jangan bangga lo punya julukan Si Penabur cinta. Ingat Maria, siapa yang menanam dia yang akan menuai hasilnya.”
“Persetan dengan semua itu Mala ! Gua bebas melakukan apa saja, termasuk membuat kak Firmn bertekuk lutut !”.
“Lo jahat, Maria ?” bentak Mala.
“Hahaha…, terserah gua dong. ! Apa peduli lo, ha…?”.
“Sudah berapa laki-laki yang telah lo permainkan Maria ? Sadar !”.
“Kak Firman adalah calon korban gua yang ke-49, lo mau apa ? Ha… ?”.
Daaarrr…!
Setelah mendengar ucapan Maria, Mala emosi sambil membanting pintu. Mala sangat marah dan tidak rela kalau Firman dijadikan bulan-bulanan olehnya.
“Kali ini gua juga tidak akan tinggal diam Maria !” bentak Mala lalu pergi meninggalkannya.
Maria terdiam melihat Mala marah sambil membanting pintu lalu pergi meningglkannya. Sementara Maria masih menangis mengenang nasib buruknya yang telah merenggut kesuciannya. Peristiwa itu berawal saat ayahnya terjerat hutang piutang pada seorang laki-laki hidung belang. Karena tak sanggup melunasi hutangnya, sebagai gantinya Maria diserahkan ke tangan laki-laki itu.
Sejak itu Ia dipaksa untuk melayani napsu bejad laki-laki itu kapan saja dia membutuhkannya. Maria tidak bisa melepaskan diri dari jeratan laki-laki itu karena masih terikat hutang piutang ayahnya. Semenjak itu juga Maria mendeklarasikan sebagai,“ Si Penabur Cinta”. Ia akan menggoda semua laki laki dan setelah benar-benar jatuh cinta kepadanya lalu akan Ia campakan. Rasa benci dan dendamnya kepada laki-laki membuatnya gelap mata dan tanpa pandang bulu.
Sudah ada 48 laki-laki yang telah menjadi korban rayuannya, dan Firman adalah calon korban yang ke-49. Namun kali ini usahanya untuk menundukan Firman tak semudah membalikan telapak tangannya. Selain mendapat tantangan dari Mala, Firman juga tidak mudah Ia tundukan.
Hal ini membuat Maria semakin geram dan merasa tertantang. Oleh karena itu Maria menyusun jurus mautnya dan semakin gencar merayu Firman. Walhasil hati Firman perlahan mulai luluh. Firman yang mulai merasa sayang kepada Maria tidak mau gegabah begitu saja. Sebelum Ia benar-benar jatuh cinta, Firman melayangkan sepucuk surat untuknya.
Maria merasa yakin cinta yang ditaburkan ke Firman mulai bekerja, Ia pun sudah merasa berada di atas angin. Maria tak lantas membalas surat yang dikirim Firman. Ia sengaja mengulur-ngulur waktu untuk mempermainkan hatinya. Setelah puas dengan akrobatiknya, Maria mengutus salah satu sahabatnya untuk menjemput Firman.
Tok, tok, tok. Tok, tok, tok. Assalamu’alaikum.
Mendengar pintunya ada yang mengetuk, Firman membukanya. Ternyata yang datang adalah Buhori.
“Waalaikum salam Wr.Wb, oh kamu Ri, silahkan masuk.”
Buhori masuk dan duduk di ruang tamu, kemudian meyampaikan maksud kedatangannya kepada Firman.
“Selepas maghrib nanti kak Firman disuruh ke kosan Maria.”
“kira-kira ada apa ya Ri ?”.
“Saya juga tidak tahu kak, cuma itu saja pesannya.”
“Baiklah Ri, tolong sampaikan insya Allah selepas maghrib saya akan datang. Terima kasih ya Ri.”
“Ya kak sama-sama, saya langsung pamit ya kak ?”.
“Loh kok buru-buru amat Ri, nggak minum dulu Ri ?”.
“Tidak kak, terima kasih.”
Buhori lalu kembali dan menyampaikan pesannya kepada maria. Maria tersenyum yakin bahwa Firman akan datang menemuinya. Benar saja selepas maghrib terdengar suara ketokan pintu dari luar. Maria dan Mala yang sedang bersenda gurau melompat ke pintu berebut untuk membukanya. Maria yang lebih dahulu meraih daun pintu langsung membukanya.
“Silahkan masuk kak ?” ucap mereka kompak sambil membungkukan badan.
“Sejak kapan kalian memanggil saya kakak ? Hahaha…”
“Dasar semprul kamu ! Kirain kak Firman yang datang, eh ternyata kamu Ko ?” Ucap Mala.
“Kamu mau ngapain Ko ?” tanya Maria.
“Biasalah mau minta air minum, hehehe…”
“Kebiasaan kamu Ko malas masak air, memangnya kami langganan mu ? Hehehe…” Sahut Mala.
“Pelit amat sih.”
“Bukanya pelit, tapi ngirit tahu. Itu airnya ambil sendiri !” Ucap Maria menimpalinya.
“Terima kasih ya, kalian memang baik hati deh.”Jawab Eko sambil menuangkan air ke gelas lalu pergi lagi.
“Sementara waktu telah menunjukn pukul tujuh malam, Firman yang mereka tunggu belum juga datang. Tiba-tiba dari luar terdengar suara ketukan pintu lagi.
Tok, tok, tok…
“Mungkin yang ngetuk pintu itu kak Firman, kenapa tidak kamu buka Maria ?”.
“Halah biarin saja, mungkin itu kerjaan Eko mau minta air lagi.” Jawab Maria.
Tok, tok, tok…
“Assalamualaikum…?”.
Mendegar siapa yang mengucapkan salam, Maria langsung membukakan pintu. Maria kemudian mempersilahkan Firman untuk masuk.
“Waalaikum salam, silahkan masuk kak.”
“Ya terima kasih.”
Firman lalu masuk dan duduk di kursi. Baru Ia duduk, Mala langsung pamitan pergi meninggalkan mereka.
“Kak Firman maaf saya tinggal dulu ya ?” ucap Mala.
“Kamu mau ke mana Mala ?” tanya Firman.
“Saya ada perlu sebentar ya kak ?”.
“Baiklah jangan lama-lama ya dek ?” ucap Firman lagi.
“Ya kak.”Jawab Mala lalu pergi.
Sekarang tinggal mereka berdua di dalam kamar, Firman berdiri lalu membuka pintu kamar kemudian duduk kembali. Firman memandang Maria yang tiba-tiba diam membisu. Sudah beberapa menit lamanya Maria masih terdiam tanpa sepatah kata. Suasana di malam itu begitu lengang, Firman menarik napas lalu membuka percakapan.
“Apa kabar dek ?” tanya Firman memandangnya.
“Baik kak.”Jawab Maria singkat.
“Tadi sore Buhori ke rumah, katanya saya suruh ke sini, apa itu benar dek ?”.
“Benar, saya yang menyuruh kakak datang ke sini.”
“Saya suruh ke sini ada apa dek ?”.
“Nggak ada kak, cuma suruh main aja.” Jawab Maria lalu kembali diam seribu bahasa.
Malam itu Maria terlihat sangat kaku, demikian juga dengan Firman terlihat sangat canggung. Seolah-olah mereka baru saja saling mengenal. Maria yang biasanya centil di hadapan Firman, entah mengapa malam itu menjadi sangat pendiam. Firman menggeser tempat duduknya mendekati Maria lalu kembali bicara.
“Dek…?”.
“Ya, kak…”
“Boleh nggak saya menanyakan sesuatu ?”.
“Boleh kak, kak Firman mau nanya apa ?”.
“Satu minggu yang lalu saya pernah menitip surat untuk kamu, apakah kamu sudah menerimanya ?”.
“Sudah kak.”
“Apakah kamu sudah membacanya ?”.
“Sudah, kak.”
“Terus apa jawaban mu ? Kenapa kamu tidak membalasnya ?”.
Pertanyaan-demi pertanyaan belum juga Ia jawab, Maria tetap diam. Satu menit kemudian perlahan bibirnya gemetar, wajahnya mulai pucat. Seolah ada beban berat yang akan Ia sampaikan. Lidahnya terasa keluh tak mampu bicara. Melihat itu Firman tak sampai hati memaksanya untuk bicara.
“Kamu tidak usah memaksakan diri untuk menjawabnya dek. Apalah artinya saya. Saya hanyalah sebutir pasir yang ada di pantai. Siapa pun bebas untuk menginjak pasir itu, termasuk kamu. Kamu bebas melakukan apa saja dengan saya.”
“Jangan berkata begitu kak, maafkan saya yang telah berani mempermainkan kak Firman. Saya tahu kak Firman sangat baik di mata saya. Justru saya yang tak pantas menerima cinta kak Firman.” Ucap Maria sambil menangis terisak-isak.
“Kenapa kamu menangis dek ? Maafkan saya jika telah melukai hatimu.”
“Saya yang seharusnya minta maaf kak. Karena saya tak membalas surat kak Firman. Namun bukan berarti saya tak sayang kepada kakak. Saya merasa tak pantas menerima cinta kak Firman. Saya sangat hina kak ? Saya sangat kotor kak ?”.
“Mengapa kamu berkata begitu dek, katakan !”.
“Saya tidak berani untuk mengatakannya, saya takut setelah kakak tahu kakak akan pergi menjauh dari saya !”.
“Tidak dek, seburuk apapun di mata orang, bagiku kamu tetap yang terbaik. Allah saja tak pernah membeda-mbedakan umatnya.”
“Saya sudah jatuh ke dalam lumpur yang berdebu kak, maafkan Maria.” Tuturnya terbatah-batah sambil menangis.
Kemudian Ia menceritakan masa kelamnya kepada Firman. Dengan seksama Firman mendengarkan cerita Maria.
“Peristiwa itu bermula saat saya masih duduk di bangku SMP. Ayah saya terjerat hutang piutang pada seorang laki-laki hidung belang. Karena tak sanggup melunasi hutangnya, lalu saya dijadikan jaminan dan dipaksa untuk melayani laki-laki hidung belang itu sampai sekarang kak.”
“Itulah sebabnya mengapa saya sangat benci pada semua laki-laki termasuk pada kak Firman ! Pada awalnya memang saya punya niat jahat dengan kak Firman. Saya ingin merayu kakak, setelah itu akan saya campakan seperti laki-laki lainnya.”
“Tapi karena kebaikan dan ketulusan kak Firman kepada saya, hati saya luluh dan tak sanggup melakukan itu. Saya sayang sama kak Firman, kakak orang baik, maafkan saya kak ?” tutur Maria lalu menangis histeris di pangkuan Firman.
Firman membelai rambutnya yang panjang dan berusaha membesarkan hatinya agar tak berlarut-larut dalam kesedihan.
“Yang sabar dek. Sekalipun kamu telah terjerumus pada lumpur yang berdebu, namun bagiku engkau adalah air yang jernih. Siapa pun tak kan pernah memandang hina di matanya. Yang semangat ya, saya akan selalu ada untuk kamu.” Ungkap Firman.
Suasana hening di malam itu tiba-tiba dikejutkan oleh kilatan halilintar yang menyambar-nyambar disusul hujan deras. Maria yang sedang menangis terisak-isak terlihat saangat ketakutan dan langsung memeluk Firman.
Daaarrr… ! Daaarrr…!
“Saya takut kak.”
“Jangan takut dek, ada saya di sini.” Ucap Firman sembari membesarkan hatinya.
“Sudah terlalu banyak dosa yang pernah saya lakukan kak. Saya takut kak Firman akan meninggalkan saya setelah tahu saya sudah tak suci lagi.”
“Tak pernah terbersit sedikitpun di hati ini untuk meninggalkan mu dek. Sebesar apapun dosa kamu saya akan menerima mu apa adanya. Asalkan kamu mau meninggalkan laki-laki itu dan berjanji tak akan pernah mengulanginya lagi. Apakah kamu mau bertaubat dek ?”.
“Sudah terlambat untuk bertaubat kak.”
“ Ssssttt…, tidak ada istilah kata terlambat. Yang penting kamu mau bertaubat dengan sungguh-sungguh.
“Terima kasih kak saya berjanji. Tapi tolong bimbing saya ya kak ?”.
“Insya Allah ya dek. Yuk sekarang ngambil air wudhu dan kita shalat berjamah ?” ajak Firman.
“Apakah dengan shalat dosa-dosa saya akan terampuni kak ?”.
“Allah maha pengampun, Insya Allah sebesar apapun dosa umatnya selagi Ia masih mau bertaubat dan berjanji tak akan mengulanginya lagi, dosa-dosanya akan diampuni.”
Mendengar ucapan itu, Maria bangun lalu mengambil air wudhu kemudian shalat berjamaah. Melihat perubahan yang terjadi pada diri Maria, Mala merasa kagum kepada Firman dan merasa sangat heran sekali. Selama ini tidak ada satupun laki-laki yang lolos dari jeratan Si Penabur Cinta. Sekarang bukannya Firman yang bertekuk lutut, eh malah Maria yang seperti kerbau dicucuk hidungnya. Mala pun menanyakannya hal itu kepada Firman.
“Kak Firman pakai ilmu apa sih kok Maria nurut aja ? Sekarang Maria sudah mau shalat lagi. Padahal selama ini Ia selalu bilang benci jika melihat orang shalat.” Tutur Mala.
“Memangnya selama ini Maria tidak pernah shalat ya dek ?”.
“Tidak pernah kak, bahkan setiap kali saya ajak shalat dia selalu marah-marah. Katanya dia benci Tuhan yang tak berlaku adil kepadanya.”
“Semoga kali ini dia benar-benar mau berubah ya dek.”
“Ya kak, aamiin.”
Selain menurut, Maria juga sangat hormat kepada Firman yang telah mengajarinya tentang arti kehidupan. Ia selalu menyempatkan waktunya mengajak Maria untuk shalat. Dia sangat ihlas dan bersungguh-sungguh untuk membimbing Maria.
Hingga suatu ketika tepatnya di hari minggu, Firman datang ke kosan Maria. Maria mondar-mandir dan terlihat sangat gelisah. Membuat Firman merasa curiga kepadanya. Kecurigaan itu semakin kuat ketika Maria memintanya untuk pulang ke kosannya, dengan alasan agar Firman beristirahat. Firman sadar dirinya sedang diusir secara halus oleh Maria. Ia pun nurut saja dan mengikuti kemauannya.
“Sekarang kak Firman pulang dulu ya istirahat di kosan.”
“Apakah kamu punya janji dengan seseorang dek, sampai-sampai kamu meminta ku untuk pulang ?”.
“Bukan begitu kak, sekarang pulang dulu dan istirahat ya. Besok kak Firman boleh main lagi ke sini.” desak Maria.
Firman yang merasa diusir secara halus tak banyak bicara. Ia nurut saja apa kemauan Maria dan berpura-pura pulang ke kosan. Kemudian Maria mengantar Firman sampai di depan kosan. Setelah benar-benar yakin Firman pulang, Maria kembali masuk. Kesempatan itu tidak disia-siakan Firman, Ia berbalik arah lalu menyelinap ke kosan Eko yang letaknya berhadapan dengan kosan Maria. Sehingga Firman bisa memantau dengan jelas apa yang sedang dilakukan Maria.
Dari balik pintu Firman mengintip Maria sedang berkemas dan sudah ganti pakaian. Ia terlihat cantik dengan postur tubuhnya yang aduhai. Rasa penasarannya pun terjawab karena tak lama kemudian datang mobil sedan yang menjemputnya. Dari dalam mobil keluar seorang laki-laki berumur kepala empat mempersilahkan maria masuk ke mobil dan membawanya pergi. Firman pun keluar dari persembunyiannya setelah mereka pergi dan langsung menemui Mala untuk mengorek keterangannya. Firman yang datang secara tiba-tiba membuat Mala terkejut.
“Kak Firman di sini sejak kapan ?”.
“Sejak tadi dek.”
“Kan tadi kak Firman pulang ke kosan ?”.
“Saya tida jadi pulang dek.”
“Berarti kak Firman…”
“Ya saya sudah tahu semuanya dek, sekarang tolong jawab pertanyaan saya. Siapakah laki-laki bersedan merah itu yang jemput maria ?”.
“Itu cowoknya Maria kak.”
“Jadi laki-laki itu adalah orang yang pernah Maria ceritakan kepada saya ?”.
“Benar kak, dia orangnya.”
“Berarti mereka selama ini masih saja tetap berhubungan ?”.
“Ya kak.”
“Terus mereka mau pergi kemana ?”.
“Katanya mau ke panjang kak.”
“Celaka dua belas ! Rupanya dia hanya taubat sambal.”
Ya kak, saya juga sudah sering kali mengingatkan dia, tapi dia tak mau mendengarnya.”
“Terima kasih infonya ya dek, saya pamit dulu.”
“Tunggu dulu kak ?” ucap Mala menghentikan langkahnya.
“Sebenarnya dari awal Maria hanya berniat untuk menggoda kak Firman. Setelah itu lalu dia akan mencampakannya.” tutur Mala.
“Apa salah saya hingga dia tega berbuat begitu ?”.
“Dia benci kepada semua laki-laki karena telah menghancurkan hidupnya.”
“Termasuk saya ?”.
“Ya kak, kak Firman adalah laki-laki yang ke-49 yang telah digodanya. Tapi maaf ya kak, kata dia dari 49 laki-laki itu, Kak Firman adalah laki-laki yang terbaik. Pada awalnya memang Maria ingin menyakiti kakak. Tapi sekarang dia benar-benar menyayangi kak Firman loh.”
“Kalau dia sayang saya, lalu mengapa dia masih saja berhubungan dengan laki-laki itu ?”.
“Dia tak bisa lepas dari laki-laki itu lantaran masih terikat janji dengan orang tuanya kak. Dia tidak berani membantah perintah dari kedua orang tuanya.” Ungkapnya.
Setelah Maria pulang, Mala menceritakan apa yang telah Firman ketahui tentang dirinya. Sambil menangis penuh harap, Maria menemui Firman untuk meminta maaf. Akan tetapi Firman sama sekali tak menggubrisnya. Firman juga sudah tak memperdulikan dan tak mau menemuinya lagi. Bahkan setiap kali Maria menemuinya, Firman selalu buang muka tak mau bicara sampai lulus sekolah.
Dua tahun setelah berpisah dengan Maria, secara kebetulan Firman bertemu dengan Buhori. Buhori memintanya agar Firman mau main ke rumahnya. Karena ada sesuatu hal penting yang akan dibicarakannya. Firman pun setuju ajakan Buhori. Sampai di sana Buhori menyodorkan selembar amplop berisi surat yang sudah terlihat usang.
Mas Firman, ini amanah yang saya terima dari Maria setelah dia lulus sekolah. Saya sudah mencari sampean ke sana kemari tapi baru hari ini kita bertemu. Tolong terima surat ini ya ?” ucap Buhori lalu memberikan suratnya.
“Isinya tentang apa Ri ?” tanya Firman.
“Saya tidak tahu isinya, silahkan baca sendiri.”
Firman mengelap amplop yang sudah berselimut debu, lalu mengeluarkan isinya dan membcanya.
Kak Firman yang sangat ku sayang, saat saya menggoreskan tinta ini saya benar-benar telah kehilangan pegangan hidup. Satu-satunya orang yang mampu merubah jalan hidup saya, kini telah pergi entah ke mana lantaran dosa besar yang pernah saya lakukan.
Saya benar-benar putus asa dan ingin rasanya mengahiri hidup ini. Andaikan saja saya tidak ingat nasihat yang pernah kakak ucapkan kepada saya, mungkin saat ini saya sudah tidak ada lagi di alam fana ini kak. Mungkin saja saya sudah jadi tulang belulang yang pergi tanpa maaf dari kak Firman.
Dengan tangan gemetar dan penuh cucuran air mata, saya mengharap maaf dari kak Firman. Dosa saya memang terlalu besar untuk kakak maafkan. Tapi kakak pernah berkata sebesar apapun dosa manusia, Allah akan memafkannya. Kalau Tuhan saja bisa memafkan, lalu mengapa kakak tidak bisa memaafkan saya kak ?.
Kak Firman yang ku sayang, melalui goresan ini maafkanlah Maria yang penuh khilaf dan dosa. Tanpa maaf darimu hidupku akan selalu dikejar-kejar oleh kesalahan masa laluku. Ijinkanlah saya untuk menapak hari esok agar lebih baik lagi seperti yang kak Firman harapkan.
Terima kasih atas bimbingannya selama ini, saya akan selalu mendo’akan agar kak Firman kelak menemukan jodoh seorang gadis yang lebih baik dari saya, terima kasih. Dari orang yang sangat menyayangimu, tertanda Maria.
Firman melipat surat itu lalu mengusap air matanya yang mulai bercucuran. Kakinya gemetar tak sanggup lagi menyangga tubuh kurusnya. Ia terduduk lemas di sebuah kursi sambil bibirnya berusaha untuk bicara.
“Maafkan saya juga dek, tidak ada gading yang tak retak. Tidak seharusnya saya meninggalkan kamu sendirian dengan beban berat yang kamu pikul saat itu. Ini adalah satu kesalahan yang pernah saya lakukan.” Ucap Firman sedih.
KE MANA HARUS MENCARI
Mentari baru saja bangun dari peraduannya, semburat cahayanya menyinari dataran tinggi yang letaknya di bibir pantai. Di depannya terdapat gowa kecil berdiameter kurang lebih enam puluh cm, yang letaknya satu meter dari kedalaman laut. Dataran itu dilapisi bebatuan berwarna putih, di atasnya ada bangunan tua sebuah pura tempat peribadatan umat Hindu.
Di depan gowa, ada seorang pemuda berkumis tipis berdiri mematung, di atas batu besar Ia memandang hamparan laut lepas. Pandangannya hampa menelusuri guratan mega diiringi riuh gelombang yang saling berkejaran. Wajah pemuda yang telah basah kuyup karena percikan air itu, tergambar di wajahnya duka nestapa.
Ia sedang tenggelam dalam lamunannya membayangkan sosok gadis cantik berlesung pipit yang bernama Ni Made Putri Astuti yang telah pergi entah ke mana. Kedua lengan tangan gadis itu ditumbuhi bulu-bulu halus, alis matanya melingkar membentang seperti selendang bidadari dari kahyangan. Lalu gadis itu melambaikan tangan kepada Firman. Firman menyambut senyuman gadis itu sambil berteriak memanggil namanya.
“Putri…, Putri…, Putri…”
Namun tiba-tiba Putri menghilang ditelan gumpalan mega. Firman kaget dan tersadar bahwa itu hanyalah ilusi belaka. Firman masih berdiri terpaku menatap riuh gelombang dengan tatapan kosong. Ia tak sadar ada gulungan ombak besar yang mengancam dirinya. Ombak besar itu tiba-tiba menghantam Firman sampai tubuhnya terpental dari batu dan terjelembab ke laut. Dengan tubuh basah kuyup Ia kembali berdiri di atas batu besar itu.
Firman menangis dan menjerit sekuat tenaga memanggil nama Putri.
“Putri…, kamu sekarang ada di mana ?” teriaknya dengan bibir gemetar.
“Putri…, saya sudah mencari kamu ke mana-mana, tapi saya tidak menemukan kamu. Kamu ada di mana…?”.
Setiap hari Firman tak kenal lelah mencari Putri. Sudah satu tahun lamanya Ia menelusuri setiap sudut di kota ini. Namun yang dicarinya raib bagai ditelan bumi. Ke mana lagi Ia hendak mencari Si pujaan hati ? Semua sudut jalan ini telah Ia tapaki, namun jejak langkahnya menghilang bagai misteri. Jalan yang berdebu telah Ia telusuri, puluhan kilo meter telah Ia lalui. Dengan cucuran keringat dan air mata, berharap Ia dapat berjumpa.
Di pertigaan jalan di sudut kota itu, Firman menghentikan langkahnya. Ia duduk di tepi sambil memijat kedua kakinya yang mulai pegal, kemudian meregangkan kaki sambil digoyang-goyangkan. Setelah pegalnya terasa berkurang, Firman berdiri lalu berjalan menghampiri pedagang asongan. Ia membeli sebotol air mineral lalu meneguknya. Rasa dahaga yang mencekik tenggorokannya hilang seketika.
Firman kembali melanjutkan pencariannya. Dengan langkah gontai kakinya menelusuri setiap sudut di kota itu. Terlihat langkah kakinya sudah tak lagi berjalan sempurna. Kaki kirinya lecet diseret menapaki jalan yang penuh liku. Firman kembali menghentikan langkahnya berfikir sejenak. Pandangannya hampa menatap roda-roda bising di kota itu. Suaranya terasa mengkoyak-koyak telinga Firman. Membuat pendengarannya terasa tak nyaman.
Hari itu Firman sudah tak kuat lagi berjalan kaki. Ia pun memutuskan pulang naik angkot. Di angkot Ia duduk berjubal dengan penumpang lain sambil merenung. Angkot yang ditumpangi kira-kira sudah menempuh jarak lima ratus meter. Tiba-tiba seorang penumpang memberi isyarat agar sopir menghentikan laju kendaraannya.
“Kiri mang.” Ucap salah satu penumpang.
Perempuan cantik berambut panjang itu turun dari angkot. Firman terkejut ketika melihat perempuan itu yang ternyata adalah Putri.
“Putri…? teriaknya.
Firman turun dan mengejar Putri sambil terus memanggil kekasihnya.
“Tunggu Putri…, Putri, tunggu !”.
Putri menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Firman yang sedang mengejarnya.
“Maaf anda memanggil saya ?” sapa perempuan itu.
“Ya saya memanggil kamu Putri ?”.
“Dari mana anda tahu nama saya ? Apakah kita pernah kenal sebelumnya ?” tanya perempuan cantik itu.
“Kamu Ni Made Putri Astuti kan ? Saya Firman.” Ucap Firman dengan wajah berseri-seri.
“Ya nama saya Putri, tapi bukan Putri yang anda maksud. Nama saya Putri nadya.”
“Maaf ya mba saya salah orang, saya kira mba Putri yang sedang saya cari. Habis wajahnya mirip sekali sih mba.”
“Tidak apa-apa mas, kenalkan nama saya Putri Nadya.” Sapa perempuan itu sambil mengulurkan tangannya.
“Saya Firman mba.” Sambil menyalaminya.
“Maaf kalau boleh tahu, Putri itu apanya mas Firman ?”.
“Dia adalah sahabat kecil saya yang telah berpisah empat tahun yang lalu.”
“Pasti dia bukan hanya sekedar sahabat ya ? Saya yakin dia sangat sepesial sekali.”
Firman diam tidak menjawab pertanyaan Putri, pandangannya hampa menerawang jauh ke depan. Putri merasa menyesal dengan apa yang baru saja Ia lontarkan. Ia pun mengalihkan pembicaraannya mengajak Firman ke kedai.”
“Mas Firman kita ngobrol di kedai itu saja yuk ?” ajak Putri.
Putri lalu menarik tangan Firman, Ia pun tersadar dari lamunannya dan menurut saja ajakan Putri dan mereka menuju ke kedai yang letaknya tak jauh mereka berdiri.
“Mba Putri mau pesan apa ?”.
“Saya pesan jus alfukat aja mas ?”.
“Kok selera kita sama sih. Bu pesan jus alfukat dua ya ?”.
“Ya mas.” Jawab pemilik kedai.
Sambil minum jus mereka berbincang dan terlihat sangat akrab sekali. Seolah mereka sudah lama saling mengenal. Putri kembali menanyakan alasan mengapa Firman mencari orang yang bernama Ni Made Putri Astuti.
“Mas boleh nggak saya nanya lagi ?”.
“Mba Putri mau nanya apa ?”.
“Tentang orang yang katanya mirip saya. Kalau dilihat dari namanya dia bukan muslim ya mas. Ceritain dong mas.” bujuk Putri manja.
“Putri adalah sosok gadis cantik berambut panjang berkulit putih. Dia memiliki perawakan yang sedang, alis matanya bak selendang bidadari kahyangan. Tutur katanya lembut dan sangat menyejukan.”
“Wah kok ciri-cirinya sangat mirip sekali sih dengan saya mas.”
“Betul sekali, makanya tadi begitu melihat mbak Putri saya langsung mengira bahwa mba adalah orang yang sedang saya cari selama ini.”
“Terus bagaimana ceritanya kok bisa berpisah dengan dia ?”.
“Dulu kami berkomitmen untuk saling melupakan lantaran keyakinan kami yang berbeda. Saya mengira setelah berpisah nanti akan bisa melupakan dia. Eh ternyata saya malah selalu ingat dia dan wajahnya selalu terbayang. Bahkan Ia selalu datang dalam mimpi, dan saat saya sedang duduk menyendiri Ia datang dan menggodanya. Saat itulah hati saya sangat tersiksa dan sangat merindukannya. Makanya sudah satu tahun ini saya mencarinya.”
“Kasihan mas Firman ya, rasa sayangnya pada Putri begitu besar. Sampai-sampai mencarinya ke sana ke mari, dia sangat beruntung sekali punya kekasih seperti mas Firman. Terus kalau suatu ketika mas Firman ketemu dia dan ternyata dia sudah bersuami gimana mas ?”.
“Tidak apa-apa, saya akan berusaha untuk mengihlskan demi kebahagiaannya, dan setidaknya saya pernah berkorban untuknya.”
“Wah sok sweet sekali mas Firman ini, saya jadi sangat terharu. Saya ingin punya kekasih seperti mas Firman loh.”
“Loh memangnya mba Putri belum punya kekasih ?”.
“Sudah sih mas, dan bulan depan tanggal dua puluh rencananya kami akan menikah. Mas Firman datang ya, ini alamat saya.”
“Akan saya usahakan untuk datang mba, pria itu sangat beruntung sekali ya mendapatkan mba Putri.” Ucap Firman sambil memandangnya.
“Kenapa mas Firman menatap saya begitu ? He, he, he…”.
“Maaf mba saya hanya sedang berfikir kok mba Putri sangat mirip sekali dengan dia ya ? Apakah Tuhan sengaja mengirim mba Putri untuk mengobati rasa rindu saya kepadanya ?”.
“Mungkin saja mas, pertemuan kita hari ini juga adalah rencana yang di atas. Mungkin Tuhan telah mengabulkan do’a mas Firman melalui saya.”
“Mungkin saja mba, dan setelah saya bertemu mba Putri saya merasa telah menemukan orang yang sedang saya cari selama ini. Setidaknya rindu yang saya pendam selama ini telah terobati.”
“Syukurlah mas, setidaknya saya dapat meringankan beban mas Firman selama ini. Oh ya mas, kita berpisah di sini ya ? Terima kasih jusnya, dan jangan lupa datang ke pernikahan kami ya ?”.
“Ya mba Putri, terima kasih juga sudah mau menemani saya minum. Sampai ketemu lagi ya ?”.
Keduanya berpisah di kedai itu sambil melambaikan tangan. Setelah Putri pergi, Firman naik angkot dan pulang ke kampung halamannya. Setibanya di rumah, Ia duduk memikirkan pertemuannya dengan gadis yang sangat mirip dengan Putri. Ia menarik napas lalu merebahkan tubuhnya hingga tertidur.
Pagi harinya Firman sudah berpakaian rapih duduk di kursi sambil termenung. Ia mengingat kembali usahanya dalam mencari Putri. Semua sudut kota telah Ia cari sampai akhirnya bertemu dengan seorang gadis yang mirip sekali dengan Putri. Tiba-tiba semangatnya timbul kembali untuk mencari Putri. Ia pun meyakini bahwa Putri pindah kerja ke tanggerang.
Firman pun melanjutkan pencariannya ke Tangerang sembari bekerja di sebuah perusahaan terkemuka. Di sela-sela Ia bekerja, tak bosan-bosannya Firman menanyakan keberadaan Putri kepada rekan kerjanya. Merekapun tukar informasi membantu Firman mencari Putri. Sudah dua tahun Firman bekerja di sana dan tidak satupun diantara mereka yang menemukan alamatnya. Akhirnya Firman memutuskan berhenti dari perusahaan dan pulang ke Lampung.
Di lampung Firman melanjutkan kuliahnya di salah satu perguruan tinggi ternama sambil mencari informasi tentang keberadaan Putri. Pada saat Firman sudah menempuh semester tujuh, kampus memutuskan akan menyelenggarakan kegiatan KKN di mana Putri pernah tinggal.
Di sana Firman memberanikan diri berkunjung ke rumah Putri yang pernah Ia kunjungi sepuluh tahun silam. Ternyata kondisi di desa itu tidak banyak berubah. Hanya jalan saja yang sudah tampak mulus. Dengan sedikit ragu Firman mengetuk pintu sambil mengucap salam.
Tok…, tok…, tok…
“Permisi.”
Tidak lama seorang laki-laki gagah keluar dan membukakan pintu. Laki-laki itu menatap Firman sambil mengerutkan keningnya. Ia terlihat sedang berfikir keras mengingat sesuatu, lalu menyapanya.
“Ini nak Firman ya ?” tanya laki-laki itu sembari menunjuk Firman.
“Ya pak, saya Firman.” Jawab Firman lalu mencium tangannya.
“Ke mana saja kamu selama ini nak ?” ucap laki-laki itu lalu mempersilahkannya masuk.
“Selama ini saya bekerja sambil sekolah pak, dan sekarang saya masih kuliah.” Jawab Firman.
Firman masuk dan duduk di kursi tamu, untuk sesaat Ia diam. Begitu juga laki-laki yang tak lain adalah Pak Wayan ayahnya Putri. Pak Wayan kembali menatap Firman, terlihat bibirnya berusaha mengucap sesuatu kepada Firman.
“Fir…, Putri sudah menikah.”
“Apa Pak ?!” Jawab Firman kaget.
“Ya Fir Putri sudah menikah.” Ucap Pak Wayan menatap Firman sedih.
“Kenapa bapak terlihat sangat sedih Pak ? Saya tidak apa-apa kok pak ?” ucap Firman berusaha menutupi kesedihannya.
“Kamu anak yang baik nak Firman, walaupun kamu tidak pernah mengatakan kepada bapak tentang perasaan kamu dengan Putri, tapi bapak tahu kalau nak Firman sangat menyayangi Putri. Maafkan bapak ya nak ?”.
“Tidak apa-apa pak, mungkin ini sudah kehendak Tuhan.”
“Ya nak, biarpun kamu tidak jadi dengan Putri, tapi bapak sudah menganggapmu seperti anak bapak sendiri.”
“Ya Pak, terima kasih.”
Mendengar ucapan Pak Wayan, Firman terharu dan menagis tersedu-sedu.
“Maafkan bapak ya nak, sebenarnya bapak tak sampai hati memberitahukan ini kepada nak Firman. Bapak juga tidak bermaksud membuat nak Firman sedih. Tapi apa dikata, menurut bapak sudah waktunya nak Firman harus tahu tentang Putri. Walaupun terasa berat, masalah Putri harus saya sampaikan agar nak Firman tidak terlalu berharap.
“Ya pak saya mengerti, maafkan saya juga ya pak. Kalau kedatangan saya malah membuat bapak sedih. Maaf pak kalau boleh tahu Putri menikah dengan siapa ya pak ? Sekarang dia tinggal di mana ?” Tanya Firman sambil mengusap air matanya.
“Dia menikah dengan Nyoman, sekarang ikut suaminya ke Bali. Oh ya, nak Firman kuliah di mana dan ngambil jurusan apa nak ?” tanya Pak Wayan mengalihkan pembicaraan.
“Kuliah di Lampung ngambil jurusan keguruan pak.” Jawab Firman.
“Mudah-mudahan sukses ya nak, dan selama KKN di sini kalau ada yang mengganggu nak Firman tolong kasih tahu bapak. Bilang saja kamu anak angkat bapak ya ?”.
“Ya pak terima kasih. Saya mohon pamit ya pak ?”.
“Kok terburu-buru sih nak ?”.
“Ya pak, soalnya masih ada acara lagi pak.”
“Jangan sungkan-sungkan main ke sini lagi ya nak ?”.
“Ya pak, terima kasih.” Jawab Firman lalu meninggalkan pak Wayan.
Pak Wayan menggeleng-gelengkan kepala sembari mengusap air matanya menatap kepergian Firman.
“Kasihan kamu nak, andaikan saja kamu mau meninggalkan keyakinan mu, pasti bapak sangat mendukung kamu menikah dengan Putri. Karena bapak tahu kamu anak yang baik nak. Maaf kan bapak.” Gumamnya.
Semenjak tahu Putri sudah menikah dan ikut suaminya ke Bali, Firman tidak pernah lagi datang ke rumah. Firman ingin melupakan Putri dan berusaha mengihlaskannya. Ia tidak mau kedatangannya justru akan mengingat kisah lamanya yang penuh luka. Meskipun demikian Firman selalu mendo’akan Putri dan keluarganya agar diberikan kesehatan.
Suasana hati Firman di hari itu sangat sedih. Bagai cendawan tumbuh dimusim hujan. Ia pun berusaha mengobati rasa sedihnya dan nongkrong di pertigaan jalan sembari memandang lalu lalang orang yang sedang menelpon di sebuah wartel. Tampak silih berganti mereka mendatangi wartel itu. Membuat Firman sedikit penasaran, hingga Ia pun mendekatinya dan duduk di luar, sambil memandang orang yang ada di dalam. Dari balik kaca hitam terlihat antrian beberapa remaja yang akan menggunakan jasa wartel. Setelah itu Firman tak perduli lagi dan kembali larut dalam kesedihannya. Tiba-tiba Firman dikejutkan oleh suara gadis cantik berhijab yang memanggilnya.
“Kamu Firman kan ? Apa kabar Fir ?” sapa gadis itu.
“Yana …? Kamu Yana kan ?” Firman terkejut.
“Ya saya Yana.”
“Kamu ke mana saja Yana ? Sejak peristiwa pertida kencana itu kita tak pernah lagi bertemu.” tanya Firman.
“Setelah lulus sekolah saya melanjutkan kuliah ke Bandung Fir. Kamu sendiri ngapain di sini ?” timpal Yana.
“Saya sedang KKN di desa ini Yana. Kamu sendiri sedang apa di sini ?”.
“Saya buka usaha wartel Fir. Lumayanlah untuk mengisi waktu luang. He…”
“Wah hebat dong, kamu sudah punya usaha sendiri ?”.
“Ngomong-ngomong kamu sudah menikah belum Fir ? Soalnya ada yang sedang mencari jodoh nih.” tanya Yana sambil tersipu malu.
“Mencari jodoh untuk siapa Yana ? Untuk kamu ? Memangnya kamu belum menikah ?”.
“Belum Fir, makanya cariin dong. Kalau bisa cariin yang seperti kamu ya, he…”
“Ya nanti saya cariin.” Jawab Firman singkat.
“Kamu belum menjawab pertanyaan saya Fir. Kamu sudah menikah belum ?” tanya Yana lagi.
“Mana adalah yang mau dengan saya Yana ?”.
“Maksud kamu, kamu belum menikah Fir ?”.
“Belum Yana ? Puas kamu !”.
“Ih, jutek amat sih lo !” sahut Yana sambil mencubit Firman.
“Aduh ! Sakit tahu.” teriak Firman sambil mengelus perutnya.
“Kamu nggak pernah berubah ya Fir. Dari dulu sampai sekarang kamu selalu cuek dengan saya.”
“Oh ya Yana. Saya ke posko dulu ya ?” jawab Firman mengalihkan pembicaraan.
“Saya ikut Fir.” Ucap Yana langsung naik ke motor Firman.
Semenjak bertemu Yana, Firman kembali bersemangat dalam menghadapi cobaan hidup. Keduanya selalu bersama ke mana saja mereka pergi. Namun seiring berjalannya waktu, Firman harus kembali menelan pil pahit. Karena ada salah satu mahasiswa yang juga teman Firman, diam-diam jatuh cinta kepada Yana. Dengan berat hati Firman pun harus rela melepaskan Yana dari pada hatinya kembali terluka.
Kedekatan Yana dengan Udin tidak lantas membuat persahabatan mereka terpecah. Dengan besar hati Firman mau saja diajak ke mana saja mereka pergi. Hari itu ketiganya pergi ke batu putih. Sampai di sana, Udin dan Yana naik ke atas batu putih dan duduk di depan pura tua. Sementara Firman hanya duduk menyendiri di depan mulut goa memandang lautan lepas. Sesekali Ia berdiri sambil melempar beberapa batu ke laut lepas untuk menghibur diri.
Di saat itulah tiba-tiba datang lima begundal dan langsung menodongkan sebilah pisau ke leher Firman.
“Serahkan uangnya bang ! kalau tidak, pisau ini akan memotong leher abang.” Bentak begundal berambut pirang itu.
Firman berusaha tenang menghadapi lima begundal itu sambil beracting seolah-olah dirinya adalah seorang penjahat kelas kakap.
“Tolong lepaskan pisau kalian ! Kalau tidak anak buah saya akan menghabisi kalian !” ucapnya.
“Memang abang orang mana ?” tanya begundal berambut pirang itu.
“Mestinya kalian tanya dulu sebelum menodong ! Saya orang pematang !” bentak Firman.
Seketika lima begundal itu langsung sujud dan minta ampun kepada Firman.
“Ampun bang, ampun. Kami tidak tahu.” Ucap mereka kompak.
Melihat dirinya berada di atas angin, Firman kembali melanjutkan actingnya.
“Untuk apa kalian menodong saya. Hayo jawab !” bentak Firman.
“Anu bang untuk beli minuman keras.” Jawab begundal yang lain.
“Oh rupanya kalian hanya penjahat kelas teri. Lihat wajah saya ! Lihat badan saya ! Saya kurus bukan hanya sekedar peminum tapi saya adalah pemakai sekali gus pengedar narkoba. Sini kalian, ambil !” bentak Firman sambil mengulurkan uang dua puluh ribu.
“Ampun bang saya tidak berani.” Jawab begundal berambut pirang.
“Kenapa kalian tidak berani ?” tanya Firman.
“Saya takut nanti abang dendam dengan saya. Soalnya saya sering main ke pematang bang.”
“Kalian sering operasi di mana saja ?” tanya Firman.
“Kami sering mangkal di dermaga dua bang.”
“Sebagai apa kalian di sana ?” tanya Firman lagi.
“Kami juga sering nyopet bang. Kalau abang kecopetan di sana, nanti saya urus bang.”
“Sini kamu ! Ambil uang ini !” bentak Firman sambil menunjuk begundal yang memakai anting.
“Ya bang.” Jawab begundal itu lalu satu-persatu mencium tangan Firman lalu pergi.
Firman yang dari tadi menahan tawa, Ia pun tertawa terbahak-bahak setelah mereka pergi.
“Ha…, ha…, ha..”
“H…, ha…, ha…”
Mendengar Firman tertawa sangat keras, Yana dan Udin pun menemui Firman yang sedang tertawa terbahak-bahak.
“Ada apa Fir, kaya orang sedang kesurupan aja.” Tanya Yana.
Firman pun menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi kepada Yana dan Udin. Keduanya langsung tertawa mendengar cerita itu.
“Ha…, dasar semprul kamu Fir.” Ucap Yana.
Perjalanan hidup Firman yang sangat pahit selama ini ternyata telah mengubah dirinya menjadi sosok yang tangguh dan pandai mengendalikan emosinya dalam keadaan terjepit sekali pun.
PERTEMUAN DI NEGERI SERIBU LARANGAN
Sinar mentari di senja itu tidak lagi menyilaukan mata. Cahaya jingganya menghiasi langit-langit di ufuk barat, seakan tahu akan sebuah kisah anak manusia yang bernama Firman. Sore itu Firman sedang duduk di pantai memandang sekawanan burung yang akan pulang ke sangkarnya. Ia terpukau dan tersenyum melihat tingkah mereka, hingga burung-burung itu menghilang dari pandangannya.
Tiba-tiba dari balik awan bayangan Putri muncul tersenyum sambil melambaikan tangannya. Firman berdiri lalu membalas lambaiannya sambil berteriak kencang memanggil Putri.
“Putri…! Putri…! Apa kabar…?”.
Namun bayangan itu menghilang seketika ditelan awan. Firman pun tertunduk lesu dan sangat kecewa melihat kenyataan itu. Firman kembali menatap langit yang kini tak lagi indah. Cahaya jingganya berubah menjadi hitam pekat. Seakan memberitahu bahwa waktu akan berganti malam.
Hari ini adalah hari bersejarah bagi Firman. Dimana Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya dan telah meraih gelar Sarjana pendidikan. Firman ingin menceritakan kepada Putri tentang suka dukanya dalam meraih impiannya. Namun harapan itu kini sirna karena Putri telah menjadi milik oraang.
Firman yang baru saja menyandang gelar sarjananya sengaja datang ke pantai batu putih untuk melepas rindunya pada Putri. Di tempat inilah Firma menyimpan sejuta kenangan. Kenangan indah bersama Putri ketika menelusuri jalan setapak dari sekolah ke batu putih. Saat itu Firman menuntun Putri ketika menyebrang jembatan kayu agar tidak jatuh dan terjelembab ke sungai. Firman tersenyum menganang kenangan indah itu dengan Putri.
Firman juga teringat saat memperjuangan cintanya dengan putri. Di Pura batu putih ini Ia belajar agama Hindu dengan Made. Setelah itu Firman jatuh sakit selama satu bulan dan akhirnya setelah sembuh memutuskan untuk melupakan Putr. Namun sampai sekarang Ia selalu merindukannya. Bayang-bayang Putri selalu mengikuti ke mana saja Firman pergi. Membuat Firman hidup melajang sampai hari ini.
Setelah lulus kuliah Firman mengabdikan diri menjadi seorang pendidik. Kesibukannya menjadi guru telah banyak menyita waktunya dan lupa mencari pendamping hidupnya. Padahal beberapa rekan kerjanya ada yang menawarkan diri untuk menjadi pendampingnya. Akan tetapi Firman menolaknya secara halus masih belum dapat melupakan Putri.
Hingga suatu ketika Firman ditugaskan studi banding ke negeri seribu larangan atau the lion city. Ketika Pesawat yang membawa rombongan yang ditumpanginya landing di Changi Airport, tanpa sengaja koper yang didorong Firman menyerempet kaki kiri salah satu wanita yang ada di depannya.
“Aduh…! Kakiku sakit.” Teriak wanita berambut sebahu itu sambil memeriksa kaki kirinya.
“Maaf mba saya tidak sengaja. Apa kakinya ada yang terluka ?” Ucap Firman kepada wanita yang mengenakan kacamata putih.
“Tidak apa-apa mas, cuma sedikit terasa sakit.” Ucap wanita itu sambil menatap Firman.
“Maaf kayaknya saya pernah kenal deh sama anda ?” ucap wanita itu.
Mendengar ucapan wanita itu, Firman merasa sangat mengenal suaranya. Ia pun menatap wajah wanita yang baru saja menyapanya.
“Ha…? Apa saya tak salah lihat ? Kamu Putri, kan ?” tanya Firman tak percaya.
“Mas Firman ! Benarkah ini kamu mas ?”
“Ya Put, saya Firman.”
“Apa kabar Mas Firman ? Sudah lama sekali tak bersua. Kamu sekarang tambah gagah aja mas.” Ucap Putri lagi.
“Alhamdulillah kabar ku baik Put, bagaimana dengan kamu ?”.
“Seperti yang kamu lihat mas, saya baik-baik saja. Ngomong-ngomong mas Firman mau ke mana ?”.
“Saya mau study banding di beberapa sekolah di kota ini Put, sebagai bekal untuk mengajar di Lampung.”
“Mas Firman guru ya ?”.
“Ya Put.”
“Saya juga guru mas, tapi hanya guru Sekolah Dasar. Mas Firman ngajar SMP apa SMA mas ?”.
“Saya guru SMA Put, tapi tidak ada bedanya kan antara guru SD dengan guru SMA. Semuanya sama-sama guru yang punya tugas mendidik anak bangsa. Ya kan ?”.
“Kamu masih seperti dulu ya mas, selalu merendahkan diri.”
“Oh, ya kamu guru kelas ya Put ?” tanya Firman.
“Saya guru agama mas.”
“Tentunya guru agama Hindu, kan ?”.
“Betul sekali mas, mana mungkinlah saya ngajar agama islam, hehehe…”
“Oh ya Put, kamu dari mana dan mau ke mana ? Kok kamu ada di singapura ? Apa sudah pindah kewarga negaraan Put ?”.
“Tidak mas, saya masih setia menjadi Warga Negara Indonesia mas. Saya tinggal di Bali. Kebetulan saya sedang liburan di sini mas.”
“Berapa lama kamu liburan di sini Put ?”.
“Selama satu mingu mas ? Mas Firman sendiri berapa lama di sini ?” tanya Putri.
“Sekitar satu minggu juga Put, oh ya ngomong-ngomong kamu mau nginap di mana ?”.
“Saya mau menginap di hotel sebelah bandara ini mas. Temani saya dulu menyimpan barang bawaan ini ya mas ?”.
“Baik Put.” Ucap Firman.
Lalu keduanya keluar dari bandara dan naik taxi atau deshi (sebutan di singapura) menuju ke sebuah hotel. Hanya beberapa menit saja keduanya telah sampai ke tujuan.
“Itu mas hotelnya, selain harganya terjangkau juga pelayanannya sangat memuaskan.”
“Kamu sering nginap ke tempat ini Put ?” tanya Firman.
“Sering sih tidak mas, biasanya setahun sekali. Itu pun kalau lagi ada liburan. Kebetulan suami saya seorang Pilot yang rutenya ke Singapura ini mas.”
“Wah enak dong Put, bisa bolak-balik gratis ke sini. Ngomong-ngomong kamu sudah punya anak berapa ?”.
“Waduh saya malu mengatakannya mas.”
“Kenapa harus malu Put, justru kamu harus bangga dong.”
“Saya sudah punya anak tiga. Dua laki-laki dan satu perempuan.”
“Pasti yang laki-laki gagah seperti ayahnya, dan yang perempuan pasti secantik ibunya.”
“Kata orang sih begitu mas, apa lagi anak saya yang perempuan, mirip sekali dengan saya. Bukan hanya itu saja, dia juga memiliki bakat yang sama dengan saya.”
“Maksudnya dia juga pandai menari ?”.
“Ya begitulah mas.”
“Itu yang namanya buah tidak jatuh dari pohonnya, kamu beruntung sekali ya Put.”
“Ya mas, mas Firman sendiri sudah punya anak berapa mas ?” Tanya Putri.
Firman terdiam dan duduk di kursi sambil menundukan kepalanya. Wajahnya berubah menjadi mendung laksana mau turun hujan. Putri menatap wajah Firman penuh tanda tanya.
“Apa ada ucapan saya yang salah mas ?”.
Firman menarik napas, lalu mengangkat wajahnya sambil memandang Putri.
“Sampai hari ini saya masih hidup sendiri Put.” Ucap Firman pelan.
“Maksudnya sampai sekarang mas Firman belum menikah ?! Kenapa mas ?!” tanya Putri tak percaya.
“Ya Put, sampai hari ini saya belum bisa melupakan kamu. Semenjak berpisah dengan kamu, kamu selalu hadir dalam mimpi. Bayang-bayang kamu selalu hadir ke mana saja saya pergi. Bahkan bertahun-tahun saya telah mencari mu. Hingga akhirnya kita bertemu di sini.”
“Apa mas ?! Tanya Putri menyela.
“Ya Put, selama bertahun-tahun saya telah mencari kamu, tapi kamu yang saya cari tak kunjung jumpa.”
“Kenapa kamu melakukan itu mas ?” tanya Putri sedih.
“Itu bukan kemauan saya Put, selama ini saya sudah berusaha untuk melupakan kamu. Tapi kamu selalu hadir dalam mimpi, Itu yang membuat saya sangat tersiksa.”
“Maafkan saya Mas.”
“Hingga suatu ketika saya pergi ke desa di mana kamu pernah tinggal. Namun saat itu saya malu untuk bertanya perihal dirimu ke orang tua mu. Lalu saya pergi ke beberapa teman kamu dan saya dapat informasi bahwa kamu bekerja di sebuah perusahaan triplek di Lampung.” Ucap Firman melnjutkan ceritanya.
“Terus Mas Firman Pergi ke sana ?”.
“Ya, saya pergi ke perusahaan itu, tapi ternyata kamu sudah tidak bekerja lagi di sana.”
“Sampai sejauh itukah perjuanganmu mencari saya mas ?”.
“Bukan hanya itu saja Put, saya juga pernah bekerja di sebuah perusahaan di tangerang, sambil mencari informasi tentang kamu. Dengan harapan saya bisa menemukan kamu. Tapi lagi-lagi saya harus menelan kekecewaan. Kamu menghilang bagaikan di telan bumi.”
“Maafkan saya mas, saya tidak tahu.” Ucap Putri sambil menangis tersedu-sedu.
“Lalu saya kembali ke Lampung dan melanjutkan kuliah. Pada saat semester tujuh, entah mengapa kampus memutuskan Kuliah Kerja Nyatanya di dekat desa kamu Put. Saat itu saya baru memberanikan diri berkunjung ke rumahmu. Di sana saya bertemu dengan ayahmu.”
“Mas Firman ketemu ayah ?” tanya Putri.
“Ya, saya bertemu bapak di rumah, tapi saya tidak ketemu dengan ibu. Katanya ibu masih menunggu toko.”
“Terus apa kata ayah ?” tanya Putri lagi.
“Bapak memberi tahu kalau kamu sudah menikah dan ikut suamimu ke Bali. Mendengar berita itu hati saya hancur dan putus asa Put. Lalu dengan perasaan sedih saya pulang sambil menangis.”
“Maafkan saya mas, saya tidak tahu kalau kamu masih mencintai saya. Semenjak kita pisah, saya pikir mas Firman benar-benar telah melupakan saya mas. Maafkan saya mas.”
“Tidak ada yang perlu di maafkan Put, mungkin ini sudah jalan hidup saya.”
“Terus kenapa mas Firman tidak mau menikah ?” tanya Putri sambil bercucuran air mata.
Melihat Putri menangis, Firman mengeluarkan sapu tangan dan mengusap air matanya.”
“Terima kasih mas, kamu masih perhatian seperti dahulu. Kebaikan kamu juga mas yang membuat saya tidak bisa melupakan kamu.”
“Kalau kamu juga tidak bisa melupakan saya, lantas mengapa kamu tidak mau memberi kabar Put ?!” ucap Firman dengan nada tinggi.
“Bagaimana saya mau memberi kabar ke kamu mas ? Saya sendiri kehilangan jejak kamu. Saya juga tidak tahu ke mana mas Firman pergi setelah lulus ?”.
“Tapi kamu tahu kan kalau saya sangat menyayangi kamu ? Kenapa kamu juga tidak mau memperjuangkannya ?”.
“Semua itu bukan tanpa sebab mas, saya tahu itu ? Masalahnya adalah agama dan keyakinan kita yang berbeda mas. Mana mungkin kita bisa bersatu ?” ucap Putri semakin sedih.
Firman tak berani mendesaknya. Ia hanya bisa memandang wajah orang yang sangat dicintainya dengan mata berkaca-kaca.
“Maafkan saya ya mas, saya harap mas Firman tidak berlarut-larut dalam kesedihannya. Mas Firman harus memikirkan masa depan kamu mas ?”.
“Sudah terlambat Put.”
“Tidak ada kata terlambat mas, ini demi saya mas. Jangan biarkan saya semakin merasa bersalah pada mas Firman. Pikirkanlah mas ?”.
“Saya sudah berusaha membuka hati untuk orang lain Put. Tapi hati ini tak bisa berbohong. Saya masih menyayangimu dan tak bisa menerima orang lain di hatiku. Biarlah hati ini menjadi milik mu untuk selama-lamanya. Walaupun saya sadar kamu sudah milik orang.”
“Begitu besar rasa sayangmu pada ku mas ? Hingga mas Firman rela hidup dalam kesendirian ?”.
“Jangan pernah kamu pikirkn itu Put. Izinkanlah saya untuk selalu menyayangimu untuk selamanya, sampai maut memisahkan kita.”
“Cukup mas ! Jangan katakan itu lagi ! Kata-katamu membuat saya semakin sedih.”
Putri tak mampu lagi membendung rasa sedihnya. Setelah mendengar cerita Firman, Ia menangis dan bersandar di bahu Firman. Firman mengusap air matanya yang telah membasahi pipinya. Tangisannya semakin menjadi dan tubuhnya mulai lemas. Firman menyangga tubuh Putri dan membelai rambutnya. Ia berusaha membuatnya tenang.
“Sudah, sudah, jangan menangis lagi ya. Tangisan mu membuat ku semakin merasa sedih, saya tak sanggup melihat kamu menangis.”
“Maafkan saya ya mas, saya tidak bisa membayangkan betapa sangat tersiknya dirimu selama ini. Ini semua karena salah ku, coba waktu itu…”
“Sttt…, jangan diteruskan Put.” Firman memotong ucapan Putri sambil menutup bibirnya.
“Sekali lagi maafkan saya ya mas, mungkin mas Firman membenci ku ya ?” ucap Putri.
“Kamu adalah cinta pertama dan terakhir saya. Manalah mungkin saya sanggup untuk membencimu. Saya justru sangat bahagia mendengar kamu mendapatkan suami yang baik dan sangat bertanggung jawab. Melihat kamu bahagia saja itu sudah cukup bagi ku.”
“Terima kasih atas pengertiannya ya mas, sekarang saya sedikit merasa lega.” Ucap Putri sambil memperbaiki posisi duduknya.
“Sekarang kamu sudah merasa baikan kan ? Mari saya antar ke kamar ?”.
“Terima kasih mas.”
Putri menuju kamar ditemani Firman yang membawa barang bawaannya. Setelah itu Firman menyodorkan kartu nama lalu berpamitan.
“Saya pergi dulu ya Put.”
“Kamu mau ke mana mas ?”.
“Hari ini ada beberapa tempat yang harus saya kunjungi Put.”
“Kalau sudah selesai cepat ke sini ya mas ?”.
“Ok, dada…”
Lalu Firman pergi meninggalkan Putri. Dengan wajah berbinar-benar Putri mengantar Firman sampai ke loby hotel. Setelah Firman naik taxi, Putri kembli ke kamar lalu merebahkan tubuhnya. Napasnya turun naik membayangkan kenangannya dengan Firman. Kedua matanya menatap langit-langit mengingat kembali akan pertemuannya dengan Firman. Sebuah pertemuan yang secara tiba-tiba dan tak pernah di duga sebelumnya, setelah puluhan tahun mereka berpisah.
Pertemuannya dengan Firman bagaikan mimpi. Firman yang dulu kurus sekarang menjadi seorang laki-laki gagah berkulit bersih dan badannya semakin berisi. Hanya saja sikap dan tutur katanya yang tidak pernah berubah. Sikap dan tutur katanya begitu lembut dan sangat perhatian. Putri tenggelam dalam lamunannya ke masa silam. Masa di mana saat mereka masih duduk di bangku Sekolah. Bayangan itu silih berganti kembali hadir dalam benaknya.
Putri teringat kembali ketika mereka berperan menjadi sepasang pengantin Bali, dan diarak bagaikan Rama dan sinta. Putri tersenyum mengingat kenangan itu. Saat itu Firman mencuri pandang ketika Putri sedang memperbaiki posisi sanggulnya. Dengan leluasa Ia memandang wajahnya yang mulai bercucuran keringat. Putri sadar ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya. Hingga Ia pun berhasil menangkap basah kalau Firman sedang menatapnya.
Putri menoleh untuk memastikan kalau Firman benar-benar sedang memandangnya. Ketika itu Ia kalah cepat menarik pandangannya menghindar dari pemilik wajah cantik itu. Hingga mata mereka saling beradu pandang yang membuat Firman salah tingkah. Hari itu Putri juga teringat kembali saat ban sepedahnya kempes. Dengan tulus Firman membantu dan menemaninya sampai mereka berpisah di pertigaan jalan. Bayangan itu silih berganti sampai pada pertemuan yang baru saja terjadi.
Putri menarik napas mengingat satu persatu kenangannya dengan Firman sambil bergumam.
“Kasihan kamu mas, begetu banyak penderitaan yang telah kamu rasakan. Rasa sayangmu padaku, sampai kamu mengorbankan hidupmu sendiri. Tapi jangan kamu sangka saya telah melupakan kamu mas. Tidak mas Firman !. Sampai detik ini saya masih sayang kamu, saya masih seperti dahulu. Perasaan itu selama ini saya simpan rapat-rapat di dalam hati. Karena saya sadar, bahwa itu adalah rindu yang terlarang.” Gumam Putri sambil menangis terisak-isak.
Putri mengusap air matanya dengan sapu tangan milik Firman. Sapu tangan itu Ia cium berulang kali sambil membayangkan wajah Firman.
“Maafkan saya mas, kita tak mungkin mampu untuk menabrak dinding Tuhan yang begitu kokoh di hadapan kita. Biarlah cinta ini menjadi rahasia kita berdua untuk selamanya.” Gumamnya lagi.
Putri bangun dan duduk di atas kursi, matanya memandang detak jarum jam dindin. Jarum panjang dan pendeknya telah menunjuk angka dua belas siang. Putri meraih kartu nama yang diberikan Firman. Jari lentiknya mengambil ponsel genggam dan menelpon Firman. Terdengar nada sambung milik Firman” Tak Ingin Sendiri.”
Aku masih seperti yang dulu, menunggumu sampai akhir hidupku. Kesetiaanku tak luntur, hatipun rela berkorban untukmu dambaan hatiku. Nada dering itu terputus oleh suara Firman yang mengangkat ponselnya.
“Halo…, maaf ini siapa ?”.
“Halo mas ini Putri, mas Firman sudah makan belum ?”.
“Belum Put, bentar lagi. Soalnya masih ada acara lagi.”
“Jangan telan makan ya mas, nanti sakit loh.”
“Ya Put, kamu sendiri sudah makan belum ?”.
“Belum mas, tapi saya lagi pesan nasi kok.”
“Ya udah makan yang banyak ya ?”.
“Ya mas terima kasih.”
“Ok Put nanti kita sambung lagi ya ?” ucap Firman lalu menutup ponselnya.
Setelah makan siang, Putri duduk di kamarnya ditemani secangkir teh manis sambil nonton tv. Setelah itu merebahkan tubuhnya untuk menghilangkan suntuknya. Namun tiba-tiba Putri mendengar ketukan dari luar.
Tok, tok, tok…
“Siapa ?” tanya Putri.
“Saya Firman, Put.”
Mendengar Firman yang datang, Putri bangun dan membukakan pintu.
“Oh mas Firman, silahkan masuk mas.” Ucap Putri.
“Saya nunggu di luar saja Put.”
“Masuk aja mas nggak apa-apa.”
Rasanya kurang etis kalau saya masuk kamar kamu Put, saya di luar aja ya ?”.
“Dari dulu mas Firman tidak pernah berubah ya ? Sama seperti dahulu tidak neko-neko. Terima kasih ya mas sudah menjaga saya, Sampai kapan pun saya akan tetap hormat kepada mas Firman.”
“Jangan berlebihan menyanjung, nanti saya terbang loh, hehehe…”
“Memangnya mas Firman mau terbang ke mana mas, ? Hehehe…”
“Saya mau terbang ke bulan Put, kamu mau ikut ?”.
“Ogah ah.”
“kenapa nggak mau ikut ?”.
“Di bulan saya tidak bisa Shopping mas, hehehe…”
“Apa yang kamu cari di bulan ada semua kok Put ?”.
“Memangnya di bulan ada apa mas ?”.
“Ada batu kerikil, dan yang terpenting di sana udaranya hampa. Kita bisa melayang-layang ke mana saja. Seperti rasa hampa hatiku selama ini kepada mu. Jiwaku melayang selalu memikirkan kamu Put ? hehehe…”
“Mas Firman mulai ngaco deh mas. Oh ya ngomong-ngomong kita mau ke mana mas ?”.
“Selama beberapa hari ini saya tidak ada agenda lagi, saya siap menemani kamu ke mana saja ?”.
“Apa itu benar mas ? gimana kalau kita jalan-jalan saja mas ?”.
“Ok bos, siap !”.
Lalu mereka mengunjungi beberapa tempat sambil menikmati liburannya. Tempat wisata yang mereka kunjungi adalah Merlion Park dan beberapa tempat wisata lainnya. Marlion Park adalah patung dengan kepala singa dan berbadan ikan duyung yang selalu menyemburkan air, sebagai mascot negeri Singapura. Di tempat itu mereka mengabadikan momen indahnya lewat camera digitalnya.
“Fir kita ke patung singa itu yuk ?” ajak Putri yang diamini Firman.
Lalu keduanya mendekat dan bermain air. Firman berdiri di sebelah patung menirukan gayanya. Dengan serius Ia minum air mineral lalu menyemburkannya. Putri tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Firman yang sangat gokil. Kemudian Firman menghadap patung itu sambil menirukan gaya patung pancoran. Saat itulah Putri mengambil air lalu memercikan ke wajah Firman.
Firman tak mau kalah lalu berusaha mengambil air berusaha membalas. Namun belum sempat memercikan air, Putri sudah lari tunggang-langgang. Firman pun berusaha mengejarnya sambil tertawa terbahak-bahak.
“Awas kamu ya Put. Kamu mau lari ke mana ? Ha…,ha…,ha…”
“Tidak kena, he…,he…,he…” Ledek Putri.
Firman mengejar Putri yang larinya sudah melambat. Tidak perlu menunggu waktu lama, Firman berhasil mengejar Putri yang sudah kehabisan tenaga. Putri duduk bersimpuh di hadapan Firman sambil tertawa terbahak-bahak megangi perutnya.
“Udah mas saya menyerah, he…,he…”
Sementara Firman masih menggoda Putri sambil mengelitikinya. Putri kembali minta ampun agar Firman tidak menggodanya lagi.
“Hayo masih mau nakal lagi ha…?” goda Firman.
“Udah mas. Ampun mas, saya menyerah, he…,he…”
Melihat Putri minta ampun, Firman pun menghentikan candaannya. Ia duduk di sebelah Putri dan menatap wajahnya yang sudah bercucuran keringat. Firman mengambil sapu tangan lalu mengelap wajah Putri dengan lembut. Sementara Putri membiarkan Firman mengelap keringatnya.
“Sekarang sudah kering keringatnya Put.”
“Terima kasih ya mas, kamu baik sekali.” Ucap Putri sembari tersenyum.
“Sama-sama Put.” Jawab Firman singkat sambil mengelap wajahnya.
Putri menatap wajah Firman penuh haru. Ia sangat sedih orang yang sangat mencintainya sampai saat ini masih hidup melanjang. Sementara Firman masih mengelap wajah Putri yang mulai mengering.
Tepat jam enam sore keduanya kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Putri merebahkan badannya sambil mengecek hasil jepretan cameranya, lalu membersihkan tubuhnya. Rasa kantuk kini telah menggerogotinya hingga Ia terlelap dalam mimpinya. Sampai-sampai malam itu tidak mendengar dering ponselnya.
Putri baru terbangun ketika jam dinding di kamarnya berdering delapan kali. Ia meraba ponselnya sambil mengenakan kaca mata. Putri terbelalak melihat ponselnya ada beberapa panggilan dari Firman. Ia pun segera mengubungi Firman.
“Halo mas, maaf semalam saya tidak mendengar panggilan mas Firman.
“Tidak apa-apa Put, mungkin karena kamu kecapean ya.”
“Ya mas saya kecapean. Setelah makan saya ngantuk berat dan langsung tidur mas.”
“Wa, wah. Berarti pulas dong tidurnya semalam.”
“Ya mas. Mas Firman sendiri tidur jam berapa semalam ?”.
“Tidur jam satu Put.”
“Kenapa tidurnya selarut itu mas ?”.
“Ya semalam ada agenda yang dan baru sampai jam dua belaas malam. Begitu sampai, saya langsung telpon kamu. Eh ternyata kamu sudah tidur.”
“Pantesan kemarin mas Firman tidak ngebel saya. Saya mau ngebel takut mengganggu mas Firman.”
“Kemaren jadwalnya sangat padat Put, sampai-sampai saya nggak sempat ngebel kamu. Makanya selesai acara saya langsung ngebel kamu. Karena tidak diangkat saya paksakan untuk tidur. Tapi ternyata saya susah tidur.”
“Oh ya, pagi ini kita mau ke mana lagi Put ?”.
“Memangnya hari ini tidak ada kegiatan mas ?”.
“Ada sih tapi tapi kegiatannya tidak begitu urgen. Kira-kira kita mau main ke mana pun ?”.
“Mendingan mas Firman main ke sini aja deh mas.”
“Baiklah Put nanti saya segera ke sana.”
“Terima kasih ya mas, saya tunggu.” Ucap Putri lalu menutup pnselnya.
Tidak lama kemudian Firman sudah sampai ke tempat Putri. Putri sudah rapi menunggu Firman di kamarnya. Begitu Firman datang Putri mengajaknya ngobrol di lobby hotel sambil memesan makanan.Keduanya terlihat sangat bahagia sambil bercerita tentang masa indahnya saat mereka sekolah bersama.
“Put kamu dulu kalau kecapean tumbuh bintik-bintik merah di wajah mu. Apakah kamu masih seperti itu ?”.
“Sudah tidak lagi mas ? Kok mas Firman masih inget sih ?”.
“Semuanya saya masih ingat Put. Saya masih ingat dengan aroma keringatmu dan saya suk itu.”
“Ih mas Firma nada-ada aja deh.”
Saya juga masih inget dulu rambut kamu panjang dan selalu dikepang dua. Terus kenapa sekarang rambutmu jadi pendek Put ?”.
“Saya juga sangat suka dengan rambut saya yang panjang mas. Tapi setelah jadi ibu-ibu saya kurang telaten mengurusnya karena kesibukan. Makanya saya potong rambut, agar praktis mas.”
“Oh itu masalahnya ?”.
“Menurut mas Firman, cocoknya saya model rambut yang mana ?”.
“Model rambut apa saja kamu tetap kelihatan cantik Put.”
“Ah mas Firman bisa aja.”
“Kalau saya sih suka dengan rambut yang panjang, kamu akan terlihat sangat cantik dan keibuan.”
“Kata orang juga begitu mas, katanya saya lebih cocok berambut panjang. Tapi masalahnya ribet ngurusnya mas, he…,he…”
“Kalau ribet jangan dipksakanlah Put. Yang penting tidak mengganggu aktivitasmu.
“Ya mas, terima kasih ya.”
Disaat mereka sedang asyik ngobrol tiba-tiba ponsel Firman berbunyi. Firman langsung mengangkat ponselnya. Ternyata hari ini ada jadwal mendadak yang dimajukan.
“Telpon dari siapa mas ?” tanya Putri.
“Telpon dari ketua rombongan Put, katanya ada jadwal yang dimajukan, dan saya harus ke sana.”
“Kamu ke sana aja mas, nanti ngobrolnya dilanjut lagi.”
“Baiklah Put, saya pamit ya.”
“Ya mas hati-hati di jalan.”
Firman lalu pergi meninggalkan Putri. Sedangkan Putri kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Pagi harinya Firman baru menghubungi Putri lewat ponselnya.
“Halo Put, pagi ini kamu jadi pulang nggak ?”.
“Ya mas jadi., Mas Firman bisa ngantar saya ke bandara nggak mas ?”.
“Bisa. Rencananya hari ini kamu pulang jam berapa ?”.
“Jam sepuluh mas.”
“Ok, saya ke sana sekarang.”
Tepat pukul Sembilan pagi Firman sudah sampai di kamar Putri. Putri membuka pintu dan mempersilahkan Firman untuk masuk. Firman masuk lalu menggeser kursi dan duduk di samping pintu.
“Kamu sudah siap Put ?” sapa Firman.
“Sudah mas.” Jawab Putri.
“Mana barang bawaan kamu ?”.
“Itu mas. Tapi saya aja yang bawa takut merepotkan kamu mas.”
“Tidak apa-apa Put, sekali-kali bolehkan ?”.
“Baiklah mas, mari kita berangkat ?”
Keduanya berjalan kaki menuju taxi yang telah mereka pesan. Taxi itu melaju kencang membawa dua insan yang sudah lama baru bertemu. Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di bandara, lalu keduanya duduk di ruang tunggu.
“Terima kasih ya mas kamu sudah mau ngantar ke bandara. Kapan-kapan berkunjunglah ke Bali Mas.” Ucap Putri basa-basi.
“Do’akan saja suatu ketika saya bisa berkunjung ke sana ya Put. Tapi kalau pun tidak bisa ke sana, kita bisa saling kontek melalui ponsel.”
“Ya mas.” Jawab Putri.
Beberapa menit setelah mereka berbincang-bincang, pesawat yang akan membawa Putri sudah tiba di bandara. Putri berdiri dan berpamitan dengan Firman.
“Mas saya berangkat ya, sekali lagi terima kasih ya kamu sudah mau mengantar saya.” Ucap Putri.
“Ya sayang hati-hati ya.”
“Apa mas ? Tolong ulangi lagi ucapan itu ?” Pinta Putri.
“Hati-hati sayang, dan jaga diri baik-baik ya. Saya akan selalu merindukan kamu.”
“Terima kasih ya mas, untuk pertama kalinya mas Firman mengucapkan kata sayang untuk saya. Kalaimat itu sangat indah kedengarannya, dan saya sangat menyukainya. Saya juga sayang dengan mas Firman.”
“Maaf ya Put kalau saya terlalu lancang mengucapkan kata-kata itu.”
“Tidak apa-apa mas, saya justru sangat senang sekali mas Firman mau memanggil sayang.” Ucap Putri lalu menggenggam tangannya.
Dua insan yang telah berpisah puluhan tahun ini telah bertemu di bandara ini, dan hari ini mereka akan kembali berpisah. Keduanya berpegangan tangan sangat erat, seolah tak ingin berpisah lagi.
“Mas Firman maafkan saya ya. Selama ini telah membuat mu susah. Tapi perlu mas Firman ketahui, sampai saat ini saya juga masih sayang dengan mas Firman. Walaupun saya tahu itu adalah rindu yang terlarang mas.”
“Tidak apa-apa sayang. Setidaknya rasa rindu ini telah terobati. Saya ihlas jika suatu ketika nyawaku akan pergi meninggalkan raga ini, dan saya tidak akan mati gentayangan. Karena saya telah menemukan mu sayang.”
“Jangan berkata begitu mas, kata-katamu seolah ini adalah akhir dari segalanya. Saya berharap pertemuan kita bukanlah untuk pertama dan terakhir kalinya. Saya yakin kelak kita akan bertemu lagi mas.”
Firman menatap wajah Putri penuh haru. Keduanya beradu pandang dengan cucuran air mata. Seolah berkata bahwa ini adalah pertemuan terakhir kalinya dan tak akan pernah bertemu lagi untuk selama-lamanya.
Putri memeluk Firman tak sanggup untuk berpisah. Dengan cucuran air mata Ia menyalahkan takdir.
“Mas, kenapa kita ditakdirkan untuk bertemu dan hari ini kita harus berpisah lagi ? Ini tidak adil untuk kita mas. Saya benci dengan takdir ini.”
“Ya inilah takdir kita yang harus dijalani dengan lapang dada. Mungkin ini sudah kehendak Sang Pencipta Put. Kita harus ikhlas, mungkin kelak kita akan dipersatukan di alam yang lain Put.”
“Ya mas.” Ucap Putri sambil memeluk erat lalu melepaskan Firman.
“Saya berangkat dulu ya mas, selamat tinggal mas. Saya sayang kamu mas.” Ucap Putri sembari melambaikan tangan.
“Hati-hati di jalan sahabat kecil ku. Hati-hati di jalan kekasihku.” Ucap Firman sembari melambaikan tangan.
“Ya mas, hati-hati juga. Saya akan selalu merindukan kamu mas. Saya pergi dulu ya ?” teriaknya.
Firman masih terpaku memandang Putri yang telah pergi meninggalkannya. Sambil terus melambaikan tangannya, Firman menatap Putri sampai hilang ditelan awan berkabut.
Dengan perasaan sedih Ia meninggalkan bandara dengan langkah gontai tak bersemangat. Seolah separu raganya hilang untuk selama-lamanya. Kemudian Firman naik taxi dan melanjutkan agendanya. Namun Firman tampak tak bersemangat selama mengikuti Study banding. Ia lebih banyak diam dan terlihat murung. Hingga akhirnya Firman kembali lagi ke Lampung dan buru-buru menghubungi Putri.
“Halo Put, apa kabar ?”.
“Baik mas, mas Firman di mana sekarang ?”.
“Saya baru saja sampai Lampung Put.”
“Syukurlah mas kalau sudah sampai, sekarang mas Firman istirahat dulu, dan jaga kesehatan ya ?”.
“Ya Put terima kasih.” Ucap Firman lalu menyudahi percakapannya.
Firman kembali menjalani aktivitasnya sebagai seorang pendidik. Hari-harinya Ia lalui bersama murid-muridnya. Pekerjaannya sebagai seorang guru sangat Ia nikmati. Waktu berputar begitu cepat, sampai-sampai merasa kekurangan waktu.
Di saat sekolah sedang libur Firman selalu merindukan Putri. Dikala rindu datang Firman hanya bisa nelpon Putri, berharap bisa ngobrol untuk menghilangkan rasa penatnya. Hari itu sudah dua kali panggilan namun Putri belum juga mengangkatnya. Mungkin karena Putri sedang bersama keluarganya, sehingga tak mau diganggu. Setelah beberapa lama ponsel Firman pun berdering.
“Maaf sedang kumpul mas.” Jawab Putri memberi isyarat agar tak menghubunginya.
Firman mengurungkan niatnya tak menghubungi Putrid an mengisi kepenatannya dengan membaca. Tidak seperti yang lain waktu liburnya berkumpul dengan keluarga. Mengingat hidup seorang diri tanpa seorang kekasih. Hingga sampai batas waktu titik jenuhnya Ia kembali menghubungi Putri. Berkali-kali panggilan Firman dirijek, disusul bunyi nada sms di ponselnya.
“Maaf saya tidak bisa menjawab panggilan dari mas Firman.”
Firman sangat maklum bahwa Putri sudah tidak sendiri lagi. Ia hanya bisa berharap menunggu Putri menghubungi balik. Namun harapan itu pupus lantaran Putri sama sekali tak menghubunginya. Firman kembali menghubungi Putri disaat jam kerja. Kali ini Putri mengangkat ponselnya melalui VC. Firman sangat girang sekali bisa melihat Putri.
“Halo mas, saya lagi di dalam kelas nih.” Sapa Putri sembari melambaikan tangan.
“Halo Put, saya sedang beristirahat. Apa kabar Put ?”.
“Kabar baik mas. Mas Firman sendiri gimana ?”.
“Baik juga Put. Kamu sudah makan belum ?” tanya Firman.
“Sudah mas. Mas Firman juga jangan telat makan ya, nanti sakit loh.”
“Ya Put terima kasih.”
“Sudah dulu ya mas, lain kali kita sambung lagi.” Ucap Putri lalu melambaikan tangannya.
Firman tersenyum membalas lambaian Putri. Hari ini Firman sangat bahagia, rasa ridunya telah terobati. Di dalam kelas Ia senyum-senyum sendiri sampai lupa ada siswa yang sedang memperhatikannya. Namun kebahagiaan Firman berjalan hanya sekejab. Karena Putri sudah tidak mau mengangkat dan menelpon balik. Padahal Ia sangat merindukannya. Menurut informasi yang didapat dari Ketut ternyata Putri mengalami kecelakaan.
Sepeda motor yang dikendarainya tertabrak mobil dari belakang hingga salah satu tulang rusuknya patah. Ia pun harus dirawat selama beberapa bulan di rumah sakit. Firman sangat panik ingin menyusul ke Bali namun tak tahu alamatnya. Mau menghubungi ponselnya tapi takut yang mengangkat suaminya. Ia hanya bisa pasrah sambil berdo’a untuk kesembuhannya.
Detik demi detik, Firman memantau kesehatan Putri lewat Ketut. Hingga Firman menerima kabar bahwa kesehatan Putri mulai pulih. Mendengar berita baik itu Firman sujud syukur kepada Sang Pencipta atas terkabul do’anya. Sambil menggenggam ponsel, Firman mondar-mandir ingin menghubungi Putri. Tiba-tiba ponselnya berdering ada yang menghubunginya, dan ternyata adalah Putri. Dengan terbatah-batah Ia menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya.
“Mas Fir…man, saya habis kecelakaan.”
“Saya sudah tahu Put, saya panik begitu mendengar berita itu. Saya mau ke sana tapi tidak tahu alamatnya, saya meu ngebel tapi takut suamimu yang mngangkat. Gimana kondisi kamu sekarang Put ?”.
“Tidak usah panik, saya sudah baikan mas. Mas Firman tahu dari mana kalau saya kecelakaan ?”.
“Saya tahu dari Ketut teman kamu, saya juga memantau perkembangan kamu setiap hari lewat dia.”
“Terima kasih ya mas, do’akan saya agar cepat sembuh seperti sedia kala.”
“Ya Put, obatnya diminum dan jangan lupa istirahat.”
“Ya mas terima kasih.”
Satu bulan kemudian Firman menghubungi Putri yang ternyata sudah pulang dari Rumah Sakit. Putri sudah delapan puluh persen dinyatakan sehat oleh dokter. Firman merasa lega mendengar kabar kesembuhannya. Ia sering menghubunginya untuk menanyakan tentang kesehatan Putri. Sampai akhirnya Putri telah sembuh total dan sudah beraktivitas kembali.
Setelah Putri sembuh, hampir setiap hari Firman menghubunginya hanya sekedar melepas rindu. Sehari saja Putri tak memberi kabar, Firman sangat menghawatirkannya. Sampai-sampai Ia menghubunginya di waktu yang kurang tepat. Disaat mereka sedang ngobrol, tanpa sadar percakapan mereka diketahui Nyoman suami Putri.
Rupanya dari tadi Nyoman menguping obrolan mereka. Terjadilah percekcokan dan pertengkaran hebat antara Putri dan suaminya. Percekcokan yang dilatar belakangi api cemburu itu hampir saja berujung pada proses perceraian. Nyoman mengancam akan menceraikan Putri jika Ia tidak mau menceritakan hubungannya dengan Firman.
“Siapa Firman itu Put, Jawab !?” desak Nyoman.
“Firman teman kecil saya waktu di kampung, Bli.”
“Jangan bohong kamu Put !”.
“Saya tidak bohong Bli, dia teman saya waktu masih sekolah.”
“Bohong kamu ! Itu pasti selingkuhan kamu kan ?”.
“Tidak, Bli. Mas Firman adalah teman saya sejak kecil, dialah yang selalu menjaga saya waktu masih sekolah, dia orang baik Bli.”
“Kamu ketemu dia di mana ? Jangan-jangan selama ini kamu selingkuh di belakang saya ?”.
“Tidak Bli, kami telah berpisah puluhan tahun yang lalu. Itu terjadi setelah kami lulus sekolah.”
“Lalu dari mana dia punya nomor kamu ha…?”.
“Mungkin dari Ketut teman saya Bli.”
“Awas ya kalau kamu bohong ! Mulai hari ini saya tidak mau lagi melihat kamu berhubungan dengan Firman. Kalau tidak, kamu akan saya cerai ! Camkan itu !” Ancam Nyoman lalu pergi meninggalka Putri.
Semenjak itu Putri sudah tidak mau lagi menerima telpon dari Firman. Terakhir kalinya Putri mengirim pesan lewat sms ke Firman memberitahukan bahwa Ia sudah tidak bisa lagi menerima panggilan darinya.
“Maaf ya saya sudah tidak bisa lagi mengangkat ponselnya.”
Firman merasa galau dan sangat kesepian, rasa rindunya kepada Putri Ia simpan di hati. Ia pun bermimpi tentang Putri yang sedang menangis tersedu-sedu minta tolong.
“Mas Firman tolong saya, mas.” Ucap Putri dalam mimpinya.
Firman terjaga dari tidurnya dan berusaha mengartikan mimpinya.
“Ada apa dengan kamu Put ? Apakah ini pertanda buruk untuk kamu ?” gumamnya.
Firman mengambil ponsel berniat mengirim sms. Tapi Ia mengurungkan niatnya karena takut akan membuat masalah baru untuk Putri. Dua insan yang saling merindu itu pun kini sudah tidak pernah lagi saling berkomunikasi. Padahal sudah beberapa hari ini Putri menunggu kabar dari Firman. Rasa rindunya kepada Firman Ia tutupi rapat-rapat agar tidak diketahui Nyoman.
Putri sangat kepikiran dengan Firman. Tidak seperti biasanya malam itu Ia susah tidur, dan sangat gelisah sekali. Sudah berulang kali menutup matanya tapi pikirannya melanglang buana teringat pertemuannya dengan Firman di negeri seribu larangan. Ia juga teringat moment indahnya ketika berkunjung di beberapa tempat wisata di sana. Satu-persatu kenangan itu tak Ia lewatkan, sampai akhirnya Putri pun terlelap tidur.
Dalam tidur Ia bermimpi melihat Firman dibawa oleh Ratu Selatan ke istananya menggunakan kereta kencana. Setelah itu Ia dimandikan bunga tujuh rupa, dan didandani ala pengantin. Pakaian yang dikenakannya seba putih. Di kepalanya dipakaikan mahkota raja oleh beberapa perempuan cantik. Setelah itu disandingkan dengan penguasa Ratu Selatan yang diiringi oleh tarian.
Firman terlihat sangat sedih, wajahnya pucat dan pandangannya hampa. Ia tampak tak sadar apa yang sedang terjadi pada dirinya. Putri berteriak memanggil Firman untuk menyadarkannya. Namun teriakannya tak mampu menyadarkan Firman. Ia tetap diam tidak mendengarnya sama sekali.
“Mas Firman…, mas Firman…, sadar mas…”
Teriakan itu sampai ke telinga Putri dan membangunkan dari mimpinya. Putri terjaga dari tidurnya, Ia mengingat kembali apa yang baru saja terjadi.
“Ya Jagat Dewa Batara, sekarang kan malam jum’at kliwon. Apa arti di balik mimpi itu ? Lindungilah dia, jagalah dia.” Gumamnya.
Meskipun Putri menganggapnya itu hanya bunga tidur, tapi Putri khawatir sesuatu bakal terjadi pada Firman. Ia pun mengambil ponselnya lalu menghubungi Firman. Akan tetapi ponselnya sedang tidak aktif.
KABAR DUKA
Malam semakin larut, hati Firman terasa kalut. Sementara waktu telah menunjukan pukul satu dini hari. Malam itu Firman tak bisa tidur, pikirannya melayang tak menentu. Berulang kali Ia mengusir rasa kalutnya, duduk di bawah pohon rambutan. Pandangannya hampa menatap rembulan yang diselimuti kabut berarak membentuk sebuah gugusan.
Hatinya berbalut sepi, ditemani butiran kabut yang membisu. Sementara hatinya tersiksa menahan rindu yang tak bertepi. Bayangan Putri malam ini mengusik dirinya. Firman berusaha mengusir bayangan itu agar enyah dari hidupnya. Bibirnya mengkerut menciut, menggigil menahan dingin. Hatinya resah dan gelisah dicengkeram rasa kerinduan yang mendalam.
Pakaian yang dikenakannya telah basah kuyup oleh tetesan embun yang menerobos sela-sela dedaunan yang mulai mengering. Firman memandang kabut tipis yang tertiup angin sambil mengusir bayangan Putri. Bayangan itu selalu bersemayam dalam benaknya yang mumbuatnya tak dapat tidur.
Kini wajah Firman terlihat semakin pucat. Pandangannya kosong digerogoti keputus asaan. Ia beranjak dari tempat duduknya dan masuk rumah sambil menyandarkan tubuhnya. Malam itu Firman sedang berjuang keras memejamkan mata berusaha untuk tidur. Perlahan Ia pun terlelap. Namun baru saja terlelap, Firman dikagetkan suara bising RX King milik Daeng. Pagi-pagi sekali Daeng datang mengajak Firman mancing.
“Fir…, Fir…, mancing yuk ?” sapa Daeng lalu mendorong pintu dari luar.
“Aduh Fir…, kenapa kamu masih tidur ? Kenapa wajahmu sangat pucat Fir ? Kamu lagi kalau Ya ? Yuk mendingan kita mancing ?” ajak Daeng.
“Mau mancing ke manalah Daeng ?”.
“Kita mancing ke pesisir yuk sambil refresing ?”.
“Kamukan tahu saya tidak bisa berenang Daeng, kamu ngeledek saya ya ? Lagian saya tidak punya pancingnya.”
“Hahaha…, kamu ada-ada saja Fir. Memangnya saya nyuruh kamu untuk berenang di laut ? Kita nyebrangnya naik perahu Fir. Masalah pancing tenang saja, sudah saya siapkan. Kamu tinggal ikut saja Fir.”
“Kalau begitu saya ikut Fir, tapi saya mandi dulu ya ?”.
“Tidak usah mandi Fir…, mandinya di laut aja sambil nyemplung, ha..,ha….”
“Sembarangan kamu Daeng, memangnya saya anjing laut apa ?” ucap Firman lalu pergi ke kamar mandi.
Sementara Daeng senyum-senyum kecil melihat tingkah Firman yang lucu. Tidak lama kemudian Firman keluar dengan pakaian rapih lengkap dengan perbekalannya.
“Hahaha…, kamu mau mancing apa mau ke kantor Fir ?”.
“Apa ada yang lucu dengan saya, Daeng ?”.
“Lucu lah, kita kan mau ke laut, masa pakaian kamu rapih sekali seperti orang kantoran ?”.
“Biarin Daeng, nanti saya nyalin lagi di sana ?”.
“Kita berangkatnya lewat jalur laut bukan lewat darat Fir. Jadi tidak ada orang yang akan memandang mu. Paling-paling ikan sambil ngeledek mu Fir, hahaha…”
“Hust kamu jangan bilang begitu Daeng, kamu tidak tahu sih apa yang sedang saya pikirkan ?”.
“Memang kamu sedang mikirin apa Fir ?”.
“Tahu nggak kenapa saya berpakaian rapih ? Karena saya akan bertemu dengan ratunya ikan Daeng.”
“Memangnya ikan punya ratu Fir ?”.
“Punyalah, namanya Ratu Laut selatan yang cantik jelita, hahaha...”
“Jangan ngaco begitu deh, Fir. Pemali tahu, tuhkan bulu kuduku jadi merinding.”
“Ngaco dari mana Daeng ? Yang saya maksud bukan ratu penjaga laut selatan, tapi saya akan bertemu Putri.”
“Sebegitunya cinta kamu pada Putri Fir, padahal sudah puluhan tahun kalian berpisah. Tapi yang ada dalam pikiran kamu hanya Putri saja. Memangnya tidak ada perempuan selain Putri apa ? Padahal belum tentu Putri mengingat mu. Apa lagi sekarang Putri sudah jadi milik orang, sadar Fir ?” ungkap Daeng.
“Jadi berangkat nggak nih, keburu saya berubah pikiran nanti.” Ucap Firman mengalihkan pembicaraannya.
Daeng mengengkol sepedah motornya, lalu melesat membawa Firman ke pantai. Di sana telah bersandar sebuah perahu kecil dan beberapa orang teman Daeng.
“Ok kawan kita berangkat.” Ucap Daeng memberi komando.
Daeng dan beberapa temannya mendayung menantang derasnya gelombang selat sunda. Beberapa jam kemudian mereka telah sampai di tujuan yang letaknya Mereka beberapa kilo meter dari anak gunung Krakatau. Mereka langsung melempar pancingnya dari atas perahu. Tarik ulur lempar, tarik ulur lempar begitulah kegiatan mereka. Namun belum ada satupun ikan yang tersangkut.
Sedangkan Firman masih berdiri menatap hamparan laut nan luas menghadap anak gunung Krakatau. Tiba-tiba Ia berteriak kencang memanggil Putri.
“Putri…, saya datang untukmu.”
Kemudian duduk bersila sambil memainkan air mirip anak kecil . Kedua tangannya menirukan suara gendang mirip lagu dangdut. Pak puk pak dut, pak puk pak dut.
“Kamu sedang apa Fir ? Kaya anak kecil aja deh. Lempar dong pancingnya, siapa tahu ikan-ikan itu doyan sama pancing kamu, hahaha…” Ucap daeng.
“Ya tuh pak Firman mainan air terus, kayaknya sih pak Firman sedang galau ya mikirin Putri, hahaha…” Ledek Ambo.
Ledekan demi ledekan mereka lontarkan kepadaFirman. Nmun Ia tetap cuek sambil memainkan air. Firman kembali berdiri tegak menatap riuh gelombang. Kedua tangannya membentuk sebuah terompet lalu di tempelkan ke mulutnya berteriak memanggil Putri.
“Woi…, woi…, Putri…, Putri…,kamu di mana…? Saya sayang kamu…” Teriaknya.
“Gila kamu Fir, ada-ada aja deh kamu. Memangnya Putri mendengar teriakan kamu ? ” ucap Daeng.
Firman masih cuek terus berteriak, tak memperdulikan ucapan Daeng. Setelah itu Ia duduk lalu melempar pncingnya. Dalam hitungan detik pancingnya dilahap ikan kakap berukuran besar. Firman mempermainkan ikan itu dengan menarik dan mengulur pancingnya sesuka hati. Setelah itu diangkat ke perahu dibantu Daeng dan Ambo. Firman memeluk kakap itu sambil bersorak kegirangan.
“Hore…, akhirnya saya dapat juga.”
“Hebat kamu Fir, saya saja yang dari tadi belum dapat seekorpun.
berkali-kali melempar pancing sampai sekarang belum ada satu pun. Lah giliran kamu langsung dapat, hahaha… ” Ucap Daeng.
“Pancing kamu juga bisa dapat kakap seperti saya. Asalkan pancing kamu saya beri jampi-jampi. Coba sini pancingnya ?” ucap Firman lalu meludahi pancingnya.
“Kamu apakan pancing saya Fir ? Kok di ludahin, jorok sekali sih kamu ini ?”.
“Coba sekarang lempar pancing kamu Daeng, dalam hitungan detik pasti ada ikan yang doyan sama pancing kamu, hahaha…”
“Ah kaya dukun aja kamu Fir…”
“Cobalah Daeng, lempar saja ?” ucap Firman lagi.
Daeng menurut saja apa yang dikatakan Firman. Ia pun melempar pancingnya. Dalam hitungan detik pancingnya ditarik oleh ikan besar. Daeng bersorak kegirangan sambil menarik pancingnya dibantu Ambo. Ternyata seekor kakap besar yang Daeng dapat.
“Benar juga apa kata kamu Fir. Ludah kamu memang bau. Eh salah maksud ku manjur, hahaha…” Ledek Daeng.
“Pak Firman tolong dong ludahi pancing saya juga ?” Ucap Ambo.
“Ludahi sendiri aja mas, Insya Allah pancing sampean dimakan ikan juga kok.” Jawab Firman.
“Ah yang bener Pak Firman ?”.
“Coba saja lempar mas Ambo ?”.
Tanpa banyak bicara Ambo melempr pancingnya. Benar saja pancing Ambo berhasil menjerat seekor kakap besar. Satu-persatu pancing mereka berhasil menjerat ikan-ikan itu.
“Hore…, Pak Firman hebat. Sekarang giliran pancing saya yang dimakan. Ludah pak Firman manjur deh, hahaha…” Ucap Ambo.
“Kamu jadi dukun sejak kapan Fir ? Hahaha…” Tanya Daeng.
“Sembarangan kamu Daeng, Saya bukan dukun, cuma para normal, Hahaha…” Jawab Firman sambil tertawa lepas.
“Apa bedanya dukun dengan para normal Fir ? Kamu ada-ada aja.”
“Ya benar. Ucapan pak Firman manjur sekali seperti dukun, hahaha...” Ambo menyela.
“Waktu Pak Firman berteriak memanggil-manggil Putri, apakah itu bunyi mantranya ya pak ?” tanya Agus.
“Wih…, sembiringan kamu Gus.” Jawab Firman.
“Bukan sembiringan pak, tapi sembarangan, hahaha...” Sahut Yanto.
“Maksud saya sembarangan. Kalian juga sih, masa Putri dibilang mantra ?”.
“Kalau Putri bukan mantra, terus Putri itu apa pak ?” tanya Ambo.
“Putri adalah…”
“Adalah apa pak ?” tanya Agus.
“Adalah…, rahasia dong, hahaha…”
“Ah pak Firman ini, pakai rahasia segala. Jangan disimpan sendiri pak. Nanti tumbuh jerawat loh.” Ledek Ambo.
“Kalau saya kasih tahu ke kalian itu namanya bukan rahasia mas Ambo.”
“Ya juga ya pak, terus namanya apa dong pak ?” tanya Ambo.
“Namanya…? Coba tanya Daeng saja.” Firman tak mau menjelaskan.
“Kok tanya saya, ogah ah, hahaha…” Jawab Daeng.
“Wih, Daeng menghindar dari pertanyaan tuh.” Ucap Firman.
“Bukan menghindar, tapi ogah mikirnya.” Ucap Daeng.
“Memang ya dari dulu kamu paling males kalau di suruh mikir.” Jawab Firman.
“Ngapain mikirin hal yang tidak penting, lebih baik kita mancing. Mumpung ikan-ikan ini lagi kelaparan.” Ucap Daeng sambil melempar pancingnya.
Hari itu mereka sangat bahagia menikmati liburannya. Namun kebahagiaan mereka berubah menjadi mala petaka lantaran dikagetkan oleh suara ledakan anak gunug Krakatau. Mereka panik lalu mendayung perahunya berusaha menjauh dari tempat itu. Namun sayang sekali perahu yang mereka tumpangi dihantam badai dan pecah berkeping-keping.
Mereka terlempar ke laut dan digulung ombak. Daeng menarik tangan Firman berusaha menyelamatkannya dan membawanya ke serpihan perahu. Di saat itu datang gulungan ombak dan kembali menghantam mereka. Tangan Firman terlepas dari Daeng dan Firman ikut tergulung ombak ganas itu. Mereka pun berpisah dan berusaha menyelamatkan diri.
Daeng terobang-ambing di atas pecahan perahu sampai beberapa hari. Daeng selamat setelah mendapat pertolongan dari nelayan setempat. Sementara Firman, Ambo, dan Agus masih belum diketahui keberadaannya. Pencarian korban Tsunami Selat Sunda terus dilakukan oleh tim Basarnas dan berhasil mengevakuasi ratusan korban diantaranya adalah Ambo dan Agus. Sedangkan Firman belum diketahui keberadaannya.
Sampai pencarian dihentikan jenazah Firman tidak diketemukan dan dinyatakan hilang. Mendengar itu, Daeng menangis histeris. Ia sangat terpukul telah kehilangan sahabat karibnya untuk selama-lamanya. Daeng menyesal dan merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Firman. Berita tentang Tsunami Selat sunda yang memakan ratusan korban jiwa sampai terdengar ke telinga Putri. Ia berusaha mencari tahu tentang peristiwa itu melalui Daeng.
“Halo Daeng ini Putri, saya mendengar telah terjadi Tsunami Selat Sunda, apa kalian baik-baik saja ?”.
“Saya berhasil selamat Put, tapi…”
“Tapi apa Daeng ?” tanya Putri.
“Firman…” Jawab Daeng terputus.
“Firman kenapa Daeng ?”.
“Firman hilang, dan mayatnya tidak ditemukan.”
“Apa…?” tanya Putri kaget.
“Maafka saya Put, saya tidak bisa menyelamatkan Firman. Coba saya tidak mengajak dia mancing, pasti dia akan baik-baik saja.” Paparnya sambil menangis meratapi kepergian Firman.
Mendengar Firman belum ditemukan, Putri menangis histeris. Daeng berusaha meyakinkan Putri bahwa Firman akan selamat.
“Saya yakin Firman masih hidup Put. Berdoalah agar dia cepat ditemukan.”
“Saya yakin Firman masih hidup Daeng. Sekarang juga saya mau ke Lampung.”
“Hati-hati di jalan Put.”
“Ya Daeng.” Lalu Putri menutup ponselnya.
Tepat jam empat sore Putri sudah tiba di Lampung. Dengan ditemani Daeng, Putri datang ke lokasi kejadian. Putri berdiri memandang puing-puing bekas runtuhan Tsunami. Sambil bercucuran air mata, Ia mengenang pertemuannya di Singapura dengan Firman. Putri tak menyangka bahwa itu adalah pertemuannya terakhir..
Putri teringat kembali akan ucapan Firman. saat itu Ia berkata bahwa Putri adalah cinta pertama dan terakhir kalinya sampai maut akan memisahkannya. Putri juga teringat akan ucapan Firman di saat mengantarnya di bandara. Firman berkata akan mati tersenyum setelah bertemu dengan Putri. Mengingat kenangan itu Putri semakin sedih.
“Jika saya tahu ucapan itu adalah tanda perpisahan kita, tentu tidak akan saya biarkan kamu untuk mengucapkan kata-kata itu mas. Jika kamu tidak mengucapkan kata-kata itu, saya yakin kamu tidak akan pernah meninggalkan saya mas.” Ucap Putri sambil menangis lalu pingsan tak sadarkan diri.
Daeng membawa Putri ke posko dan berusaha untuk menyadarkannya. Setelah Putri sadar, Ia kembali menangis sambil memanggil-manggil Firman.
“Mas Firman…, mas Firman…Jangan tinggalkan Putri mas. Maafkan Putri mas, saya tidak tahu kamu akan pergi untuk selama-lamanya mas. Saya menyesal saat itu saya tidak mau mengangkat ponsel kamu mas.” Ucap Putri menyesal.
“Daeng, sebelum Firman pergi apa ada tanda-tanda pada Firman ?” tanya Putri.
“Ada Put. Firman berpakaian sangat rapih katanya hari itu mau bertemu dengan penguasa Laut Selatan sambil terus memanggil kamu Put.” Papar Daeng.
“Apa ?” ucap Putri terkejut.
“Ya Jagad Dewa Batara, ternyata mimpi saya menjadi kenyataan.”
“Memangnya kamu pernah mimpi apa Put ?” tanya Daeng.
“Saya pernah bermimpi Firman dimandikan kembang dan didandani ala pengantin, lalu disandingkan dengan penguasa Laut Selatan. Firman berpakaian serba putih tapi wajahnya terlihat sangat pucat sekali. Dia juga terlihat tidak sadar apa yang sedang terjadi. Saya berusaha memanggil Firman untuk menyadarkan dirinya. Tapi sama sekali Firman tidak mendengar panggilan saya.” Papar Putri sambil menangis.
“Yang tabah ya Put. Mungkin ini sudah kehendak-Nya.” Jawab daeng.
“Firman juga pernah bilang kepada saya kelak kami akan dipersatukan di alam yang lain.”
“Firman sangat mencintai kamu Put. Hingga akhir hidupnya dia rela hidup melajang demi kamu Put.”
“Saya tahu itu Daneng. Cinta kami tidak bisa disatukan karena beda keyakinan. Semoga mas Firman tenang di alam sana mas.” Ungkap Putri sambil mengusap air matanya.
Setelah Firman dinyatakan hilang dan jenazahnya tidak ditemukan, Putri memutuskan pulang ke Bali dan menjalani hidupnya dengan penuh kesedihan. Ia sangat terpukul sekali kehilangan orang yang sangat dicintainya. Putri baru menyadari kehilangan dia untuk selama-lamanya sangat menyiksa hatinya. Ia pun berharap akan dipertemukan di syurga nanti.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
