Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ketika Cinta Menabrak Dinding Tuhan Bagian 2

Ketika Cinta Menabrak Dinding Tuhan Bagian 2

Oleh : Riswo, S.E., M.Si.

Saat Putri tahu kekasihnya telah pergi untuk selama-lamanya, isak tangisnya terdengar parau tertahan di bibir tipisnya. Pemilik sepasang mata indah itu meremas sapu tangan pemberian Firman, lalu mendekapkan di dadanya, sambil menciumnya berulang kali. Sementara air matanya tumpah, laksana air bah membanjiri pipinya.

Perempuan cantik yang sudah dikaruniai tiga orang anak itu menangis menderu-deru, bak suara gergaji chainsaw yang sedang memotong batang pohon raksasa. Entah sudah berapa lama ia menangis, sembari memanggil-manggil nama Firman.

“Mas Firman. Mengapa kamu tega meninggalkan aku mas ? Pedahal kita baru saja bertemu, setelah dua puluh sembilan tahun lamanya kita berpisah. Kamu tega mas,” gumam Putri, sambil berdiri menepikan tubuhnya pada dinding kamarnya.

Perempuan cantik beralis bulan sabit itu terus menangis meratapi kepergian Firman. Kini kakinya terlihat mulai gemetar dan tak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya, yang memiliki berat empat puluh sembilan kilo gram. Perlahan tubuhnya merosot ke bawah, dan bersandar pada dinding dengan posisi duduk jongkok.

Sementara kedua tangannya memeluk kedua lututnya yang dilipat membentuk segi tiga, untuk menyangga kepalanya yang serasa tertimpa oleh tiga kwintal karung beras. Sambil terus meratap, Putri tak henti-hentinya memanggil-manggil nama Firman.

“Mas Firman..., Mas Firman... Maafkan aku yang selama ini telah membiarkanmu hidup dalam kesendirian Mas. Aku dapat merasakan betapa tersiksanya hidupmu selama ini, Mas,” gumam Putri menyalahkan dirinya, sambil memukul-mukul dadanya.

Perempuan berdarah Bali yang memiliki nama lengkap Ni Made Putri Astuti, meluruskan kakinya ke lantai, lalu membuka matanya yang terlihat sembab. Sementara matanya kosong menerawang jauh ke depan. Untuk beberapa saat ia diam mematung entah apa yang ada di dalam benaknya. Setelah itu, ia kembali menatap sapu tangan yang ada dalam genggamannya.

Tiba-tiba ia terlihat cemas seperti orang kesurupan. Putri menangis meraung-raung seperti seekor induk harimau yang kehilangan anaknya. Entah sudah berapa lama ia menangis, sampai akhirnya tangisannya nyaris tak terdengar lagi, dan tenggelam dalam lamunannya. Putri tenggelam ke masa lalunya, saat dimana Firman mengira kalau dirinya adalah gadis BE.

Selain memiliki wajah cantik, Putri juga memiliki sepasang alis seperti bulan sabit, melingkar di atas mata lentiknya. Sementara pada kedua lengan tangannya ditumbuhi bulu-bulu halus. Ditambah lagi rambutnya yang panjang terlihat indah, saat tersapu oleh angin dan mengeluarkan aroma bunga melati yang terselip pada rambutnya. Ia bagaikan seorang bidadari yang turun dari kahyangan.

Tiba-tiba Putri tersenyum, teringat saat Firman mengira kalau dirinya adalah gadis BE. Remaja tampan yang sedikit pemalu itu rupanya terpesona akan kecantikannya. Secara diam-diam, Firman pun mencari tahu siapa Putri sebenarnya ? Lalu remaja yang dikenal cerdas itu memutar otaknya, dengan memanfaatkan jabatannya sebagai ketua OSIS. Hari itu Firman berpura-pura mengecek kebersihan di kelas Putri. Pedahal tujuan sebenarnya adalah untuk menguping pembicaraan Dayu dan Ketut, yang saat itu sedang membicarakan remaja cantik yang selalu mengganggu pikirannya.

Dari obrolan Dayu dan Ketut, Firman baru tahu kalau nama gadis itu adalah Putri. Setelah Firman tahu nama gadis itu adalah Putri, ia bergegas untuk meninggalkan kelas itu. Namun saat Firman membalikan badannya, tiba-tiba Putri sudah berdiri di hadapannya, hanya berjarak satu meter saja. Firman pun terkejut hingga Si Kutu Buku itu berdiri mematung, menatap sang pujaan hati.

Hal itu membuat Putri terasa gugup dan tersipu malu dibuatnya. Putri menutupi rasa gugupnya dengan melempar senyum senyum, sambil menyapa Firman dengan lembut.

“Kamu dari mana Fir ?” tanya Putri.

Firman yang masih terlena dalam buaian kecantikan Putri, tak mendengar sapaan gadis cantik itu. Firman masih terlihat bengong, menatap tajam gadis itu. Hal itu membuat Putri tak sanggup menatap remaja tampan penuh karismatik, yang ada di hadapannya. Seketika ia menundukan wajahnya, tak berani menatapnya.

Putri menarik napas panjang, mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi Si Tampan yang berdiri di hadapannya. Setelah itu kembali menyapa Firman yang masih hanyut dalam lamunannya.

“Kamu dari mana Fir ? Kok kamu bengong sih ?” tanya Putri lagi.

“I, i..., ya Put,” jawab Firman, gugup.

Putri kembali mengulangi pertanyaannya kepada Firman, yang baru saja tersadar dari lamunannya.

“Kamu dari mana Fir ?” tanya Putri lagi.

“Dari kelas Put. Ngecek kebersihan. Oh ya. Hari ini siapa sih yang piket di kelas ini ?” Firman balik bertanya.

“Memangnya ada apa dengan kelasku ?” tanya Putri sambil mengerutkan keningnya, seolah sedang berfikir.

“Hari ini kelasmu terlihat sangat rapih sekali. Siapa yang piket hari ini ?” tanya Firman lagi.

“Aku dong,” jawab Putri lega, dengan wajah berbinar-binar.

“Pantesan kelasmu hari ini terlihat rapih sekali. Wangi lagi. Rupanya kamu toh yang piket,” ujar Firman memujinya.

“Ah kamu memujinya terlalu berlebihan, Fir. Awas loh nanti aku terbang ke langit, hehehe... .” Ujar Putri.

“Beneran loh, kelas mu hari ini terlihat sangat rapih sekali. Bisa-bisa saya betah deh di kelas ini,” gurau Firman.

“Ah kamu ini pandai sekali menyenangkan hati orang, Fir. Oh ya Fir, istirahat nanti aku tunggu kamu di kantin ya,” ujar Putri.

“Baiklah Put. Nanti saya ke sana. Sekarang saya masuk kelas dulu ya. Sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai,” jawab Firman.

“Silahkan Fir. Nanti jangan lupa aku tunggu di kantin ya,” ujar Putri mengingatkan Firman.

“Ok, Put,” jawab Firman, lalu pergi meninggalkan Putri.

Sementara Putri masih menatap kepergian remaja yang mulai ditumbuhi kumis tipis itu. Kemudian ia kembali ke kelasnya untuk memulai jam pelajaran dipagi itu. Tanpa terasa jam dinding di sekolah telah menunjukan pukul sebelas tiga puluh. Tak lama kemudian terdengar bunyi bel tiga kali, pertanda jam istirahat telah tiba. Satu-persatu, siswa keluar dari kelasnya masing-masing untuk beristirahat.

Sedangkan Firman baru saja keluar kelas, dan menuju ke kantin yang dijanjikan Putri. Dengan langkah pasti, ia menghampiri gadis cantik berperawaakan langsing yang sudah lebih dahulu berada di kantin itu. Sambil tersenyum Firman menyapanya dengan lembut.

“Kamu sudah nunggu dari tadi ya Put ? Maaf ya, saya datang telat. Karena baru keluar kelas,” ujar Firman.

“Nggak apa-apa kok Fir. Yang penting kamu datang. Oh ya, kamu mau pesan apa ?” tanya Putri dengan wajah berseri-seri.

“Saya pesan es campur saja ya,” jawab Ketua OSIS itu.

“Bi, es campurnya pesan dua ya,” ujar Putri kepada pemilik kantin itu.

“Maaf cah ayu, es campurnya tinggal satu gelas lagi,” jawab Bibi kantin itu.

“Waduh. Kok bisa Bi,” sahut Firman.

“Maaf dek. Tadi ada yang memborongnya,” jawab Bibi kantin itu.

“Nggak, apa-apa Bi. Pesan satu aja,” timpal Putri.

“Ini cah ayu es campurnya,” ujar Bibi itu, lalu menyodorkannya ke Putri. Putri meraih es campur itu, lalu memberikannya ke Firman.

“Ini esnya Fir,” kata Putri.

Firman mengambil es campur itu, lalu menyerahkannya lagi ke Putri.

“Ini untuk kamu saja Put. Saya tidak haus kok,” ujar Firman, sambil tersenyum.

“Biar adil, kita minum samaan aja ya Fir. Bi pipetnya minta satu lagi ya,” ucap Putri.

“Ini pipetnya, cah ayu,” jawab Bibi Kantin itu, sambil menyodorkan pipet kepada Putri.

“Terima kasih Bi. Fir ini pipetnya. Yuk minumnya kita joinan saja. Nggak apa-apa kok,” kata Putri.

Dengan sedikit malu-malu, Firman menggeser duduknya menghadap Putri. Ia menyeruput es campur itu bersama Putri. Dua remaja itu tampak asyik menikmati segelas es campur, sambil bersendau gurau. Mereka terlihat sangat bahagia sekali.

Seiring berjalannya waktu benih-benih cinta kedua remaja itu mulai bersemi di dalam hati. Namun belakangan ini Firman baru tahu kalau Putri bukanlah gadis BE, melainkan gadis Pulau Dewata. Ia tahu saat Putri menampilkan Tari Pendet. Dimana seorang MC memanggilnya dengan sebutan, Ni Made Putri Astuti. Mendengar nama itu Firman tersentak kaget.

“Apa…? Nama dia, Ni Made Putri Astuti ? Jadi dia bukan orang Lampung, melainkan orang Bali ? Berarti dia tidak seiman dengan saya ? Aduh, ciloko iki !” teriak Firman sambil menepuk jidatnya.

Untung saja teriakannya tidak terdengar orang lain. Karena tersamarkan oleh suara gamelan yang mengiringi tarian Outri. Hari itu Putri menampilkan tari pendet, sebuah tari khas dari Pulau Dewata. Tari pendet adalah sebuah tari yang menjadi icon istimewa dari Pulau Bali. Tari pendet juga sebuah tari yang sangat disakralkan oleh masyarakat Hindu.

Putri sangat piawai menampilkan tariannya. Gerakannya lemah gemulai, lenggak-lenggok mengikuti irama. Bola matanya nakal melirik ke kanan dan ke kiri laksana bola pimpong. Kepiawaian Putri dalam menari sangat memukau semua penonton termasuk Firman. Sampai-sampai Firman tak sadar bertepuk tangan sambil bersorak, memberi semangat kepada Putri yang sedang menari.

Putri mengenakan kostum bercorak motif kuning ungu. Sementara rambutnya bersanggul mahkota, berhiaskan bunga kamboja dan cempaka. Dari kedua lengan tangannya terdengar gemericik suara gelang perak. Tangan kanannya memegang bokor berhiaskan janur kuning dan warna-warni bunga. Putri menaburkan bunga dari bokor sambil tersenyum kepada Firman. Lagi-lagi Firman bertepuk tangan memberi semangat kepada Putri. Melihat Firman sangat antusias akan tariannya, gerakan Putri semakin lincah dan matanya terlihat semakin genit.

Sejak Firman tahu kalau Putri bukanlah gadis Lampung, dia terlihat sangat sedih sekali. Karena Putri memiliki keyakinan yang berbeda dengan dirinya. Sehingga ia tak mungkin bisa melanjutkan hubungannya lebih jauh lagi dengan Putri. Sejak Firman tahu kalau Putri adalah gadis Pulau Dewata, ia sangat kecewa sekali.

Sejak itu ia berusaha membunuh benih-benih cinta yang ada di dalam hati, termasuk berusaha melupakan Putri. Sayangnya ia tak mampu untuk melupakan Putri, justru rasa cinta itu semakin besar tumbuh di dalam hati. Firman hanya bisa menangis, sambil memendam perasaannya kepada Putri. Namun demikian ia tak mau menyerah begitu saja untuk melupakan Putri. Ia berusaha menjauhi Putri dan lebih banyak menyendiri berteman sepi.

Sementara Putri yang merasa dijauhi oleh Firman, mencarinya ke sana ke mari. Dari balik jendela kelas, Putri melihat Firman sedang duduk menyendiri dan membaca buku di dalam kelas. Buru-buru ia menghampiri Si Kutu Buku itu, sambil menegurnya.

“Ke mana saja kamu selama ini, Fir ?Aku mencari kamu ke sana ke mari tapi tidak ada. Rupanya kamu di sini,” ujar Putri.

“Selama ini saya selalu di dalam kelas Put,” jawab Firman cuek.

“Idih…, ngapain aja kamu di dalam kelas, Fir ? Apa kamu tidak jenuh ya ? Atau memang kamu sengaja untuk menghindariku ? Apa salahku Fir ?” desak Putri.

“Kamu tidak punya salah apa-apa Put. Justru saya lah yang salah,” jawab Firman.

“Memangnya kamu punya salah apa denganku ? Kenapa kamu menyalahkan diri sendiri ? Bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja ? Coba katakan Fir ! Ada apa ?” desak Putri lagi.

“Sebenarnya diantara kita tidak ada yang punya salah Put,” jawab Firman tetap cuek.

“Terus apa dong masalahnya ! Kenapa kamu selalu berusaha menjauhi saya ?” desak Putri lagi.

“Takdirlah yang salah Put !” jawab Firman pelan.

“Kenapa kamu menyalahkan takdir, Fir ? Kenapa… ?!” desak Putri lagi.

“Udahlah Put, saya tidak mau membahas itu lagi,” jawab Firman sambil matanya berkaca-kaca.

“Kamu tega ya Fir, kamu bukanlah Firman yang pernah aku kenal dulu. Sekarang kamu telah berubah,” ujar Putri.

“Takdirlah yang memaksa saya harus menjauhimu,” jawab Firman.

“Aku bingung deh, Fir. Dari tadi kamu selalu bilang takdir-takdir. Memang ada apa sih, Fir ?” tanya Putri.

“Sekarang belum saatnya untuk mengatakannya.Tolong jangan paksa saya untuk menjawabnya, Put,” jawab Firman dengan nada tinggi.

Mendengar ucapan Firman yang tak seperti biasanya, Putri diam seketika, sambil menundukan kepalanya. Untuk sesaat suasana di kelas itu tampak lengang dan hening. Tak lama kemudian dengan suara parau, Putri kembali bicara.

“Kenapa sekarang kamu menjadi galak begitu Fir ? Aku jadi takut deh ?”.

Firman menarik napas panjang, berusaha menenangkan hatinya. Kemudian ia menatap Putri, lalu meminta maaf.

“Maafkan saya ya, Put. Saya terbawa oleh perasaan. Saya tidak berani untuk mengatakannya sekarang,” imbuhnya Firman lagi.

“Terus sampai kapan kamu akan merahasiakan sesuatu itu dari ku Fir, sampai kapan ?” desak Putri pelan.

“Apa kamu tidak akan marah kalau saya bicara jujur kepadamu ?” ucap Firman.

“Apapun yang akan kamu katakan aku tidak akan pernah marah Fir. Justru aku akan marah, jika kamu tidak berterus terang,” ujar Putri sedih.

“Baiklah akan saya katakan Put,” ujar Firman sambil menarik napas panjang.

Firman berusaha menggerakan bibirnya. Namun lidahnya keluh, serasa terkunci. Sementara pandangannya kosong menatap Putri. Putri sadar ada beban yang sangat berat yang sedang dihadapi oleh Firman. Ia pun tak tega melihat penderitaannya, dan mengurungkan niatnya untuk mendesak Firman.

“Kalau kamu berat untuk mengatakannya hari ini, tidak apa-apa Fir. Mungkin lain kali saja ya,” ucap Putri sambil menatap waja Firman yang terlihat pucat.

“Kamu sakit ya Fir ? Kenapa wajah kamu pucat sekali ?” tanya Putri sambil mengusap butiran keringat dingin yang menganak sungai di pipinya.

“Mungkin karena saya kurang istirahat Put, bentar lagi juga akan baikan kok ?” jawab Firman.

“Baiklah Fir, saya pergi dulu ya ?” ucap Putri lalu berdiri dari tempat duduknya, dan bergegas meninggalkan Firman. Namun tiba-tiba Firman menarik tangannya, membuat langkah Putri terhenti.

“Tunggu dulu Put. Saya akan mengatakannya sekarang,” ujar Firman.

“Baiklah Fir,” jawab Putri, lalu duduk kembali.

“Tapi saya harus memulainya dari mana, Put ? Saya bingung,” ujar Firman.

“Tidak usah bingung-bingung, Fir. Katakan saja apa yang harus kamu katakan,” jawab Putri.

Kemudian Firman menarik napas panjang, sambil menatap Putri. Remaja dengan sisiran rambut belah samping itu tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Sementara bibirnya gemetar berusaha menjawab pertanyaan Putri.

“Semenjak saya mengenal kamu, hubungan kita makin hari semakin dekat, dan saya merasa takut untuk kehilangan kamu Put,” ujar Firman jujur.

“Kenapa begitu Fir. Apa yang kamu takutkan ?” tanya Putri.

“Saya sangat menyayangimu Put. Tapi hubungan kita tak mungkin berlanjut,” jawab Firman.

“Kenapa tidak mungkin Fir ?” tanya Putri.

“Karena di hadapan kita ada sebuah dinding pemisah. Kita terlahir dari suku dan agama yang berbeda. Tak mungkin kita dapat bersatu Put,” terang Firman.

Mendengar jawaban Firman, Putri diam seketika. Wajahnya pun mendadak tegang. Firman kembali mengungkapankan perasaannya kepada Putri.

“Kamu adalah orang pertama yang bisa membuat saya bahagia. Kamu juga orang pertama yang membuat saya sangat menderita. Karena di depan kita ada dinding Tuhan yang akan memisahkan kita. Kita tak mungkin mampu untuk merobohkannya,” terang Firman.

“Mengapa kamu menyerah begitu saja, Fir ? Kenapa tidak kamu perjuangkan,” ujar Putri, sambil mencengkeram pundak Firman, lalu mengguncang-guncang tubuhnya.

“Terus saya harus bagaimana Put ?” tanya Firman pelan.

“Mestinya kamu tidak menyerah dulu Fir. Biarlah kita jalani dulu, sampai….?”.

“Sampai kapan ?!” ucap Firman menyela.

“Sampai kita dewasa Fir. Siapa tahu kita akan menemukan jalan keluarnya,” ujar Putri.

“Justru itu yang sangat saya takutkan Put. Jika hubungan ini berlanjut, dan kita semakin menyayangi, sementara suatu ketika kita harus berpisah, apakah itu tidak akan menyakitkan ? Apakah bisa dengan mudah kita saling melupakan ? Tidak kan Put !” ujar Firman sambil menangis.

“Maafkan aku Fir. Aku tidak berfikir sejauh itu. Apa yang kamu katakan itu benar adanya. Memang tidak ada jalan lain selain salah satu diantara kita yang harus mengalah. Dan itu adalah kamu Fir,” ujar Putri.

“Apa ? Saya harus mengalah. Tidak mungkin Put. Masalah keyakinan tidak bisa ditukar dengan apapun juga, termasuk urusan cinta. Saya juga tidak akan pernah memaksa kamu untuk memeluk agama saya. Kecuali jika kamu sendiri yang memintanya. Karena dalam islam tidak ada paksaan bagi pemeluknya,” jawab Firman.

“Kalau kamu tidak mau mengalah, tak mungkin kita bisa bersatu,” timpal Putri.

“Biarlah waktu yang akan menentukannya, Put. Sekarang saya pasrah. Biarlah takdir yang akan menentukannya,” sahut Firman dengan nada lirih.

“Maafkan aku Fir. Tadi aku sudah memaksakan kehendak. Bahkan memaksa kamu untuk menjawab semua pertanyaan itu. Tentu itu sangat menyakitkan bagimu, Fir. Tapi jujur saja, aku juga merasakan apa yang kamu rasakan saat ini. Aku juga sangat menyayangimu. Tapi apalah artinya semua itu, jika kita tak kan dapat dipersatukan. Mungkin semua ini sudah kehendah Sang Hyang Widi Wasa. Maafkan aku ya, Fir ?” ucap Putri sambil mata berkaca-kaca..

“Tidak ada yang perlu dimaafkan Put. Justru saya yang seharusnya minta maaf. Gara-gara saya, hari ini kamu telah menitikan air mata,” ujar Firman.

“Tapi setidaknya hatiku merasa sedikit lega hari ini Fir. Karena kamu sudah mau berterus terang kepadaku. Dan itu merupakan kebahagiaan tersendiri untuku,” jawab Putri.

“Kamu benar Put. Setidaknya, beban yang saya pendam selama ini sudah berkurang. Mungkin semua ini sudah menjadi takdir kita berdua Put,” timpal Firman.

“Ya Fir, kita jalani saja seperti air yang mengalir. Tidak usah terlalu kau risaukan. Saya tidak mau melihat kamu sakit. Mengapa kita harus repot-repot memikirkannya ?” sahut Putri, berusaha tersenyum.

Sejak itu mereka menjalin cinta beda agama, sampai lulus sekolah. Setelah itu, mereka memutuskan untuk berpisah secara baik-baik. Setelah dua puluh sembilan tahun lamanya mereka berpisah, mereka dipertemukan kembali di Negeri Seribu Larangan. Sayangnya itu adalah pertemuan terakhir bersama Firman untuk selama-lamanya. Kini Firman telah tiada, ditelan gelombang Tsunami Selat Sunda.

Tiba-tiba Putri tersadar dari lamunannya, ia menangis sambil mengepalkan tangannya, memukul-mukul dinding rumah, hingga tangan kanannya pecah dan berlumuran darah.

Dug ! Dug ! Dug !

“Maafkan aku mas. Andaikan saja waktu itu aku mengangkat panggilan ponselmu, tentu kamu masih hidup mas,” gumam Putri.

Perempuan cantik yang memiliki berat badan empat puluh Sembilan kilo gram itu duduk bersimpuh, menangis histeris. Dadanya terasa sesak. Napasnya tersengal-sengal, karena terlalu banyak menumpahkan air mata.

Kemudian Putri berdiri dan keluar rumah, lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding rumah. Sementara sorot matanya kosong, menatap awan yang berbalut kabut hitam. Napasnya terasa berat, seolah ada yang mengganjal di tenggorokannya. Berulang kali ia mengusap air matanya, namun tetap saja tumpah bagaikan sumur lapindo membanjiri pipinya.

Beberapa saat kemudian, Putri masuk ke kamar, dan membaringkan tubuhnya yang sudah terasa letih. Putri menatap awang-awang dengan pandangan kosong. Karena lelah, ia pun terpejam dan tenggelam dalam mimpinya. Tiba-tiba, Putri berada dalam sebuah kapal yang sangat besar. Ia memandang lautan lepas, memperhatikan satu-persatu para nelayan yang sedang menangkap ikan.

Tidak jauh dari para nelayan tersebut, Putri menangkap sosok laki-laki yang ternyata adalah Firman.

“Apakah aku tidak sedang bermimpi ? Ya benar, dia adalah Mas Firman. Mas Firman..., Mas Firman... Apakah kamu mendengar panggilanku mas ?” ujar Putri.

“Ya saya mendengarnya Put. Putrii..., Putrii... . Ke sini sayang,” jawab Firman.

“Ya mas. Hati-hati Mas Firman,” Ujar Putri sambil tersenyum, membalas lambaian kekasihnya. Saat keduanya sedang beradu pandang, tiba-tiba datang gelombang besar, dan menghantam sampan yang ditumpangi Firman.

“Mas Firman..., awas ada gelombang besar mas,” teriak Putri menjerit ketakutan melihat sampan kekasihnya yang pecah berkeping-keping. Tubuh Firman digulung ombak, dan menghilang diantara serpihan sampan. Putri kembali berteriak memanggil Firman.

“Mas Firman… .” Teriaknya, membangunkan tidurnya.

“Ya Jagad Dewa Batara. Apakah arti mimpiku ini ?” gumam Putri terbangun dari tidurnya.

Putri duduk lalu merapihkan rambut yang menutupi wajahnya, sambil mengingat-ingat sesuatu. Putri baru tersadar apa yang baru saja dilihatnya hanyalah mimpi belaka. Ia kembali menangis, sambil bercucuran air mata, lalu meraih ponselnya. Dengan tangan gemetar, jari-jemarinya menekan tombol ponsel, dan menghubungi Daeng, sahabat kecilnya.

“Halo Daeng.”

“Halo Putri. Ada apa Put, malam-malam beginimenghubungi saya ? Apa kah kamu baik-baik saja ?” tanya Daeng.

“Tidak begitu baik Daeng.”

“Memangnya ada apa Put ?” tanya Daeng lagi.

Putri terdiam sesaat, tak menjawab pertanyaan Daeng, disusul dengan tangisan.

“Mas Firman, Daeng,” jawab Putri.

“Ada apa dengan Firman Put ? Jangan kamu ingat-ingat dia lagi. Dia sudah tenang di alam sana, Put. Kasihan dia. Ihlaskan kepergiannya, Put. Kita do’akan saja agar arwahnya tenang di alam sana,” ujar Daeng.

“Saya baru saja bermimpi tentang Mas Firman, Daeng,” ujar Putri sambil menangis tersedu-sedu.

“Memangnya kamu mimpi apa Put ?” tanya Daeng.

“Saya melihat MasFirman sedang naik sampan. Tapi tiba-tiba sampannya diterjang ombak, dan pecah berkeping-keping. Kasihan Mas Firman, Daeng. Dia tidak dapat tertolong,” ucap Putri.

“Ya Allah. Apa yang kamu mimpikan itu sama persis dengan kejadian saat Firman diterjang Tsunami Selat Sunda Put. Maafkan saya saat itu tak bisa menyelamatkannya,” ujar Daeng menyesali dirinya. Mendengar cerita Daeng, tangisan Putri pun kembali pecah.

“Mas Firman..., Mas Firman...”

“Halo Putri… . Kamu baik-baik saja kan ? Coba kamu duduk, dan usahakan rileks ya. Sekarang coba kamu dengarkan saya. Kamu bermimpi tentang Firman, mungkin karena kamu selalu memikirkannya. Sampai-sampai kamu terbawa mimpi. Kita memang sangat kehilangan dia, Put. Saya merasa gagal saat itu tak dapat menyelamatkannya. Mungkin ini sudah kehendak-Nya. Sekarang kita do’akan saja ya, agar Firman tenang di alam sana ya, Put,” ucap Daeng sambil mengusap air matanya.

“Apakah sudah ada kabar tentang Mas Firman Daeng ? Apakah jasadnya sudah ditemukan ?” tanya Putri lagi.

“Sampai detik ini tak ada kabar tentang dia, Put. Jasad Firman hilang begitu saja. Atau bisa jadi...”

“Bisa jadi apa Daeng ?” Putri menyela.

“Maaf, bisa jadi jasad Firman sudah hancur. Sehingga jasadnya sulit untuk ditemukan, Put,” jawab Daeng.

“Ya Jagad Dewa Batara. Semua ini adalah salahku. Andaikan saja saat itu aku mengangkat ponselnya saat Mas Firman menghubungiku, pasti musibah ini tak kan pernah terjadi,” tutur Putri.

“Ini bukan salah kamu Put. Tapi ini salah saya. Sayalah yang telah mengajak dia mancing ke Selat Sunda. Andaikan saja saya tak mengajaknya pergi, tentu kejadian ini tak akan menimpa dirinya,” ujar Daeng kembali menyesali dirinya.

“Tidak Daeng. Ini salahku. Karena sebelum kejadian itu menimpa Mas Firman, aku sudah diberi tahu oleh Sang Hyang Widhi Wasa lewat mimpi. Aku melihat Mas Firman dibawa oleh Ratu Selatan ke istananya menggunakan kereta kencana. Setelah itu memandikannya dengan bunga tujuh rupa. Kemudian mendandaninya ala pengantin. Mas Firman mengenakan pakaian serba putih, dan mengenakan mahkota di kepalanya. Setelah itu bersanding dengan penguasa Ratu Selatan itu.”

“Tapi saat itu Mas Firman terlihat sangat sedih. Wajahnya pucat dan pandangannya hampa. Mas Firman tampak tak sadar apa yang sedang terjadi pada dirinya saat itu. Aku berteriak memanggil-manggil Mas Firman untuk menyadarkannya. Tapi Mas Firman tidak mendengar teriakanku. Andaikan saja aku memberitahu mimpiku itu kepada kamu, tentu kamu tidak akan mengajaknya mancing ke Selat Sunda,” imbuh Putri.

“Ya Put. Maafkan saya ya. Gara-gara saya Firman menjadi korban,” jawab Daeng merasa bersalah.

Mungkin ini sudah kehendak Sang Hyang Widhi Wasa, Daeng. Tolong cari lagi kabar tentang dia. Tolong kabari saya jika ada perkembangan tentang dia, ya,” ujar Putri.

“Baik Put. Kamu jangan terlalu memikirkan Firman ya. Nanti kamu malah sakit. Andaikan saja Firman tahu kalau kamu meratapi kepergiannya, pasti dia akan semakin merasa sedih Put,” ucap Daeng.

Putri menutup ponselnya. Kemudian kembali duduk di kamarnya. Tatapan matanya kosong menatap jam dinding yang berdetak. Ia merasakan kesedihan yang berkepanjangan. Sedih bercampur rindu pada sosok pemuda yang sangat dicintainya. Rindunya bagaikan ombak, yang merindukan pantai.

Nyoman yang melihat istrinya selalu mengurung diri di dalam kamar, merasa sangat sedih. Dia mendekatinya, dan berusaha menghiburnya.

“Maafkan saya ya Put. Saya tidak tahu saat melamar kamu ternyata, kamu sudah memiliki seorang kekasih. Andaikan saja tahu, pernikahan ini tak kan pernah terjadi. Mungkin kamu akan hidup bahagia ketimbang hidup denganku,” ujar nyoman sambail membelai rambutnya.

Putri mengangkat wajahnya dan menatap . Sorot matanya laki-laki yang telah memberinya tiga orang anak. Nyoman tersenyum menyambut tatapan istrinya. Laki-laki berjidad licin itu berharap Si pemilik pipi lesung pipit itu, akan mendengarkan ucapannya. Namun sayangnya harapan itu berbanding terbalik. Putri malah diam seribu bahasa, kemudian kembali menundukan kepalanya,sambil menangis histeris dan memanggil-manggil Firman.

“Mas Firman..., Mas Firman... . Jangan tinggalkan aku mas,” teriak Putri, lalu berdiri mematung dengan tatapan kosong. Tiba-tiba Putri merenggangkan jari-jemari kedua tangannya, dengan tubuh agak condong. Nyoman bingung sambil menerka-nerka, apa yang akan dilakukan istrinya ?

Kemudian Putri melakukan gerakan berjalan ke depan, belok kanan, kiri, dan ngentrag. Kemudian duduk bersimpuh seolah memegang sesuatu, lalu menyembah dengan manganjali. Kemudian leher ngilek ke kanan seraya nyeledet.

“Ya Jagad Dewa Batara, bukankah itu adalah gerakan tari pendet ? Apakah jiwa istriku sedang terguncang saat ini ? Sampai-sampai dia menari di luar kesadarannya,” gumam Nyoman.

Nyoman kembali memperhatikan istrinya. Tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya. Tiba-tiba dia melihat tubuh Putri mulai limbung dan akhirnya tumbang. Nyoman melompat lalu menangkap tubuh mungil itu, jatuh bergulingan ke lantai. Kemudian mengangkat, dan membawanya ke kamar. Di dalam kamar ia berusaha menyadarkannya, dengan mengoleskan minyak kayu putih ke hidung istrinya.

“Sadar Put, sadar. Putri…, bangun Put,” ucapnya sambil menepuk-nepuk pipinya yang terlihat sangat pucat, dan mengguncang-guncang tubuhnya.

Nyoman membuka mulut Putri, dan memberinya satu sendok air putih. Selang tak beberapa lama, Putri terbatuk-batuk, dan apasnya mulai beraturan. Samar-samar, dari bibir mungil itu terdengar lirih menyebut nama Firman.

“Mas Firman…, kamu di mana mas ? Jangan tinggalkan Putri mas. Maafkan Putri,” ucapnya lalu kembali pingsan.

Nyoman menatap istrinya sambil menangis. Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Dia merasa cemburu kepada kekasih istrinya yang telah tiada. Dia merasa istrinya lebih mencintai Firman ketimbang dirinya. Namun demikian, Nyoman berusaha memahami ucapan istrinya yang dilakukan tanpa sadar.

Nyoman menatap wajah istrinya yang terlihat semakin pucat. Tubuhnya terasa dingin dan masih tak sadarkan diri. Dia mengambil segelas air putih, lalu membasahi wajahnya. Tak lama kemudian, Putri pun siuman. Nyoman tersenyum melihat Putri yang sudah sadar.

“Apa yang telah terjadi Bli ?” tanya Putri.

“Kamu tadi pingsan. Sekarang istirahat ya ?” ujar Nyoman.

Putri mengangguk lalu menarik selimutnya. Dia menatap wajah suaminya yang ada di depannya. Namun wajah itu perlahan berubah menjadi Firman. Dia tersenyum sambil memanggil Putri.

“Putri…”

Putri mengucek-ucek matanya, meyakinkan bahwa yang dilihatnya itu adalah Firman. Ia kembali mengucek-ucek matanya, dan ternyata yang ada di hadapannya adalah Firman yang sedang ia rindukan saat ini. Firman kembali tersenyum sambil memngilnya dengan lembut.

“Putri…, kamu sudah sadar ?”

“Benarkah ini Mas Firman ?” tanya Putri.

Plak ! Sebuah tamparan keras bersarang di pipinya.

“Aduh ! Teriak Putri kaget.

Mata Putri terbelalak menatap laki-laki yang ada di depannya. Ia tak percaya, Firman telah menamparnya. Putri membuka matanya lebar-lebar, memastikan yang menamparnya adalah kekasihnya. Ia lalu mencubit pipinya, memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Setelah itu kembali menatap orang yang baru saja menamparnya.

Alangkah kagetnya Putri, ternyata yang ada di hadapannya adalah Nyoman, suaminya. Itu berati yang menampar tadi bukanlah Firman, melainkan Nyoman. Putri berusaha bangun, sambil menatap tajam kepada suaminya.

“Apa yang baru saja kamu lakukan Bli ? Kamu tega ya Bli, menampar pipiku ini,” ujar Putri.

“Kamu yang tega Put ! Di otakmu hanya ada Firman dan Firman saja. Firman sudah mati, Put ! Nggak usah kau ingat-ingat lagi. Sadar kamu Put !” bentak Nyoman.

“Apa salah saya Bli ? Kenapa kamu menamparku seperti ini ?” tanya Putri.

“Kamu masih bertanya, apa salahmu, ha? Kamu masih belum sadar juga, apa yang baru saja kamu ucapkan tadi, Put ?” bentak Nyoman lagi.

“Memangnya apa yang sudah aku ucapkan ?” tanya Putri lagi.

“Kamu baru saja memanggil-manggil nama Firman. Kamu mengira kalau saya adalah Firman. Terus terang saya cemburu Put. Kenapa di hatimu hanya ada Firman dan Firman saja !” bentak Nyoman.

“Oh, jadi kamu menamparku gara-gara cemburu dengan Mas Firman Bli ?” tanya Putri.

“Ya, saya cemburu dengan Firman ! Apa hebatnya Firman dibanding dengan saya Ha !” bentak Nyoman lagi.

“Oh jadi kamu ingin tahu hebatnya Mas Firman ? Mas Firman itu tak pernah bicara kasar pada ku. Apa lagi sampai menampar seperti tadi. Tidak seperti kamu Bli. Pemarah dan sangat kasar,” jawab Putri.

“Terus saja banding-bandingi saya dengan Firman, ya,” ujar Nyoman sambil membanting pintu, lalu pergi meninggalkan Putri.

Putri hanya menangis, dan kembali ingat kepada Firman yang selama ini selalu menjaganya. Sosok Firman yang lemah lembut dan selalu perhatian, membuat Putri semakin merindukannya. Ia bangun dari kamarnya, lalu menari sambil menangis. Seoalah ia sedang mengadu kesedihannya kepada Firman. Kini Putri sedang tenggelam kepada masa lalunya bersama Firman.

Saat dimana Putri sedang membawakan tari pendet. Putri lenggak-lenggok seakan mengikuti irama. Bola matanya nakal melirik ke kanan dan ke kiri laksana bola pimpong. Putri tak sadar dari tadi ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya.

Ia adalah Nyoman, suaminya yang merasa prihatin, sekali gus merasa kesal kepada dirinya. Nyoman membiarkan saja Putri menari sampai selesai. Setelah itu ia mendekati dan mengajaknya pergi ke psikiater untuk memeriksa kejiwaannya.

“Sekarang juga kamu harus ikut saya,” ujar Nyoman.

“Ikut ke mana Bli ?” tanya Putri.

“Ayo pergi ke psikiater !” jawab Nyoman.

“Apa ? Kamu kira aku sudah gila, ha,” jawab Putri dengan nada kesal.

“Ya, saya rasa begitu. Sekarang kamu harus ikut saya,” ujar Nyoman sambil menarik tangannya.

“Tidak ! Aku tidak gila. Lepaskan tanganku !” jawab Putri sambil mengibaskan tangannya, berusaha melepaskan dari pegangan Nyoman.

“Kamu tidak boleh terus-terusan begini Put. Kalau kamu menolak ajakan saya, kamu akan saya kirim ke rumah sakit jiwa sekalian !” bentak Nyoman sambil membanting pintu, lalu pergi meninggalkannya.

Putri duduk bersimpuh sambil menangis histeris. Ia merasa sangat kesal sekali kepada suaminya yang telah menganggapnya gila. Semenjak itu ia lebih banyak mengurung diri di dalam kamar.

Nyoman berusaha sabar menghadapi tingkah istrinya. Namun seiring berjalannya waktu, Nyoman menilai istrinya sudah benar-benar gila. Putri yang diharapkan akan kembali sadar justru semakin menjadi-jadi. Setiap hari Putri selalu menangis. Setelah itu menari. Kemudian menangis lagi, sambil memanggil-manggil Firman.

Hal itu membuat Nyoman semakin kesal dan tak dapat lagi membendung emosinya. Nyoman memaksa dan mengajak Putri pergi ke psikiater. Namun Putri justru menolaknya mentah-mentah, dan memintanya cerai.

“Ceraikan aku sekarang juga !” ujar Putri.

“Tidak ! Saya tidak akan pernah menceraikan kamu !”jawab Nyoman.

“Buat apa rumah tangga ini dipertahankan, jika kamu sendiri telah menganggapku gila,” ujar Putri.

Akan tetapi Nyoman tak mau memenuhi permintaan istrinya. Dia lebih baik mengalah untuk menghindari pertengkaran. Dia memilih pergi dari rumahnya. Beberapa hari kemudian ia kembali pulang, karena mengira istrinya telah kembali sadar. Ternyata saat ia pulang, ia melihat Putri sedang menari. Setelah itu Putri duduk melamun, dengan tatapan kosong sambil mata berkaca-kaca.

Nyoman merasa kasihan. Hatinya luluh saat melihat istrinya bagaikan mayat hidup. Ia mendekati Putri, dan duduk di sampingnya. Ia menatap wajah istrinya yang terlihat semakin pucat. Laki-laki yang bekerja sebagai Pilot itu bingung harus berkata apa, untuk membuat istrinya tak marah.

“Sampai kapan kamu akan seperti ini Put ? Lupakanlah semua kenanganmu dengan Firman. Sekarang dia sudah tak ada lagi di dunia ini. Tapi mengapa kamu selalu memikirkannya ? Apakah kamu tidak kasihan dengan anak-anakmu ? Mereka sangat sedih melihatmu seperti ini,” ujar Nyoman.

“Ya Emak. Kami kangen sama Emak. Kenapa akhir-akhir ini, Emak selalu diam dan selalu mengurung diri mak ? tanya Wayan Putra sulungnya yang tiba-tiba datang menghampirinya.

Namun kata-kata itu tak lantas membuat Putri bergeming sedikitpun dari lamunannya. Dia tetap saja diam mematung dengan pandangan kosong penuh keputus asaan. Saat Nyoman dan Wayan sedang mengajak bicara dengan Putri, datanglah Made Astini anak keduanya sambil menggendong adeknya, Nyoman Pasek.

“Ada apa dengan Emak, Papa ?” tanya Made Astini sambil menurunkan adeknya, Nyoman Pasek dari gendongannya.

“Emakmu tidak apa-apa nak. Emak hanya sedang tidak enak badan saja,” jawab Nyoman sambil matanya berkaca-kaca.

Sementara anak bungsunya yaitu Nyoman Pasek yang baru berumur tiga tahun, duduk di pangkuannya. Si kecil tak tahu, apa sebenarnya yang sedang terjadi pada ibunya ? Ia hanya diam, dan sesekali menatap wajah ibunya yang terlihat kusut. Setelah itu Nyoman Pasek, berdiri dihadapan Putri. Dia menatapnya, lalu mengecup keningnya. Nyoman dan kedua kakaknya memandang Si bungsu penuh haru.

Putri yang dari tadi diam saja, entah mengapa tiba-tiba menangis, lalu memeluk Si Bungsu, dan menciumnya berulang kali. Suasana yang semula sunyi, laksana tanpa berpenghuni, kini mulai ramai. Wajah-wajah yang dulu suram, berubah menjadi periang. Sesaat kemudian tanpa terduga, Putri menggerakan bibir manisnya.

“Maaf kan Emak ya nak,” ucap Putri lirih, lalu diam kembali.

Saat itu Nyoman baru tahu, hanya Si kecilah yang mampu meluluhkan hati istrinya. Oleh karena itu dia punya ide, agar Si Bungsu selalu dekat dengan ibunya. Kemudian Nyoman memutar video player berupa tari-tarian yang biasa digemari istrinya. Saat mendengar tarian tersebut, Si Bungsu berpolah lucu, ikut menari. Dengan kepolosannya dia memperagakan tarian di depan ibunya. Terkadang Si bungsu terjatuh saat menari, karena tidak dapat menahan keseimbangan tubuhnya. Kemudian bangun lagi, lalu memeluk ibunya.

Sejak saat itu Putri dapat tersenyum, ketika terlihat anak bungsunya berpolah lucu. Apa lagi ketika Pasek salah menirukan tariannya. Putri bangun, lalu mengajarinya.

“Nggak begitu sayang. Coba ikuti gerakan Emak,” ujar Putri..

Nyoman Pasek menirukan Putri memperagakan tari pendet. Dengan sabar Putri membimbing anak bungsunya, bagaimana cara menari pendet yang benar. Ia tak segan-segan memberikan arahan kepada anaknya yang juga menggemari seni tari. Ditambah lagi anak pertama dan ke duanya juga ikut menari.

Bahkan anak-anak di sekitar rumahnya ikut nimbrung belajar menari dengan Putri. Hal itu membuat mental Putri berangsur-angsur mulai pulih. Setelah sekian lama pergi, kini semangat Putri mulai bergairah lagi. Wanita cantik yang jago menari tersebut merasa terobati, saat menyaksikan jari-jemari Si Kecil lenggak-lenggok menirukan tariannya.

Ia teringat kembali saat membawakan tari pendet, waktu duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dimana Firman saat itu bertepuk tangan dan memberi dukungan kepada dirinya. Kini Putri berdiri sambil memperagakan tari pendet. Sambil bercucuran air mata, dan tenggelam dalam kenangannya.

Masa-masa indah yang penuh warna bunga, menghiasi masa remajanya. Putri bergerak ke kanan dan ke kiri, berputar ke sana dan ke mari. Sambil membayangkan Firman ada di depannya. Laki-laki lugu, pendiam dan sedikit pemalu itu, kini telah hadir dalam angannya. Membuat Putri tampak bersemangat dalam membawakan tariannya. Gerakan, demi gerakan ia peragakan kepada murid-muridnya. Di penghujung gerakan terakhir, terdengar tepuk tangan dari anak asuhnya.

Prok, prok, prok.

“Bu Guru hebat. Saya ingin bisa menari seperti ibu,” ujar Kadek.

“Ya Bu Guru. Saya juga ingin seperti Bu Guru. Bu Guru hebat sekali. Apakah Bu Guru mau mengajari kami menari ? Kami mau pandai menari seperti Bu Guru,” imbuh Ketut.

“Benarkah kalian mau belajar menari seperti ibu ?” tanya Putri.

“Benar bu. Kami mau seperti ibu yang pandai menari,” jawab mereka kompak.

“Kalau kalian mau seperti ibu, kalian harus belajar dengan sungguh-sungguh ya,” ujar Putri memberi semangat.

“Baik bu,” sahut Kadek.

Semenjak itu rumah Putri menjadi ramai sekali oleh anak-anak yang mau belajar menari. Membuat Putri jiwanya kembali semangat. Sebagai bukti cintanya kepada Firman, Putri mendirikan Sanggar Tari yang diberi nama Putri Malu. Putri adalah nama dirinya, sedangkan kata malu diambil dari sifat Firman yang sedikit pemalu. Sebagai simbol cinta mereka yang abadi, yang tak kan pernah usang oleh waktu. Raga boleh terkoyak, dan hancur lebur. Namun jiwa dan cinta mereka selalu bersemayam di dalam kalbu.

DIPUSARAN DUKA

Pagi itu langit di Pulau Dewata terlihat hitam pekat, pertanda hari mau turun hujan. Dari balik sebuah rumah terdengar suara perempuan sedang membaca mantra. Asap mengepul menerobos dari sela-sela rumah, disusul aroma wewangian dupa mengiringi pemujaan para Dewa. Sesaat kemudian mantra yang dibacakan terdengar lirih hingga suasana di rumah itu kembali hening.

Tak lama kemudian terlihat perempuan cantik mengenakan busana sembahyang, membuka jendela rumah. Perempuan cantik pemilik lesung pipit itu, berdiri memandang awan hitam yang sedang berarak. Ia merentangkan kedua tangannya, sambil menghelai napas panjang. Kemudian ia memejamkan matanya, lalu menghirup udara segar dan menahannya beberapa saat. Setelah itu mengeluarkannya perlahan-lahan dari hidungnya. Rasa dingin yang menggerogoti tulang sumsumnya, berubah menjadi hangat.

Setelah tubuhnya merasa segar, Putri sarapan pagi bersama keluarganya. Setelah itu menyiapkan perbekalan untuk suaminya yang mau berangkat kerja. Dalam hitungan menit, Putri keluar dari kamarnya sambil mendorong sebuah koper berukuran empat puluh kali lima puluh centi meter. Kemudian menyerahkannya kepada Nyoman dengan wajah berseri-seri.

“Ini kopernya Bli. Jangan lupa jaga kesehatan ya,” ujar Putri sambil tersenyum.

“Terima kasih ya Put, hari ini kamu sudah repot-repot menyiapkan perbekalanku. Ingat selama saya pergi bekerja, kamu juga jangan lupa makan, dan jaga kesehatan. Kalu ada apa-apa kamu bisa minta bantuan sama anak-anak. Saya berangkat dulu ya,” ujar Nyoman.

“Ya Bli, hati-hati ya,” ucap Putri, lalu mencium tangan laki-laki yang sehari-hari berprofesi sebagai seorang Pilot.

Pagi itu Nyoman berangkat kerja menggunakan taxi menuju ke Bandara Ngurah Rai. Putri menatap kepergian suaminya hingga hilang dari pandangannya. Kemudian mengeluarkan sepedah motornya, dan berangkat ke sekolah. Hanya hitungan menit saja, Putri sudah sampai di tempat mengajarnya. Maklum tempatnya bekerja hanya berjarak sekitar satu kilo meter saja. Perempuan cantik itu melangkah dengan pasti menuju ke ruang guru.

Sementara di ruang guru, rekan kerjanya sudah datang lebih awal, termasuk Kepala Sekolahnya. Mereka sedang asik membicarakan dirinya.

“Bu Rini, bagaimana kondisi Bu Putri sekarang ? Saya turut prihatin dengan masalah yang sedang dihadapi Bu Putri,” ujar Kepala Sekolah.

“Ya pak. Saya juga merasa kasihan dengan dia,” jawab Bu Rini.

“Apa sebenarnya yang menyebabkan Bu Putri menjadi syok berat seperti itu ya bu ? Sampai-sampai jiwanya ikut terguncang,” ujar Kepala Sekolah lagi.

“Bu Putri pernah bercerita dengan saya pak. Katanya sih dia punya kekasih saat dia masih sekolah. Tapi mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah secara baik-baik, lantaran beda agama dan keyakinan,” terang Bu Rini.

“Oh begitu. Terus bagaimana cerita selanjutnya,” timpal Kepala Sekolah.

“Setelah mereka lama berpisah, tanpa sengaja mereka bertemu lagi dengan kekasihnya itu. Yang menjadi penyesalan Bu Putri, ternyata kekasihnya itu masih hidup melajang sampai sekarang ini, lantaran tak bisa melupakan Bu Putri,” terang Bu Rini.

“Dramatis sekali kisah cinta Bu Putri ya bu,” imbuh Kepala Sekolah.

“Yang lebih miris lagi setelah pertemuan mereka, beberapa minggu kemudian ternyata kekasihnya menjadi korban Tsunami Selat Sunda pak,” ujar Bu Rini lagi.

“Ya Allah, kasihan sekali ya nasibnya. Pantesan Bu Putri terlihat sangat syok sekali,” sahut Kepala Sekolah.

“Ya pak. Benar,” timpal Bu Galuh.

“Kita do’akan saja semoga Bu Putri tabah menghadapi musibah ini,” imbuh Kepala Sekolah lagi.

“Ya pak. Kasihan Bu Putri. Saya tak tega melihatnya. Karena dia dihantui oleh perasaan bersalah pada kekasihnya itu,” sahut Bu Wati.

“Loh kok bisa Bu Putri merasa sangat bersalah. Memangnya kesalahan apa yang sudah Bu Putri lakukan ?” tanya Pak Komang.

“Katanya sih sebelum musibah itu terjadi, kekasih Bu Putri menghubungi lewat ponselnya. Tapi Bu Putri tidak mau mengangkat ponselnya, karena takut suaminya cemburu. Eh ternyata panggilan itu adalah panggilan terahirnya. Makanya Bu Putri sangat menyesal sekali dan merasa sangat bersalah kepada kekasihnya itu,” terang Bu Wati.

“Kalau saya diposisi Bu Putri saat itu memang serba salah Bu. Disisi lain Bu Putri harus menjaga perasaan Pak Nyoman, suaminya, di sisi lain juga Bu Putri tak dapat membohongi perasaannya kepada kekasihnya,” timpal Bu Galuh.

“Badai pasti akan berlalu. Mudah-mudahan Bu Putri bisa melewati semua itu, dan tidak lama lagi Bu Putri bisa bergabung kembali mengajar di sekolah ini lagi,” ujar Bu Rini.

“Aamiin,” jawab mereka kompak.

Disaat mereka sedang asyik membicarakan Putri, tiba-tiba dari luar terdengar langkah kaki yang mendekati ruang guru. Tak, tuk, tak, tuk... Mereka pun menerka-nerka siapa yang datang itu.

“BU Galuh coba tebak, siapa yang datang itu ?” tanya Bu Rini.

“Kalau dari langkah kakinya sih itu pasti Bu Putri,” jawab Bu Galuh yang selalu mengenakan konde pada rambutnya.

“Tapi apa mungkin itu Bu Putri ? Bu Putri kan masih sakit,” ujar Bu Rini sedikit ragu.

“Kalau bukan langkah Bu Putri, lalu langkah siapa dong itu ?” tanya Bu Galuh.

Tok..., tok..., tok... .

“Selamat pagi bapak, ibu ?” sapa Bu Putri.

“Selamat pagi Bu Putri. Ya Allah benarkah ini Bu Putri ? Pucuk dicinta ulam pun tiba. Apa kabar Bu Putri ?” sapa Bapak Kepala Sekolah.

“Hai, Bu Putri panjang umur. Baru saja kami bicarakan. Eh, tiba-tiba ibu datang,” ujar Bu Rini, lalu memeluknya.

“Hayo, Bapak, Ibu sedang ngegosipin apa ? Hehehe...” Tanya Putri.

“Tidak bu. Kami hanya menanyakan kabar ibu. Sudah lama loh kami merindukan ibu. Karena selama tidak ada Bu Putri, sekolah ini serasa sepi,” sahut Kepala Sekolah.

“Ya benar sekali bu. Selama nggak ada ibu di sekolah ini, anak-anak juga sangat merindukan ibu. Mereka ingin diajari menari sama ibu,” sahut Bu Kadek.

“Bapak Ibu, mohon maaf ya. Saya baru bisa datang ke sekolah hari ini,” ujar Putri.

“Tidak apa-apa Bu Putri. Melihat ibu sehat saja kami sangat senang sekali kok,” sahut Kepala Sekolah.

“Ah bapak bisa saja. Terima kasih ya pak, atas pengertiannya. Mudah-mudahan mulai hari ini dan seterusnya, saya sudah bisa mengajar lagi di sekolah ini,” ujar Putri.

“Sukurlah bu. Mudah-mudahan ibu selalu sehat ya. Aamiin,” timpal kepala sekolah.

Pagi itu suasana di Sekolah Dasar tempat Putri mengajar, terlihat sangat bahagia sekali. Karena melihat guru favoritnya sudah kembali mengajar lagi. Bu Guru cantik yang memiliki multi talenta itu sangat dirindukan oleh rekan kerjanya, bahkan oleh murid-muridnya. Tanpa kehadiran Putri, sekolah ini terlihat sangat sepi. Bagaikan sayur tanpa garam. Bagaimana tidak ? Sekolah yang selama ini identik dengan sekolah seni, selalu diperdendangkan musik dan berbagai tari, tiba-tiba suara indah itu harus terhenti lantaran absennya Putri dari sekolah ini.

Hari itu Putri tidak langsung masuk kelas melainkan masuk ke ruang seni. Ia memutar sebuah musik yang biasa diperdengarkan untuk mengawali sebelum belajar. Mendengar alunan musik itu anak-anak yang berada di dalam kelas langsung buyar, berlarian menuju ke ruang seni. Mereka meyakini bahwa guru yang dirindukannya selama ini ada di ruang tersebut. Benar saja di ruang seni terlihat Putri sedang duduk dan menikmati alunan musik. Sementara anak-anak mengintip gurunya dari balik celah jendela.

Mereka tidak langsung masuk hingga satu lagu selesai diputar. Setelah itu mereka merangsek masuk ke ruang seni, sambil memeluk Putri diiringi isak tangis.

“Bu Guru..., Bu Guru... Ke mana saja selama ini bu . Puput kangen Bu,” ujar Puput salah satu siswi di sekolah itu.

“Ya bu Suti juga kangen ibu,” timpal siswi yang lain.

Putri memeluk satu persatu siswanya sambil menangis haru. Ia tak menyangka kehadirannya begitu sangat dirindukan oleh anak-anak didiknya. Lalu Guru cantik itu mengajak siswanya masuk ke kelas. Belum saja ia sampai di kelas, anak-anak sudah berlarian datang menghampirinya.

“Bu Putri, apa kabar bu ?”

“Kabar ibu baik nak. Bagaimana kabar kalian semua ?” tanya Putri kepada murid-muridnya.

“Kami kangen sekali sama ibu. Kirain ibu pindah dari sekolah ini. Karena sudah lama sekali ibu tidak masuk sekolah,” ujar salah satu muridnya, polos.

“Ibu akan selalu mengajar kalian di sini nak. Ibu tidak akan pergi ke mana-mana,” jawab Putri meyakinkan mereka.

Putri merasa sangat bahagia sekali. Pagi itu ia dapat melepas rasa rindu pada siswanya yang sudah sekian lama tak berjumpa. Gelak dan tawa mengiringi cerita anak-anak yang masih polos dan lucu-lucu. Membuat Putri tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.

Tanpa terasa waktu kebersamaan mereka telah usai. Putri keluar kelas dan masuk ke ruang guru dengan wajah berseri-seri.

“Ada apa Bu ? Kenapa ibu senyum-senyum sendiri ?” tanya Kepala Sekolah.

“Itu loh Pak, anak-anak sangat lucu-lucu sekali. Mereka tak mau kalah, berebut untuk bercerita selama saya tidak masuk sekolah. Sampai-sampai saya tak tahan mendengarnya,” terang Putri.

“Anak-anak kita memang lucu-lucu sekali ya bu. Apa lagi itu Si Amir. Pinter sekali membuat lelocon,” ujar Kepala Sekolah.

“Ya Pak, hehehe...” Jawab Putri.

Setelah itu guru yang lain mendekati Putri, dan melanjutkan obrolan mereka yang sempat terputus. Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba ponsel Putri berdering. Dengan reflek ia merogoh tasnya lalu mengangkat ponselnya.

“Halo Bli, ada apa ?” tanya Putri.

“Saya sudah di pesawat Put. Sebentar lagi mau take off,” jawab Nyoman.

“Oh ya Bli. Hati-hati ya. Ingat jangan sampai telat makan ya,” ujar Putri lalu menutup ponselnya.

“Cie..., cie.... telpon dari yayang embeb ya bu, hehehe...” Goda Bu Rini.

“Ya bu. Suami saya selalu ngasih kabar jika mau take off, ataupun setelah Landing,” jawab Putri lagi.

“Wah, romantis sekali ya bu,” sahut Bu Wati.

“Ya romantis sekali. Perhatian-perhatian, pesawat 008 silahkan mendarat,” goda Bu Kadek.

“Maaf, pesawat 008 sudah mendarat di tempat yang lain,” timpal Bu Wati.

“Ada-ada aja kalian ini, hahaha...” Ujar Kepala Sekolah, tertawa lepas.

“Ya pak, mereka memang paling pinter kalau ngeledekin orang, hehehe...” Jawab Putri.

“Maaf ya Bu Putri, kami hanya bercanda. Sudah lama loh kami tidak seperti ini,” ujar Bu Kadek.

“Tidak apa-apa bu. Kalau serius terus, nanti cepet tua. Lihat tuh Bu Wati, awet muda. Karena senang bercanda, loh,” ujar Putri.

“Ah, Bu Putri ini pinter sekali menyenangkan hati orang, hehehe...” Jawab Bu Wati.

“Sudah-sudah bercandanya. Awas loh kebablasan nanti pipis di celana. Memang para suami sebaiknya harus seperti Pak Nyoman. Apa lagi kerjanya sebagai sopir pesawat, kan takut kalau tidak ngasih kabar. Kalau sudah ngasih kabar kan, kita jadi merasa tenang ya bu, Putri,” timpal Bu Rini.

“Benar sekali Bu Rini,” jawab Putri sambil tersenyum.

Tanpa terasa obrolan mereka telah sampai di jam penghujung. Mereka menyudahi obrolannya, dan pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga Putri, sudah sampai rumah dan beristirahat di kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya, sambil senyum-senyum sendiri mengingat obrolan di sekolah tadi.

Setelah itu ia melatih anak-anak di sanggar tari. Suara gamelan pun mulai di tabuh. Diiringi alunan musik lainnya, terdengar begitu merdu. Mengiringi para penari cilik binaan Putri. Di sanggar Putri Malu ini, bukan saja mengajarkan Tari Pendet, akan tetapi juga mengajarkan jenis tari Bali lainnya. Seperti Tari Kecak, Tari Barong, Tari Rejang, Tari Janger, dan tari Legong.

Sore itu Putri sedang mengajarkan Tari Rejang kepada anak didiknya. Tari Rejang adalah tari tradisional masyarakat Bali dalam menyambut serta menghibur para Dewa yang datang dari khayangan, yang turun ke bumi. Tarian ini juga memiliki makna yang sangat penting. Karena memiliki makna spiritual, yang dipercaya sebagai tarian suci.

“Anak-anak, silahkan membentuk barisan. Sekarang ikuti gerakan ibu ya,” ujar Putri, lalu memberi contoh gerak pembuka tari rejang.

“Baik Bu Guru,” jawab anak-anak kompak.

Putri berdiri paling depan. Lalu berjalan setengah jinjit menghadap ke depan. Kemudian meletakan kedua tangannya di depan dada. Diikuti oleh peserta didik lainnya. Setelah itu Putri melakukan gerak ngagem. Penari secara bersamaan meliukan kedua tangannya, sambil menggoyangkan pinggulnya, menghadap ke depan. Setelah itu berputar menghadap ke kanan dengan gerakan yang sama. Dilanjutkan gerakan memutar menghadap ke kiri begitu seterusnya. Gerakan mereka tampak seperti koloni ikan yang sedang berenang.

Berulang kali Putri mengulangi dan memperagakan tarian itu, hingga anak-didiknya sudah dapat memprktekannya sendiri. Guru agama yang juga guru tari itu berkeliling mengawasi gerakan tari anak didiknya. Setelah itu, menyudahi latihannya.

Putri masuk ke rumah dan duduk sambil menyalakan kipas angin, untuk mengeringkan keringatnya. Namun tiba-tiba ia teringat kepada suaminya, karena sudah sesore ini belum juga memberi kabar.

“Kenapa ya suamiku belum ngasih kabar ? Apakah dia masih sibuk, ya ? Atau sebaiknya aku telpon saja ? Tidak ah. Nanti malah menggannggunya,” gumamnya.

Ia kemudian menuangkan air minum ke dalam gelas, tiba-tiba gelas yang dipegangnya terlepas dan pecah berkeping-keping.

Prak...!

“Aduh !” teriak Putri.

“Ya Jagad Dewa Batara. Pertanda apakah ini ?” gumamnya sambil memegang dadanya yang berdebar kencang. Kemudian memungut pecahan gelas itu yang berserakan di lantai.

“Aduh, tanganku kecucuk beling,” ujar Putri sambil meringis.

Darahpun mengucur pada jempol tangan kanannya. Dengan sangat cekatan, Putri memegang jempol tangannya, lalu menekannya beberapa saat untuk menghentikan pendarahannya. Perempuan cantik berambut setengah bahu itu kembali duduk di kursi, berusaha menenangkan dirinya. Setelah itu mengambil sapu dan membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai.

Tiba-tiba Putri teringat suaminya lagi. Ia berdiri lalu meraih ponselnya dan menghubunginya. Namun saat dihubungi ponselnya tidak aktif. Hal itu membuat Putri semakin khawatir pada suaminya. Perempuan berkulit putih bersih itu, berdiri mondar-mandir di ruang tamu. Setelah itu duduk dan kembali menghubungi suaminya. Namun lagi-lagi ponselnya tidak aktif. Putri semakin bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Kini matanya tertuju pada sebuah tv miliknya. Dengan refleks tangan kanannya meraih remot berukuran lima kali lima belas senti meter itu, lalu menyalakan tombolnya. Alangkah kagetnya Putri ketika melihat pemandangan yang ada di cenel tv. Ada sebuah pesawat yang mengalami kecelakaan.

Ia membuka matanya, dan mengamati body pesawat tersebut. Dari serpihan pada sayap pesawat itu terlihat jelas, adalah pesawat yang diterbangkan suaminya. Putri syok dan jatuh terduduk. Sementara bibirnya gemetar tak bisa digerakan lagi. Ia berusaha mengumpulkan tenaganya, dan kembali mengamati pesawat tersebut dengan teliti. Putri yakin pesawat itu adalah pesawat yang dinahkodai oleh suaminya.

“Tidak ! Tidak mungkin ! Pasti ini berita bohong,” Putri menjerit sambil menangis.

Jeritan itu terdengar sampai ke telinga Wayan, Putra Sulungnya. Bagaikan anak panah, Wayan melesat mendekati ibunya.

“Ada apa Mak ? Kenapa Emak terlihat sangat panik seperti itu ?” tanya Wayan.

“Papahmu nak, Papahmu,” ujar Putri menunjuk ke cenel tv.

“Ada apa dengan Papah, Mak ?” tanya remaja berperawakan tinggi langsing itu.

“Pa...pah, ke ce la ka an Nak. Pe sa wat Pa pah ja tuh,” ujar Putri dengan suara terbatah-batah.

“Apa ? Tidak mungkin Mak. Tidak mungkin. Itu pasti bukan pesawat Papah.Tenang ya Mak, jangan panik,” ujar Wayan berusaha membuat ibunya tenang.

“Mudah-mudahan berita itu salah ya Nak. Tapi untuk memastikannya kita harus menghubungi kantor papah,” terang Putri sambil meraih ponselnya.

Jari-jemari lentik itu dengan cepat menekan tombol ponsel dan menghubungi kantor suaminya.

“Halo selamat malam Pak,” ujar Putri.

“Selamat malam Bu. Ada yang bisa kami bantu ?” jawab laki-laki itu.

“Saya baru saja melihat berita di tv, pesawat yang biasa dikemudikan suami saya katanya jatuh. Apakah itu benar pak ?” tanya Putri.

“Maaf, apakah ibu istrinya Pak Nyoman ?” tanya laki-laki itu.

“Benar Pak, saya istrinya,” jawab Putri.

“Kami turut berduka cita atas musibah ini ya bu,” jawab laki-laki itu lagi.

“Bagaimana nasib suami saya Pak. Apakah suami saya dapat diselamatkan ?” tanya Putri.

“Mohon maaf, kami harap ibu yang tabah ya. Semua penumpang dan awak kapalnya semuanya tidak ada yang selamat Bu,” terang laki-laki itu.

“Tidak mungkin ! Tidak mungkin !” teriak Putri lalu pingsan.

“Emak... !” teriak Wayan, secepat kilat ia menyambar ibunya, dan membopongnya ke kamar. Setelah itu berusaha membangunkannya.

“Bangun Mak, bangun. Emak harus kuat mendengar berita ini. Bangun Mak,” ujar Wayan sambil menangis.

“Ada apa Bli ? Kenapa Emak diam saja ?” tanya Made Astini.

“Emak pingsan dek,” jawab Wayan.

“Kenapa Emak pingsan Bli ? Apa yang telah terjadi ?” tanya Made lagi.

“Anu dek anu,” jawab Wayan gugup.

“Ada apa Bli ? Tolong katakan !” desak Made.

“Tidak ada apa-apa dek,” jawab Wayan lagi.

“Bohong ! Kalau tidak ada apa-apa, kenapa Emak pingsan seperti itu ?” desak Made lagi.

“Anu dek, anu,” ucap Wayan bingung.

“Bicara yang jelas Bli. Jangan ana, anu, ana, anu,” ujar Made.

“Papah kecelaakaan. Pesawat Papah jatuh dek,” terang Wayan dengan nada lirih, diiringi tangisan.

“Apa ? Papah kecelakaan ? Bagaimana nasib Papah Bli ?” tanya Made.

“Papah meninggal dek,” ujar Wayan.

“Papah..., papah..., papah...” Teriak Made sambil menangis histeris.

Putri yang dari tadi tak sadarkan diri, akhirnya terbangun lalu memeluk kedua anaknya.

“Udah nak, udah. Jangan menangis lagi nak,” ucap Putri lembut.

“Mak... Emak... Kenapa papah pergi meninggalkan kita Mak...?” ujar Made.

“Ini sudah kehendak Dewata Agung anak-anaku. Kita doakan saja semoga ada keajaiban untuk papah ya. Mudah-mudahan Papah selamat,” Ujar Putri, berusaha meneguhkan hati anak-anaknya.

“Ya Mak,” Jawab keduanya kompak.

Keesokan harinya Putri mendatangi kantor suaminya bersama Wayan, untuk mencari informasi tentang suaminya.

“Mohon maaf Pak. Apakah suami saya, sudah di temukan ?” tanya Putri kepada salah satu petugas.

“Semua penumpang dan awak pesawat sudah di temukan bu,” jawab petugas itu.

“Bagaimana keadan suami saya Pak ?” tanya Putri lagi.

“Penumpang dan semua awak pesawat, telah ditemukan dalam keadaan meninggal Bu. Termasuk Pilot dan co-Pilotnya,” terang Petugas itu.

“Apa ?” terik Putri kaget.

“Ibu yang tabah ya bu. Atas nama petugas, kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya ya Bu. Mudah-mudahan Bapak di berikan tempat yang layak di sisi-Nya,” ujar petugas itu.

“Terima kasih atas do’anya Pak,” ujar Putri dengan suara tak bersemangat.

Putri tampak putus asa. Wajah cantiknya terlihat pucat, sambil berlinang air mata.

“Ya Jagad Dewa Batara. Mengapa musibah ini Kau timpakan kepada kami. Rasanya belum kering air mata ini, dan kini harus kembali lagi kehilangan orang yang sangat ku sayang,” ucap Putri.

Wajah Putri yang cantik, ternyata tak berbanding lurus dengan nasibnya. Perjalanan hidupnya mengharu biru, diliputi duka nestapa yang berkepanjangan. Baru saja ia bisa melewati rasa sedihnya setelah ditinggal Firman, ia harus kembali kehilangan orang yang sangat dicintainya. Ia pun merasa diperlakukan tak adil oleh Tuhannya.

“Ya Jagad Dewa Batara. Rasanya belum kering air mata ini. Tapi kenapa Kau timpakan kembali musibah ini ? Apa salah dan dosa kami ? Hingga kau renggut satu persatu orang yang aku sayangi. Selama ini kami selalu mengabdi kepada-Mu. Tapi apa balasan Mu ya Tuhan. Kau tidak adil ya Tuhan,” ujar Putri dengan nada marah.

Setelah ditinggal suaminya, Putri kembali mengurung diri. Bayang-bayang Nyoman datang silih berganti, menghantui dirinya. Ia hanya bisa menangis, menyesali nasibnya yang malang. Belum lagi akhir-akhir ini, Firman selalu datang lewat mimpi. Seolah ia tahu bahwa orang yang sangat dicintainya sedang dalam duka nestapa.

Seperti di malam itu. Saat Putri pikirannya sedang kosong, tiba-tiba ia diserang rasa kantuk yang teramat sangat. Putri roboh di pembaringannya, lalu masuk ke alam mimpinya. Saat itu Firman datang dan menatap Putri yang sedang menangis. Firman mengusap air mata kekasihnya, lalu memberikan semangat agar dia tak bersedih lagi.

“Jangan bersedih sayang. Saya tak kuat melihatmu seperti ini,” ujar Firman.

Putri menghentikan tangisanya dan mengangkat wajahnya, kemudian menatap laki-laki yang ada dihadapannya.

“Bagaimana aku tak bersedih mas. Aku telah kehilangan suamiku,” jawab Putri.

“Semua yang ada di dunia ini adalah titipan Allah Swt. Ingat sayang. Semuanya akan berpulang ke sana. Hapuslah air matamu. Ada awal, pasti ada akhir. Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Ikhlaskanlah kepergiannya, agar suamimu menuju ke suwarga loka. Seperti dirimu yang telah mengihlaskan kepergianku. Ingat sayang, Suamimu, dan diriku, memang telah pergi meninggalkanmu. Tapi bukan berarti kami semua tak sayang kepadamu,” ucap Firman.

“Aku belum siap untuk kalian tinggalkan mas.,” jawab Putri sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Firman. Laki-laki gagah itu membelai rambutnya hingga Putri tertidur dalam pelukannya. Firman mengangkat Puti dan membaringkan tubuhnya di kamar tidur. Setelah itu memberinya selimut. Tiba-tiba Putri terjaga dari tidurnya, dan memanggil-manggil Firman.

“Mas Firman... Kamu di mana mas ? Jangan tinggalkan aku seorang diri mas,” teriak Putri, sambil mencari ke seluruh sudut kamarnya. Ia pun baru tersadar pertemuannya dengan Firman hanyalah sebuah mimpi.

“Ya Jagad Dewa Batara, Engkau telah mempertemukan aku dengan Mas Firman. Terima kasih mas. Kamu telah datang disaat aku sedang membutuhkanmu. Walaupun hanya lewat mimpi. Ternyata kamu masih ingat aku mas,” gumam Putri sambil menangis.

Malam itu Putri kembali tidur. Lagi-lagi Putri bermimpi tentang Firman. Firman mengenakan pakaian seba putih, dan sebuah mahkota di kepalanya. Ia duduk di singgahsana berdampingan dengan Ratu Selatan.

Sang Ratu membujuk Firman agar mau menjadi suaminya. Namun sayangnya Firman menolak mentah-mentah. Hal itu membuat Sang Ratu murka dan meminta prajurit untuk menyiksanya. Firman lebih memilih disiksa, daripada mengikuti kemauan Bangsa Jin itu.

“Apa yang kamu cari di dunia ini Kang Mas ? Jika Kang Mas mau menjadi suamiku, niscaya hidup Kang Mas akan bahagia. Kang Mas mau minta apa ? Harta kekayaan, atau singgahsana ini. Semuanya akan saya berikan kepada Kang Mas. Asalkan Kang Mas mau menuruti semua kemauanku,” bujuk Penguasa Laut Selatan itu.

“Tidak mungkin saya memenuhi keinginan Sang Ratu. Karena alam kita berbeda,” jawab Firman menolak dengan tegas.

“Apa ? Kang Mas menolak keinginanku ! Siapa pun yang berani menolak Penguasa Laut Selatan, maka dia harus menerima ganjarannya,” ujar perempuan cantik yang selalu mengenakan pakaian serba hijau itu terlihat sangat geram.

Ia berdiri sambil berkacak pinggang lalu mengibaskan selendangnya.

“Prajurit...! Siksa laki-laki yang sok jual mahal itu !” Ujar Ratu yang biasa disapa Nyi Roro Kidul itu.

Dengan sigap, beberapa orang prajurit menyeret dan membawa Firman ke tempat penyiksaan. Di sana terlihat seorang algojo bertubuh besar tinggi, dengan tampang sangar mendekati Firman sambil mengayun-ayunkan cambuknya.

“Hai manusia, kini giliran kamu yang harus merasakan cambuku ini. Ini adalah hukuman bagi siapa saja yang berani menolak keinginan Sang Ratu,” ujar Algojo itu lalu mengayunkan cambuknya ke tubuh Firman.

“Hiiaatt..., ceter.”

“Aaa..., sakit.”

“Hiatt..., ceter,”

“Sakit...” Teriak Firman.

“hiiaatt..., ceter.”

Cambuk itu bertubi-tubu menghajar Firman, hingga darahnya mengucur dari tubuhnya. Saat itulah Penguasa Laut Selatan datang dan meminta Algojo itu untuk menghentikan cambukannya.

“Berhenti...! Bagaimana Kang Mas ? Apakah Kang Mas masih bersikekeh dengan pendirian Kang Mas ? Sudahlah Kang Mas, ikuti saja kemauanku. Niscaya hidup Kang Mas akan mulya,” ujar Sang Ratu.

“Sekalipun Sang Ratu membunuhku, aku tidak akan mau mengikuti kemauan Sang Ratu,” jawab Firman.

“Lancang Sekali kamu ya. Berani-beraninya kamu menolak keinginanku. Hai manusia, enyahlah kamu dari hadapanku. Hiaaaaattttttttt...” Teriak Nyi Roro Kidul sambil menendang Firman, hingga terpental keluar dari istananya.

“Mas Firman...” Teriak Putri menjerit melihat Firman ditendang oleh Penguasa Laut Selatan sampai terpental keluar istananya..

Tiba-tiba Putri dikagetkan oleh suara jam dinding yang berdering. Ia pun terjaga dari mimpinya, dan terlihat sangat ketakutan sekali. Perempuan beranak tiga itu tubuhnya dibanjiri keringat dingin. Sambil memejamkan matanya ia duduk bersila dan memanjatkan do’a kepada Sang Hyang Widi Wasa.

“Ya Jagad Dewa Batara, apakah arti mimpiku ini. Berilah ketenangan kepada Mas Firman di alam sana,” ujar Putri sambil mengelus dadanya yang berdebar kencang.

Setelah merasa tenang, ia mengambil ponselnya, lalu menghubungi Daeng.

“Halo, Daeng,” ujar Putri.

“Halo Put. Ada apa malam-malam begini kamu nelpon saya ?” tanya Daeng.

“Saya sedang berduka Daeng. Suamiku meninggal dunia,” ujar Putri sambil menangis.

“Suamimu sakit apa Put ?” tanya Daeng.

“Kecelakaan di pesawat minggu kemaren,” ujar Putri lagi.

“Apa ? Jadi pesawat yang jatuh kemarin adalah pesawat yang diterbangkan suamimu ?” tanya Daeng lagi.

“Ya Daeng.”

“Ya Allah. Saya turut berduka cita sedalam-dalamnya ya Put. Kamu yang tabah ya,” ujar Daeng.

“Ya Daeng terima kasih ya,” jawab Putri.

“Kalau begitu besok pagi aku meluncur ke Bali ya. Sekarang kamu istirahat saja, dan jangan banyak pikiran,” ujar Daeng.

“Terima kasih sebelumnya, Daeng. Sebenarnya banyak sekali yang akan saya ceritakan kepadamu. Tapi ya sudah ceritanya nanti saja kalau kamu sudah datang ke sini,” ujar Putri.

“Ya sudah ceritanya nanti saja ya Put,” ujar Daeng.

“Ya Daeng. Sekali lagi terima kasih ya,” ucap Putri.

“Sama-sama Put,” jawab Daeng.

Sementara dari Lampung, pagi-pagi sekali Daeng dan istrinya sudah check in ke bandara. Tepat jam tujuh tiga puluh, pesawat yang ditumpanginya sudah take off dari bandara menuju ke Bali. Tiga jam kemudian pesawat pun Landing di bandara Ngurah Rai. Daeng dan istrinya harus melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan umum. Dua jam kemudian, mereka sudah sampai di rumah Putri.

Kedatangan Daeng dan istrinya disambut isak tangis Putri. Dua sahabat di masa SMP itu, kembali bertemu setelah sebelumnya bertemu di Lampung, saat terjadi Tsunami Selat Sunda. Saat itu Putri sengaja datang untuk mencari jasad Firman. Sampai akhirnya Putri pulang dengan tangan hampa, lantaran jasad Firman tak ditemukan dan Firman dinyatakan hilang.

Kini giliran Daeng dan istrinya bertandan ke rumahnya, untuk menghibur Putri yang sedang ditimpa musibah. Kini lengkap sudah penderitaan Putri. Sebagai sahabatnya, Daeng pun tak tinggal diam. Dia sengaja mengajak istrinya untuk menghiburnya. Dua perempuan beda suku dan agama itu saling berpelukan. Sementara Daeng hanya bisa menyaksikan dengan cucuran air mata.

“Yang tabah ya mba. Mungkin ini sudah kehendak Tuhan,” ucap istri Daeng.

“Ya mba terima kasih. Kalian sengaja datang jauh-jauh dari Lampung, hanya untuk mengunjungiku. Terima kasih ya mba.”

“Ya nggak apa-apa mba. Mbak adalah teman baik Firman dan juga teman baik suami saya. Itu artinya, Mba Putri juga teman saya. Mudah-mudahan badai cepat berlalu ya mba. Di balik musibah ini, pasti akan ada hikmahnya,” ujar istri Daeng.

“Ya mba, terima kasih,” jawab Putri.

“Oh ya Put, sekali lagi kami turut berbela sungkawa atas musibah yang menimpa suamimu ya,” sahut Daeng.

“Ya Daeng terima kasih,” jawab Putri, lalu menceritakan musibah yang menimpa suaminya. Perempuan beranak tiga yang terlihat masih cantik itu bercerita sambil berderaian air mata. Sesekali napasnya tersengal-sengal, dan suaranya terdengar parau. Daeng dan istrinya mendengarkan dengan rasa iba.

“Yang tabah ya Put. Kalau semalam kamu nggak memberi tahu saya, mungkin saya tidak tahu kalau suamimu kecelakaan,” ujar Daeng.

“Saya memang bermaksud untuk tidak memberitahumu Daeng. Tapi karena ada masalah lain, terpaksa saya memberi tahumu,” ujar Putri.

“Memangnya ada masalah apa lagi Put ?” tanya Daeng.

“Firman, Daeng,” jawab Putri.

“Firman ? Memangnya ada apa dengan Firman ? Jangan kamu ingat-ingat dia lagi Put. Ihlaskan kepergiannya,” ujar Daeng.

“Akhir-akhir ini saya selalu bermimpi tentang Mas Firman. Saat aku sedang menangis, tiba-tiba Mas Firman datang, lalu mengusap air mataku. Dia juga meminta agar aku mengihlaskan kebergian suamiku,” ujar Putri.

“Yang Firman katakan itu benar Put. Kamu tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Mungkin kedatangan Firman untuk mengingatkanmu Put,” ujar Daeng.

“Ya Daeng. Tadinya aku sangat putus asa dengan kepergian suamiku. Tapi setelah mendengar nasihat Mas Firman, entah mengapa aku merasa tenang. Mas Firman hadir bukan saja membuatku tenang. Akan tetapi telah menyadarkanku, bahwa semua yang ada di dunia ini, suatu saat pasti akan kembali kepada Sang Hyang Widhi Wasa,” terang Putri.

“Sukurlah kalau kehadiran Firman walau hanya lewat mimpi dapat membuatmu tenang,” ujar Daeng.

“Tapi ada yang membuatku sangat sedih tentang mimpi itu Daeng,” timpal Putri.

“Memangnya kamu mimpi apa lagi Put ?” tanya Daeng.

“Setelah Mas Firman memintaku agar tidak sedih, aku tidur dan kembali mimpi dia lagi Daeng. Aku melihat Mas Firman disiksa oleh Ratu Selatan karena menolak menjadi suaminya. Mas Firman ditendang oleh Nyi Roro Kidul sampai terpental keluar dari singgahsananya,” terang Putri sambil memeluk istri Daeng.

“Udah mba, udah. Jangan bersedih ya mba. Itu hanyalah mimpi. Hanya kembang tidur. Saya yakin Firman sudah tenang di alam sana,” ujar istri Daeng.

“Betul Put. Mungkin kamu terlalu memikirkannya. Makanya sampai terbawa mimpi,” timpal Daeng.

Setelah Putri jiwanya sudah stabil, Daeng dan istrinya berpamitan pulang.

“Oh ya mba. Kami mohon pamit dulu ya. Mba Putri kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan beritahu kami ya,” ujar istri Daeng.

“Ya mba. Terima kasih atas kunjungannya. Doakan saja, agar aku bisa berkunjung ke sana lagi,” ujar Putr.

Hari itu juga Daeng dan istrinya berpamitan dan pulang ke Lampung. Dua sahabat itu saling kontak dan saling memberitahu jika ada masalah. Terutama jika Putri sedang dirundung kesepian, ia tak sungkan sungkan bercerita kepada Daeng dan istrinya.

ORANG ASING

Pagi itu langit di Selat Sunda terlihat sangat cerah sekali. Sekawanan burung pemangsa ikan hilir mudik mengejar mangsanya. Demikian juga dengan Mang Ujang yang sehari-hari berprofesi sebagai seorang nelayan. Setelah selesai memasang jaringnya, ia membiarkan jaringnya melambai-lambai menggoda ikan-ikan yang sedang lalu lalang. Setelah itu ia mendayung perahu cadiknya, dan mengikatkan pada tiang bagan. Kemudian ia beristirahat di dalam bagan, sebuah bangunan yang mirip seperti rumah apung.

Sambil menghelai napas, laki-laki parubaya itu memandang deburan ombak, yang saling berkejaran. Kemudian ia membakar sebatang rokok untuk menghangatkan tubuhnya. Setelah itu merebahkan tubuhnya pada bagan yang memiliki ketinggian lima meter di atas permukaan laut.

Malam itu Mang Ujang bersenandung lewat mimpinya, diiringi desir angin sepoi-sepoi merambah ke sekujur tubuhnya. Sementara dari kejauhan, terlihat kerlap-kerlip lampu perahu nelayan menghiasi gelapnya malam. Laksana lampu disco, mengiringi hiruk pikuk ombak laut yang saling berkejaran. Tepat jam tiga dini hari, Mang Ujang terbangun dan memandang lautan lepas. Ia duduk sambil tersenyum membayangkan ikan-ikan itu terperangkap pada jaring miliknya.

Mang Ujang menggeser duduknya, lalu mengambil sebatang rokok, dan menyalakannya. Aroma kretek menyebar terbawa angin laut, menambah suasana dipagi itu terasa hangat. Setelah beberapa jam menunggu sang fajar, ia turun dari bagan, dan mengayuh perahu cadiknya mendekati jaring yang ia pasang.

Dengan mengucap bismillahirohmanirohim, Mang Ujang mengangkat jaringnya yang dipenuhi ikan-ikan hasil tangkapannya. Satu persatu ikan-ikan itu dilepas, dan dimemasukan ke dalam bak perahu. Ia pun tersenyum sambil bersiul kegirangan.

Kemudian Mang Ujang mendayung Si peluncur kebanggaannya menuju sebuah pulau kecil di mana Mang Ujang dan keluarganya tinggal. Perahu kecil itu melaju dengan pasti, meninggalkan tempat dimana jaring-jaringnya telah ia pasang kembali.

Di tengah perjalanan pulang, laki-laki berdarah sunda itu melihat sesuatu yang mencurigakan. Ia mempercepat dayungannya, dengan rasa penasaran mendekati benda yang ia lihat. Samar-samar benda itu mirip orang yang sedang tertelungkup memeluk serpihan perahu yang diduga pecah di tengah lautan.

Setelah sampai di tempat yang dicurigai, ternyata kecurigaan Mang Ujang benar. Sosok laki-laki yang hampir tak mengenakan pakaian, tertelungkup di atas serpihan perahu.

“Ya Allah, siapakah laki-laki itu ? Apakah dia masih hidup ?” gumam Mang Ujang.

Lalu Mang Ujang mendekati laki-laki itu, dan menempelkan jarinya pada hidungnya. Ternyata laki-laki itu masih hidup.

“Ya Allah ternyata orang ini masih hidup. Kasihan sekali orang ini. Tubuhnya penuh luka, dan hampir tak mengenakan pakaian. Saya harus menolongnya,” ujar Mang Ujang.

Kemudian Mang Ujang memindahkan laki-laki itu ke atas perahu, dan menyelimutinya dengan sarung miliknya. Setelah itu berusaha membangunkannya. Sayangnya laki-laki itu tetap diam, tak meresfon panggilan Mang Ujang.

“Dek bangun dek. Bangun dek. Ya Allah, kasihan orang ini. Wajahnya memar dan biru-biru seperti bekas benturan. Pada lengan tangannya lecet-lecet penuh luka, “ gumam Mang Ujang sambil menggoyang-goyang tubuh tak dikenal itu.

Mang Ujang terlihat cemas dan sangat bingung untuk menolong orang itu. Karena bingung, akhirnya Mang Ujang memutuskan untuk membawanya pulang. Setelah satu jam mendayung perahunya, Mang Ujang berhasil mendaratkan sampannya. Setelah itu mengikatkan perahunya pada batang kelapa. Kemudian ia berteriak minta tolong kepada istrinya.

“Nyai..., Nyai..., tolong Abah,” ujar Mang Ujang.

“Aya naon Bah, teriak-teriak ?” tanya istri Mang Ujang.

“Kadie sekedap. Tolong Abah,” ujar Mang Ujang dengan logat sundanya.

“Heleh, heleh. Aya naon Bah, teriak-teriak. Henteu biasana Abah seperti iye,” ujar Bu Ujang heran.

“Udahlah mak jangan banyak tanya. Sekarang kita tolong Abah dulu,” sahut Lilis anak semata wayangnya.

“Ya Neng, kita bantu Abah,” jawab Bu Ujang, lalu mendekati suaminya yang sedang minta tolong.

. Alangkah kagetnya Bu Ujang dan Lilis, ketika melihat ada sosok laki-laki terbujur di atas perahu, diselimuti sarung milik Mang Ujang.

“Itu apa Bah ? Kenapa Abah membawa mayat ?” tanya Lilis, heran.

“Ya Bah. Apa yang telah Abah lakukan kepada orang ini ? Mayat siapa itu bah ?” tanya Bu Ujang kaget.

“Hus sembarangan kalian ini. Sudah kalian jangan banyak tanya dulu. Sekarang bantu Abah membawa orang ini ke dalam rumah,” ujar Mang Ujang.

“Ya Bah,” jawab keduanya kompak.

Mereka lalu membawa masuk laki-laki itu ke dalam rumah. Setelah itu Mang Ujang berusaha membangunkannya, sementara Bu Ujang menyiapkan segelas teh hangat.

“Bangun dek, bangun,” ujar Mang Ujang sambil menggoyang-goyang tubuhnya

“Ini teh hangatnya Bah,” ujar Bu Ujang sambil menyodorkannya ke Mang Ujang.

“Tolong teteskan teh hangat ini pada mulutnya ya, Neng. Usahakan pelan-pelan saja,” ujar Mang Ujang.

“Ya Bah,” jawab Lilis.

Hari itu mereka bahu membahu menolong laki-laki asing itu. Bu Ujang dan Lilis secara bergantian meneteskan teh hangat ke bibir laki-laki yang terlihat sangat pucat itu. Berkat kesabarannya, laki-laki itu pun siuman, sambil terbatuk-batuk.

“Dia sudah sadar Bah, tapi terlihat masih lemah sekali,” ujar Lilis sedikit merasa cemas.

“Biarkan dia beristirahat dulu, Neng. Sekarang kamu siapkan bubur untuk dia, ya,” ujar Mang Ujang.

“Baik, Bah,” jawab Lilis.

Ketika Lilis bergegas meninggalkannya, tiba-tiba terdengar suara lirih dari bibir laki-laki itu.

“Sa...ya, a... da... di ma na... ? A pa kah..., sa ya sudah ma ti... ? Ka lian ini si apa... ? Apa kah ka lian ini ma...la...i kat ?” tanya orang itu terlihat bingung.

Mang Ujang tersenyum lalu menjawab pertanyaannya, dengan bijak.

“Kamu masih hidup dek. Sekarang kamu berada di rumah saya. Saya Mang Ujang, dan ini istri saya. Dan yang itu adalah Neng Lilis anak saya,” ujar Mang Ujang.

“Te ri ma ka sih ya Mang,” ucap laki-laki itu.

“Siapa nama mu dek ?” tanya Mang Ujang.

Laki-laki itu menggeleng, sambil mengerutkan keningnya. Kemudian menatap Mang Ujang, lalu menjawab pertanyaannya.

“Sa...ya, ti...dak.., ta..., hu Mang. Saya lupa,” jawabnya singkat.

“Kenapa dia lupa namanya sendiri bah ?” bisik Lilis.

“Kayaknya dia lupa ingatan neng,” jawab Mang Ujang.

Pemuda itu terlihat masih sangat lemah. Sehingga belum bisa mengingat asal usulnya. Tunggu saja dulu sampai benar-benar dia pulih Sekarang kamu istirahat dulu ya dek,” ujar Mang Ujang, lalu mereka meninggalkannya di kamar sendirian.

“Kenapa dia sampai lupa ingatan Bah ?” tanya Lilis lagi.

“Kayaknya benturan dikepalanya yang membuatnya lupa ingatan,” jawab Mang Ujang.

“Apakah nanti ingatannya akan kembali lagi Bah ?” sahut Bu Ujang.

“Mudah-mudahan masih bisa. Tapi itu membutuh waktu yang cukup lama,” jawab Mang Ujang.

“Kasihan dia ya Bah,” timpal Lilis.

“Nanti kalau buburnya sudah matang, tolong suapi pelan-pelan ya, Neng,” ujar Mang Ujang.

“Ya Bah. Kasihan sekali pemuda itu ya bah. Dia sama sekali tidak ingat namanya,” ujar Lilis.

“Ya Neng. Abah juga sangat kasihan sama dia,” ujar Mang Ujang.

“Bagaimana ceritanya Abah bisa menemukan dia ?” tanya Bu Ujang.

“Tadi saat Abah mau pulang, Abah melihat dia mengambang di atas serpihan papan perahu. Kareana masih hidup, makanya Abah membawanya pulang,” terang Mang Ujang.

“Jangan-jangan pemuda itu adalah korban Tsunami beberapa waktu yang lalu Bah,” sahut Lilis.

“Abah rasa juga begitu Nyai,” jawab Mang Ujang.

“Kalau dilihat dari wajahnya, kayaknya pemuda itu bukan orang sini ya bah. Wajahnya terlihat bersih meskipun terdapat luka di sana-sini,” sahut Lilis.

“Ya Neng. Kayaknya dia bukan orang sini,” timpal Bu Ujang.

“Siapa pun dia, sebagai manusia kita wajib menolongnya. Bukan begitu Nyai ?” ujar Mang Ujang.

“Betul bah,” jawab Bu Ujang.

“Terus selama dia belum bisa mengingat dirinya, kita harus memanggilnya apa Bah ?” tanya Lilis.

“Ya, betul apa kata Neng Lilis bah,” timpal Bu Ujang sependapat dengan pertanyaan Lilis.

“Pemuda itu Abah temukan di tengah laut dan diduga korban dari Tsunami. Nama yang cocok untuk dia kira-kira apa ya ?” tanya Mang Ujang sambil mengerutkan keningnya.

“Bagaimana kalau kita kasih saja, nama Tirta ?” sahut Lilis.

“Tirta... ? Ya Abah sangat setuju sekali. Tirta artinya air. Ya, ya. Nama itu sangat cocok untuk pemuda gagah itu. Apakah Nyai setuju ?” tanya Mang Ujang kepada istrinya.

“Nama itu saya rasa cocok sekali untuk pemuda tampan itu,” jawab Bu Ujang.

Tiba-tiba mereka mendengar pemuda itu mengerang kesakitan. Secara bersamaan, mereka berhamburan menemui pemuda itu.

“Akang sudah bangun ?” tanya Lilis ramah.

“Istirahat saja dulu dek. Tenaga kamu masih belum pulih betul,” ujar Mang Ujang.

“Ya kang istirahat dulu. Akang masih lemah. Jangan banyak gerak dulu kang,” timpal Lilis lagi.

“Kalian sangat baik sekali mau menolong saya,” ujar laki-laki itu.

“Udah jangan dipikirkan dulu dek. Neng Lilis, apakah buburnya sudah masak ?” tanya Mang Ujang.

“Sudah saya siapkan Bah. Sekarang neng ambil dulu, ya,” ujar Lilis, lalu pergi ke dapur.

Tak lama kemudian ia kembali membawa semangkuk bubur. Kemudian duduk di sebelah laki-laki yang belum tahu jati dirinya..

“Sekarang makan dulu ya kang, biar punya tenaga. Sekarang Neng suapin. Buka mulutnya kang,” ujar Lilis.

“”Aduh mulutku masih sakit neng kalau dibuka,” jawab Laki-laki itu lagi.

“Pelan-pelan aja kang. Nggak usah lebar-lebar buka mulutnya,” ujar Lilis.

“Kamu baik sekali Neng. Pedahal kita belum baru saja kenal,” sahut pemuda itu.

“Oh ya kang. Neng bingung memanggil nama akang. Tadi Abah dan Emak sudah menemukan nama yang cocok untuk Akang,” ujar Lilis.

“Kalau kamu setuju, kami akan memberi nama Tirta untuk kamu,” sahut Bu Ujang.

“Nama itu bagus sekali. Kayaknya saya suka dengan nama itu,” jawab pemuda yang diberi nama Tirta.

“Neng Lilis yang memberi nama itu,” timpal Bu Ujang.

“Terima kasih ya Neng. Saya suka nama itu,” jawab Tirta.

“Sama-sama kang. Sudah dulu makannya ya kang. Sekarang Neng mau naro makok ini dulu.”

“Ya Neng. Aduh !” teriak Tirta memaksakan diri untuk duduk.

“Jangan memaksakan diri kang. Akang mau ngapain ?” tanya Lilis.

“Mau dudk neng. Capek rebahan terus,” jawab Tirta.

Lilis membantu Tirta untuk duduk. Kemudian menurunkan kakinya ke ranjang. Setelah itu ia pergi ke dapur. Namun Tiba-tiba Lilis mendengar Tirta mengerang kesakitan. Ia segera berlarian kembali lagi ke kamar Tirta. Rupanya Tirta sedang belajar berdiri sambil berpegangan dinding rumah.

“Kang Tirta mau ke mana kang ?” tanya Lilis.

“Di sini jenuh Neng. Akang mau ke luar,” ujar Tirta.

“Apa akang sudah sehat ? Sok Neng papah ya kang,” ujar Lilis lalu memapah Tirta ke ruang tamu.

“Duduk di sini aja ya kang. Di luar dingin,” ujar Lilis.

“Tolong temani Dek Tirta ya Neng. Emak mau buat air hangat dulu,” ujar Bu Ujang lalu meninggalkan Lilis dan Tirta.

“Ya mak,” jawab Lilis, mengangguk.

“Maaf kan akang ya Neng. Akang telah merepotkan kalian,” ujar Tirta.

“Kami tidah merasa direpotkan kok dek. Kami malah senang bisa membantu kamu,” sela Bu Ujang yang tiba-tiba datang membawa teh manis.

“Silahkan di minum tehnya dek,” ujar Bu Ujang.

“Terima kasih ya Bu,” jawab Tirta.

“Aih jangan panggil ibu. Mulai sekarang panggil Emak saja ya, nak,” ujar Bu Tirta.

“Ya bu. Eh mak,” jawab Tirta gugup.

“Nah, kalau begitukan kedengarannya enak. Dan mulai sekarang, kamu juga jangan panggil Mang Ujang. Tapi panggil Abah saja,” ujar Bu Ujang.

“Baik Mak,” jawab Tirta lalu mengambil teh manisnya.

Pemuda itu tampak gemetar ketika mengambil tehnya. Dengan reflek Lilis membantunya dan meminumkannya. Mang Ujang dan istrinya tersenyum melihat Lilis membantunya. Dalam hati mereka sangat bangga kepada anak gadisnya yang memiliki sifat penolong dan berhati baik. Persis seperti kedua orang tuanya.

“Bagaimana nak ? Apakah sudah lebih baikan ?” tanya Mang Ujang.

“Alhamdulillah sudah lebih baikan Bah,” jawab Tirta.

“Apakah Nak Tirta sudah ingat sesuatu ?” tanya Mang Ujang.

“Maaf Bah. Saya belum ingat apa-apa ?” jawab Tirta, lalu mengerutkan keningnya, tampak sedang berfikir keras. Tiba-tiba ia mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya.

“Aduh kepalaku sakit sekali,” teriak Tirta sambil meringis.

“Ada apa kang ? Kenapa kepalanya sakit ?” tanya Lilis.

“Nggak tahu neng. Tiba-tiba kepala akang sakit,” jawab Tirta.

“Udah nak, udah. Jangan mikir yang berat-berat dulu,” sahut Mang Ujang.

Hari itu Tirta berusaha mengingat-ingat asal usulnya. Namun bukannya ada yang diingat malah kepalanya kesakitan. Dengan sabar Lilis selalu mendampingi Tirta sampai luka yang ada ditubuhnya berangsur-angsur mulai pulih. Luka pada wajah dan lengan tangannya mulai mengering. Tirta berubah menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan.

Seiring berjalannya waktu hubungan Tirta dengan keluarga Mang Ujang tidak seperti orang asing lagi. Mereka semakin akrab dan seperti keluarga sendiri. Dulu Mang Ujang dan istrinya memaanggil dirinya dengan sebuatn adek, sekarang panggilannya telah berubah menjadi Nak Tirta. Sebaliknya Tirta memanggil kedua orang tua itu dengan sebutan Abah, dan Emak. Demikian juga hubungannya dengan Lilis. Hubungan mereka semakin dekat dan tampak akrab sekali.

Dua bulan sudah Tirta tinggal bersama keluarga kecil ini. Namun belum ada tanda-tanda bahwa ingatan Tirta akan kembali lagi. Berulang kali Mang Ujang menanyakan perihal nama aslinya, namun jawaban Tirta tetap sama, yaitu tidak ingat apa-apa. Hingga pada suatu hari ketika Mang Ujang hendak melaut, entah mengapa pagi itu Tirta tampak semangat sekali ingin ikut.

Tentu saja Mang Ujang tidak merasa keberatan. Keduanya berangkat dengan perahu cadiknya menantang gelombang. Tiba di tempat biasa Mang Ujang menggelar jaringnya, Tirta pun tak segan-segan membantu orang tua itu memasang jaringnya. Setelah itu membantunya mengangkat ikan-ikan yang terjerat jaring.

Saat mereka hendak memasang kembali jaringnya, tiba-tiba datang angin kencang disusul ombak yang sangat besar menghantam perahu mereka. Firman terpental dan jatuh ke laut. Firman yang tak pandai berenang itu nggep-ngepan seperti mau sekarat. Mang Ujang melompat ke laut, dan berhasil menyelamatkannya. Kemudian membanya ke atas perahu.

Di atas perahu Firman mutah-mutah sambil mengerang kesakitan. Sementara kedua tangannya memegang kepalanya dengan mata melotot keluar, terlihat sangat ketakutan. Mang Ujang pun tak mau gegabah dan membawanya pulang. Begitu sampan yang mereka tumpangi telah mendarat, Tirta langsung melompat, sambil menjerit ketakutan. Lilis yang melihat Firman ketakutan berusaha menenangkannya.

“Ada apa Kang ? Kenapa Akang terlihat sangat ketakutan begitu ? Ada apa dengan Kang Tirta bah ?” tanya Lilis.

“Tadi Nak Tirta kejebur ke laut dan terlihat sangat ketakutan. Kayaknya dia ingat sesuatu Neng,” jawab Mang Ujang.

“Pantesan Kang Tirta ketakutan seperti itu bah,” ujar Lilis.

Sementara Tirta terlihat masih ketakutan. Ia jongkok di kamar sambil mengepalkan tangannya, dengan mata terpejam. Teriakan minta tolong mengiringi ketakutan Firman. Lilis merasa tak tega melihat pemuda gagah itu ia memeluk Tirta berusaha menenagkannya.

“Jangan takut Kang. Akang sekarang bersama Neng. Sekarang Akang aman di sini,” ujar Lilis sambil memeluknya erat.

Mendengar ucapan Lilis, Firman mulai tenang. Ia membuka wajahnya dengan bantal yang membekapnya. Pemuda itu terlihat pucat dengan keringat dingin. Kemudian Lilis kembali memeluk Tirta berusaha menenangkannya.

“Udah Kang, udah. Jangan takut. Akang sekarang aman bersama Neng Lilis,” ucap gadis cantik yang terpaut usianya dua puluh tahun lebih muda dari Tirta.

Lilis sadar pemuda yang ada di hadapannya itu sedang dibayang-bayangi oleh badai Tsunami yang hampir merenggut jiwanya. Saat ini Tirta masih dicengkram oleh rasa ketakutan. Kini Tirta menatap Lilis dengan tatapan penuh kecemasan. Dengan lembut Lilis mengusap wajah Tirta yang telah dibanjiri oleh peluh.

Saat tangan lembut itu menyentuh pipinya, Tirta merasakan kedamaian yang teramat sangat. Rasa takut yang sedang menggerogoti dirinya, hilang seketika. Ditambah lagi tutur katanya yang lembut, mampu menentramkan jiwanya yang lara.

“Jangan takut Kang. Neng Lilis akan selalu bersama Akang,” ujar Lilis lembut sambil meremas tangannya.

Pemuda yang baru saja diserang rasa ketakutan itu pun kembali tenang. Tirta mengangkat wajahnya menatap gadis yang memperlakukan dirinya seperti kekasihnya.

“Maafkan Akang ya Neng. Akang telah merepotkan Neng Lilis,” ujar Tirta.

“Jangan berkata begitau Kang. Neng ihlas membantu Akang. Neng juga kasihan sama Akang. Pasti selama ini Akang sudah banyak menderita,” ujar Lilis polos.

Sementara Mang Ujang dan istrinya hanya bisa menarik napas lega melihat Tirta sudah tidak ketakutan lagi. Kemudian mereka mendekati Tirta dan Lilis.

“Maafkan Abah Nak Tirta. Gara-gara Abah, Nak Tirta jadi seperti ini,” sahut Mang Ujang.

“Justru saya yang seharusnya minta maaf sama Abah. Gara-gara saya, abah kembali direpotkan oleh saya,” jawab Tirta.

“Sudah lupakan saja nak. Yang penting kamu baik-baik saja,” timpal Mang Ujang.

“Betul apa yang dikatakan Abah Nak. Yang penting kamu baik-baik saja,” sahut Bu Ujang.

Hari berganti minggu, dan minggu pun telah berganti bulan. Seiring berjalannya waktu, secara berangsur-angsur jiwa Tirta semakin normal. Firman sudah bisa membantu Lilis menjajakan ikan hasil tangkapan Mang Ujang keliling Kampung. Atas keramahan keduanya, warga merasa nyaman membeli ikan-ikan yang mereka jual. Apa lagi mereka tidak mematok harga seperti harga di pasar. Sehingga tak makan banyak ikan mereka telah ludes dibeli warga.

Setelah itu mereka langsung pulang. Selama perjalanan pulang, Tirta menggoda Lilis memainkan laju motornya. Kadang-kadang ia mengegas motornya, lalu tiba-tiba menginjak remnya. Tentu saja membuat Lilis sangat ketakutan karena takut jatuh. Sedangkan Tirta malah tertawa terbahak-bahak.

“Hati-hati bawa motornya Kang. Neng takut Kang. Nanti Neng jatuh,” teriak Lilis.

“memangnya Neng takut apa ? Kan ada Akang ?” goda Tirta.

“Takut jatuh lah kang,” jawab Lilis.

“Kirain takut jatuh cinta, hahaha...” Goda Tirta lagi.

“Ih Akang nakal, deh. Neng Lilis jadi benci sama AKang,” ujar Lilis.

“Akang juga juga benci sama neng Lilis,” sahut Tirta.

“Kenapa Kang Tirta benci sama Neng ? Apa salah Neng kang ?’ tanya Lilis.

“Kan Neng Lilis yang bilang duluan benci sama Akang. Makanya Akang juga benci sama Neng. Benar-benar cinta, hahaha...” Goda Tirta.

“Ih Akang gombal,” jawab Lilis sambil mencubit perutnya.

Tirta kembali menarik gas motornya. Kali ini motornya dibuat jalan zig zag. Sehingga Si Wajah cantik itu terlihat sedikit memerah menahan marah. Tirta memperhatikannya dari kaca spion sambil tersenyum simpul. Rupanya Lilis segera sadar kalau laki-laki gagah itu sedang memperhatikannya. Ia pun mencubit perutnya hingga Tirta kaget dibuatnya.

“Aduh...! Ada pa Neng ? Kenapa kamu mencubit perut Akang ?”

“Akang nakal sih. Rupanya akang dari tadi memperhatikan wajah Neng dari kaca spion ya ?” tanya Lilis.

“Maaf Neng. Sayangkan wajah cantik itu didiamkan begitu saja, hahaha...” Godanya lagi.

“Ih..., akang ini diam-diam jago gombal juga ya,” ujar Lilis kembali mencubit perut Tirta.

Tirta mengusap perutnya sambil meringis kesakitan. Melihat Tirta kesakitan, Lilis meraba perut Tirta lalu mengelitikinya. Terang saja membuat Tirta tertawa terpingkal-pingkal dan menghentikan laju motornya.

“Udah Neng, udah. Akang sudah nggak sanggup lagi. Akang geli neng. Hahaha...” Ucap Tirta.

“Makanya jangan jail kang. Emang enak diklitikin ? Sekarang Neng baru tahu. Kelemahan Akang adalah takut dengan geli. Ya kan hehehe...” Jawab Lilis.

“Ya Neng. Akang jadi pengin,” ujar Tirta lalu menghentikan laju motornya dan lari terbirit-birit pergi ke semak-semak. Lilis yang melihat tingkah Tirta tertawa terbahak-bahak.

“Hehehe..., Akang-Akang. Rupanya Akang kebelet pipis ya. Hehehe...” Ujar Lilis tertawa lepas.

Tak lama kemudian Tirta keluar dari semak-semak sambil tersenyum. Lilis sendiri memperhatikannya sambil menahan tertawa.

“Udah kang pipisnya ? Makanya jadi orang jangan jail Kang. Sekarang akang sendiri yang terpingkal-pingkal sampai kebelet pipis, hehe...” Lilis balik menggodanya.

“Ya Neng. Habis kalau kita diem-dieman kan nggak enak ? Ya udah deh sekarang Akang kapok,” ujar Tirta lalu kembali mengengkol motornya. Ternyata candaan Tirta tidak sampai di situ saja. Kini Tirta kembali berulah. Ia kembali memainkan laju motornya. Keduanya tertawa terbahak-bahak dengan wajah yang berseri-seri.

Sampai di rumah keduanya melanjutkan aktivitasnya menjemur ikan di depan rumah. Tawa dan canda mengiringi keduanya. Mereka tak sadar Bu Ujang sedang memperhatikan tingkahnya sambil tersenyum. Ia yakin keduanya sangat cocok jika disandingkan. Oleh karena itu setelah Mang Ujang pulang,Bu Ujang buru-buru menemui suaminya.

“Bah, Abah. Ada yang mau saya obrolkan dengan Abah,” ujar Bu Tirta.

“Aya naon Nyai ?” tanya Mang Ujang kepada istrinya.

“Begini Bah. Rasanya saya sudah mantap kalau mereka kita jodohkan saja,” usul Bu Ujang.

“Apa Nyai sudah siap dengan resikonya. Apakah Nyai yakin kalau Nak Tirta itu akan menyetujuinya?” tanya Mang Ujang.

“Saya sangat yakin Bah. Pasti Nak Tirta akan setuju,” jawab Bu Ujang.

“Kenapa Nyai yakin sekali ?” tanya Mang Ujang Lagi.

“Saya yakin sekali Bah. Pasti Nak Tirta mau kalau kita jodohkan dengan anak kita. Apa lagi mereka sudah terlihat sangat akrab. Saya yakin sebenarnya mereka saling mencintai,” ujar istri Mang Ujang.

“Terus bagaimana kalau suatu saat Nak Tirta ingatannya kembali lagi Nyai ?” tanya Mang Ujang.

“Kalau masalah itu kita pikirkaan nanti saja Bah. Yang penting sekarang Abah setuju nggak ?” desak Bu Ujang.

“Kalau Nyai sudah yakin dan setuju, rasanya tidak ada alasan lagi bagi Abah untuk tidak menyetujuinya. Sekarang tolong panggilkan Nak Tirta dan Neng Lilis,” ujar Mang Ujang.

“Baik Bah,” jawab Bu Ujang lalu memanggil Tirta dan Lilis.

“Njemur ikannya sudah selesai Nak ?” sapa Bu Ujang.

“Udah Mak,” jawab keduanya kompak.

“Kalian dipanggil Abah, sekarang,” ujar Bu Ujang.

Tirta dan Lilis saling pandang. Sementara Bu Ujang tersenyum melihat mereka. Untuk sesaat suasana di tempat itu menjadi lengang. Kemudian Bu Ujang dehem untuk menyadarkan keduanya.

“Ehm, ya sudah Emak duluan aja,”

“Ya Mak,” jawab keduanya gugup.

Setelah Bu Ujang pergi, mereka menerka-nerka apa yang membuat dirinya dipanggil.

“Kira-kira ada apa ya Kang ? Kenapa kita dipanggil Abah ?” tanya Lilis.

“Saya sendiri nggak tahu neng. Jangan-jangan kita mau dijodohkan, hahaha...” Kelakar Tirta.

“Aih, Kang Tirta ngaco deh,” ujar Lilis.

“Tapi kalau dugaan Akang benar, apakah Neng Lilis setuju ?” tanya Tirta sambil tersenyum.

“Pertanyaan Akang konyol ah,” jawab Lilis lalu menuju ke ruang tamu, diikuti oleh Tirta.

Di ruang tamu Mang Ujang dan Bu Ujang sudah menunggunya. Mereka menghampirinya dan duduk di kursi yang ada di depan mereka. Pandangan Mang Ujang tertuju pada keduanya silih berganti. Mula-mula menatap Tirta, kemudian menatap Lilis, tanpa bicara. Membuat Tirta dan Lilis terlihat semakin tegang. Suasana ruang tamu yang biasanya cukup mencair, hari itu terlihat sangat kaku.

Marni dan Tirta menundukan kepalanya, tak berani menatapnya. Mereka hanya menerka-nerka, hukuman apa yang akan mereka terima. Sambil menghelai nafas, Tirta mengurai satu-persatu tindak-tanduknya selama ini. Namun rasanya ia tidak pernah membuat kesalahan. Lantas apa yang membuatnya sampai dipanggil ? Itulah sebuah pertanyaan yang ada di benak Tirta. Tiba-tiba suara lembut mengoyak di keheningan yang membisu.

“Neng Lilis dan Nak Tirta, mungkin kalian sangat terkejut, mengapa tiba-tiba kalian Abah panggil ke sini?” tanya Mang Ujang.

Ucapan orang tua itu mampu mengokohkan posisi duduk Tirta yang dari tadi terlihat tak menentu. Kali ini Tirta memberanikan diri mengangkat wajahnya, memandang orang tua yang mulai ada guratan keriput. Sesekali Tirta melirik pada Lilis yang sejak dari tadi diam membisu.

Wajah Lilis ternyata tak kalah tegangnya dengan dirinya. Wajah ayunya terlihat memucat dan bibirnya gemeter. Dengan reflek, Tirta mengusap pundak Lilis, memberi isyarat agar tak tegang. Tiba-tiba Bu Ujang menimpali ucapan suaminya.

“Nak Tirta, selama ini kami sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Semakin hari kami lihat hubungan kalian berdua semakin dekat. Sebagai orang tua tentu kami ingin memberikan yang terbaik untuk kalian.

Maksud Abah jika kalian setuju, kami akan menjodohkan kalian berdua. Apakah kalian setuju ?” tanya Bu Ujang.

“Apa Mak ?” sahut Lilis terkejut, melirik ke Tirta sambil menutup bibir mungilnya.

“Ya Neng. Ab sh dan Emakmu bermaksud ingin menjodohkan kalian berdua. Itu pun jika kalian mau,” timpal Mang Ujang.

“Bagaimana menurutmu Nak Tirta ? Apakah Nak Tirta mau ?” tanya Bu Ujang.

Tirta memnggeser duduknya terlihat bibirnya gemetar tak mampu berucap. Ia terlihat gugup di hadapan kedua orang tua yang sudah dianggapnya seperti orang tuanya sendiri. Saat itulah Lilis meremas tangannya memberi isyarat agar jangan gugup. Tak lama kemudian suara lirih terdengar dari bibir laki-laki yang sampai saat ini belum ingat namanya.

“Ka...,lau sa...ya sih. Ter...se...rah sa ma Neng Lilis sa ja, Mak,” jawab Tirta gugup.

“Loh kok terserah sama Lilis,” ujar Bu Ujang.

“Ya mak.” Timpal Tirta.

“Bagaimana menurutmu Neng ? Apakah kamu mau jika kami jodohkan ?” tanya Mang Ujang.

Lilis tak menjawab pertanyaan Abahnya. Ia diam seribu bahasa sambil melirik kepada Tirta. Akhirnya Mang Ujang kembali menanyakan kepada putrinya lagi.

“Apakah kamu tidak mencintai Akangmu itu Neng ? Apakah kamu tidak suka bila kami jodohkan ?” tanya Mang Ujang.

“Bukan begitu Bah,” jawab Lilis.

“Terus apa dong ?Katakan yang jujur,” ujar Mang Ujang.

“Neng sih apa kata Kang Tirta saja Bah,” jawab Lilis.

“Loh, loh... Kok kalian saling lempar,” ujar Mang Ujang.

“Itu tandanya mereka saling mencintai Bah. Tapi mereka masih malu-malu. Sekarang tanya lagi ke Nak Tirta saja Bah,” timpal Bu Ujang.

“Bagaimana, apakah Nak Tirta setuju ?” Mang Ujang lagi.

“Kalau saya sih setuju aja Bah. Tapi bagaimana dengan Neng Lilis sendiri ? Apakah Neng Lilis mau dengan saya ?” jawab Tirta sambil berseloroh.

“Gimana Neng ? Apakah kamu mau ?” tanya Mang Ujang.

Lilis tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Dia justru diam sambil tersipu malu. Namun dibalik diamnya terpancar sebuah kebahagiaan. Matanya berbinar-binar laksana bintang kejora. Sementara Bu Ujang yang melihat perubahan pada wajah Lilis, hanya bisa tersenyum. Bu Ujang tahu jawaban di balik diamnya Lilis.

“Sudah Bah, jangan ditanya lagi. Diamnya Neng Lilis berarti setuju. Waktu Abah melamar saya, saya juga dulu hanya diam saja, hehehe...” Ujar Bu Ujang.

“Itu artinya...” Sahut Mang Ujang.

“Ya, anak kita setuju dengan perjodohan ini. Apakah Nak Tirta sependapat dengan Emak ?” tanya Bu Ujang.

“Ya Mak. Saya setuju. Tadi juga waktu Emak memnggil kami, Neng Lilis bilang katanya dia suka sama saya, Mak. Hehehe...” Seloroh Tirta.

“Ih, Akang ngarang deh. Tadi bukan Neng yang bilang begitu. Tapi Akang sendiri,” sahut Lilis sambil mencubit perut Tirta.

Tirta mengusap-usap perutnya yang terasa sakit. Sementara Mang Ujang dan Bu Ujang terkekeh-kekeh melihat tingkah Lilis dan Tirta.

“Kalau kalian sudah setuju, nanti Abah cari waktu yang tepat untuk pernikahan kalian,” Ujar Mang Ujang.

“Maaf Bah. Kalau bisa jangan terburu-buru,” sambung Tirta.

“Ya Bah. Kenapa harus buru-buru ?” timpal Lilis setuju dengan ucapan Tirta.

“Loh, loh. Lebih cepat lebih baik, jika kalian menikah. Kenapa mesti menunggu nanti ?” tanya Mang Ujang.

“Maaf Bah. Bukannya saya menolak niat baik Abah dan Emak. Tapi saya ingin mencari pekerjaan dulu Bah. Nanti kalau sudah dapat pekerjaan, baru kami menikah,” ujar Tirta.

“Ya Bah. Neng sependapat dengan Kang Tirta,” ujar Lilis,

“Selama ini Nak Tirta juga sudah membantu Abah dan Emakmu. Untuk apa lagi cari kerjaan ? Wong dari hasil melaut saja untuk makan kita berempat sudah cukup Nak,” terang Mang Ujang.

“Ya Bah. Tapi saya ingin belajar mandiri untuk menghidupi Si Neng yang cantik ini. Hehehe...” Goda Tirta.

“Ih Si Akang gombal deh. Tapi Neng sangat setuju dengan Kang Tirta,” timpal Lilis.

“Kalau itu sudah menjadi keputusan kalian berdua, sebagai orang tua kami hanya bisa mendukungnya. Bukan begitu Nyai ?” tanya Mang Ujang kepada istrinya.

“Betul Bah. Kita tak boleh memaksakan kehendak kepada mereka. Mudah-mudahan apa yang menjadi cita-citanya akan terwujud,” ujar Bu Ujang.

“Terima kasih ya Bah. Kalau begitu neng ke depan dulu melihat jemuran. Ayo Kang Tirta,” ajak Lilis, sambil menarik tangan Tirta.

Lalu keduanya pergi meninggalkan Mang Ujang dan Bu Ujang. Mang Ujang dan Bu Ujang menarik napas lega, melihat anak dan calon menantunya telah menyetujui perjodohannya. Mereka berharap perjodohan ini bukan karena dilatarbelakangi oleh rasa keterpaksaan, akan tetapi atas dasar saling mencintainya.

Setelah Tirta dan Lilis pergi, tiba-tiba Mang Ujang terdiam. Ujang yang melihat perubahan pada raut wajah suaminya menjadi heran.

“Kenapa tiba-tiba Abah terlihat sedih begitu, Bah ?” tanya Bu Ujang kepada suaminya sambil mengerutkan keningnya.

“Abah tiba-tiba merasa khawatir Nyai,” jawab Mang Ujang.

“Merasa khawatir bagaimana Bah ?” tanya Bu Ujang.

“Kenapa sebelumnya kita tidak pernah terpikir, apakah Nak Tirta sudah punya istri ? Bagaimana kalau kehawatiran Abah ini benar-benar terjadi Nyai ?” ujar Mang Ujang.

“Jangan nakut-nakuti begitu Bah. Saya jadi takut,” jawab istrinya.

Disaat keduanya sedang membicarakan Tirta, tiba-tiba Lilis datang menghampirinya.

“Tumben Abah dan Emak terlihat sangat serius sekali. Hayo sedang ngobrolin apa Bah ?” tanya Lilis.

“Nggak ada yang serius kok neng. Emakmu sedang membicarakan Nak Tirta,” Pak Ujang ngeles.

“Memangnya ada apa dengan Kang Tirta Mak ?” tanya Lilis lagi.

“Tidak ada apa-apa kok Neng. Kami hanya membicarakan tentang kondisinya saja. Kami merasa senang karena Nak Tirta sudah pulih terang Mang Ujang.

“Ya Bah. Neng Lilis juga senang sekali melihat Kang Tirta sudah sembuh,” ujar Lilis polos.

“Menurutmu, bagaimana dengan Nak Tirta Neng ?” tanya Bu Ujang.

“Maksud Emakmu, bagaimana pendapat kamu tentang Nak Tirta ? Apakah dia seorang pemuda yang baik ?” Kata Mang Ujang membantu menjelaskannya.

“Ya pastilah Bah. Kang Tirta itu orangnya sangat baik sekali,” jawab Lilis. Tiba-tiba obrolan mereka mendadak terhenti karena Tirta datang.

“Eh rupanya Neng Lilis ada di sini. Akang dari tadi nyari ke mana-mana. Akang mau menjual ikan-ikan ini, apakah Neng mau ikut ?”

“Ikutlah Kang. Di rumah Neng juga jenuh,” jawab Lilis.

“Kalau mau ikut ayo buruan,” ujar Tirta.

“Ya Kang tunggu sebentar. Neng mau nyalin dulu,” ujar Lilis.

“Nggak usah nyalin Neng. Pakai baju itu juga kamu sudah terlihat cantik, kok,” ujar Tirta kepada Lilis. Lilis tersenyum lalu berpamitan kepada kedua orang tuanya.

“Bah, Mak, kami berangkat dulu ya.” Ujar Lilis.

“Ya hati-hati nak. Cepat pulang ya,” jawab Bu Ujang.

Tirta mengangguk lalu pergi bersama Lilis mengendarai sepeda motornya. Keduanya terlihat sangat bahagia sekali. Sementara kedua orang tua itu tersenyum bahagia memperhatikan anaknya

“Lihat mereka Bah. Mereka terlihat sangat bahagia sekali. Mereka adalah pasangan yang sangat serasi sekali. Menurut saya, mereka saling menyukai. Meskipun keduanya saling menutupi perasaannya masing-masing, namun dari sorot matanya tak bisa dibohongi,” ujar Bu Ujang.

“Abah tahu Nyai. Tapi Abah justru semakin takut. Abah takut kelak mereka akan berpisah, ketika Nak Tirta kembali ingatannya. Dia pasti akan meninggalkan anak kita nanti Nyai,” sahut Mang Ujang.

“Aduh jangan sampai itu terjadi Bah. Kasihan anak kita. Apa lagi kita sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Nak Tirta anak yang baik, Bah,” ujar Bu Ujang.

Lalu kedua orang tua itu kembali beraktivitas seperti sedia kala. Bu Ujang masuk ke rumah, sedangkan Mang Ujang mendorong perahu cadiknya berangkat ke laut. Sambil mendayung perahu cadiknya, Mang Ujang menghelai napas panjang. Laki-laki berdarah sunda itu tampak sedang memikirkan sesuatu. Matanya nanar menatap jauh ke depan. Sementara kedua tangannya terus mendayung perahunya seperti sedang mengaduk adonan kue.

Laki-laki tua itu tersentak kaget ketika perahunya terkantuk batu. Mang Ujang memutar perahunya, lalu kembali mendayung menuju ke tengah laut, hingga menghilang ditelan ombak.

NAMAKU TIRTA

Hari minggu. Seorang laki-laki tua sedang duduk di halaman rumahnya. Mata cekungnya memandang deburan ombak yang ada di depannya. Nan jauh di sana, tampak beberapa nelayan sedang mendayung perahunya untuk menangkap ikan. Mereka terlihat timbul tenggelam diterjang ombak.

Adalah Mang Ujang, laki-laki parubaya berusia genap enam puluh tahun. Mang Ujang yang baru menikah diusianya yang ketiga puluh delapan tahun dengan istrinya, dikarunia seorang anak perempuan bernama Lilis. Lilis adalah anak-satu satunya Mang Ujang yang baru tamat Sekolah Menengah Atas. Saat ini kegiatan Lilis membantu Mang Ujang dan istrinya menjajakan ikan keliling kampung. Sementara Mang Ujang sendiri setiap harinya pergi ke laut untuk menangkap ikan.

Namun entah mengapa hari ini Mang Ujang tampak kurang bersemangat untuk berangkat melaut. Ia duduk menyendiri sambil memandang lautan lepas. Berulang kali ia menarik napas panjang, entah apa yang sedang dipikirkannya. Sambil menikmati sebatang kretek, Mang Ujang menyandarkan tubuhnya di kursi.

Sementara kedua kakinya diselonjorkan di atas kursi yang lain. Tak berapa lama kemudian, ia menggeser duduknya sambil memandang nyiur hijau yang melambai-lambai. Kini Mang Ujang telah tenggelam dalam lamunannya. Pandangannya kosong, menatap awang-awang. Namun tiba-tiba Mang Ujang dikagetkan oleh teriakan Cece yang minta tolong.

“Mang Ujang, tolong Andin Mang,” teriak Cece, seorang janda tetangga Kampungnya.

“Ada apa dengan Neng Andin Ce ?” tanya Mang Ujang kaget.

“Nggak tahu Mang. Sejak pulang dari Jakarta, Andin mengalami demam tinggi, dan dadanya terasa sesak. Tolong Andin Mang,” jawab Cece.

“Yang sabar dan jangan panik ya Ce. Nyai..., tolong panggilkan Nak Tirta sekarang,” ujar Mang Ujang kepada istrinya.

Bu Ujang yang sedang menyapu di halaman rumah, bergegas menemui Tirta yang sedang menjemur ikan hasil tangkapan Mang Ujang.

“Nak Tirta dipanggil Abah sekarang,” ujar Bu Ujang.

“Ya Mak,” jawab Tirta, lalu pergi menemui Mang Ujang.

“Ada apa Bah ?” tanya Tirta.

“Tolong antar Andin ke dokter ya, Nak. Katanya Andin sakit,” ujar Mang Ujang.

“Baik Bah,” jawab Tirta lalu mengengkol motornya.

“Ayo Teh naik,” ujar Tirta kepada Cece, lalu keduanya pergi ke rumahnya.

Sampai di rumah, Tirta menempelkan tangannya ke kening Andin, dan ternyata Andin mengalami deman tinggi.

“Ya Allah, Neng. Demam kamu tinggi sekali,” ujar Tirta.

“Ya Kang. Andin sudah tidak kuat lagi,” jawab Andin.

Lalu keduanya membawa Andin ke dokter terdekat. Sampai ke dokter, Andin langsung didiagnosa. Dari hasil diagnosanya, Andin mengalami sakit yang cukup serius. Sehingga perlu mendapat perawatan yang intensif dari rumah sakit.

“Maaf bu, sebaiknya Andin dirawat di rumah sakit,” ujar dokter itu.

“Memangnya Andin sakit apa dok ?” tanya Cece.

“Dari hasil diagnosa sementara, Andin mengalami sakit yang sangat serius. Untuk memastikannya, dia harus dicek di lab,” ujar dokter itu lagi.

“Apa nggak bisa di rawat jalan aja dok ?” tanya Cece.

“Nggak bisa bu. Karena di sini tidak ada alatnya,” jawab dokter muda itu.

“Ini bagaimana Kang Tirta ? Apakah Andin harus dirawat di rumah sakit ? Siapa yang mengantarnya ? Kalau urusan rumah sakit, Teteh nggak mengerti Kang,” ujar Cece panik.

“Ngak usah bingung Teh. Biar saya yang mengantarnya,” sahut Tirta.

“Apa tidak merepotkan Kang Tirta ?” tanya Cece.

“Tidak Teh,” jawab Tirta.

“Nuhun ya Kang,” ujar Cece.

“Sami-sami Teh,” jawab Tirta.

Lalu keduanya berboncengan membawa Andin ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, Andin menjalani beberapa pemeriksaan. Termasuk tes swab oleh rumah sakit. Tujuannya adalah untuk memastikan Andin, positif atau tidaknya dari Covid-19. Dari hasil pemeriksaan, Andin dinyatakan positif dan harus diisolasi di rumah sakit.

“Maaf bu, dari hasil pemeriksaan, ternyata anak ibu positif terpapar virus corona. Oleh karena itu dia harus segera diisolasi di rumah sakit ini. Sedangkan bapak dan ibu, harus isolasi mandiri selama dua minggu di rumah. Jika nanti Bapak dan Ibu mengalami demam tinggi, dan batuk-batuk, harus segera memeriksakan diri ke rumah sakit ini. Sekarang Bapak dan ibu boleh pulang,” ujar dokter rumah sakit itu.

“Bagaimana dengan anak saya dok ? Apakah saya boleh menjenguknya ?” tanya Cece.

“Tidak boleh Bu. Selama Andin menjalani isolasi, tidak boleh di jenguk oleh siapa pun. Percayakan anak ibu kepada kami ya,” ujar dokter itu.

“Baik dok,” jawab Cece sedikit kecewa.

“Ayo Ce, kita pulang. Nanti setelah ampai di rumah, Cece harus mengisolasi diri. Cece jangan keluar rumah dulu ya,” ujar Tirta.

“Kenapa nggak boleh keluar rumah Kang ?” tanya Cece.

“Takutnya kita juga terpapar covid-19 Ce, makanya kita tidak boleh ke mana-mana dulu selama dua minggu. Jika nanti tidak ada reaksi dengan kita, maka kemungkinan kita aman, Ce,” terang Tirta.

“Oh begitu ya Kang,” ujar Cece.

“Ya Ce,” jawab Tirta.

Lalu keduanya pulang ke rumah dan mengisolasi mandiri. Hari itu Tirta tidak langsung masuk rumah. Ia berdiri di halaman rumah, bungung harus berbuat apa. Tiba-tiba Lilis datang mendekatinya. Tirta pun mundur beberapa langkah sambil memberi tahu Lilis.

“Kang Tirta... . Bah Kang Tirta sudah pulang,” ujar Lilis.

“Tolong jangan dekati saya Neng ! Kalau tidak, Akang akan menjauh dari Neng,” jawab Tirta.

“Kenapa akang melarang Neng mendekati Akang ? Pakai mengancam lagi,” ujar Lilis sedikit sewot.

“Jangan marah dulu Neng. Dengarkan Akang. Ternyata Andin positif, Neng,” jelas Tirta.

“Apa...? Andin positif... ? Andinkan belum menikah, kang ? Kenapa dia positif ?” tanya Lilis kaget.

“Bukan itu maksudnya Neng. Tapi Andin positif Corona Neng. Makanya Neng nggak boleh dekat-dekat dengan Akang. Takut ketularan Neng,” jawab Tirta.

“Aduh Akang ? Apakah Akang kena corona juga ? Neng jadi takut kang,” tanya Lilis lagi.

“Bukan begitu Neng. Ini untuk jaga-jaga saja. Akang harus mengisolasi diri dulu selama dua minggu. Neng jangan dekat-dekat Akang dulu ya,” ujar Tirta.

“Baik Kang. Mudah-mudahan Akang tidak kenapa-kenapa,” jawab Lilis.

Sejak hari itu Tirta mengisolasi mandiri di rumah belakang. Setiap hari Lilis hanya bisa melihat Tirta dari kejauhan. Lilis mengantarkan makanannya, ditaro di depan pintu saja. Dan pada hari ke tiga, ternyata Tirta mengalami demam dan batuk-batuk. Ia pun berniat pergi ke rumah sakit.

“Neng..., Neng Lilis...” Teriak Tirta.

“Ada apa Kang, teriak-teriak ?” tanya Lilis.

“Bilang ke Abah jeng Emak, Akang mau ke rumah sakit dulu ya, Neng,” ujar Tirta.

“Aya naon Akang bade ke rumah sakit ?” tanya Lilis.

“Akang demam, neng.”

“Aduh Kang. Moga-moga henteu kenapa-kenapa jeng Akang,” ujar Lilis dengan logat sundanya. Lalu Tirta mengengkol sepeda motornya, dan menemui Cece.

“Bagaimana kabar Cece ? Apa Cece baik-baik saja ?” tanya Tirta.

“Sudah dua hari ini Teteh batuk-batuk Kang. Tenggorokan Teteh terasa gatal sekali,” jawab Cece.

“Saya juga mengalami hal yang sama Ce. Saya mau ke rumah sakit untuk mengecek. Sebaiknya Cece ikut saya, untuk memastikan kita positif atau tidak,” ujar Tirta.

“Baik kang, Teteh berkemas dulu ya,” jawab Cece.

Tak lama kemudian keduanya pergi ke rumah sakit. Di rumah sakit mereka melakukan tes swab. Dari hasil pemeriksaan, mereka dinyatakan positif corona. Sehingga hari itu juga mereka harus diisolasi di rumah sakit. Mendengar Tirta terpapar virus jahat itu, Lilis langsung menangis histeris.

“Ya Allah, berilah kesembuhan untuk Kang Tirta. Kang Tirta orang baik ya Allah. Selama ini ia sudah sangat menderita. Jangan Kau tambah lagi penderitaannya Ya Allah. Jangan biarkan dia kembali dalam kesedihan ya Allah,” ucap gadis cantik itu lewat do’anya, sambil bercucuran air mata.

Bu Ujang yang melihat Lilis sedang menangis, tak kuasa menahan air matanya. Ia mendekatinya, lalu mengusap air matanya anak gadisnya.

“Sabar Neng. Akangmu pasti akan sembuh. Dia orang baik. Gusti Allah pasti tak akan membiarkannya. Doakan saja, biar Akangmu itu cepat sembuh, dan bisa berkumpul lagi dengan kita, ya,” ujar Bu Ujang kepada anaknya.

“Ya Mak,” jawab Lilis, lalu memeluk ibunya sambil menangis.

“Neng Lilis mau ngejengek Kang Tirta Mak,” ujar Lilis.

“Tidak boleh atuh. Kita tidak boleh menjenguknya,” jawab Bu Ujang.

“Terus siapa yang nungguin Kang Tirta di sana Mak ?” tanya Lilis.

“Jangan khawatir Neng. Di sana sudah ada suster dan dokter yang menjaganya. Sudah-sudah, jangan sedih ya,” bisik Bu Ujang.

Beberapa hari setelah Tirta diisolasi, di rumah sakit yang sama, kesehatan Andin semakin memburuk. Andin harus mendapat bantuan pernapasan melalui Ventilator. Meski dokter telah berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan berkendak lain. Sore itu Andin menghembuskan napasnya terakhir di rumah sakit.

Berita tentang kematian Andin sontak membuat kaget Lilis. Bagaimana tidak ? Andin yang terpapar Covid-19 ternyata nyawanya tidak dapat diselamatkan. Itu berarti Tirta akan bernasib sama seperti Andin. Itulah pikiran yang sedang berkecamuk di hati Lilis saat ini.

“Andin meninggal Mak. Neng takut Kang Tirta akan bernasib sama seperti Andin, Mak...” Ujar Lilis menangis histeris.

“Jangan punya pikiran yang macam-macam Neng. Do’akan saja agar Akangmu sembuh dari penyakit itu. Udah Neng jangan bersedih lagi. Sekarang ambil wudhu dan do’akan Akangmu sana,” ujar ibunya.

“Kenapa Neng Lilis menangis ? Ada apa Neng ?” tanya Mang Ujang yang baru saja pulang dari melaut.

“Kang Tirta Bah...” Jawab Lilis.

“Ada apa dengan Akangmu itu Neng ? Apakah Nak Tirta sudah...” Sahut Mang Ujang.

“Nak Tirta baik-baik saja Bah,” timpal Bu Ujang.

“Tapi kenapa Neng Lilis menangis Nyai ?” tanya Mang Ujang kepada istrinya.

“Andin meninggal Bah,” jawab Bu Ujang.

“Apa ? Andin meninggal ?” tanya Mang Ujang kaget.

“Ya Bah, Andin meninggal. Neng takut, Bah,” timpal Lilis.

“Kamu takut kenapa Neng ? Neng Andin anak yang baik. Kenapa kamu harus takut ?” tanya Mang Ujang lagi.

“Neng takut Kang Tirta akan bernasib sama seperti Neng Andin Bah,” jawab Lilis polos.

“Ai, ai.. . Jangan berprasangka buruk sama Gusti Allah Neng. Kita nggak boleh seperti itu. Gusti Allah pasti akan mendengar do’a kita. Mudah-mudahan Nak Tirta diberikn kesembuhan,” Ujar Mang Ujang menguatkan anak gadisnya.

Namun dalam hati, Mang Ujang pun memiliki pikiran yang sama seperti Lilis. Dia merasa takut akan kehilangan Nak Tirta. Ia hanya berharap apa yang dikhawatirkannya tidak akanpernah terjadi. Dua minggu kemudian Tirta dan Cece menjalani tes swab untuk terakhir kalinya. Dari hasil tes, keduanya dinyatakan negatif dan diperbolehkan pulang. Mendengar kabar baik itu keluarga Mang Ujang sangat bahagia sekali. Setelah Tirta pulang, Lilis melompat kegirangan.

“Neng Lilis... . Akang pulang, Neng,” teriak Tirta dari halaman rumahnya.

“Kang Tirta... . Akang sudah pulang kang ? Maaf Lilis nggak bisa menengok akang di rumah sakit,” ujar Lilis sambil matanya berkaca-kaca.

“Nggak apa-apa Neng. Yang penting sekarang Akang sudah pulang,” jawab Tirta.

“Ya Kang. Neng bahagia sekali melihat Akang sudah pulang,” imbuh Lilis.

Sementara Mang Ujang dan istrinya hanya bisa menatap dua insan yang saling mencintai itu dengan rasa haru. Mereka membiarkan keduanya saling melepas rindu. Kemudian Bu Ujang pergi ke dapur, dan menyuguhkan segelas teh manis. Kemudian Mereka duduk di ruang tamu dengan suka cita.

“Apa yang kamu rasakan selama di rumah sakit Nak Tirta ?” tanya Mang Ujang.

“Selama diisolasi dirumah sakit, saya merasa putus asa Bah. Tubuh saya seperti mayat hidup yang sulit untuk digerakan. Saya juga mengalami demam tinggi, batuk kering dan terasa lelah sekali. Tenggorokan terasa nyeri, dan diare. Kepala rasanya sakit sekali dan saya kehilangan indera penciuman dan perasa saat itu. Apapun yang saya makan terasa hambar dan sangat tidak mengenakan,” terang Tirta.

“Kasihan sekali kamu Nak,” timpal istri Mang Ujang.”

“Kasihan sekali kamu Kang. Pasti kamu merasa sangat tersiksa sekali selama di rumah sakit,” sahut Lilis.

“Ya Neng. Akang hampir putus asa, dan hampir saja menyerah. Namun tiba-tiba, Akang mendengar bisikan dari Neng. Neng meminta agar Akang kuat dan harus sembuh demi Neng,” ujar Tirta.

“Ya Kang. Selama ini, Neng selalu mendoakan Akang. Neng sangat sedih waktu mendengar Akang dinyatakan positif dari Covid-19. Saat itu Neng hanya bisa pasrah sambil menangis. Kemudian Neng selalu berdo’a untuk kesembuhan Akang,” terang Lilis.

“Terima kasih ya Neng. Atas do’a Neng, akhirnya Akang sembuh,” ujar Tirta sambil menatap kekasihnya.

Terlihat di wajah Lilis ada guratan sedih bercampur haru. Keluarga kecil itu merasakan kebahagiaan atas kepulangan Tirta. Bu Ujang dan Lilis segera ke dapur untuk membuat bubur merah sebagai rasa syukur atas sembuhnya Tirta. Setelah itu mengundang tetangga di sekitar rumah.

Sejak Tirta sembuh dari Covid-19, ia menyatakan perang terhadap Virus jahat itu. Ia juga mendaftarkan diri sebagai relawan dalam penanganan Virus yang berasal dari Wuhan Tiongkok itu. Ia dipercaya oleh puskesmas setempat, menjadi sopir ambulan. Keputusan Tirta untuk menjadi relawan sebenarnya sangat ditentang keras oleh Lilis. Karena Lilis sangat mengkhawatirkan kesehatan kekasihnya, yang pernah terpapar Corona.

Ditambah lagi selama Tirta menjadi relawan sudah barang tentu harus berpisah dengan Lilis. Hal itu yang membuat Lilis tidak setuju dengan keputusan Tirta. Namun demikian Lilis tak bisa berbuat apa-apa dan dengan sangat terpaksa ia harus merelakannya. Begitu juga dengan Mang Ujang dan istrinya. Mereka harus mengihlaskan calon menantunya itu bekerja sebagai relawan Covid-19.

Sejak itu Tirta mulai bergabung dengan relawan lainnya. Ia mendapatkan tugas menjemput dan mengantar pasian yang diduga terpapar oleh corona. Saat dirinya sedang sibuk mengangkat seorang pasien, ada seorang laki-laki berperawakan tinggi besar, sedang mengawasi gerak geriknya.

Tirta berpura-pura untuk tidak curiga kepada orang itu. Saat dirinya membuka pintu mobil, laki-laki itu datang mendekatinya.

“Maaf mas, kamu Firman ya ?” tanya laki-laki yang diketahui adalah Daeng.

Tirta menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan dengan siapa laki-laki itu sedang bicara. Setelah yakin ia sedang bicara dengannya, Tirta pun balik bertanya.

“Maaf, apakah anda sedang bicara dengan saya ?” tanya Tirta.

“Ya, saya sedang bicara dengan anda. Anda Firman, kan ?” tanya Daeng lagi.

“Maaf anda siapa ya ? Saya bukan Firman,” jawab Tirta lagi.

“Kamu jangan bercanda Fir. Saya Daeng, teman sekolah kamu dulu, Fir,” ujar Daeng.

“Maaf saya bukan Firman. Nama ku Tirta,” jawab Tirta.

“Saya yakin, kamu adalah Firman. Kamu jangan bercanda kawan. Ini saya Daeng. Teman sekolah kamu dulu,” ujar Daeng Lagi.

“Maaf Daeng. Saya tidak sedang bercanda. Saya bukan Firman. Mungkin anda salah orang,” jawab Tirta meyakinkan kepada Daeng.

“Saya teman kecil kamu, Fir. Mana mungkin saya salah orang,” ujar Dang

“Maaf ya,Daeng. Anda pasti salah orang. Maaf ya saya sedang terburu-buru mengantar pasien,” jawab Tirta lalu menginjak gas mobilnya, dan pergi meninggalkan Daeng.

Daeng menatap mobil ambulan itu dengan mata menyipit. Ia sangat yakin dan tak mungkin salah orang apa yang baru saja di lihatnya.

“Saya yakin tidak salah orang. Kamu pasti Firman. Dari wajahnya, stylenya, dan juga sisiran rambutnya yang belah samping. Itu adalah gaya kamu Firman. Tapi malah kamu tak mengenaliku ?” gumam Daeng bingung.

Saat Daeng sedang memikirkan Firman, tiba-tiba Putri menghubungi lewat ponselnya. Lalu laki-laki bertubuh kekar itu meraih ponselnya.

“Halo Putri. Ada apa Put ?” tanya Daeng.

“Halo Daeng. Apakah kamu sedang sibuk ?” jawab janda beranak tiga itu.

“Tidak Put. Saya sedang santai. Memangnya ada apa Put ?” tanya Daeng lagi.

“Begini Daeng. Akhir-akhir ini, aku selalu bermimpi tentang Firman. Dia mengatakan dalam mimpi, kalau dia masih hidup. Mimpi itu bukan sekali, atau dua kali saja, daeng. Hampir setiap malam dia selalu datang, dan mengatakan soal itu. Aku jadi bingung, apakah yang dia katakan itu benar ? Bagaimana menurutmu, Daeng ?” tanya Putri.

“Menurutku itu bukan sekedar mimpi Put. Itu adalah sebuah pesan kalau Firman sebenarnya masih hidup,” jawab Daeng.

“Kenapa kamu bisa yakin seperti itu, Daeng ?” tanya Putri lagi.

“Karena saya baru saja bertemu dengan Firman,” jawab Daeng.

“Apa, Daeng ? Firman masih hidup ? Kamu baru saja bertemu dia ? Ah, jangan ngaco kamu, Daeng,” ujar Putri.

“Benar, Put. Saya baru saja melihatnya. Malah saya sempat berbincang-bincang dengan dia,” tutur Daeng.

“Kamu jangan bercanda Daeng,” ujar Putri

“Saya tidak sedang bercanda Put. Baru saja saya bertemu dengan orang yang bernama Tirta,” jawab Daeng.

“Apa hubungannya orang yang bernama Tirta dengan Firman ? Apakah Tirta telah menemukan Firman ?” tanya Putri, heran.

“Tirta adalah Firman, Put,” jawab Daeng.

“Aku semakin tidak mengerti apa yang kamu katakan itu, Daeng. Tolong jangan permainkan aku,” ujar Putri.

“Saya tidak sedang mempermainkan kamu Put. Saya yakin, kalau Tirta adalah Firman. Dilihat dari wajahnya, suaranya, dari bentuk tubuhnya, dan juga Style rambutnya. Sama persis dengan Firman. Saya yakin Tirta adalah Firman. Sayangnya Firman tidak mengenali saya tadi,” terang Daeng.

“Kalau Tirta adalah Firman, mana mungkin dia tidak mengenali kamu, Daeng ? Lagian, kenapa dia mengaku sebagai Tirta ? Mungkin kamu salah orang, Daeng. Bisa saja kan ada orang lain yang mirip seperti Firman ?” timpal Putri.

“Saya yakin sekali Tirta adalah Firman,” ujar Daeng.

“Apa buktinya kalau Tirta adalah Firman ?” sahut Putri.

“Apakah pada saat terjadi Tsunami, jasad Firman ditemukan ? Tidak kan ? Itu sebagai bukti kalau Firman sebenarnya masih hidup. Dan Tirta adalah Firman,” Tegas Daeng.

“Kamu jangan berspekulasi seperti itu Daeng. Itu bukan bukti yang riil. Bisa saja jasad Firman hancur, dan tidak bisa dikenali lagi. Makanya Firman tidak ditemukan lagi,” ujar Putri.

“Tapi saya sangat yakin kalau dia adalah Firman,” jawab Daeng.

“Kalau Tirta adalah Firman, terus kenapa dia mengganti nama ? Kurang kerjaan saja ?” ujar Putri.

“Pertanyaan kamu, sama dengan pertanyaanku Put. Kita harus cari tahu jawabannya,” jawab Daeng.

“Sekarang Tirtanya ada di mana ?” tanya Putri

“Sayang sekali dia suadah pergi. Saat saya mendesak dia untuk mengakui sebagai Firman, dia malah pergi dengan mobil ambulannya,” jawab Daeng.

“Tolong kamu cari dia, Daeng. Bila perlu, aku akan menyusulmu dan ikut mencarinya,” ujar Putri.

“Jangan dulu, Put. Kamu tidak perlu ikut-ikutan mencari dia. Masalah Tirta dan Firman, biarlah saya yang mencarinya. Nanti kalau dia sudah saya ketemukan, kamu akan saya kabari,” kata Daeng.

“Baik Daeng. Terima kasih sebelumnya, ya. Firman adalah harapan terakhir hidupku. Kabari saya jika ada perkembangan,” ujar Putri.

“Baik, Put,” jawab Daeng, lalu pergi mengendarai motornya, pergi ke rumah sakit.

Sampai di rumah sakit, Daeng menemui seorang suster yang sedang berjaga.

“Maaf Sus, saya Daeng. Apakah Suster kenal dengan orang yang bernama Tirta ?” tanya Daeng.

“Maaf, Tirta yang mana ya mas ? Saya tidak mengenalnya,” jawab Suster cantik itu.

“Kalau nggak salah dia sopir ambulan Sus. Siapa tahu dia bekerja di Rumah Sakit ini,” ujar Daeng.

“Kayaknya tidak ada sopir ambulan yang bernama Tirta, Mas. Coba tanya ke bagian manajemen. Siapa tahu dia karyawan baru di sini,” jawab Suster itu.

“Baik Sus, terima kasih atas waktunya,” ujar Daeng.

“Sama-sama mas,” jawab Suster cantik itu ramah.

Kemudian Daeng menemui pihak manajemen untuk mencari orang yang bernama Tirta. Namun sayangnya dari pihak manajemen, tidak ada karyawannya yang bernama Tirta. Kemudian Daeng melanjutkan pencariannya di beberapa Rumah Sakit terdekat. Namun lagi-lagi Tirta yang dicarinya, raib bagai ditelan bumi.

Kemudian Daeng memulai pencariannya dari keluarga pasien yang tadi dijemput oleh Tirta.

“Kenapa saya harus bingung-bingung mencari Tirta yang belum jelas rimbanya ? Kenapa saya tidak menanyakan ke keluarga pasien yang dibawa Tirta tadi ?” gumamnya.

Daeng lalu pergi ke rumah keluarga pasien tersebut, untuk menanyakan di rumah sakit mana pasien tersebut dirawat. Setelah itu ia berangkat ke rumah sakit yang merawat pasien Covid-19, dan menanyakan tentang keberadaan pasien yang bernama Bese Tindriabeng.

“Maaf dok, apakah di rumah sakit ini ada pasien covid yang bernama Bese Tindriabeng ?” tanya Daeng kepada dokter jaga.

“Maaf anda siapa, dan dari mana ?” ujar dokter jaga itu balik bertanya.

“Saya Daeng, tetangga pasien tersebut. Saya ke sini sudah seizin dari keluarganya.

“Maaf kami tidak bisa menjawab pertanyaan anda. Apa lagi anda datang tidak bersama keluarga pasien,” jawab dokter itu.

“Sekali lagi saya mohon maaf dok. Saya tidak bermaksud untuk menanyakan tentang keberadaan pasien tersebut,” ujar Daeng.

“Loh tadi anda menanyakan tentang pasien tersebut. Sekarang anda malah berkata lain,” ucap dokter itu.

“Sebenarnya saya ingin menanyakan orang yang mengantarkan Bese Tindriabeng. Dia adalah sahabat saya yang menghilang setahun yang lalu, dok. Siapa tahu dia kerja di rumah sakit ini,” terang Daeng.

“Siapa nama sahabatmu itu ?” tanya dokter itu.

“Namanya Tirta, alias Firman dok,” jawab Daeng.

“Katanya dia kerja di bagian apa ?” tanya dokter itu lagi.

“Mungkin dia bekerja sebagai sopir ambulan, dok,” jawab Daeng.

“Kayaknya sopir ambulan di sini tidak ada orang yang bernama Tirta alias Firman. Mungkin dia bukan karyawan sini mas. Coba cari di rumah sakit lain,” jawab dokter itu.

“Baik dok. Terima kasih atas waktunya,” ujar Daeng, lalu pulang ke rumahnya.

Daeng menghentikan pencariannya dan pulang ke rumahnya. Di tempat terpisah, Yana melihat Firman sedang duduk di parkiran rumah sakit. Ia menghampiri sahabatnya yang sudah sejak lama tak bertemu.

“Maaf, kamu Firman kan ? Saya Yana. Teman sekolahmu dulu,” sapa perempuan cantik itu.

“Maaf, anda sedang bicara dengan saya ?” tanya laki-laki itu.

“Ya, saya sedang bicara dengan kamu. Saya Yana teman SMP kamu dulu. Masa kamu lupa sih Fir,” ucap perempuan yang dulu pernah menerima sepucuk surat cinta darinya.

“Anda teman SMP saya ? Dan nama saya adalah Firman ? Maaf, anda salah orang. Nama saya Tirta, dan saya tidak mengenal anda,” jawab Tirta semakin bingung.

“Kamu jangan bercanda Fir. Sejak kapan kamu mengganti nama dengan Tirta ? Saya Yana. Kita dulu satu sekolah, waktu masih SMP. Kamu inget nggak, waktu ngajari materi Question Tag di rumah Pak Wanto ?” terang Yana.

“Mana mungkin saya ingat mba. Wong saya ini bukan Firman. Saya ini Tirta, mba,” jawab Tirta lagi.

“Saya masih inget betul materi yang pernah kamu ajarkan ke saya. Question Tag adalah sebuah pertanyaan yang secara pemaknaan tidak perlu dijawab oleh pendengar atau pun oleh pembaca teks bahasa inggris. Itu kan yang pernah kamu jelaskan kepada saya. Kamu ingat nggak sih, Fir ?” tanya Yana.

“Saya nggak ingat sama sekali. Karena saya bukan Firman, Mba,” jawab Tirta sedikit kesal.

“Ah, kamu ini payah Fir. Seperti kakek saya saja yang sudah pikun. Bahkan sampai sekarang saya juga masih ingat kalimat yang pernah kamu lontarkan. You love me, don’t you ? Lalu kamu menjawab,Yes, I do. Sudah ingat belum Fir ?” tanya Yana lagi.

“Sudah saya katan sejak dari tadi Mba Saya ini Tirta bukan Firman. Mungkin Mba Yana salah orang,” jelas Tirta lagi.

“Saya Yana yang pernah kau panggil tomboy itu Fir. Jangan-jangan kamu juga lupa. Dulu kita pernah bertemu lagi di sebuah perkemahan setelah lulus dari SMP. Di sana kita makan baso bersama, lalu kamu marah dan pergi begitu saja lantaran salah paham. Kemudian saat pengumuman lomba, kamu ikut protes dan akhirnya kita saling lempar tanah liat yang dibarengi hujan lebat. Ingat nggak Fir ?” tanya Yana lagi.

“Wah andaikan saja Firman itu adalah saya, tentu kenangan itu sangat berkesan bagi kita. Namun sayangnya saya bukan Firman, Mba,” jawab Tirta.

“Dasar kamu pikun Fir. Candaanmu keterlaluan sekali. Mana mungkin kamu begitu saja melupakan kenangan kita. Ataukah karena sekarang saya tambah cantik ? Makanya kamu lupa dengan saya.,” ketus Yana sambil mentap Tirta lalu pergi begitu saja.

Hari itu Yana sangat kesal oleh Firman. Ia tidak bisa melupakan perbuatan Firman begitu saja. Hari itu ia sengaja menemui Daeng, untuk mengadukan permasalahan itu. Kebetulan Daeng terlihat sedang santai di depan rumahnya.

“Hai Daeng, apakah kamu masih ingat saya ?” tanya Yana.

“Yana, Yana. Ada-ada saja kamu ini. Mana mungkin saya lupa dengan Si Tomboy yang cantik ini,” jawab Daeng.

“Kirain kamu juga sudah pikun seperti Firman,” ujar Yana.

“Kamu bilang apa tadi Yana ? Firman...” Ujar Daeng.

“Ya Firman. Hari ini saya baru saja bertemu dengan Firman. Dia sangat sombong sekali. Bahkan pura-pura tidak mengenaliku. Dia juga belagu, mengganti namanya dengan Tirta. Saya dibuatnya malu dan akhirnya saya pergi. Eh waktu saya pergi, dia cuek begitu saja tanpa ada rasa bersalah. Awas nanti kalau saya ketemu dia lagi, gantian akan saya cuekin,” ancam Yana.

“Jangan marah dulu Yana. Kamu ketemu dia di mana tadi ?” tanya Daeng.

“Di rumah sakit. Memangnya ada apa dengan Firman, Daeng ?” Yana balik bertanya.

“Ceritanya sangat panjang, Yana. Ayo sekarang kita ke rumah sakit dulu. Jangan sampai kita kehilangan jejaknya,” ujar Daeng.

Keduanya lalu pergi sangat terburu-buru sekali. Mereka langsung menuju ke parkiran rumah sakit. Namun sayangnya yang dicari sudah tidak ada lagi di sana. Kemudian mereka menelusuri seisi rumah sakit. Lagi-lagi Firman hilang tak tahu dimana.

“Apa sebenarnya yang terjadi pada Firman, Daeng ?” tanya Yana.

“Memangnya kamu belum tahu ya ? Setahun yang lalu, Firman saya ajak mancing ke Selat Sunda. Namun hari itu naas bagi kami. Perahu yang kami tumpangi, dihantam badai dan pecah berkeping-keping. Saya dapat menyelamatkan diri, sedangkan Firman dinyatakan hilang,” terang Daeng.

“Maksud kamu Firman sudah meninggal ?”

“Ya,” jawab Daeng.

“Lalu orang yang bernama Tirta itu siapa ? Kenapa wajahnya mirip sekali dengan Firman ?” tanya Yana.

“Saat itu jasad Firman tidak ditemukan. Saya meyakini kalau Firman masih hidup,” ujar Daeng.

“Maksud kamu kalau Tirta adalah Firman ?” tanya Yana.

“Tepat sekali.”

“Kalau Tirta adalah Firman, lalu kenapa dia tidak mengenaliku ?” tanya perempuan yang dulu pernah singgah di hati Firman.

“Bukan hanya kamu saja yang tidak ia kenali Yana. Tapi Firman juga tidak mengenaliku,” jawab Daeng.

“Saya juga yakin dia adalah Firman, Daeng. Tapi kenapa dia mengganti nama, Tirta ?” ujar Yana.

“Bisa jadi, dia lupa ingatan. Inilah teka-teki yang harus kita pecahkan,” jawab Daeng.

“Saya sependapat dengan kamu, Daeng. Bisa jadi dia lupa ingatan setelah peristiwa Tsunami tersebut, akibat benturan benda pada kepalanya,” ujar Yana.

“Analisamu tepat sekali. Kita harus mencari orang yang mengaku bernama Tirta itu sampai ketemu. Ini demi kelangsungan hidup Putri,” ujar Daeng.

“Apa ? Putri ?” tanya Yana.

“Ya Putri. Putri merasa sangat bersalah atas hilangnya Firman. Apa lagi Putri baru saja kehilangan suaminya yang meninggal akibat kecelakaan di pesawat,” terang Daeng.

“Apa ? Suaminya meninggal ? Kasihan sekali dia,” ujar Yana lagi.

“Saat ini yang bisa mengembalikan kebahagiaan Putri hanyalah Firman. Jika Firman kita temukan, kita akan menyelamatkan dua sahabat sekali gus. Yaitu Putri dan Firman,” kata Daeng.

“Apakah kamu sudah memberitahukann perihal Firman kepada Putri, Daeng ?” tanya Yana.

“Sudah Yana. Bahkan setelah saya beritahu soal Firman, dia ngotot mau datang ke sini. Tapi saya melarangnya. Biarlah urusan Firman menjadi tugas saya. Nanti kalau Firman sudah ditemukan, baru saya kabari dia,” terang Daeng.

“Saya setuju dengan pendapat kamu Daeng. Kalau begitu saya juga mau ikut mencarinya. Terus dari mana kita memulai pencariannya ?” tanya Yana.

“Kita tidak perlu mencarinya ke sana ke mari. Itu akan buang-buang waktu saja.”

“Terus bagaimana caranya ? Apakah kamu telah menemukan caranya ?” tanya Yana.

“Tidak ada jalan lain, kecuali kita harus memuatnya di surat kabar. Dengan cara ini, mudah-mudahan Firman bisa ditemukan,” ujar Daeng.

“Berlian sekali ide kamu Daeng. Kamu cocoknya jadi detektif, deh,” ujar Yana.

“Ya dong, Daeng. Hehehe...” Jawab Daeng.

“GR kamu. Lama-lama gaya kamu seperti Firman juga, hehehe...” Ujar Yana.

“Namanya juga temannya, hehehe...” Jawab Daeng.

Sementara di rumah Mang Ujang, ia sedang membaca koran ditemani segelas teh manis. Halaman demi halaman telah ia buka dan ia baca. Sampailah ia pada lembaran terahir. Alangkah kagetnya Mang Ujang melihat sebuah foto yang mirip sekali dengan Tirta. Di bawah foto itu tertulis nama Firman, orang yang dicari karena selama ini telah menghilang.

Mang Ujang menyelipkan lembaran koran tersebut di kantung celananya. Sambil menghisap sebatang keretek, orang tua itu matanya kosong menatap awang-awang. Napasnya turun naik tak beraturan. Terlihat pada wajahnya ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Semenjak melihat foto yang mirip sekali dengan Tirta, Mang Ujang jadi sering banyak diam.

Disaat Mang Ujang sedang bingung tak karuan, Firman pulang dari tempat kerjanya. Kemudian Mang Ujang mengajaknya ngobrol ngalor-ngidul, termasuk menanyakan seputar pekerjaannya.

“Bagaimana kesan kamu selama menjadi relawan, Nak Tirta ? Apakah Nak Tirta senang ?” tanya Mang Ujang.

“Alhamdulillah saya merasa senang, bisa membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah. Khususnya yang terpapar Covid-19,” ujar Tirta.

“Sukurlah kalau begitu Nak. Abah jadi ikut senang mendengarnya. Apa lagi itu adalah tugas mulia. Tapi jangan lupa tetap jaga kesehatan ya,” timpal Mang Ujang.

“Ya Bah terima kasih,” jawan Tirta.

“Oh ya nak. Sejak kapan Nak Tirta bisa menyetir mobil ? Maaf ya kalau pertanyaan bapak ini kurang berkenan,” tutur Mang Ujang.

Mendengar pertanyaan dari calon mertuanya, Tirta terdiam sesaat. Keningnya terlihat mengkerut, mengingat sesuatu. Tak lama kemudian ia menghelai napas, lalu menatap Mang Ujang, dan menjawab pertanyaannya.

“Saya sendiri juga tidak tahu Bah. Sejak kapan saya ini bisa menyetir mobil. Saya tadinya hanya mencoba saja. Tapi kok ternyata saya bisa menyetir mobil,” jawab Firman.

Mang Ujang mengangguk-nggaruk kepalanya mendengar jawaban dari calon menantunya. Lalu ia menghubung-hubungkan Tirta dengan Foto Firman yang ada di koran itu. Ia yakin Tirta adalah Firman. Namun orang tua itu tak sampai hati menanyakan lebih jauh lagi

Ada sebuah pertanyaan yang tirsirat pada mata Tirta. Mang Ujang yang sangat bijak itu menyinggungnya, agar Tirta terbuka kepadanya.

“Kalau ada yang mau ditanyakan dengan Abah, tanyakan saja Nak. Jangan dipendam sendiri begitu,” ujar Mang Ujang.

Tirta tersentak kaget. Karena apa yang dipikirkannya terbaca oleh orang tua itu. Tak lama kemudian Tirta menggerakan bibirnya , lalu menyampaikan isi hatinya.

“Maaf, Bah. Apakah saya boleh bertanya sesuatu dengan Abah ?” tanya Tirta.

“Loh kenapa tidak ? Katakan saja Nak. Jangan sungkan-ungkan, Nak,” jawab Mang Ujang.

“Maaf Bah. Kenapa tiba-tiba Abah bertanya seperti itu ? Apakah ada sesuatu yang ingin Abah ketahui dari saya ?” tanya pemuda yang waktu sekolah selalu menjadi bintang kelas itu.

“Oh tidak ada Nak. Abah hanya heran saja kenapa Nak Tirta bisa nyetir mobil, hehehe...” jawab Mang Ujang.

“Aya naon Abah, jeng Kang Tirta ? Serius sakali ngobrolna. Lagi ngobrolin naon kang ?” tanya Lilis yang tiba-tiba datang menyuguhkan dua mangkok bubur kacang hijau kesukaannya.

Lalu Lilis duduk di sebelah Tirta sambil menyandarkan bahunya. Mojang geulis itu terlihat sangat kangen sekali dengan Tirta. Maklum sudah satu bulan lebih keduanya tak bersua.

“Eh, eh Neng Lilis. Akangmu jangan diganggu Neng. Biarkan dia menyantap buburnya dulu,” ujar Mang Ujang.

“Ya Bah. Ayo Kang di makan buburnya. Ini buatan Neng loh,” ucap Lilis, lalu mengambil sendok dan menyuapi kekasihnya.

Tirta membiarkan pujaan hatinya itu menyuapinya. Ia terlihat sedikit malu-malu karena ada Mang Ujang. Kemudian Mang Ujang meninggalkan mereka berdua.

“Abah tinggal dulu ya nak,” ujar Mang Ujang.

“Ya Bah. Abah mau ke mana ?” tanya keduanya kompak.

“Abah mau benerin jaring yang robek-robek dulu,” jawab laki-laki yang sudah ditumbuhi uban itu.

Sementara Lilis terlihat sangat bahagia sekali. Karena Tirta yang ditunggunya sudah pulang.

“Kang Tirta, dari tadi Neng terus yang nyuapin Akang. Sekarang giliran Akang yang nyuapin Neng, atuh,” ujar Lilis.

“Ogah ah,” jawab Tirta ketus.

“Ih Akang ini tega sakali ya sama Neng,” ujar Lilis dengan logat sundanya.

Tirta tersenyum, lalu mengambil satu sendok bubur kacang hijau, dan mendekatkan pada Lilis. Saat Lilis membuka mulutnya ia justru memakannya sendiri.

“Buka mulutnya Neng ? A, a..., a..., aem, aem, aem. Enak neng buburnya ? Hehehe...” Goda Tirta.

“Ih jahat sekali kamu Kang. Bukannya di kasih ke Neng, malah dimakan sendiri,” jawab Lilis sembari mencubit perut Tirta.

“Aduh ! Kenapa mencubitku Neng ?”

“Habis akang jahat sekali sih, hehehe...” Ujar Lilis tertawa lepas.

“Udah, udah Neng. Akang janji tidak akan mengulangi lagi. Sekarang, a, a..., a..., aem, aem, aem. Enak kan Neng buburnya ?” tanya Tirta, menggodanya lagi.

“Ih dasar jahat. Sekali lagi Akang makan sendiri, Neng tidak akan memberi ampun Kang,” ancam Lilis.

“Sekarang beneran ini Neng. Buka mulutnya. A..., a..., a...” Ujar Tirta lagi. Lilis menangkap tangan Tirta, lalu memasukan buburnya ke dalam mulutnya.

“Ih dasar curang kamu Neng,” ujar Tirta.

“Habis Akang juga curang sih, hehehe...” Timpal Lilis sambil tertawa.

“Kang boleh nggak Neng nanya sesuatu,” ujar Lilis.

“Sok ,mau nanya apa Neng ?” ujar Tirta.

“Selama akang jadi relawan covid-19, ada nggak gadis yang dekat dengan Akang ?” tanya Lilis.

“Banyaklah Neng,” jawab Tirta dengan wajah serius.

Mendengar jawaban Tirta, Lilis terdiam. Raut wajahnya mendadak redup laksana mau turun hujan. Gadis cantik bertubuh montok itu merasa cemburu. Ia membayangkan selama Tirta bekerja, pasti tak sedikit gadis-gadis di luar sana yang dekat dengannya. Sementara Tirta menatap Lilis sambil tersenyum. Lilis yang melihat Tirta tersenyum, justru bertambah cemburu.

“Kenapa Akang tersenyum begitu ? Senang ya Akang di kelilingi oleh gadis-gadis cantik di luar sana ?” ujar Lilis sambil cembetut.

“Ya lah neng. Makanya Akang betah kerja di sana, hehehe...” Goda Tirta sambil tertawa.

“Aduh ! Kenapa Neng mencubit Akang ? Kan akang sudah jujur, hehehe...” Goda Tirta lagi.

“Awas ya kalau akang macam-macam dengan gadis lain,” jawab Lilis.

“Kok wajah neng jadi cembetut begitu. Neng cemburu ya ? Hayo ngaku, hehehe...” Ledek Tirta.

“Abdi teh henteu cemburu Kang. Pakai cemburu-cemburu sagala. Rugi atuh,” ucap Lilis sambil melengos.

Tirta tersenyum melihat tingkah Lilis yang berusaha menutupi rasa cemburunya. Laki-laki gagah itu pun tak mau membuat kekasihnya sedih lagi.

“Maaf Neng, tadi Akang hanya bercanda. Selama Akang menjadi relawan, memang banyak sekali gadis-gadis yang dekat sama akang...” Jawab Tirta.

“Tuh kan benar. Apa kata Neng ?” sahut Lilis.

“Dengarin dulu Neng. Jangan dipotong dulu. Gadis yang akang maksud adalah pasien yang akang antar ke Rumah Sakit. Mereka kan harus dekat dengan Akang dalam satu mobil, hehehe...” Ujar Tirta sambil tertawa lepas.

“Ih Akang jahat deh,” jawab Lilis lalu kembali mencubit perutnya. Setelah itu, mereka kembali menyantap buburnya.

Hari itu Neng Lilis terlihat sangat manja sekali kepada Tirta. Kadang-kadang ia menatap pemuda tampan itu sambil tersenyum, kemudian mencubit pipinya. Gelak tawa dan canda pun mewarnai keduanya. Sementara Mang Ujang dan istrinya hanya bisa geleng-geleng kepala, sambil tersenyum melihat tingkah mereka.

MENYINGKAP TABIR

Mang Ujang yang tinggal di sebuah pulau kecil, di tengah laut sedang berjibaku dengan masalahnya. Beberapa hari ini ia selalu memikirkan foto yang ada di koran yang ia baca beberapa hari yang lalu. Ternyata nama asli Tirta adalah Firman. Orang yang sudah setahun ini dinyatakan hilang dan sedang dicari oleh Daeng. Daeng adalah kawan kecil Firman yang juga teman sekolahnya.

Mang Ujang bingung bercampur sedih. Ia merasa khawatir jika ingatan Tirta nanti kembali, ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Meninggalkan anak gadisnya yang sudah ia jodohkan kepadanya, atau tetap akan menikahi Lilis.

Jika ternyata Tirta telah memiliki seorang istri, sudah barang tentu ia akan kembali kepada istrinya. Itu berarti pertanda buruk bagi Lilis. Lilis akan patah hati dan akhirnya Lilis akan menderita. Perasaan inilah yang membuat laki-laki itu ingin sekali memberi tahu masalah ini kepada istrinya. Karena lambat laut hal ini pasti akan terungkap. Karena sepandai-pandainya menyimpan rahasia, pasti suatu saat akan terbongkar juga.

Kemudian Mang Ujang menyandarkan tubuhnya pada pohon kelapa, sambil menatap Lilis dan istrinya yang sedang menjemur ikan. Ia sedang menimbang-nimbang, apakah akan meberitahukan rahasia ini kepada mereka. Tak lama kemudian, ia pun memanggil Lilis dan istrinya..

“Neng Lilis..., Nyai... Kadie heula atuh,” ujar Mang Ujang dengan logat sundanya.

“Aya naon Abah. Neng Lilis lagi bantu Emak,” jawab Lilis.

“Kadie sekedap. Abah aya perlu,” ujar Mang Ujang.

“Ya Bah. Emak...,dipanggil Abah,” ucap Lilis.

“Aya naon Neng ?” tanya Bu Ujang.

“Henteu terang Mak,” jawab Lilis. Lalu keduanya menemuai Mang Ujang, dan duduk di debelahnya.

Mang Ujang lalu merogoh lembaran koran yang diselipkan pada kantung celananya. Setelah itu membuka lembaran koran itu dan memberikannya kepada Lilis.

“Ha ? Kang Tirta masuk koran,” ujar Lilis kaget.

“Wah, wah... . Nak Tirta masuk koran. Tapi kok namanya bukan Tirta ya pak ?” timpal Bu Ujang heran.

“Ya Bah. Kenapa Kang Tirta masuk koran ? Tapi kok namanya menjadi Firman. Ada apa ini Bah ?” tanya Lilis lagi.

“Itulah kenapa Abah suruh ke sini. Ternyata nama asli Nak Tirta adalah Firman. Ia menghilang setahun yang lalu dan saat ini sedang dicari,” jawab Mang Ujang sambil mengusap wajahnya.

“Lantas apa lagi yang Abah ketahui tentang Kang Tirta ?” tanya Lilis.

“Hanya itu yang Abah tahu,” jawab Mang Ujang.

“Apakah Nak Tirta sendiri sudah tahu ?” tanya Bu Ujang.

“Abah rasa, Nak Tirta belum mengetahuinya. Tapi lambat laun, pasti dia akan tahu. Makanya Abah memanggil kalian ke sini agar tidak kaget setelah Nak Tirta suatu saat akan tahu,” terang Mang Ujang.

“Nanti kalau Kang Tirta sudah tahu, bagaimana nasib Neng Lilis Bah ? Apakah Kang Tirta akan pergi meninggalkan Neng ?” tanya Lilis dengan nada sedih.

“Sudah Neng, sudah. Jangan berpikir macam-macam. Do’akan saja agar Akangmu tidak begitu,” sahut Bu Ujang.

“Neg takut Kang Tirta akan pergi meninggalkan Neng, Mak Neng sangat mencintai Kang Tirta Bah,” ujar Lilis sambil menitikan air mata.

Mang Ujang dan istrinya ikut menitikan air mata. Ia tak sampai hati melihat anaknya terlihat sedih.

“Semua ini sudah ketentuan Allah Neng. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untukmu. Allah pasti punya rencana lain di balik semua ini,” timpal Mang Ujang.

Hari itu Lilis terlihat sangat sedih sekali. Ia meyakini, tidak lama lagi ada hal buruk yang akan menimpanya. Terlebih lagi jika Tirta sudah kembali ingatannya, pasti ia akan pergi jauh darinya. Tentu itu akan membuat Lilis menjadi sangat sedih dan tak akan mudah untuk menerima kenyataan itu.

Kemudian Mang Ujang dan istrinya mengajaknya masuk duduk di ruang tamu. Kemudian Mang Ujang dan istrinya masuk ke dalam kamar. Di saat itulah terdengar langkah kaki yang mendekati rumahnya. Lilis keluar rumah, melihat siapa yang datang. Ternyata yang datang adalah Tirta. Sambil berlinang air mata, Lilis memeluk Tirta.

“Akang.. . Akang Tirta...” Teriak Lilis.

Gadis itu tak kuasa menahan tangisnya. Air matanya tumpah membasahi pipinya. Tirta merasa heran dengan sikap kekasihnya itu. Ia mengira telah terjadi sesuatu di rumah ini. Hal itu membuat Tirta, serasa jantungnya mau copot.

“Ada apa Neng ? Apakah Abah dan Emak baik-baik saja ?” tanya Tirta.

Namun Lilis tak menjawab pertanyaan Tirta. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.

“Kalau Abah dan Emak baik-baik saja, lalu kenapa kamu menangis Neng ? Apa sebenarnya yang telah terjadi ?” tanya Tirta lagi.

Lagi-lagi Lilis tak menjawabnya. Membuat pemuda itu berlari masuk rumah, dan mencari Mang Ujang dan istrinya.

“Abah..., Abah... . Emak..., Mmak...” Teriaknya panik.

Teriakan Tirta pun membuat kedua orang tua itu tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya.

“Ya Nak, ada apa ?” tanya keduanya kompak.

“Ya Allah Bah, Mak... . Saya pikir...”

“Kami baik-baik aja nak,” sahut Bu Ujang.

“Ya Nak. Kami baik-baik aja,” sambung Mang Ujang.

“Tapi kenapa Neng Lilis Menangis Mak ? Ada apa ini Mak ?” tanya Tirta bingung.

Bu Ujang belum sempat menjawab pertanyaan Tirta, tiba-tiba Lilis datang, lalu memeluk Tirta sambil menangis histeris.

“Udah Neng, udah. Akangmu baru saja sampai. Dia masih capek, jangan kamu ganggu,” ujar Bu Ujang.

Lilis tak mendengarkan ucapan ibunya, ia malah semakin menangis. Hal itu membuat Tirta bertambah bingung. Sementara Mang Ujang dan istrinya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Lilis. Kemudian mereka duduk di ruang tamu.

“Ada apa Neng ? Kenapa kamu menangis seperti ini ? Akang jadi bingung.” tanya Tirta lagi.

“Dia rupanya sangat kangen dengan Nak Tirta, hehehe...” Goda Bu Ujang.

“Ah Emak...” Jawab Lilis tersipu malu, sambil mengusap air matanya.

Tok...! Tok...! Tok... !

“Assalamualaikum. Apa benar ini rumah Mang Ujang ?

“Waalaikum salam. Ya benar. Maaf, kalian ini siapa ?” tanya Bu Ujang.

“Saya Daeng, dan ini sahabat saya Yana,” jawab Daeng sambil memperkenalkan diri.

“Silahkan masuk mas,” ujar Bu Ujang mempersilahkan keduanya.

“Loh ! Kalian yang datang ? Bukankah kamu yang pernah bertemu saya di kampung itu ? Dan mbak ini yang kemarin ketemu saya di rumah sakit, kan ?” tanya Tirta kaget.

“Ya benar Fir. Saya Daeng yang pernah menemuimu beberapa bulan yang lalu,” jawab Daeng.

“Ya Fir. Saya Yana yang kemarin bertemu dengan kamu di parkiran rumah sakit itu,” timpal Yana.

“Us, us. Rupanya kalian pernah bertemu sebelumnya dengan Nak Tirta. Mari silahkan duduk Mas Daeng dan Mba Yana,” Ujar Mang Ujang menghampiri mereka.

“Betul Bah. Mereka pernah bertemu dengan saya sebelumnya. Mereka menyangka kalau saya ini bernama Firman. Sudah saya jelaskan berulang kali, tapi mereka tetap ngeyel,” ujar Tirta.

“Tenang Nak Tirta. Biar Abah jelaskan dulu. Sebulan yang lalu Abah menemukan lembaran koran ini. Coba Nak Tirta lihat baik-baik. Apakah ini foto Nak Tirta ?” tanya Mang Ujang.

“Benar Bah, ini foto saya. Tapi kenapa foto saya ada di koran ini ?” tanya Tirta.

“Saya yang memasang foto itu di surat kabar ini,” sahut Daeng.

“Dari mana kamu mendapatkan foto saya ini mas ? Terus apa maksud kedatangan kalian ke sini ?” tanya Tirta heran.

“Abah yang mengundangnya ke mari Nak,” jawab Mang Ujang.

“Sebelum saya menjelaskan tentang Firman, ada beberapa pertanyaan yang harus Mang Ujang jawab. Maaf Mang Ujang, apakah Mas Tirta ini keluarga dekat Mang Ujang ?” tanya Daeng.

“Bukan Mas Daeng. Abah menemukan Nak Tirta ini saat sedang terombang-ambing di tengah lautan. Saat Abah sedang menangkap ikan, Abah melihat Nak Tirta sedang pingsan di atas serpihan perahu. Lalu Abah membawanya pulang, dan merawatnya sampai sembuh,” jawab Mang Ujang.

“Terus kenapa nama dia Tirta ?” tanya Yana.

“Abah yang memberi nama itu. Karena Nak Tirta lupa ingatan. Dan sampai sekarang ingatannya belum juga kembali,” jawab Mang Ujang.

“Pantesan dia tidak mengenali saya dan Yana,” ujar Daeng.

“Maaf, kalian ini siapa ? Apakah sebelumnya kita pernah bertemu selain pertemuan beberapa bulan yang lalu ?” tanya Tirta.

“Kita bukan saja pernah bertemu Fir. Tapi kita adalah sahabat sejak kecil. Saya Daeng teman kecil kamu Fir. Dan ini adalah Yana teman SMP kita dulu,” terang Daeng.

“Ya Fir sejak kamu dikabarkan hilang saat Tsunami itu, kami semua telah mengira kalau kamu sudah meninggal. Sukurlah hari ini kita bisa bertemu lagi,” ujar Yana.

“Jadi kalian ini adalah sahabat Nak Tirta. Maaf, Nak Firman ?” tanya Mang Ujang.

“Benar Mang Ujang. Firman adalah teman saya sejak kecil di kampung. Sebelumnya sayalah yang mengajak Firman pergi memancing di Selat Sunda itu. Namun tiba-tiba perahu yang kami tumpangi dihantam badai dan hancur berkeping-keping. Saya dapat menyelamatkan diri, dan beberapa teman saya ditemukan sudah meninggal. Hanya Firman saja yang jasadnya tidak kami temukan,” ujar Daeng.

“Jadi nama saya adalah Firman ? Kalian adalah sahabat saya ?” tanya Firman bingung.

“Ya Fir. Kamu adalah sahabat saya. Seperti yang pernah saya ceritakan saat kita bertemu di rumah sakit itu,” timpal Yana.

“Maafkan saya Yana. Tapi sampai sekarang saya masih belum ingat apa-apa,” uaja Firman.

“Jadi nama Akang adalah Firman ?” tanya Lilis ikut menimbrung.

“Ya benar dek. Maaf adek siapa namanya ?” tanya Yana.

“Nama saya Neng Lilis Teh,” jawab Lilis sambil tersenyum.

“Oh ya Neng Lilis. Kayaknya kamu sangat dekat sekali dengan Firman, ya,” ujar Yana.

“Maaf ya Mbak Yana. Apakah sebelumnya Nak Firman sudah beristri ?” sahut Bu Ujang.

“Belum bu. Firman ini belum pernah menikah,”jawab Yana.

“Oh, sukurlah kalau begitu,” sahut Bu Ujang.

“Memangnya ada apa bu ? Apakah Firman sudah menikah di sini ?” Yana balik bertanya.

“Belum menikah Mba,” jawab Bu Ujang.

“Oh ya Mang Ujang. Atas nama sahabat Firman, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Mang Ujang dan ibu. Juga kepada Neng Lilis. Pasti selama Firman di sini sangat merepotkan keluarga Mang Ujang,” ucap Daeng.

“Oh tidak Mas Daeng. Kami malah sangat senang bisa bertemu dan merawat Nak Firman. Dia orang baik dan sangat sopan sekali,” sanjung Mang Ujang.

“Ah Abah sangat berlebihan. Tanpa pertolongan Abah, pasti saya sudah dimakan hiu di tengah lautan, hehehe...” Jawab Firman.

“Ah kamu bisa aja Nak Tirta. Eh maaf nak Firman,” sambung Mang Ujang.

“Abah, Emak dan Neng Lilis boleh kok tetap memanggil saya Tirta. Saya juga senang dengan nama itu,” ujar Firman.

“Sekarang Akang mau ikut mereka ya ? Terus nasib Neng bagaimana Kang ?” tanya gadis cantik itu sambil menitikan air mata.

“Tidak Neng. Akang tidak akan pergi ke mana-mana. Akang akan selalu di samping Neng,” jawab Firman.

“Janji ya Kang. Jangan tinggalkan Neng,” ucap Lilis

“Ya Neng,” jawab Firman sambil mencubit pipinya.

“Ih Akang. Malu atuh akang. Hehehe...” Jawab Lilis.

“Silahkan di minum tehnya Mas Daeng, Mba Yana.”

“Terima kasih ya Bu,” jawab Yana sambil menyruput teh yang disuguhkan olehnya.

“Halo Put.”

“Ya halo. Ada kabar apa Daeng ?” tanya Putri.

“Alhamdulillah saya dan Yana telah menemukan Firman,” ujar Daeng.

“Ya Jagad Dewa Batara, terima kasih. Terus mana Firmannya ? Saya mau ngomong sama dia,” ujar Putri.

“Halo Put ini Yana,” ujar Yana mengambil ponsel Daeng.

“Ya Yana. Terima kasih ya kamu sudah ikut membantu mencari Firman. Mana Firmannya ? Saya mau ngomong,” ujar Putri lagi.

“Jangan dulu Put. Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk bicara dengan Firman,” jawab Yana.

“Loh memangnya kenapa ? Jangan-jangan kalian telah berbohong ya. Sebenarnya Firman belum ditemukan,” ujar Putri.

“Tidak Put. Kami benear-benar telah menemukan Firman,” jawab Yana.

“Tapi kenapa kamu melarangku untuk bicara dengan dia ?” ujar Putri dengan nada tinggi.

“Ternyata Firman lupa ingatan Put. Sampai sekarang dia juga belum mengenali saya dan Daeng,” tutur Yana.

“Tolong kirim foto Firman, Yana. Aku ingin tahu,” ujar Putri.

“Ya nanti saya kirim,” jawab Yana.

“Terima kasih sahabatku. Mana Daeng ? Aku mau bicara dengan dia,” imbuh Putri.

“Halo Put.”

“Apakah boleh besok aku menyusul ke sana, Daeng ?” ujar Putri dengan nada senang.

“Ya saya tunggu. Kalau sudah sampai di bandara tolong kabari saya ya,” jawab Daeng.

“Baik, Daeng. Terima kasih sebelumnya ya,” pungkas Putri.

“Sama-sama Put,” jawab Daeng.

Kemudian Yana dan Daeng, kembali duduk di ruang tamu. Daeng melirik ke Firman yang sedang duduk dengan Lilis. Lilis tampak bersedih, dan khawatir kalau kekasihnya akan pergi meninggalkannya.

“Sebenarnya Neng Lilis sangat bahagia, Akang sudah bertemu kembali dengan teman Akang. Tapi Neng, juga sangat sedih,” ujar Lilis.

“Kenapa kamu sedih neng ?” tanya Firman.

“Neng takut Akang lupa sama Neng,” jawab Lilis.

“Sampai kapan pun Akang tak kan pernah melupakan budi baik Neng yang baik hati dan tidak sombong,” jawab Firman.

“Akang Tirta gombal. Awas ya kalau sampai melupakan Neng. Neng tidak akan pernah memaafkan Akang,” ujar Lilis sambil mencubit Firman.

“Ya Neng Akang janji. Apa lagi selama ini neng yang sudah merawat Akang sampai sembuh. Abah dan Mak juga sudah Akang anggap seperti orang tua Akang sendiri. Mana mungkin Akang bisa melupakan kebaikan keluarga ini,” jawab Firman dengan nada sedih.

Kemudian Lilis menyandarkan kepalanya pada bahu Firman. Hari itu Lilis terlihat sangat manja sekali. Mang Ujang dan istrinya hanya bisa menitikan air mata. Begitu juga dengan Daeng dan Yana. Yana kemudian mendekati Mojang geulis itu dengan ramah.

“Percayalah Neng. Mas Firman tidak akan pernah melupakan keluarga ini. Terutama Neng yang cantik ini. Saya sangat mengenal Firman. Firman bukan tipe orang yang seperti itu,” ujar Yana.

“Apa benar yang Teteh katakan itu ?” tanya Lilis.

“Benar Neng. Kalau nanti Firman melupakan Neng, apalagi menyakiti Neng, biar Teteh saja yang melabraknya, hehehe...” Ujar Yana.

“Kok dilabrak ? Kaya ayam aja hehehe...” Ketus Daeng.

Ucapan Yana dan Daeng membuat Lilis tertawa lepas. Begitu juga dengan Mang Ujang dan istrinya. Gadis cantik berdarah sunda itupun wajahnya kembali cerah. Sorot matanya tajam menatap Firman, sambil tersenyum. Firman menggeser duduknya lalu mendekati Daeng.

“Menurut kalian, apa yang harus saya lakukan ?” tanya Daeng.

“Sebaiknya kamu pulang dulu Fir. Sudah satu tahun ini rumahmu tanpa penghuni,” jawab Daeng.

“Maksudmu saya sudah punya rumah ?” tanya Firman lagi.

“Ya, kamu sudah punya rumah,” jawab daeng meyakinkan Firman.

“Terus selama ini saya tinggal dengan siapa ?” tanya Firman lagi.

“Kamu hanya tinggal sendirian sendirian saja Fir. Karena kedua orang tuamu sudah lama meninggal,” ujar Daeng.

“Apakah kamu tahu makam kedua orang tua saya ?” tanya Firman.

“Ya saya tahu Fir,” jawab Daeng.

“Tolong antarkan saya ke sana,” ujar Firman.

“Baik Fir,” jawab Daeng lagi.

“Abah, Emak. Izinkan saya ikut dengan Daeng dan Yana ya. Setelah urusannya sudah selesai, nanti saya ke sini lagi,” ujar Firman.

“Silahkan Nak. Abah dan Emakmu hanya bisa berdo’a. Mudah-mudahan Nak Tirta segera mengingat semuanya,” ujar Mang Ujang.

“Maafkan Akang ya neng. Terpaksa Akang harus pergi dulu. Ini juga hanya sebentar kok Neng,” ujar Firman.

“Akang jahat ! Akang bohong !” teriak gadis itu lalu berlari masuk ke kamarnya. Tirta ingin mengejarnya, namun dicegah oleh Bu Ujang.

“Biarkan saja Nak. Sekarang Nak Tirta pergi saja. Biar nanti Emak saja yang ngurus Neng Lilis,” ujar Bu Ujang.

“Ya Nak. Berangkat saja sana. Jangan pikirkan Neng Lilis. Mas Daeng dan Mbak Yana, saya titip Nak Tirta dulu ya,” timpal Mang Ujang.

“Baik Mang,” jawab Daeng dan Yana.

Lalu ketiganya pergi menuju dermaga, dan naik kapal cepat. Dari kejauhan terlihat Lilis melambaikan tangannya ke Firman.

“Akang Tirta... . Akang.... Hati-hati Kang. Neng menunggu Akang di rumah,” ujar Lilis sambil menangis.

Firman pun berdiri, lalu membalas lambaian tangannya. Tak henti-hentinya Firman melambaikan tangannya, hingga gadis itu menghilang dari kejauhan. Kemudian ia duduk kembal, sambil mengusap air matanya. Yana menatap pemuda yang dulu pernah dicintainya itu. Kemudian Yana mengulurkan tangannya, lalu mengusap air matanya. Tanpa terasa Yana pun ikut menangis. Begitu juga dengan Daeng. Diam-diam ia menyembunyikan wajahnya sambil menangis.

Tanpa terasa kapal yang mereka tumpangi telah membawanya sampi ke daratan. Kemudian mereka mengajak Firman berziarah ke makam kedua orang tuanya. Firman duduk bersila menghadap dua gundukan tanah yang letaknya saling bersebrangan. Sambil menengadahkan kedua tangannya, ia pun memanjatkan do’a untuk kedua orang tuanya.

Bibir Firman terlihat komat-kamit, tenggelam dalam lantunan do’anya. Surat-surat pendek ia panjatkan. Diiringi dengan tahlil. Setelah itu dilanjutkan dengan bershalawat. Sementara Daeng dan Yana mengaminkan do’a yang dipanjatkan Firman. Tak lama kemudian Firman membuka matanya, menyudahi do’anya.

Tubuh mereka basah kuyum tersiram air hujan selama di pemakaman. Setelah itu mereka pergi meninggalkan batu nisan, dan pulang ke rumahnya. Rumah yang dulu ditempati Firman, tampak seperti rumah tua. Maklum sudah setahun ini tidak ada lagi yang mengurusnya. Sebagian gentingnya terlihat pecah, dan plaponnya tampak usang.

“Kamu ingat nggak Fir, ini rumah siapa ?” tanya Daeng.

“Nggak ingat Daeng. Memang ini rumah siapa ?” Firman balik bertanya.

“Apakah kamu nggak ingat apa-apa Fir, ini rumah siapa ?” sahut Yana.

“Memang ini rumah siapa ?” Firman balik bertanya.

“Ini rumah mu Fir. Di sinilah kamu terakhir kalinya saya ajak mancing di Selat Sunda. Apakah kamu ingat ?” ujar Daeng.

“Tidak daeng. Saya tidak ingat apa-apa.” Jawab Firman.

“Ya udah nggak apa-apa. Sekarang kita mau ke mana Daeng ?” ujar Yana.

“Kita pulang dulu ke rumahku. Dulu Firman sering tidur di rumah itu. Siapa tahu dia akan mengingatnya kembali.

“Kalau begitu saya pulang dulu ya Daeng. Maaf saya nggak bisa menemani kamu Fir,” ujar Yana.

Lalu mereka berpisah di pertigaan jalan. Yana pulang ke rumahnya, sedangkan Firman ikut ke rumah Daeng. Baru saja sampai di rumah Daeng, tiba-tiba Putri keluar dari rumah itu dan langsung memeluk Firman, sambil menangis.

“Apa benar ini Mas Firman ? Apakah aku tidak sedang bermimpi mas ?” tanya Putri sambil meraba-raba pipinya.

Sementara Firman hanya diam saja sambil melongo, membiarkan pipinya diraba-raba oleh perempuan cantik itu. Firman menatap Daeng, penuh tanda tanya. Seolah ia ingin bertanya siapakah perempuan cantik ini ? Sedangkan Putri tak henti-hentinya meraba pipinya, sambil memeluknya erat.

“Kenapa Mas Firman diam saja ? Ini Putri cinta pertama kamu mas. Jawab Mas ! jangan diam saja,” ujar Putri sambil mengguncang-guncang tubuhnya.

“Ini siapa Daeng ? Saya tidak mengenalnya,” ujar Firman dengan bibir gemetar.

“Apakah kamu tidak ingat apa-apa Fir ? Dia adalah wanita yang sangat berarti dalam hidupmu. Dia adalah orang yang selama ini kamu rindukan. Dia adalah Putri cinta sejatimu,” terang Daeng sambil menangis.

“Apa ? Cinta sejatiku. Tolong jelaskan padaku Daeng. Siapa dia ?” ujar Firman bingung.

“Dia adalah Ni Made Putri Astuti, yang biasa kamu panggil Putri. Dulu kalian saling mencintai. Namun karena beda agama, akhirnya kalian harus berpisah.

“Tapi Tuhan berkehendak lain. Setelah kalian berpisah dua puluh sembilan tahun lamanya, kalian dipertemukan kembali di Negeri Seribu Larangan. Sampai akhirnya suatu ketika kamu saya ajak mancing di dekat anak gunung krakatau, dan akhirnya kamu ditelan Tsunami Selat Sunda,” ujar Daeng.

“Apakah benar yang kau katakan itu Daeng ?” tanya Firman.

“Benar mas. Kita dulu memutuskan untuk berpisah dan untuk saling melupakan lantaran kita beda agama dan keyakinan. Setelah dua puluh sembilan tahun lamanya kita berpisah, lalu kita bertemu lagi di Singapura. Apakah kamu masih ingat mas ?” tanya Putri.

“Saya tidak ingat apa-apa. Jika yang kalian ceritakan itu memang benar, tolong maafkan saya. Saya masih belum ingat apa-apa,” ujar Firman.

“Mas Firman. Tidak ada sedikit sajakah yang kau ingat tentangku mas ? Saya Putri. Orang yang selama ini merindukan kamu mas. Apakah kamu juga lupa dengan tarian ini mas,” sahut Putri, lalu menari.

Firman memperhatikan satu-persatu gerakan Putri. Namun tiba-tiba Firman memegang kepalanya, sambil mengerang kesakitan.

“Aduh kepalaku sakit sekali. Tolong... . Tolong saya Daeng,” teriak Firman, kemudian jatuh tersungkur. Putri berlari dan langsung memeluk Firman. Ia terlihat sangat panik dan sangat mencemaskan Firman.

“Kenapa kamu mengerang kesakitan Mas ?” tanya Putri

“Mungkin dia mengingat sesuatu saat kamu menari tadi Put. Karena daya ingatnya masih lemah, makanya ia kesakitan,” ujar Daeng.

“Mas bangun mas. Jangan membuat saya takut seperti ini mas,” ujar Putri sambil menepuk-nepuk pipinya.

“Kita bawa masuk ke dalam ya, Put. Mungkin dia terlalu letih. Karena tadi saya ajak ziarah ke makam kedua orang tuanya. Setelah itu melihat rumahnya. Bantu saya memapah dia ya, Put,” ujar Daeng.

Mereka lalu memapah Firman masuk ke dalam rumah. Setelah itu membaringkannya di kamar. Firman terlihat sangat pucat sekali. Sambil menemani Firman, Putri memijat kepalanya. Tak lama kemudian Firman membuka matanya. Kemudian menatap Putri tak berkedip.

“Apakah benar yang kamu katakan tadi Put ? Apakah benar kamu adalh cinta pertama saya ?” tanya Firman.

“Ya mas. Saat duduk di bangku SMP dulu, kita selalu berangkat sekolah bersama, dan pulang bersama. Kamu, saya dan Daeng sama-sama naik sepedah ontel. Apakah kamu masih ingat mas ? Saat dimana sepedaku kempes, dan kamulah yang menolongnya,” tutur Putri.

“Maafkan saya Put. Saya tidak ingat apa-apa. Tapi tadi saat kamu menari, kayaknya saya ingat sesuatu. Tapi entah apa yang saya ingat tadi. Karena tiba-tiba, kepalaku sakit, dan ngebleng,” ungkap Firman.

“Ya sudah mas, nggak apa-apa. Sekarang kamu istirahat ya,” ujar Putri.

“Tidak Put. Saya ingin segera mengingat kembali masa lalu saya. Tolong bantu saya ya,” ujar Firman.

“Ya mas,” jawab Putri.

“Di mana Daeng, Put ?” tanya Firman.

“Saya di sini. Ada apa Fir ?” jawab daeng..

“Tolong bantu saya, Daeng. Agar ingatan saya kembali lagi,” pinta Firman.

“Ya nanti kami bantu. Tapi tolong sekarang kamu istirahat dulu, Fir. Nanti kalau sudah lebih baikan, kamu akan saya antar ke suatu tempat. Tempat di mana kamu dulu sering pergi ke sana,” jawab Daeng.

“Tidak Daeng. Saya mau ke sana sekarang. Saya tidak ingin menunda-nunda waktu lagi,” ujar Firman memaksa Daeng.

“Baiklah kalau begitu. Ayo sekarang kita berangkat,” ajak Daeng.

“Kita mau pergi ke mana Daeng ?” tanya Putri.

“Ke batu putih, Put. Tempat di mana kalian dulu menyimpan kenangan bersama Firman di sana,” ujar Daeng.

“Mudah-mudahan, setelah melihat tempat itu, Mas Firman akan mengingat sesuatu,” timpal Putri.

Hari itu mereka berangkat ke batu putih. Sebuah dataran tinggi yang dibatasi oleh pantai. Di atas dataran tinggi itu, berdiri sebuah Pura tua. Sedangkan di bawah dataran tinggi yang menjorok ke laut, terdapat sebuah goa berdiameter enam puluh senti, di bawah air laut.

Tiga puluh tahun sudah tempat ini baru mereka kunjungi lagi. Sekarang tempat ini sudah mengalami banyak perubahan. Bangunan Pura tua telah dipugar menjadi indah. Bahkan tempat ini sekarang telah disulap menjadi obyek wisata. Membuat ketiganya terlihat pangling dan sangat takjub. Setelah itu mereka naik ke batu putih, dan memandang hamparan laut lepas. Firman tampak tak berkedip, menatap jauh ke depan. Sementara Putri memperhatikan kekasihnya itu dengan wajah sedih.

“Kasihan kamu mas. Jika saja kamu mengingat kenangan kita dulu di tempat ini. Pasti kamu akan sangat bahagia sekali mas. Bukankah masa-masa indah seperti ini yang pernah kamu rindukan ? Kamu dulu pernah bercerita, di tempat inilah kamu selalu menunggu kedatanganku. Sekarang orang yang kamu tunggu sudah berada di sampingmu mas,” bisik Putri lembut.

“Ya Fir. Kamu dulu sering pergi ke sini jika kamu sedang merindukan Putri. Di tempat inilah dulu kamu selalu berdo’a agar suatu saat kamu dipertemukan lagi dengan Putri. Apakah kamu mengingatnya Fir ?” ujar Daeng.

Mendengar cerita itu, wajah Firman tampak berubah. Seolah ada sesuatu yang sedang ia pikirkan. Tiba-tiba napasnya tersengal-sengal, lalu memegangi kepalanya sambil mengerang kesakitan.

“Putri...? Di mana kamu sekarang sayang. Aku sangat merindukanmu,” teriak Firman.

“Apa mas ? Apakah kamu sudah mengingat saya ?” tanya Putri sambil memeluk Firman.

“Tadi saya melihat Putri, tersenyum sambil melambaikan tangannya. Tapi tiba-tiba ia menghilang di balik awan. Tolong carikan Putriku,” ujar Firman sambil menangis tersedu-sedu.

“Rupanya kamu sedang berhalusinasi mas. Kamu mulai mengingat apa yang pernah kau lakukan di tempat ini. Sekarang tatap wajahku mas. Aku adalah Putri mas. Putri yang dulu pernah kau sayangi. Putri yang selalu kau kenang sepanjang hidupmu. Sadar mas, sadar,” ujar Putri sambil menangis.

Firman tak menggubris ucapan Putri. Ia terus meratapi Putri kecil yang dilihatnya tadi. Tak lama kemudian ia berdiri sambil mengepalkan tangannya, dan berteriak memanggil Putri kecil.

“Putri... Di mana kamu sekarang. Saya tak bisa hidup tanpa dirimu, Putri...” Teriak Firman.

Putri pun berdiri lalu memeluk Firman. Ia berusaha meyakinkan, bahwa dirinya adalah Putri kecil itu.

“Mas Firman... Sadar mas, sadar. Aku adalah Putri mas,” ujar Putri.

“Kamu bukan Putri ! Putriku itu rambutnya panjang. Sedangkan kamu rambutnya pendek. Siapa kamu sebenarnya ? saya tidak mengenalmu !” bentak Firman.

Mendengar bentakan itu, Putri menangis tersedu-sedu. Nangisnya Putri membuat Firman merasa sangat bersalah. Ia menatap perempuan itu tak berkedip. Lalu dia menanyakan apa yang baru saja Putri katakan.

“Benarkah kamu ini Putri ?” tanya Firman. Putri pun mengangguk, lalu menggenggam tangan Firman.

“Dia memang Putri yang selama ini kamu cari Fir. Dia adalah Ni Made Putri Astuti. Kekasihmu dulu,” timpal Daeng.

“Kamu bukan Putri yang saya cari selama ini. Putri berambut panjang, dan selalu dikepang dua. Sedangkan kamu rambutnya pendek,” ujar daeng.

“Dulu memang Putri rambutnya panjang dan selalu dikepang dua Fir. Tapi dia sekarang sudah memotongnya, karena suatu hal. Percaya padaku Fir. Dia adalah Putri. Orang yang selama ini kamu cari,” jelas Daeng.

“Apakah kamu tidak ingat saat kita bertemu di negeri seribu Larangan, mas ? Saat itu rambutku sudah seperti ini,” ujar Putri kepada Firman.

Sayangnya Firman menggeleng tak ingat apa-apa. Dia hanya mengingat saat Putri masih remaja dulu. Kemudian Firman kembali menatap Putri, sambil mengerutkan keningnya.

“Andaikan saja kamu adalah Putri yang sedang saya cari, maaf kan saya ya. Saya masih belum mengingat apa-apa,” ujar Firman.

“Nggak apa-apa mas. Bisa mendampingimu saja aku sudah bahagia sekali. Maafkan aku juga ya mas,” jawab Putri sambil menitikan air mata.

“Setidaknya hari ini kamu sudah mengingat masa kecilmu Fir. Kami berharap, kamu juga akan mengingat semuanya,” sahut Daeng.

“Jika Mas Firman tidak keberatan, saya akan mengajak dia ke Singapura. Bagaimana menurut mu Daeng ?” tanya Putri.

“Ya itu usulan yang bagus sekali Put. Saya sangat setuju. Mudah-mudahan di tempat itu, dia akan mengingat semuanya. Berangkatlah kalian ke sana. Maaf saya tidak bisa menemani kalian berdua,” ujar Daeng.

“Tidak apa-apa Daeng. Mudah-mudahan Sang Hyang Widi Wasa mengabulkan niat baik ku ini,” jawab Putri.

Bagaimana dengan kamu Fir ? Apakah kamu setuju dengan usulan Putri ?” tanya Daeng.

“Saya ikut aja apa kata kalian. Yang penting ingatanku bisa kembali lagi,” jawab Firman.

“Kalau begitu kapan kalian mau berangkat ?” tanya Daeng.

“Secepatnya Daeng. Mungkin besok pagi,” jawab Putri.

Keesokan harinya Putri dan Firman berangkat ke Singapura. Putri sengaja memakai pakaian yang pernah ia pakai saat pertama kali bertemu dengan Firman di Bandara Changi Airport. Selama di perjalanan, Firman terlihat sedikit cuek. Ia tidak seperti Firman yang Putri kenal dulu. Sangat perhatian dan selalu menyayanginya. Mungkin karena ingatan Firman belum pulih. Sehingga Putri dianggap sebagai orang yang baru di kenalnya.

Sampai di bandara keduanya langsung menuju ke sebuah hotel yang pernah Putri singgahi kala itu. Mereka lalu memesan dua kamar yang letaknya bersebelahan. Setelah beristirahat, Putri mengajaknya berkunjung ke beberapa tempat yang pernah mereka kunjungi setahun yang lalu. Tempat wisata yang mereka kunjungi adalah Merlion Park dan beberapa tempat wisata lainnya.

Putri berdiri di bawah patung singa dan mempraktekan seperti yang Firman lakukan dulu. Putri berdiri di sebelah patung menirukan gayanya dulu. Dengan serius putri minum air mineral lalu menyemburkannya ke Firman. Sampai Putri tersedak air, hingga batuk-batuk. Firman terlihat sangat panik, lalu memapahnya.

Saat itu kaki Firman terpleset, dan keduanya jatuh bergulingan ke tanah. Sampai akhirnya tubuh Putri di atas tubuh Firman yang jatuh terlentang. Mereka tersenyum dan saling pandang. Tiba-tiba Firman mengingat sesuatu.

“Kayaknya saya pernah pergi ke tempat ini ? Kapan dan dengan siapa ?” tanya Firman.

“Setahun yang lalu kita pernah pergi ke tempat ini mas. Makanya kamu saya ajak ke sini, mas,” ujar Putri.

“Apa benar yang kamu katakan itu Put ?” tanya Firman.

“Itu benar, Mas,” ujar Putri.

Kemudian Putri mengambil air minum dan menyiramkan ke muka Firman. Persis yang pernah Firman lakukan dulu kepada dirinya. Dengan harapan Firman akan mengejarnya, dan mengingat kenangannya dulu bersama Putri. Sayangnya Firman diam, sambil mengelap mukanya yang basah kuyuh.

“Maafkan aku ya, mas. Bukan maksudku ingin mempermainkanmu. Tapi aku ingin mengulang peristiwa itu lagi. Dengan harapan kamu mengingatnya lagi,” ujar Putri

“Saya nggak ingat apa-apa, Put. Maaf saya ya,” jawab Firman.

“Aku yang seharusnya minta maaf mas. Yuk kita kembali saja ke hotel. Badanku terasa remuk sekali mas,” ujar Putri.

Lalu keduanya kembali ke kamar hotelnya. Karena kelelahan, Firman langsung tidur di kamarnya. Sedangkan Putri nggak bisa tidur. Pikirannya melayang entah ke mana. Kemudian Putri mengendorkan otot-ototnya dengan cara menari. Putri memutar musik, lalu menari. Sedangkan Firman yang sedang tidur di kamarnya, mendadak terbangun lantaran mendengar tarian itu.

“Suara musik itu, rasanya tidak asing lagi di telingaku ? Siapa yang memutarnya ya,” gumam Firman, lalu mencari sumber suara itu.

Firman mengendap-endap, sampai ke kamar Putri. Kebetulan kamar Putri tidak tertutup rapat. Sehingga Firman bisa melihat Putri dengan jelas. Ia sedang menari di kamarnya. Firman memperhatikan gerakan demi gerakan, sampai Putri selesai menari.

“Tarian itu. Tarian itu. Aduh kenapa tiba-tiba kepalaku sakit sekali,” ujar Firman, sambil memegangi kepalanya.

“Itu seperti tari yang pernah dibawakan oleh Putri. Ya benar itu tari pendet,” gumamnya lagi.

Putri yang telah menyelesaikan tariannya, melihat Firman yang sedang memegangi kepalanya, lalu menghampirinya. Hal itu membuat Firman kaget dan berusaha meninggalkan tempat itu. Namun saat membalikan badannya, Putri menarik tangannya

“Mas Firman... .Tunggu ! Sedang apa di sini mas ? Kenapa tidak masuk ?” tanya Putri.

“Maaf saya tadi tak sengaja melihatmu sedang menari,” jawab Firman gugup.

“Nggak apa-apa mas. Ayo masuk mas,” ujar Putri sambil menarik tangannya ke dalam kamar. Firman yang tidak dalam keadaan siap, kakinya kesrimpet dan jatuh tersungkur ke lantai.

“Aduh, kepalaku,” teriak Firman., jatuh tersungkur.

Keningnya terlihat sedikit memar akibat benturan itu. Sedangkan Putri merasa bersalah atas tindakannya itu. Kemudian ia menghampirinya, lalu menolongnya Firman untuk duduk.

“Mas Firman nggak apa-apa ? Maafkan saya mas, tadi nggak sengaja,” ujar Putri.

Firman duduk di lantai, lalu mentap perempuan yang ada di hadapannya. Sorot matanya tajam, tak berkedip. Laki-laki yang masih melajang itu mengerutkan keningnya, mengingat sesuatu.

“Tadi saat kepelaku terbentur ke lantai, rasanya saya meningat sesuatu.”

“Apa yang kamu ingat mas ?” tanya Putri.

“Entahlah. Tadi yang kuingat nggak jelas. Tiba-tiba kepalaku pusing dan tak ingat apa-apa lagi,” jawab Firman.

Putri kembali mengulurkan kedua tangannya, membangunkan Firman. Kemudian kembali ke kamarnya. Sedangkan Putri merebahkan tubuhnya sambil mengingat kenangannya dengan Firman. Setelah itu teringat ucapan Firman tadi.

“Tadi Mas Firman bilang ia telah mengingat sesuatu. Mudah-mudahan ini pertanda baik, dan ingatannya akan kembali lagi,” gumam Putri.

Selama beberapa hari mereka di Singapura, mereka mengunjungi beberapa tempat yang dulu pernah mereka kunjungi. Sayangnya sampai hari ini belum ada kemajuan yang berati tentang ingatan Firman. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke Lampung.

Setibanya di Lampung, Putri menceritakan perkembangan ingatan Firman kepada Daeng. Hingga Daeng meminta kepada Putri agar selalu sabar menghadapi Firman.

“Mungkin ini adalah kesempatan terakhir kita agar ingatan Firman kembali lagi. Tidak ada cara lain, selain kita mengajaknya memancing ke Selat Sunda. Tempat dimana Firman dihantam oleh badai itu,” ujar Daeng.

“Apakah itu tidak beresiko untuk dia ?” tanya Putri.

“Mudah-mudahan tidak Put,” jawab Daeng.

Usulan Daeng akhirnya disetujui Putri. Pagi itu mereka berangkat menelusuri laut dengan naik perahu bercadik milik Daeng. Mereka mengambil rute yang sama, yang pernah mereka lalui dahulu. Perlahan perahu mereka melaju, menantang derasnya gelombang lautan. Firman dan Putri duduk di depan, sedangkan Daeng mendayung dari belakang.

Dalam hitungan jam mereka sudah sampai di beberapa kilo meter dari anak gunung Krakatau. Kemudian Daeng melempar pancingnya. Disusul oleh Putri. Dalam hitungan menit pancing mereka disambar ikan besar. Daeng menarik, dan mengulur pancingnya mengikuti arah ikan.

Setelah itu menarik pancingnya. Seekor kakap dengan berat tiga kilo gram sudah berhasil ia daratkan. Begitu juga dengan Putri. Putri menarik pancingnya dibantu Daeng. Ia berteriak kegirangan melihat hasil tangkapannya. Seekor ikan kakap yang bentuknya lebih besar dari hasil pancingan Daeng.

Hari itu Putri menyaksikan pemandangan yang sangat menakjubkan dari tengah laut. Maklum baru pertama kali dia melakukan kegiatan yang sangat menantang hari ini. Sementara Firman masih terlihat cuek, dan asyik dengan permainannya. Kedua tangannya direntangkan bermain air. Suara yang ditimbulkan seperti suara alunan gendang.

Setelah bosan, ia berdiri memandang lautan lepas. Tiba-tiba Firman berteriak sambil memandang anak gunung krakatau.

“Woy...., woy..., woy...” Teriak Firman.

Daeng pun sangat kaget dengan tingkah Firman. Karena tingkahnya sama persis seperti setahun yang lalu sebelum terjadinya Tsunami. Sedangkan Putri hanya diam memandang tingkah Firman yang terasa aneh. Kini Firman kembali berteriak, memanggil-manggil Putri.

“Putri..., Putri.... . Kamu di mana...?”

Putri terkejut ketika namanya disebut Firman. Tanpa terasa ia menitikan air mata, melihat Firman yang hanya ingat dengan Putri kecil.

“Betapa tersiksanya kamu selama ini mas. Ini Putri mas. Ini Putri yang kamu cari ada di sini,” gumam Putri.

Setelah beberapa lama Firman berteriak, tiba-tiba datang ombak besar, dan mengguncang sampannya. Firman menjerit ketakutan meminta tolong.

“Tolong saya Daeng. Ada Tsunami datang...” Ujar Firman terlihat panik. Akibatnya perahunya oleng dan Firman tercebur ke laut. Daeng segera melompat, menyelamatkan Firman. Kemudian menariknya dan membawanya ke atas perahu. Kemudian menekan perutnya dengan kedua telapak tangannya. Seketika Firman memuntahkan air dari mulutnya, diiringi batuk-batuk. Sementara Putri hanya bisa menangis melihat Firman. Kemudian ia mendekati Firman, berusaha membangunkannya.

“Mas Firman..., bngun mas,” ujar Putri.

Tiba-tiba Putri mutah-mutah dan terlihat limbung, dan akhirnya ia pun ikut pingsan. Firman yang baru tersadar dari pingsannya, menjerit memanggil Putri.

“Putri..., Putri... . Bangun Put, bangun. Ini Firman Put,” teriak Firman sambil menepuk-nepuk pipinya perempuan cantik itu.

Tak lam kemudian, Putri membuka matanya. Mata indah itu menatap Firman, seakan tak mau lepas darinya. Keduanya beradu pandang, untuk beberapa saat. Kini tangan Putri meraba pipi Firman sambil menitikan air mata.

“Mas Firman. Andaikan kamu tahu kalau selama ini aku sangat merindukanmu, tentu kamu tak kan pernah meninggalkanku untuk kedua kalinya. Walaupun aku tahu saat ini kamu belum ingat apa-apa tentangku, dan saat ini kamu menganggapku seperti orang asing, tapi aku sangat bahagia sekali,” ujar Putri sambil bercucuran air mata.

“Tidak sayang. Saya tak akan pernah meninggalkanmu, untuk kedua kalinya. Saya akan selalu ada untukmu, sampai maut memisahkan kita,” jawab Firman sambil menangis.

“Ucapanmu mengingatkan aku pada Mas Firman yang dulu. Mas Firman yang selalu ada untuku. Mas Firman yang selalu ada saat aku membutuhkanmu. Sayangnya Mas Firman yang ada di hadapanku sekarang ini adalah Tirta. Bukan Mas Firman yang ku kenal dulu,” ujar Putri sambil terus menangis.

“Tidak sayang. Yang ada di hadapanmu sekarang ini adalah Firman yang kamu kenal dulu. Firman yang selalu mengagumimu sampai hidupnya melajang selama ini. Tataplah mataku sayang. Disitu ada ketulusan cintaku untukmu. Sampai maut akan memisahkan kita,” jawab Firman sambil bercucuran air mata.

“Mas Firman. Ucapanmu lembut seperti Mas firman yang ku kenal dulu. Apakah ini Mas Firman yang ku kenal dulu ?” tanya Putri.

“Ya sayang. Ini Firman. Cinta sejatimu. Firman yang dulu kau kenal. Firman yang selalu mengagumi sampai akhir hayatku,” jawab Firman sambil memeluk Putri.

“Apakah kamu sudah ingat mas. Apakah kamu sudah ingat semuanya,” tanya Putri lagi.

“Ya sayang,” jawab Firman.

“Benarkah ini Firman ku ?” tanya Putri tak percaya.

“Ya sayang. Sekarang bangunlah, dan hapuslah air matamu. Karena aku tak sanggup melihatmu menangis seperti ini,” ujar Firman.

“Mas Firman. Apakah ingatanmu sudah kembali lagi ?” tanya Putri merasa belum yakin..

“Ya. Akulah Firman yang menjadi keganasan Tsunami Selat Sunda setahun yang lalu,” jawab Firman.

“Mas Firman... . Terima kasih Sang Hyang Widi Wasa. Engku telah mengembalikan ingatan orang yang sangat ku sayang,” ujar Putri sambil memeluknya.

“Jangan tinggalkan aku lagi mas. Aku baru sadar kehilanganmu sangat menyiksa jiwaku. Maafkan aku yang selama ini cuek padamu,” ujar Putri

“Sukurlah ingatan kamu sudah kembali lagi Fir,” sambung Daeng.

“Ini semua berkat bantuan kalian semua. Terima kasih Daeng. Terima kasih Putri,” jawab Firman.

“Tidak ada kata yang paling indah, selain kata syukur kepada Syang Hyang Widi Wasa. Terima kasih ya Tuhan,” ucap Putri.

“Fir..., sekarang kita mau ke mana ? Pulang atau ke rumah Mang Ujang ?” tanya Daeng.

“Kita langsung ke rumah Mang Ujang saja Daeng. Lagi pula dari sini rumahnya tidak jauh lagi. Itu pulaunya sudah kelihatan,” ujar Firman, sambil menunjuk ke arah pulau kecil itu.

“Baiklah Fir. Kamu akan saya antar ke sana,” jawab Daeng.

“Maaf mas. Mang Ujang itu siapa ? Kayaknya saya baru mendengarnya ?” tanya Putri.

“Dia adalah orang yang telah menyelamatkan hidupku Put. Dialah yang menemukanku di tengah lautan, saat aku pingsan. Tanpa pertolongannya, mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi,” jawab Firman sambil menitikan air mata.

Daeng mendayung perahunya memutar menuju ke arah pulau kecil itu. Sementara Putri menyandarkan bahunya pada Firman. Firman mengusap-usap punggung kekasihnya itu dengan lembut. Hingga akhirnya Putri pun tertidur di pangkuannya.

CINTA SEGI TIGA

Daeng terus mendayung perahunya, menerjang ombak. Berkali-kali ia harus menguras air yang masuk ke dalam perahu. Maklum hari itu ombak laut sangat besar sekali. Sehingga ia harus ekstra hati-hati membawa perahunya. Perahu itu terlihat timbul tenggelam diguncang ombak, laksana melewati tanjakan dan turunan yang sangat terjal. Akibat guncangan ombak laut tersebut, Putri pun akhirnya mabuk laut.

Wek..., wek... .” Seketika Putri mengeluarakan cairan putih dari mulutnya.

“Kenapa sayang ? Kamu mabuk ya ? Nggak apa-apa muntahkan saja,” ujar Firman, sembari memijat punggung Putri..

“Wek..., wek..., pyor... Mas Firman..., aku sudah nggak kuat lagi mas. Aku mau mutah lagi,” ujar Putri.

“Mutahkan saja sayang, biar plong,” jawab Firman lembut.

Wek..., wek..., wek. Pyor... cairan putih kembali mengucur dari mulutnya.

Perempuan cantik itu terlihat lemah dengan wajah pucat. Hal itu membuat Firman menjadi sangat khawatir. Firman merebahkan tubuh Putri di pangkuannya. Tak lama kemudian Putri pun tertidur pulas, hingga perahu yang membawanya sampai di daratan. Kemudian Daeng menambatkan perahunya pada pohon kelapa. Sedangkan Firman membangunkan Putri yang sejak dari tadi tidur pulas.

“Bangun sayang, kita sudah sampai,” bisik Firman lembut. Kemudian memapahnya menuju rumah Mang Ujang. Di depan rumah terlihat seorang gadis cantik, dengan topi lebar sedang mengangkat jemuran. Saat ia membalikan badannya, langkahnya terpaku pada sosok laki-laki yang sangat dikenalnya. Kemudian ia menjatuhkan jemurannya, sambil berteriak berlari menghampiri Firman.

“Akang Tirta... . Akang Tirta,” teriak Lilis, tak memperdulikan dengan sekelilingnya.

Putri melepaskan rangkulannya dan menatap gadis yang mendekati Firman. Gadis itu langsung memeluk Firman sambil menangis.

“Apa kabar Kang Tirta ? Neng kira, akang tidak akan pernah ke sini lagi,” ujar Lilis polos.

“Alhamdulillah kabar akang baik neng. Di mana abah dan emak ?” tanya Firman.

“Ada kang. Abah jeng emak ada di dalam. Ayo kang masuk.. Abah..., emak... . Kang Tirta pulang, bah,” teriak Lilis memberitahu kepada orang tuanya.

“Uluh, uluh. Apa kabar Nak Tirta ?” sapa Bu Ujang.

“Alhamdulillah baik mak. Baik bah,” jawab Firman.

“Silahkan masuk, nak,” sambung Mang Ujang sambil tersenyum.

Kemudian mereka masuk dan duduk di ruang tamu. Putri duduk di sebelah kiri Firman, sedangkan Lilis duduk di sebelah kanan. Mang Ujang memperhatikan satu persatu tamunya yang baru saja datang. Laki-laki tua itu menatap Daeng, kemudian menatap Putri. Mang Ujang memperhatikan Putri dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Ia tampak mengerutkan keningnya, seolah sedang mengingat sesuatu.

“Maaf, ini Mbak Yana atau bukan ya ? Maaf bapak lupa. Maklum bapak sudah tua, hehehe...,” ujar Mang Ujang.

“Oh ya bah, ini Putri. Kalau yang kemaren adalah Yana,” sahut Daeng.

“Ya bah. Nama saya Putri.”

“Pantesan dari tadi abah rada-rada bingung. Karena yang kemaren itu cantik. Tapi kok yang ini lebih cantik lagi ya, hehehe...” Seloroh Mang Ujang.

“Mang Ujang bisa aja, hehehe...” Sahut Putri.

“Silahkan tehnya diminum Mas Daeng, Mbak Putri, dan Nak Tirta,” ujar Bu Ujang, menyodorkan teh manis.

“Silahkan di minum tehnya,” sambung Mang Ujang.

“Ya bah terima kasih. Kami jadi merepotkan lagi,” sahut Daeng.

“Ah nggak apa-apak Mas Daeng. Ayo neng, bantu emak ke dapur,” ujar Bu Ujang kepada Lilis.

“Ya mak,” jawab Lilis, lalu mengikutinya dari belakang.

Tak lama kemudian Lilis datang membawa bubur kacang hijau, lalu menyuguhkannya.

“Ayo di makan buburnya Teh,” ujar Lilis kepada Putri, lalu duduk di sebelah Firman.

Kemudian Lilis mengipasi buburnya, lalu menyuapi Firman. Firman berusaha menolaknya, namun Lilis terus saja memaksanya. Hal itu membuat Firman bingung, bagaikan buah simala kama. Jika menolaknya, pasti Lilis akan kecewa. Disisi lain dia ingin menjaga perasaan Putri. Begitu juga sebaliknya.

“Ayo kang buka mulutnya. Biar neng yang suapin,” ujar Lilis.

“Udah neng nggak usah repot-repot. Akang bisa makan sendiri kok,” jawab Firman.

“Kalau akang nggak mau disuapin, neng tidak akan pernah memaafkan akang,” jawab Putri.

“Jangan ngambek begitu dong neng. Akang jadi serba salah,” ujar Firman.

“Akang serba salah sama siapa ? Selama ini juga neng yang nyuapin. Apa karena di sini ada teman-teman akang ya ? Makanya akang jadi malu. Sekarang buka mulutnya kang. Kasihan buburnya sudah dingin,” ujar Lilis kepada Firman.

“Ya neng,” jawab Firman, lalu membiarkan Lilis menyuapinya.

Sementara Putri yang melihat kemesraan mereka, dadanya terasa sesak. Jantungnya berguncang hebat, laksana mau jatuh di bagian perut yang terdalam. Putri terlihat sangat cemburu sekali. Wajah cantiknya berubah redup, seakan mau turun hujan. Daeng yang melihat Putri sangat khawatir akan terjadi sesuatu. Kemudian ia menatap Firman sambil mengedipkan matanya.

Firman pun tahu isarat yang diberikan Daeng. Ia mengambil sendok dari tangan Lilis, lalu menyantam buburnya.

“Sini neng sendoknya. Biar akang makan sendiri aja,” ujar Firman.

“Biar neng saja yang nyuapin. Kenapa akang nggak mau disuapin ? Emangnya ada apa kang ?” tanya Lilis penuh curiga.

“Neng Lilis, akangmu sekarang sudah sembuh. Kenapa masih disuapin seperti orang sakit ? Hehehe...” Timpal Daeng.

“Nggak apa-apa Kang Daeng. Soalnya dari pertama kali Kang Tirta ke sini, neng yang selalu menyuapi Kang Tirta. Bahkan mengganti bajunya.”

“Apa ?” ujar Putri sepontan.

“Ya Teh. Selama Kang Tirta sakit, neng yang mengurusnya,” jawab Lilis polos.

“Terima kasih neng. Selama ini neng sudah sangat baik sekali sama akang. Tapi sekarang, akang sudah sembuh neng. Jangan disuapin terus. Akang kan malu,” sahut Firman.

“Malu sama siapa kang ? Sama neng ?” tanya Lilis tak mengerti.

“Bukan neng. Tapi...” Jawab Firman.

“Ya sudah kalau malu neng tidak akan pernah menyuapi akang lagi,” jawab Lilis ketus.

Lalu Daeng berusaha memberikan penjelasan kepada Lilis, kalau Firman sekarang ingatannya sudah kembali lagi. Sehingga Lilis tidak perlu memperlakukan Firman seperti orang sakit lagi.

“Begini neng. Alhamdulillah sekarang Firman ingatannya sudah kembali lagi. Jadi tidak perlu disuapin lagi neng,” timpal Daeng.

“Jadi ingatan akang sudah kembali lagi ? Neng sangat senang sekali kang,” jawab Lilis sambil memeluk Firman.

“Apa ? Akang sudah ingat semuanya ?” tanya Lilis.

“Ya neng. Alhamdulillah sekarang ingatan Firman sudah kembali lagi,” terang Daeng.

“Syukurlah kalau begitu kang,” ujar Lilis lalu kembali memeluk Firman.

Putri yang sejak dari tadi menahan cemburu, akhirnya sudah tak tahan lagi. Ia keluar sambil melontarkan kalimat sindiran.

“Aku keluar dulu ya mas. Di sini udaranya panas sekali,” ujar Putri, lalu pergi menuju ke pantai.

Firman tahu kata-kata itu adalah bentuk kemarahan Putri kepada dirinya. Ia ikut keluar dan mengejar Putri.

“Tunggu dulu Put. Kamu mau pergi ke mana ?” tanirman.ya F

“Kamu nggak usah memperdulikan saya lagi mas. Sana pergi ! Suap-suapan saja sama gadis itu,” ujar Putri dongkol.

“Jangan marah sayang. Dengarkan dulu penjelasanku,” jawab Firman.

“Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi mas. Pantesan selama ini kamu betah di sini. Rupanya kamu sudah punya kekasih lagi ya. Kamu sudah berubah mas,” ujar Putri dengan nada marah.

“Maafkan aku sayang. Aku tak pernah bermaksud seperti itu. Semua itu terjadi di luar kesadaran ku Put,” jawab Firman.

“Sudah mas jangan banyak ngeles. Buktinya gadis itu nempel terus seperti perangko. Apakah dia adalah istrimu ?” tanya Putri.

“Bukan Put. Kami baru bertunangan,” jawab Firman.

“Oh, baru bertunangan ya. Berarti sebentar lagi kalian akan menikah. Terus apa gunyanya aku ada di sisni ?” ujar Putri lalu berlari menuju ke laut.

“Dengarkan dulu penjelasanku Put,” timpal Firman.

“Saya tidak butuh penjelasanmu lagi mas. Biarkan aku yang mengalah saja mas. Aku tak sanggup melihat kalian menikah. Sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi. Biarkan aku pergi untuk selama-lamanya,” ujar Putri lalu melompat ke laut. Tanpa pikir panjang Firman melompat, dan berusaha menolongnya.

“Kembali Put. Jangan gila kamu Put,” teriak Firman.

Namun teriakannya tak digubris oleh Putri. Putri tetap berjalan menuju ke tengah laut. Namun tiba-tiba Putri dikejutkan oleh Firman yang berteriak minta tolong. Kemudian ia membalikan badannya, dan ternyata Firman sudah tenggelam dan terombang-ambing oleh gelombang laut. Putri menjerit mendekati Firman sambil minta tolong.

“Tolong..., tolong... Tolong Firman, Daeng,” teriak Putri.

“Ada apa Put ?” tanya Daeng keluar dari rumah.

“ Firman Daeng,” ujar Putri.

Tanpa di komando lagi, Daeng melesat bagaikan anak panah, dan terjun ke laut, berenang menolong Firman. Firman berhasil diselamatkan dan dibawa ke daratan. Lalu Daeng menekan perutnya, dengan telapak tangannya. Sehingga Firman menyemburkan air. Lilis dan Putri memeluk Firman sambil menangis.

“Maafkan aku mas. Bangun mas, bangun,” teriak Putri sambil menagis.

“Sadar kang, sadar. Jangan tinggalkan neng kang,” ujar Lilis sambil menitikan air mata..

Kedua perempuan cantik, beda usia itu berusaha menyadarkan Firman, sambil menggoyang-goyang tubuhnya. Firman kembali menyemburkan air, diiringi batuk-batuk. Setelah itu, Daeng dan Mang Ujang memindahkan Firman ke kamar, lalu menganti bajunya.

Putri memeluk Firman sambil memanggil namanya. Begitu juga dengan Lilis. Seolah ia tak mau kalah dari Putri. Putri mengoleskan kayu putih pada hidung Firman. Sedangkan Lilis memberinya selimut. Dua wanita itu seolah-olah sedang bersaing memperebutkan Firman. Tak lama kemudian Firman mulai siuman, sambil menyebut nama Putri.

“Putri..., Putri... . Jangan pergi Put. Kembalilah sayang. Jangan tinggalkan aku,” ujar Firman.

Ucapan Firman sontak saja membuat Lilis kaget dan kecewa. Mengapa saat sadar, Firman malah memanggil Putri. Hal itu membuat hatinya terluka, menahan cemburu. Ia berlari sambil menangis meninggalkan Firman. Sementara Putri masih berusaha menyadarkan Firman. Ia menggenggam tangannya, lalu memanggil-manggil Firman.

“Sadar mas, sadar. Aku ada di sini mas. Bangun mas,” ujar Putri.

Firman membuka matanya, menatap sosok wanita yang ada di hadapannya yang sedang menangis. Firman mengangkat tangannya, lalu mengusap air matanya.

“Jangan bersedih sayang. Aku ada di sini,” ucap Firman.

“Tadi kamu kenapa mas ? Kenapa tiba-tiba kamu terhempas oleh ombak, dan minta tolong ? Aku takut terjadi apa-apa dengan kamu mas. Untung Daeng dapat menyelamatkanmu,” tutur Putri.

“Waktu saya mengejar mu, tiba-tiba kaki saya kram, dan tak dapat digerakan lagi Put,” jawab Firman.

“Untung saja tadi saya mendengarkan teriakan Putri. Coba kalau terlambat sedikit saja, pasti kamu sudah...” Sambung Daeng.

“Jangan berkata begitu Daeng. Orang baru sadar kok sudah kamu candain, hehehe...” Timpal Putri.

“Mana Neng Lilis Bah ? Kenapa nggak ada di sini ?” tanya Firman.

“Dia ada di kamar, nak. Dia sedang menangis,” jawab Mang Ujang.

“Kenapa dia menangis bah ? Memangnya ada apa dengan dia ?” Firman balik bertanya.

“Tadi dia ada di sini mas. Setelah kamu sadar, kamu memanggil namaku, dia langsung pergi sambil menangis. Kayaknya dia cemburu sama aku mas,” bisik Putri.

“Maaf Nak Firman. Bukannya abah mau mencampuri urusan kalian berdua. Memangnya ada hubungan apa diantara kalian ? Abah lihat kalian tidak seperti teman biasa. Kalau boleh tahu, siapakah Nak Putri ini ? Apakah dia istri kamu Nak Tirta ?” tanya Mang Ujang.

“Nama lengkap dia adalah Ni Made Putri Astuti bah. Dia adalah kekasih saya sejak masih sekolah dulu. Karena kami beda keyakinan, akhirnya kami pun memutuskan untuk berpisah. Tapi ternyata kami benar-benar tak dapat melupakannya,” jawab Firman.

“Itu artinya kalian masih saling mencintai ? Terus bagaimana nasib Neng Lilis ?” tanya Mang Ujang.

“Maafkan saya bah. Saya juga bingung,” jawab Firman.

“Udah bah udah. Nak Tirta jangan di tekan seperti itu. Kasihan dia. Dia tak tahu apa-apa soal ini. Kitalah yang telah menjodohkan mereka. Pedahal kita belum tahu tentang masa lalu Nak Tirta,” sahut Bu Ujang.

“Maaf kan Tirta ya mak. Gara-gara saya, Neng Lilis jadi sedih seperti ini,” ucap Firman bingung.

Sejak Lilis tahu Tirta atau Firman telah memiliki seorang kekasih, Lilis terlihat sangat sedih. Ia juga selalu mengurung diri di dalam kamar. Begitu juga dengan Putri. Sebagai perempuan, dia bisa merasakan apa yang dirasakan Lilis.

“Maafkan Teteh ya, Neng. Gara-gara Teteh, Neng sedih seperti ini,” ujar Putri.

“Neng yang seharusnya minta maaf sama Teteh. Karena Neng sudah berani mencintai Kang Tirta. Andaikan Neng tahu kalau Kang Tirta sudah punya kekasih, tentu Neng tak kan pernah jatuh cinta kepadanya,” jawab Lilis.

“Kita sama-sama mencintai orang yang sama neng. Biarkan dia yang akan memutuskannya. Dia mau memilih Teteh, atau Neng, terserah Mas Firman,” ujar Putri sambil memeluk gadis itu.

“Justru saya yang seharusnya minta maaf kepada kalian berdua. Andaikan saja saya tidak selamat saat Tsunami tersebut, mungkin saya tidak akan pernah menyakiti kalian,: sahut Firman sambil menitikan air mata.

“Jangan berkata begitu kang. Neng jadi sedih mendengarnya. Neng tak pernah menyesal ketemu sama akang. Selama ini akang sangat baik sama neng,” timpal Lilis.

“Apa yang dikatakan Lilis itu benar mas. Kamu jangan pernah menyesali diri sendiri. Karena semua itu sudah kehendak Sang Dewata Agung,” ujar Putri.

“Tapi gara-gara saya, kalian menjadi sedih seperti ini. Mungkin lebih baik jika saya tidak ada di dunia ini,” timpal Firman.

“Tidak kang. Tidak ! Jangan berkata seperti itu lagi,” sahut Lilis dengan nada sedih.

“Neng Lilis benar mas. Bukan hanya dia yang akan sedih jika Mas Firman tiada. Tapi aku juga akan sedih. Apakah Mas Firman tahu, selama ini aku selalu dihantui oleh perasaan bersalah kepada Mas Firman. Sampai-sampai jiwaku terguncang, dan seperti orang gila, saat tahu Mas Firman telah meninggal kala itu. Ditambah lagi sekarang ini suamiku telah meninggal dunia. Apakah Mas Firman tega meninggalkan ku seorang diri” tanya Putri.

“Mendengar ceritamu neng jadi sangat sedih Teh,” sahut Lilis sambil menitikan air mata.

“Sekarang aku telah menemukan Mas Firman lagi. Hanya Mas Firmanlah satu-satunya orang yang membuatku semangat dalam menjalani hidup ini. Sekarang aku tak kan pernah lagi melepaskan Mas Firman,” ujar Putri.

“Saya mengerti Put. Tapi bagaimana dengan neng Lilis ? Saya bingung dihadapkan oleh dua pilihan yang kedua-duanya sangat sulit untuk saya putuskan,” jawab Firman.

“Biarkan neng saja yang mengalah kang. Neng ihlas jika akang menikah dengan Teh Putri,” sahut Lilis sambil berlinang air mata.

“Maaf saya tidak bisa memilih diantara kalian. Saya tidak mau orang yang saya cintai ini hatinya terluka. Biarlah saya menjalani takdir ini tanpa kalian,” jawab Firman lagi.

“Jangan berkata begitu mas. Selama ini kamu sudah sangat menderita. Andaikan Neng Lilis mau menjadi maduku, aku rela mas,” ujar Putri.

“Demi akang, neng rela Teh. Neng mau menjadi istri ke dua akang,” jawab Lilis.

“Bagaimana mungkin saya bisa menikah denganmu Put ? Sementara keyakinan kita berbeda,” jawab Firman.

“Hari ini juga aku akan bersyahadat mas. Aku akan memeluk agama yang Mas Firman anut,” ujar Putri.

“Apakah saya tidak salah dengar Put ? Saya tidak mau kamu memeluk islam karena terpaksa,” jawab Firman tak percaya.

“Aku mau memeluk islam bukan karena paksaan mas. Karena sejak lama, aku sudah punya niat untuk menjadi seorang muslimah. Hari ini jadi menikah ataupun tidak dengan Mas Firman, aku tetap akan bersyahadat mas,” terang Putri.

“Tolong pertimbangkan lagi masak-masak Put. Saya tidak kamu masuk islam karena gara-gara saya,” ujar Firman.

“Tidak mas. Tekadku sudah bulat,” timpal Putri.

“Terima kasih ya Allah. Akhirnya Engkau telah mengabulkan do’aku ini. Jadikanlah ia seorang muslimah yang taat, aamiin,” ujar Firman merasa bersyukur.

“Terus bagaimana menurutmu neng. Apakah kamu siap bersama Teteh menikah dengan Mas Firm ?” tanya Putri.

“Ya Teh. Neng bersedia menikah dengan Kang Tirta. Neng mau jadi madu Teteh,” jawab Lilis sambil memeluk Putri.

“Tidak ! Emak tidak setuju jika kamu dimadu neng !” ujar iastri Mang Ujang yang tiba-tiba sudah berada di tengah-tengah mereka.

“Tapi neng sudah terlanjur sayang sama Kang Tirta mak. Kenapa emak malah tidak setuju ?” tanya Lilis.

“Bukannya emak tidak setuju kamu menikah dengan Nak Tirta. Tapi Emak tidak setuju kalau kamu dimadu,” ujar perempuan tua itu.

“Emak setuju ataupun tidak, neng akan tetap menikah dengan Kang Tirta,” jawab Lilis dengan nada tinggi.

“Jika kamu tetap nekad untuk dimadu, sekarang juga pergi dari rumah ini. Emak malu punya anak yang tidak bisa diatur,” ujar istri Mang Ujang, lalu pergi meninggalkan Lilis.

“Mak..., Mak...” teriak Lilis, lalu mengejar ibunya diikuti Firman dan Putri.

“Ada apa Nyai ? Kenapa kalian ribut-ribut ?” tanya Mang Ujang.

“Maafkan saya bah. Semua ini gara-gara saya, sehingga emak menjadi marah,” jawab Tirta.

“Selama ini abah tidak pernah melihat emak mu semarah itu. Memangnya ada apa Nak Tirta ?” tanya Mang Ujang lagi.

“Tadi kami bermusyawarah, dengan Putri dan Neng Lilis. Keduanya telah sepakat untuk saya nikahi bah,” jawab Firman.

“Apa ? Nak Tirta akan menikahi mereka sekaligus ?” tanya Mang Ujang dengan nada tinggi.

“Ya bah,” jawab Firman.

“Kamu jangan gila Tirta ! Kamu harus memilih salah satu dari mereka. Abah juga tidak rela anak abah dimadu. Apakah kamu bisa bersikap adil ?” tanya Mang Ujang.

“Saya akan mencobanya bah,” jawab Firman.

“Kalau urusan menikah, tidak boleh pakai coba-coba Tirta. Mereka bukanlah sepatu yang bisa kamu coba sesuka hati. Ingat itu Nak Tirta,” timpal Mang Ujang lalu pergi ke ruang tamu dengan wajah tertunduk lesu. Sementara Lilis masih merayu ibunya untuk memintanya restu.

“Neng mohon kepada emak. Tolong restui neng untuk menikah dengan Kang Tirta mak,” bujuk Lilis.

“Emak akan merestui pernikahan kalian jika kamu tidak dimadu neng,” jawab Bu Ujang sedih.

“Tapi Kang Tirta tidak akan memilih salah satu diantara kami mak. Karena Kang Tirta tidak mau melihat kami menjadi sedih,” terang Lilis.

“Udah neng, udah. Jangan paksa emak lagi. Emak tidak mau melihat kamu hidup menderita neng,” ujar Bu Ujang sambil memeluk Putrinya.

“ Kang Tirta orang baik, mak. Neng yakin Kang Tirta akan berbuat adil.”

“Emak percaya, dia anak yang baik. Tapi apakah kamu tidak akan cemburu, jika nanti kamu melihat akang mu sedang berdua-duaan dengan Nak Putri. Ingat nak, Siti Sarah saja yang merupakan istri pertama Nabi Ibrahim, hatinya mendidih ketika melihat Siti Hajar sedang berduaan dengan Nabi Ibrahim. Sampai-sampai telur yang digenggamnya menjadi matang. Emak tidak mau melihat kamu seperti itu neng. Apa lagi kamu hanyalah seorang gadis kampung. Apakah kamu sanggup,” tanya Bu Ujang sambil menangis.

“Neng sudah siap segala resikonya mak. Jika emak tidak ingin melihat neng sedih, maka restui pernikahan kami mak,” ujar Lilis mengiba kepada ibunya.

“Kalau sudah begini, emak tak bisa mencegahmu neng. Emak merestui kalian,” jawab Bu Ujang hatinya luluh sambil bercucuran air mata.

“Terima kasih atas restunya mak,” jawab Lilis Lirih.

Setelah itu keduanya menemui Mang Ujang untuk membujuknya. Perempuan tua itu merasa bingung dari mana mulai bicara kepada suaminya. Ia menghelai napas panjang, menatap suaminya dengan rasa cemas. Berulang kali ia menatap suaminya, namun Mang Ujang masih saja tenggelam dalam lamunannya.

Menurut Bu Ujang sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk mengajaknya bicara. Dengan berjalan jinjit, perempuan itu membalikan badannya, bergegas meninggalkan suaminya. Namun langkahnya mendadak terhenti, mendengar Mang Ujang memintanya untuk duduk.

“Duduklah Nyai, jika ada sesuatu yang ingin kamu katakan, katakanlah,” ujar Mang Ujang pelan

Bu Ujang membalikan badannya, lalu duduk di kursi diikuti Lilis. Ia menatap suaminya yang masih diam termangu sambil menundukan kepalanya. Bu Ujang dan Lilis, belum berani membuka obrolannya. Beberapa saat kemudian Mang Ujang mengangkat wajahnya, memandang anak dan istrinya. Bu Ujang dan Lilis kini giliran menundukan kepala, tak berani menatap laki-laki yang ada di hadapannya.

Laki-laki karismatik itu membuat bibir keduanya keluh bagaikan terkunci. Sambil tersenyum Mang Ujang memandang anak dan istrinya. Lalu menyapanya dengan lembut.

“Jika Nyai sudah merestui Lilis untuk menikah dengan Nak Firmn, abah juga akan merestui,” ujar Mang Ujang.

“Benarkah itu bah ? Terima kasih ya bah,” jawab Lilis, lalu mendekatinya dan memeluk Mang Ujang, sambil menangis.

“Terima kasih bah, terima kasih,” ujar Lilis lagi.

“Nak Tirta, Nak Putri ke sini nak,” seru Mang Ujang.

“Ya bah,” jawab Tirta, dan Putri lalu duduk di sebelah Lilis.

“Abah juga merestui hubungan kalian berdua. Abah titip Neng Lilis, Nak Putri. Jangan anggap dia sebagai madumu. Anggaplah dia seperti adikmu sendiri. Dengn demikian, insya Allah kalian akan selalu rukun,” ujar Mang Ujang.

“Ya bah terima kasih. Saya akan selalu mengingat pesan abah. Do’akan agar kami selalu hidup bahagia,” jawab Putri sambil tersenyum.

“ Abah akan selalu mendo’akan kalian semua. Anggaplah kami ini orang tua kamu sendiri. Seperti Nak Tirta yang telah menganggap kami selama ini seperti orang tuanya,” ujar Mang Ujang.

“Baik bah, terima kasih. Sini neng, dekat teteh duduknya, ujar Putri sambil tersenyum.

Tanpa dikomando lagi, Lilis mendekati Putri, lalu memeluknya. Kedua perempuan cantik itu terlihat menitikan air mata. Membuat mata yang memandangnya, merasa iba.

“Abah, Emak, terima kasih atas restu yang kalian berikan kepada kami. Jika abah dan Emak mengizinkan, kami akan segera menikahi Putri, dan Neng Lilis. Untuk Neng Lilis, akang ucapkan banyak terima kasih, dan akang minta maaf jika akang telah mengecewakan neng,” ujar Firman.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan kang. Neng ihlas menjadi istri akang,” jawab Lilis sambil tersenyum.

“Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada kamu Put. Saya minta maaf jika selama ini saya banyak salah,” ujar Firman.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan mas. Dari dulu sampai sekarang, kamu adalah Firman yang selalu aku banggakan. Lemah lembut dan sangat perhatian. Tolong bimbing saya untuk menjadi seorang muslimah yang baik mas. Tolong juga ajari Teteh ya neng,” ujar Putri.

“Ya Teh. Nanti kita sama-sama belajar ya. Untuk masalah bimbing membimbing, itu tugas Kang Tirta Teh, hehehe...” Ujar Lilis, berseloroh.

“Kamu bisa aja neng, hehehe...” jawab Putri.

“Terus kapan kamu akan bersahadat Put ?” tanya Firman.

“Lebih baik sekarang saja mas. Mumpung banyak yang menyaksikannya,” jawab Putri.

“Kalau begitu biar Abah saja yang membimbingnya ya Put,” usul Firman.

“Bukannya Abah menolak Nak Tirta. Tapi ini adalah tugas pertama kamu sebagai calon seorang imam. Jadi Nak Tirta saja yang membimbingnya,” kialah Mang Ujang.

“Ya bah, nggak apa-apa. Sekarang kamu ikuti saya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat ya Put. Ashadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna Muhammadar rasuulullah,” ujar Firman.

“Ashadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna Muhammadar rasuulullah,” jawab Putri, mengikuti Firman.

“Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad Adalah utusan Allah,” ujar Firman lagi membimbing Putri.

“Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad Adalah utusan Allah,” pungkas Putri.

“Alhamdulillah, sekarang kamu sudah menjadi seorang muslimah Put. Mulai sekarang kamu sudah punya kewajiban menutup aurat, dan menunaikan shalat lima waktu,” terang Firma.

“Ya mas. Tolong bimbing saya ya mas,” ujar Putri.

“Teh Putri, ini jilbabnya untuk Teteh. Biar neng saja yang memakekan,” sahut Lilis, lalu mengenakannya ke Putri.

“Terima kasih ya neng. Kamu baik sekali sama Teteh,” ujar Putri lalu memeluk dan mencium calon madunya itu.

“Jika Abah melihat kalian akrab seperti ini, Abah jadi senang. Mudah-mudahan kalian akan selalu rukun dan saling menyayangi antara satu dengan yang lainnya,” ujar Mang Ujang.

“Saya percaya mereka akan selalu seperti ini bah. Sejak kecil Putri memiliki pripadi yang penyayang. Apa lagi Neng Lilis juga sangat baik sekali. Tentu mereka akan saling menyayangi seperti antara adek dan kakak. Bukan begitu Put ?” timpal Firman.

“Ah Mas Firman terlalu menyanjung bah. Awas nanti malah saya terbang loh, hehehe...” Seloroh Putri.

“Ya Teh. Kang Tirta memang pandai menyenangkan hati orang. Makanya Neng Lilis dibuat klepek-klepek sama Kang Tirta, hehehe...” Timpal Lilis.

“Terus bagaimana rencana pernikahan kalian ? Kapan akan dilaksanakannya ?” tanya Bu Ujang.

“Kalau saya sih lebih cepat, lebih baik mak. Tapi saya juga perlu bertanya dahulu kepada dua bidadari cantik ini,” jawab Firman.

“Kalau saya ikut apa kata Teteh aja kang,” timpal Lilis, tersipu malu.

“Loh kok apa kata Teteh neng. Kamu juga punya hak yang sama untuk menentukan pernikahan kita, neng. Apakah kita mau menikah secara bersamaan saja ? Ataukah mau satu-satu dulu ?” tanya Putri.

“Kalau menurut neng sih, sebaiknya Teteh dulu yang menikah dengan akang. Setelah itu baru Neng Lilis menyusul,” ujar Lilis.

“Kalau begitu kita nikahnya samaan aja neng. Biar abdol, hehehe...” Jawab Putri.

“Kalau begitu Neng ikut aja Teh,” timpal Lilis sambil tersenyum.

“Baiklah kalau begitu neng. Teteh mau minta restu dulu sama orang tua Teteh,” ujar Putri.

“Bagaimana kalau mereka tidak memberi restu Put ? Apa lagi kalau mereka tahu kamu sudah pindah agama ? Pasti mereka akan marah besar,” ujar Firman.

“Apa pun resikonya akan aku hadapi mas,” jawab Putri.

“Kalau begitu saya akan mengantarmu pulang Put,” ujar Firman lagi.

“Tidak usah mas. Biarkan aku pulang sendirian aja. Kalau Mas Firman ikut, aku takut akan terjadi apa-apa dengan Mas Firman,” jawab Putri.

“Tidak Put. Saya akan tetap ikut kamu. Sekarang kamu sudah menjadi tanggungjawabku untuk menjagamu. Biarkan saya ikut, ya,” ujar Firman.

“Kalau begitu neng juga ukut Teh,” sahut Lilis.

“Jangan sayang. Kamu tunggu saja di sini ya. Setelah semuanya selesai, kami akan segera pulang,” timpal Putri.

“Tapi, teh...”

“Tidak ada tapi-tapian neng. Kali ini kamu harus mendengarkan apa kata Teteh ya,” ujar Putri.

“Ya Teh,” jawab Lilis lalu memeluk Putri.

Kedua wanita cantik itu saling berpelukan, dan terlihat saling menguatkan antara yang satu dengan yang lainnya. Keesokan harinya Putri, ditemani Firman, terbang ke Pulau Dewata, untuk memohon restu kepada kedua orang tuanya.

Pagi itu, matahari telah condong ke barat. Di depan halaman rumah, terlihat seorang laki-laki berambut putih, sedang memandikan ayam bangkok kesayangannya. Ia tak sadar di hadapannya sudah berdiri wanita cantik berhijab putih, dan seorang pemuda tampan, sedang memandangnya. Mereka adalah Putri dan Firman, sudah sampai ke rumah orang tua Putri. Kemudian mereka mendekatinya, dan Putri memanggil ayahnya.

“Ayah..., ayah...” Sapa Putri.

Laki-laki tua itu memandang Putri penuh tanda tanya. Antara percaya dan tidak. Benarkah yang ada dihadapannya itu adalah Ni Made Putri Astuti ? Kalau itu adalah Putri, mengapa dia mengenakan hijab seperti seorang muslimah ? Pak Wayan mengucek, ngucek matanya, memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.

“Ayah, ini aku Ni Made Putri Astuti, anak mu, Yah,” ujar Putri.

“Apakah ayah tidak salah lihat ? Kenapa kamu mengenakan hijab Put ? Apakah kamu telah meninggalkan ajaran nenek moyang kita ? Ayo jawab !” bentak Pak Wayan.

“Maafkan Putri, Yah. Benar sekarang ini Putri sudah pindah keyakinan,” jawab Putri sambil gemetar.

“Apa !” Apakah benar yang kamu ucapkan itu Put ! Siapa laki-laki itu ? Apakah dia yang telah mempengaruhimu ?! “ bentak Pak Wayan.

“Tidak, Yah. Putri memeluk islam atas kemauan Putri sendiri,” jawab Putri.

Pak Wayan berdiri, dan berjalan mendekati mereka, dengan mata melotot, penuh amarah. Kedua tangannya dikepalkan.

“Siapa kamu ini ? Kenapa kamu berani sekali mempengaruhi anak saya untuk pindah agama, ha !” Bentak Pak Wayan lalu berusaha menampar Firman. Untung saja Putri menghalang-halanginya, sehingga Pak Wayan mengurungkan niatnya.

“Jangan tampar dia, Yah. Tampar Putri aja Yah. Dia tidak bersalah sama sekali. Putri pindah agama bukan karena siapa-siapa, Yah. Tapi atas kemauan Putri sendiri. Sebenarnya sudah lama sekali, saya ingin memeluk islam. Baru kali inilah saya memberanikan diri,” jawab Putri.

“Terus siapa laki-laki itu ? Kenapa dia berani sekali datang ke sini ?” bentak Pak Waya

“Apakah ayah tidak mengenalnya ? Dia adalah Mas Firman, Yah. Teman sekolah Putri dulu,” jawab Putri.

“Bukankah dia sudah mati saat terjadi Tsunami ? Kamu jangan bohongi Ayah, Put !” bentak laki-laki karismatik itu.

“Benar Yah. Mas firman memang menjadi korban Tsunami Selat Sunda,” jawab Putri lagi.

“Lalu kenapa kamu bilang kalau laki-laki itu adalah Firman ? Apakah setelah kamu masuk islam, kamu menjadi tidak waras, ha ?” ujar Pak Wayan.

“Benar Pak. Saya adalah Firman. Alhamdulillah saat terjadi musibah itu saya ada yang menyelamatkan,” jawab Firman.

“Ya Jagad Dewa Batara, benarkah kamu ini adalah Nak Firman ?” tanya Pak Wayan.

“Benar Pak. Saya Firman,” ujar Firman.

Laki-laki paruhbaya itu menjadi luluh di hadapan pemuda yang sangat dikenalnya waktu masih kecil. Kemudian Pak Wayan mengajaknya masuk.

“Maafkan bapak Ya Nak. Sekarang ayo masuk. Putri, ajak Firman masuk,” ujar Pak Wayan.

“Ayo masuk mas. Oh ya di mana ibu Yah ?’ tanya Putri.

“Ibumu ada di kamar. Dia sedang sakit,” jawab Pak Wayan.

“Ibu sakit apa Yah ?” tanya Putri lagi.

“Sejak kamu pergi dari rumah dan tidak bilang-bilang, ibumu sangat menghawatirkanmu. Sampai akhirnya ibumu sakit,” terang Pak Wayan.

“Ibu..., Ibu... Ini Putri Bu,” ujar Putri menemui ibunya.

“Kamu dari mana saja Nak,” ujar Bu Wayan lalu memeluk Putrinya.

Sementara di ruang tamu, Pak Wayan masih mengintrogasi Firman tentang pindahnya Putri ke agama islam.

“Maaf ya, Nak. Apakah benar yang dikatakan Putri Tadi ? Kalau Nak Firman tidak mempengaruhi dia untuk pindah agama ?” tanya Pak Wayan.

“Tidak Pak. Saya tidak pernah mempengaruhi dia untuk pindah ke agama saya. Karena dalam islam tidak ada paksaan bagi pemeluknya,” jawab Firman.

“Sekarang Bapak Percaya Nak, kalau Putri masuk islam atas kemauan dia sendiri. Oh ya, Nak Firman, apakah Nak Firman sudah menikah ?” tanya Pak Wayan lagi.

“Saya belum pernah menikah Pak,” jawab Firman.

“Kenapa Nak Firman tidak mau menikah ?” tanya Pak Wayan lagi.

“Karena saya tidak bisa melupakan Putri Pak. Sejak saya tahu Putri sudah menikah, saya memutuskan untuk hidup melajang, Pak,” jawab Firman.

“Kenapa begitu Nak Firman ? Bukankah dalam ajaran agama Nak Firman, jika tidak mengikuti sunah nabinya, dia tidak akan diakui sebagai umatnya ?” tanya Pak Wayan lagi

“Memang benar Pak. Saya sudah berusaha membukakan hati untuk gadis lain. Tapi ternyata saya nggak bisa pak. Saya malah merasa sangat bersalah kepada Putri,” tutur Firman.

“Sampai sekarang apakah Nak Firman masih mencintai Putri ?” tanya Pak Wayan lagi.

“Benar Pak. Untuk itulah kami ke sini untuk meminta restu kepada Bapak dan Ibu,” ujar Firman, menundukan kepalanya.

“Bapak akan merestui kalian berdua Nak. Tolong titip Putri, ya,” jawab Pak Wayan.

“Ya Pak. Terima kasih atas restunya. Tapi maaf, saya juga ingin berterus terang kepada Bapak,” ujar Firman sedikit ragu.

“Memangnya ada apa Nak ? Kalau ada sesuatu yang mengganjal, katakan saja. Tidak usah ragu-ragu,” jawab Pak Wayan terlihat serius, sambil menatap Firman.

“Sekali lagi, saya minta maaf ya Pak,” ujar Firman, tak berani melanjutkan ucapannya.

Membuat laki-laki gagah yang ada di hadapannya terlihat semakin tegang. Sambil mengerutkan keningnya, ia mencoba menerka-nerka apa yang akan disampaikan oleh Firman. Demikian juga dengan Firman. Laki-laki polos, sedikit pemalu itu mendadak diam. Untuk sesaat suasana di ruang tamu itu menjadi hening, dan terasa sangat kaku.

Pak Wayan menarik napas panjang, lalu kembali menghembuskan napasnya perlahan-lahan, dibarengi dengan dehem.

“Ehm. Kenapa diam Nak Firman ? kalau ada suatu hal yang ingin Nak Firman katakan, katakan saja,” ujar Pak Wayan, terlihat semakin penasaran.

Mendengar ucapan Pak Wayan, Firman mengangkat wajahnya.dan berusaha memberanikan diri untuk mengutarakan maksudnya.

“Rencananya setelah menikahi Putri, saya juga akan menikahi gadis lain Pak.”

Daarrr...! Pak Wayan menggebrak meja sambil berdiri menatap tajam kepada Firman.

“Apa-apaan kamu Fir ! Lancang sekali kamu ! Saya tidak akan pernah merestui Putri, menikah dengan kamu. Baru saja kamu bilang tidak bisa menikahi gadis lain selain Putri. Belum apa-apa kamu sudah mengingkari ucapan kamu sendiri !” bentak Pak Wayan.

“Jangan marah-marah dulu, Yah. Mas Firman pasti punya alasan lain,” sahut Putri yang tiba-tiba keluar dari kamar bersama ibunya.

“Ya, Yah. Coba dengarkan penjelasan Nak Firman dulu. Ibu rasa Nak Firman punya alasan lain, mengapa dia berbuat seperti itu,” sahut Bu Wayan.

“Saya tidak mau mendengar alasan apa pun dari dia. Pokoknya saya tidak rela Putri diduakan oleh Firman, titik,” jawab Pak Wayan sambil mengepalkan tangannya, menahan marah.

“Tadi di dalam kamar, Putri sudah bercerita banyak denagn ibu tentang Nak Firman. Kata Putri, saat Nak Firman ditemukan oleh seorang Nelayan yang bernama Mang Ujang di tengah lautan, dia sedang lupa ingatan yah. Nak Firman mau menikahi gadis itu karena dia tidak ingat siapa dirinya yang sebenarnya,” tutur Bu Ujang.

“Sudah bu diam. Kamu jangan coba-coba membela Firman,” bentak Pak Wayan.

“Bukannya ibu mau membela Nak Firman, Yah. Tapi Ayah juga perlu tahu mengapa Nak Firman berbuat seperti itu. Nak Firman tidak bisa memilih salah satu diantara Putri dan Neng Lilis, Yah. Dia mau menikahi keduanya, itupun atas permintaan Putri. Bukan kemauan Nak Firman,” terang Bu Wayan.

“Saya semakin tidak mengerti jalan pikiran kamu Put. Apa pun alasannya, saya tetap tidak setuju kamu menikah dengan Firman. Jika kamu tetap memaksa untuk menikah dengan dia, kamu tidak akan saya anggap lagi sebagai anak,”tegas Pak Wayan dengan bibir gemetar.

“Ayah merestui atau pun tidak, saya akan tetap menikah dengan Mas Firman,” jawab Putri.

“Anak tidak tahu diuntung. Mulai sekarang kamu bukan anak saya lagi. Sekarang juga, keluar dari rumah ini ! Jangan pernah injak lagi rumah ini. Apa lagi sampai menemui cucu saya !” bentak Pak Wayan sangat marah.

“Tidak ayah. Mereka harus tetap ikut dengan ku,” jawab Putri sambil menangis.

“Tidak bisa !” bentak Pak Wayan lagi.

“Izinkan Putri menemui mereka, untuk terakhir kalinya, Yah,” bujuk Putri kepada ayahnya.

“Pokoknya tidak bisa ! Sekarang juga, silahkan kalian keluar dari rumah ini. Mulai hari ini saya tidak pernah punya anak yang bernama, Ni Made Putri Astuti. Pergi...! Pergi kalian !” bentak Pak Wayan.

“Udah jangan hiraukan ucapan ayahmu nak. Ayah berkata begitu karena masih marah. Lebih baik kamu pergi saja dulu. Ibu merestui pernikahan kalian berdua. Nak Firman, tolong ibu titip Putri, ya,” ujar Bu wayan, sambil memeluk Putri diiringi cucuran air mata.

“Saya berjanji akan menjaganya bu. Terima kasih atas restu yang ibu berikan,” jawab Firman.

“Sekarang pergilah kalian. Ibu akan mendo’akan semoga pernikahan kalian direstui oleh Sang Hyang Widi Wasa,” ujar Bu Wayan, mengiringi kepergian mereka dengan isak tangisan.

Sore itu, Putri dan Firman terbang ke Lampung, dan dan menuju ke rumah Mang Ujang. Kedatangan mereka disambut Lilis dengan suka cita.

“Teteh dan Kang Tirta sudah pulang. Kenapa pulangnya cepat sekali Teh. Apakah kalian sudah mendapat restu dari ayah dan ibu ?” tanya Lilis polos.

“Sudah neng. Tapi mereka tidak bisa ikut ke sini. Karena ada kesibukan yang tidak bisa mereka tinggalkan. Insya Allah suatu ketika mereka akan menjenguk kami di sini. Oh ya Neng. Ngomong-ngomong, ana Abah dan Emak ?” Putri balik bertanya, mengalihkan pembicaraan.

“Ada Teh. Abah jeng Emak sedang ada di belakang rumah. Nanti neng panggilkan. Sekarang Teteh dan Kang Tirta istirahat dulu saja. Biarkan Neng Siapkan teh hangat untuk Teteh dan Kang Firman,” ujar Lilis, lalu pergi ke dapur.

Sedangkan Putri dan Tirta, duduk di ruang tamu, sambil meluruskan kakinya yang terasa pegal. Tak lama kemudian Mang Ujang dan istrinya menghampiri mereka.

“Eleh, eleh. Kalian sudah pulang nak. Apa kabar kedua orang tuamu di sana ? Apakah baik-baik saja ?” tanya Mang Ujang sambil menyalimi mereka.

“Alhamdulillah baik Bah. Ayah dan ibu juga, nitip salam untuk Abah dan Emak,” jawab Putri.

“Syukurlah kalau begitu,” sahut Bu Ujang.

“Silahkan diminum tehnya, Teh, Kang Tirta,” ujar Lilis sambil menyodorkan tehnya, lalu duduk di samping Putri.

“Bagaimana Nak Putri ? Apakah Ayah dan Ibumu sudah memberikan restu ?” tanya Mang Ujang lagi.

“Sudah Bah. Mereka sudah merestui pernikahan kami,” jawab Putri, lembut.

“Wah, wah. Kalau begitu pernikahannya jangan ditunda-tunda lagi. Bagaimana kalau minggu depan kalian menikah ?” usul Bu Ujang sambil melirik ke Firman.

“Saya setuju Mak. Minggu depan bukan hanya kami yang akan menikah Mak. Tapi Neng Lilis yang cantik ini juga akan menikah,” ujar Putri tersenyum, sambil mengusap pipi calon madunya.

“Biar Teteh saja yang duluan menikah. Setelah itu baru Neng,” jawab Lilis polos.

“Tidak apa-apa Neng. Kita nikahnya bareng saja. Teteh ingin kebahagiaan ini milik kita semua. Apakah Mas Firman setuju ?” tanya Putri, sambil melempar senyum kepada Firman.

“Kalau itu sudah menjadi keputusan kalian berdua, rasanya tidak ada alasan lagi bagi saya untuk menolaknya. Bukan begitu Bah ?” Firman melempar pertanyaannya kepada Mang Ujang.

“Sebagai orang tua, Abah sih setuju-setuju aja. Ya kan, Nyai ?” tanya Mang Ujang kepada istrinya.

“Ya Bah. Kita sih setuju aja,” jawab Bu Ujang, sambil merangkul Putri dan Lilis penuh kehangatan.

Setelah mencapai kata sepakat tentang pelaksanaan pernikaahn Firman dengan Putri dan Lilis, Mang Ujang dan istrinya meminta Putri dan Firman untuk beristirahat.

“Alhamdulillh obrolan tentang pernikahan kalian telah mencapai kata mufakat. Sekarang Nak Putri dan Nak Firman silahkan beristirahat dulu ya. Kasihan baru pulang kok sudah diajak musyawarah, hehehe...” Ujar Mang Ujang dengan wajah semringah.

“Ya sana kalian istirahat dulu, Nak. Nanti malah kalian sakit loh setelah menempuh perjalanan jauh, hehehe...” Timpal Bu Ujang dengan wajah berseri-seri.

“Ya Mak, Bah. Teima kasih,” jawab keduanya kompak, lalu mereka pergi ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.

Sementara Lilis pergi ke dapur, untuk menyiapkan makan malamnya. Sedangkan Mang Ujang dan istrinya masih melanjutkan obrolannya di ruang tamu.

Tanpa terasa waktu telah bergulir begitu cepat. Hari yang sangat dinanti-nanti bagi Firman, Putri dan Lilis telah tiba. Hari itu Firman mengucap janji suci di hadapan penghulu, menikahi dua perempuan cantik sebagai pendamping hidupnya.

Kisah cinta beda agama antara Firman dan Putri berakhir di pelaminan. Firman dan Putri telah dijemput oleh takdirnya sebagai pasangan suami istri yang syah, setelah sekian lama mereka dipisahkan oleh Dinding Tuhan yang menghimpit cintanya. Bahkan dari buah kesabarannya, Firman juga menikahi Lilis, gadis cantik berdarah Sunda yang selama ini dengan sabar merawat Firman hingga ingatannya kembali.

Hidup memang penuh misteri tak lepas dari rencana. Namun pada akhirnya Sang pemilik takdirlah yang akan menentukan segalanya. Jika takdir sudah berkehendak, siapa yang dapat merubahnya ? Karena jodoh, rezeki dan kematian adalah rahasia Allah Swt, Sang Pemilik takdir. Sebagai manusia kita hanya dapat menjalaninya, tak kuasa untuk menolaknya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post