Tumbal Pesugihan
Oleh : Riswo, S.E., M.Si.
Langkahnya penuh waspada. Ia berjalan mengendap-endap, menerobos di kegelapan malam. Sosok Berjubah Hitam itu terus melangkah. Sambil menenteng bungkusan hitam, memandang ke arah bangunan tua. Sorot matanya begitu tajam. Laksana mata seekor elang yang siap mencakar mangsanya. Sosok yang berpakaian serba hitam itu terus melangkahkan kakinya. Gerakannya sangat ringan, melayang mendekati bangunan tua.
Tiba-tiba, Sosok Berjubah Hitam itu menghentikan langkahnya, dan berdiri di dekat bangunan tua. Ikat hitam yang melilit di kepalanya, terurai melambai-lambai tertiup angin malam. Ia menarik napas panjang, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri mengamati di sekeliling bangunan tua. Mengisyaratkan bahwa Sosok Berjubah Hitam itu tidak ingin ada orang yang melihatnya.
“Saya yakin, tidak ada orang yang melihatnya. Apa lagi malam ini sangat dingin dan sepi sekali. Tapi saya harus tetap waspada. Jangan sampai ada orang yang melihat. Sekarang saya harus cepat pergi dari tempat ini. Sebelum dilihat orang.” Gumam Sosok Berjubah Hitam itu.
Kemudian Ia melangkahkan kakinya, lalu menarik napas dalam-dalam. Lubang hidungnya menyempit, menyedot udara masuk ke dalam rongga dadanya. Perutnya mengempes menarik napas, lalu menahannya sesaat. Beberapa saat kemudian dikeluarkannya perlahan. Perutnya kembali mengembang. Lubang hidungnya mekar. Bibirnya monyong ke depan. Melepaskan udara dari mulutnya.
Rasa dingin merambat ke seluruh tubuh Sosok Berjubah Hitam itu. Telapak tangannya mulai memucat. Jari-jemarinya mulai mengkerut. Menahan rasa dingin. Ia segera menyelipkan buntalan hitam yang dibawanya, pada ketiak sebelah kanan. Lalu menggosok-gosokan kedua telapak tangannya, dan mengusap-usap mukanya. Mencoba mengusir rasa dingin yang menggerogoti tulang sumsumnya.
Kini tubuh Sosok Berjubah Hitam itu sedikit terasa hangat. Tangan kirinya segera mengambil buntalan hitam yang terselip pada ketiak sebelah kanan. Lalu menyelempangkan kembali buntalan hitam itu pada pundaknya. Lalu Ia kembali berjalan mendekati bangunan tua, yang letaknya hanya beberapa langkah saja.
Sampai di depan bangunan tua, Sosok Berjubah Hitam itu memandang pintu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, penuh waspada. Pandangannya menyapu ke semua sudut, untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain yang melihatnya. Setelah dirasa aman, tangan kanannya meraih daun pintu. Lalu membuka pintu perlahan. Kreeekkk…, terdengar suara pintu. Kemudian Sosok Berjubah Hitam itu kembali menutupnya dari dalam.
Dari dalam ruangan terlihat sangat gelap sekali. Tidak ada sedikit pun cahaya. Sosok Berjubah Hitam itu berdiri di belakang pintu, mengamati sesaat. Tiba-tiba segerombolan nyamuk menyerang Sosok Berjubah Hitam itu. Sosok Berjubah Hitam itu reflek, mengibas-ngibaskan tangannya. Berusaha mengusir segerombolan nyamuk.
“Reseh amat sih, nyamuk-nyamuk ini !” Menggerutu sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Jidatnya yang tidak terlindungi oleh jubah hitam pun tidak luput dari serangan nyamuk. Seekor nyamuk berhasil menyelinap di jidatnya. Membuat Sosok Berjubah Hitam itu tambah geram. Ia mendaratkan telapak tangan kanannya pada jidatnya. Melibas nyamuk yang menempel di jidatnya. “Plek !” Menghantam tubuh nyamuk.
Nyamuk naas itu tewas seketika. Terjungkal sebelum mengisap darah Sosok Berjubah Hitam itu. Jempol dan jari telunjuk kanannya melumat tubuh nyamuk sampai hancur. Lalu Sosok Berjubah hitam itu reflek mencium jempol dan jari telunjuknya. Bau tak sedap menyerengat hidungnya. Membuat bibir Sosok Berjubah hitam itu sedikit nyengir kuda.
Untuk beberapa saat, Sosok Berjubah Hitam itu berdiri diam mematung. Tidak ada gerakan yang cukup berarti. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang Ia pikirkan. Pandangannya tertuju pada dinding bangunan tua. Ia melangkah ke depan dan meraba dinding itu. Diraihnya sebuah benda yang tergantung pada dinding. Benda itu bentuknya menyerupai sebuah tabung kecil, dan memiliki corong panjang berukuran kurang lebih sepuluh centi meter. Benda itu tidak lain dan tidak bukan ternyata sebuah lampu sentir.
Perlahan tangan kanan Sosok Berjubah Hitam itu, merogoh kantung celananya. Lalu mengeluarkan sebuah korek api. Dengan lincah jempol tangannya menggesek kepala korek api yang berbentuk roda kecil. Roda itu memercikan api dari ujung korek itu. Kemudian Sosok Berjubah Hitam itu menyalakan lampu sentir yang tergantung pada dinding tembok. Ruangan itu pun berubah menjadi terang. Sehingga Sosok Berjubah Hitam itu bisa melihat isi bangunan tua itu.
Samar-samar dari dalam gudang terlihat tumpukan batok kelapa untuk dibuat arang. Sementara tidak jauh dari tumpukan batok kelapa itu, terlihat sebuah ember berwarna hitam yang terisi air. Di atas air mengapung sebuah gayung berwarna biru. Tidak jauh dari ember, ada sebuah benda yang mirip gentong kecil. Gentong itu terbuat dari tanah liat berwarna merah genteng. Di dalamnya ada sisa-sisa arang.
Lalu Sosok Berjubah Hitam itu, membungkukan badannya dan menggeser batok kelapa serta sebuah gentong kecil. Batok kelapa itu segera dimasukan ke dalam gentong kecil itu. Tangan kanan Sosok berjubah Hitam itu meraih lampu sentir yang tergantung pada dinding tambok. Dengan gesit kedua tangannya menuangkan sedikit minyak tanah dari tabung lampu sentir ke dalam gentong kecil yang sudah dipenuhi batok kelapa. Setelah itu menggantungkan kembali lampu sentir itu pada dinding tembok.
Sosok Berjubah Hitam itu segera menyalakan batok kelapa yang berada di dalam gentong kecil. Seketika tumpukan batok kelapa itu dilalap Si Jago merah. Terdengar bunyi percikan api dari dalam gentong. Suasana di dalam gudang itu kini menjadi terang-benderang. Sosok Berjubah Hitam itu mengipasi api yang sedang menyala. Agar tidak habis dimakan api. Sekarang batok kelapa itu sudah berubah menjadi arang.
Dengan bercucuran keringat, Sosok Berjubah Hitam itu jongkok menghadap gentong kecil. Kedua tanganya segera meraih dan membuka bungkusan hitam. Dari dalam bungkusan hitam itu terlihat sebutir kemenyan dan satu kantung kresek yang berisi tujuh rupa warna bunga. Lalu Sosok Berjubah hitam itu mengambil air dari dalam ember. Kemudian menuangkannya ke dalam baskom yang sudah berisi tujuh rupa warna bunga.
Sosok Berjubah hitam itu lalu duduk bersilah menghadap gentong kecil yang berisi arang batok kelapa. Tangan kanannya mengambil butiran kemenyan. Mulutnya komat-kamit dan kedua jempol tangannya mencongkel-congkel butiran kemenyan itu dengan kukunya. Sedikit-demi sedikit kemenyan itu berubah menjadi butiran kecil-kecil. Butiran kemenyan itu ditaburkan ke dalam gentong kecil. Kepulan asap keluar dari gentong kecil. Bau kemenyan merangsak ke seluruh ruang bangunan tua itu. Lalu terbawa angin menerobos di sela-sela atap bangunan tua.
Sosok Berjubah Hitam itu mulutnya komat-kamit membaca mantra. Sesekali tangan kirinya mengaduk-aduk baskom yang berisi tujuh rupa warna bunga. Air pun berputar dan bersatu dengan tujuh rupa warna bunga, searah dengan jarum jam. Sehingga warna-warni bunga itu tidak terlihat dengan jelas. Hanya yang terlihat seperti gelombang air laut yang sedang kena sunami.
Sosok Berjubah Hitam itu lalu mendongak ke atas sambil mengangkat kedua tangannya. Lalu bergerak-gerak mirip penari kecak. Ia terus mengerakan tangannya sambil membaca sebuah mantra. “Duh hai Sang Raja Kegelapan ! Penguasa segala mahluk dari seberang lautan. Duh hai Mbah sugih ! Penguasa Gunung Kawi. Malam ini adalah waktu yang telah ku janjikan. Cucu mu memberikan sebuah persembahan kecil untukmu. Terimalah persembahan ku ini. Datanglah duhai Ratu kegelapan. Datanglah…. .”
Tidak lama kemudian terdengar suara angin topan yang menderu-nderu. Angin topan itu berputar-putar di atas atap bangunan tua. Disusul kilatan cahaya membelah bangunan tua. Tidak lama kemudian terdengar suara petir yang menyambar-nyambar. Disusul kekehan tawa seorang perempuan, mirip suara sundil bolong.
“Hihihi…,hihihihi…,hihihihi… .”
“Bagus, bagus. Kamu memang pengikutku yang paling setia cucu ku. Hihihi…. Teruslah melakukan persembahan kepadaku. Semua keinginan mu akan saya kabulkan. Hihihi…, hihihi…, hihihi… .” Suara itu semakin menggema di dalam bangunan tua itu. Lalu keluar gumpalan asap hitam dari sumber suara. Asap hitam itu berubah menjadi seorang nenek renta yang wajahnya berbalutkan kulit keriput.
Sorot matanya tajam berwarna merah. Badannya sedikit bongkok mengenakan pakaian serba hitam. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat berkepala naga. Sedangkan tangan kirinya dilipat ke belakang pinggang. Lalu nenek tua itu memandang ke arah Sosok Berjubah hitam itu sambil berkata, “Persembahanmu aku terima cucuku, aku tunggu persembahan mu berikutnya. Hihihihi… .”
“Terima kasih Mbah Sugih.” Sosok Berjubah Hitam itu berulang kali sujud di hadapan nenek tua itu, lalu melanjutkan proses ritualnya. Nenek renta itu mengangguk-angguk lalu melemparkan sebatang emas ke arah Sosok Berjubah Hitam itu. Kemudian menghilang dari hadapannya, sambil terkekeh-kekeh. Hihihi…,hihihi…,hihihi…”
Sosok Berjubah Hitam itu melanjutkan ritualnya. Mulutnya komat-kamit membaca mantra. Matanya terpejam sambil menggerak-gerakan kedua tangannya. Sementara hujan deras masih mengguyur bangunan tua itu. Kilatan cahaya menyambar-nyambar bangunan tua. Sosok Berjubah Hitam itu terus melakukan ritualnya. Tangan kanannya kembali menaburkan butiran kemenyan ke dalam gentong kecil. Tangan kirinya kembali mengaduk-aduk baskom yang berisi air dan tujuh rupa warna bunga.
Air berputar searah jarum jam, menyatu dengan bunga tujuh rupa. Sehingga air dalam baskom itu bergoncang hebat, mirip air laut yang sedang terkena sunami. Sosok Berjubah Hitam itu kembali mengangkat kedua tangannya dan menggerak-gerakannya. Menyerupai gerakan tari kecak. Mulutnya kembali komat-kamit membaca mantra. Suaranya terdengar tidak begitu jelas. Karena tersamarkan dengan suara hujan yang masih mengguyur bangunan tua itu.
Suara lolongan anjing terus terdengar. Mirip sebuah tangisan seorang gadis yang sedang dilanda kesedihan.
“Auwww… ,auwww… .” Menambah suasana di malam jum’at kliwon itu terasa menyeramkan.
Tanpa terasa malam semakin larut. Kilatan cahaya kembali membelah gudang tua itu. Diiringi gemercik hujan yang terus mengguyur bangunan tua itu. Membuat Sosok Berjubah Hitam itu tenggelam dalam ritualnya. Sehingga Ia tidak sadar ada sepasang mata sipit yang sedang mengintainya. Entah sudah berapa lama sepasang mata sipit itu mengintai Sosok Berjubah Hitam itu.
Kepala Si mata sipit itu ditutupi sarung bermotif kotak-kotak warna merah. Perawakannya yang gempal, tubuhnya yang pendek, mirip seperti ninja yang sedang mengintai lawannya. Si mata sipit itu terus mengintai kegiatan Sosok Berjubah Hitam, dari balik celah bangunan tua. Kedua matanya semakin menyipit sambil mengepalkan tangan kanannya menyangga badannya yang bersandar pada dinding tembok. Sedangkan tangan kirinya memegang sarung menutupi kepalanya.
Sambil menahan dinginnya hujan, Si mata sipit itu tak berkedip memandangi Sosok Berjubah Hitam. Ia berusaha mengenali wajahnya. Namun Sayang sekali, Sosok Berjubah Hitam itu duduknya membelakangi remaja belasan tahun itu. Sehingga wajahnya sama sekali tak dapat dilihatnya.
Hujan semakin deras mengguyur tubuh Si mata sipit. Sarung yang menutupi kepalanya tak mapu lagi melindungi tubuhnya dari derasnya hujan. Sehingga tubuh Si mata sipit itu telah basah kuyup. Badannya mulai menggigil kedinginan, giginya gemertak saling beradu. Membuat konsentrasinya menjadi buyar tak mampu lagi untuk melanjutkan intaiannya. Karena tubuhnya mulai limbung diserang oleh dinginnya hujan.
Waktu telah menunjukan tepat jam satu malam. Rintik hujan semakin deras. Suara angin mendayu-dayu saling bergesekan. Perlahan tubuh remaja yang baru menginjak usia belasan tahun itu berusaha melangkahkan kakinya meninggalkan bangunan tua. Namun kakinya terasa berat karena semutan. Ia berhenti sesaat lalu mengusap-usap kedua kakinya yang masih semutan.
Giginya saling beradu semakin cepat. Rasa dingin semakin menggerogoti tubuh Si mata sipit itu. Mengoyak-ngoyak tulang sumsunya. Membuat Si mata sipit itu tak mampu lagi untuk bertahan. Rasa takut semakin menghantui dirinya. Membayangkan wajah Mbah Sugih yang wajahnya berbalutkan kulit keriput. Badannya yang sedikit bongkok memegang sebuah tongkat berkepala naga. Kekehan tertawanya melengking mirip seperti suara sundil bolong. Membuat merinding bulu kudug Si mata sipit. Sehingga Ia harus menyudahi petualangannya di malam jum’at kliwon.
Sambil berjalan mengendap-endap Si mata sipit itu menyeret kakinya yang masih semutan. Remaja yang baru duduk di kelas tiga SMP itu segera meninggalkan bangunan tua. Rasa takut yang menyerang dirinya, membuatnya tidak bisa berjalan normal. Langkahnya menjadi lambat bagaikan mengangkat beban berat. Sehingga jalannya seperti berjalan di tempat.
Andi segera membuka pintu dapur lalu menutupnya kembali. Kemudian pergi ke kamar tidurnya mengambil sebuah handuk. Sambil menahan rasa dingin Ia pergi ke kamar mandi dan menggantungkan handuknya di balik pintu. Kemudian membuka sarung dan pakaian yang dikenakannya lalu memasukannya ke dalam ember. Badannya kembali menggigil. Giginya saling beradu cepat. Hingga terdengar gemertak suara gigi.
Andi menyambar handuk merah yang tergantung di balik pintu kamar mandi. Lalu melilitkannya ke pinggang. Kemudian pergi meninggalkan kamar mandi dan masuk ke kamarnya. Langkahnya lebih cepat dari sebelumnya. Karena kakinya sudah tidak lagi merasa semutan.
Andi membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali dari dalam. Pandangannya tertuju pada sebuah lemari yang terbuat dari kayu jati. Ia melangkahkan kakinya mendekati lemari kayu jati itu, dan memutar kunci membuka pintu lemari. Tangannya mengambil baju tidur warna telur asin lalu mengenakannya. Setelah itu menjatuhkan tubuhnya pada kasur yang dilapisi spray berwarna merah, lalu menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
Malam itu Andi susah tidur. Pikirannya mengembara pada peristiwa yang baru saja dilihatnya. Ia kembali terbayang pada Sosok Berjubah Hitam yang sedang melakukan ritual. Sosok Berjubah Hitam itu mulutnya komat-kamit membaca mantra. Sesekali tangan kirinya mengaduk-aduk baskom yang berisi tujuh rupa warna bunga. Air pun berputar dan bersatu dengan tujuh rupa warna bunga, searah dengan jarum jam. Sehingga warna-warni bunga itu tidak terlihat dengan jelas. Hanya yang terlihat seperti gelombang air laut yang sedang kena sunami.
Sosok Berjubah hitam itu tangan kanannya menaburkan butiran kemenyan ke dalam gentong kecil. Asap hitam mengepul memenuhi ruang bangunan tua. Menerobos keluar lewat celah atap. Tangan kirinya mengaduk-aduk bunga dan air yang berada dalam baskom. Tidak lama kemudian Andi membayangkan wajah Mbah Sugih yang wajahnya berbalutkan kulit keriput. Badannya yang sedikit bongkok memegang sebuah tongkat berkepala naga sambil terkekeh-kekeh seperti sundil bolong.
Andi tersadar dari lamunannya. Ia menarik napas dalam-dalam. Kemudian merubah posisi tidurnya miring ke kanan sambil memeluk bantal guling. Andi berusaha melupakan bayangan itu. Namun bayangan itu tak kunjung pergi dari pikirannya. Ia pun kembali merubah posisi tidurnya miring ke kiri. Lagi-lagi bayangan itu terus menghantuinya. Akhirnya Andi pun tidur tengkurep sambil membekap telinganya pakai bantal guling. Agar tidak mendengar suara kekehan perempuan tua yang selalu terngiang-ngiang di telinganya.
Ada seribu satu pertanyan muncul dalam pikiran Andi. Menerka-nerka, siapa sebenarnya Sosok Berjubah Hitam itu ?. Apakah Sosok Berjubah Hitam itu ada hubungannya dengan ayah angkatnya ?. Jika benar Sosok Berjubah Hitam itu adalah ayah angkatnya ?. Lalu untuk apa Ia melakukan semua itu ?. Lalu siapa nenek tua itu, dan ada hubungan apa dengan ayah angkatnya ?.
Teka-teki pertanyaan itu membuat Andi semakin pusing. Andi berpikir keras untuk mengungkap sebuah misteri yang belum bisa terpecahkan. Berulang kali Andi berusaha memecahkan misterius itu. Namun tetap saja tidak ada jawaban yang Andi temukan. Sampai-sampai Andi merasa lelah akhirnya Ia pun tertidur.
Malam itu Andi tidur pulas dan baru bangun di pagi hari. Andi merasa baru bangun dari mimpi buruknya. Badannya terasa lelah dan terasa pegal-pegal. Ia segera mengambil handuk warna merah yang tergantung di balik pintu kamarnya, lalu pergi ke kamar mandi. Kemudian melepaskan baju tidurnya dan memasukannya ke dalam ember. Namun tiba-tiba Andi menghentikan niatnya. Melihat sebuah pemandangan yang sangat mencengangkan. Melihat pakaian yang dikenakannya dalam mimpi, ada dalam ember pencucian.
Andi tak percaya pakaian yang dikenakan dalam mimpinya ada di dalam ember. Untuk meyakinkan, Andi mengambil sarung dan baju yang ada di dalam ember. Kedua tangannya meremas-remas isi ember tersebut. “Benar ! Sarung dan pakaian ini benar -basah.”
“Ya Allah ! Apa sebenarnya yang telah terjadi ? Bukankah pakaian ini yang aku kenakan dalam mimpi ? Tapi mengapa pakaian ini benar-benar basah ?” Andi berusaha mengingat-ingat kejadian malam itu.
Andi mengangguk-angguk sambil berkata,“Ya, ya, ya. Aku masih ingat kejadian tadi malam. Tadi malam aku melihat ada Sosok Berjubah Hitam di bangunan tua itu. Sosok itu sedang melakukan ritual di sana. Dari dalam gudang tua, aku juga melihat ada seorang nenek-nenek yang dipanggil Mbah Sugih oleh Sosok Berjubah Hitam itu. Karena hujan deras sarung dan pakaian ku sampai basah kuyup begini.” Andi kembali memasukan sarung dan pakaian basah itu ke dalam ember.
“ Ya ya ya. Berarti tadi malam yang aku lihat itu adalah sungguhan ?” Andi tersadar bahwa yang dilihatnya tadi malam itu bukanlah sebuah mimpi. Tapi benar-benar itu adalah kejadian nyata.
“Ah, sudah lah ! Ngapain aku memikirkan sesuatu yang tidak penting.”
Tangannya meraih odol dan sikat gigi, lalu menggosok giginya dan melanjutkan mandi. Selesai mandi, Andi mengelap badannya dengan handuk merah, dan melilitkannya pada pinggangnya. Kemudian pergi ke kamar ganti. Sampai di kamar, pandangan Andi tertuju pada tumpukan baju di lemari kayu jati. Ia mengambil baju putih dan celana biru seragam sekolahnyanya. Setelah siap dengan seragam sekolahnya, Andi pergi ke ruang makan.
Di ruang makan sudah berkumpul kedua orang tua angkatnya yaitu Pak Ratno dan Bu Ratno. Begitu juga dengan kedua kakak angkatnya yaitu Siti Amanah dan Diah Astuti. Pak Ratno dan Bu Ratno adalah orang tua angkat Andi. Mereka sama sekali tidak memiliki keturunan. Sehingga Mereka mengangkat tiga orang anak angkat. Yaitu Siti Amanah, Diah Astuti dan Andi.
Siti Amanah, Diah Astuti dan Andi diangkat oleh Pak Ratno dan Bu Ratno sejak masih bayi. Ketiganya terlahir dari orang tua yang berbeda. Namun demikian hubungan ketiganya sudah seperti saudara kandung sendiri. Begitu juga dengan Pak Ratno dan Bu Ratno, mereka sudah menganggap ketiga anak angkatnya sudah seperti anak kandung sendiri.
Sementara Andi yang baru datang di ruang makan, segera menghampiri kakak dan orang tua angkatnya yang sudah duluan makan. Melihat Andi datang, mereka serentak menghentikan makannya. “Andi, sini nak ” Sapa Bu Ratno. Andi menggeser kursi kosong dan duduk di sebelah Bu Ratno. Kemudian mengambil nasi yang diberikan Bu Ratno lalu menyantapnya.
Diah Astuti melempar senyuman ke arah Andi sambil berkata, “Makan yang banyak ya dek. Awas nanti sakit perut loh kalau makannya sedikit. Seperti yang kemarin itu, hehehe….”
“Ya dek makan yang banyak ya, biar tambah endut. Kalau tambah endut kan enak nyubit pipinya, hehehe… .” Goda Siti Amanah.
“Ih ! Kak ini loh, nyebelin banget. Seneng ngeledek terus. Mentang-mentang badan ku gendut.”
“Kamu tidak gendut dek, cuma berbobot aja hehehe… .” Seloroh Diah Astuti.
Pak Ratno dan Bu ratno hanya mesem-mesem saja. Melihat tingkah laku ketiga anak angkatnya yang lucu-lucu. Sementara raut wajah Andi sedikit memerah. Dijadikan ledekan kedua kakak angkatnya.
Memang bentuk badan Andi gendut dan memiliki berat badan hampir tujuh puluh kilo gram. Sedangkan tinggi badannya tidak lebih dari satu meter empat puluh senti saja. Diusianya yang masih cukup muda ini, tentu berat badan Andi tergolong kurang ideal. Kulitnya yang putih dan bentuk mukanya yang tembem mirip bakpaw, membuat kedua kakak angkatnya senang mencubit pipi Andi. Karena Andi terlihat begitu menggemaskan.
Setelah sarapan, Andi berpamitan kepada kedua orang tua dan kakak angkatnya. “Ayah, ibu, kakak, aku berangkat dulu ya.”
“Ya hati-hati di jalan nak. Ini uang jajan kamu ya.” Bu Ratno memberikan uang jajan kepada Andi.
“Ya bu, terima kasih. Kak Siti, kak Diah, mana dong uang jajan ku ?”
“Kan sudah ibu kasih.” Kata Diah Astuti.
“Beda dong kak. Kak Siti dan kak Diah kan belum ngasih.” Canda Andi.
“Oh kamu mau lagi. Sini dek kakak kasih.” Siti Amanah berpura-pura merogoh kantung celananya. Dengan tidak menaro curiga Andi pun mendekati Siti Amanah dan Diah Astuti. Kemudian Andi mengulurkan tangan kanannya. Siti Amanah dan Diah Astuti mendekatkan tangan kanannya yang seolah-olah menggenggam uang. Tiba-tiba mereka serempak mencubit pipi Andi.
“Ih kakak ini jail banget. Bukannya ngasih uang malah nyubit pipi. Sakit tahu kak.” Sambil memegang pipinya, Andi berangkat ke sekolah dengan sepedah ontelnya. Lalu hilang di pertigaan jalan. Pak Ratno, Bu Ratno, Siti Amanah dan Diah Astuti mesem-mesem mengingat tingkah Andi yang lucu, lalu mereka melanjutkan aktivitasnya.
Seperti biasa Andi berangkat ke sekolah dengan sepedah ontelnya. Andi menghampiri satu-persatu teman sekolahnya yang kebetulan rumahnya searah dengan jalan yang Andi lalui. Rumah mereka terletak di desa yang berbeda. Dengan sepedah ontelnya, Andi berangkat ke sekolah. Maklum di desa itu hanya Andi saja yang melanjutkan sekolah. Sedangkan teman-teman SD Andi tidak melanjutkan sekolah. Karena faktor ekonomi.
Andi menghampiri teman sekolahnya yang berjumlah sepuluh orang. Mereka pun berangkat bersama dengan sepedah ontelnya. Selama di perjalanan, mereka saling bercengkeramah. Tanpa terasa sekolah yang jaraknya lebih dari sepuluh kilo meter, mereka tempuh tanpa merasa kelelahan. Pagi itu mereka ngobrol ngalor-ngidul. Hingga akhirnya mereka telah sampai di sekolah. Jarum jam baru menunjukan angka tujuh. Andi dan teman-temannya segera menyandarkan sepedah ontelnya ke tempat parkir. Lalu membaur dengan teman-temannya dan duduk di teras sekolah. Mereka bersenda gurau tertawa terbahak-bahak. Mendengar lelucon yang Andi ceritakan.
Kelompok remaja yang masih polos itu mengekspresikan gayanya masing-masing. Tanpa beban mereka bercerita tentang masa pubernya. Termasuk pengalaman pertamanya tentang cinta monyetnya. Sudar yang sedang memendam perasaan sama Indri dijadikan bahan perbincangan.
“Udahlah Dar, jangan kamu pendam perasaan mu itu. Nanti malah tumbuh jerawat batu loh. Katakan saja sama Indri. Atau perlu aku yang bilang sama dia ? Hahaha.… .”
“Jangan Andi. Kamu ini sok tahu. Siapa bilang saya suka sama Indri ? Saya justru sebel dan benci deh sama dia.”
“Benci apa benci ? Kata orang sih, benci itu singkatan dari benar-benar cinta loh, hahaha…” Andi terus meledek Sudar yang tidak mau jujur mengakuinya.
Tiba-tiba Indri melintas di depan Sudar yang sedang duduk bersilah di depan teras kelas. Indri yang baru sampai di sekolah pun tidak luput dari candaan Andi. Andi pura-pura batuk-batuk kecil, sambil matanya melirik ke arah Indri. “Ehem, ehem, Indri… ? Ada salam nih dari Bang Sudar. Sudar semakin salah tingkah dan malu-malu kucing. Sementara Indri hanya senyum-senyum saja melihat tingkah Sudar.
“Kamu ini jail banget sih Andi, aku kan jadi malu tau.” Kata Sudar sambil mencubit perut Andi.
“Cie…, cie…, malu apa mau ? Hahaha… .” Andi kembali meledek Sudar sambil tertawa terbahak-bahak. Kedua butiran matanya tertutup oleh dua gundukan pipinya yang tembem.
Andi yang memiliki tubuh gendut terlihat sangat menggemaskan. Ia juga pandai menghibur teman-temannya dikala sedang dirundung kesedihan. Lewat leluconnya yang sangat kocak. Sehingga rasa sedih pun berubah menjadi canda dan tawa. Mendengar celotehan-celotehan Andi yang lucu. Canda dan tawa kelompok remaja belasan tahun itu mendadak berhenti mendengar bunyi lonceng tiga kali. Teng…, teng…, teng . Andi dan teman-temannya segera masuk kelas. Andi masuk ke kelas tiga B. Sedangkan Sudar dan Poniman masuk ke kelas tiga C.
Tidak lama kemudian Pak Guru masuk ke kelas tiga B. Ketua kelas langsung memberi aba-aba untuk do’a bersama. Setelah itu memberi salam kepada Pak Guru. Pak Guru menjawab salam dari siswa lalu mengabsen satu-persatu siswanya. Kemudian mengeluarkan buku matematika. “Anak-anak, pagi ini kita akan mempelajari tentang bilangan rasional. Apakah anak-anak ada yang tahu tentang bilangan rasional ?”
“Belum Pak” Jawab siswa serempak. Kemudian Pak Guru melanjutkan materinya. “Anak-anak, bilangan rasional ialah suatu bilangan yang dapat dinyatakan dalam bentuk a per b, dengan a dan b adalah bilangan bulat. Serta b tidak sama dengan nol. Contoh bilangan rasional adalah satu per dua, dua per tiga, min dua per lima, dan min tiga per tujuh. Apakah anak-anak sekarang sudah mengerti ?”
“Sudah Pak Guru” Jawab siswa serempak.
“Kalau begitu baiklah bapak akan mengabsen kalian satu-persatu. Bapak minta kalian maju ke depan, lalu menulis contoh satu contoh tentang bilangan rasional. Bagi yang contohnya benar, akan bapak kasih nilai sepuluh. Sekarang Andi silahkan maju ke depan.”
Andi segera maju dan menuliskan contoh bilangan rasional di papan tulis. “Bagaimana anak-anak, apakah contoh yang ditulis Andi benar ?”
“Benar Pak Guru.” Jawab siswa serempak.
“Ya bagus sekali. Silahkan beri tepuk tangan anak-anak.” Pak Guru melanjutkan mengabsen satu-persatu siswanya untuk maju ke depan. Tanpa terasa dua jam pelajaran matematika telah habis. Pak Guru segera mengakhiri pelajarannya dengan mengucapkan salam kepada siswanya. Setelah itu keluar meninggalkan kelas, dan dilanjutkan dengan pelajaran yang lain.
Hari itu Andi dan teman-temannya mengikuti semua pelajaran sampai pelajaran terahir. Ditandai dengan bunyi bel empat kali. Seluruh siswa keluar kelas dan pulang ke rumahnya masing-masing. Andi dan teman-temannya menggoes sepedah ontelnya menuju rumahnya masing-masing. Poniman lebih dahulu sampai di rumahnya. Ia mengajak Andi dan teman-temannya untuk singgah di rumahnya.
“Teman-teman, mampir dulu yuk. Kebetulan di rumah ada kelapa muda loh. Kalian mau nggak ?”
“Mau dong kelapa mudanya. Apa lagi hari ini terasa panas sekali. Tenggorokan ku terasa kering nih.” Jawab Andi. Mereka pun mampir di rumah Poniman untuk melepas dahaganya. “Mana man kelapa mudanya ?” Tanya Sudar.
“Itu di atas ?” Poniman menunjuk sebatang pohon kelapa.
“Loh kirain sudah di petik. Ternyata masih di pohonnya toh. Terus kira-kira siapa ya yang bisa memanjat pohon kelapa itu ?” Tanya Andi.
“Kalau masalah panjat-memanjat serahkan saja pada ahlinya. Dalam hal ini Rudi lah orang yang paling tepat untuk memanjat pohon kelapa itu, hahaha… ?” Jawab Woto.
“Enak aja. Pas giliran yang nggak enak dikasihkan ke saya.” Rudi menggerutu.
“Bukan begitu Rudi, diantara kami kan hanya kamu saja yang paling pandai dalam hal panjat-memanjat. Apa perlu aku yang memanjat Rud ?” Sela Andi.
“Aduh jangan Andi. Kalau kamu yang manjat aku belum siap untuk kehilangan kamu. Biarlah aku aja yang memanjat pohon kelapa itu.”
“Nak begitu dong, tidak sia-sia deh aku punya teman sebaik kamu Rud.” Rayu Andi.
“Mulai lah Andi ngegombal, hahaha…. Man punya golok ngga. Pinjam dulu dong goloknya.” Tanya Rudi. Poniman pun masuk ke rumah dan kembali lagi bersama goloknya.
“Ini Rud goloknya.” Rudi segera mengambil golok dari tangan Poniman, lalu menggigit golok tersebut kemudian Rudi menunjukan kebolehannya melompat memanjat pohon kelapa. Hanya dengan satu lompatan saja, badan Rudi sudah menempel pada sebatang pohon kelapa. Kemudian dengan sigap, Rudi memanjat pohon kelapa yang berdiri tegak di depannya.
Gerakannya sangat lincah sekali, seperti gerakan seekor kera yang melompat dengan cepat naik ke atas pohon. Hanya dengan lima belas kali lompatan Rudi sudah bertengger di atas dahan. Maklum Rudi pernah berguru di perguruan silat kerak putih. Sehingga gerakannya sangat lentur dan lincah sekali. Rudi melompat dari dahan yang satu ke dahan yang lainnya. Tangan kirinya berpegangan pada dahan pohon kelapa. Sementara tangan kanannya menggoncang-goncangkan kelapa yang masih menempel pada dahannya.
Kemudian Rudi memilih kelapa muda dan menggoncang-goncangkan kelapa muda itu. Tangan kirinya berpegangan pada sebuah dahan. Lalu tangan kanannya segera menyambar golok yang masih digigitnya. Setelah itu langsung mengayunkan golok tersebut dan menebas dahan. Sekali tebas ! Butiran kelapa itu jatuh berguguran. Kemudian Rudi menjatuhkan goloknya dan turun dengan cepat merosot pada batang pohon kelapa.
Dadanya yang kurus sedikit lecet kebaret oleh batang pohon kelapa. Tapi Rudi tidak memperdulikan lukanya. Ia segera melompat dari batang pohon kelapa. Lalu memungut satu butir kelapa muda. Tangannya dengan lincah mengupas butiran kulit kelapa muda itu, lalu membuat lubang kecil pada butiran kelapa muda tersebut. Kemudian Rudi menenggaknya. Air kelapa muda pun membasahi tenggorokan Rudi hingga hilang rasa dahaga itu. Badannya yang kurus bercucuran keringat bercampur dengan tetesan air kelapa yang tumpah di badannya.
Kemudian Rudi membelah butiran kelapa muda itu lalu mengoyak-ngonyak isinya menggunakan sendok. Rasanya manis sekali dan mampu mengganjal perutnya yang kurus. Rasa haus dan lapar kini telah hilang. Setelah Rudi menghabiskan sebutir kelapa muda tersebut. Perutnya yang kempes sudah terlihat sedikit menonjol penuh dengan air dan isi kelapa muda. Sampai-sampai keluar suara euuuuuu dari mulutnya.
Andi dan Sudar senyum-senyum memperhatikan Rudi yang terlihat lapar. Sampai-sampai Rudi lupa basa-basi kepada mereka. “Rudi ini doyan apa lapar sih. Sampai-sampai melupakan teman, hahaha... .” Sindir Andi.
“Maaf Andi, aku lupa ngga ingat teman. Soalnya aku haus banget sih, hahaha… .” Jawab Rudi.
“Haus si haus. Tapi ingat teman dong. Coba tadi kalau kami diam-diam tinggalin kamu pulang. Pasti kamu mewek kan, hahaha… ?” Canda Sudar.
“Ya ya. Maaf tadi aku lupa. Ini kelapanya silahkan makan ya. Aku pulang duluan, hahaha… .” Rudi membalas candaan Andi dan Sudar sambil memberikan dua butir kelapa muda.
“Wah wah, mau cari gara-gara rupanya Rudi ini. Coba aja tinggalin kami. Besok-besok gantian kami tinggalin juga, hahaha… .” Sahut Andi.
Kemudian Andi mengambil golok dan mengupas kulit kelapa muda itu. Sementara Rudi duduk di sebelahnya sambil mengipas-ngipas keringatnya yang menganak sungai. Ia memperhatikan Andi yang sedang mengupas kulit kelapa muda. Andi yang belum mahir mengupas kelapa diledek oleh Rudi.
“Hahaha… , lucu lucu lucu .”
“Apanya yang lucu Rudi, yang pentingkan nanti airnya keluar juga, hahaha… .” Jawab Andi ngeles.
“Coba sini goloknya. Begini loh cara ngupas kelapa yang benar. Pegang ujung kelapa yang ada tangkainya, lalu kupas ujung yang satunya. Nah begini.” Rudi mempraktekan cara ngupas kelapa yang benar.
“Baiklah kawan. Sini aku coba lagi.” Andi menirukan cara Rudi mengupas kulit kelapa muda.
Andi dan teman-temannya menikmati kelapa muda di rumah Poniman. Setelah itu mereka berpamitan kepada Poniman untuk melanjutkan pulang. “Terima kasih ya Man kelapa mudanya enak sekali. Sekarang perut kami sudah kenyang dan rasa haus pun sudah hilang. Sekarang kami pamit dulu ya ?” Ucap Andi.
“Ok sama-sama kawan. Jangan sungkan-sungkan. Lain kali mampir lagi ke rumah ya ?” Jawab Poniman.
“Baiklah kami pulang dulu ya. Dada… sampai jumpa besok pagi ya Man.” Andi dan teman-temannya berpamitan sambil menuntun sepedah ontelnya. Mereka melambaikan tangan kepada Poniman lalu pergi dengan sepedah ontelnya. Satu-persatu mereka sudah sampai ke rumahnya. Tinggal Andi saja yang masih menggoes sepedahnya. Karena hanya Andi yang rumahnya paling ujung sendiri. Tidak lama kemudian Andi pun sampai di rumahnya.
Andi segera menyendenderkan sepedah ontelnya di teras rumah, lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya. Dari dalam kamar, Andi melepas seragam sekolaahnya dan pergi ke ruang makan. Setelah makan, Andi duduk di teras rumahnya sembil mengipas-ngipas keringatnya yang menganak sungai. Andi duduk hanya mengenakan kaos oblong dan celan pendek.
Sementara Siti Amanah dan Diah Astuti sedang membantu Bu Ratno di dapur. Bu Ratno sangat menyayangi ketiga anak angkatnya. Walaupun Siti Amanah, Diah Astuti dan Andi bukanlah terlahir dari Rahimnya. Namun Bu Ratno sudah menganggap ketiganya seperti anak kandungnya sendiri. Bu Ratno tidak pernah membeda-bedakan antara anak yang satu dengan yang lainnya. Bu Ratno dan Pak Ratno menyayangi anak angkatnya dengan tulus.
Dari ketiga anak angkatnya, hanya Andi saja yang sekolah sampai SMP. Sri Amanah dan Diah Astuti tidak seberuntung Andi. Mereka hanya tamat sampai SD saja. Karena saat itu kondisi ekonomi keluarga Pak Ratno masih susah. Setelah mengangkat Andi sebagai anak angkatnya, sedikit demi sedikit kondisi ekonomi Pak Ratno berangsur-angsur mulai membaik. Saat ini Andi duduk di kelas tiga bangku ekonomi, dan tidak lama lagi Andi akan segera lulus.
Pak Ratno sendiri bekerja sebagai juragan padi. Usahanya adalah menampung padi hasil petani. Para petani lebih banyak memilih menjual padinya kepada Pak Ratno. Karena Pak Ratno menghargainya lebih tinggi dibandingkan dengaan yang dihargai oleh juragan padi lainnya. Maka Tak heran jika usaha Pak Ratno lebih maju dibandingkan dengan juragan padi lainnya.
Kini Pak Ratno sudah memikiki segala yang dibutuhkannya. Dari mulai kendaraan roda dua sampai kendaraan roda empat. Saat itu baru Pak Ratno saja yang sudah memiliki kendaraan roda dua sampai roda empat. Bahkan Pak Ratno saat itu adalah orang terkaya di kampungnya. Kekayaan yang dimiliki Pak Ratno tidak lantas membuat Pak Ratno menjadi sombong. Pak Ratno masih tetap baik dan ramah dengan para tetanggnya. Bahkan setiap malamnya Pak Ratno merelakan tv nya ditonton oleh warga di depan rumahnya. Karena baru Pak Ratno saja yang saat itu sudah memiliki tv di kampungnya.
Kehidupan Pak Ratno sekarang telah berubah total. Dulu Pak Ratno hanya berprofesi sebagai petani gurem. Pak Ratno dulu bukanlah siapa-siapa. Namun sekarang telah menjadi sosok yang cukup disegani di kampungnya . Lantaran kekayaan yang dimilikinya. Meskipun demikian Pak Ratno tetap memiliki pribadi yang santun dan sangat rendah hati. Sehingga warga sekitar pun tak sungkan-sungkan mau berkunjung ke rumahnya.
Kehehidupan keluarga Pak Ratno sudah cukup mapan. Namun Bu Ratno sendiri masih membuka usaha warung kelontongan di rumahnya. Ibu-Ibu di desa ini sangat terbantu sekali. Karena bisa ngutang belanjaan di warung Bu Ratno, dan bisa dibayar ketika sudah panen padi. Wal hasil warung Bu Ratno pun sangat ramai dikunjungi para pembeli. Baik dari desa setempat maupun dari desa tetangga. Sehingga usaha yang dijalani oleh Bu Ratno menambah pundi-pundi perekonomian keluarganya.
Pak Ratno yang sangat ramah dengan tetangganya, setiap malam keamanannya turut dijaga oleh warga. Warga rela bergiliran ikut mengamankan rumah Pak Ratno. Pak Ratno pun sangat senang dengan kebaikan warga di kampungnya. Sehingga Pak Ratno tidak itung-itungan mengeluarkan kopi dan rokok kepada warga yang menjaga rumahnya. Pak Ratno merasa terlindungi oleh tetangganya. Sehingga hidupnya merasa nyaman di kampungnya.
Sehingga Pak Ratno pun mau berbagi dengan para tetangganya. Setiap malam Pak Ratno menghidupkan tv nya di depan rumahnya agar warga bisa nonton acara tv. Ini sengaja dilakukannya untuk memberikan hiburan kepada warga. Pak Ratno memang cukup pintar. Ini adalah cara Pak Ratno untuk mengumpulkan warga menjaga rumahnya. Sehingga setiap malamnya Pak Ratno bisa tidur nyenyak.
Malam hari adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh warga. Tidak terkecuali para muda-mudinya. Dengan disinari indahnya rembulan, sekelompok remaja keluar dari rumahnya. Sambil berjalan menuju rumah Pak Ratno, mereka bernyanyi kecil sambil bersiul. Tampak dari wajahnya menunjukan kebahagiaan tersendiri. Setelah seharian lelah membantu orang tuanya di sawah.
Malam hari adalah waktu yang tepat untuk bertemu dengan teman-temannya. Sebagai obat untuk menghilangkan rasa penat setelah seharian bekerja. Seperti yang dilakukan oleh Syamsul dan Nuryani. Sepasang muda-mudi ini setiap malamnya nonton tv di rumah Pak Ratno. Samsul yang sedikit genit sesekali menggoda Nuryani dengan melempar senyuman ke arahnya. Nuryani pun tak mau kalah membalasnya senyum manisnya. Walau terkadang mereka harus rela berdiri berdesak-desakan di depan rumah Pak Ratno.
Begitu juga dengan Yatno dan Karminah mereka tak mau kalah juga. Malam itu Yatno berdiri di belakang Samsul menoleh ke kanan dan kiri. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang Ia cari. Matanya memandang ke arah tv, akan tetapi pikirannya melayang kemana-mana. Tiba-tiba bagian Pinggang Yatno terasa ada yang mencubitnya. Yatno berpura-pura tidak merasakan cubitan itu. Karena Ia sangat mengenal dengan cubitan itu. Cubitan itu adalah cubitan dari tangan Karminah.
Karminah kembali mencubit pinggang Yatno. Yatno sedikit cuek menggoda Karminah berpura-pura tidak melihatnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Karminah. Karminah yang duduk di belakang Yatno, berusaha menutup mulutnya menahan geli melihat tingkah Yatno . Lagi-lagi Karminah mencubit pinggang Yatno. Kali ini tangan Karminah berhasil ditangkap oleh Yatno. Karminah pun memohon agar Yatno mau melepaskan tangan Karminah. Itulah kebahagiaan muda-mudi dari kampung Sumber Asih.
PERAMPOKAN DI RUMAH PAK RATNO
Seperti biasanya, sehabis maghrib Pak Ratno selalu memutar tv nya di depan rumahnya. Hal ini dilakukan agar warga bisa nonton acara tv tanpa berdesak-desakan. Maklum saat itu baru Pak Ratno saja yang sudah memiliki tv di kampungnya. Sehingga rumah Pak Ratno pun selalu ramai dikunjungi warga. Apa lagi malam itu adalah malam minggu dan kebetulan malam itu ada acara pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia.
Tepat jam tujuh malam pertandingan dua kesebelasan itu telah disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun tv swasta dari Gelora Bung Karno. Di mana kedua kesebelasan telah memasuki Studion Gelora Bung Karno, diiringi sorak-sorai sporter pendukung dari kedua kesebelsan. Kedua kesebelasan pun langsung berbaris di tengah gelanggang pertandingan untuk mengikuti prosesi upacara pembukaan.
Lagu Indonesia Raya pun berkumandang menggema di Studion Gelora Bung Karno. Dengan hikmat tim kesebelasan garuda mengikuti jalannya upacara pembukaan. Tidak lama kemudian dilanjutkan lagu kebangsaan dari Negeri Jiran yaitu lagu Negara ku. Setelah selesai kedua lagu kebangsaan dua Negara itu dikumandangkan, wasit segera memimpin jalannya pertandingan dibantu oleh dua orang hakim garis.
Wasit segera meniup pluit panjang pertanda pertandingan segera dimulai. Bola dikuasai oleh tim kesebelasan dari negeri Jiran. Bola diumpan dan kemudian ditendang mendekati gawang kesebelasan Indonesia. Tim kesebelasan Indonesia berusaha menghalau serangan dari lawan dan bola pun berhasil diselamatkan oleh penjaga gawang.
Sekarang Si kulit bundar dalam penguasaan penjaga gawang indonesia. Bola dipantul-pantulkan kemudian penjaga gawang mengambil ancang-ancang lalu menendangnya ke daerah pertahanan lawan. Bola pun melambung tinggi ke udara dan memantul ke jantung pertahanan lawan. Pemain asal Malaysia dengan nomor punggung tujuh berhasil menjinakan bola, kemudian mengopernya ke nomor punggumg Sembilan. Nomor punggung Sembilan mengkotak-katik bola menerobos pertahanan tim Indonesia. Namun serangan itu berhasil digagalkan dan menghasilkan lemparan ke dalam Indonesia.
Bola dilemparkan ke nomor punggung tiga dan disana terjadi persaingan ketat memperebutkan bola. Namun bola berhasil dipertahankan tim kesebelasan garuda dan di tendang ke sudut kanan pertahanan lawan. Di sana ada nomor punggung lima mencoba menjinakan bola namun sayang bola berhasil dicuri oleh tim kesebelasan Malaysia dan di tendang ke tengah lapangan.
Bola pun melambung tinggi dan di sana ada dua pemain asal Indonesia dan Malaysia yang saling berebut si kulit bundar. Si kulit bundar berhasil disundul nomor punggung delapan dari tim kesebelasan Malaysia dan bola masih dikuasai oleh tim kesebelasan negeri jiran lalu berhasil menerobos melewati dua pertahanan dari tim garuda dan apa yang terjadi pemain dari tim kesebelasan negeri Jiran melakukan shooting ke arah gawang indonesia.
Namun sayang sekali bola berhasil dipetik oleh penjaga gawang Indonesia. Sorak-sorai penonton kembali riuh di Gelora Bung Karno. Tak terkecuali warga yang sedang menonton tv di rumah Pak Ratno. Tanpa sadar mereka melompat memperagakan penjaga gawang asal indonesia yang berhsil memetik bola dengan manisnya.
Kini penjaga gawang asal Indonesia melemparkan bola ke tengah dan di sana disambut oleh salah satu pemain asal Indonesia dan menggiringnya ke jantung pertahanan lawan. Kali ini pemain asal Indonesia mencoba melakukan shooting dari jarak yang cukup jauh. Namun dengan mudah bola berhasil ditangkap penjaga gawang dari kesebelasan Malaysia lalu bola kembali ditendang ke tengah lapangan.
Beberapa pemain dari kedua kesebelasan berusaha mengejar bola dan bola berhasil dikawal ketat oleh dua pemain asal Malaysia. Kedua pemain itu masih santai saling mengoper bola untuk memancing pertahanan Indonesia. Benar saja pemain asal Indonesia keluar dari sarangnya dan berusaha merebut bola tersebut. Namun sayang sekali kalah cepat dengan pemain asal Malaysia dan mereka bekerja sama mengumpan dan menendang bola mendekatai gawang Indonesia.
Teriakan sporter asal Malaysia memberi dukungan kepada tim kesebelasannya. Sementara sporter asal Indonesia tegang dan diam tak bersuara. Detik-detik yang menegangkan itu kembali riuh setelah penjaga gawang asal Indonesia keluar dari sarangnya dan berhasil membabat habis bola dengan kaki kanannya. Bola pun berhasil diselamatkan oleh penjaga gawang.
Kembali terdengar teriak riuh sporter asal Indonesia memberi dukungan kepada tim kesebelasannya sambil meneriakan yel-yel untuk memberi dukungan. Kini bola kembali ke tengah lapangan dan di sana ada dua pemain asal Malaysia berhasil menguasai bola. Bola kembali digiring ke tengah lapangan sambil melakukan umpan-umpan pendek untuk memecah pertahanan dari tim kesebelasan Indonesia.
Namun pemain Indonesia tidak terpancing oleh tipuan lawan. Sehingga akhirnya pemain asal Malaysia melambungkan bolanya ke sudut kiri pertahanan Indonesia. Di sana ada satu orang pemain asal Malaysia mencoba mengambil bola tersebut. Namun pemain Indonesia berhasil membungkam pemain Malaysia sebelum berhasil mendekati bola dengan mencukur bola tersebut hingga bola melambung tinggi meninggalkan benteng pertahanan Indonesia
Bola masih dikuasai oleh pemain Indonesia. Pemain Indonesia berusaha melakukan serangan ke gawang lawan. Namun serangan itu dihalau oleh pemain nomor punggung tujuh. Akibatnya bola keluar dari lapangan. Indonesia melakukan lemparan ke dalam dan bola masih dalam kekuasaan pemain Indonesia. Lagi-lagi nomor punggung tujuh yang berbadan kekar itu menyapu habis serangan dari pemain indonesia. Kini bola melambung tinggi ke tengah lapangan.
Kedua pemain berusaha berebut bola dan salah satu pemain dari Indonesia jatuh bergulingan. Akibatnya pemain dari Malaysia melenggang membawa bola mendekati gawang Indonesia. Bola itu dioper ke depan gawang dan tendangan keras dari pemain Malaysia meluncur ke gawang. Namun penjaga gawang Indonesia berhasil menerkam bola dan berhasil menyelamatkan gawangnya. Bola dipantul-pantulkan ke tanah kemudian penjaga gawang mengambil ancang-ancang dan menendangnya ke tengah lapangan.
Bola melambung ke tengah lapangan lalu dihadang oleh dua pemain dari Malaysia. Salah satu pemain lari ke depan lalu diberi umpan. Bola masih dalam penguasaan pemain Malaysia. Bola di tendang ke pojok kanan lapangan menuju salah satu pemain Malaysia. Pemain Malaysia mengkotak-katik bola. Dua lawan berhasil dilewatinya dan kaki kirinya mencocor si kulit bundar. Bola meluncur ke sudut kiri atas gawang. Lagi-lagi penjaga gawang berhasil menghalau bola itu dengan ujung jarinya. Ahirnya bola keluar lapangan dan menghasilkan tendangan sudut.
Pemain Malaysia meletakan bola di sudut lapangan sebelah kiri. Kemudian mundur lima langkah melakukan ancang-ancang. Pandangannya tajam pada salah satu sudut gawang. Dengan gaya merunduk, pemain itu melakukan shooting dengan ujung tumitnya mencocor bola ke gawang Indonesia. Bolapun melambung tinggi ke depan gawang. Untuk sesaat keadaan menjadi hening. Para sporter pendukung dari kedua kesebelasan itu menahan napas panjang menunggu detik-detik yang paling menegangkan.
Tanpa di sadari warga yang sedang nonton tv di rumah Pak Ratno ikut tegang. Mereka terdiam sambil matanya melotot ke layar tv. Penjaga gawang melompat tinggi mengepakan kedua tangannya mirip seekor kepakan elang menyambar bola yang datang. Ahirnya bola pun kembali berhasil di tangkap oleh penjaga gawang. Sorak sorai terdengar ramai di rumah Pak Ratno. Mereka kembali duduk rileks nonton tv di depan teras menyaksikan jalannya pertandingan.
Penjaga gawang bersiap menendang bola. Seluruh pemain Indoesia kembali pada posisinya masing-masing. Sementara pemain Malaysia segera mundur ke belakang kembali ke sarangnya. Serangan demi serangan dilakukan oleh pemain Indonesia. Namun pertahanan lawan sangat tangguh. Serangan dari pemain Indonesia selalu berhasil dipatahkan oleh tim kesebelasan malaysia.
Malam itu di depan rumah Pak Ratno semakin ramai. Mereka rela berdiri sambil berdesak-desakan hanya untuk nonton jalannya pertandingan. Sorak-sorai penonton kembali ramai. Mereka memberi semangat kepada tim Garuda yang belum mampu menjebol gawang pertahanan lawan. Pada menit terahir di babak pertama ini, tim Garuda melakukan tendangan pojok ke gawang lawan. Bola melambung tinggi di depan gawang malaysia namun bola berhasil diselamatkan oleh sundulan nomor punggung lima. Akhirnya Si kulit bundar melambung tinggi dan menjauh dari gawang Malaysia.
Suara pluit panjang mengahiri permainan pada babak pertama yang masih menghasilkan skor 0-0. Manajar dan pelatih dari kedua tim kesebelasan pun tidak mau menyia-nyiakan waktunya. Keduanya kembali menyusun strategi agar bisa mengalahkan lawannya. Tim Malaysia yang sangat gesit dan sangat kuat pertahanannya belum mengalami perubahan dari pemainnya. Sementara dari tim Garuda merombak habis komposisi pemainnya.
Suara pluit panjang kembali didengarkan. Pertanda bahwa babak kedua akan segera dimulai. Kali ini tim Garuda menguasai bola dan melewati beberapa lawannya. Tendangan keras menghantam tiang gawang lawan. Namun belum mampu menjebol gawang pertahanan dari Malaysia. Kali ini serangan balasan menghajar tim Garuda. Tim Garuda dibuatnya kocar-kacir oleh tim kesebelasan malaysia. Beruntung Si kulit bundar meleset dan belum mampu menjebol gawang Indonesia. Bola kembali berhasil diselamatkan oleh suara peluit panjang pertanda offside.
Di menit-menit terahir kedua tim kesebelasan musuh bebuyutan ini masih belum mampu merubah kedudukannya. Mereka habis-habisan mengeluarkan segala kemampuannya. Lagi-lagi serangan demi serangan kembali mereka lancarkan untuk menjebol gawang lawan. Kedua tim rupanya tidak mau menyia-nyiakan waktu yang tinggal beberapa menit lagi.
Kembali tim kesebelasan malaysia menguasai permainan. Namun Si kulit bundar berhasil dicuri oleh pemain tim garuda. Serangan balasan dilancarkan oleh tim Garuda. Di menit terakhir kali ini tim Garuda berhasil menguasai permainan. Tim Garuda melakukan umpan-umpan pendek lalu pada detik-detik terakhir melakukan tendangan ke gawang Malaysia dari jarak yang sangat dekat. Bola pun berhasil menjebol gawang Malaysia dengan kedudukan satu kosong.
Pluit panjang berbunyi pertanda Si kulit bundar telah berhasil bersarang di gawang lawan. Permainan kembali dilanjutkan, kali ini malaysia mengumpan bola dan melakukan serangan balasan. Satu-persatu pemain kesebelasan garuda berhasil dilewati oleh pemain negeri Jiran. Tendangan keras ke arah gawang dilancarkan oleh tim kesebelasan Malaysia. Namun sayang sekali bola belum mampu menjebol gawang Indonesia. Bola melayang satu jengkal di atas mistar gawang. Hingga akhirnya wasit meniup pluit panjang pertanda pertandingan telah berakhir.. Priiit…, priiit…, priiit…
Waktu telah menunjukan pukul sepuluh malam. Satu-persatu warga telah meninggalkan rumah Pak Ratno. Mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Tinggal beberapa orang saja yang masih asik nonton tv di depan rumah Pak Ratno. Tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar, disusul suara rintik hujan. Ujang dan Parmo segera memindahkan tv nya ke dalam rumah.
Asikin, Barjo, Dastam, dan Taryono serta Abdul menyusul Ujang dan parmo masuk ke dalam rumah. Lima orang warga yang mendapat giliran jaga malam itu masih berada di rumah Pak Ratno. Mereka duduk bersilah di depan tv sambil menonton acara tv. Parmo segera masuk ke dapur dan keluar membawa lima gelas kopi hangat. Sambil membungkukan badan, Parmo menyuguhkan kopi kepada lima orang tamu Pak Ratno.
Semakin lama hujan semakin deras. Asikin dan empat orang temnnya menikmati kopi hangat yang disuguhkan Parmo, ditemani lintingan rokok yang terbuat dari kulit jagung. Mereka masih asik duduk bersilah di depan tv, menyaksikan acara dari desa ke desa acara kunjungan Presiden Suharto ke sebuah desa. Presiden yang sangat berkarismatik itu sedang berdialog dengan sejumlah warga desa.
Pak Harto dengan sabar mendengarkan cerita para petani padi. Mereka menceritakan tentang keberhasilan panennya tahun ini. Petani mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Presiden yang sangat perduli dengan nasibnya. Sehingga hasil panennya tahun ini sangat memuaskan. Petani juga mengajukan permohonan kepada Bapak Presiden agar tahun imi kembali memberikan bantuan pupuk dan obat-obatan serta bantuan bibit unggul. Pak Harto tersenyum bahagia mendengarkan cerita para petani. Presiden berjanji akan memberikan bantuan yang dibutuhkan oleh para petani.
Waktu telah menunjukan jam satu malam. Ujang dan Parmo sudah tergolek tidur di atas tikar sebelah Asikin. Mulutnya mendengkur bersahutan seperti pesawat tempur. Sementara Asikin dan empat orang temannya masih asik nonton acara tv. Mereka sengaja tidak tidur karena sedang mendapat giliran jaga malam. Sementara pintu rumah masih terbuka begitu saja. Sehingga angin kencang datang menerobos masuk ke rumah. Membuat mereka semakin terasa tambah dingin. Asikin segera memanteng sarungnya menutupi tubuhnya.
“Pak Barjo gimana nih, sekarang sudah waktunya kita untuk keliling kampung, tapi hujan masih deras.”
“Gimana kita mau keliling kampung Pak Asikin. Wong hujannya masih deras. Mau Pak Asikin basah kuyup seperti tikus yang baru nyemplung ke dalam got hahaha…”
“Tidak mau lah Pak Barjo. Terus kapan kita akan ngambil jimpitan di rumah penduduk Pak Barjo ?”
“Kita tunggu sebentar lagi Pak Asikin. Siapa tahu nanti hujannya reda. Kalau nanti tidak reda juga, terpaksa dong kita ambil sebelum subuh ya ?”
“Baiklah Pak Barjo” Sahut Pak Asikin.
Sementara Dastam, Taryono dan Abdul masih asik nonton acara tv. Sehingga mereka tidak sadar kalau ada lima orang asing yang sudah berdiri di belakang mereka. Lima orang itu berpakaian serba hitam dan memakai penutup kepala. Sehingga tidak bisa dikenali wajahnya. Kemudian salah satu dari mereka menodongkan sepucuk pestol di kepala Asikin sambil berkata, “Diam ! Jangan bergerak ! Kalau tidak peluru ini akan menembus kepala kalian !” Bentak laki-laki yang menodongkan pestol ke kepala Asikin.
Asikin, Barjo, Dastam, Taryono dan Abdul tersentak kaget dan tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka menuruti saja semua perintah kelima orang tersebut. Kemudian lima orang tersebut mengikat tangan dan kaki mereka. Lalu menyumpal mulutnya menggunakan sarung yang dikenakannya
Asikin duduk jongkok gemetar dan pasrah tangan dan kakinya diikat dan diseret membelakangi kaki meja. Sambil menahan rasa takut, Asikin memperhatikan nasib keempat temannya yang sedang diikat. Tangan Barjo diikat menjadi satu dengan tangan Dastam, lalu keduanya duduk saling membelakangi beradu punggung. Sementara kaki mereka diikat pada kaki meja yang berbeda. Begitu juga nasib Taryono dan Abdul. Dengan posisi duduk saling adu punggung, tangannya diikat menjadi satu pada kaki meja. Sementara mulutnya disumpel menggunakan sarung yang dikenakannya.
Usai mengikat Asikin dan teman-temannya, lima perampok itu mendekati Ujang dan Parmo yang masih tidur ngorok. Lalu kelima perampok itu mengikat tangan dan kaki Ujang dan Parmo dan menyumpal mulutnya menggunakan sarung. Sehingga tidak lagi terdengar suara dengkuran Ujang dan Parmo. Setelah para perampok itu berhasil melumpuhkan Asikin dan teman-temannya, lalu para perampok itu menyelinap masuk ke kamar Siti Amanah dan Diah Astuti. Dua orang rampok lainnya masuk ke kamar Pak Ratno. Sedangkan satu rampok lagi masuk ke kamar Andi.
Di kamar Siti Amanah dan Diah Astuti, kedua perampok itu membekap mulut Siti Amanah dan Diah Astuti menggunakan sarung bantal. Sehingga teriakan kedua gadis malang itu tidak terdengar. Kemudian kedua perampok itu mengikat tangan dan kaki gadis itu, lalu mengacak-acak isi kamar, dan menjarah semua barang-barang berharga miliknya.
Dua perampok itu matanya melotot pada perhiasan yang tergantung di leher Siti Amanah dan Diah Astuti. Mereka mendekati Siti Amanah dan Diah Astuti lalu menarik paksa kalung yang tergantung di lehernya. Kemudian melucuti gelang, anting dan perhiasan lainnya milik Siti Amanah dan Diah Astuti. Setelah itu salah satu dari perampok memberi isyarat pada temannya agar meninggalkan kamarnya. Mereka pun segera meninggalkan kamar Siti Amanah dan Diah Astuti.
Di kamar sebelah Andi dibekap lalu mulutnya disumpal pakai kaos kaki. Sambil terbatuk-batuk Andi berusaha melepaskan bekapan perampok. Namun Andi segera diam setelah mendapat ancaman dari perampok itu. “Hai gendut ! Diam kamu ! Kalau tidak, badik ini akan merobek perutmu !” Andi pun terdiam dan membiarkan tangan dan kakinya diikat oleh perampok. Kemudian perampok itu menguras habis barang berharga miliknya lalu keluar dan mengunci pintu dari luar.
Dua perampok lainnya masuk ke kamar Pak Ratno yang tidak terkunci. Perlahan perampok itu membuka kamar. Namun tiba-tiba Bu Ratno terbangun dari tidurnya. Sehingga membuat perampok itu menjadi sedikit panik dan langsung membekap mulut serta mengikat tangan dan kaki Bu Ratno. Bu Ratno berusaha memberontak sambil berteriak. Sehingga Pak Ratno yang sedang tertidur pulas langsung terjaga setelah mendengar suara gaduh di kamarnya.
Pak Ratno yang masih mengantuk terbangun seperti orang linglung. Sambil mengucek-ngucek matanya, matanya terbelalak melihat ada dua orang asing berada di dalam kamarnya. Pak Ratno berusaha berteriak, namun Pimpinan perampok itu segera menjambak rambut Pak Ratno sambil menodongkan pistolnya ke kepalanya. Sehingga Pak Ratno segera mengurungkan niatnya. “Diam kamu! Kalau tidak peluru ini akan merobek kepala kamu !
“Ayo jongkok ! Ikuti perintah saya ! Kalau Bapak melawan, kami tak segan-segan akan menembak kepala bapak. Jongkok Pak ! Tangannya taro di atas kepala,” Teriak perampok itu. Pak Ratno menurut saja apa yang diperintahkan oleh perampok itu. Salah satu dari perampok itu segera mengikat tangan dan kaki Pak Ratno. Sambil menodongkan pestol, perampok itu meminta Pak Ratno untuk menunjukan barang-barang berharga miliknya.
“Di mana kamu simpan uang dan perhiasan kamu Pak ? Ayo tunjukan !”
“Di loker itu Pak !”
Pak Ratno menunjukan sebuah loker yang tersimpan sejumlah uang dan emas serta barang-barang berharga lainnya. Sementara perampok satunya, menguras habis uang dan perhiasan milik Pak Ratno.
“Kamu taro di mana kunci mobil dan motor pak ?!”
“Di dalam lemari itu pak.” Pak Ratno menunjuk beberapa kunci kendaraannya yang tersimpan di dalam lemari pakaian.
“Di mana BPKB dan STNK mobil dan motor pak ?” Pak Ratno diam saja. Perampok itu kembali menjambak Rambut Pak Ratno sambil menempelkan ujung pistol di kepalanya.
“Cepat tunjukan ! Di mana surat-surat itu ! Apa kamu mau saya tembak !” Bentak perampok itu.
“Surat-surat motornya ada di bawah tempat tidur.”Jawab Pak Ratno.
Pak Ratno segera menunjukan surat-surat kendaraannya yang disimpan di tempat tidur. Perampok itu segera memeriksa ke tempat tidur dan benar saja surat-surat kendaran itu ada di bawah kasur. Perampok itu mengambil kantung plastik warna hitam lalu membukanya, dan memeriksa satu-persatu isi di kantung plastik. Setelah yang dicari sudah ditemukan, perampok itu mengangguk memberi isyarat kepada anak buahnya, lalu keluar dari kamar Pak Ratno dan mengunci pintu kamarnya dari luar. Kemudian mereka segera kabur dan membawa pergi semua kendaraan dan harta benda milik Pak Ratno.
Perampokan di rumah Pak Ratno berjalan sangat cepat sekali. Malam itu tidak ada satu tetangga pun yang menaro curiga tentang perampokan di rumah Pak Ratno. Maklum malam itu hujan sangat deras. Sehingga tetangga di sekitar Pak Ratno tidak menaro curiga sedikitpun. Sebab di rumah Pak Ratno setiap malamnya selalu ramai dikunjungi warga. Terkadang mereka ngobrol sampai malam hari. Sehingga para tetangga tidak mengira kalau malam itu telah terjadi perampokan di rumah Pak Ratno.
Sekitar jam tujuh pagi Pak Muji datang ke rumah Pak Ratno untuk membeli rokok. Pak Muji merasa heran tidak seperti biasanya rumah warung Bu Ratno belum dibuka dan lampunya masih menyala. Pak Muji berusaha mengetuk-ngetuk pintu rumah Pak Ratno. Namun ketukannya tidak mendapat respon dari Si pemilik rumah. “Bu…, Bu Ratno. Saya Pak Muji Bu mau beli rokok.”
“Tidak seperti biasanya penghuni di rumah ini kok belum ada yang bangun. Pedahal biasanya setiap jam enam pagi mereka sudah pada bangun. Ada apa ya ?. Ini pintunya juga masih ditutup.”
Pak Muji pergi ke samping rumah dan kembali memanggil-manggil Pak Ratno dan Bu Ratno sambil mengetuk-ngetuk jendela kamarnya. “Pak…, Pak Ratno. Bu…, Bu Ratno. Saya mau beli rokok bu.” Pak Muji kemudian kembali ke depan rumah dan duduk di teras rumah menunggu Si pemilik rumah membukakan pintunya. Namun sudah setengah jam menunggu pintunya belum dibuka juga. Akhirnya Pak Muji mencoba mendorong pintu rumah Pak Ratno.
“Loh-loh, kok pintunya tidak dikunci.” Pak Muji lalu mesuk ke dalam rumah. Pak Muji terkejut, melihat Asikin dan teman-temannya dalam keadaan terikat. Kemudian Pak Muji lari keluar rumah memberitahu warga yang lainnya. Pak Muji pergi ke rumah Pak Firman yang letaknya berdekatan dengan rumah Pak Ratno. Sambil lari tergopoh-gopok Pak Muji menghampiri Pak Firman yang sedang mendengarkan berita di radio.
“Pak Firman ! Tolong…, Pak Firman, tolong…. , tolong…, pak !”. Pak Muji berteriak-teriak minta tolong sambil tersengal-sengal. Teriakan Pak Muji tidak didengar jelas oleh Pak Firman. Lalu Pak Firman segera mengecilkan voleme radionya. “Ada apa Pak Muji ? Pagi-pagi teriak-teriak seperti melihat setan saja ?”
“Anu Pak Firman anu.”
“Anu anu anu ! Bicaralah yang jelas. Ada apa Pak Muji ?”
“Anu Pak Firman. Asikin dan teman-temannya diikat di rumah Pak Ratno. Ayo Pak coba kita lihat ke sana .”
Tanpa banyak bicara Pak Firman berlari ke rumah Pak Ratno diikuti oleh Pak Muji dari belakang. Pak Muji dan Pak Firman masuk ke dalam rumah Pak Ratno. Alangkah terkejutnya Pak Firman melihat Pak Asikin dan teman-temannya tangan dan kakinya dalam keadaan terikat pada kaki meja dan mulutnya tersumpal dengan sarung. Pak Firman dan Pak Muji tidak mau menanggung resiko. Keduanyaa segera berlari menuju pos ronda yang letaknya hanya dua puluh meter dari rumah Pak Ratno.
“Pak Muji, ayo kita beri tahu warga yang lainnya. Jangan sampai kita disalahkan oleh mereka.”
Lalu Pak Firman segera memukul kentongan sebagai tanda bahaya. Warga laki-laki yang mendengar suara kentongan itu segera berhanburan lari menuju Pos ronda. Pak Firman dan Pak Muji mengajak warga ke rumah Pak Ratno. Setibanya di rumah Pak Ratno, warga segera membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Asikin dan teman-temannya serta melepas benda yang menyumpal mulutnya. Kemudian merika mengecek kamar Pak Ratno dan kamar anak-anaknya.
Terlihat Pak Ratno dan Bu Ratno, tangan dan kakinya dalam keadaan terikat. Warga segera melepas tali itu. Begitu juga dengan tali yang mengikat tangan dan kaki Siti Amanah dan Diah Astuti. Warga segera melepas ikatan itu dan juga melepas sarung bantal yang menyumpal mulutnya. Setelah itu Warga membuka kamar Andi yang terkunci dari luar. Andi tidur tertelungkup dalam keadaan tangan dan kakinya terikat. Serta mulutnya tersumpal oleh kaos kaki. Kemudian warga membebaskan Andi dari tali yang mengikat serta melepas kaos kaki yang menyumbat mulutnya.
Setelah itu warga meminta penjelasan kepada Pak Ratno. Apa sesungguhnya yang sudah terjadi ?. Namun Pak Ratno belum mau bicara. Mereka masih dalam keadaan syok tentang kejadian itu. Pak Firman pergi ke ruang tamu dan membawa segelas air minum lalu diberikan kepada Pak Ratno. Pak Ratno meneguk air itu dan beberapa menit kemudian baru menceritakan kejadian yang dialaminya.
“Saya habis dirampok pak. Tadi malam ada orang yang menyatroni rumah saya. Kejadian itu sangat tiba-tiba sekali. Bahkan saya mengira ini hanyalah sebuah mimpi saja. Soalnya saat kejadian saya sedang tidur. Saya mendengar ada suara gaduh di kamar saya. Pas saya membuka mata, istri saya sedang dibekap oleh perampok itu kemudian tangan dan kaki saya juga ikut diikat.”
Bu Ratno menyambung cerita Pak Ratno.“Saya benar-benar syok. Bukan lantaran kalung dan gelang saya dirampas oleh perampok-perampok itu. Begitu saya membuka mata, ada sebuah badik menempel di leher saya. Saya kaget dan berusaha memberontak. Kemudian mereka melucuti semua emas yang saya kenakan. Bahkan mereka memeriksa saya dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Mereka mengira saya menyembunyikan emas di tempat yang lain.” Tutur Bu Ratno.
“Masih beruntung saya dan Diah Astuti tidak diapa-apakan Bu. Mereka melucuti semua kalung, gelang dan jam tangan saya. Mereka juga memeriksa semua lemari pakaian.” Ungkap Siti Amanah.
Disambung cerita Asikin. “Seperti biasanya setiap malam minggu kami dapat giliran meronda. Tadi malam kami nonton tv di rumah Pak Ratno. Biasanya kami setiap satu jam sekali kami berkeliling kampung. Tapi karena hujan deras, kami mampir di rumah Pak Ratno sambil menunggu hujan reda. Eh…, malah hujannya semakin deras. Sehingga kami nonton tv di rumah Pak Ratno sampai malam”.
“Sedang asyik-asyiknya nonton tv tiba-tiba ada lima orang yang menghampiri kami. Mereka semuanya mengenakan penutup kepala dan pakaiannya serba hitam. Tanpa permisi mereka dengan seenaknya mengancam dan menodongkan pistol di kepala saya. Kemudian mereka mengikat tangan dan kaki kami. Begitu ceritanya.”
“Ada-ada aja kamu ini Pak Asikin, masa perampok harus permisi dulu sama kamu. Maaf Pak permisi, saya mau menodong kepala bapak pakai pistol ini, begitu ya maunya Pak Asikin, hahaha….” Sahut Ujang.
“Kayaknya yang merampok tadi malam ada delapan orang, yang lima orang masuk ke dalam rumah. Tiga orang lagi berjaga-jaga dari luar. Tadi malam saya tidak berani melawan mereka. Soalnya ada satu perampok yang membawa pestol. Dia langsung menempelkan pestolnya di kepala saya. Coba kalau Cuma badik, pasti perampok-perampok itu sudah saya sikat habis ! Kalau saya melawan nanti teman-teman saya jadi korban. Makanya saya diam saja. Biarlah mereka mengikat tangan dan kaki saya. Yang penting teman-teman saya selamat semua.” Sambung Asikin.
“Halah pak-pak. Gede omong aja. Pak Asikin, memang pinter bersilat lidah. Buktinya tadi malam Pak Asikin tidak berkutik sama sekali. Bahkan wajahnya pucat pasih ketakutan, hahaha… .”Sangkal Pak Barjo.
“Ya tuh Pak Asikin diam saja tadi malam. Bahkan ketakutan sampai mau terkencing-kencing waktu tangan dan kakinya diikat oleh perampok. Pak Asikin memang jago kandang hahaha…”. Ledek Pak Dastam.
“Gimana saya tidak takut Pak Datam, wong rampoknya banyak banget sih hahaha…”
“Tuh kan, Pak Asikin baru ngaku hahaha… . Udahlah Pak Asikin tidak usah gede omong, nanti kalau perampok-perampok itu datang lagi, apa Pak Asikin berani ngadepin sendirian ? Paling-paling juga lari terbirit-birit hahaha… .” Pak Asikin terdiam mendengar ledekan Pak Dastam.
Berita terjadinya perampokan di rumah Pak Ratno tersebar sangat cepat dan menjadi perbincangan hangat warga . Banyak warga yang berdatangan di rumah Pak Ratno untuk mendengar cerita langsung dari Pak Ratno. Pak Ratno pun menceritakan peristiwa perampokan itu kepada warga yang datang di rumahnya. Pak Ratno mempraktekan gaya para perampok itu kepada warga.
“Diam pak ! Kalau mau selamat jangan berteriak Pak ! Ayo jongkok ! Ikuti saja perintah kami ! Kalau Bapak melawan, kami tak segan-segan menembak kepala bapak. Jongkok Pak !” Pak Ratno menirukan gaya para perampok itu.
Warga dengan serius mendengarkan cerita dari Pak Ratno. Dengan bergaya sangar, Pak Ratno mempraktekan gaya para perampok itu. Setelah mendengar cerita Pak Ratno, warga menyarankan agar Pak Ratno melaporkan peristiwa perampokan itu kepada Polisi. “Apa Pak Ratno sudah lapor polisi pak, siapa tahu pelakunya dapat terungkap ?”
“Untuk apa lah pak saya lapor polisi. Apa mungkin, harta saya bisa kembali lagi ? Mendingan saya kerja lagi cari duit pak. Saya tidak mau dibuat ribet. Disuruh inilah-itulah, eh…, ujung-ujungnya saya dibuat capek sendiri pak. Belum lagi kantor polisinya jauh pak. Tidak mungkin harta saya akan kembali lagi. Malah yang ada saya akan direpotkan wira-wiri ke kantor polisi. Percuma kan waktu saya terbuang sia-sia ?”.
“Coba dulu pak, jangan pesimis begitu. Kalau pun Polisi tidak bisa mengungkap perampokan itu, paling tidak kewajiban kita sebagai warga Negara yang baik sudah melaporkan kejadian itu.”
“Kalau saya lebih baik cari yang pasti-pasti ajalah pak. Biarkan saja harta yang sudah hilang. Mungkin itu bukan milik kami pak.” Ucap Pak Ratno.
“Maaf saya hanya ngasih saran loh Pak Ratno. Ada pun mau melaporkan atau tidak itu hak Pak Ratno.”
“Ya Pak terima kasih saran nya ya.”
“O ya sama-sama Pak Ratno, kalau begitu saya pamit dulu ya pak.”
Setelah mendengarkan cerita langsung dari Pak Ratno, satu-persatu warga mulai berpamitan dan pulang ke rumahnya. Pak Ratno pun menyusul pergi entah ke mana dan baru pulang pada keesokan harinya. Pagi itu Pak Ratno pulang ke rumahnya dengan ditemani beberapa orang membawa kendaraan baru. Hal ini membuat warga sangat heran sekali. Karena secepat itu pula Pak Ratno membeli sepedah motor dan mobil baru.
“Kok baru saja dirampok Pak Ratno sudah membeli mobil dan sepedah motor baru, apa Pak Ratno tidak takut pak ?”.
“Kenapa harus takut Pak Tambur, kalau saya dirampok lagi nanti saya beli mobil yang lebih bagus lagi dari ini.”
“Kok malah saya yang jadi takut Pak Ratno ?”. “Takut apa loh Pak Tambur. Yang seharusnya takut itu saya. Saya sudah pernah ditodong pestol oleh perampok itu. Terus waktu saya dirampok Pak Tambur lagi di mana ?. Kok tumben tidak main ke rumah ?”.
“Loh Pak Ratno mencurigai saya ya, kalau yang merampok itu adalah saya ?”.
“Bukan begitu Pak Tambur, mungkin kalau malam itu Pak Tambur ada dirumah saya, Pak Tambur ikut jadi korban juga. Seperti Asikin dan yang lainnya, hahaha… .”
“Maaf Pak Ratno kemarin malam hujan deras. Saya mau ke rumah tidak punya payung. Jadi semalaman saya nunggu hujan reda sampai ketiduran. Bangun-bangun eh, malah sudah kesiangan. Itu pun bangunnya setelah mendengar suara kentongan.”
“Untung saja malam itu Pak Tambur tidak ada di rumah. Coba kalau malam itu ada, pasti ikut diikat juga oleh para perampok hahaha… .”
“Untungnya malam itu saya ketiduran pak. Saya kecapean setelah seharian manen padi di sawah.”
Kabar Pak Ratno telah membeli kendaraan baru tersebar sampai ke telinga warga. Bahkan ada juga warga yang sempat curiga kepada Pak Ratno seperti kecurigaan Pak Panjul. “Baru saja dirampok, kok Pak Ratno sudah beli motor dan mobil baru lagi ya Pak slamet. Kok duitnya tidak habis-habis. Apa Pak Ratno bisa mencetak uang sendiri ya ?”.
“Wajar lah Pak Panjul , Pak Ratno kan juragan di kampung ini. Jadi wajar saja kalau Pak Ratno banyak duitnya.”
“Menurut saya justru tidak wajar Pak Slamet. Masa secepat itu Pak Ratno kembali punya uang banyak. Dia kan hartanya telah habis dikuras oleh para perampok.
“Mungkin Pak Ratno punya tabungan Pak Panjul. Jangan curiga begitu. Saya malah ikut senang kalau Pak Ratno punya ini dan itu lagi.”
“Bukannya saya tidak ikut senang Pak Slamet. Saya hanya heran saja. Kok baru dirampok langsung beli ini dan itu. Apa Pak Slamet tidak curiga ?”.
“Sudah lah Pak Panjul tidak baik kita ngomongin orang. Apa lagi Pak Ratno sudah banyak berbuat baik sama warga di kampung ini. Coba kalau Pak Ratno jatuh miskin. Terus kita mau nonton tv di mana lagi hayo ?”.
“Ya ya Pak Slamet, maaf saya khilaf. Udah yuk kita berangkat ke sawah” ajak Pak Panjul mengahiri pembicaraannya.
Pak Panjul meninggalkan Pak Slamet pergi ke sawah sambil memanggul cangkul di pundaknya. Sementara Pak Slamet sendiri masih di persimpangan jalan, merefresh kembali kata-kata yang disampaikan oleh Pak Panjul.
“Benar juga ya yang dikatakan Pak Panjul itu. Hari pertama setelah Pak Ratno di rampok besoknya langsung beli kendaraan baru. Ini baru beberapa hari saja sudah kembali lagi membeli motor dan mobil baru.” Pak Slamet menggeleng-gelengkan kepala merasa heran. Kemudian Ia menyusul Pak Panjul berangkat ke sawah.
Pak Ratno memang terlalu tergesa-gesa membeli ini dan itu. Membuat warga di kampungnya mulai curiga kepada Pak Ratno. Warga merasa heran kepada Pak Ratno yang baru-baru ini rumahnya dirampok malah uangnya justru semakin banyak. Namun warga tidak mau menduga-duga lebih jauh lagi dan tidak mau ambil pusing dengan pekerjaan Pak Ratno. Yang penting setiap malamnya warga masih bisa nonton tv di rumah Pak Ratno.
PERSETRUAN DUA SAHABAT
Siti Amanah merupakan salah satu kembang desa di kampungnya. Maka tidak heran jika Ia menjadi rebutan para kumbang. Bahkan dijadikan perlombaan oleh para pemuda untuk bisa menyunting anak juragan padi itu. Termasuk Mas Hari dan Purwantu yang sejak kecil bersahabat. Mereka rela persahabatannya terkoyak dan pecah di tengah jalan. Lantaran keduanya harus bersaing memperebutkan Siti Amanah.
Perpecahan dua sahabat ini dilatar belakangi urusan asmara. Mas Hari yang hatinya kepincut Siti Amanah tidak mampu lagi memendam perasaannya. Ia menceritakan semua hatinya kepada Purwanto. Pedahal sahabatnya itu juga diam-diam jatuh hati pada bunga desa sang pemilik wajah cantik. Akibatnya Purwanto merasa cemburu dengan Mas Hari. Namun rasa cemburunya itu ditutupinya rapat-rapat. Sampai-sampai Mas Hari sendiri tidak tahu kalau Purwanto juga menara perasaan yang sama pada Siti Amanah.
Mas Hari tanpa berfikir panjang menceritakan rahasia pribadinya kepada sahabatnya. Mas Hari tidak tahu curhatannya itu membuat luka hati Purwanto. Purwanto semakin merasa cemburu. Namun Purwanto menutupi rasa cemburunya dan seolah-olah Ia tidak pernah menyimpan rasa pada Siti Aminah.
“Pur saya kok lama-lama tidak bisa ya membohongi perasaan saya kepada Siti Amanah. Kira-kira saya harus gimana ya Pur ?”.
“Ungkapkan saja loh perasaan kamu itu. Nanti kalau dipendam terlalu lama, bisa-bisa kamu cepat tumbuh uban.”
“Terus bagaimana cara mengungkapkannya Pur ? Kamu tahu kan, jangan kan mau ketemu Siti Amanah. Melihat wajahnya saja dari jauh aku mau pingsan.”
“Ah dasar cemen lo ! Kalau begitu, tuangkan saja perasaan mu itu lewat surat. Nanti saya yang ngantar surat itu.”
“Ih, makacih deh, kamu emang sahabat ku yang paling baik di seluruh kampung ini” sambil mencubit pipi sahabatnya itu.
“gombal lo. Giliran ada maunya aja, kamu bilang begitu.” Purwanto sambil merengut.
Akhirnya Mas Haripun segera mengambil secarik kertas dan menuangkan perasaannya lewat tintanya. Setelah itu memberikannya kepada Purwanto tanpa menaruh sedikit pun curiga kepadanya. “Gimana Pur, bagus nggak ya kata-kata ku ini ?”.
“Boleh juga tuh. Ternyata diam-diam kamu pandai juga ya ngegombal. Kasian tuh Siti Amanah Lo gombalin.”
“Aku tidak ngegombal kawan. Ini perasaan ku yang sesungguhnya. Tolong ya kamu antarkan surat ini ke Siti Amanah. Tapi jangan sampai ada yang tahu ya. Nanti aku malu.”
“Emangnya kenapa, kok malu ?”.
“Malu lah takut cinta ku ditolak tahu !”
“Loh ! Emangnya selama ini Siti amanah belum tahu, kalau kamu ini naksir dia?”.
“Aku sendiri tidak yakin Pur. Apakah dia sudah tahu apa belum. Yang jelas surat ini harus sampai langsung ke tangan dia ya.”
“Baiklah kawan, dan akan aku pastikan kamu segera menerima balasannya ya.” Purwanto menerima surat Mas Hari lalu memasukan ke kantung sakunya. Setelah itu Ia pergi meninggalkan Mas Hari. Keesokan harinya Purwantu mendatangi Mas Hari di rumaahnya, lalu menyodorkan sepucuk surat kepada Mas Har.
“Panjang umur kamu Pur, pagi-pagi sudah datang kemari. Baru saja aku mikirin kamu. Ada kabar apakah gerangan ?”.
Purwanto diam lalu merogoh kantung bajunya dan menyerahkan sepucuk surat itu kepada Mas hari. “Ini kawan surat balasan dari siti Amanah.”
“Cepat sekali ya mendapat balasan. Jangan-jangan isi surat ini tidak sesuai dengan yang aku harapkan. Aku takut membukanya. Kamu saja yang baca Pur.”
“Kalau saya yang membaca nanti saya tahu dong isi surat ini.”
“Tidak apa-apa kok Pur. Kamu kan sahabat terbaik ku.” Ucap Mas Hari.
Purwanto pun perlahan membuka surat itu lalu membacakannya. Sementara Mas Hari dengan perasaan dag dig dug, menanti isi surat balasan yang akan dibacakan Purwanto. Kemudian Purwanto membacakan isi surat itu sebaris demi sebaris. Mas Hari yang semula tegang mendadak rileks sambil senyum-senyum kecil mendengarkan isi surat itu. Bahkan Dia sendiri langsung mengambil surat itu dan membacanya sendiri.
“Sini Pur biar aku saja yang membacanya” menyambar surat itu dari tangan Purwanto.
“Ih dasar curang ! Giliran tahu isinya langsung aja main sambar. Besok-besok aku males lah nganterin suratmu.” Purwanto sedikit kesal.
“Jangan marah begitu geh Pur. Maaf sangking senengnya aku tidak bisa ngontrol perasaan ku. Terima kasih ya. Kamu memang kambing congek ku yang setia.” Sambil menggoda Purwanto.
“Dasar semprul ! Emang tidak ada kata lain yang lebih baik selain kambing congek ?”ucap Purwanto.
“Baiklah kawan. Secara resmi mulaai sat ini aku panggil kamu mak comlang ya ?”.
“Buset ! Emang ya beginilah nasib diri ku ini. Dari dulu selalu kamu tindas .”
“Bisa aja kamu ini Pur, hahaha….”
Mas Hari tidak tahu kalau surat yang diterimanya itu bukanlah balasan dari Siti Amanah. Melainkan surat yang sengaja dibuat oleh Purwanto. Karena Purwanto tidak pernah menyampaikan surat Mas Hari kepada Siti Amanah. Purwanto tidak mau siti Amanah mengetahui kalau Mas Hari mencintainya. Setiap kali Mas Hari mengirim surat kepada Siti Amanah, seketika itu juga Purwanto merasa sangat cemburu sekali. Itulah sebabnya Purwanto tidak pernah menyampaikan surat itu kepada siti Amanah. Purwanto juga diam-diam ingin membuat surat untuk Siti Amanah. Tapi dia tidak berani takut ketahuan Mas Hari.
Sampai suatu ketika Mas Hari kembali menitip suratnya kepada Purwanto. Kali ini Purwanto benar-benar sangat cemburu. Purwanto lagi-lagi tidak mau menyampaikan surat Mas Hari kepada Siti Amanah. Purwanto juga tidak menulis surat balasan untuk Mas Hari. Membuat Mas Hari berhari-hari bahkan berminggu-minggu menunggu balasan suratnya. Setiap kali Mas Hari menanyakan balasan suratnya, Purwanto berusaha menghindar dan selalu menjawab belum ada balasan.
Hingga suatu ketika akhirnya Mas Hari memberanikan diri untuk menanyakan langsung ke Siti Amanah. Ia datang ke rumah Siti Amanah yang kebetulan hari itu sedang sendirian ada di rumahnya.
“Tumben Mas Hari sendirian. Biasanya ke mana-mana selalu berdua dengan Mas Purwanto. Ke mana dia Mas ?”.
“Ngga tahu Purwanto ada di mana ? Makanya aku datang sendiri ke sini.”
“Kayaknya penting banget. Ada apa ya mas ?”.
“Sebelumnya aku minta maaf ya mba. Ada sesuatu yang akan aku tanyakan kepada Mba Siti.” Mas Hari berusaha menyembunyikan rasa groginya. Namun rasa groginya diketahui oleh Siti Amanah.
“Kok sampai grogi begitu sih mas. Santai aja ya. Tidak usah sungkan-sungkan katakana saja loh mas, ada apa ?”.
“Ya maaf mba, aku kok jadi grogi begini sih. Aku ingin menanyakan suatu hal kepada Mba Siti. Tapi aku takut Mba Siti akan marah.”
“Nggak loh mas. Masa sih aku akan marah sama Mas Hari yang selama ini aku kenal baik. Tanyakan saja loh mas, tidak usah sungkan-sungkan. Aku tidak akan marah kok.”
“Begini mba, sebulan yang lalu aku pernah nitip surat kepada Purwanto. Apa Mba Siti menerimanya ?”.
“Maaf Mas Hari, aku tidak pernah menerima surat tuh dari Purwanto. Kemarin Purwanto main ke sini juga tidak pernah ngomong apa-apa ?”.
“Oh begitu ya mba. Pedahal sudah beberapa kali aku nitip surat dan langsung dapat balasan. Baru kali ini deh surat yang aku titip ke Purwanto tidak sampai ke tangan Mba Siti Amanah.”
“Tunggu Mas Hari. Kalau saya tidak salah dengar, Mas Hari sudah beberapa kali menitip surat lewat Mas Purwanto, dan selama ini langsung mendapat balasan. Bukan begitu ya mas ?”.
“Ya betul, Mba Siti.”
“Waduh, ini perlu kita luruskan Mas Hari. Selama ini aku sama sekali tidak pernah menerima surat dari Mas Hari. Bagaimana mungkin aku membuat surat balasan ?. Wong isinya aja aku ga tahu loh mas.”
“Lalu siapa ya mba, yang selama ini sudah membohongi aku ? Terus siapa geh yang membalas surat ku itu ?”. Mas Hari merasa malu dan kecewa.
“Maaf Mas Hari, apa sekarang Mas Hari membawa surat balasannya itu ?. Coba aku lihat.”
“kebetulan suratnya aku bawa mba. Ini suratnya.”
Mas Hari memberikan surat itu kepada Siti amanah. Siti Amanah mengamati isi dan tulisan surat itu. Ia memperhatikannya dengan serius sekali. Hingga kelopak matanya sedikit mengkerut. Sementara Mas Hari tetap diam sambil sesekali melirik wajah Siti Amanah yang cantik. Beberapa saat kemudian, Siti Amanah melipat surat itu lalu berkata,” Ini bukan tulisan ku mas. Jadi selama ini Mas Hari sudah dibohongi oleh Purwanto.”
“Maksud Mba Siti apakah ini tulisan tangan Purwanto ?”.
“Ya betul Mas Hari. Tapi aku mohon ya mas. Mas Hari jangan sampai marahin Purwanto ya ?. Yang penting kan aku sudah tahu kalau Mas Hari suka sama aku, hehehe… . Kenapa tidak berani mengatakannya mas ?”.
“Aku takut bertepuk sebelah tangan mba.”
“Loh Mas Hari harus gentleman dong. Masalah diterima atau tidak, itu urusan belakangan yang penting berani dulu mas. Belum tentu juga kan, aku akan menolak Mas Hari.”
“Ya Mba Siti, lain kali aku akan mencoba untuk memberanikan diri” jawab Mas Hari pelan.
“Kenapa harus nunggu lain kali mas. Coba katakan sekarang !” Siti Amanah menantang keberanian Mas Hari.
“Ya mba aku mau jujur. Sebenarnya sudah lama aku mencintai Mba Siti Amanah. Apakah Mba Siti mau menikah dengan ku ?”.
Siti Amanah tidak langsung menjawab curahan hati Mas Heri. Ia menundukan kepalanya lalu diam beberapa saat. Kemudian perlahan Siti Amanah mengangkat kepalanya dan memandang wajah Mas Hari yang tulus.
“Maaf kan saya Mas Hari.” Siti Amanah tidak melanjutkan ucapannya.
Mas Hari berusaha tegar mendengarkan jawaban Siti Amanah sambil memandang wajah bunga desa yang duduk di hadapannya.Ia melanjutkan lagi ucapannya. “Walaupun Mba Siti sudah menolak ku, aku tidak merasa sakit hati mba. Yang penting aku sudah jujur mengatakannya. Sekarang aku sudah tidak merasa lagi terbebani oleh perasaan ku ini. Aku sudah merasa lega mba.”
“Aku belum memberi jawaban loh mas. Dengarkan dulu ? Memang aku menolak untuk dijadikan pacar oleh Mas Hari. Tapi aku tidak menolak kalau dijadikan istri oleh Mas Hari.”
“Apa ?! Apa aku tidak salah dengar Mba Siti ?” Mas Hari tak percaya.
“Tidak mas. Sebenarnya sudah lama juga aku menyimpan perasaan yang sama dengan Mas Hari. Kalau Mas Hari serius, tolong lamar aku secepatnya mas. Jangan sampai keduluan orang.”
“Terima kasih ya mba Siti. Secepatnya kedua orang tua ku akan datang melamar Mba Siti.”
“Ya mas. Tapi mulai sekarang jangan panggil aku Mba siti ya. Soalnya terasa canggung sekali. Panggil adek aja ya ?”.
“Ya Mba Siti. Eh maaf, maksud ku Dek Siti. Sekarang aku pamit dulu ya. Tidak enak lama-lama di sini.”
“Baik Mas Hari. Aku tunggu ya ?”.
Mas Haripun segera pamit dengan Siti Amanah dan langsung pergi. Hari itu Mas Hari tidak langsung pulang ke rumahnya, tapi pergi menuju rumah Purwanto. Kebetulan hari itu Purwanto sedang duduk di depan rumahnya sambil mendengarkan radio. Purwanto pun melihat kedatangan Mas Hari yang secara tiba-tiba.
“Mimpi apa ya semalam ? Kok tumben ada yang mau datang ke sini. Biasanya juga saya terus yang datang ke sana.”
“Pur aku ada perlu sama kamu. Ternyata selama ini kamu tega ya ! Sudah berani membohongi ku !”
“Membohongi apa ?!”
“Ternyata selama ini tidak ada satu pun surat ku yang sampai ke tangan Siti Amanah !. Bahkan kamu sendiri tega menulis surat seolah-olah itu surat itu dari Siti. Apa maksud kamu Pur ?!. Tega betul kamu ini ya ?!”.
“Oh…, kamu ingin tahu alasannya ?”.
“Ya aku ingin tahu ?!”.
“Aku tidak suka kamu berhubungan dengan Siti Amanah !”.
“Apa hak kamu melarang ku berhubungan dengan dia. Ayo jawab ?!”.
“Saya juga mencintai Siti Amanah ! Hanya sayalah yang berhak memiliki dia ! Bukan kamu !” Purwanto menunjuk wajah Mas Hari.
“Ternyata ya, selama ini diam-diam kamu ini adalah pagar makan tanaman. Aku tak menyangka kamu tega berbuat serendah itu !”.
“Saya tidak perduli ! Apa pun caranya saya harus bisa memiliki Siti Amanah, dan mulai sekarang persahabatan kita putus ! Mulai sekarang saya tantang kamu Mas Hari ! Saya, atau kamu yang akan mendapatkan Siti Amanah !”. Purwanto masuk ke dalam rumah sambil membanting pintunya dari dalam, daarr… !. Mas Hari terdiam kemudian pulang ke rumahnya.
Sampai di rumah Mas Hari merenung di dalam kamar, memikirkan ucapan Purwanto yang menantangnya untuk memperebutkan Siti Amanah. Mas Hari juga menyesalkan sikap Purwanto yang memutuskan tali persahabatannya yang telah mereka pupuk sejak masih kecil. Mas Hari menarik napas panjang dan menggeser duduknya.Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar sambil memandang foto yang tergantung pada dinding tembok.
Mas Hari bangun dan mengambil foto yang berbingkai warna keemasan kemudian duduk kembali sambil memandang foto dirinya yang sedang merangkul sahabatnya itu. “Kenapa persahabatan kita harus berakhir sampai di sini Pur ? Kenapa ?!”. Sambil mengelap debu yang menempel difotonya. Mas Hari kemudian memandang foto itu sambil menitikan air mata. Kemudian Mas Hari menjatuhkan badannya dipembaringan sambil memeluk foto kenangan terakhir dengan Purwanto.
Pandangannya menerawang pada genteng rumah yang tertembus sinar matahari. “ Ya, Apa boleh buat ! Mungkin ini adalah ujian terberatku untuk mendapatkan Siti Amanah. Walau aku harus kehilangan sahabat ku sekalipun, aku tidak akan mundur. Aku akan memperjuangkan cinta ku ini sampai aku berhasil menikahinya.” Kemudian Mas Hari pergi ke ruang tamu dan menemui kedua orang tuanya yaitu Pak Suro dan Bu Suro yang sedang duduk berdua.
“Ono opo toh lih, ko pasuryan mu kusut begitu ? Sini duduk, coba bilang sama ibu dan bapak mu. Ono opo toh lih?”.
Mas Hari kemudian duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu jati, lalu menyampaikan niatnya untuk melamar Siti Amanah.
“Begini pak, bu sebelumnya ananda minta maaf. Ananda ingin bapak dan ibu melamar Siti Amanah secepatnya. Soalnya ananda takut Siti Amanah keburu dilamar orang.”
“Opo koe bener-bener wis mantep toh lih ? Opo koe yakin Pak Ratno bakalan menerima mu menjadi menantunya ?” Tanya Bu Soro.
“Kulo yakin ibu.” Jawab Mas Hari meyakinkan ibunya.
“Ya udah mas, kalau kamu sudah mantap begitu, besok siang bapak dan ibumu akan datang melamar Siti Amanah.” Jawab Pak Suro.
“Injih pak, bu matur suwun. Sak niki ananda nyuwun pamit yo pak.” Mas Hari pun kembali ke kamarnya pergi meninggalkan Bu Suro dan Pak Suro dengan wajah yang berseri-seri.
Keesokan harinya sekitar jam tiga sore, keluarga Pak Suro datang ke rumah Pak Ratno. Pak Suro mengetuk pintu lalu mengucapkan salam kepada Pak Ratno yang sedang duduk di ruang tamunya. Pak Ratno mempersilahkan Pak Suro dan rombongan untuk masuk ke rumahnya.
“Oh Pak Suro dan Bu Suro. Monggo silahkan masuk pak.” Mereka pun segera masuk dan dipersilahkan duduk oleh Pak Ratno.
“Silahkan duduk Pak Suro dan Bu Suro. Oh ya, ngomong-ngomong kayaknya ada yang sangat penting sekali Pak Suro. Sampai-sampai membawa rombongan ke mari. Kira-kira apa yang bisa kami bantu pak ?” Pak Ratno membuka percakapan.
“Begini Pak Ratno, sebelumnya saya dan rombongan mohon maaf ya Pak. Kalau kedatangan kami ini secara tiba-tiba sehingga membuat bapak dan keluarga sedikit merasa terkejut. Kalau Pak Ratno dan keluarga tidak keberatan, kami bermaksud meminang anak bapak yang bernama Siti Amanah Pak.”
“Loh, Pak Suro kan sudah punya istri, apa Bu Suro akan mengizinkan kalau Pak Suro menikah lagi ?’’
“Bukan untuk suami saya Pak Ratno, tapi untuk anak kami yaitu Mas Hari.”
“Kirain untuk Pak Suro, hahaha… .” Canda Pak Ratno.
“Ah Pak Ratno ini bisa aja bercanda. Mana mungkin lah pak saya akan mengizinkan Pak Suro menikah lagi. Wong satu istri saja tidak habis-habis kok pak. Lagian Bapaknya sudah tua, apa dia masih sanggup menikah lagi, hehehe… .”
“Ibu ini loh meremehkan bapak, gini-gini bapak ini masih kuat loh bu, hahaha… .” Pak Suro menimpali ucapan istrinya. Memnuat suasana di rumah Pak Ratno tidak tegang.
“Terima kasih Pak Suro dan Bu Suro yang telah memberikan kepercayaan kepada anak kami. Tapi maaf ya pak, karena ini menyangkut masa depan anak, kami tidak bisa memutuskan begitu saja. Biarlah anak saya sendiri yang memutuskan ya. Bukan begitu Pak Suro ?”.
“Oh injih Leres Pak Ratno, itu keputusan yang tepat sekali.” Ucap Pak Suro.
“Ndu Siti… .”
“Dalem pak.”
“Ke sini dulu ndu.” Siti Amanah pun datang mendekati Pak Ratno sambil menyapa kepada keluarga Pak Suro.
“Oh pak, bu, dari tadi ?” Sapa Siti Amanah. Kemudian Siti Amanah mendekati Pak Ratno.
“Enten nopo pak ?”.
“Panggil ibu mu ya suruh ke sini, sama kamu juga ya ndu.” Ucap Pak Ratno.
“Injih Pak.” Jawab Siti Amanah lalu pergi meninggalkan Pak Ratno. Tidak lama kemudin Siti Amanah datang berdua dengan Bu Ratno, lalu duduk di sebelah Pak Ratno.
“Begini ndu, kedatangan Pak Suro dan Bu Suro, bermaksud ingin meminang kamu Ndu. Beliau berdua ingin kamu menjadi menantunya. Kamu akan dijodohkan dengan Mas Hari. Apakah kamu bersedia Ndu ?”.
“Terserah bapak aja ya pak, Siti nurut aja.”
“Loh kok terserah bapak. Kan kamu Ndu yang akan menjalaninya. Bapak tidak akan memaksa kamu loh ndu. Katakan saja yang jujur, kalau kamu mencintai Mas Hari ya terima saja. Tapi kalau kamu tidak mencintai Mas Hari yo tinggal bilang saja. Tidak usah takut ya Ndu. Kami tidak akan memaksa kamu, ndu. Coba kamu pikirkan baik-baik ya ndu. Kasihan dong Pak Suro dan Bu Suro menunggu jawaban dari kamu Ndu. Kalau kamu malu untuk menjawabnya, tinggal anggukan kepala atau menggelengkan kepala saja.”
“Kalau kamu menerima Mas Hari cukup dengan menganggukan kepala. Tapi kalau kamu tidak bersedia menerima Mas Hari, cukup dengan menggelengkan kepala ya. Bukan begitu Bu Ratno ?”.
“Injih leres Pak Ratno.” Jawab Bu Ratno.
“Nah sekarang kamu jawab dengan jujur ya ndu. Apakah kamu bersedia menerima pinangan dari Mas Hari ndu ?”.
Untuk beberapa saat siti Amanah menundukan kepalanya sambil terdiam. Kemudian menarik napas sambil perlahan mengangkat kepalanya, lalu memandang wajah Bu Suro. Bu Suro terlihat sedikit tegang menunggu jawaban dari Siti Amanah. Tidak lama kemudian Siti Amanah pun mengangguk-anggukan kepalanya.”
“Jadi Mbak Siti menerima pinangan dari kami ?”. Tanya Bu Suro tak percaya.
“Injih Bu.” Jawab siti dibarengi dengan anggukan kepala.
Seraya rombongan itu langsung bersorak sorai sambil bertepuk tangan bahagia. “Horee…, terima kasih ya Mba Siti. Hari ini ibu merasa bahagia sekali.” Ucap Bu Suro.
“Pak Suro dan Bu Suro, baru saja kita sama-sama telah mendengar jawaban dari Ndu Siti. Sekarang kita tinggal menentukan hari dan tanggal pernikahan anak-anak kita Pak Suro”.
“Silahkan tentukan waktunya saja Pak Ratno, kami manut saja.” Jawab Pak Suro. “Tolong ambilkan kalender itu bu ?”. Bu Ratno mengambil kalender yang tergantung pada dinding tembok di dekat tempat duduknya. Lalu memberikannya kepada Pak Ratno.
Pak Ratno kembali memulai pembicaraannya sambil memegang kalender. “Bagaimana kalau pernikahannya minggu pertama bulan depan Pak Suro ?” Sambil menunjukan tanggal pada kalender.
“Oh ya Pak Ratno, kami sangat setuju jika pernikahannya dilaksanakan lebih cepat.” Ucap Pak Suro.
“Tidak ! Siti Amanah tidak boleh menikah dengan Mas Hari !”. Bentak Purwanto yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu.
“Siti Amanah hanya boleh menikah dengan saya !”.
Siti Amanah segera menghampiri Purwanto yang sedang emosi lalu berusaha menenangkannya.
“Mas Purwanto, kita sudah berteman sejak dari kecil. Sikap mu tadi bukanlah sifat Mas Purwanto yang aku kenal selama ini mas. Mengapa Mas Purwanto tega berbuat begitu mas ? Ayo duduk dulu, lalu kita bicarakan baik-baik.”
Seketika kemarahaan Purwanto luluh setelah mendengar ucapan dari Siti Amanah. Sementara keluarga Pak Suro dan Pak Ratno, membiarkan Siti Amanah memberikan pengertian kepada Purwanto. Mereka diam saja sambil memperhatikan gerak-gerik Purwanto yang kini telah berubah menjadi seratus delapan puluh derajat. Di depan Siti Amanah ternyata Purwanto bertekuk lutut dan tidak berani menatap mata Siti Amanah. Ia tertunduk lesu seperti bocah yang sedang dimarahi ibunya.
Kejadian ini membuat keluarga Pak Suro semakin bertambah kagum kepada calon menantunya. Siti Amanah yang selama ini dikenal sebagai pribadi yang sangat lemah lembut, ternyata menyimpan ketegasan dan keberanian yang luar biasa. Pantas saja Mas Hari memilihnya untuk menjadi calon pendamping hidupnya. Bu Suro merasa sangat yakin dengan pilihan anaknya.
Begitu juga dengan Pak Ratno dan Bu Ratno hari itu mereka tak percaya apa yang sedang dilihatnya. Siti Amanah yang selama ini dikenalnya sebagai gadis yang sangat penurut dan lemah lembut, ternyata di luar dugaannya mampu meluluhkan sikap keras Purwanto. Purwanto yang tadinya sangat garang ternyata tak berkutik di depan Siti Amanah. Membuat Pak Ratno yakin bahwa anak angkatnya benar-benar sudah dewasa dan sudah layak untuk berumah tangga.
Sementara Siti Amanah masih memberi pengertian kepada Purwanto yang masih duduk terdiam. “Mas Purwanto mari kita bicara dari hati ke hati ya. Jangan emosi dan silahkan berikan alasannya, mengapa Mas Purwanto tidak setuju kalau aku menikah dengan Mas Hari ? Pedahal yang aku tahu, Mas Hari itu adalah sahabat karib mu, kan ?.”
“Ya Mba Siti, saya minta maaf. Tidak seharusnya saya berbuat seperti itu. Itu semua saya lakukan karena terbakar oleh rasa cemburu saya kepada Mas Hari. Sebenarnya saya juga mencintai Mba Siti. Bahkan rencananya besok orang tua saya mau melamar Mba Siti. Tapi semuanya berantakan gara-gara sudah keduluan oleh Mas Hari.”
“Sekarang aku mengerti alasannya mengapa Mas Purwanto jadi hilang kendali seperti itu. Aku memaklumi perasaan mu mas. Tapi tolong jangan juga kamu lukai perasaan ku mas. Selama ini aku sudah menganggap mu seperti mamas ku sendiri. Tidak lebih dari itu mas. Mungkin Mas Purwanto bukan jodoh ku mas. Jadi aku mohon ijinkanlah aku menikah dengan Mas Hari ya. Aku yakin, suatu ketika Mas Purwanto akan menemukan jodoh yang lebih baik dari ku mas.”
Tiba-tiba mata Purwanto berkaca-kaca sambil menumpahkan perasaannya kepada Siti Amanah. “Sekarang harapan ku sudah pupus Mba Siti. Ke mana lagi aku harus menggantungkan hidup ini. Mba Sitilah yang selama ini menjadi penyemangat hidup ku. Tapi sekarang semuanya sudah hancur. Lalu untuk apa lagi saya hidup.”
“Istighfar Mas Purwanto. Jangan putus asa begitu ya. Kalau Mas Purwantu sayang pada diri ku, jangan biarkan air mata ini mengalir mas. Apa Mas Purwanto tega melukai orang yang kamu cintai ini mas ? Bukankah cinta tak selamanya harus memiliki mas ? Kalau Mas Purwanto tetap nekad dan memaksakan kehandak, aku juga bisa berbuat lebih nekad lagi mas. Mas Purwanto mau ?”.
Mendengar ucapan Siti Amanah, Purwanto mencoba memandang wajah Siti Amanah sambil menggelengkan kepalanya. “Baiklah Mba Siti, saya mengijinkanMba Siti untuk menikah dengan Mas Hari. Do’akan saya ya, mudah-mudahan saya sanggup melewati semua itu dengan cara ku sendiri. Saya pamit ya Mba Siti. Semoga Mba Siti bahagia.” Lalu purwanto pergi meninggalkan Siti Amanah dengan motor bututnya.
Sambil mata berkaca-kaca Siti Amanah pun pergi ke kamarnya. Bu Ratno segera menyusul Siti Amanah. “Yang sabar ya ndu. Ini cobaan hidup mu. Kamu harus tetap semangat ya.”
“Injih bu.” Ucap Siti Amanah sambil menagis terisak-isak. Kemudian mengusap air matanya berusaha untuk melupakan kesedihannya. “Mari bu kita kembali ke depan. Tidak enak sama keluarga Pak Suro.” Bu Ratno menggandeng tangan Siti Amanah keluar dari kamarnya dan kembali lagi ke ruang tamu.
“Monggo pak, bu, tentukan tanggal pernikahannya. Kulo sampun siap bu.” Ucap Siti Amanah.
“Kamu sudah siap ndu ?” tanya Pak Rato.
“Sampun Pak.” Jawab Siti Amanah sambil menganggukan kepalanya.
“Baik Pak Suro dan Bu Suro kita langsung tentukan aja ya tanggal pernikahan anak-anak kita ?”.
“Monggo Pak Ratno.” Jawab Pak Suro.
Mereka pun segera menentukan tanggal pernikahan Siti Amanah dan Mas Hari. Setelah mereka mencapai kata sepakat, Pak Suro dan rombongan berpamitan kepada Pak Ratno.
“Oh ya Pak, kami mengucapkan ribuan terima kasih kepada Pak Ratno dan Bu Rato. Yang sudah menerima kami dengan baik. Selanjutnya kami mohon pamit ya pak. Mudah- mudahan pernikahan anak-anak kita nanti berjalan lancer ya.”
“Sama-sama Pak Suro dan Bu Suro, kami mengucapkan terima kasih juga. Kami sekeluarga minta maaf atas insiden yang seharusnya tidak terjadi pak.”
“Tidak apa-apa loh pak, namanya juga anak muda. Kita juga pernah muda kan, hahaha… .”
“Atas nama keluarga, kami juga mohon maaf ya pak. Jika ada kata-kata kami yang kurang berkenan di hati Pak Ratno dan Bu Ratno”.
Lalu mereka pergi meninggalkan rumah Pak Ratno. Pak Ratno dan Bu Ratno mengantar mereka sampai di depan rumah. Rasa bahagia tersirat pada wajah Pak Suro dan Bu Suro. Begitu juga dengan Pak Ratno dan Bu Ratno. Kemudian keduanya masuk ke dalam rumah dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Pak Ratno duduk di kursi tamu sambil mengecek transaksi jual beli padinya. Sementara Bu Ratno kembali ke dapur. Mengerjakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga ditemani Siti Amanah.
Sementara sejak Purwanto gagal menikah dengan Siti Amanah, Purwanto menjadi seorang pemuda yang ugal-ugalan dan urakan. Dia salah memilih teman setelah memutuskan persahabatannya dengan Mas Hari. Pedahal itu bukanlah watak Purwanto yang sebenarnya. Purwanto yang dulu santun telah berubah menjadi seorang Purwanto yang bringas dan senang menjailin orang lain.
Mas Hari yang sebelumnya telah bersahabat sejak kecil dengan Purwanto, merasa miris melihat sahabatnya yang telah terjerumus pada hal-hal yang negative. Purwanto menjadi gemar minum-minuman keras dan sering menggeber-geberkan motor bututnya hingga suara motornya mengganggu pendengaran orang lain. Mas Hari merasa jiwanya terpanggil untuk menyadarkan Purwanto dan ingin merubah kembali watak Purwanto yang dikenal sebagai seorang pemuda yang santun dan selalu hormat kepada siapa saja.
Ketika itu Purwanto sedang minum-minuman keras dengan para teman begundalnya, Mas Hari mencoba mendekati Purwanto dan mencoba untuk menasehatinya. Purwanto tidak terima dan merasa dilecehkan oleh Purwanto. Sehingga Purwanto secara tiba-tiba mendaratkan pukulannya pada wajah Mas Hari.
“Pur tolonglah kamu berhenti minum-minuman keras Pur. Sebagai seoarang sahabat, aku merasa sedih melihat kamu Pur.”
“Apa hak kamu melarang saya ha ?! Saya tidak suka kamu mencampuri urusan saya ! Braak… !”.
Purwanto mendaratkan pukulannya pada wajah Mas Hari. Sambil sempoyongan, Mas Hari memegang bibirnya yang pecah dan mengeluarkan darah segar. Namun Mas Hari tetap diam dan tidak membalasnya. Bahkan Mas Hari mencoba mengendalikan jiwa mudanya sambil tetap tersenyum. Membuat Purwanto semakin merasa dilecehkan oleh Mas Hari.
“Jangan sok manis begitu kamu ! Kalau tidak suka ayo lawan saya !”. Ucap Purwanto sambil mencekik leher Mas Hari.
“Hajar aja Pur, hajar ! Apa perlu orang ini kita buat perkedel ?”. Ucap salah satu teman Purwanto.
“Kalian jangan ikut campur. Ini urusan saya dengan dia. Biar saya selesaikan sendiri.” Jawab Purwanto.
“Gimana rasanya pukulan saya mas, sakit ?” Ucap Purwanto kepada Mas Hari.
“Sakitnya pukulan kamu tidak seberapa jika dibandingkan dengan sakitnya seorang ibu yang telah melahirkan anak, tetapi anak yang dilahirkannya justru tidak bisa menghargai dirinya sendiri.” Ucap Mas Hari pelan.
“Kurang ajar ! Jangan bawa-bawa nama ibu ku. Pergi sana ! Pergi… !”. Kalau tidak, teman-teman ku akan menghabisi kamu !”.
Mas Hari pun pergi sambil terus memegang bibirnya yang pecah. Sampai di rumah Mas Hari berusaha menutupi bibirnya. Namun keburu dilihat oleh Bu Suro. “Loh loh loh, kena apa bibir mu mas ? Kok sampai pecah begitu ?”.
“Tadi saya jatuh tersandung batu bu ?” Jawab Mas Hari menutupinya.
“Jalannya lihat-lihat dong mas, sana obati dulu mas ?”.
“Injih, bu.” Jawab Mas Hari lalu pergi ke kamarnya.
Sejak kejadian itu, Purwanto sudah tidak pernah lagi ngumpul bareng dengan teman-teman begundalnya. la lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah saja.
BERSATUNYA DUA SAHABAT DI PESTA PERNIKAHAN
Sebulan telah berlalu. Waktu pernikahan Siti Amanah dengan Mas Hari telah tiba. Hari itu sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara itu, telah duduk di kursi pelaminan. Keduanya telah mengikat janji suci untuk saling setia. Pasangan yang masih malu-malu kucing ini saling curi pandang. Mereka masih belum berani secara terang-terangan untuk menatap wajah pasangannya. Rasa bahagia pun telah menghampiri pasangan ini. Mereka telah berhasil memperjuangkan cintanya sampai di kursi pelaminan. Tampak dari wajah mereka terselip sejuta harapan dan impian.
Sementara tamu undangan dari berbagai desa telah datang menghadiri pernikahan Mas Hari dan Siti Amanah. Pesta pernikahan itu menjadi sedikit tegang karena tiba-tiba terdengar suara motor yang sangat mereka kenal. Benar saja motor itu dikendarai oleh Purwanto. Purwanto segera membaur dengan tamu undangan lalu mendekati pengantin. Sementara panitia sudah berjaga-jaga mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi. Dua orang panitia pun menghadang kedatangan Purwanto.
Namun Purwanto melempar senyum sambil berkata,”Saya datang untuk menemui sahabat saya mas. Izinkan saya masuk untuk memberikan ucapan selamat kepada sahabat karib ku itu. Saya berjanji tidak akan buat onar di pesta perkawinannya. Izinkan saya masuk ya ?”.
Mendengar bahasa santun yang terlontar dari mulut Purwanto, telah meyakinkan kedua orang panitia tersebut. Mereka pun membiarkan Purwanto mendekati pengantin untuk mengucapkan selamat. Namun kedua panitia tersebut masih tetap berjaga, berdiri tidak jauh dari tempat duduk pengantin.
Ucapan selamat dari kerabat dan para sahabat menambah kebahagiaan Mas Hari dan Siti Amanah. Termasuk ucapan selamat dari Purwanto, sahabat dekat Mas Hari. Purwanto yang juga pernah menaru harapan pada Siti Amanah datang ke pesta pernikahannya. Di luar dugaan Purwanto datang dengan niat baik dan lebih memilih mempertahankan persahabatannya. Ketimbang berebut cinta dengan Mas Hari. Purwanto menganggap bahwa sahabat adalah segalanya. Apa lagi Purwanto yakin, bahwa cintanya pada Siti Amanah hanya bertepuk sebelah tangan.
“Selamat ya sobat, ternyata kamulah yang menjadi pemenangnya. Maaf kan aku ya.” Purwanto menagis sambil memeluk Mas Hari
Mas Hari menyambut pelukan sahabatnya itu sambil menepuk-nepuk punggung Purwanto. “Terima kasih ya Pur. Ternyata kamu masih ingat dengan kami. Lupakan yang pernah terjadi ya. Anggap semua itu ujian dari persahabatan kita berdua.”
“Ya Mas Hari terima kasih ya. Kamu sudah menyadarkan saya. Saya menyesal telah melukai hati sahabat ku ini.”Purwanto kembali memeluk Mas Hari. Sementara tamu undangan yang lain ikut bahagia sambil meneteskan air mata. Mereka merasa terharu meliat dua sahabat itu akhirnya kembali lagi bersatu.
Purwanto kembali memberikan ucapan selamat kepada Mas Hari sambil mengeluarkan candaan kecil. “Sekali lagi selamat ya, ternyata kamulah yang menjadi pemenangnya, hahaha… .”
“Ah kamu bisa aja Pur, ini juga berkat jasa kamu. Kamu sudah menjadi mak comblang ku yang baik, hahaha… .”
“Ih enak aja. Bukan mak comblang tau, tapi korban dari kalah pertarungan hahah…”
“Ah kamu bisa aja Pur, hahaha…”
Lagi-lagi Mas Hari dan Purwanto saling berpelukan melepaskan rasa kangennya. Membuat Siti Amanah begitu sangat terharu. Pelukan hangat dari dua sahabat itu telah mengakhiri perseteruan keduanya. Sekarang mereka telah kembali lagi menjadi sahabat karib.
Pelukan dua sahabat itu juga membuat Bu Ratno tampak lega. Karena Bu Ratno menganggap kedatangan Purwanto di pesta pernikahan anaknya, akan membuat masalah baru. Namun di luar dugannya justru Purwanto datang untuk mengucapkan selamat kepada Mas Hari. Tindakan kesatria Purwanto membuat Bu Ratno terharu dan sampai meneteskan air mata. Melihat jiwa besar purwanto yang ditunjukannya pada hari ini.
Usai mengucapkan selamat pada Mas Hari, kemudian Purwanto menikmati hidangan, lalu berpamitan.
Kini tamu undangan pandangannya tertuju pada dua pengantin yang sedang berbahagia. Tidak sedikit tamu undangan diam-diam merasa kagum pada kecantikan dan ketampanan pasangan ini. Pakaian yang dikenakannya mirip pakaian penguasa Laut selatan. Sementara Mas Hari tampan seperti seorang raja yang sedang duduk di singgahsananya. Sekali-kali Mas Hari melempar senyum kepada Siti Amanah. Lalu Siti Amanah membalas senyumaan itu. Membuat muda-mudi yang menyaksikannya, pikirannya melayang membayangkan dirinya.
Tidak terkecuali juga para orang tua hadir. Mereka menghayalkan bahwa kelak anaknya akan mendapatkan pasangan seperti itu. Dari yang tua sampai yang muda hanyut dalam hayalannya masing-masing. Tidak terkecuali hayalan yang dialami oleh Samsul dan Yatno. Samsul berhayal kelak akan menikah dengan Nuryani. Sedangkan Yatno berhayal akan dapat meminang Karminah. Kedua mata remaja ini tak berkedip melihat pasangan sejoli yang kini telah menjadi ratu dan raja sehari.
Kedua remaja ini tenggelam dalam lamunannya. Mereka terkadang tersenyum sendiri, lalu menarik napas dalam-dalam. Tingkah kedua remaja ini ternyata diam-diam dibaca oleh Andi. Andi mendatangi Samsul dan Yatno, kemudian menggodanya. “Cie…, cie…, lagi pada menghayal rupanya ya hahaha… . Hayo ? Lagi pada menghayalin siapa hayo… ?. Aku tau, pasti Samsul lagi menghayalin Nuryani. Ya kan, hahaha… ?”.
“Ah kamu ini sok tau Andi. Aku tidak sedang lagi mikirin siapa-siapa kok. Apa lagi menghayal hahaha… . Mungkin Yatno tuh yang lagi menghayalin Karminah.” Samsul menutupi dirinya dengan melempar batu sembunyi tangan.
“Asem kamu Sul. Itu namanya lempar batu sembunyi tangan. Justru kamu kan yang dari tadi sedang menghayal, hahaha… ?” Balas Yatno.
“Tidak lah yauw. Aku lagi mikirin pelajaran tahu, hahaha…” Samsul ngeles.
“Pelajaran apa lah Sul Sul. Wong sekolah aja kaga. Ketahuan tuh bohongnya, hahaha…” ejek Yatno.
“Sudah sudah, kalian berdua ini sama saja. Yang jelas dua-duanya sama-sama lagi pada menghayal. Samsul lagi menghayalin Nuryani, dan kamu Yatno pasti lagi menghayalin Karminah. Ya kan, hahaha… ? Sadar ! Kalian ini masih bau kencur loh. Tidak usah punya pikiran yang aneh-aneh.” Goda Andi.
“Ih ! Jail banget kamu Andi ? Sok tahu. Kaya kamu sudah dewasa saja” Jawab Samsul sambil mencubit perut Andi.
“Iya Andi sok tau nih” Yatno menyela.
“Habis kalian sih dari tadi bengong melulu. Yuk dari pada kalian melongo kaga karuan, lebih baik temani aku makan ya.” Andi menarik tangan Samsul dan Yatno. Lalu mereka bertiga makan sambil menyaksikan kuda kepang yang sedang mengiringi pernikahan Mas Hari dan Siti Amanah.
Para penari kuda kepang itu berjoget di bawah alam sadarnya. Tubuhnya lenggak-lenggok mengikuti irama. Matanya melotot mendongak sambil mendongak ke atas. Kedua tangannya mengepal. Kemudian Pawang kuda kepang itu membakar dupa. Gerakan para penari kuda kepang itu gerakannya semakin tidak beraturan. Kemudian jatuh ke tanah sambil matanya melotot, mendongak ke atas dan kejang-kejang seperti orang kesurupan. Para penari yang sudah kesurupan itu menyantap sesajenan yang ada di dekat dupa.
Ada yang makan padi, ada juga yang makan pecahan beling kaca. Tingkahnya pun berbeda-beda sesuai dengan makanan mahluk halus yang menyurupinya. Ada yang tingkahnya seperti Si Raja Hutan, ada juga yang tingkahnya seperti seekor babi hutan. Penari yang kemasukan ruh Si Raja Hutan mengaung sambil berjoget seperti singa kelaparan. Membuat para penonton lari tunggang langgang menjauh dari tempat para penari.
Sementara penari yang kesurupan ruh babi hutan, berguling-gulingan ke tanah sambil mengunyah padi yang berada pada sesaji. Suaranya mirip seekor babi hutan yang sedang kelaparan. Ada juga penari yng tingkahnya seperti seekor kera, lucu dan sangat rakus. Ia berjalan diantara penonton sambil menggaruk-garukan tangannya. Tingkahnya lucu dan sangat jail, menggoda para penari lainnya.
Kembali pawang kuda kepang itu mulutnya komat-kamit sambil membakar dupa. Asap tebal keluar dari pembakaran dupa. Bau harum dupa merangsak ke mana-mana. Suara kendang dan gamelan terus ditabuh dan semakin lama semakin tidak beraturan. Lalu tiba-tiba suara gamelan itu mendadak berhenti. Ternyata para penabuh gamelan juga ikut kesurupan. Badannya kejang-kejang, matanya melotot dan kedua tangannya menggenggam, lalu mereka pun bangkit dan ikut menari.
Semakin sore pertunjukan kuda kepang itu semakin seru. Kesurupan demi-kesurupan terus terjadi. Sampai-sampai pawang kuda kepang pun merasa kualahan. Sehingga Ia harus memaksa para penari itu agar segera sadar. Para penari yang masih kesurupan mahluk lelembut, dipaksa untuk segera keluar dari tubuh para penari. Sambil mulut komat-kamit pawang kuda kepang itu kembali membaca mantra. Agar ruh gaib yang ada pada tubuh para penari itu segera keluar. Satu-persatu para penari itu jatuh ke tanah lalu sadarkan diri.
Pawang kuda kepang itu berjalan mengelilingi para penari, sambil membawa dupa. Mulutnya komat-kamit sambil menghentakan kaki kanannya ke tanah sebanyak tiga kali. Para penari kuda kepang itu kembali berjatuhan ke tanah. Dengan dibantu oleh beberapa penari yang sudah sadar, pawang itu memaksa para penari itu agar sadarkan diri. Mereka dipaksa agar para ruh mahluk lelembut itu segera keluar. Satu-persatu para penari itu pun mulai tersadar. Akhirnya mereka semua sudah sadar seperti sedia kala, dan pertunjukan seni kuda kepang itu telah berakhir.
Para penonton satu-persatu telah meninggalkan rumah Pak Ratno. Begitu juga dengan para tamu undangan. Ternyata sampai pertunjukan kuda kepang selesai, tamu undangan masih ada yang berdatangan. Mereka berbondong-bondong datang ke rumah Pak Ratno untuk memberikan ucapan selamat. Sampai malam hari pun rumah Pak Ratno masih ramai dikunjungi undangan.
Sehingga Pak Ratno dan Bu Ratno merasa lelah sekali. Terpaksa mereka harus beristirahat sejenak di kamarnya. Sementara di luar tamu sudah kembali mulai berjubal. Mereka menunggu antrian agar bisa bersalaman dengan Pak Ratno dan Bu Ratno untuk ikut mendo’akan pengantin. Pak Ratno dan Bu Ratno pun keluar dari kamarnya dan menyalami para tamu undangan.
Kedua mempelai juga sangat kelelahan, dan harus beristirahat sejenak. Walaupun hanya sekedar untuk mengganti pakaian. Sehingga ada undangan yang tidak bisa bersalaman langsung dengannya. Namun mereka sangat memakluminya, karena sangat ramainya para tamu undangan. Terpaksa ada beberapa tamu undangan yang tidak bisa berlama-lama dan langsung berpamitan.
Tepat jam sebelas malam terlihat tamu undangan sudah mulai berkurang. Pak Ratno dan Bu Ratno sudah bisa duduk santai sambil memijat-mijat kedua kakinya yang sudah mulai pegal. Namun mereka masih berusaha bertahan menemui tamu undangan yang baru datang. Setelah mereka berpamitan pulang, Pak Ratno menyandarkan kepalanya pada kursi di ruang tamu sampai ketiduran.
Pagi harinya Pak Ratno segera bangun sambil menikmati udara yang begitu sejuk. Ditemani Si Raja Siang sudah mulai menampakan dirinya. Pak Ratno menemani warga yang sedang bergotong royong menyusun kursi dan meja. Sebagian lagi sedang membongkar tarup. Sementara terlihat Ibu-Ibu sedang membersihkan halaman depan. Sebagian lagi membersihkan perkakas yang ada di dapur. Sebagian lagi yang laki-lakinya membantu ibu-ibu menumpuk piring dan barang berat lainnya, sambil menikmati secangkir kopi dan teh manis.
Siti Amanah dan Mas Hari duduk berbaur dengan warga. Fikri teman mas Hari melirik ke arahnya sambil menggoda Mas Hari.
“Sudah mandi junub belum Mas Hari ? Gimana malam pertamanya, ceritain dong hahaha… ?”.
Mas Hari hanya tersenyum simpul dan tidak menjawab pertanyaan Fikri. Tidak Jauh dari Mas Hari terlihat juga Siti Amanah sedang menjadi bulan-bulanan candaan teman-temannya. Suara tertawa terbahak-bahak memecah suasana yang sudah terasa sepi. Hari itu kedua muda-mudi yang telah mengakhiri masa lajangnya, menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Tapi mereka tetap cuek mendengar ledekan teman-temannya. Mas Hari dan Siti Amanah terlihat sangat bahagia. Meskipun terlihat matanya memerah lantaran kurang tidur.
Pasca menjalani prosesi pernikahan, Mas Hari tinggal serumah dengan Pak Ratno. Pak Ratno belum memperbolehkan anak dan menantunya pergi dari rumahnya. Walaupun mereka masih serumah dengan keluarga Pak Ratno, namun pasangan ini terlihat begitu bahagia. Begitu juga dengan Pak Ratno dan Bu Ratno. Mereka sangat bersyukur melihat anaknya sangat bahagia.
Beberapa hari setelah melaksanakan resepsi pernikahan anaknya, Pak ratno kembali menjalankan aktivitasnya. Mas Hari membantu Pak Ratno menjalankan usahanya sebagai juragan padi. Sedangkan Bu Ratno kembali menjaga warung klontongannya. Senyum ramah yang disuguhkan Bu Ratno memiliki daya tarik tersendiri bagi para pembeli. Sehingga Pembeli merasa nyaman belanja di warung Bu Ratno. Selain itu juga pembeli bisa mengambil belanjaan terlebih dahulu yang dibutuhkan. Bayarnya bisa menyusul kemudian.
TABIR MISTERI DI BALIK DATANGNYA BURUNG GAGAK
Pagi itu Pak Ratno sudah bersiap-siap berangkat ke rumah warga yang mau menjual padinya. Pak Ratno meminta Mas Hari untuk menemaninya. “Mas Hari tolong ikut bapak ya. Bantu bapak menimbang padi di desa sebelah. Tolong beri tahu juga Ujang dan parmo untuk segera bersiap-siap.”
“Ya pak” Mas Hari lalu pergi ke dapur memberi tahu Ujang dan Parmo yang sedang sarapan “Mas ujang dan Mas parmo, kata bapak kalau sudah selesai makannya, disuruh bersiap-siap. Kita mau menimbang padi di kampung sebelah.”
“Ya Mas sebentar lagi.” Jawab Ujang.
Setelah selesai sarapan, Ujang dan Parmo mengangkat piring dan gelas ke dapur. Lalu keduanya pergi ke samping rumah mengambil karung dan timbangan. Ujang memanggul timbangan dan membawanya ke mobil truk. Sedangkan Parmo mengangkat tumpukan karung goni dan membawanya ke mobil. Mas Hari memasukan gigi satu dan berangkat mengendarai mobilnya. Sementara Pak Ratno sudah duduk di sebelah Mas Hari sambil memberi tahu jalan yang dituju.
Kurang lebih lima belas menit, mereka sudah sampai di rumah Pak Darto. Mas Hari segera menghentikan laju mobilnya. Kemudian Pak Ratno segera turun dari mobil dan melangkahkan kakinya ke rumah Pak Darto. Diikuti Mas Hari, Ujang dan Parmo, Pak Ratno sudah sampai di depan pintu. Kemudian Pak Ratno mengetuk pintu rumah Pak Darto. Dari dalam rumah seorang laki-laki membuka pintu.
“Benar ini rumah Pak Darto ?” Tanya Pak Ratno.
“Oh ya benar pak. Saya Pak Darto. Silahkan masuk.” Pak Ratno segera masuk ke rumah Pak Darto.
“Mana padi yang mau dijual Pak ?” Tanya Pak Ratno.
“Yang tumpukan itu Pak Ratno.” Jawab Pak Darto.
Lalu Pak Ratno meminta Ujang dan Parmo memasukan tumpukan padi ke dalam karung. Sepuluh karung goni sudah terisi penuh oleh padi. Ujang dan Parmo lalu menimbang karung-karung tersebut. Mas Hari mencocokan berat timbangan padi. Sementara Pak Ratno mencatat hasil timbangan yang dibacakan oleh Mas Hari.
Setelah selesai menimbang padi, Ujang dan Parmo mengangkut karung-karung tersebut ke dalam mobil truk. Sedangkan Pak Ratno membayar padi milik Pak Darto. Lalu Pak Ratno berpamitan dan kembali ke mobilnya. Mas Hari segera menancap gas mobil. Mobil pun melaju meninggalkan rumah Pak Darto.
Seharian penuh mereka keliling kampung menemui para petani yang mau menjual padinya. Setelah mobil truk yang dibawanya sudah penuh dengan tumpukan karung padi, Pak Ratno meminta Mas Hari untuk kembali ke rumah. Mobil pun kembali melaju menuju rumah Pak Ratno. Sampai di rumah, Ujang dan Parmo menurunkan karung-karung padi itu ke gudang penampungan padi.
Tiba di rumah Mas Hari disambut senyum manis dari Siti Amanah. “Baru pulang ya mas ?”.
“Ya dek, mas mandi dulu ya.”
“Ya mas, yang bersih ya mandinya.” Mas Hari segera membersihkan badannya di kamar mandi. Sementara Siti Amanah menyiapkan sepering nasi untuk suaminya.
“Mas Hari, buruan makan dulu mas.”
“Ya dek sebentar lagi”. Mas Hari lalu datang menghampiri Siti Amanah. Siti Amanah menyambut suaminya dengan melempar senyum manisnya. Mas Hari pun membalas senyum dari istrinya, lalu duduk di sebelah Siti Amanah.
Mas Hari mengambil satu sendok nasi dan menyuapi istrinya. Siti Amanah segera membuka mulutnya. Sore itu mereka makan sepiring berdua. Mas Hari kembali menyuapi istrinya sambil membelai rambut istrinya. Siti Amanah bermanja-manja sambil melendot di pundak Mas Hari. Mas Hari tampak bersemangat menyuapi istrinya.
“ Kok adek terus yang disuapin mas. Lalu Mas Hari kapan makannya mas ?”.
“Mas Hari sudah kenyang dek.”
“Kenyang dari mana loh mas. Kan dari tadi adek terus yang disuapin.”
“Cukup memandang wajah adek yang cantik ini, Mas Hari sudah langsung kenyang dek.” Mas hari merayu sambil mencubit pipi istrinya.
“Alah gombal Mas Hari ini” Jawab Siti Amanah Sambil mencubit perut Mas Hari dilanjutkan mencium pipi suaminya.
“Hus ! Malu tahu ! Nanti ada yang melihat loh dek.”
“Biarin ajalah mas, paling juga Ujang dan Parmo yang melihat kita.”
“Sini mas sendoknya ! Sekarang giliran adek yang nyuapi ya Mas ?”.
“Asik…, kalau tiap hari disuapin begini kan, Mas Hari bisa cepet endut kaya dek Andi.”
“Mau, adek suapin terus setiap hari Mas ?”.
“Maulah dek.”
“Tapi adek ga mau loh mas, hahaha…”
“Nakal ya kamu ini.” Jawab Mas Hari sambil mencubit pipi istrinya.
Seiring dengan berjalannya waktu kini tiga bulan sudah telah berlalu. Mas Hari dan Siti Amanah menjalani bahtera rumah tangganya dengan penuh bahagia. Hubungan suami istri ini semakin lengket dan tak mungkin bisa terpisahkan. Mas Hari yang kesehariannya bekerja membantu usaha mertuanya selalu terhibur oleh istrinya. Siti Amanah yang pandai berdandan itu selalu menyambut kedatangan suaminya di depan pintu. Dengan melempar senyum manisnya menyapa kedatangan Mas Hari.
“Baru pulang Mas ? Adek buatin teh dulu ya ?”. Sapa Siti Amanah.
“Wah kalau selalu disambut begini setiap pulang kerja, rasa capek Mas Hari langsung hilang dek.”
“Mas-mas tidak bosan-bosan ngegombal terus. Mana mungkin lah mas. Wong istirahat aja belum kok sudah bilang capeknya hilang. Ngarang mas ini ? Lalu pergi menyiapkan secangkir the manis untuk Mas Hari. Mas Hari merasa beruntung bisa menikahi Siti Amanah yang begitu lembut dan sangat perhatian.
Siti Amanah yang pandai berdandan, dan selalu terlihat cantik di depan suaminya membuat Mas hari semakin mencintainya. Rambutnya yang panjang terurai ke belakang, tersapu oleh angin. Membuat Mas hari ingin selalu membelai rambut istrinya. Tutur katanya yang lembut, sambil melempar senyuman. Mencerminkan kepribadiannya yang begitu anggun. Ditambah lagi kalau Siti Amanah memakai pakaian serba ungu. Bak seorang bidadari yang turun dari kahyangan. Maka wajar saja bila Mas Hari selalu ingin berduaan saja dengan Siti Amanah.
Di saat kebahagiaan sedang menghampiri Siti Amanah dan Diah Astuti, Rumah Pak Ratno dihebohkan oleh datangnya segerombolan burung gagak. Burung-burung gagak itu datang secara tiba-tiba dan selalu bertengger di atap rumah, sambil mengeluarkan suara-suara yang kurang enak didengarnya. Kwaakkk… kwaakkk… kwaakkk… sambil terus berputar-putar. Berulang kali Pak Ratno mengusir burung-burung gagak itu namun burung-burung itu kembali lagi ke rumahnya.
“Hus ! Hu! Hus ! Pergi sana !” Pak Ratno berusaha mengusir burung-burung gagak itu.
Segerombolan burung gagak itu berputar-putar, kemudian kembali lagi dan bertengger di atas atap rumahnya, sambil mengeluarkan suara kwaaakk… kwaaakk kwaaakk… . Berulang kali burung gagak itu diusir oleh Pak Ratno, namun selalu pergi dan datang lagi. Membuat warga di sekitar rumah Pak Ratno merasa ikut terganggu. Sampai-sampai warga juga ikut mengusir burung-burung gagak itu. Namun hasilnya tetap sia-sia. Yang lebih anehnya lagi burung gagak itu hanya mau bertengger di atap rumah Pak Ratno saja. Burung-burung gagak itu tidak mau bertengger di rumah yang lainnya.
“Aneh sekali ya Pak Tambur. Burung gagak itu tidak mau pergi dari rumah Pak Ratno. Pedahal sudah berkali-kita usir.”
“Saya juga tidak habis pikir Pak Asikin. Apa sih maunya burung gagak itu ? Udah diusir eh datang lagi. Terus kita harus bagaimana ya ?”.
“Ya Pak Tambur kita capek ngusir burung-burung itu. Kaya kita tidak punya kerjaan yang lain aja, selain mengusir burung-burung itu.”
“Anehnya lagi burung gagak itu hanya mau bertengger di rumah Pak Ratno saja. Cobalah sekali-kali bertengger di rumah Pak Asikin biar adil, kan hahaha…”
“Hus ! Ngaco Pak Tambur ini. Memangnya pembagian jatah pak biar adil, hahaha…”
“Kalau dipikir-pikir memang aneh juga ya Pak Asikin, jangan-jangan datangnya burung gagak itu suatu pertanda Pak Asikin ?”.
“Pertanda apa Pak Tambur ?”.
“Saya sendiri tidak tahu Pak Asikin, yang jelas datangnya burung-burung gagak itu pasti menyimpan suatu misteri. Hanya saja saya tidak tahu ada misteri apa di balik datangnya burung-burung gagak itu Pak Asikin.”
“Bisa jadi itu Pak Tambur. Tapi kalau menurut cerita yang pernah saya dengar, kalau ada burung gagak yang datang ke rumah kita, pertanda bahwa di rumah itu akan ada yang meninggal Pak.”
“Kalau benar cerita itu, terus siapa pak yang kira-kira akan meninggal ? Kita semua kan tahu, di rumah Pak Ratno sekarang ini tidak ada yang sedang sakit. Semuanya sehat dan baik-baik saja kan Pak Tambur ?”.
“Ya Pak Asikin. Mungkin bisa jadi akan ada datangnya musibah di kampung kita ini Pak Asikin. Kita berdo’a saja semoga datangnya burung-burung gagak itu hanya kebetulan saja ya pak.”
“Saya juga berharap begitu pak. Semoga di kampung kita ini tetap aman dan tidak terjadi apa-apa ya.”
Sejak datangnya segerombolan burung gagak di rumah Pak Ratno, warga ikut terganggu dengan suaranya yang memekikan telinga. Pak Ratno dan warga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengusir burung gagak itu. Terpaksa mereka pun membiarkan burung-burung gagak itu bertingkah semaunya di atap rumah Pak Ratno.
Kedatangan burung gagak itu pun menjadi buah bibir warga. Warga menghubung-hubungkan makna di balik datangnya burung gagak itu. Menghubungkan inilah itulah, membuat Bu Ratno merasa malu menjadi perbincangan warga.
“Kenapa sih pak, burung-burung itu tidak mau pergi dari rumah kita. Pedahal sudah berulang kali kita usir tapi burung itu kembali datang ke sini.”
“Saya juga bingung bu. Kita sudah berusaha untuk mengusirnya, tapi ya seperti yang ibu lihat. Mereka datang lagi ke rumah kita.”
“Saya jadi tidak enak loh pak, banyak warga yang menghubung-hubungkan tentang makna di balik datangnya burung-burung sial itu pak.”
“Udah lah bu, tidak usah mendengarkan omongan warga. Yang penting kita sudah berusaha, bahkan warga pun sudah membantu kita untuk ikut mengusirnya. Tapi hasilnya juga sama kan ?”.
“Tapi sampai kapan burung-burung itu akan bertengger di atap rumah kita pak ?”.
“Sampai burung gagak itu bosan, hahaha…”
“Ih bapak ini loh masih sempat-sempatnya bisa bercanda ya. Pedahal ibu bertanya serius loh pak.”
“Loh memang bapak bercanda bu ? Biarlah burung gagak itu sampai bosan bertengger di atap rumah kita. Nanti juga kalau mereka sudah bosan mereka akan pergi juga kok bu.”
“Ya pak, mudah-mudahan burung-burung sial itu tidak terlalu lama berada di rumah kita ya pak. Ibu merasa takut dengan suaranya yang memekik memecahkan gendang telinga.
”
“Kenapa harus takut bu, kana da bapak, hahaha…” Canda Pak Ratno.
Benar saja, beberapa minggu kemudian burung-burung gagak itu menghilang pergi entah ke mana. Sekarang warga di kampung Sumber Asih pun sudah tidak lagi merasa terganggu oleh segerombolan suara burung gagak itu.
JERITAN DI MALAM JUM’AT KLIWON
Di keluarga Pak Ratno hanya Andi saja yang paling tekun menjalankan shalat lima waktu. Meskipun usia Andi baru menginjak belasan tahun. Andi selalu bangun di tengah malam untuk melaksanakan shalat tahajud. Ketika Andi sedang mengambil air wudhu, sayup-sayup Andi mendengar suara jeritan seorang perempuan menangis minta tolong. Suara perempuan itu mirip suara siti Amanah.
“Tolong lepaskan saya ! Tolong lepaskan saya ! Saya tidak mau ikut kalian !”. Suara itu samar-samar lalu menghilang.
Andi menghentikan wudhu nya lalu memasang kedua telinganya. “Suara siapa itu tadi ?. Ah jangan-jangan itu hanya perasaan ku aja.” Andi kembali melanjutkan wudhunya. Kemudian berjalan menuju ke kamarnya. Namun baru saja sampai di depan pintu kamar, tiba-tiba andi kembali mendengar suara teriakan perempuan itu
“Tolong lepaskan saya ! Tolong lepaskan saya ! Saya tidak mau ikut kalian ! saya tidak mau naik kuda itu !”.
Andi yakin teriakan itu adalah teriakan siti Amanah. Andi buru-buru pergi mendekati kamar Siti Amanah. Tangan kanannya mendorong perlahan pintu kamar yang tidak terkunci. Mata sipit nya memeriksa kamar Siti Amanah. Ternyata Siti Amanah masih tidur pulas ditemani Mas Hari suaminya.
“Kak Siti masih tidur. Kalau Kak siti mengigau, seharusnya Mas Hari mendengarnya. Lalu yang aku dengar tadi suara siapa ya ? Jangan-jangan itu suara hantu ?” Andi ketakutan dan berlari ke kamarnya. Kemudian Ia melaksanakan shalat malam. Pada rakaat terakhir Andi kembali mendengar jeritan yang sama. Konsentrasi Andi pun menjadi buyar. Andi mempercepat shalatnya. Lalu berdo’a agar keluarganya mendapat perlindungan dari Allah SWT.
Selesai shalat, Andi menarik selimut dan kembali tidur. Dalam tidurnya Andi bermimpi melihat Sosok Berjubah Hitam. Sosok itu mengikat kedua tangan Siti Amanah, lalu menyerahkannya pada seorang nenek renta. Siti Amanah berusaha berontak melepaskan diri dari tangan Sosok Berjubah Hitam itu, sambil berteriak-teriak minta tolong. Teriakan itu membuat Andi terbangun dari tidurnya.
Andi duduk di atas tempat tidurnya. Sambil menguap, Andi melirik pada jam dinding yang sedang berdetak. Jarum jam telah menunjukan angka lima. Pertanda bahwa waktu subuh telah tiba. Andi pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu. Setelah itu kembali ke kamarnya lalu melaksanakan shalat subuh. Selesai shalat, Andi keluar rumah untuk mencari udara segar. Tidak lama dari itu, siti Amanah dan Diah Astuti juga keluar dan duduk di kursi teras rumah. Andi mendekati kedua kakak angkatnya.
“Kamu sudah bangun dek ?’’. Sapa Siti Amanah.
“Udah dong kak ?”. Jawab Andi.
“Rajin banget kamu dek, jam segini sudah bangun duluan ?” Diah Astuti menyela.
“ Ya dong kak Diah, masa jam segini masih tidur hahaha…” jawab Andi.
“ Oh ya kak Siti, tadi malam kakak mimpi apa sih ?”.
“Tumben kamu nanyain mimpi dek. Memangnya ada apa ? Pertanyaan mu kok aneh banget. Kaya dukun aja hahaha….”
“Bukan begitu Kak Siti, soalnya tadi malam aku mendengar suara jeritan minta tolong. Suara itu benar-benar mirip suara Kak Siti. Terus watu tidur, aku juga bermimpi tentang Kak Siti.”
“Memang kamu mimpi apa dek ?” Tanya Siti Amanah.
“Dalam impi aku melihat Kak Siti dibawa oleh orang yang berpakaian serba hitam mau dinaikan ke kereta kencana yang ditarik oleh kuda hitam. Lalu kakak meronta-ronta dan menjerit minta tolong kak. Makanya aku pengin tau mimpi kakak tadi malam.”
Siti Amanah tidak langsung menjawab pertanyaan Andi. Ia berusaha mengingat-ingat tentang mimpinya tadi malam. Siti Amanah terkejut, mengapa mimpinya sama dengan mimpi Andi ? Siti Amanah cepat tersadar dan menutupi rasa keterkejutannya. Ia pun segera menjawaab pertanyaan Andi.
“Tidak dek, tadi malam kakak tidak mimpi apa-apa. Oh ya dek, kakak ke dapur dulu ya.”
Siti Amanah pergi meninggalkan Andi dan Diah Astuti di teras depan rumah. Setelah mendengar cerita tentang mimpi Andi, Siti Amanah merasa takut. Mengapa mimpi Andi sama dengan mimpinya ? Apakah ini hanya cecara kebetulan saja, atau kah pertanda ada sesuatu yang akan terjadi ? Siti Amanah mempercepat langkahnya ke dapur untuk membuat secangkir teh manis untuk suaminya.
Tidak lama kemudian Siti Amanah keluar dengan membawa secangkir the manis dan menyuguhkannya untuh Mas Hari. “Mas minum dulu tehnya, nanti keburu dingin.”
“Makasih ya dek, teh buatan mu pas banget.” Mendapat pujian dari suaminya, rasa cemasnya mulai hilang. Ia memandang wajah suaminya, lalu duduk di sebelahnya. Kemudian menceritakan tentang mimpimya tadi malam.
“Mas tadi malam adek mimpi yang menakutkan loh mas.”
“Mimpi apa dek ?”.
“Tadi malam adek mimpi dipaksa oleh seorang berjubah hitam dan dibawa paksa naik ke kereta kencana yang ditarik seekor kuda hitam. Kemudian adek menjerit minta tolong. Kira-kira apa arti mimpi adek itu ya mas ?”.
“Itu hanya bunga tidur saja dek. Mungkin adek terlalu capek.”
“Kalau itu hanya sekedar bunga tidur, tapi kenapa mimpinya sama dengan mimpi dek Andi mas ?”.
“Loh kok bisa ? Kapan dek Andi mimpinya ?”.
“Tadi malam juga mas. Pagi-pagi dek Andi nanyaain mimpi adek. Tapi adek lupa tadi malam mimpi apa. Terus dek Andi yang cerita duluan tentang mimpinya. Eh tiba-tiba adek baru ingat mas. Ternyata mimpinya sama dengan mimpi adek. Adek Jadi takut mas.”
“Udah nggak usah takut dek, mudah-mudahan itu hanya kebetulan saja.” Mas Hari mencoba menenangkan istrinya.
Sementara Andi dan Diah Astuti masih berada di teras depan rumah. Keduanya masih asyik sedang bersenda gurau. Gelak tawa Diah Astuti terdengar dari teras rumah. Mungkin Diah Astuti sedang mendengarkan cerita Andi yang konyol. Maklum Andi tipe anak yang senang melucu. Sehingga kelucuannya membuat Diah Astuti terpingkal-pingkal. “Udah dulu ya dek bercandanya. Kakak mau mandi dulu”. Lalu keduanya masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan.
Kemudian Andi masuk ke kamarnya, dan pergi ke kamar mandi. Tiba-tiba Andi teringat bahwa tadi malam adalah malam jum’at kliwon. Andi teringat kembali kejadian beberapa bulan yang lalu. Dimana Andi melihat Sosok Berjubah Hitam yang sedang melakukan kegiatan ritual di bangunan tua. Sosok yang mengenakan pakaian serba hitam itu mulutnya komat-kamit membaca sebuah mantra. Kemudian datanglah seorang nenek-nenek yang juga berpakaian serba hitam. Nenek itu tertawa terkekeh-kekeh mirip suara sundil bolong. Andi terkejut dan tersadar dari lamunannya. Kemudian Andi kembali melanjutkan mandi.
Andi juga teringat pada bangunan tua. Suatu ketika waktu Andi sedang bermain di dekat bangunan tua itu, Andi diusir oleh Pak Ratno agar segera menjauh dari bangunan tua itu. Bersama teman-temannya, Andi segera pergi dari bangunan itu. Pak Ratno mengusir Andi dan teman-teman tanpa alasan yang jelas. Mereka pun segera pergi meninggalkan bangunan tua itu. Bahkan Pak Ratno selalu mewanti-wanti Andi agar jangan sekali-kali mendekati bangunan itu.
Hal itu membuat Andi menjadi semakin penasaran. Ada apa sih di bangunan tua itu ? Mengapa ayahnya selalu melarang agar Andi tidak mendekati bangunan tua itu ? Sehingga Andi terdorong oleh rasa penasarannya, ingin menyelidiki bangunan tua itu. Rasa penasaran Andi untuk pergi ke bangunan tua itu semakin besar. Namun sampai hari ini Andi belum berani masuk ke dalam bangunan itu. Setiap kali mencoba pergi ke bangunan tua itu, Andi selalu teringat pesan ayah angkatnya. Sehingga lagi-lagi Andi kembali mengurungkan niatnya. Apa lagi Andi adalah sosok anak yang jujur dan penurut. Ia selalu mengikuti semua perkataan kedua orang tuanya. Jika orang tuanya melarang sesuatu hal, maka Andi tidak akan melanggarnya. Termasuk juga niatnya untuk pergi ke bangunan tua itu.
Pada bulan berikutnya tepatnya di malam jum’at kliwon, Andi terbangun dari tidurnya. Ia pergi ke kamar mandi lalu mengambil air wudhu. Samar-samar terdengar suara jeritan perempuan dari arah gedung tua. Jeritan itu mirip seperti suara Siti Amanah kakak angkatnya. Karena penasaran, Andi menengok ke kamar kakak angkatnya. Di sana ternyata Siti Amanah dan Mas hari suaminya sedang tertidur pulas. Andi menjadi sangat bingung. Bahkan Ia menganggap dirinya sudah mulai gila. Karena selalu mendengar suara-suara yang tidak didengar oleh orang lain.
Dalam kebingungannya ini, Andi pergi ke kamar tidurnya lalu melaksanakan shalat tahajud. Usai melaksanakan shalat tahajud, Andi merebahkan badannya dipembaringan. Namun tiba-tiba Andi kembali mendengar suara jeritan itu. Andi berusaha menutup kedua telinganya. Namun suara itu masih terdengar dengan jelas. Yang lebih mengagetkan lagi, suara jeritan itu mirip suara Siti Amanah. Jeritan itu selalu minta tolong. Membuat Andi merinding ketakutan.
Andi sudah tidak berani lagi pergi ke kamar kakaknya untuk memastikan jeritan itu. Ia segera menarik selimut dan membekap kedua telinganya dengan bantal guling. Lalu berusaha mengusir jeritan itu dengan membaca surat al ihlas, dan mengucapkan kalimat laa hawla wa laa quwwata illa billah. Tiada daya, upaya dan kekuatan kecuali pertolongan dari Allah SWT . Tiba-tiba suara itu menghilang dan tidak terdengar lagi. Andi sudah merasa lega dan tidak merasa takut lagi. Kali ini andi memberanikan diri untuk memastikan kakaknya dalam keadaan baik-baik saja. Andi pergi ke kamar Siti Amanah dan ternyata kakaknya masih tidur pulas. Andi merasa tenang, lalu kembali ke kamar tidurnya.
Keesokan harinya Andi sengaja duduk di dapur memperhatikan Siti Amanah yang sedang memasak. Tak henti-henti Andi memandang wajah kakaknya. Siti Amanah melirik ke Andi yang dirasa sedikit aneh. Ia merasa bahwa Andi memperhatikannya terus. “Ada apa dek, kok dari tadi memandangi kakak terus ?”. Andi tidak kekurangan akal untuk menjawab pertanyaan Siti Amanah. “Aku perhatikan kakak tambah hari kok tambah cantik aja hahaha…”
“Alah dek dek, gombal kamu !” Jawab Siti Amanah.
Kemudian seperti biasanya Andi berangkat sekolah dengan sepedah ontelnya. Ia menghampiri satu persatu teman sekolahnya. Kebetulan rumah temannya dekat dengan jalan yang Andi lalui. Jumlahnya ada sepuluh anak. Mereka selalu berangkat bersama-sama mengendarai sepedah ontelnya. Dalam perjalanan ke sekolah, mereka selalu bersenda-gurau. Sepuluh anak yang baru menginjak ke masa remaja itu kesehariannya diwarnai dengan gelak dan tawa. Mereka dengan polosnya bercerita tanpa ada beban. Dari mulai bercerita tentang PR sekolahnya, sampai hal-hal yang berhubungan dengan cinta monyetnya.
Seperti halnya dengan komarudin. Diam-diam Ia menyimpan perasaan dengan Haryati teman sekelasnya. Sepanjang jalan Komarudin menceritakan perasaannya kepada teman-temannya. Ia berandai-andai akan memberi nama anaknya kelak jika nanti menikah dengan Haryati. Komarudin akan memberi nama anaknya dengan perpaduan nama Komarudin dan Haryati. Andi langsung nyeletuk dan memberi pertanyaan kepada Komarudin perihal nama anak Komarudin dan Haryati kelak.
“Komarudin, seandainya nanti kamu jadi menikah dengan Haryati, kalau kamu nanti punya anak laki-laki, mau dikasih nama siapa ?”.
“Mau saya kasih nama Kohar lah ?”.
“Terus kalau anaknya perempuan, mau kasih nama siapa dong ?” Sela Rudi.
“Kasih nama Kohir lah” Jawab Andi.
“Idih…, ga nyambung tau, hahaha… ?” Sahut Komarudin sambil tertawa.
Celotehan-celotehan mereka terus berlanjut di sepanjang jalan. Namun tiba-tiba Andi menjadi ingat mimpinya semalam tentang Siti Amanah. Tiba-tiba Andi merasa resah dan khawatir dengan mimpinya itu. Andi takut mimpi itu benar-benar akan menjadi sebuah kenyataan. Andi diam tidak melanjutkan celotehannya. Poniman melihat ada perubahan pada raut wajah Andi. Lalu Poniman pun berusaha menyapa Andi agar mau melanjutkan celotehannya.
“Kenapa Andi ? Kok tiba-tiba diam dan murung begitu ?”.
Andi tidak menjawab pertanyaan Poniman. Andi terus diam sambil menggoes sepedahnya. Poniman kembali bertanya kepada Andi.
“Andi, apa yang sedang kamu pikirkan ? Kenapa tiba-tiba diam dan tidak mau cerita lagi ? Apa ada yang salah dengan kami ?”.
“Tidak man ! Tidak ada yang salah dengan kalian. Aku hanya sedang bingung aja ?”.
“Bingung kenapa ? Ayo, coba dong cerita. Ada apa ?”.
Poniman menerka-nerka, apa gerangan yang sedang Andi pikirkan. Karena Andi tiba-tiba terlihat tidak begitu bersemangat. Kemudian Poniman berusaha mendesak Andi agar mau bercerita tentang masalahnya. Karena sebagai teman Poniman merasa berkewajiban untuk membantu temannya.
“Apa yang sedang kamu pikirkan Andi ?. Kalau punya masalah cerita dong, siapa tau kami bisa membantumu”.
“Aku ingat kejadian semalam, Man. Sudah beberapa kali aku selalu mendengar ada jeritan perempuan di tengah malam. Perempuan itu minta tolong. Anehnya lagi jeritan itu mirip suara kakak ku. Pedahal setelah aku cek di kamarnya, Kak Siti Amanah sedang tidur pulas.”
“Mungkin kakak mu mengigau Andi.”
“Kalau mengigau, masa Mas Hari tidak mendengarnya. Pedahal suaranya sangat keras sekali. Tidak mungkin kan, Mas Hari tidak mendengarnya ?”.
“Mungkin itu hanya perasaan kamu aja Andi. Bisa jadi karena mungkin kamu kecapean, lalu kamu beralusinasi Andi.”
“Bukan hanya itu Man. Pas aku tidur, aku juga bermimpi tentang Kak Siti Amanah. Dalam mimpi Kak Siti menjerit minta tolong karena dibawa paksa orang yang mengenakan pakaian serba hitam. Kak Siti dipaksa naik kereta kencana yang ditarik seekor kuda hitam.”
“Mungkin itu hanya bunga tidur Andi. Mudah-mudahan tidak akan terjadi apa-apa ya dengan kakak mu.”
“Kalau itu memang bunga tidur, lalu mengapa mimpi itu berkali-kali ? Tadinya aku juga punya pendapat yang sama dengan kamu Man. Tapi setelah aku mimpi berkali-kali dan mimpinya itu-itu lagi, apa ya itu bunga tidur Man ? Aku yakin itu bukan suatu kebetulan. Tapi sebuah pertanda bahwa akan terjadi sesuatu dengan kakak ku Man.”
Poniman terdiam mendengarkan alasan Andi. Alasan itu sangat masuk akal. Lalu Poniman kembali bicara berusaha menenangkan Andi. “Tidak usah kamu pikirkan Andi, mudah-mudahan kakak mu baik-baik aja ya. Berdo’a dan serahkanlah kepada Allah Swt. Mudah-mudahan kakak mu dalam lindungan-Nya ya Aamiin.”
Andi merasa sedikit tenang, setelah mendengar nasehat dari Poniman. Tanpa terasa mereka sudah sampai di sekolah. Andi dan teman-temannya menyenderkaan sepedahnya. Kemudian mereka masuk kelas dan berdiskusi tentang PR nya. Tidak lama kemudian suara lonceng berbunyi. Pertanda jam pelajaran akan segera dimulai. Bu guru masuk kelas dan segera memulai pelajaran. Andi mendengarkan materi yang Ibu guru sampaikan. Sangking seriusnya hingga Ia lupa dengan mimpinya semalam.
Tepat jam dua siang kembali lonceng berbunyi. Pertanda bahwa waktunya untuk pulang. Andi dan teman-temannya segera keluar dari kelas. Kemudian bergegas pulang ke rumah. Sampai di depan rumah, Andi segera menyandarkan sepedahnya di depan rumah. Ia lari masuk rumah dan mencari Siti Amanah. Siti Amanah sedang melipat baju yang habis di jemur. Setelah memastikan kakaknya dalam keadaan baik-baik saja, Andi lalu masuk ke kamar dan segera mengganti seragam sekolahnya.
Cuaca sore itu sangat panas sekali. sehingga Andi hanya mengenakan celana pendek dan kaos dalam saja. Dengan tanpa alas kaki, Andi menuju ke ruang makan untuk mengganjal perutnya yang sudah mulai keroncongan. Selesai makan Andi duduk di depan rumah. Hanya mengenakan kaos dalam dan celana pendek, Andi mengipas-ngipas keringatnya yang menganak sungai. Setelah itu pergi ke kamar dan beristirahat.
KIDUNG KEMATIAN
Malam pun kembali menghampiri alam semesta. Si Raja Siang tenggelam dalam orbitnya dan menyelinap pada singgahsananya. Si Raja Siang diam-diam mengintip Sang Rembulan yang mulai menampakan wajahnya dari balik orbitnya. Ia tersenyum pada Sang rembulan, seolah memberitahukan bahwa sekarang giliran kamulah yang berkuasa di alam semesta ini. Itulah silih bergantinya waktu dari siang kembali menjadi malam. Dengan sejuta cerita baru yang akan mewarnai di alam semesta ini.
Malam itu keluarga Pak Ratno sedang melakukan aktivitasnya masing-masing. Pak Ratno masih sibuk mengecek nota dan menghitung ulang transaksinya. Bu Ratno sedang duduk menjaga warung kelontongannya dan sambil bercakap-cakap dengan salah satu pembelinya. Sedangkan Andi dan Diah Astuti sedang asyik ngobrol berdua di teras depan rumah. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Diah Astuti tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Andi.
Sementara dari tadi siang Siti Amanah belum juga keluar dari kamarnya. Hanya Mas Hari saja yang terliht mondar-mandir keluar masuk kamar. Mas Hari keluar masuk kamar sambil membawa seperangkat alat kompres. Ia membawa mangkok kecil berisi air dingin dan selembar sapu tangan. Rupanya Mas Hari sedang mengompres kepala Siti Amanah yang sedang demam tinggi. Mas Hari tidak mau berada jauh-jauh dari istrinya. Karena istrinya merasa ketakutan sendirian di dalam kamar. Dengan sabar Ia mendampingi istrinya sambil mengompres kepalanya.
“Mas jangan jauh jauh ya, adek takut.”
“Takut kenapa dek ? Kan ada Mas Hari ?”.
“Tadi ada yang datang kesini mas. Katanya mereka mau menjemput adek ? Adek takut mas, orang itu membawa kereta kencana yang ditarik kuda hitam mas.”
“Di sini tidak ada siapa-siapa dek. Mungkin itu hanya ilusinasi adek aja. Karena kamu sedang demam tinggi dek.”
Mas Hari kembali mengompres kepala istrinya sambil membelai rambutnya. Ia merasa sedih melihat istrinya demamnya tidak turun-turun. Mas Hari menarik napas sambil memandang wajah istrinya. Ia tidak tega melihat istrinya terus-terusan merasa ketakutan.
“Itu mereka datang lagi mas, tolong usir mereka mas.”
“Tidak ada siapa-siapa dek, kamu hanya berilusinasi.”
“Tidak mas, itu mereka berdiri di depan pintu ! Mereka mengajak berjalan ke sini.” sambil menunjuk ke pintu.
“Tidak ada siapa-siapa dek. Di sini Cuma ada Mas Hari saja.” Mas Hari berusaha meyakinkan istrinya sambil memeluk dan menciumnya. Mas Hari tidak tega melihat istrinya ketakutan. Mas Hari merasa sedih sampai menitikan air mata.
“Sabar ya dek, sebentar lagi juga demamnya turun.” Mas Hari kembali mengompres istrinya.
Tidak lama kemudian demamnya mulai turun. Sehingga Siti Amanah bisa memejamkan matanya untuk beberapa saat. Mas Hari sangat lega melihat istrinya bisa tidur. Ia menarik napas panjang, kemudian keluar dan duduk di dekat Andi dan Diah Astuti yang sedang ngobrol di teras rumah. Andi menoleh abang iparnya yang baru saja duduk di sebelahnya.
“Kak Siti sakit apa, mas ?” tanya Andi.
“Demam dek, tapi sekarang demamnya sudah mulai turun” jawab Mas Hari perlahan.
Mas Hari duduk terdiam, sambil memandang rembulan. Ia mengagumi rembulan yang terlihat begitu sempurna memancarkan cahayanya. Karena malam itu adalah malam purnama. Cahayanya sangat terang menerangi kampung Sumber Asih yang dihuni kurang dari seribu jiwa. Mas Hari pikirannya melayang membayangkan wajah istrinya. Namun tiba-tiba kembali mendengar jeritan Siti Amanah dari kamarnya. Mas Hari tersentak kaget, dan lari menghampirinya. Andi yang sedang ngobrol dengan Diah Astuti ikut berhamburan menyusul Mas Hari.
Mas Hari melihat istrinya sedang kejang-kejang sambil matanya melotot dan terus menjerit minta tolong. “Tolong…, tolong… . Saya tidak mau ikut kalian. Jangan bawa saya. Pergi… !” teriaknya.
“Sadar dek, sadar. Mas Hari mengguncang-guncang tubuh istrinya berusaha untuk menyadarkannya. Tapi Siti Amanah terus berteriak minta tolong.
“Pergi kalian ! Pergi… ! Tolong dek Andi, tolong…”
Andi tersentak kaget mendengar teriakan Siti Amanah. Teriakan itu mengingatkan Ia pada mimpinya. Teriakan itu juga pernah Andi dengar pada beberapa kali di malam jum’at kliwon. Andi kembali tersentak kaget menyadari bahwa malam ini adalah malam jum’at kliwon. Siti Amanah kembali berteriak minta tolong.
“Tolong kakak dek, tolong… . Kakak mau dibawa oleh mereka. Pergi kalian !, Pergi…!” Siti Amanah mengibaskan kedua tangannya. Seolah-olah ingin melepaskan diri dari pegangan seseorang.
“Andi tidak melihat apa-apa kak.”
“Tolong dek, tolong…. Usir mereka jauh-jauh dek. Ibu tolong Bu, ada orang yang mau membawa saya bu. Orang itu tampangnya sangar-sangar mas. Orang itu membawa adek ke kereta itu mas.” Siti Amanah terus meronta minta tolong.
Mendengar teriakan Siti Amanah, Bu Ratno ikut panik.
“Sadar nak, sadar. Jangan takut. Ibu ada di sini nak.”
Siti Amanah memandang wajah Bu Ratno. Kemudian Bu Ratno memeluk anak angkatnya yang terus histeris minta tolong. Andi menggenggam tangan kakaknya sambil menangis. Seolah Ia tahu bahwa kakaknya akan pergi untuk selamanya.
“Kak Siti…, jangan pergi kak. Jangan tinggalkan Andi kak…”Andi menangis tersedu- sedu sam kakaknya. Panggilan Andi di jawab dengan teriakan minta tolong. Andi semakin bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa membaca surat al-ihlas dan surat anas. Perlahan teriakan Siti Amanah melemah.
“Tolong…, dek.” Teriakan itu tak terdengar lagi. Siti Amanah terdiam dan tak bersuara. Mas Hari memnggil-mangil istrinya sambil mengguncang-guncang tubuh istrinya. “Bangun dek, bangun ! Sadar dek, sadar… !”. Mas Hari berusaha menyadarkan istrinya sambil mengelus-elus pipinya.
Perlahan tubuh Siti Amanah bergerak mendengar panggilan dari suaminya. Lalu menjerit sangat kencang sekali. Seolah ingin melepaskan diri dari sesuatu yang membelenggunya. Teriakannya semakin keras dan badannya bergoncang hebat. Mereka berusaha menahan kaki dan tangan Siti Amanah yang meronta-ronta sambil berteriak minta tolong.
“Tolong Mas Hari…!”. Satu teriakan panjang keluar dari bibir Siti Amanah, kemudian Ia diam. Tangannya yang semula menggenggam tangan Andi perlahan melemah. Tubuhnya lemas dan matanya melotot terbalik ke dalam. Lidahnya menjulur keluar seperti habis dicekik.
“Tidak… ! Tidak… ! Bangun dek, bangun…! Jangan tinggalkan Mas Hari dek .’’ Mas Hari menangis sejadi jadinya sambil terus mengguncang-guncangkan tubuah istrinya yang sudah tak bernyawa.
Malam itu di rumah Pak Ratno menjadi hujan tangisan. Mereka masih belum percaya bahwa Siti Amanah sudah tiada. Mas Hari duduk lemas di samping istrinya sambil meratapi kepergiannya. Diah Astuti memeluk Andi sambil memanggil-manggil Siti Amanah.
“Kak Siti…! Kak Siti…! Jangan tinggalkan Diah kak.” Sambil menagis terisak-isak.
“Udah kak, udah. Kita ikhlaskan kepergian Kak Siti. Biarkanlah Kak Siti tenang di sana.” Ucap Andi sambil menepuk-nepuk punggung Diah Astuti.
Kemudian Andi melepaskan pelukan Diah Astuti, lalu mendekati tubuh Siti Amanah yang sudah tak bernyawa lagi. Andi menengadahkan kedua tangannya sambil berdo’a, kemudian meniup tangan kanannya, lalu mengusap wajah Siti Amanah. Ajaib sekali mata Siti Amanah kembali tertutup seperti sedia kala. Sehingga Siti Amanah terlihat seperti orang yang sedang tidur.
Sementara Mas Hari masih terisak-isak meratapi kepergian istrinya. “Bangun dek, bangun ! Jangan tinggalkan Mas Hari sendiri dek ! Mas Hari tidak bisa hidup tanpa adek. Bangun dek, bangun ! Bawa Mas Hari pergi dek !”.
“Udah mas, udah. Kita semua telah kehilangan Siti. Biarkan dia pergi dengan tenang ya. Jangan lagi diratapi kepergiannya.” Bu Ratno mencoba menenangkan Mas Hari sambil ikut bercucuran air mata. Tangannya mengusap-usap punggung Mas Hari.
“Kenapa kamu harus pergi secepat ini dek ? Mas Hari tidak mungkin bisa hidup tanpa kumu. Mas Hari tidak menyangka kalau kamu akan pergi secepat ini. Kenapa bukan Mas Hari saja yang duluan pergi ?. Kenapa harus kamu dek ?”. Sambil berkali-kali Mas Hari mencium pipi istrinya. Andi mendekati Mas Hari yang masih terisak-isak.
“Udah mas, kita semua merasa kehilangan Kak Siti. Mungkin ini sudah jalan hidupnya. Jangan diratapi kepergiannya mas. Kita do’a kan saja agar Kak Siti tenang di alam sana.”
Mas Hari kembali memeluk istrinya sambil menangis histeris. Andi tak tega melihat kesedihan Mas Hari. Air mata Mas Hari terus bercucuran. Mas hari tak henti-hentinya memandang wajah istrinya yang mulai pucat. Kembali Andi berusaha menenangkan hati abang iparnya. “Mas ihlaskan kak Siti ya. Jangan ratapi kepergiannya. Allah lebih sayang kepada Kak Siti. Sehingga Kak Siti lah yang harus pergi mendahuli kita.” Mas hari mengelap kedua matanya lalu bangun dan menutup tubuh istrinya dengan kain.
Pak Ratno yang dari tadi masih sibuk menghitung ulang notanya , mendatangi kamar Siti Amanah. Wajahnya mendadak sedih memandang tubuh anak angkatnya yang sudah tak bergerak. Ia segera membuka kain yang menutupi jenajah Siti Amanah. Dipandangnya wajah Siti Amanah dengan penuh rasa sedih. Butiran air mata mengalir pada kelopak matanya yang mulai mengkerut. Sambil menarik napas panjang, Pak Ratno kembali menatap wajah Siti Amanah lalu menutupnya kembali. Tanpa sepatah kata terucap dari bibir Pak Ratno lalu Ia pergi meninggalkan jenazah anak angkatnya.
Tampak ada kesedihan di wajah Pak Ratno. Baru kali ini Pak Ratno terlihat begitu sedih. Pedahal selama ini Ia selalu tenang dalam menghadapi setiap permasalahan yang datang. Napasnya turun naik tak beraturan. Ia berusaha menyembunyikan rapat-rapat dari rasa sedihnya itu. Sambil menahan tangis Pak Ratno terlihat mondar-mandir berdiri di depan kamar tidurnya. Sesekali Pak Ratno mengusap-usap mukanya sambil menggaruk-garuk kepalanya. Mencerminkan bahwa Pak Ratno sedang tidak bisa mengontrol emosinya.
Sementara tamu sudah mulai berdatangan. Mereka ingin memastikan kebenaran tentang meninggalnya Siti Amanah yang secara mendadak. Hal ini membuat kaget Warga. Karena sebelumnya Siti Amanah dalam keadaan baik-baik saja.
“Mbak Siti sakit apa Mas Hari ?” tanya Pak Firman.
“Tadi demam tinggi pak.”
“Yang sabar ya mas, mudah-mudahan Mba Siti diberikan tempat yang layak di sisi Allah Swt. Dan di ampuni segala dosanya.”
“Terima kasih ya Pak Firman. Atas nama istri saya, saya mohon maaf ya. Jika dimasa hidupnya dia punya salah dengan keluarga Pak Firman.”
“Selama hidupnya Mba Siti selalu berbuat baik dengan siapa saja mas. Mbak Siti tidak pernah neko-neko. Bahkan Mba Siti lah yang pernah menyelamatkan Ragil anak saya waktu berenang. Coba kalau waktu itu tidak ada mba Siti, tidak bisa saya bayangkan mas, apa jadinya anak saya. Saya sangat berhutang budi pada Mba Siti. Mudah-mudahan Mba Siti tenang di alam sana ya mas.”
“Aamiin, terima kasih ya pak.” Ucap Mas Hari.
Karena semakin ramai orang yang berdatangan, akhirnya jenazah Siti Amanah dipindahkan ke ruang tamu. Untuk memudahkan warga melihat jenazah Siti Amanah. Kemudian Andi segera duduk di dekat jenazah kakaknya. Lalu membacakan surat yasin. Bu Firman juga ikut duduk di sebelah Andi, dan ikut membacakan surat yasin. Sehingga malam itu di rumah Pak Ratno terdengar alunan surat yasin untuk mendo’akan jenazah siti Amanah.
Keesokan harinya rumah Pak Ratno ramai didatangi warga. Mereka bahu-membahu menyiapkan proses pemakaman jenazah Siti Amanah. Sebagian pemudanya pergi ke makam untuk menggali liang lahat. Sedangkan untuk yang tua membuat nisan dan papan untuk menutup liang lahat. Sementara kerabat dekat almarhumah memandikan Jenazah Siti Amanah. Tangisan kembali pecah mengiringi proses pemandian jenazah. Diiringi dengan lantunan solawatan oleh ibu-ibu pengajian. Mata Andi terbelalak kaget, melihat jenazah kakaknya.
“Mengapa jenazah Kak Siti berubah menjadi sebatang pisang ? Apakah mereka tidak tahu ?”. Andi kembali mengamati jenajah kakaknya.
“Apakah pandangan ku ini salah ?” Andi mengucek-ngucek matanya sambil memandang batang pisang yang sedang mereka mandikan.
Andi tidak berani menyampaikan apa yang sedang dilihatnya kepada mereka yang sedang memandikan batang pisang itu. Andi tidak mau merusak suasana yang sedang berkabung ini menjadi tambah sedih. Ia diam saja dan berpura-pura tidak melihat apa-apa.
Setelah jenazah selesai dimandikan, kemudian dibawa masuk untuk dikafani. Mas Hari memperhatikan jenazah istrinya sambil bercucuran air mata. Sementara pandangan Andi terus tertuju pada jenazah kakaknya. Ia tidak melihat jenajah kakaknya, melainkan sebatang pohon pisang yang sedang dikafani.
“Astaghfirullah hal adzim. Ya Allah ampunilah segala dosa dan kesalahan Mba Siti ya Allah”. Andi tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya lagi.
Setelah selesai dikafani, jenazah dimasukan ke dalam keranda lalu disholatkan secara berjamaah. Dilanjutkan dengan upacara perpisahan oleh tokoh agama mewakili keluarga Pak Ratno. “Atas nama keluarga Pak Ratno kami mengucapkan permohon maaf. Jika selama hidupnya almarhumah memiliki kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Selain itu juga kami ucapkan banyak terima kasih, kepada Bapak dan Ibu yang sudah membantu kami.”
Kemudian jenazah diantarakan ke peristirahatannya yang terakhir. Suara tahlil mengiringi perjalanan jenazah ke pemakaman. Sampai di pemakaman, Jenazah segera diturunkan lalu dikuburkan. Andi menyaksikan proses pemakaman kakaknya. Salah satu pengantar jenazah lalu membuka tali kafan jenazah. Kembali Andi hanya melihat sebatang pohon pisang yang akan segera dimakamkan. Mas Hari memperhatikan untuk terakhir kali jenazah istrinya. Kemudian menaburkan bunga di atas gundukan tanah di pemakaman. Prosesi pemakaman pun telah selesai. Satu-persatu para pengantar jenazah pergi meninggalkan pemakaman. Mas Hari ditemani oleh kedua adik iparnya menyampaikan do’a terahir untuk istrinya. Setelah itu mereka bertiga berjalan kaki pergi meninggalkan makam Siti Amanah.
Sampai di rumah Mas Hari mengurung diri di dalam kamarnya. Kemudian Ia menangis sambil menyebut-nyebut nama istrinya. Isak tangis Mas Hari sampai terdengar keluar. Membuat para pelayat yang baru pulang dari pemakaman merasa ikut prihatin. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa agar Mas Hari ikhlas menerima kenyataan. Bahwa hidup mati seseorang sudah ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia hanya bisa berencana tetapi Tuhan adalah penentu segalanya.
Kepergian siti Amanah yang secara tiba-tiba membuat Mas Hari sangat kehilangan. Apa lagi Mas Hari baru tiga bulan menikah dengan Siti Amanah. Membuat Mas Hari merasa sangat terpukul. Kepergian Siti Amanah juga membuat warga sangat merasa kehilangan. Mengingat semasa hidupnya Siti Amanah dikenal sebagai sosok pribadi yang lemah lembut dan sangat santun. Ia selalu menghormati yang tua, dan menyayangi yang muda.
Memang orang tua di kampung ini selalu mengajarkan tentang budi pekerti kepada anak-anaknya. Seperti Pak Ratno yang selalu mengajarkan kepada anak angkatnya agar selalu memegeng prinsip adat dan budaya jawa. Sehingga ketiga anak angkat Pak Ratno terkenal sangat santun kepada siapa saja. Termasuk Siti Amanah yang dikenal sebagaai sosok yang santun dan ramah kepada para tetangga.
Di kampung ini warganya sangat terkenal dengan kegotong-royongannya. Mereka akan saling membantu jika ada keluarga lain yang sedang membutuhkannya. Seperti musibah yang dialami oleh keluarga Pak Ratno. Tanpa woro-woro dengan sendirinya warga datang dan membantunya. Bantuan yang diberikan berupa tenaga atau pun bentuk bantuan lainnya.
Para ibu-ibunya membantu di dapur untuk memasak nasi dan mencuci piring. Sedangkan yang laki-lakinya membantu mengangkat meja dan kursi serta mengupas kelapa. Mereka saling bahu-membahu membantu keluarga Pak Ratno. Mempersiapkan tahlilan yang akan diadakan nanti malam. Sementara kumandang azan maghrib sudah terdengar, menghentikan aktivitas di rumah Pak Ratno. Kaum laki-lakinya mengambil air wudu dan melaksanakan shalat mghrib di masjid. Sedangkan yang Ibu-ibu secara bergantian melaksanakan shalat maghrib di rumah Pak Ratno. Usai shalat maghrib, aktivitas pun kembali dilakukan.
Tak lama kemudian serombongan warga sudah mulai berdatangan. Kedatangan mereka disambut ramah oleh Pak Ratno. Kemudian lantunan surah yasin pun mulai dikumandangkan. Dipimpin oleh Ustadz Maulana untuk mendo’akan Siti Amanah. Sementara Mas Hari duduk di dekat kamarnya ikut membacakan surat yasin. Matanya terlihat bengkak sambil berulang kali mengusap air matanya.
Selama tujuh malam yasinan di rumah Pak Ratno telah selesai dilaksanakan. Keesokan harinya setelah sarapan, Mas Hari menemui Pak Ratno dan Bu Ratno. “Mohon maaf bapak, ibu, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya mohon izin untuk pamit dari sini ya pak.”
“Kamu mau pergi ke mana toh Leh. Ibu sama bapak sudah menganggap mu seperti anak sendiri. Tidak usah pergi ke mana-mana yo, di sini aja” bujuk Bu Ratno.
“Tidak bu, saya harus pergi merantau untuk menenangkan pikiran. Kalau saya di sini terus, saya selalu sedih mengingat Dek Siti bu. Saya harus pergi pak agar saya bisa menenangkan diri.”
“Ya sudah Leh, Bapak tidak bisa memaksa kamu lagi. Cuma pesan bapak jika pikiran kamu sudah tenang, kamu harus pulang ke rumah ini yo leh.”
“Oh injih pak, bu matur nuwun.”
Pak Ratno dan Bu Ratno tidak bisa memaksa keinginan Mas Hari untuk pergi merantau. Mas Hari tetap bersikukuh pada pendiriannya. “Mas Hari segera berpamitan lalu pergi meninggalkan mereka. Namun tiba-tiba langkah Mas Hari terhenti mendengar panggilan Andi.
“Mas Hari mau pergi ke mana mas ? Jangan pergi mas ?”.
“Mas Hari hanya mau pergi sebentar dek, nanti juga Mas Hari akan kembali lagi.”
“Ya mas jangan pergi ? Nanti di rumah ini tambah sepi kalau Mas Hari pergi.” bujuk Diah Astuti.
“Kenapa harus pergi toh mas ? Anggap saja ini rumah Mas Hari sendiri. Aku sudah menganggap Mas Hari seperti abang ku sendiri mas.” lanjut Andi.
“Ya dek, Mas Hari juga sudah menganggap kalian seperti adek sendiri. Tapi mamas tetap harus pergi dulu ya ? Di rumah ini sudah terlalu banyak kenangan dek. Bayangan kakak mu tidak bisa mamas lupakan. Kalau mamas terus-terusan di sini nanti mamas sedih terus. Kalian tidak mau kan ?” Andi dan Diah Astuti mengangguk. Akhirnya Andi dan Diah Astuti harus berusaha mengikhlaskan Mas Hari. Sementara Pak Ratno dan Bu Ratno hanya bisa memandang kepergian Mas Hari dari depan rumahnya. Pagi itu Mas Hari pergi meninggalkan keluarga Pak Ratno. Andi dan Diah Astuti meneteskan air mata. Mengiringi kepergian kakak iparnya. Lalu Pak Ratno dan Bu Ratno berusaha memberi pengertian kepada Andi dan Diah Astuti.
“Udah nak jangan ditangisi. Mas Hari hanya pergi sebentar kok. Nanti juga pulang ke sini lagi ya. Udah yuk, sekarang kita masuk.”
Sejak itulah Mas Hari tidak pernah kembali lagi ke rumah Pak Ratno. Sehingga rumah Pak Ratno terasa begitu sangat sepi. Rumah itu begitu terasa kurang lengkap tanpa hadirnya Mas Hari dan Siti Amanah.
Namun seiring dengan berjalannya waktu keluarga Pak Ratno berusaha mengikhlaskan kepergian Siti Amanah. Begitu juga dengan kepergian Mas Hari dari rumah Pak Ratno. Pak Ratno memaklumi alasan Mas Hari mengapa pergi dari rumahnya. Mas Hari pergi dari rumah Pak Ratno hanya untuk menenangkan diri. Setelah ditinggal oleh mendiang istrinya untuk selama-lamanya. Keikhlasan itulah yang membuat keluarga Pak Ratno bisa menjalani hidupnya secara normal kembali. Dimana mereka mengisi hari-harinya dengan aktivitasnya masing-masing. Pak Ratno kembali menjalani pekerjaannya sebagai juragan padi. Sedangkan Bu Ratno kembali membuka warung sembakonya.
Sehingga suasana di rumah Pak Ratno sudah kembali seperti sedia kala. Dimana hari-harinya diwarnai oleh tawa dan canda Andi dan Diah Astuti. Celotehan-celotehan Andi mampu meluluhkan duka-lara keluarga Pak Ratno. Pak Ratno dan Bu Ratno merasa senang melihat kedua anak angkatnya sudah kembali tersenyum lagi. Apa lagi Andi sangat kocak. Ia mampu menghibur keluarganya disaat sedang sedih. Pada saat Bu Ratno mengingat Siti Amanah, Andi dengan cepat mengalihkan pembicaraan. Melalui celotehan-celotehannya yang mampu mencairkan suasana. Sehingga Bu Ratno tidak lagi tenggelam dalam kesedihannya.
Namun kebahagiaan di rumah Pak Ratno hanya sesaat. Karena setelah lulus SMP Andi harus melanjutkan sekolahnya. Dengan demikian mereka harus berpisah dengan Andi. Untuk itulah Bu Ratno membujuk Andi agar tidak melanjutkan sekolah.
“Udah sih nak, kamu di rumah saja ya. Kamu tidak usah sekolah lagi. Apa lagi yang mau kamu cari, yang kamu inginkan tinggal minta saja.”
“Andi harus tetap sekolah bu.”
“Apa kamu tidak kasihan sama ibu nak, sekolah kamu kan jauh. Nanti kalau ibu kangen bagimana ?”.
“Ah ibu ini. Kaya Andi mau pergi jauh aja. Kan cuma dua jam saja jaraknya dari sini bu. Tenang Bu, nanti seminggu sekali Andi akan pulang kok. Masa satu minggu saja tidak bisa menahan kangen. Itung-itung Andi belajar hidup mandiri ya Bu”. Ucap Andi merayu Bu Ratno.
“Ya udah, tapi kamu jani jangan lupakan ibu ya.”
“Mana mungkin Andi bisa melupakan ibu, paling-paling baru satu hari sudah pulang lagi bu. Andi kan anak mamah hahaha…” Diah Astuti menggoda Andi. Ahirnya dengan berat hati Bu Ratno mengijinkan Andi untuk melanjutkan sekolah lagi.
Seminggu kemudian Andi berpamitan dengan kedua orang tua angkatnya. Ia harus pergi melanjutkan sekolah. Andi akan mendaftar di sebuah SMK di Lampung. Sebelum Andi berangkat, Pak Ratno berpesan kepada Andi. Agar Andi bisa menjaga diri selama di perantauan.
“Ingat Andi, kamu akan tinggal di kampung orang. Di sana kamu akan menemukan sesuatu hal yang baru. Kamu harus pandai-pandailah bergaul. Hormati budaya orang lain. Jangan samakan dengan kampung sendiri. Ingatlah pepatah kuno, di mana bumi kita pijak, di situ langit harus kamu junjung. Paham maksudnya Andi !”.
“Paham Ayah ! Andi akan selalu mengingat pesan ayah.”
“Bagus lah kalau begitu. Jaga diri kamu baik-baik ya.”
“Ya ayah ! Terima kasih nasihatnya ayah.”
“Ingat juga ya dek. Jangan lupakan kakak mu yang cantik ini. Ini foto kakak kamu bawa. Agar kalau kamu kangen kakak, kamu bisa langsung memandang kakak.” Ucap Diah Astuti sambil menyodorkan fotonya.
“Ih ! GR amat sih kakak ini.” Ucap Andi sambil menerima foto yang disodorkan Diah Astuti. Kemudian Andi menyiapkan semua perbekalannya. Lalu mengangkat barang bawaannya ke motor. Kemudian mengikat barang-bawang itu dengan menggunakan karet warna hitam. Kemudian Andi mengengkol motornya dan perlahan pergi meninggalkan keluarganya. Sementara Pak Ratno, Bu Ratno dan Diah Astuti menatap Andi sampai menghilang dari pandangannya.
Dalam perjalanannya menuju sebuah kota di Lampung, Andi menghayal dirinya sudah duduk di bangku SMK dan sudah mengenakan Si putih abu-abu. Sambil tersenyum tipis, Andi kembali mengegas motornya. Tanpa terasa Andi sudah menempuh perjalanan selama dua jam. Ia telah tiba di sebuah bangunan SMK. Andi menghentikan laju motornya. Pandangannya tertuju pada bangunan calon sekolahnya. Setelah itu Andi pergi ke rumah penduduk mencari kontrakan.
Sambil mengendarai sepedah motornya, Andi masuk ke sebuah gang kecil. Di sana ada sebuah rumah yang bertuliskan menerima anak kos. Andi segera menyandarkan motornya. Lalu pergi menuju ke rumah itu. Sampai di depan rumah itu, Andi mengetuk pintu. Tidak lama kemudian munculah seorang Ibu separu baya. Ibu itu memandang Andi sambil melempar senyuman. Kemudian berkata, “Ada Apa dek.”
Andi membalas senyuman itu, lalu mengutarakan maksudnya. “Maaf ibu, saya sedang mencari kamar kontrakan. Apa di sini ada kamar yang mau dikontrakan bu ?”.
“Kebetulan masih ada satu kamar lagi dek. Mari kita lihat dulu kamarnya ya.” Ibu separu baya itu mengajak Andi melihat-lihat kamar kosnya.
“Yang ini kamarnya dek, silahkan lihat dulu.” Andi segera masuk dan melihat kamar itu. Kamar yang berukuran dua setengah meter persegi itu terlihat sangat sederhana. Lantainya belum keramik, namun terlihat cukup bersih. Andi mengangguk-anggukan kepalanya lalu memandang ke ruang kamar.
“Gimana dek, cocok tidak ?”. Tanya pemilik kontrakan itu.
“Wah kamarnya lumayan bu. Kayaknya cocok untuk saya.”
“Syukurlah kalau cocok. Berarti kamar ini berjodoh dengan adek.”
“Ya bu. Mudah-mudahan saja saya betah di sini”. Ucap Andi.
“Oh ya bu. Ngomong-ngomong kamar ini mau dikontrakan berapa bu ?”.
“Adek mau ngambil tahunan apa bulanan ?”. Tanya pemilik kontrakan.
“Saya mau ngontrak setahun bu. Memang kalau ngontrak bulanan berapa bu ?”. Tanya Andi
“Kalau mau ngambil bulanan harganya seratus ribu perbulannya. Tapi kalau mau ngambil setahun sekaligus harganya cuma satu juta aja dek. Itu pun bisa dicicil kok sampai dua kali. Adek bisa membayar lima ratus dulu.”
“Kalau begitu langsung saya lunasi aja ya bu, biar tidak ribet.”
“Oh ya dek terima kasih ya. Ngomong-ngomong, nama adek siapa ya ? Biar ibu enak memanggilnya.
“Oh ya bu maaf, saya lupa memperkenalkan nama. Nama saya Andi bu. Saya dari kampung Asih.
“Jauh ya dek kampungnya dari sini ?”.
“Tidak juga bu. Kalau ditempuh menggunakan sepeda motor, hanya dua jam saja bu.”
“Jauh juga ya dek. Sampai dua jam perjalanan.”
“Sebenarnya tidak jauh bu. Hanya jalannya saja yang jelek. Makanya sampai dua jam perjalanan.”
“Maaf, kalau ibu sendiri siapa namanya bu ?”.
“Kalau saya Bu Halimah dek. Adek boleh memanggil saya Bu Halimah, atau cukup panggil Ibu saja.”
“Ya bu Halimah. Terima kasih. Ini bu uang kontrakannya.”
“Buru-buru amat sih dek. Kan bayarnya bisa besok-besok aja.”
“Kalau nunggu besok-besok, takut kepakai bu. Maklum lah bu. Namanya juga anak perantauan, hehehe…”
“Ah Dek Andi bisa aja. Terima kasih ya dek, dan ini kuncinya. Semoga Dek Andi betah tinggal di sini ya.”
“Ya bu terima kasih.”
“Silahkan Dek Andi beres-beres. Ibu pamit dulu ya, mau ngambil kwitansi. Oh ya dek Andi. Kalau mau mandi di sebelah sana ya kamar mandinya ya.”
Sore itu Andi langsung berbenah dan menata barang bawaannya. Kemudian pergi ke pasar untuk membeli peralatan dapur dan lainnya. Satu jam kemudian Andi sudah kembali dengan sejumlah barang belanjaannya. Ia segera menurunkan belanjaannya dari sepeda motor. Keringatnya menganak sungai menelusuri badannya yang gempal. Andi mengelap keringatnya pakai sapu tangannya, lalu melepas bajunya yang telah basah kuyup. Kemudian mengipas-ngipas keringatnya sambil merebahkan badannya pada dipan yang hanya beralaskan selembar tikar. Rasa kantuk pun tak lagi dapat dibendung hingga akhirnya Andi pun tertidur.
Napasnya turun naik beraturan, diiringi dengkuran kecil. Rupanya Andi sangat kelelahan. Sampai-sampai tidurnya ngorok. Mengingat selama ini Andi jarang mengangkat beban berat. Bahkan selama ini semua kebutuhannya Ia peroleh dengan mudah. Namun Kali ini Andi harus berjuang sendiri. Andi harus belajar hidup mandiri. Semuanya harus dilakukan sendiri. Tapi ini adalah pilihan hidupnya. Sebuah pilihan yang harus Ia jalani. Demi mengejar apa yang dicita-citakannya.
Suara azan telah berkumandang. Andi terbangun dari lelap tidurnya. Perlahan Ia membuka matanya. Pandangannya tertuju pada kamar yang dilihatnya terasa masih asing. Andi belum sadar sedang berada di mana dan tidur di kamar siapa ?. Kamar itu masih terasa asing baginya. Kedua tangannya mengucak-ucak matanya. Beberapa menit kemudian, Ia baru tersadar bahwa Ia sedang berada di kamar kontrakannya. Ia baru tersadar dirinya berada di sebuah kota di Lampung. Sebuah kota yang akan membimbing dirinya untuk belajar hidup mandiri.
Andi segera bangun dari tidurnya, lalu mengambil sebuah handuk dan pergi ke kamar mandi. Kamar mandi itu terasa sempit baginya. Jika dibandingkan dengan kamar mandi di rumahnya. Lebarnya hanya satu kali satu setengah meter saja. Lebih kecil dari ukuran kamar mandi di rumahnya. Namun Andi tidak mempersoalkan ukuran kamar mandi itu. Ia harus cepat mandi dan tidak boleh berlama-lama di kamar mandi. Karena di luar sudah ada yang mengantri untuk mandi. Megingat itu adalah satu-satunya kamar mandi untuk yang ngontrak. Sehingga Andi harus bergerak cepat dan tak boleh berlama-lama di kamar mandi .
Hanya hitungan menit saja, Andi sudah keluar dari kamar mandi. Kemudian Ia masuk ke kamar kosnya yang masih gelap. Tangan kanannya meraih saklar pada dinding kamar dan memencet tombol saklar tersebut. Hingga kamar itu berubah menjadi terang oleh lampu yang memiliki daya lima wat. Walaupun kamar kontrakannya tidak seterang kamar yang ada di rumahnya, setidaknya kamar itu sudah tidak gelap lagi.
Andi segera menggelar sejadahnya lalu melaksanakan shalat maghrib. Shalat kali ini begitu terasa sepi. Karena Andi hanya sendirian di kamar itu. Selesai shalat, Andi duduk di depan kamar kontrakannya. Matanya memandang ke langit yang penuh dengan taburan bintang. Kerlap-kerlip bintang membentuk sebuah gugusan yang indah. Mengingatkan akan dirinya pada kampung halamannya. Dimana Andi selalu memandang bintang-bintang itu ditemani oleh Siti Amanah.
Tanpa terasa air mata Andi pun mengalir membasahi pipinya. Tiba-tiba Ia teringat pada Siti Amanah yang telah tiada. Napasnya menjadi sedikit sesak lantaran menahan tangis. Andi kembali memandang langit yang bertaburkan jutaan ribu bintang. Jutaan ribu bintang-bintang itu mengajaknya untuk bercengkeramah. Seakan Ia tahu bahwa Andi sedang dilanda kesedihan. Sementara Sang rembulan baru menampakan separo dari wajah cantiknya. Ia ikut sedih memandang wajah Andi yang masih diselimuti duka.
Tanpa sengaja Bu Halimah melihat Andi sedang duduk sendirian. Bu Halimah segera menghampiri Andi, lalu menyapanya,”Kalau jenuh ke sini loh dek nonton tv di rumah.” Andi tersentak dari lamunannya dan menjawab spontan. “Oh ya bu, terima kasih.”
“Memang sekarang di sini masih sepi dek. Mungkin baru besok pagi anak-anak yang ngontrak di sini sudah pada datang.”
“Oh ya ngomong-ngomong Dek Andi sudah kelas berapa ya?” tanya Bu Halimah.
“Saya masih kelas satu Bu, besok baru mau daftar sekolah.”
….………………………………………………………….
“Oh murid baru ya dek. Kebetulaan besok pagi pendaftaraanm murid baru, baru dibuka. Mudah-mudahan adek diterima ya. Soalnya tahun ini menerima enam kelas dek. Sehingga butuh banyak siswa.”
“Do’akan saya ya bu. Semoga saya diterima di sekolah ini.”
“Ya dek, pasti ibu do’akan. Mudah-mudahan Dek Andi diterima ya.”
“Aamiin, terima kasih ya bu atas doanya.”
“Oh ya, ibu tinggal dulu ya dek. Jangan sungkan-sungkan, main-mainlah ke rumah.”
Lalu Bu Halimah meninggalkan Andi sendirian. Andi pun ikut masuk ke kamarnya, lalu membaca buku sambil membaringkan tubuhnya. Andi mulai menguap dan mulai terserang rasa kantuk. Tidak lama kemudian Ia pun terlelap dalam tidurnya. Malam itu Andi tidur sangat pulas sekali. Andi baru terbangun setelah mendengar suara kokok ayam jantan yang memanggilnya.
Andi segera beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di dipan, sambil mengusap matanya yang masih terasa berat. Tidak lama kemudian terdengar suara azan, kemudian Andi pergi mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat dua rakaat. Usai shalat, Andi bingung apa yang harus dikerjakannya. Matanya melirik pada karung beras, lalu mengambil dua canting beras dan memasukannya ke dalam panci. Kemudian Ia mencucinya lalu menanaknya. Sambil menanak nasi, Andi menyiapkan bumbu untuk menumis kacang panjang yang sudah dipotong-potong menjadi pendek-pendek.
Setelah tanak, Andi mengambil sepucuk sendok nasi, lalu mencicipinya. Ternyata nasi tersebut sudah masak. Andi menurunkan panci dari atas kompor, dan menggantinya dengan wajan untuk menumis kacang panjang. Andi menuangkan sedikit minyak goreng ke dalam wajan. Setelah mendidih, kemudian Andi menggoreng bumbu yang sudah disiapkan. Aroma bawang goreng mulai tercium. Kemudian Andi memasukan potongan kacang panjang itu ke dalam wajan, dan mengaduknya sampai rata dengan bumbu. Selanjutnya Andi menuangkan sedikit air ke dalam wajan.
Beberapa menit kemudian, Andi mematikan kompornya. Andi sudah tidak sabar lagi untuk mencicipi hasil kerja kerasnya. Di ambilnya satu sendok kuah tumis dan segera mencicipinya. Andi sedikit nyengir mencicipi tumisnya. “ Wek… ! Asin sekali sayur ini.” Andi melepehkan kuahnya. Lalu Ia menambahkan sayur itu dengan air minum. “Aku tambahkan air lagi lah biar asinnya berkurang.” Andi menuangkan air minum ke dalam sayurnya. Kemudian Ia kembali mencicipi rasa sayurnya. “Rasanya sedikit aneh, tapi lumayan lah. Setidaknya sayur ini sudah bisa aku makan.” Bisiknya.
Andi mengambil satu centong nasi dan sarapan ditemani sayur tumis buatannya. Pagi itu Andi terlihat kurang berselera untuk makan. Karena hasil masakannya tidak seenak masakan Bu Ratno. Apa lagi ini adalah masakan Andi yang pertama kalinya. Sudah bisa dibayangkan rasanya hambar dan aneh. Sedangkan di rumahnya Andi selalu makan dengan ikan dan lauk pauk setiap harinya. Meskipun terasa kurang enak sarapannya, Andi berusaha untuk menghabiskan makannya. Setelah itu berkemas untuk pergi ke sekolah.
Sambil menenteng selembar ijazah, pagi itu Andi pergi ke sekolah. Sekolah itu terletak hanya beberapa puluh meter saja dari tempat ngontraknya. Sehingga Andi hanya berjalan kaki. Sampai di sekolah, Andi mencari informasi tentang tempat pendaftaran. Terlihat seorang satpam sedang berdiri di depan pintu sekolah. Dengan sedikit gugup, Andi bertanya kepada satpam itu.
“Maaf Pak Satpam, tempat pendaftaran siswa baru di sebelah mana ya ?”.
“Di sebelah sana dek. Adek jalan terus, nah di sebelah bangunan itu tempatnya.” “Terima kasih Pak Satpam.”
“Sama-sama dek.”
Andi kemudian menuju tempat yang ditunjuk oleh satpam. Di sana ada satu ruang khusus yang bertuliskan tempat pendaftaran siswa baru. Andi mengetuk pintu sambil mengucap salam.
“Permisi pak, saya mau daftar.”
“Silahkan duduk dek. Ini formulir pendaftarannya. Silahkan diisi dulu, nanti serahkan kembali ke sini ya ?”.
”Terima kasih pak.”
Andi segera mengisi biodata pada formulir pendaftaran. Setelah itu menyerahkan kembali ke panitia pendaftaran.
Panitia segera mengecek kelengkapan pendaftaran Andi. “Nama lengkap Andi. Asal sekolah dan tempat tanggal lahir sudah benar. Sekarang lampirkan foto kopi ijazah SMP dan pas foto nya dek.”
“Berapa lembar pak ?”.
“ Foto kopi ijazah yang sudah dilegalisir dua lembar. Pas poto tiga kali empat, empat lembar ya dek. Serta biaya pendaftarannya dua puluh ribu.”
“Ini pak foto kopi ijazah dan pas fotonya. Serta biaya pendftarannya. Ada lagi pak, yang lainnya ?”.
“Sudah cukup dek, terima kasih.”
Andi adalah pendaftar pertama di sekolah itu. Panitia pendaftarnya terdiri dari guru dan anak-anak OSIS. Mereka sangat ramah sekali. Sehingga Andi merasa nyaman dan ingin berlama-lama berada di tempat itu. Andi sudah tidak merasa canggung lagi untuk bertanya tentang suatu hal. Termasuk bertanya tentang jumlah pendaftar dan kondisi sekolah ini. Ia mencoba bertanya kepada anak-anak OSIS.
”Maaf kak, apa saya boleh bertanya sesuatu ?”.
“Silahkan dek, tanyakan saja.”
“Sudah berapa banyak kak yang daftar di sekolah ini ?”.
“Baru satu yang mendaftar, dek. Yaitu adek sendiri. Karena hari ini baru dibuka pendaftarannya. Dek Andi terlalu pagi datangnya, sih. Nanti juga sebentar lagi ramai yang daftar.”
“Ya kak, saya datang kepagian. Soalnya takut keburu ditutup sih pendaftarannya.”
“Tidak kok dek, masih lama. Masih ada lima hari lagi. Pendaftaran dibuka selama satu minggu. Jadi masih lama kok waktunya.”
“Di sekolah ini apa aja sih kak, kegiatan ekstra kurikulernya ?”.
“Oh, banyak sekali dek. Ada Pramuka, ada berbagai jenis cabang olah raga. Termasuk karate dan pencak silat. Ada juga PMR, dan kegiatan seni. Seperti seni teater, pantomim dan lain sebagainya. Pokoknya dijamin deh, adek akan betah sekolah di sini. Nah adek boleh milih diantara kegiatan itu.”
“Banyak juga ya kak, ekstra kurikulernya.”
“Banyak dek. Kira-kira, adek mau milih kegiatan yang mana ?”.
“Boleh milih dua kegiatan ga, kak ?”.
“Boleh, malah itu bagus sekali. Memang siswa di sini diharuskan memilih minimal dua kegiatan.”
“Kalau boleh tau, kira-kira adek mau milih kegiatan apa aja ?”.
“Kayaknya saya mau milih kegiatan makan kerupuk sama lomba kelereng aja deh kak, hahaha… .”
“Hahaha…, adek bisa nglucu juga ya. Itu mah tidak ada dek.”
“Ya maaf kak saya hanya bercanda. Mungkin saya pilih Pramuka dan voly kak. Biar badan saya tambah langsing.”
“Oh bagus itu dek. Boleh juga loh ditambah satu lagi kegiatan.”
“Kegiatan apa itu kak ?.”
“Nanti masuk di OSIS ya dek. Kayaknya adek cocok di OSIS deh.”
“Ya kak, insya Allah.”
“Oh ya, ngomong-ngomong nama kakak siapa kak ?. Maaf ya kak saya banyak bertanya.”
“Oh tidak apa-apa dek. Kan ada pepatah, malu bertanya sesat di jalan loh, hahaha… “
“Wah wah wah, kakak pinter juga ya. Kaya seorang sastrawan.”
“Ya dek, Kak Firman bukan hanya pinter bercanda. Tapi juga pinter nggombal hahaha…” Canda Rani.
“Nama kakak Firman dek. Kebetulan saat ini kakak dipercaya menjadi ketua OSIS di sekolah ini. Dan kakak yang cantik ini bernama Kak Reni. Kak Reni kebetulan bendahara di OSIS. Nah kalau adek butuh modal untuk buka usaha, bisa hubungi Kak Reni ya, hahaha….”
“Ih !, mulai deh, keluar jailnya. Males, deh.” Sahut Reni.
“OH namanya Kak Reni ya. Salam kenal ya kak dari Andi.”
“Nah, ini nih…, yang kagak ngenakain gue. Pas giliran Kak Reni aja, adek langsung ngajak kenalan. Terus saya nya dicuekin deh, hahaha… ?” Sahut Firman.
“Emang enak dicuekin, hehehe…” Ledek Reni.
“Oh ya maaf Kak Firman, maksud saya, salam kenal semuanya, ya.”
“Ya dek, kakak Cuma bercanda kok.”
“ Tolong nanti bimbing saya ya, Kak Firman.”
“Ya dek. Khusus yang membimbing mu Kak Reni aja ya. Mau gak ?”. Reni menyela.
“Mau dong Kak Reni. Saya tambah semangat deh, kalau Kak Reni yang membimbing saya langsung, hahaha….” Jawab Andi.
Namun percakapan mereka mendadak berhenti karena sudah mulai berdatangan calon murid baru yang lainnya.
“Ada yang bisa kami bantu ?” tanya Firman.
“Kami bertiga mau daftar Kak.”
Reni lalu menyodorkan tiga lembar formulir pada mereka. “Ini formulirnya dek. Tolong diisi ya. Kalau sudah selesai nanti serahkan kembali ke sini.”
“Ya kak” jawab salah satu calon siswa baru.
Melihat kesibukan Firman dan Reni, akhirnya Andi berpamitan. “Maaf kak, saya keluar dulu ya. Terima kasih atas bantuannya”.
“Sama-sama dek” Jawab Firman dan Reni serempak.
Andi kemudian keluar dan duduk di teras sekolah. Ia mengamati satu-persatu bangunan sekolahnya. Tiba-tiba datang seorang anak laki-laki yang menghampirinya.
“Maaf mas, tempat pendaftaran siswa baru di mana ya ?”.
“Yang itu mas. Sampean mau daftar juga ya ?”.
“Ya saya baru mau daftar. Terus sampean daftar juga ya ?”.
“Ya saya baru daftar juga. Yuk saya antar ?” Andi menawarkan diri untuk mengantar calon siswa baru iti.
“Oh boleh mas. Terima kasih ya.”
“Sama-sama mas. Ngomong-ngomong nama saya Andi, nama sampean siapa mas ?”.
“Saya ahmad Mas Andi. Senang bisa berkenalan dengan Mas Andi.”
Andi segera mengantarkan Ahmad ke tempat pendaftaran. Ahmad mengisi formulir pendaftaran yang diberikan oleh panitia. Setelah itu menyerahkannya kembali ke panitia. Lalu keduanya keluar dan duduk di teras sekolah. Lalu mereka kembali menyambung obrolannya.
“Mas Ahmad rencananya nanti mau laju apa mau ngekos mas ?”.
“Saya mau ngekos aja Mas Andi, soalnya kalau dilaju tidak akan keburu. Kira-kira di sini ada kosan nggak ya ?”.
“Kebetulan tidak jauh dari kosan saya ada mas. Kayaknya ada kamar yang mau dikontrakan. Kalau mau lihat nanti saya antar.”
“Kapan kira-kira bisa ngantar ke sana mas ?”.
“Kalau mau, sekarang juga saya antar.”
“Ok kalau begitu sekarang aja ya mas. Tapi saya ngerepotin nggak ya ?”.
“Nggak kok mas. Malah saya senang. Bisa ada teman untuk ngobrol. Sekalian biar Mas Ahmad tahu kontrakan saya.”
“Baiklah terima kasih Mas Andi.” Andi mengajak Ahmad untuk melihat kamar kontrakannya.
“Mas Ahmad ini kontrakan saya. Di sanalah kamar yang mau di kontrakan. Yuk kita ke sana dulu.”
“Jauh nggak mas ?”.
“Ah dekat. Kira-kira Cuma dua puluh meter saja dari sini.” Lalu keduanya pergi menuju ke sana.
Ahmad mengikuti Andi dari belakang. Setelah sampai di kosan yang dimaksud, Andi segera mengetok pintu rumah pemilik kontrakan. Tidak berapa lama, seorang ibu keluar dari rumahnya.
“Ada apa dek ?”.
“Maaf bu, teman saya sedang mencari kontrakan. Apa di sini ada kamar yang mau dikontrakan bu ?”.
“Oh masih ada beberapa kamar dek. Silahkan pilih kamar yang mana yang adek suka.” Lalu pemilik kontrakan itu membuka beberapa kamar kontrakan miliknya.
“Saya pilih kamar yang ini aja bu. Kira-kira berapa satu tahunnya bu ?”.
“Harganya samakan aja dengan kontrakan yang lain. Setahunnya satu juta aja dek. Bisa dibayar setengahnya dulu, dek. Sisanya bisa dibayar bulan depan.”
“Oh ya bu, saya bayar lima ratus dulu ya ?”.
“Ya tidak apa-apa dek”.
Ahmad lalu merogoh kantung celananya. Diambilnya sepuluh lembar uang lima puluhan ribu dari dompetnya. Kemudian menyerahkannya kepada pemilik kontrakan.
“Maaf bu, saya bayar lima ratus dulu ya ?”.
“Ya dek tidak apa-apa. Panggil saya Bu Maryana, ya ? Oh ya. Adek yang satu ini, yang ngontrak di tempat Bu Halimah ya ?”.
“Ya bu, saya yang ngontrak di tempat Bu Halimah. Nama saya Andi bu, dan ini Ahmad bu, teman baru saya.”
“Oh ya, ya, ya. Kebetulan Bu Halimah itu masih saudara dengan saya dek. Dia kakak saya. Main-mainlah ke sini ya. Ajak temannya yang lain kalau masih ada yang mau ngontrak. Ini masih ada satu kamar lagi.”
“Ya bu. Nanti kalau ada yang mau ngontrak saya ajak ke sini.”
“Terima kasih dek Andi. Ibu ke sana dulu ya ?” Kemudian Bu Maryana meninggalkan Andi dan Ahmad.
“Terima kasih Mas Andi. Maaf saya sudah merepotkan sampean.”
“Oh saya tidak merasa direpotkan. Malah saya senang kok, bisa membantu sampean. Nanti kan, jadi ramai di kontrakan ini. Biar tidak sepi lagi. Oh ya, ngomong-ngomong, kapan Mas Ahmad mau menempati kontrakannya ?”.
“Mungkin besok mas. Hari ini saya mau pulang dulu. Soalnya belum membawa bekal.”
“Baiklah besok saya tunggu Mas Ahmad.”
“Kalau begitu saya pulang dulu ya Mas Andi. Sampai ketemu besok ya.”
Keduanya pun berpisah. Ahmad pulang ke kampungnya. Sedangkan Andi kembali ke kontrakannya. Sampai di kontrakan Andi makan siang. Kemudian beristirahat di kamarnya. Ia merasa senang sebentar lagi Ahmad akan tinggal di dekatnya. Sehingga dia tidak akan merasa kesepian lagi. Karena di kota itu, Andi sama sekali belum memiliki teman. Dengan kehadiran Ahmad, setidaknya akan menjadi teman ngobrol Andi.
Keesokan harinya, Andi mendengar ada yang mengetuk kamarnya. Andi yang sedang tiduran, langsung membuka pintu kamarnya. Ternyata yang datang adalah Ahmad.
“Oh Mas Ahmad. Kapan datang ?”.
“Baru nyampai mas. Saya langsung ke sini.”
“Silahkan masuk mas.” Ahmad kemudian masuk dan duduk di atas dipan.
“Dari rumah jam berapa mas ? Kok jam segini sudah sampai.”
“Saya berangkat jam enam pagi mas. Sengaja berangkat pagi- biar bisa beres-beres kamar.”
“Ke sininya naik apa ?”.
“Saya naik sepedah mas.”
“Mana sepedahnya ?”.
“Itu yang di bawah pohon mangga.”
“Wah asyik dong, naik sepedah. Saya juga waktu SMP selalu naik sepedah mas. Sengaja biar sehat.”
“Kalau saya sih terpaksa Mas Andi. Soalnya biar ngirit, hahaha...”
“Ah, Mas Ahmad bisa aja.” Jawab Andi.
Meskipun Ahmad dan Andi baru dua kali bertemu, namun keduanya sudah sangat akrab.
“Mulai sekarang kita saling panggil nama aja ya, biar tidak canggung.”Ucap Andi.
“Ok Mas Andi.”
“Loh kok masih panggil mas. Cukup panggil Andi aja ya.”
“Ya Andi.”
“Nah…, kan kedengarannya lebih akrab.”
“Oh ya Andi, aku ke kosan dulu ya. Mau beres-beres kamar nih. Kamu mau ikut nggak ?’’.
“Ya aku ikut.”
Lalu keduanya keluar kamar. Ahmad mendorong sepedahnya. Sedangkan Andi mengikuti dari belakang. Sampai di kontrakan, Ahmad menata barang bawaannya. Sedangkan Andi menemaninya dengan sabar.
Tiga hari kemudian, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Andi dan Ahmad diterima di sekolah itu. Kedua insan yang baru menjalin persahabatan ini berangkat sekolah bersama. Keduanya berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Karena letak kontrakannya hanya beberapa puluh meter saja dari sekolahnya. Mereka pun mengambil jurusan yang sama, yaitu jurusan manajemen bisnis. Yang menjadi motivasi Andi untuk mengambil jurusan itu adalah Ia ingin seperti orang tua angkatnya yang sukses dibidang bisnisnya. Sedangkan Ahmad ingin belajar tentang ilmu bisnis, karena Ia ingin merubah nasibnya. Ia tidak ingin nasibnya seperti kedua orang tuanya yang secara ekonomi masih belum beruntung.
Hari itu adalah hari pertama kali merek mengikuti kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS). MOS adalah salah satu syarat yang wajib diikuti oleh calon siswa baru. Dalam MOS tersebut diperkenalkan berbagai materi. Diantaranya adalah materi tentang Wawasan Wiyata Mandala. Yaitu cara memandang sekolah sebagai lingkungan pendidikan dan pembelajaran. Wawasan berarti pandangan, tinjauan, konsepsi cara pandang. Wiyata dalam bahasa jawa artinya pengajaran. Yang juga berarti pendidikan. Mandala berarti lingkaran,bundaran, atau lingkungan.
Wawasan Wiyata Mandala adalah sebuah materi khusus yang wajib diketahui oleh calon siswa baru. Dimana materi itu membahas tentang cara mengenal lingkungan sekolahnya yang baru. Ada pun kepanitiaannya melibatkan pengurus OSIS. Untuk membantu kegiatan tersebut. Selama mengikuti kegiatan MOS, Andi menjadi perhatian khusus oleh panitia. Andi yang memiliki kulit putih, berperawakan gempal terlihat sangat menggemaskan. Ia menjadi bulan-bulanan kakak kelasnya. Setiap hari menjadi langganan panitia yang jail. Ia selalu dijadikan bahan lelucon kakak kelasnya. Disuruh merayu dan sebagainya. Dengan gayanya yang lucu, Andi mengikuti saja perintah kakak kelasnya. Panitia pun tertawa terbahak-bahak melihat gaya konyol Andi yang lucu.
Sehingga dalam waktu yang sangat singkat, Andi sangat familiar di sekolah itu. Gayanya yang kocak, mampu menghidupkan suasana kegiatan MOS. Terkadang dengan gaya lugunya, Andi mampu membuat panitia tertawa terpingkal-pingkal. Hal ini menjadi kesan tersendiri pada kegiatan MOS ditahun ini. Ada peserta yang sangat aktif namun juga sangat lucu.
Resmi sudah Andi diterima sebagai siswa baru di SMK itu. Setelah selama satu minggu penuh telah mengikuti kegiatan MOS. Bahkan Andi dinobatkan sebagai peserta MOS yang terlucu. Andi pun mendapat ucapan selamat dari panitia. Termasuk ucapan dari Firman dan Reni.
“Selamat ya dek. Mudah-mudahan kamu tambah betah sekolah di sini.”
“Terima kasih Kak Firman. Terima kasih Kak Reni.” Ucap Andi penuh haru.
Diiringi sorak-sorai dan tepuk tangan dari seluruh peserta. Hal ini membuat Andi sangat dikenal di sekolah itu. Andi sekarang sudah memiliki banyak teman. Membuat Andi semakin merasa betah di sekolah itu.
Selanjutnya Bapak Kepala Sekolah akan menutup kegiatan MOS. Namun sebelum acara tersebut ditutup, beliau memberikan pesan kepada peserta MOS.
”Anak-anak sekalian. Kegiatan MOS adalah syarat wajib yang harus kalian ikuti. Sebagai syarat kalian di terima di sekolah yang baru ini. Sebelum siswa dinyatakan lulus mengikuti kegiatan MOS, maka kalian belum sepenuhnya diterima menjadi siswa baru di sekolah ini. Ini menunjukan betapa pentingnya kegiatan MOS ini. Bagi yang hari ini belum dinyatakan lulus, maka akan diikutkan kembali pada tahun depan. Bagi yang sudah dinyatakan lulus, maka hari ini kalian sudah resmi menjadi siswa di sekolah ini. Untuk itu kami ucapkan selamat kepada kalian.”
“Selama satu minggu penuh kalian telah mengikuti kegiatan MOS. Dengan berbagai materi yang telah kami berikan. Yang di dalamnya ada materi tentang Wawasan Wiyata Mandala. Tentang bagaimana kita harus berperilaku di dalam lingkungan sekolah. Termasuk adalah tentang kedisiplinan siswa. Selama satu minggu kalian sudah bisa membuktikan tentang kedisiplinan. Nah itu harus kalian terapkan di sekolah ini. Jangan sampai selesai kegiatan MOS ini, kalian tidak lagi disiplin. Itu berarti kegiatan MOS ini tidak berbekas.” Ucap kepala Sekolah.
Akhirnya kepala Sekolah menutup secara resmi kegiatan MOS. Dilanjutkan dengan acara berjabat tangan. Saling memaafkan antara peserta dengan panitia.
Sejak dinyatakan lulus sebagai siswa baru, Andi bersemangat mengikuti berbagai kegiatan di sekolah. Termasuk mengikuti perlombaan dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan RI. Sehingga Andi belum bisa pulang ke kampung halamannya. Ini membuat Bu Ratno jadi sangat khawatir. Takut terjadi apa-apa dengan Andi. Karena di sana Andi sama sekali tidak punya saudara. Termasuk belum punya teman. Bu Ratno bingung harus bertanya pada siapa tentang keberadaan Andi. Ia hanya bisa menunggu dan menunggu. Sampai-sampai setiap hari sabtu, Bu Ratno selalu duduk di depan rumah. Berharap Andi akan pulang.
“Udahlah bu, Andi pasti baik-baik saja kok di sana. Jangan terlalu dipikirkan. Andi kan sudah besar bu. Nanti ibu sakit loh.” Ucap Diah Astuti.
“Gimana ibu tidak memikirkan adekmu, ndu. Sampai hari ini masih belum ada kabar juga. Ibu takut dia sakit. Andi kan selama ini belum pernah jauh dari kita. Selama ini, mencuci baju aja tidak pernah. Apa lagi untuk mengurus dirinya.”
“Do’akan saja bu, agar Andi baik-baik saja di sana.”
“Ya ndu. Hanya itu yang bisa kita lakukan.”
Bu Ratno sangat merindukan Andi. Rindu akan kelucuannya, dan rindu akan kemanjaannya. Badan Andi memang besar. Tapi umur Andi masih terlalu muda. Untuk bisa menghadapi segala masalah yang datang. Bagaimana kalau Andi sakit ?. Siapa yang akan mengurusnya ?. Bu Ratno tenggelam dalam lamunannya. Berkali-kali Ia menarik napas dalam-dalam. Duduk seorang diri di depan rumahnya.
Diah Astuti tidak bisa berbuat apa-apa melihat ibunya yang sering duduk melamun karena memikirkan Andi. Dari berangkat sampi sekarang Andi belum pernah pulang. Bukan hanya Bu Ratno saja yang rindu dengan Andi. Ternyata Diah Astuti pun sama merindukan Andi. Diah Astuti juga sangat mengkhawatirkan Andi yang pergi tanpa kabar berita. Namun kekhawatirannya terhadap Andi, Ia tutupi rapat-rapat karena tidak mau menambah beban pikiran ibu nya.
Untungnya warung Bu Ratno selalu ramai dikunjungi pembeli. Sehingga rasa rindu Bu Ratno kepada Andi bisa lupa lantaran Bu Ratno melayani para pembeli. Kesibukan Bu Ratno ternyata mampu melupakan rasa kangennya kepada Andi. Sehingga Bu Ratno lupa untuk memikirkan Andi. Ia kembali melamun ketika tidak ada pembeli yang datang. Disinilah peran Diah Astuti untuk menemani ibunya. Menemani ngobrol agar Bu Ratno tidak sempat melamun lagi untuk memikirkan Andi.
Empat bulan kini telah berlalu. Andi yang ditunggu-tunggu pun belum menampakan hidungnya juga. Sore itu keluarga Pak Ratno sedang duduk-duduk di depan teras rumah. Mereka sedang pada ngobrol membicarakan Andi. Bu Ratno meminta suaminya agar mencari alamat Andi. Namun mereka tidak tau dimana Andi Sekolah. Sebab pada saat mau mendaftar, Andi menolak untuk diantarkan. Andi tidak mau merepotkan keluarganya. Ia meyakinkan pada keluarganya saat itu bahwa Ia bisa berangkat sendiri.
Di saat sedang membicarakan Andi, terdengar suara motor dari kejauhan. “Jangan-jangan itu suara motor Andi Bu.” Ucap Diah Astuti. Tapi Bu Ratno sama sekali tidak menggubris perkataan Diah Astuti. Ia tetap ngobrol dengan Pak Ratno. Bu Ratno tidak percaya apa yang disampaikan oleh Diah Astuti. Karena sudah beberapa kali Bu Ratno dibuat kecewa menduga-duga motor yang datang adalah motor Andi. Sampai-sampai Bu Ratno menunggu di depan rumah. Ternyata yang datang adalah orang lewat yang kebetulan lewat di depan rumah. Bu Ratno samapi malu mengira bahwa yang datang adalah Andi.
Kali ini Bu Ratno tidak mau tertipu lagi. Bu Ratno tidak percaya pada ucapan Diah Astuti yang memberi tahunya bahwa motor yang datang itu adalah Andi.
“Bu, benar bu. Itu suara motor Andi, bu.”
“Udahlah Diah Astuti ! Kamu jangan membuat ibu malu lagi !”.
“Benar bu, kali ini saya tidak salah lagi bu. Itu benar suara motor Andi.” Diah Astuti tetap ngotot bahwa suara motor itu adalah motor Andi.
Bu Ratno tetap cuek dan kembali melanjutkan obrolannya dengan Pak Ratno. Suara motor itu semakin lama-semakin dekat. Sampai pada akhirnya terlihat, siapa sebenarnya yang mengendarai motor itu ?.
“Ibu…, benarkan. Coba lihat siapa yang datang.”
“Ah, kamu ini. Senang deh ngerjain ibu !”.
“ Coba lihat sebentar bu, Saya tidak bohong, bu.”
Perlahan Bu Ratno melirik ke arah motor yang datang. Ia tersentak kaget tak percaya.
“Apa ibu tidak sedang bermimpi ndu.”
“Tidak bu. Ibu tidak sedang bermimpi. Itu benar Andi yang datang bu.”
Bu Ratno langsung berlari menghampiri pemotor itu. “Engkaukah itu Andi ?”. Bu Ratno tak percaya.
“Ya bu, ini Andi.”
Andi segera turun dari motornya dan langsung memeluk Bu Ratno. Setelah itu, Andi memeluk Diah Astuti. Diah Astuti mengelus-elus rambut Andi yang cepak mirip seorang tentara. “Dek-dek kamu ini sampai membuat kami semua khawatir.”
Andi terlihat tambah bersih. Namun badannya terlihat lebih kurus. Maklum Andi harus masak sendiri dan nyuci baju sendiri. Di pelipisnya mulai tumbuh jambang halus. Begitu juga sudah mulai tumbuh kumis dan jenggotnya. Membuat Andi terlihat tambah gagah.
“Kemudian Andi menghampiri Pak Ratno yang masih duduk di depan rumah. Lalu memeluk ayah angkatnya.
“Apa kabar Andi ? Kamu sudah membuat kami sangat khawatir sekali.”
“Maaf Ayah, Andi baru bisa pulang. Soalnya kegiatannya sangat padat.”
“Sesibuk apa pun kan kamu bisa meluangkan waktu untuk memberi kabar. Kasihan tuh ibu mu. Setiap hari menangis memikirkan kamu. Lain kali, jangan begitu ya ?” sambil menepuk-nepuk pundak Andi.
“Ya ayah, maaf.”
“Udahlah pak. Orang baru datang kok sudah dimarahin begitu. Yang penting Andi sudah pulang sekarang.”
“Siapa yang marahin Andi, bu. Wong bapak cuma bilang, sesibuk apapun dia harus tetap memberi kabar. Coba kalau besok-besok Andi seperti itu lagi. Nanti ibu menangis lagi, seperti kemarin, hahaha... .”
“Ya Andi, kamu ini keterlaluan sekali.”
“Ya bu. Andi tidak akan mengulainya lagi, kok.”
“ya udah. Yuk kita masuk. Kasihan tu, Andi sudah kehausan” ucap Bu Ratno.
Andi pun masuk ke rumah. Ia segera membuka kamar tidurnya. Lalu berbaring di kamarnya.
“Andi…?”.
“Ya, bu… .”
“Sini nak, makan dulu. Ibu sudah menyiapkan makanan.” Andi segera keluar dari kamarnya. Lalu pergi ke ruang makan.
“Makan yang ada aja ya, nak. Coba kalau ibu tahu kamu akan pulang. Pasti sudah ibu masakin ayam kampung kesukaanmu.”
“Udah loh bu. Ini sudah lebih dari cukup. Sudah ada ikan, ada sayur bayam lagi. Ini sudah lebih dari cukup. Jika dibandingkan dengan makanan yang selalu aku makan di kontrakan. ”
“Memang kamu di sana makan pakai apa Andi ?”.
“Paling-paling pakai ikan asin. Sayur toge dan buncis bu.”
“Memangnya di rumah makan, lauknya hanya itu-itu aja Andi ?”.
“Andi masak sendiri bu. Kalau Andi beli daging, tidak tahu cara masaknya bu, hahaha… .”
“Memang kamu sudah bisa masak sekarang ? Pantesan kamu kelihatan lebih kurus.”
“Ya bu itung-itung belajar hidup mandiri.”
“Ya udah, besok ibu potongin ayam ya. Biar tambah gizinya. Lihat tuh badan kamu kurus begitu.”
“Ya bu terima kasih. Sekalian besok Andi mau belajar cara masaknya.”
Andi tinggal beberapa hari di rumahnya. Selama beberapa hari itu, Andi membantu kakaknya masak di dapur. Bahkan Andi juga tidak mau bajunya dicucikan lagi. Andi selalu mencuci dan menggosok sendiri. Selama hidup di kontrakan, ternyata mampu membuat Andi menjadi mandiri. Ia telah menjadi seorang pemuda yang bertanggung jawab. Bu Ratno merasa bangga dengan perubahan yang terjadi pada diri Andi. Sekarang Ia menjadi yakin bahwa Andi sudah bisa mengurus dirinya sendiri.
Sudah beberapa hari Andi berada di rumahnya. Tanpa terasa Ia harus kembali lagi ke sekolah. Andi sudah menyiapkan perbekalannya.
“Ini nak, uang untuk belanja selama kamu di sana. Jangan lupa memberi kabar pada ibu, ya.” Bu Ratno menyodorkan sejumlah uang kepada Andi.
“Ya bu terima kasih. Ayah, Ibu Andi berangkat dulu ya. Kak Diah, Andi berangkat dulu ya. Senyum tulus terlintas pada wajah Bu Ratno.
Andi bergegas melangkah meninggalkan rumahnya. Namun langkahnya mendadak terhenti. Karena Diah Astuti menarik tangan Andi, lalu memeluknya sambil matanya berkaca-kaca.
“Ada apa kak ?. Kenapa Kak Diah menangis ?”.
“Kakak masih kangen dek. Kenapa baru beberapa hari saja, kamu sudah mau berangkat lagi dek ?”.
“Ah, Kak Diah ini. Kaya kita tidak akan ketemu lagi. Nanti kan Andi pulang lagi kak.”
“Ya udah, baik-baik di sana ya, dek. Jangan nakal !”
“Ya, kakak ku… Jangan khawatirkan Andi ya. Kaya Andi masih kecil aja, hahaha… .”
Kemudian Diah Astuti melepaskan pelukannya, sambil menatap wajah Andi. Sementara Andi tidak berani memandang tatapan mata Diah Astuti yang masih berkaca-kaca. Dengan berat hati Andi tetap pergi meninggalkan kakaknya yang masih sedih.
“Andi berangkat dulu ya kak.’’ Diah Astuti mengangguk sambil melambaikan tangannya. Andi segera mengemasi barang bawaannya, dan mengikatnya ke atas jok motor. Kemudian Andi mengengkol motor bebeknya, lalu melambaikan tangannya, dan pergi meninggalkan mereka. Bu Ratno dan Diah Astuti membalas lambaikan tangan Andi. Mereka memandang Andi sampai menghilang di pertigaan jalan. Bu Ratno dan Diah Astuti kemudian masuk ke rumah dan melanjutkan kembali aktivitasnya.
Sementara sambil mengendarai motornya, Andi masih memikirkan Diah Astuti. Sebelumnya, Andi tidak pernah melihat kakaknya sesedih itu. Ada kesedihan yang sangat mendalam pada wajah kakaknya. Sehingga Andi tidak tega untuk memandang wajah kakaknya. Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh Diah Astuti ?. Sehingga menjadi sesedih itu. Andi menarik napas panjang lalu mengoper gigi motornya. Kemudian menarik gas motornya. Motor pun melesat menerobos kecepatan angin. Sehingga Andi cepat sampai di kontrakannya. Kemudian Andi segera menyetandarkan motornya. Lalu membawa masuk semua barang bawaannya.
Andi segera membuka jaket yang dikenakannya. Kemudian memutar lagu tembang jawa pada tape recodernya. Andi meluruskan kakinya sambil tiduran di kamar. Sayup-sayup matanya mulai redup mendengar alunan tembang jawa. Sampai akhirnya Andi pun terlelap tidur. Sekarang Andi memasuk ke alam mimpinya. Dalam mimpi, Andi menyaksikan sebuah adegan yang menakutkan. Ia melihat Diah Astuti sedang menangis minta tolong. Tubuhnya diikat pada sebatang pohon oleh seorang laki-laki berjubah hitam. Kemudian laki-laki itu, melantunkan sebuah mantra.
Diah Astuti terus meronta sambil berteriak minta tolong. Namun teriakannya tidak digubris oleh Sosok Berjubah Hitam itu. Malah mulutnya komat-kamit membacakan mantra. “Wahai sang Ratu kegelapan. Penguasa mahluk kegelapan. Dari balik kabut hitam. Ku persembahan perawan kesayangan ku. Sebagai bukti kesetiyaan ku padamu. Terimalah persembahan ku ini. Sebagai tumbal pesugihan ku. Untuk memenuhi janji setia ku.” Sosok itu terus membacakan mantra.
Diah Astuti terus menjerit minta tolong. “Tolong…, tolong…, tolong… .” Jeritan itu akhirnya membangunkan Andi yang sedang tidur. Andi melompat kaget hingga Ia terjatuh dari tempat tidurnya. “Aduh !” Kepala Andi membentur lantai. Andi bangun, kemudian duduk di tempat tidurnya.
“Apa sebenarnya yang terjadi ?. Ternyata aku mimpi buruk lagi. Mimpi ini sama persis dengan mimpiku dulu. Apakah ini pertanda, sesuatu akan terjadi lagi pada Kak Diah ?. Jangan-jangan mimpi ku ini akan menjadi kenyataan. Seperti yang terjadi pada Kak Siti Amanah. Ah !, mungkin karena aku kecapean.”
Kemudian Andi beranjak dari tempat tidurnya, dan mengambil dua canting beras untuk dimasak. Setelah masak, Andi mengambil dua centong nasi. Kemudian mengambil lauk-pauk yang dibawanya dari kampung.
“Nikmat sekali rasanya makan hari ini. Biasanya aku makan, hanya pakai lauk ikan asin dan sayur buncis saja.” Andi pun makan sangat lahap. Tiba-tiba Ahmad datang mengetuk pintu. Tok… ! Tok… ! Tok… !
“Andi ?”.
“Ya Mad, Masuk! Makan dulu Mad.”
“Kebetulan aku sudah makan Andi.” Jawab ahmad.
“Tumben kamu berpakaian olahraga. Memangnya mau ke mana ?”.
“Aku mau mencari keringat. Kamu mau ikut nggak ?”.
“Ya aku mau ikut. Tapi tunggu ya sebentar. Aku selesaikan dulu makannya.” Ahmad pun menunggu Andi menyelesaikan makannya. Setelah makan, Andi mengenakan trening.
“Ok Mad, aku sudah siap. Tapi jalannya pelan aja ya. Perut ku masih kenyang.”
Keduanya pun berjalan kaki menuju lapangan sepak bola. Sampai di lapangan mereka melakukan warming up atau pemanasan. Setelah itu mereka berlari kecil mengelilingi lapangan. Keringat pun mulai mengalir. Kaos yang mereka kenakan telah basah kuyup. Kemudian keduanya beristirahat dan mengeringkan keringatnya, sambil duduk di atas rumput yang telah dicukur. Andi dan Ahmad meluruskan kakinya sambil menggerak-gerakannya. Setelah itu mereka kembali ke kontrakannya.
Sampai di kontrakan, Andi mandi, dan mengambil air wudhu. Kemudian mengunggu datangnya maghrib. Sambil menunggu azan, Ia membaca buku mata pelajaran. Badannya disandarkan pada dinding kamar. Kemudian membuka lembaran demi lembaran buku-buku itu. Kemudian pandangannya tertuju pada foto Diah Astuti yang terpasang pada dinding kamar.
Andi kembali teringat pada tangisan Diah Astuti . Begitu berat Diah Astuti melepas keberangkatan Andi waktu itu. Andi terbayang pada mata Diah Astuti yang sedang berkaca-kaca. Andi juga teringat kembali akan mimpinya tadi siang. Ia mencoba mengungkap arti di balik mimpi itu. Andi sangat khawatir mimpinya itu akan menjadi sebuah kenyataan. Seperti mimpinya dulu tentang Siti Amanah, yang pada akhirnya Siti Amanah harus pergi untuk selama-lamanya. Andi berharap mimpinya kali ini hanyalah sebagai bunga tidur saja. Apa lagi mimpi untuh terjadi pada siang hari.
Andi merefresh kembali ingatannya tentang tangisan Diah Astuti pada waktu Andi mau berangkat. Diah Astuti menangis, lantaran masih kangen pada Andi dan tidak mau ditinggalkan. Andi menarik napas dalam-dalam, lalu pergi ke masjid. Andi mampir ke kontrakan Ahmad dan mengajaknya pergi ke masjid. Kebetulan saat itu Ahmad sudah menunggunya di depan kontrakannya.
Selesai shalat, Andi pulang ke kontrakannya. Kemudian mengambil tumpukan buku di meja belajarnya. Ia membuka kembali buku mata pelajarannya. Satu-persatu buku-buku itu dibacanya kembali. Setelah selesai dengan buku yang satu, Andi membaca buku yang lainnya. maklum ujian semester pertama sudah semakin dekat. Sehingga Andi perlu belajar keras untuk menghadapi ujian semester. Malam itu Andi belajar hingga sampai larut malam. Rasa kantuk pun sudah tidak bisa terbendung lagi. Ia membaringkan tubuhnya menghadap langit-langit. Hingga akhirnya Andi terlelap tidur sampai pagi. Ia baru bangun setelah mendengar suara koko ayam jantan.
Pagi harinya Andi melemaskan otot-ototnya yang terasa sedikit kencang. Ia melakukan gerakan senam di depan kamar kontrakannya. Setelah itu mandi dan mengenakan seragam sekolahnya. Tidak lama kemudian, Ahmad pun datang dengan seragam sekolhnya.
“Udah siap, Andi ?. Yuk, kita berangkat.”
“Udah dong.” jawab Andi.
Keduanya pun berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Dua remaja yang baru menjalin persahabatan itu tampak akrab sekali. Ke mana-mana selalu berdua. Sehingga di sekolahnya mereka dijuluki Si kembar siam. Yang artinya keduanya tidak bisa di pisahkan. Dimana ada Andi, pasti di situ ada Ahmad juga.
Setelah berjalan kurang lebih tiga menit, mereka sudah sampai di sekolah. Di sekolah masih terlihat begitu sepi. Rupanya Andi dan Ahmad datang paling awal. Sambil menunggu kedatangan murid yang lain, Andi dan Ahmad membaca buku di depan kelas. Karena pintu kelasnya masih dalam keadaan terkunci. Sepuluh menit kemudian pintu kelas pun baru dibuka oleh siswa yang mendapat giliran piket di pagi itu. Setelah kelas dibersihkan, Andi dan Ahmad masuk ke kelas.
Suasana di kelas itu memang sedikit berbeda dari kelas lainnya. Siswanya terkenal sangat aktif dan sangat bersemangat untuk mengikuti pelajaran. Membuat guru yang mengajar di kelas itu tambah bersemangat. Walaupun siswanya berasal dari status sosial yang berbeda, namun terlihat sangat kompak. Kompak dalam mengikuti pelajaran, maupun kompak dalam mengikuti berbagai macam kegiatan lainnya. Sehingga wajar saja pada setiap momen perlombaan, kelas ini selalu berhasil menyabet juara umum.
Ujian semester pun telah tiba. Seluruh siswa hari itu sedang menghadapi ujian. Begitu juga dengan Andi dan Ahmad. Andi tampak santai menjawab semua soal ujian. Walaupun tidak semua soal bisa Andi jawab, namun Andi terlihat sangat meyakinkan. Dia mendapat tempat duduk paling depan. Dekat dengan tempat duduk pengawas. Pengawas memperhatikan satu-persatu siswanya yang sedang mengerjakan soal ujian. Bisa dibilang selama melaksanakan ujian, di kelas itu berjalan paling kondusif. Semuanya berjalan lancer dan tidak ada satu siswa pun yang datang terlambat.
Keesokan harinya siswa mendapat selembar kertas hasil ujian yang dibagikan oleh guru. Ada yang bersorak melompat kegirangan, karena nilai ujiannya sangat memuaskan. Namun ada juga siswa yang menerima hasil ujiannya dengan wajah yang murung. Lantaran nilainya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Andi adalah salah satu siswa yang menerima hasil ujiannya dengan bibir tersenyum. Bagaimana tidak ! Selama Andi duduk di bangku SMP nilainya tidak pernah lebih dari angka tujuh. Tapi kali ini nilai ujian Andi mencapai angka delapan. Ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi Andi.
Andi merasa belajarnya selama ini tidak sia-sia. Bahkan ke depannya Andi akan belajar lebih giat lagi. Andi selalu membaca buku untuk mempersiapkan ujiannya. Satu-persatu buku mata pelajarannya kembali dibacanya. Berulang kali Andi membaca buku mata pelajarannya. Hingga Ia hafal letak halaman pada buku itu.
Sampailah di penghujung ujian akhir semester. Nasib seluruh siswa akan ditentukan satu minggu ke depan. Di mana satu-persatu siswa akan menerima sebuah buku laporan hasil belajarnya. Sambil menunggu pembagian raport, pengurus OSIS di sekolah itu, menggelar berbagai cabang pertandingan untuk menentukan kelas manakah yang paling layak menyandang sebagai juara.
Pertandingam yang digelar oleh OSIS itu meliputi cabang bola volly, bola kaki, bulu tangkis dan cabang pertandingan lainnya. Dalam pertandingan ini diikuti oleh semua kelas. Dari kelas satu sampai kelas tiga. Masing-masing kelas pun mulai menyiapkan jago-jagonya, untuk menumbangkan lawan-lawannya. Tidak terkecuali jago-jago yang disiapkan oleh kelas satu jurusan Manajemen Bisnis satu.
Pertandingan-demi pertandingan telah dilaksanakan. Satu-persatu kelas mulai tumbang. Tinggalah pertarungan ketat dicabang bola volley yang belum selesai dipertandingkan. Untuk memperebutkan juara satu dan dua. Dimana dalam pertandingan ini kelas tiga Akuntansi satu melawan kelas satu jurusan Manajemen Bisnis satu. Serangan demi serangan dilancarkan oleh kedua team. Berupa smes keras untuk menambah skor kedudukannya.
Sorak-sorai dukungan tarus mengalir dari sporter kedua belah pihak. Hingga akhirnya kelas tiga Akuntansi satu ini, harus bertekuk lutut dihadapan juniornya. Mereka harus rela mengakui keunggulan adek kelasnya. Dengan demikian yang berhak menyandang gelar juara umum adalah kelas satu manajemen Bisnis satu. Juara umum kedua diraih kelas tiga akuntansi satu. Sedangkan kelas dua Akuntansi satu, harus puas di posisi juara umum ketiga. Kelas yang dikenal dengan sebutan kelas multi talen ini, mampu mempertahankan nama besarnya. Bukan hanya menjadi juara di sekolahnya saja. kelas ini juga sering diutus sekolahnya untuk bertanding keluar kandang.
Hari sabtu pun telah tiba. Seluruh siswa sedang menunggu nasibnya di kelasnya masing-masing. Merika sedang menunggu giliran dipanggil oleh wali kelas, untuk menerima Lapor hasil belajarnya selama satu semester. Begitu juga dengan kelas satu Manajemen Bisnis satu. Seluruh siswa sudah duduk rapi di dalam kelas sedang menunggu kedatangan wali kelasnya. Tidak lama kemudian Bu Guru masuk ke kelas itu, lalu mengumumkan nama-nama siswanya yang berprestasi. Dengan hati yang berdebar-debar, mereka berharap dirinyalah yang menjadi peringkat pertama di kelasnya.
“Baik anak-anak, ibu akan mengumumkan siapa yang menjadi peringkat ketiga, kedua dan peringkat pertama di kelas ini. Bagi yang memperoleh peringkat ketiga, kedua dan pertama, dimohon maju ke depan. Baiklah ibu akan panggil, peringkat ketiga diraih oleh Andi. Tepuk tangan untuk Andi.”
“Andi ! Andi ! Andi ! Andi !” Suara siswa menyemangati Andi sambil bertepuk tangan.
Namun Andi tidak maju dan masih duduk di kursinya. Ia tidak percaya bahwa dirinya memperoleh nilai terbaik ketiga. Karena selama duduk di bangku SD dan SMP, Andi sama sekali belum pernah ranking kelas. Bu Guru kembali meminta Andi untuk maju.
“Andi silahkan maju ke depan.” Perintah Bu Guru.
“Itu Benar saya bu ? Apa ibu tidak salah menyebut nama ?”. Siswa yang lain pun tertawa melihat tingkah Andi yang lucu.
“Hahaha… Benar, Andi. Itu nama kamu yang dipanggil.” Ucap Ahmad.
Andi pun maju ke depan dan menerima raportnya. Kemudian Ia duduk kembali di tempat duduknya. Andi masih cengengesan tidak percaya. Ia merasa ini hanyalah mimpi. “Benar nggak Mad, aku ini tidak sedang bermimpi.” Ahmad pun reflek mencubit perut Andi. “Auww…!” teriak Andi.
“ Sakit ya ?” tanya Ahmad.
“Sakit tahu !” jawab Andi sambil memegang perutnya.
“Berati kamu tidak sedang bermimpi Andi, hahaha… .” Jawab Ahmad.
Bu Guru pun melanjutkan membagikan raport. “Peringkat kedua, diraih oleh Maghdalena. Beri tepuk tangan untuk Maghdalena. Selanjutnya, siapakah yang meraih peringkat pertama?”. Bu Guru diam sejenak.
Suasana kelas pun menjadi hening sesaat. Kemudian Bu Guru melanjutkan kembali pengumumannya. “Yang menjadi peringkat pertama adalah…, Ahmad.” Ahmad berdiri sambil bersorak kegirangan. Setelah itu maju mengambil buku raportnya. Bu Guru melanjutkan membagikan raport yang lainnya. Setelah raport itu dibagikan semua, Bu Guru keluar meninggalkan kelas. Disusul oleh siswa. Satu-persatu seluruh siswa keluar kelas dan pulang ke kampung halamannya.
Begitu juga dengan Andi. Andi keluar dari kelas, dan pulang ke kontrakannya. Sampai di kontrakan, Andi mengeluarkan motornya dari dalam kamar. Kemudian mengengkol Si bebek merah, untuk dipanaskan. Beberapa saat kemudian, Andi menarik gas motornya. Motor pun pergi meninggalkan kontrakannya. Hari itu, Andi merasa sangat rindu sekali dengan keluarganya. Rindu kepada kedua orang tua nya, dan rindu kepada kakak nya. Andi merasa bersalah pada Diah Astuti. Waktu itu, meninggalkan Diah Astuti dalam keadaan sedang menangis. Membuat Andi ingin cepat sampai di rumahnya. Ia pun segera mengoper gigi motornya. Hingga melesat sampai di rumahnya.
Sampai di rumah, Andi merasa heran. Mengapa banyak sekali orang berada di rumahnya. Orang-orang itu pun memandang Andi tanpa sepatah katapun. Rasanya ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan. Andi pergi ke dapur dan memperhatikan satu-persatu orang yang ada di sana. Di dapur Andi tidak melihat Bu Ratno dan Diah Astuti. Lalu Andi pergi ke kamar Diah Astuti. Kamar itu pun kosong dan sedikit berantakan. Kemudian Andi keluar dan memperhatikan satu-persatu semua orang yang ada di sana. Di luar Andi melihat Pak Ratno sedang berbincang-bincang dengan warga.
Sekarang giliran Andi mencari Bu Ratno dan Diah Astuti. Andi sudah mencari ke sana ke mari, namun belum juga menemukan Bu Ratno dan Diah Astuti. Akhirnya Andi memutuskan untuk mencari ke kamar Bu Ratno. Ternyata Bu Ratno sedang duduk sambil memeluk foto Diah Astuti. Andi mendekati Bu Ratno lalu berkata, “Bu, mana Kak Diah Astuti Bu ?. Mengapa ibu terlihat begitu sedih, bu ?”. Bu Ratno tidak menjawab pertanyaan Andi.
Kemudian Andi pergi meninggalkan Bu Ratno, dan kembali mencari Diah Astuti di kamarnya. Sampai kaki Andi terasa lemas mencari Diah Astuti, ke sana dan kemari. Namun Diah Astuti belum ditemukan juga. Andi pun kembali menemui Bu Ratno, dan duduk di depannya. Sambil memandang wajah Bu Ratno, Andi kembali melanjutkan pertanyaannya. “Bu, mengapa banyak sekali orang di rumah ini bu ?. Apa sebenarnya yang sudah terjadi, bu ?”. Bu Ratno tetap membisu.
Sekali lagi Andi keluar kamar dan mondar-mandir di depan kamar ibu nya. Lalu masuk kembali dan kembali melanjutkan bertanyaannya. “Ibu ?! Ada apa di rumah ini bu ? Mengapa banyak sekali orang di rumah ini ? Di mana Kak Diah, bu. Jawab !”. Bu Ratno tetap membisu sambil matanya berkaca-kaca. Membuat Andi sudah tidak sabar lagi ingin mendengar jawaban dari Bu Ratno. Andi pun duduk bersandar pada dinding kamar. Wajahnya terlihat sangat putus asa. Kemudian berdiri mendekati Bu Ratno.
Andi sudah tidak sabar lagi mendengar jawaban dari Bu Ratno. Kedua tangannya mencengkeram pundak Bu Ratno, sambil mencecar pertanyaan. “Di mana Kak Diah, Bu ?. Jawab, bu !. Ibu jangan diam saja. Jawab, bu.” sambil mengguncang-guncangkan pundak Bu Ratno. Tiba-tiba Bu Ratno memeluk Andi sambil menjawab terbatah-batah.
“Kak Di…ah, Di..Diah… .”
”Kak Diah kenapa, bu ?!” desak Andi.
“Su… dah. Tia…da !”.
“Maksudnya apa, bu ?!” desak Andi lagi.
“Ka…, kak mu. Sudah mening… gal, Andi.”
“Tidak… ! Tidak… ! Tidak mungkib ! Ibu pasti bohong kan ?!”
“Ibu tidak bohong, Nak. Kemarin malam, entah kenapa kakak mu menjerit ketakutan. Lalu demam tinggi, dan tadi pagi meninggal dunia.” Mendengar jawaban Bu Ratno, Andi menangis sejadi-jadinya.
Tangan Andi melepas pudak Bu Ratno, lalu duduk bersimpuh di depannya. Andi merasa menyesal mengapa Ia tidak bisa menolong kakaknya. Pedahal sebelum Diah Astuti meninggal, Andi sudah diberitahu lewat mimpinya. Bahwa Diah Astuti minta tolong sama Andi. Namun Andi mengabaikan mimpi itu. Kini Andi sangat menyesal tidak bisa menolong Diah Astuti. “Maafkan Andi kak. Andi tidak bisa menolong kakak.” Andi terus menangis. Kemudian tangisannya tidak terdengar lagi. Bu Ratno menggoyang-goyang Andi. Namun Andi tetap diam.
Bu Ratno panik dan menjerit minta tolong. “Tolong… ! Tolong…!” Pak Ratno langsung berlari mendengar jeritan istrinya. “Ada apa, bu ?”.
“Lihat Andi, pak. Andi pingsan.”
Beberapa orang warga membantu Pak Ratno mengangkat Andi dan memindahkannya di kamarnya. Bu Ratno berusaha membangunkan Andi, sambil memanggil-manggil Andi dan mengguncang-guncang tubuhnya.
“Bangun, Nak. Jangan membuat ibu mu semakin sedih.” Kemudian Bu Ratno mengolesakan minyak kayu putih ke hidung Andi. Tidak lama kemudian, Andi pun tersadar dari pingsannya. Andi kembali memanggil-manggil Diah Astuti. “Kak, Diah… . Maaf kan Andi, kak. Andi tidak bisa menolong kakak.”
“Udah, Nak. Ikhlaskan kakak mu itu. Jangan membuat kakak mu sedih di alam sana.” Tangisan Andi perlahan berhenti. Napasnya turun naik sambil sesegukan. Tak lama kemudian Andi pun pingsan lagi.
Bu Ratno kembali mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Andi. Bu Ratno kembali mengguncang-guncang badan Andi sambil memijit-mijit jempol tangan Andi. Tidak lama kemudian Andi kembali sadar. Bu Ratno memberi segelas air putih ke Andi. Andi meminum air yang disodorkan Bu Ratno. Kemudian Andi kembali berbaring di kamar tidurnya. Tak lama kemudian Andi pun tertidur.
Andi hanya tidur beberapa menit saja. Andi terbangun seperti orang linglung. Kemudian Ia mencari Diah Astuti di kamarnya, lalu pergi ke dapur. Andi mengamati satu-persatu ibu-ibu yang sedang sibuk di dapur. Andi pun kecewa yang dicarinya tidak juga ketemu. Kemudian Andi kembali pergi ke kamarnya sambil menangis sejadi-jadinya. Bu Ratno mencoba untuk menenangkan Andi.
“Yang sabar ya, Nak. Do’akan Diah Astuti ya. Mudah-mudahan Ia diberikan tempat yang layak di sisi-Nya.” Andi pun diam lalu tidur lagi.
MENGUNGKAP TABIR MISTERI
Sejak kematian Diah Astuti, Andi selalu murung dan lebih banyak mengurung diri di dalam kamar. Andi nampak kurang bersemangat menjalani hidupnya. Keceriannya pun telah hilang sejak satu-persatu orang yang sangat dicintainya telah pergi meninggalkannya. Andi mulai curiga pada Sosok Berjubah Hitam yang pernah dilihatnya di Bangunan Tua. Kematian Diah Astuti dan Siti Amanah, mungkin ada hubungannya dengan Sosok misterius yang pernah dilihatnya itu. Karena berkali-kali Sosok Berjubah Hitam itu juga selalu hadir dalam mimpi Andi, setiap kali ada yang mau meninggal di keluarga Pak Ratno.
Andi ingin mengungkap tabir di balik kematian kedua kakaknya yaitu Siti Amanah dan Diah Astuti. Andi juga ingin tahu siapa sebenarnya Sosok Misterius yang selalu mengenakan pakaian serba hitam itu. Andi harus mencari cara agar bisa masuk ke bangunan tua dan bisa mengungkap misteri itu.
Rasa penasaran Andi terhadap bangunan tua dan sosok misterius itu semakin menghantui pikirannya. Andi masih bingung bagaimana caranya agar Ia bisa menyelinap ke bangunan tua itu. Sementara tidak ada satupun orang di rumahnya, yang diperbolehkan oleh Pak Ratno mendekati bangunan tua itu. Jangankan untuk masuk ke bangunan tua itu, untuk mendekatinya saja tidak boleh. Namun tekad Andi untuk mengungkap misteri itu semakin kuat. Dim-diam Andi pun mencari kesempatan untuk bisa menyelinap ke bangunan tua itu.
Kebetulan sore itu Pak Ratno sedang tidak ada di rumah. Andi tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Andi mengendap-endap pergi ke belakang mendekati bangunan tua. Namun langkahnya harus terhenti karena melihat Pak Ratno sedang berada di dekat bangunan tua. Di sana Pak Ratno sedang membersihkan rumput. Untung Andi tidak dilihat oleh Pak Ratno. Andi pun harus mengurungkan niatnya dan kembali ke kamarnya.
Sudah beberapa kali Andi mencoba menyelinap ke bangunan tua itu. Namun usahanya selalu gagal. Hingga akhirnya waktu libur Andi telah habis. Andi harus kembali lagi ke sekolah. Hari itu Pak Ratno memberi sejumlah uang untuk perbekalan Andi.
“Andi, ini uang untuk bekal selama kamu tinggal di sana. Jaga kesahatan dan jangan lupa memberi kabar kabar, ya.”
“Ya ayah, terima kasih. Andi berangkat dulu ya. Ibu, Andi berangkat dulu ya.” Bu Ratno memeluk Andi.
“Hati-hati di jalan ya, Nak. Jangan kebut-kebutan.” Andi mengangguk lalu mendorong motornya keluar rumah. Setelah itu Andi berangkat dengan motor kesayangannya.
Tidak seperti biasanya hari itu Andi mengendarai motornya sangat pelan sekali. Kecepatannya hanya dua puluh sampai tiga puluh km perjam saja. Rupanya sambil berjalan, Andi sedang berfikir keras, mencari ide agar bisa masuk ke bangunan tua itu. Andi menghubung-hubungkan tentang kematian yang menimpa kedua kakak angkatnya dengan Bangunan tua itu dan Sosok misterius. Andi yakin kematian Siti Amanah dan Diah Astuti ada hubungannya dengan semua itu.
Saat itu Andi pernah melihat Sosok Berjubah Hitam sedang melakukan kegiatan ritual di dalam bangunan tua itu. Sayangnya waktu itu hanya terlihat samar-samar dan tidak terlihat begitu jelas. Karena hanya diterangi oleh lampu sentir saja. Ditambah lagi waktu itu, Andi hanya bisa melihat punggung Sosok Berjubah Hitam itu. Karena Sosok misterius itu duduknya membelakanginya. Sehingga Andi tidak bisa mengetahui siapa sebenarnya sosok misterius itu ?.
Sambil mengendarai motornya, Andi berusaha berfikir keras. Namun Andi belum juga menemukan cara jitu untuk bisa menyelinap ke bangunan tua itu. Kemudian Andi menarik napas, dan menarik gas motornya. Motor pun mengapung meninggalkan pengendara lainnya. Hingga akhirnya sampailah Andi di kontrakannya. Andi menyetandarkan motornya di depan kontrakannya, lalu membuka pintu dan membaringkan tubuhnya di kamar kontrakannya.
Andi tidur terlentang memandang plafon kamarnya. Kedua tangannya dilipat dijadikan bantalan. Ia kembali menghubung-hubungkan tentang kematian Siti Amanah dan Diah Astuti. Andi meyakini kematian keduanya sangat tidak wajar sekali. Tanda-tanda sebelum kematiannya pun sama. Keduanya pun diserang ketakutan lalu kejang-kejang sambil teriak-teriak minta tolong. Kemudian ada suatu kejanggalan lagi. Dimana waktu Andi melihat jenazah Siti Amanah tiba-tiba jenazah itu berubah menjadi sepotong batang pisang. Anehnya lagi saat itu hanya Andi saja yang mengetahuinya.
Sayang sekali Andi tidak bisa melihat jenazah Diah Astuti. Apakah jenazahnya telah berubah juga menjadi sebatang pohon pisang ataukah tidak ?. Karena Andi tidak sempat melihat jenazah Diah Astuti secara langsung. Sebab ketika Andi pulang, jenazahnya sudah dikuburkan. Tidak mungkin Andi membongkar kembali makam Diah Astuti untuk memastikan, apakah jenazah Diah Astuti telah berubah menjadi sebatang pisang, ataukah tidak ?. Andi hanya bisa menerka-nerka saja.
Kematian siti Amanah dan Diah Astuti menambah teka-teki panjang yang harus Andi pecahkan. Untuk sementara waktu Andi meyakini bahwa kematian keduanya sangat tidak wajar. Andi begitu sangat menyesal tidak bisa menolong kedua kakaknya dari kematiannya. Karena Andi sendiri bingung harus berbuat apa. Padahal menjelang kematian keduanya, Andi sudah tahu lewat mimpinya. Namun Andi tidak tahu makna dari mimpi-mipi itu. Sehingga Andi pun menganggap mimpi-mimpi itu hanyalah bagian dari bunga tidurnya saja. Akibatnya Andi merasa sangat menyesal sekali.
Begitu juga pada saat jenazah Siti Amanah dimandikan. Andi melihat ada keanehan pada jenazah kakak nya. Andi mengira saat itu hanyalah ilusinasi pikirannya saja. Karena hanya dia saja yang melihat keanehan pada jenazah kakak nya. Apa lagi pada saat jenazah itu dimandikan, semua orang menangisinya. Sehingga Andi mengira saat itu hanya salah lihat saja. Sehingga tidak mungkin juga Andi memberitahu apa yang dilihatnya kepada orang lain. Bisa-bisa Andi dituduh sudah tidak waras lagi.
Demikian juga kejanggalan sebelum kematian Diah Astuti. Andi bermimpi Diah Astuti diikat pada sebuah pohon oleh sosok Berjubah Hitam. Diah Astuti menjerit-jerit minta tolong. Namun Sosok misterius itu tidak mengindahkan jeritan Diah Astuti. Malah Ia membaca sebuh mantra persembahan pada penguasa gunung kawi. Andi kembali mengingat-ingat mimpinya sebelum Diah Astuti meninggal.
Andi tersentak kagit. mengingat sebuah mantra yang dibacakan oleh Sosok Berjubah Hitam itu. “Wahai sang Ratu kegelapan. Penguasa mahluk kegelapan. Dari balik kabut hitam. Ku persembahan perawan kesayangan ku. Sebagai bukti kesetiyaan ku padamu. Terimalah persembahan ku ini.” Andi segera bangun dan duduk di tempat tidurnya. “Ya aku ingat mantra yang dibacakan oleh sosok Berjubah Hitam itu.”
“Sosok Berjubah Hitam itu menyebut Diah Astuti adalah perawan kesayangannya. Itu berati Sosok Berjubah Hitam itu adalah ayah ?. Apakah semua itu adalah perbuatan ayah ?. Apakah ayah memuja pesugihan ?. Berarti Kak Siti Amanah dan Kak Diah Astuti telah dijadikan tumbal pesugihan ayah ?. Tidak mungkin, ayah sekejam itu ! Selama ini ayah selalu menyayangi kami ! Walaupun kami bukan anak kandung nya, tapi ayah sudah menganggap kami seperti anaknya sendiri.” Andi pun menangis terisak-isak.
“Aku harus bisa membuktikan siapa sebenarnya Sosok Berjubah Hitam itu ?. Apakah itu ayah, ataukah bukan ?. Aku harus mencari cara agar bisa membuktikan semua itu !”
Andi menarik napas dalam-dalam, lalu membaringkan tubuhnya. Andi kembali ingat tentang kematian kedua kakaknya. Kedua matanya pun berkaca-kaca mengingat nasib Siti Amanah dan Diah Astuti. Andi berusaha menahan tangisnya, namun tak mampu lagi untuk membendungnya. Hatinya merasa hancur brerkeping-keping. Andi ingin marah, tapi tidak tahu harus marah pada siapa ?. Ia hanya bisa menangis sambil meratapi nasib kedua kakaknya.
Tiba-tiba Andi teringat akan nasib dirinya. “Jangan-jangan target tumbal berikutnya adalah aku. Aku harus bisa melawan jin jahat itu.” Andi pun segera pergi mengambil air wudhu. Kemudian melaksanakan shalat dzuhur. Setelah itu berdo’a memohon perlindungan kepada Allah Swt. Serta memohon diberikan petunjuk, agar Andi bisa mengungkap misteri itu. Selesai shalat, Andi kembali berbaring di kamar tidurnya. Tidak lama kemudian Ia pun tertidur.
Andi baru bangun stelah dibangunkan Ahmad. “Andi, mau ikut olah raga nggak ?”. Andi pun terbangun lalu menjawab ajakan Ahmad. “Ikut Mad. Tapi aku shalat dulu ya.”
“Ya aku tunggu.” Andi segera mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat ashar. Setelah itu siap dengan pakaian olah raganya. Sore itu Andi dan Ahmad pergi ke lapangan sepak bola. Keduanya lari mengelilingi lapangan. Baru satu keliling, Andi sudah berhenti dan duduk di lapangan. Sementara Ahmad masih melanjutkan olah raganya. Setelah dirasa cukup, Ahmad pun duduk di sebelah Andi. Sambil meluruskan kedua kakinya.
“Kenapa kamu tampak kurang bersemangat Andi ?. Kamu sakit ya ?’’.
“Ya, aku sedikit demam Mad.”
“Kamu kecapean kali. Jangan-jangan kamu kurang istirahat ?”.
“Ya Mad. Beberapa hari ini aku kurang tidur. Baru sore tadi aku bisa tidur.” “Memangnya ada apa Ndi, Kok sampai bisa kurang tidur begitu ?”.
“Aku baru kena musibah lagi Mad. Kakak ku baru meninggal dunia.”
“Aku turut berduka cita ya, Andi. Mudah-mudahan, kakak mu diterima Allah Swt. Aamiin.”
“Terima kasih ya Mad, atas do’anya.”
“Kalau boleh tau, kakak mu sakit apa Andi ?”.
“Aku tidak tahu pasti, Mad. Katanya sih demam tinggi.”
“Sekali lagi aku turut berduka cita ya, Andi.”
“Ya terima kasih. Yuk kita pulang !” Keduanya pun berjalan pulang ke kontrakannya. Sampai di kontrakan, Andi membersihkan badannya, kemudian duduk di depan kamar kontrakannya.
Keesokan harinya, Andi dan Ahmad berangkat ke sekolah. Di sekolah Andi lebih banyak diam. Andi hanya berbicara secukupnya saja. Andi pun tidak fokus mengikuti pelajaran di kelas. Ia menjadi sangat pendiam dan sangat tertutup. Hanya pada Ahmad saja Andi baru mau cerita tentang masalahnya. Itu pun setelah berkali-kali di desak oleh Ahmad. Teman-teman Andi memaklumi perubahan yang terjadi pada diri Andi. Mereka tahu dari Ahmad bahwa Andi sedang berduka.
Pulang sekolah, Andi kembali termenung di kamarnya. Ia merebahkan badannya di kamar kontrakannya. Matanya memandang pada sebuah kalender yang tergantung pada dinding tembok. Ia tak berkedip pada sebuah tanggal yang sengaja Ia beri tanda lingkaran berwarna merah. Lingkaran merah itu menandai hari jum’at kliwon. Andi pun tersentak kaget menyadari bahwa hari ini adalah hari kamis, dan nanti malam adalah malam jum’at kliwon.
“Celaka ! Sekarang kan hari kamis. Berarti nanti malam adalah malam jum’at kliwon. Itu berarti Sosok Berjubah Hitam itu nanti malam akan melakukan ritual di bangunan tua itu. Aku harus bisa menyelinap ke bangunan tua itu. Aku harus bisa mengungkap siapa sebenarnya Sosok misterius itu ?. Tapi bagaimana caranya biar aku bisa masuk ke bangunan tua itu?”. Andi berdiri mondar-mandir sambil memandang foto Diah Astuti yang tergantung pada dinding kamarnya.
Tampak Andi berfikir keras untuk menemukan cara agar bisa masuk ke bangunan tua itu. Beberapa saat kemudian, “Ya ! Aku tahu sekarang.” Andi segera berkemas kemudian mendorong motornya keluar kamar. Setelah menutup pintu kamar, Andi pun melesat dengan motor kesayangannya. Andi mengendarai motornya sangat kencang sekali menuju arah pulang.
Tidak sampai dua jam, Andi sudah sampai ke kampung halamannya. Namun aneh sekali. Sore itu Andi tidak langsung pulang ke rumahnya. Tetapi Andi malah menitipkan motornya pada salah satu warga di kampung itu. “Pak Tarjo saya titip motor dulu ya pak.”
“Lah kamu mau ke mana Andi ?’’.
“Maaf Pak Tarjo, saya sangat terburu-buru sekali. Saya minta tolong ya pak, jangan sampai ada yang tahu kalau saya pulang ya pak ?”.
Pak Tarjo tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang Andi pikirkan. Pak Tarjo pun berjanji untuk merahasiakan kepulangan Andi. “Oh ya Andi. Bapak berjanji untuk merahasiakan kepulangan kamu. Tapi kamu mau ke mana sekarang ?”. Andi tidak menjawab pertanyaan Pak Tarjo. Andi berpamitan lalu pergi begitu saja.
Kemudian Andi berjalan kaki lewat belakang rumah penduduk. Sehingga sore itu tidak ada yang melihat Andi. Andi baru berhenti setelah sampai di rumah Rudi. Kemudian Andi lewat pintu samping yang terbuka. Rudi yang sedang duduk di ruang tamu merasa terkejut. Karena iba-tiba Andi muncul seperti setan.
“Oih…! Kamu Andi ngagetin saja ! Kamu masuk lewat mana ?”.
“Sssttt…” Andi memberi kode agar Rudi tidak mengeraskan suaranya.
Kemudian Andi berbisik pelan kepada Rudi. “Rudi, ada siapa di rumah ini ?”.
“Saya sendiri aja Andi. Kedua orang tua saya belum pulang. Memangnya ada apa ?”.
“Kelau begitu kebetulan.”Ucap Andi.
“Kebetulan bagai mana ?” Tanya Rudi.
“Begini Rudi. Aku mau minta tolong sama kamu. Aku mau numpang tidur malam ini ya. Jangan sampai orang tuamu tahu ya.”
“Kamu ini aneh sekali Andi. Orang rumah kamu di depan kok malah mau numpang tidur di rumah saya. Memangnya ada, apa sih ?”.
“Begini Rudi, aku merasa curiga dengan menginggalnya Kak Siti Amanah dan Kak Diah Astuti. Aku merasa meninggalnya mereka sangat tidak wajar sekali. Untuk itulah malam ini aku ingin menyelidikinya.”
“Terus kamu mau ngapain ?”.
“Nanti aku beri tahu ya, yang penting tolong jaga kerahasiaan ku. Jangan sampai kedua orang tuamu tahu kalau aku ada di sini.”
“Baiklah. Kalau begitu cepat kamu masuk ke kamar. Sebentar lagi orang tua ku pulang.” Mereka pun segera masuk ke kamar Rudi. Kemudian melanjutkan percakapannya.
“Kamu bisa bantu aku ga Rud ?”.
“Saya harus bantu apa Andi ?”.
“Kamu duduk di depan, dan tolong awasi ayah ku, ya.”
“Awasi bagaimana ?”.
“Kamu perhatikan ayah ku. Kalau dia pergi dari rumah, tolong cepat beri tahu aku ya. Biasanya jam-jam segini dia selalu keluar rumah.”
Rudi pun mengangguk. Setelah itu Rudi duduk di depan rumahnya. Mengawasi Pak Ratno sambil mendengarkan alunan musik radio. Sementara Andi masih bersembunyi di kamar Rudi. Setengah jam kemudian Pak Ratno keluar dengan sepedah motornya. Rudi segera masuk ke kamar dan memberi tahu Andi.
“Andi, Pak Ratno sudah pergi. Terus tugas saya selanjutnya apa ?”.
“Aku mau pulang secara diam-diam. Nanti malam tolong bukakan pintu ya. Aku mau ke sini lagi.”
“Baiklah Andi, semoga penyelidikan mu berhasil, ya.”
“Terima kasih ya Rud. Kamu memang teman ku yang paling setia, deh.”
Sore itu menjelang magrib, Pak Ratno keluar dari rumahnya. Sedangkan Bu Ratno masih sibuk di dapur. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Andi. Andi segera berlari ke rumahnya. Kemudian menyelinap ke dalam kamarnya. Dari dalam kamar Andi mengunci pintu dan membiarkan kamarnya gelap gulita. Agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Kepulangan Andi tanpa diketahui oleh kedua orang tua angkatnya. Andi berusaha diam di dalam kamar. Agar tidak diketahui keberadaannya. Malam itu Andi sengaja tidak tidur. Menunggu waktu yang tepat untuk menyelinap ke bangunan tua. Tepat jam dua belas malam Andi keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju pintu dapur. Kebetulan pintu dapur tidak terkunci. Ia berjalan mengendap-endap menuju Bangunan tua.
Sampai di bangunan tua, Andi mengintip dari celah dinding tembok. Samar-samar dari dalam gudang terlihat satu sosok yang sedang melakukan kegiatan ritual. Sosok misterius itu mengangkat kedua tangannya. Lalu menggerak-gerakan kedua tangannya tangannya mirip seorang penari kecak. Sesekali tangan kanannya menaburkan serbuk kemenyan dan bunga tujuh rupa.
Asap hitam kecoklat-coklatan mengepul dan menerobos di sela-sela bangunan tua. Sementara mulut sosok itu komat-kamit membaca mantra. Keringat deras pun mengalir. Tanpa sengaja tangan kanannya mengusap keringat pada wajahnya. Jubah yang menutupi wajahnya tersingkap. Andi berusaha mengenali wajah laki-laki itu yang terlihat tidak begitu jelas. Karena hanya diterangi oleh lampu sentir saja.
Namun tiba-tiba laki-laki itu kembali menaburkan serbuk kemenyannya ke dalam perapian. Lidah api pun menjilat-jilat serbuk kemenyan tersebut. Sehingga wajah misterius itu kini terlihat begitu sangat jelas. Mata Andi pun terbelalak kaget. “Gila ! Ternyata sosok misterius itu adalah ayah ku sendiri. Jadi selama ini yang selalu hadir di dalam mimpi ku adalah ayah. Berarti benar ! Kematian Kak Siti Amanah dan Kak Diah Astuti ada hubungannya dengan ayah.”
Lalu mata Andi kembali tertuju pada Pak Ratno yang sedang melakukan ritual. “Mbah Sugih, mengapa anak gadis kami kamu jadikan tumbal. Mengapa ?!. Bukankah sesuai perjanjian kamu hanya meminta tumbal seekor ayam hitam saja setiap tahunnya ?. Tapi mengapa kamu justru mengambil anak-anak ku. Mengapa Mbah Sugih ?!”
“Hihihi… Hihihi… Hihihi… Hai Ratno jangan bodoh kamu ! Ayam hitam itu adalah nyawa keluarga kamu ! Hihihi…Hihihi…Hihihi….” Mbah Sugih tertawa terkekeh-kekeh.
“Kalau begitu saya tidak mau lagi jadi pengikut mu. Saya tidak mau !”
“Jangan coba-coba kamu menggertak saya Ratno ! Kamu sudah terikat perjanjian dengan ku. Kamu tidak bisa memutuskan seenaknya ! Hihihi… Hihihi… Hihihi….” Mbah Sugih pun pergi meninggalkan Pak Ratno dan hilang bersama asam hitam yang mengelilinginya.
Sementara Pak Ratno menyesali perbuatannya sambil menangis meminta maaf kepada Siti Amanah dan Diah Astuti. “maaf kan ayah mu ndu. Ayah tidak berniat untuk menjadikan kamu berdua sebagai tumbal pesugihan ayah. Ayah tidak tahu ndu, kalau yang dimaksud ayam hitam itu adalah nyawa kalian berdua. Maaf kan ayah ndu.”
Pak Ratno menagis menyesali perbuatannya, nasi sudah menjadi bubur. Pak Ratno sudah terlanjur mengikat perjanjian dengan penguasa Gunung Kawi. Pak Ratno tidak bisa keluar dari jeratan iblis betina itu.
Andi masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ternyata Berjubah Hitam itu adalah ayah nya sendiri. Jantung Andi pun berdenyut kencang. Dadanya terasa sesak. Napasnya tersengal-sengal. Andi syok berat dan tak percaya bahwa yang melakukan kegiatan ritual itu adalah Pak Ratno. Malam itu Andi merasa takut sekali. Sehingga Andi tidak berani menyaksikan kegiatan Pak Ratno sampai selesai. Akhirnya Andi memutuskan untuk pergi meninggalkan bangunan tua itu.
Ia kembali berjalan mengendap-endap menuju pintu dapur. Dengan sangat berhati-hati Andi membuka pintu yang tidak terkunci. Kemudian Andi masuk dan berdiri di depan kamar bu Ratno. Untuk sesaat Andi menenangkan diri. Setelah tenang, perlahan Andi membuka pintu kamar bu Ratno dan memandang wajah Bu Ratno yang sedang tidur pulas. Andi melepas rasa kangennya pada bu Ratno yang mengasuhnya sejak masih bayi. Setelah itu Andi kembali menutup pintu kamar bu Ratno. Kemudian pergi lewat pintu dapur.
Andi berhenti sejenak sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Untuk memastikan tidak ada oraang yang melihatnya. Setelah itu Andi kembali melangkahkan kakinya lewat samping rumah. Lalu pergi menuju rumah Rudi. Sampai di depan rumah Rudi, Andi segera mendorong pintu yang terbuat dari anyaman bambu. Lalu Andi membangunkan Rudi yang tidur di ruang tamu. Rudi pun segera bangun dan menarik Andi ke kamarnya. Rudi sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui hasil penyelidikan Andi malam itu.
“Gimana Andi ?. Apa yang sudah kamu ketahui ?”.
“Celaka Rud ! Ternyata Sosok misterius itu adalah ayah ku.”
“Apa…?!”
“Sssttt…, jangan keras keras. Aku minta tolong sama kamu ya. Jangan sampai ada orang lain yang tahu. Cukup aku sama kamu aja.”
“Baiklah Andi. Terus selanjutnya bagai mana ?”.
“Pagi ini juga aku harus pergi Rud.”
“Sekarang kan masih gelap. Tunggu terang dulu Andi !”
“Apa kamu gila Rudi ?! Kalau nunggu sampai terang, itu sama saja kamu suruh aku bunuh diri. Sekarang aku pamit dulu ya ?”.
“Hati-hati kawan.”
Andi pun segera pergi meninggalkan rumah Rudi. Ia berjalan menuju ke rumah Pak Tarjo. Sampai di rumah Pak Tarjo, Andi mengetuk pintu. Pak Tarjo segera membukakan pintu. “Silahkan masuk Andi.” Sambil memandang wajah Andi yang pucat. Andi masuk dan duduk di ruang tamu. Pak Tarjo menyodorkan segelas air putih pada Andi. Andi lalu meneguk air yang disodorkan Pak Tarjo. Kemudian Pak Tarjo kembali melanjutkan pertanyaannya.
“Kamu dari mana, Andi ?. Kenapa kamu ketakutan begitu ?”. Andi tidak menjawab pertanyaan Pak Tarjo. Membuat Pak Tarjo semakin penasaran kepada Andi. Pak Tarjo kembali memandang Andi yang diam seribu bahasa sambil menundukan kepalanya. Pak Tarjo tidak mau memaksa Andi untuk menjawab pertanyaannya. Keadaan pun menjadi hening sesaat. Tidak lama kemudian Andi mengangkat kepalanya lalu membuka mulutnya.
“Maaf ya pak. Saya tidak bisa menceritakan kepada bapak. Soalnya ini sangat pribadi sekali.”
“Tidak apa-apa Andi. Bapak tidak akan memaksa, kok.”
“Terima kasih ya pak, atas pengertiannya. Saya sudah merepotkan bapak.”
“Tidak apa-apa Andi. Bapak malah senang kok. Kamu mau singgah ke gubuk ini.”
“Oh ya pak, saya pamit dulu ya.”
“Loh-loh, kamu mau kemana lagi toh ?”.
“Saya mau langsung balik ke sekolah. Soalnya hari ini masih ada pelajaaran pak.”
“Ya udah hati-hati ya. Jalannya pelan-pelan saja.”
“Ya pak terima kasih.”
Andi segera mendorong sepedah motornya ke luar rumah. Kemudian pergi meninggalkan rumah Pak Tarjo. Pagi itu Andi menerobos kabut putih yang menghalani pandangannya. Tubuhnya sedikit menggigil menahan rasa dingin. Tidak sampai dua jam Andi pun sudah sampai di kamar kontrakannya. Ia segera membawa masuk motornya, lalu merebahkan tubuhnya di kamar kontrakannya. Karena merasa sangat ngantuk sekali, akhirnya Andi pun tertidur.
Sementara waktu telah menunjukan pukul tujuh pagi. Seperti biasa Ahmad selalu mampir ke kontrakan Andi. Untuk mengajaknya berangkat sekolah bersama. Ahmad merasa heran. Tidak seperti biasanya pintu kamar kontrakan Andi masih terkunci dari dalam. Jangan-jangan Andi sakit. Ahmad pun mengetuk pintu kamar Andi. “Andi…, tolong buka pintu.” Andi segera membuka pintu lalu tidur kembali. Lalu Ahmad masuk dan memegang tangan Andi.
“Kamu kenapa Andi, kamu sakit ya ?. Badan kamu panas sekali.” Andi tidak menjawab pertanyaan Ahmad. Ahmad pun menutup kembali pintu kamar Andi. Agar Andi bisa beristirahat. Hari itu Ahmad berangkat tanpa ditemani Andi. Sehingga teman-temannya mempertanyakan Andi.
“Mad, tumben kamu berangkat sendiri. Di mana Andi ?” tanya Amir.
“Andi sakit Mir.” Dia sakit apa ?”.
“Badannya demam tinggi.”
“Terus dia di mana dia sekarang ?”.
“Andi ada di kontrakannya sedang istirahat Mir.”
“Pulang sekolah, antar kami ke sana ya ?”.
“Ok Mir.” Jawab Ahmad.
Setelah pulang sekolah, siswa di kelas Manajemen Bisnis menengok Andi di kontrakannya. Sore itu Andi sudah bangun dan sedang meramu masakannya.
“Gimana keadaan mu Andi ?. Katanya kamu sakit ?”.
“Ya tadi aku demam tinggi. Sekarang sudah lebih baikan kok .”
“Sukurlah kalau begitu. Semoga besok kamu sudah bisa berangkat sekolah ya Andi. Soalnya sekolah terasa sepi kalau tidak ada kamu Andi.”
“Alah lebay kamu Mir. Justru kalau tidak ada diri ku malah asik, kan hahaha… ?’’.
“Aku serius Andi. Kalau tidak ada kamu bagaikan sayur tanpa garam. Benar ngga Mad ?”.
“Yang dibilang Amir benar sekali. Makanya kamu cepat sembuh Andi. Biar besok bisa sekolah lagi.”
“Terima kasih teman-teman, atas motivasinya. Kalian memang teman terbaik ku.
Sejak Andi tahu bahwa meninggalnya Siti Amanah dan Diah Astuti dijadikan tumbal oleh Pak Ratno, Andi selalu berjaga-jaga demi keselamatan jiwanya. Andi selalu berpindah kontrakan agar alamatnya tidak diketahui oleh Pak Ratno. Andi juga sudah tidak lagi mau pulang ke rumah Andi merasa takut kepulangannya akan mengantarkan nyawanya untuk dijadikan tumbal pesugihan. Ia selalu dihantui oleh rasa takut dan selalu dibayang-bayangi Sosok Berjubah Hitam.
Kini badan Andi sudah tambah kurus lagi. Karena Andi harus hidup lebih berhemat. Andi sudah tidak mau lagi terlalu sering minta uang kepada Bu Ratno, terlebih lagi kepada Pak Ratno. Karena takut dirinya akan menjadi target tumbal berikutnya. Andi baru berani pulang setiap enam bulan sekali. Itu juga karena sangat terpaksa. Karena perbekalan sudah habis, dan hanya menginap beberapa malam saja di rumah. Kepulangan Andi hanya sekedar untuk mengambil perbekalan dan untuk melepas rasa kangennya pada Bu Ratno.
Pak Ratno beberapa kali minta alamat kontrakan Andi. Namun Andi selalu berusaha menolaknya secara halus.
“Andi, ayah minta alamat kamu, nak.”
“Untuk apa loh yah. Andi ini kan sudah besar. Ayah tidak perlu khawatir lagi. Andi bisa menjaga diri kok yah.”
“Bukan begitu Andi. Nanti kalau ibumu kangen bagaimana ?”.
“Nanti Andi sering pulang, kok yah. Kemarin tidak pulang karena banyak sekali kegiatan di sekolah. Nanti kalau pulang terus, gimana dengan pelajaran Andi.” Andi berusaha mengeles.
“Ya sudahlah kalau begitu. Tapi jangan terlalu lama di kontrakan. Kalau ada waktu sempatkan untuk pulang ya, nak.”
“Baik ayah” jawab Andi.
Itulah beberapa alasan yang sengaja Andi buat. Untuk menghindari agar Pak Ratno tidak mengetahui kontrakan Andi. Bahkan sangking ketakutannya Andi selalu berpindah kontrakan setiap tiga bulan sekali. Bahkan sekarang ini tidak semua temannya tahu tentang kontrakan Andi. Hanya Ahmad saja yang diberi tahu. Sebagai teman dekatnya, Ahmad sangat memahami ketakutan Andi. Oleh sebab itu Ahmad pun selalu menjaga kerahasiaan kontrakan Andi.
Setiap enam bulan sekali Andi baru pulang ke kampung halamannya. Itu pun di sana hanya beberapa hari saja sekedar mengambil uang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Andi selalu beralasan untuk belajar hidup lebih mandiri lagi. Alasan itu diterima oleh kedua orang tua angkatnya. Memang setelah Andi sekolah di kota, Andi begitu sangat mandiri. Setiap pulang ke kampung, Andi selalu membantu pekerjaan Bu Ratno. Membantu masak, bahkan mencuci pakaiannya sendiri.
Di mata Pak Ratno dan Bu Ratno, Andi begitu sangat mandiri. Andi tidak mau merepotkan kedua orang tua angkatnya. Ini membuat Pak Ratno dan Bu Ratno sangat bangga kepada Andi. Melihat perubahan yang terjadi pada Andi. Membuat keduanya semakin sayang kepada anak angkatnya yang tinggal semata wayang ini. Pak Ratno dan Bu Ratno pun merasa sudah tidak lagi merasa khawatir kepada Andi. Mereka yakin Andi sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Sehingga mereka tidak mau memaksakan kehendaknya. Andi diberi kebebasan untuk menentukan hidupnya sendiri.
Hanya beberapa hari saja Andi berada di kampung halamannya. Hal ini tentu membuat Bu Ratno sangat sedih. Karena harus kembali berpisah lagi dengan Andi. Pedahal Bu Ratno masih merasa kangen dengan Andi. Bu Ratno berusaha mengihlaskan Andi untuk mengejar cita-citanya. Demi kebahagiaan anak angkatnya yang diasuhnya sejak masih bayi itu. Apa lagi Andi sudah dianggapnya seperti anak kandungnya sendiri. Kini Andi sudah bertambah dewasa, penuh tanggung jawab dan menjadi pribadi yang santun.
Selama di kontrakan Andi berusaha menjalani hidupnya dengan hemat. Uang belanja yang diberikan oleh ayah angkatnya dipaksakan agar bisa memenuhi kebutuhannya selama enam bulan. Sampai pada akhirnya Andi naik ke kelas dua. Andi mendapatkan nilai yang cukup memuaskan. Andi pun segera pulang ke kampung halamannya. Untuk melepas rasa kangennya pada kedua orang tua angkatnya. Andi pun berencana pada liburan ini ingin lebih lama lagi liburan di kampung halamannya.Karena akhir-akhir ini Andi selalu merasa ingin dekat dengan Bu Ratno.
Selama liburan Andi membantu Bu Ratno menjaga warung sembakonya. Melayani para pembeli dan sebagainya. Sehingga Bu Ratno merasa pekerjaannya lebih ringan setelah dibantu oleh Andi. Jika Bu Ratno merasa kelelahan, dengan reflek Andi memijit punggungnya. Di saat itulah Bu Ratno merasa nyaman dan akhirnya tertidur di atas tikar di ruang tamu. Bu Ratno merasa bahagia sekali. Melihat Andi sangat menyayangi dirinya. Walaupun Andi bukanlah darah daging Bu Ratno, namun ikatan keduanya sudah seperti ibu dan anak kandung sendiri.
Pernikahan Pak Ratno dan Bu Ratno tidak membuahkan keturunan. Kehidupan mereka sebelumnya sangat sepi sekali. Akhirnya Pak Ratno dan Bu Ratno memutuskan untuk mengadopsi tiga anak angkat. Kehidupan mereka mendadak berubah total dan menjadi sebuah keluarga yang sangat bahagia. Namun kebahagiaan itu satu-persatu telah terenggut oleh takdir yang telah memisahkan mereka. Siti Amanah dan Diah Astuti harus pergi mendahului mereka. Saat ini tinggal Andi saja yang dapat menghibur Bu Ratno dikala sedang sepi.
Hari pun terus berlalu. Kedekatan Ibu dan anak angkat ini semakin erat sekali. Sampai pada akhirnya Andi harus kembali lagi ke kota. Karena libur kenikan kelas sudah habis. Pagi itu Andi pun berpamitan kepada kedua orang tua angkatnya. Dengan mengendarai sepedah motor kesayangannya, Andi berangkat ke kontrakannya. Selama liburan, ternyata membuat badan Andi kembali berisi. Maklum selama liburan apa yang Andi butuhkan serba ada. Berbeda ketika berada di kontrakan. Mau tidak mau Andi harus bisa mengatur kebutuhannya sendiri.
Di tahun ajaran baru ini Andi kembali pindah kontrakan. Agar tidak diketahui keberadaannya oleh Pak Ratno. Karena Andi tahu bahwa sosok misterius itu adalah Pak Ratno. Andi pun sudah tahu siapa dalang di balik kematian Siti Amanah dan Diah Astuti. Karena akhir-akhir ini Andi selalu dibayang-bayangi rasa ketakutan. Rasa takut itu selalu menghantui dirinya. Andi merasa dirinya akan menjadi target tumbal pesugihan berikutnya. Oleh karena itu Andi meminta agar Ahmad mau menemaninya untuk tinggal satu kamar dengan Andi . Sehingga Andi merasa tenang dengan adanya Ahmad.
Dua minggu kemudian di saat Andi sedang belajar di kelas, iba-tiba ada seorang yang sangat di kenalnya. Orang itu adalah Mas Parmin. Mas Parmin menemui bu guru di kelas dan memberikan sepucuk surat kepada bu guru. Bu guru lalu membaca surat itu sambil mengkerutkan keningnya. Setelah itu bu guru mempersilahkan Andi agar pulang bersama Mas Parmin. Andi kemudian keluar kelas mengikuti Mas Parmin. Ada seribu satu pertanyaan mengapa Andi di suruh pulang.
Dengan jantung berdebar-debar Andi bertanya dalam hati.
“Apakah aku disuruh pulang untuk dijadikan tumbal pesugihan ?. Ataukah ada sesuatu hal yang telah terjadi ?”.
Akhirnya Andi pun mencoba bertanya kepada Mas Parmin. “Mas Parmin, ada apa sih ?. Kok tiba-tiba nyusul saya untuk pulang ?”.
“Saya tidak tahu mas. Saya hanya disuruh Pak Ratno untuk menjemput Mas Andi.”
“Tidak mungkin Mas Parmin tidak tahu ! Pasti Mas Parmin tahu alasannya. Mas Parmin bohong, kan !?”
“Saya hanya di suruh Bapak untuk menjemput mas. Nanti juga Mas Andi tahu kalau sudah sampai di rumah.’’
“Aku tidak mau pulang Mas. Sebelum Mas Parmin memberi tahu.” Andi memaksa Mas Parmin menjawab pertanyaannya. Mas Parmin pun jadi bingung harus menjawab apa. Soalnya Pak Ratno telah berpesan kepada Mas Parmin agar Ia tidak memberitahukan kepada Andi. Sementara Andi tidak mau pulang sebelum Mas Parmin menjawab pertanyaan Andi. Dengan sangat terpaksa akhirnya Mas Parmin menjawab dengan harus berkata bohong kepada Andi.
“Ibu sakit Mas Andi.”
“Ya udah Mas, ayo kita pulang !” Andi baru mau pulang setelah mendengar alasan dari Mas Parmin.
Akhirnya Andi pun mau ikut pulang dengan Mas Parmin. Dengan dibonceng Mas Parmin, motor pun melaju dengan kecepatan tinggi. Keduanya pun telah sampai di halaman rumah Pak Ratno yang sudah ramai dipadati warga. Andi turun dan langsung lari menuju ke kamar Bu Ratno. Namun langkahnya menjadi terhenti setelah melihat sosok jenazah yang sudah terbujur kaku. Andi segera membuka kain yang menutupi jenazah itu. Matanya mencoba memandang pada sosok jenazah yang sudah terbungkus oleh kain kafan. Andi terbengong sesaat. Melihat jenazah yang dilihatnya. Kemudian Andi menutupnya kembali dan pergi ke kamar Bu Ratno.
Andi mencari Bu Ratno di dalam kamarnya. Setelah yang dicarinya tidak ada, Andi kembali membuka jenazah tersebut. Untuk memastikan bahwa jenazah itu adalah bukan Bu Ratno.
“Di man ibu yah ?” Andi bertanya kepada Pak Ratno.
“Itu nak, ibumu sudah meninggal !” Pak Ratno menunjuk Jenazah yang sedang dilihat Andi.
“Tidak ! Ini bukan ibu ku ! Ini hanyalah sepotong batang pisang” Sambil menangis sejadi-jadinya.
“Ayah…!. Di mana ibu yah ?”. Mendengar pertanyaan Andi, Pak Ratno langsung mendekati Andi.
“Itu ibu mu, nak !?. Ibu mu telah mendahului kita semua.”
“Ayah bohong, kan ?. Di mana Ibu yah ?!”
“Coba perhatikan baik-baik Andi. Itu ibu mu !”
“Itu bukan ibu ! Ayah kejam ! Ayah jahat !”
Andi langsung lari menuju ke kamarnya. Kemudian menutup pintu dari dalam dan menangis sejadi-jadinya. Membuat warga yang melihatnya ikut sedih mendengar tangisan Andi.
Tidak lama kemudian, isak tangis Andi sudah tidak terdengar lagi. Andi berusaha untuk mengikhlaskan kepergian Bu Ratno. Walaupun Andi merasa sangat sedih tidak bisa menolong Bu Ratno dari tumbal pesugihan ayah angkatnya. Karena Ia tahu bahwa Pak Ratno lah yang harus bertanggung jawab di balik kematian ibu angkatnya dan saudara-saudaranya. Namun Andi tidak mau melawan Pak Ratno yang telah berjasa membesarkannya.
Andi begitu merasa kehilangan ibu angkatnya. Kemudian Andi kembali terisak-isak sambil memanggil-manggil Ibunya.
“ Ibu…, maafkan Andi, Andi tidak bisa menjaga ibu. Andi bingung harus berbuat apa bu. Andi selama ini hanya bisa mendo’akan ibu. Agar ibu tidak dijadikan tumbal pesugihan oleh ayah. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain.” Tangisan Andi mendadak berhenti. Setelah mendengar Pak Ratno mengetuk pintu kamarnya.
“Andi, buka pintu nak. Ibu mu akan segera diberangkatkan. Kamu mau ikut mengantarkan, atau tidak.” Pak Ratno terus mencoba mengetuk pintu kamar Andi. Tidak lama kemudian, Andi pun keluar dan ikut mengantarkan jenazah Bu Ratno. Jenazah pun diberangkatkan ke tempat peristirahatannya yang terakhir.Andi mengiringi jenajah ibu angkatnya, dengan lantunan tahlil.
Tiba di pemakaman, Jenazah itu langsung disambut oleh warga. Kemudian dilakukan prosesi upacara pemakaman. Andi menjauh agar tidak melihat jenazah ibu nya. Ia tidak mau dirinya tenggelam dalam kesedihan. Apa lagi Andi tahu bahwa yang dikubur itu bukanlah jenazah ibu angkatnya. Melainkan hanya sebatang pohon pisang. Andi berfikir, mengapa hanya dirinya saja yang melihat kalau itu bukanlah jenazah Bu Ratno ?. Mungkin ini lah buah dari pengabdiannya kepada Allah Swt. Sehingga hanya Andi saja yang bisa melihat sosok jenazah itu.
Setelah jenazah Bu Ratno di makamkan, satu-persatu para pengantar jenazah kembali ke rumahnya masing-masing. Disusul Mas Parmin dan Andi. Mas Parmin sangat mengkhawatirkan Andi. Sehingga dari tadi Ia selalu berada di dekat Andi. Tiba di rumah, Andi mendekati Pak Ratno yang sedang duduk di ruang tamu. Lalu basa-basi bertanya sebab kematian ibu angkatnya.
“Ibu sakit apa yah, kok meninggalnya mendadak sekali ?”.
“Ibu mu tiba-tiba sakit perut. Lalu ayah suruh ibu mu tidur. Pas ayah bangunkan ibu mu sudah tidak ada nak.”
“Mungkin ini sudah kehendak Tuhan, kalau ibu mu harus pergi mendahului kita semua” Ucap Pak Ratno.
Andi memandang wajah ayah angkatnya tanpa sepatah kata pun. Lalu pergi meninggalkan Pak Ratno. Tampak tersimpat guratan kesedihan pada wajah Andi. Andi harus kehilangan satu-persatu orang yang sangat dicintainya. Kehilangan kedua kakak angkatnya, Siti Amanah dan Diah Astuti. Sekarang Andi juga harus kehilangan orang yang paling Ia cintai, yaitu Bu Ratno.
DIKEJAR-KEJAR KETAKUTAN
Sejak meninggalnya Bu Ratno, Andi hanya tinggal berdua saja dengan Pak Ratno. Andi tinggal di rumahnya sampai selesai nujuh hari ibu angkatnya. Selama itu juga Andi selalu dikejar-kejar ketakutan. Sekarang tinggal Andi saja, keluarga Pak Ratno yang masih hidup. Rasa takut yang dirasakan Andi sampai terbawa mimpi. Malam itu Andi bermimpi didatangi oleh dua orang laki-laki yang berpakaian serba hitam. Laki-laki itu datang mengendarai kereta kencana yang ditarik seekor kuda hitam.
“Sekarang tinggal giliran kamu yang akan kami jdikan tumbal pesugihan, hahaha…!” Seru dua laki-laki itu.
“Tidak…! Pergi kalian !’’. Teriak Andi sambil melempar batu pada dua laki-laki itu.
Kedua laki-laki itu pun langsung menghilang. Tiba-tiba Andi melihat pemandangan yang sangat menyedihkan. Andi melihat Siti Amanah dan Diah Astuti sedang disiksa menarik beban berat oleh beberapa laki-laki yang bertampang seram, mirip algojo. Laki-laki itu mencambuki Siti Amanah dan Diah Astuti yang sedang menarik beban berat dengan tangan dan kaki diikat oleh rantai besi.
“Tolong… ! Tolong… ! Tolong kami dek.” Andi melihat kaki dan tangan Diah Astuti dalam keadaan dirantai. Mereka berjalan sambil menarik beban berat. Di belakang mereka terlihat beberapa algojo yang memegang sebuah cambuk terus mencambuki punggung Siti Amanah dan Diah Astuti sampai berdarah-darah.
Algojo-algojo itu terus mencambuki Siti Amanah dan Diah Astuti sambil berkata, “Hai budak-budak ku ! Jangan malas kalian ! Teruslah kalian bekerja !”.
Siti Amanah dan Diah Astuti menarik beban itu sambil terus berteriak minta tolong. “Tolong…! tolong… !”
Andi berusaha membebaskan kedua kakak angkatnya. “Lepaskan kedua kakak ku itu ! Lepaskan !”.
Namun dua laki-laki seram itu berusaha menghalang-halangi Andi, sambil berkata, “Kamu jangan ikut campur ! Kalau tidak, cambuk ini akan merobek-robek kulit kamu !”. Andi pun segera mengurungkan niatnya sambil menangis.
Andi juga melihat Bu Ratno sedang memindahkan batu-batu besar untuk membuat sebuah bangunan. Kedua tangannya bersimbah darah. Sementara kedua kakinya diikat dengan rantai besi. Beberapa kali Bu Ratno jatuh tersungkur karena mengangkat batu-batu besar itu. Para Algojo-Algojo itu berkali-kali mencambuk punggung Bu Ratno sampai bajunya robek-robek dan punggungnya mengeluarkan darah. Bu Ratno pun menjerit histeris kesakitan. Andi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis menyaksikan kedua saudara angkatnya dan ibu angkatnya yang sedang disiksa oleh para Algojo.
“Tolong hentikan… ! Jangan siksa mereka ! Apa salah mereka ?”.
“Enak saja minta dihentikan ! Mereka telah menikmati semua harta-harta yang telah kami berikan ! Sekarang giliran mereka menjadi budak-budak kami, hahaha… Mereka harus bekerja untuk kami ! Hahaha…”
Andi menangis tak mampu burbuat apa-apa. Andi tak tega melihat penyiksaan itu di depan matanya. Napas Andi tersengal-sengal. Badannya bercucuran keringat. Ia pun terbangun setelah mendengar jeritan Bu Ratno. Andi berdiri lalu duduk di kursi yang terletak di kamar tidurnya. Mimpi itu menorehkan luka dan kesedihan yang sangat mendalam pada diri Andi. Mimpi itu membuat Andi sangat ketakutan. Sehingga Andi sudah tidak bisa tidur lagi sampai pagi.
Pagi harinya Pak Ratno sedang duduk di kursi, sambil menikmati sebatang keretek. Asap keretek pun mengepul keluar dari hidungnya. Pandangan Pak Ratno tertuju pada deretan foto keluarganya. Kemudian Pak Ratno pun memandang foto Andi yang tergantung pada dinding rumah. Sambil menggoyang-goyangkan kursinya, Pak Ratno memandang lagi pada foto Andi. Andi yang melihat sorot mata ayah angkatnya yang memandang fotonya, merasa takut dan berpikir negative. Seolah Pak Ratno memandangnya untuk terakhir kalinya.
Dengan perasaan takut, Andi pun mencoba memberanikan diri mendekati Pak Ratno. Kemudian duduk di dekatnya sambil berkata, “Ayah, Andi pinjam mobil dulu ya.”
“Kamu mau pergi ke mana Andi ?”.
“Mau ke pasar yah. Mau membeli kebutuhan sekolah.”
“Pelan-pelan aja ya jalannya. Kuncinya ayah taro di samping lemari kamar. Silahkan kamu ambil uang seperlunya di tempat biasa ya.”
“Terima kasih ya, yah.” Andi pergi ke kamar Pak Ratno.
“Ayah…! Andi pakai mobil yang mana ?”.
“Pakai mobil yang satunya aja. Mobil yang biasa kamu pakai, mau ayah pakai.”
“Baik ayah.”
Andi segera memanaskan mobilnya yang diparkir di samping rumah, sambil mengecek bahan bakar mobil tersebut. Setelah itu Andi segera pergi ke pasar. Selama di perjalanan, Andi teringat mimpinya tadi malam. Ia begitu merasa takut sekali. Takut dijadikan tumbal pesugihan oleh ayah angkatnya.
Sementara kaki kanannya terus menginjak gas mobilnya. Hanya dalam waktu dua puluh menit, Andi sudah sampai di pasar yang di tuju. Andi tidak menghentikan laju mobilnya. Malah kakinya terus menginjak gas mobil dan melesat meninggalkan pasar. Rupanya di tengah jalan Andi berubah pikiran. Andi tidak jadi membeli kebutuhan sekolahnya. Ia tetap melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi dan pergi entah ke mana.
Pak Ratno merasa khawatir dengan Andi. Sudah seharian penuh Andi belum juga pulang. “Kamu di mana Andi ?. Sudah sore begini belum juga pulang.”
Pak Ratno berdiri mondar-mandir di depan pintu rumah. Sambil bertanya kepada setiap orang yang lewat di depan rumahnya. “ Pak Sardi, tadi pagi ke pasar ya ?”.
“Ya Pak Ratno. Ada apa ya pak ?”.
“Ini Andi tadi pamitan mau ke pasar, tapi sampai sekarang belum pulang juga. Apa Pak Sardi tadi tidak melihat Andi pak ?”.
“Saya tidak melihat Andi pak. Mungkin Andi mampir di rumah temannya.”
“Oh bisa jadi ya pak. Mungkin masih main di rumah temannya. Terima kasih ya Pak Sardi. Maaf saya sudah mengganggu kesibukan Pak Sardi.”
“Tidak apa-apa Pak Ratno. Saya pamit dulu pak.”
“Oh ya Pak Sardi, silahkan.”
Kemudian Pak Ratno masuk ke rumah dan duduk di kursi empuknya, dan menyalakan sebatang keretek. Sambil matanya memandang halaman rumah, kalau-kalau Andi pulang. Pak Ratno menunggu Andi sampai larut malam. Namun yang ditunggunya belum juga terlihat batang hidungnya. Penantian Pak Ratno malam itu sia-sia. Semalaman penuh Pak ratno menunggu Andi di ruang tamu. Berharap malam itu Andi akan pulang.
Keesokan harinya Pak Ratno memutuskan untuk mencari Andi bersama Pak Tambur. Pak Ratno pergi ke toko buku langganan Andi. Di sana Pak Ratno mencari tahu tentang Andi. “Maaf mas, saya ayahnya Andi. Apa kemarin Andi belanja ke sini mas ?”.
“Kemarin Andi tidak belanja di sini pak. Coba tanya toko yang di sebelah itu. Biasanya kalau Andi tidak belanja ke sini, Andi belanjanya di sana pak.”
“Terima kasih ya mas informasinya.” Pak Ratno pun pergi ke toko sebelah, yang menjadi langganan Andi.
“Maaf pak, saya ayah nya Andi. Kemarin Andi belanja ke sini nggak ya pak ?”.
“Sudah lama lama sekali Andi tidak pernah belanja ke sini pak. Kemarin juga tidak ke sini. Memangnya ada apa dengan Andi ya pak ?”.
“Kemarin Andi berpamitan mau membeli peralatan sekolah pak. Tapi sampai sekarang Andi belum pulang juga.”
“Coba cari ke rumah teman-temannya pak. Siapa tahu Andi main di sana ?”.
“Ya pak, terima kasih.” Pak Ratno pun pergi dengan penuh kecewa.
Hari itu Pak Ratno pun mendatangi satu-persatu rumah teman-teman Andi. Salah satunya mendatangi rumah Woto teman Andi waktu SMP. Woto yang sedang duduk di depan rumahnya langsung menghampiri mobil yang berhenti di depannya. Ia mengira bahwa yang datang itu adalah Andi. Ternyata yang datang adalah Pak Ratno. Sebelum Pak Ratno bertanya tentang keberadaan Andi, malah Woto sudah lebih dulu bertanya.
“Andi mana pak, kok tidak ikut ?”.
“Loh…, kirain Andi main ke sini.”
“Andi sudah lama tidak main ke sini pak. Memangnya Andi pergi ke mana pak ?”.
“Nah itu yang sedang kami cari. Andi sejak kemarin pagi, pergi dari rumah. Katanya sih mau membeli peralatan sekolah di pasar. Tapi sampai sekarang Andi belum pulang juga. Bapak sudah mencari-cari ke sana ke mari, tapi belum ketemu juga. Bapak kira Andi main ke sini. Biasanya kalau tidak ke sini, Andi main ke mana ya mas ?’’.
“Tidak tahu pak. Nanti saya bantu nyari Andi ya, pak. Mudah-mudahan Andi cepat ditemukan.”
“Oh ya mas terima kasih ya. Kabari bapak secepatnya, bila ada informasi tentang Andi.’’
“Baik pak.” Pak Ratno kembali mencari Andi ke tempat lainnya.
Kali ini Pak Ratno pergi ke rumah Asdi. Salah satu teman Andi waktu SMP.
“Dek Asdi, Andi main ke sini, nggak?. Sejak kemarin pagi Andi pergi dari rumah. Sampai sekarang Andi belum pulang juga.”
“ Maaf Pak Ratno, sejak lulus SMP Andi tidak pernah main lagi ke sini. Mungkin Andi pulang ke kontrakannya Pak.”
“Kenapa saya tidak terpikirkan itu ya. Terima kasih Dek Asdi, sudah memberi tahu Bapak. Bapak akan coba memcari Andi ke sana.”
Dengan perasaan kecewa, Pak Ratno memutuskan pulang ke rumahnya. “Mari Pak Tambur kita pulang dulu. Siapa tahu Andi sudah pulang ke rumah”.
“Baik Pak Ratno.” Pak Tambur menganggukan kepalanya. Lalu memutar mobilnya menuju rumah Pak Ratno. Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Pak Ratno. Pak Ratno segera turun dari mobil dan memeriksa rumahnya. Ternyata Andi masih belum pulang juga.
“Pak Tambur, mencari Andinya kita lanjutkan besok pagi ya. Sekarang kita istirahat dulu. Tolong besok ajak Mas Parmin ya. Soalnya hanya dia saja yang tahu sekolah Andi.”
“Baik Pak Ratno.” Pak Tambur menyerahkan kunci mobil ke Pak Ratno. Lalu pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya Pak Ratno ditemani Pak Tambur dan Mas Parmin melanjutkan pencariannya. “Mas Parmin tahu kan, sekolahnya Andi ?” tanya Pak Ratno.
“Tahu pak.” “Mas Parmin, tolong kasih tahu rutenya ke Pak Tambur ya ?”.
“Ya pak. Dari sini kita ke arah perempatan gayam. Setelah itu lewat jalan besar ke arah Bandar Lampung. Nanti saya tunjukan jalannya pak.”
“Ayo Pak Tambur kita jalan.”
“Baik Pak Ratno.” Pak Tambur segera menghidupkan kontak mobil. Kemudian pergi meninggalkan rumah Pak Ratno.
Dua jam kemudian mereka telah sampai ke sekolah Andi. Pak Ratno segera turun dari mobil dan menuju ruang guru. Kemudian disambut oleh seorang guru. “Ada yang bisa kami bantu pak ?” Sapa guru itu.
“Maaf pak, saya ayahnya Andi. Apa hari ini Andi berangkat sekolah ya pak ?”.
“Coba saya panggil wali kelasnya dulu ya pak. Bapak tunggu dulu di sini.” Tidak lama kemudin guru tadi kembali menemui Pak Ratno bersama wali kelas Andi.
“Saya wali kelas Andi pak. Sudah satu minggu ini Andi tidak masuk sekolah. Kalau tidak salah satu minggu yang lalu bapak ini kan yang menjemput Andi ?”.
“Ya bu guru. Seminggu yang lalu Mas Parmin ini yang saya suruh untuk menjemput Andi. Kemarin Andi berpamitan katanya mau beli peralatan sekolah. Tapi sampai sekarang Andi belum pulang juga bu.”
“Coba saya tanya Ahmad ya pak. Siapa tahu Ahmad tahu keberadaan Andi.” Bu Guru kembali ke kelasnya. Tidak lama kemudian keluar bersama salah satu siswa.
“Ini Ahmad pak. Kebetulan dia teman akrab Andi. Siapa tahu Ahmad tahu keberadaan Andi.”Ucap Bu Guru.
“Dek Ahmad, saya bapak nya Andi. Kemarin Andi pergi dari rumah. Sampai sekarang Andi belum pulang juga. Apa dek Ahmad tahu, Andi di mana ?”.
“Maaf pak, seminggu yang lalu Andi dijemput pulang sama bapak ini. Sejak itu Andi belum pulang lagi pak. Kebetulan saya satu kontrakan dengan Andi.”
“Kira-kira Andi punya teman lagi nggak dek. Biar bapak cari ke sana.”
“Kayaknya tidak pak. Soalnya selama ini kemana-mana Andi selalu minta ditemani saya. Tapi coba nanti saya cari tahu ya pak.”
“Apa tidak mungkin Andi minap ke temannya yang lain dek ?”.
“ Kayaknya nggak pak. Soalnya tadi juga teman-teman di kelas pada nanyakan Andi dengan saya pak.”
“Terima kasih ya dek. Nanti kalau bertemu dengan Andi, tolong beri tahu Bapak ya. Ini alamat dan nomor telpon bapak.”
“ Ya Pak, akan saya beri kabar secepatnya. Jika saya sudah ketemu Andi. Mudah-mudahan Andi cepat ketemu ya pak.”
“Ya dek, terima kasih ya.”
Dengan perasaan kecewa Pak Ratno mengajak pulang Pak Tambur dan Mas Parmin. Selama di perjalanan, Pak Ratno lebih banyak diam. Berkali-kali Ia menarik napas dalam-dalam. Nampak di wajahnya terlihat keputus asaan. Andi yang dicarinya menghilang bagaikan ditelan bumi. Pak Tambur tidak berani mengajak bicara Pak Ratno. Sesekali Ia melirik Pak Ratno yang mulai terserang rasa kantuk. Pak Tambur terus menancap gas mobilnya menuju kampung Sumber Asih.
Dalam hitungan jam akhirnya mereka sampai di rumah Pak Ratno. Pak Tambur segera menghentikan laju mobilnya, dan membangunkan Pak Ratno.
“Maaf pak. Kita sudah sampai rumah.” Pak Ratno membuka matanya lalu mengusap-usap mukanya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian turun dari mobil.
“Mampir dulu, Pak Tambur, Mas Parmin ?”.
“ Terima kasih Pak Ratno, kami langsung pamit saja.”
“Loh ko buru-buru”.
“Saya ada keperluan lain Pak” jawab Mas Parmin.
“ Terima kasih Pak Tambur, Mas Parmin. Saya selalu merepotkan kalian.”
“Tidak apa-apa Pak Ratno. Ini sudah menjadi kewajiban kami. Kalau Pak Ratno membutuhkan bantuan kami, tidah usah sungkan-sungkan ya Pak. Bilang aja kepada kami.”
“Baiklah Pak Tambur, Mas Parmin. Sekali lagi terima kasih ya, dan ini sekedar untuk uang rokok. Tolong diterima ya.”
“Tidak usah repot-repot Pak Ratno. Kaya dengan siapa saja.” Jawab Pak Tambur.
“Tolong di terima ya.” “Tidak usah repot-repot loh Pak. Kami jadi tidak enak.”
“Tolong di terima Pak Tambur, Mas Parmin. Nanti saya tidak mau lagi loh minta tolong sama Pak Tambur dan Mas Parmin.”
“Kalau begitu kami terima, ya pak. Kami juga langsung pamit ya.” Ucap Pak Tambur.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
