KEMEJA OREN UNTUK AYAH
Oleh : Riswo
“Satu hari sepuluh ribu, dikali empat belas hari jadi seratus empat puluh ribu. Hmm, nggak cukup. Bagaimana caranya, ya?” Khandza keningnya menyrenyit, tampak berpikir keras. Bola matanya menyudut ke kiri, bibirnya tampak nyunyun.
Ibu yang sedang menghitung nota belanja, sedikit terganggu dengan gumaman Khandza yang berulang-ulang. “Menghiting apa, Khandza?”
“Hmm, Bu, tadi waktu kita ke toko Maya Mandiri, ada kemeja bagus banget. Aku mau beli.” Khandza mengabaikan pertanyaan Ibunya.
“Sejak kapan Khandza suka kemeja?”
“Hemm, kemejanya bukan untuk aku sih, tapi untuk seseorang.”
“Untuk siapa?”
“Ada deh, hehehe.”
“Wah, sudah mulai main rahasia-rahasiaan ya sama Ibu?” Ibu tampak berpikir, menerka apa yang sedang dirahasiakan darinya.
“Satu hari sepuluh ribu, dikali empat belas hari jadi seratus empat puluh ribu. Masih belum cukup untuk membeli kemeja oren.” Khandza kembali bergumam, menyangga dagunya, menatap langit-langit, atap rumah.
Ibu semakin penasaran oleh gumaman Khandza. “Kemeja oren? Untuk siapa Khandza?” Berharap Khandza memberi tahunya.
“Nanti Ibu juga tahu.”
Ibu menggelengkan kepala, menatap Khandza yang masih menghitung dengan jari-jemarinya. Sesekali ia tersenyum, melihat polah gadis kecil yang masih duduk di bangku kelas lima Sekolah Dasar.
“Emang Khandza punya uang?” Rasa penasarannya semakin memuncak.
Khandza menggeleng, jari-jemarinya kembali menghitung ulang, sambil bergumam. “Satu hari sepuluh ribu, dikali empat belas hari, hmm...masih belum cukup.”
“Apa yang kamu hitung, Khandza? Emang kamu sudah punya uang?” Ibu kembali dibuatnya penasaran.
“Aku mau kemeja oren itu?” Khandza kembali bergumam, tak menghiraukan pertanyaan Ibunya.
“Ditanya Ibu, kok nggak jawab. Nanti cantiknya ilang loh.” Melirik Khandza, melanjutkan menghitung nota belanjanya.
“Dari uang jajan aku, Bu.”
“Ada-ada aja kamu, Khandza. Terus empat belas hari ke depan, kamu nggak mau jajan di sekolah?”
“Nggak lah, Bu. Demi kemeja oren itu, uang jajan ku mau aku tabung. Aku mau bawa bekal dari rumah saja.”
“Demi kemeja oren itu, Khandza sampai rela tidak jajan? Sejak kapan kamu mulai suka dengan kemeja?”
“Bukan untuk ku, Ibu, tapi untuk seseorang?”
“Wah, seseorang itu pasti sangat sepesial ya bagi Khandza.”
“Ya, dong, Bu.” Si rambut pirang mengedipkan matanya, lalu pergi.
Waktu pun terus berlalu, silih berganti. Empat belas hari kemudian, tepat di tengah malam, Khandza mengetuk kamar Ayah dan Ibunya. Tuk, tuk, tuk, tuk...
Tak seberapa lama, pintu pun dibuka. Laki-laki tampan, karismatik itu membukakan pintu kamarnya. “Ada apa, Nak? Malam-malam mengetuk pintu?” Mengusap matanya yang masih ngantuk berat.
“Happy birthday to you..., happy birthday to you..., happy birthday..., happy birthday..., happy birthday to you... Selamat ulang tahun, Ayah. Selamat ulang tahun, Pahlawanku.”
Ayah meniup lilin pemberian Khandza, diiringi tepuk tangan Ibu, yang baru saja bangun. “Terima kasih sayang, atas kejutan ulang tahunnya.”
“Ini kado ulang tahun Ayah. Buka sekarang, Yah.”
“Wah, bagus sekali kemejanya? Warna oren lagi? Pokoknya, top markotop deh. Terima kasih Anak ku sayang.” Wajah Ayah berbinar-binar menerima kado ulang tahun dari putri kesayangannya.
“Oohh. Rupanya orang sepesial yang dirahasiakan dari Ibu, adalah Ayah? Kenapa Khandza tidak memberitahu Ibu, kalau hari ini Ayah ulang tahun?”
“Kalau diberi tahu, namanya bukan surprise Bu.”
“Selamat ulang tahun, Ayah. Maaf Ibu lupa, hehehe.”
“Nggak apa-apa, Bu. Ayah sendiri juga lupa kalau hari ini ulang tahun.”
“Dan yang ini, kado untuk Ibu.” Khandza menyodorkan kadonya ke Ibu.
“Loh, Ibu kan belum ulang tahun, kenapa dikasih kado?”
“Aku mau melihat Ratu ku tersenyum, saat pahlawan ku ulang tahun.”
“Emangnya, siapa pahlawan mu?”
“Ayah adalah Pahlawan ku, Ibu. Saat aku sakit, Ayah menjaga ku siang dan malam, tidak tidur. Sampai-sampai matanya ada bercak merah.”
“Ayah mu memang hebat, Khandza. Ayah bukan saja Pahlawan bagi Khandza, tapi juga Pahlawan bagi Ibu. Saat Khandza dirawat di Rumah Sakit, Ibu dilarang ikut begadang. Katanya takut Ibu sakit, hehehe.”
“Wah, Ayah emang so cuit. Eh, maksud ku, So sweet, hehehe.” Khandza menyanjungnya.
“Bukan itu saja. Selama enam bulan, Ayah juga meminumkan obat untuk Khandza. Ayah sangat hawatir, jika Khandza lupa minum obat satu kali saja, maka harus diulang dari awal selama enam bulan.”
“Waktu itu aku mutah darah, sampai kehabisan tenaga. Ayah membawa ku ke Rumah Sakit Bob Bazar, lalu dirujuk ke Rumah Sakit Abdul Muluk. Kata dokter cantik, aku sakit paru-paru.” Khandza menjelaskan.
“Betul sekali. Saat Khandza tergolek lemas, Ibu sangat panik. Ayah yang menyemangati Ibu.” Menatap Khandza, matanya berkaca-kaca.
“Alhamdulillah sekarang Khandza sudah sehat ya, Nak. Tapi ingat, Khandza harus selalu menjaga kesehatan. Cuci tangan sebelum makan, dan hindari makanan yang kurang sehat ya, Nak,” Imbuh Ayah.
“Siap, Ayah.” Khandza memberi hormat.
“Anak pintar. Sini sayang, Ibu peluk.”
“Berkat pertolongan dari Allah SWT, dan berkat bantuan Ayah dan Ibu, sekarang aku sudah sembuh, dan sudah bisa sekolah lagi. Terima kasi ya, Allah. Terima kasih Ibu, terima kasih Ayah. Terima kasih Pahlawan ku.”
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
