Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
LEGENDA AIR TERJUN WAY KALAM

LEGENDA AIR TERJUN WAY KALAM

(Asal-Usul Air Terjun Bicara di Kaki Gunung Rajabasa)

Oleh: Riswo, S.E., M.Si.

Di tanah Lampung Selatan yang subur, berdiri megah sebuah gunung bernama Gunung Rajabasa. Gunung ini tak hanya menjadi lambang kemegahan alam, tapi juga menyimpan sejuta kisah yang turun-temurun diceritakan oleh para tetua kampung.

Salah satu kisah yang paling terkenal adalah tentang Air Terjun Way Kalam, air terjun yang gemericiknya seperti suara orang berbicara. Konon, suara itu berasal dari tangis dan doa seorang istri setia bernama Putri dan anaknya yang bernama Cantik.

Pada zaman dahulu, di lereng Gunung Rajabasa, hiduplah sepasang suami istri muda bernama Raka dan Putri. Mereka baru menikah dan hidup di sebuah rumah kecil yang dikelilingi pepohonan rindang serta aliran sungai yang jernih.

Raka adalah lelaki rajin, saleh, dan memiliki tekad kuat menuntut ilmu. Sedangkan Putri, sang istri, memiliki paras cantik dan perangai lembut yang membuat semua orang menghormatinya.

Suatu pagi, Raka berkata dengan suara lembut, “Istriku, izinkan aku pergi ke Tanah Suci untuk menimba ilmu. Aku ingin pulang membawa cahaya pengetahuan agar bisa membimbingmu menuju surga.”

Putri terdiam sejenak. Air matanya menetes di pipi, namun senyumnya tetap indah. “Pergilah, suamiku. Aku akan menunggumu, meski musim berganti seribu kali. Aku percaya, cinta yang tulus takkan kalah oleh jarak dan waktu.”

Dengan penuh harap, Raka pun berangkat. Ia meninggalkan rumah dan istrinya untuk perjalanan panjang menuju Tanah Suci. Beberapa minggu setelah kepergian Raka, Putri mulai merasa tubuhnya lemah dan sering mual. Hari demi hari berlalu, dan ia menyadari sesuatu.

“Ya Allah... aku mengandung,” bisiknya haru sambil mengelus perutnya. Tangis bahagia mengalir di wajahnya. Ia tahu, ini adalah buah cinta dari suaminya sebelum berangkat menuntut ilmu.

Sembilan bulan kemudian, Putri melahirkan seorang bayi perempuan yang begitu cantik, berkulit bening seperti porselen dan bermata jernih bak embun di pucuk daun. Ia menamainya Cantik.

Tahun demi tahun berlalu, Putri membesarkan anaknya seorang diri dengan sabar. Ia selalu berkata, “Cantik, ayahmu sedang belajar ilmu di tanah jauh. Suatu hari nanti, ia akan pulang membawa kebahagiaan bagi kita.” Cantik tumbuh menjadi gadis kecil yang sopan dan rupawan, mewarisi ketulusan hati ibunya.

Sepuluh tahun berlalu. Pada suatu sore, kabar menyebar bahwa Raka telah kembali ke kampung. Dengan hati berdebar, Putri membawa Cantik untuk menyambut suaminya. Namun begitu Raka melihat mereka, wajahnya berubah pucat dan marah. “Siapa anak itu, Putri?!”

Putri tersenyum lembut, “Dia Cantik, anakmu, Raka. Buah cinta kita sebelum kau pergi.”

Namun Raka menatap tajam, matanya menyala oleh amarah. “Jangan dusta! Aku telah pergi sepuluh tahun! Tak mungkin anak ini lahir dariku! Kau telah mengkhianati aku!”

Putri tersungkur menangis. “Demi Allah, aku tak pernah berpaling. Anak ini lahir dari rahimku, dari darahmu sendiri, Raka!”

Tapi hati Raka telah buta. Ia menuding istrinya dengan kemarahan yang membakar dada. “Cukup! Aku tak ingin melihat wajahmu lagi. Pergi kau bersama anak itu dari rumahku!”

Tangis Cantik pecah. Ia berlari memeluk ibunya, “Ibu... Ayah kenapa marah? Aku salah apa?” Putri hanya bisa memeluk anaknya erat.

“Bukan salahmu, Nak... Bukan salah siapa-siapa... mungkin waktu belum menghapus prasangka.”

Dalam hujan yang turun deras, Putri dan Cantik berjalan meninggalkan rumah. Mereka tak tahu arah, hanya mengikuti langkah yang membawa mereka ke lereng Gunung Rajabasa.

Di bawah langit gelap, Putri berdoa dengan suara lirih namun dalam, “Ya Allah... bila aku benar dalam kesetiaanku, tunjukkanlah kebenaran ini. Jadikanlah kami tanda bagi mereka yang mudah menuduh tanpa bukti.”

Tiba-tiba petir menyambar. Langkah mereka tergelincir di tebing licin. Keduanya jatuh, namun sebelum tubuh mereka menyentuh tanah, cahaya putih menyelimuti mereka. Dalam sekejap, tubuh ibu dan anak itu berubah menjadi dua aliran air yang jernih.

Yang satu besar dan deras disebut Air Terjun Induk, dan yang kecil di sisinya disebut Air Terjun Anakan. Suara gemericiknya terdengar seperti percakapan lembut, seolah ada dua sosok sedang berbicara dan menangis bersamaan.

Raka mendengar kabar istrinya dan anaknya hilang. Ia mencari ke seluruh penjuru hingga menemukan dua air terjun di kaki gunung. Saat ia menatap air itu, terdengar suara lirih di sela gemericik air:

“Raka... mengapa kau tak percaya? Cantik adalah darah dagingmu... kesetiaan tak selalu tampak di mata, tapi hidup di hati...”

Raka tersungkur di tepi air terjun itu. Ia menjerit pilu, “Ampunilah aku, istriku... anakku... aku telah buta oleh prasangka...”

Namun hanya suara air yang terus bergemericik, seolah membalas tangis penyesalannya. Sejak saat itu, penduduk sekitar menamai tempat itu Air Terjun Way Kalam. Dalam bahasa Lampung, Way berarti air, dan Kalam dalam bahasa Arab berarti bicara. Mereka percaya, air terjun itu masih menyimpan roh kesetiaan dan cinta sejati seorang istri dan anak yang difitnah tanpa bukti.

Hingga kini, ketika malam sunyi dan bulan purnama menggantung di langit Rajabasa, penduduk masih sering mendengar gemericik air seperti suara wanita dan anak kecil berbicara lembut. Mereka percaya, itu adalah suara Putri dan Cantik, yang abadi dalam bentuk air menyampaikan pesan kepada manusia:

Jangan biarkan prasangka mengalahkan cinta. Sebab sekali tuduhan salah terucap, penyesalan akan kekal seperti air yang tak pernah berhenti mengalir. Jangan menuduh tanpa bukti, sebab prasangka dapat menghancurkan kepercayaan. Kesetiaan sejati tidak membutuhkan saksi, cukup kejujuran dan doa yang tulus. Cinta dan penyesalan akan selalu menjadi bagian dari kehidupan manusia yang lupa bersyukur.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post