Legenda Merak Belantung
Oleh : Riswo, S.E., M.Si.
Di sebuah desa kecil di tepi hutan dan laut, hiduplah seorang pemuda tampan bernama Belan. Namun ketampanan itu seolah sia-sia, sebab hidupnya jauh dari kata bahagia. Ia lahir dari keluarga miskin, kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, dan kini menempati gubuk reot peninggalan ayahnya di ujung desa.
Hari-harinya diisi dengan melamun dan berjalan tanpa arah. Tak punya pekerjaan, tak punya harapan, dan sering kali tak punya makanan. Penduduk desa memandangnya dengan jijik dan sinis. “Lihat si Belantung itu!” seru seorang ibu-ibu.
“Kerjanya cuma jalan ke sana ke mari. Lontang-lantung seperti tak punya masa depan!”
Belan menunduk. Ia tahu ejekan itu ditujukan padanya. Julukan Belantung, singkatan dari Belan Si Lontang Lantung melekat kuat padanya. Sejak saat itu, tak seorang pun di desa memanggilnya dengan nama aslinya lagi.
Hari itu, matahari memancarkan panas yang membakar tanah. Belan duduk di depan gubuknya sambil memegangi perutnya yang kosong. Sudah dua hari ia tidak makan apa pun. “Kalau begini terus, aku akan mati kelaparan,” gumamnya lirih.
Dengan sisa tenaga, ia mengambil tombak kayu peninggalan ayahnya dan berjalan ke arah hutan. Ia berharap bisa menemukan buah-buahan, atau jika beruntung, seekor kelinci hutan. Tapi nasib seakan menertawakannya. Dari pagi hingga sore, tak ada satu pun yang ia dapatkan.
Langit mulai berwarna merah tembaga. Angin sore meniup daun-daun kering yang berguguran. Belan terhuyung, tubuhnya lemah, perutnya melilit.
Namun tiba-tiba. “Cuit… cuit…” Terdengar suara samar dari arah semak belukar.
Ia berjalan pelan menuju sumber suara itu. Di antara akar-akar pepohonan besar, ia melihat seekor burung merak yang kakinya terjerat tali pemburu. Bulu-bulunya kusut, namun di antara kotoran dan debu, masih tampak kilau warna hijau kebiruan yang memantulkan cahaya senja.
Belan menatapnya dengan mata berbinar. “Akhirnya… makanan!” katanya setengah lega. Dengan cepat ia melepaskan jeratan, lalu membawa burung itu pulang. Dalam benaknya hanya ada satu pikiran malam ini, ia akan makan daging burung merak.
Setiba di rumah, Belan menaruh burung itu ke dalam sangkar bambu dan segera menyiapkan bumbu dapur seadanya. Ia mengasah pisau di batu, suara gesekannya memantul di dinding gubuk yang sepi.
Namun ketika ia mendekati sangkar dan mengangkat burung itu, sesuatu membuat tangannya berhenti. Burung merak itu menatapnya dengan mata yang basah. Tetes air seperti menuruni sudut matanya, seolah menangis.
Belan tercekat. Pisau di tangannya gemetar. “Apakah aku… akan membunuh makhluk yang sedang memohon belas kasihan padaku?” katanya dalam hati.
Air matanya ikut menetes. Ia menaruh pisau itu di lantai, lalu memeluk burung itu lembut. “Baiklah, aku tidak akan menyembelihmu. Kau bebas… tapi tolong, jangan pergi dulu. Kau terluka.”
Ia membersihkan luka di kaki merak itu dengan air hangat dan membalutnya dengan kain tua. Setelah selesai, Belan duduk bersandar di tembok, kelelahan dan lapar. Tiba-tiba terdengar suara lembut berbisik di telinganya. “Terima kasih… wahai pemuda berhati baik.”
Belan tersentak. Ia melihat ke sekeliling, tapi tak ada siapa pun. Hanya angin malam yang berhembus pelan. Namun suara itu kembali terdengar.
“Sebagai balasannya, pergilah ke laut besok pagi. Tangkaplah ikan dengan jaring yang kau punya.” Belan menatap sangkar burung itu dan melihatnya kosong. Burung merak itu telah menghilang.
Keesokan paginya, Belan berjalan menuju laut. Ombak bergulung lembut di bawah cahaya matahari pagi. Ia menebarkan jaring ke air, berharap walau satu ikan kecil tersangkut. Namun keajaiban terjadi. Saat jaring itu diangkat, ratusan ikan besar melompat-lompat di dalamnya, berkilau seperti perak di bawah sinar matahari.
“Ya Tuhan…” Belan tertegun. “
Aku bisa makan! Aku bisa hidup!”
Ia pulang dengan gembira, membawa hasil tangkapan yang melimpah. Tapi begitu membuka pintu rumahnya, kakinya terhenti. Di atas meja sederhana sudah tersaji makanan yang sangat lezat nasi putih hangat, ikan bakar beraroma harum, dan sayur bening dalam mangkuk.
“Siapa yang membuat semua ini?” gumamnya. Tapi rasa lapar tak memberinya waktu berpikir. Ia melahap semuanya dengan penuh syukur, lalu tertidur di tikar usang. Dalam tidurnya, Belan bermimpi. Ia berada di taman yang sangat indah, penuh bunga berwarna ungu dan kuning, serta air mancur yang jernih.
Di tengah taman itu berdiri seorang gadis jelita berbusana hijau keemasan, wajahnya seindah sinar rembulan. “Siapa kau?” tanya Belan. Gadis itu tersenyum lembut.
“Aku adalah Putri Merak. Aku yang kau tolong dari jerat kemarin.”
Belan menunduk tak percaya. “Kau… burung itu?”
“Ya. Aku dikutuk oleh penyihir jahat menjadi burung. Kutukan itu hanya bisa hilang jika seseorang menolongku tanpa pamrih. Dan kaulah orang itu, Belan.” Belan terdiam. Hatinya bergetar antara kagum dan cinta.
“Aku ingin membalas kebaikanmu. Mulai hari ini, aku akan menjadi pendamping hidupmu, jika kau mau menerimaku.”
Air mata Belna menetes. Ia menatap wajah sang putri dengan penuh haru. “Bagaimana mungkin aku menolak anugerah seindah ini?”
Keesokan harinya, saat Belan terbangun, di dalam rumahnya berdiri gadis yang sama dari mimpinya. Ia tersenyum manis, membawa nampan berisi makanan.
“Selamat pagi, suamiku,” katanya lembut.
Sejak hari itu, kehidupan Belan berubah total. Gubuk reotnya berubah menjadi rumah indah, sawahnya subur, dan hasil lautnya melimpah. Penduduk desa yang dulu menghina kini datang meminta maaf dan menghormatinya.
Namun Belan tak pernah sombong. Ia tetap rendah hati, menolong siapa pun yang kelaparan seperti dulu ia kelaparan. Bertahun-tahun kemudian, ketika Belan dan istrinya berjalan di tepi pantai, sang putri berkata, “Tempat ini kini menjadi saksi kisah kita. Biarlah orang-orang mengenangnya selamanya.”
Maka sejak itu, desa dan pantai tempat mereka tinggal dikenal dengan nama Merak Belantung, berasal dari kisah Belan si pemuda lontang-lantung dan burung merak yang menjelma menjadi putri. Dan hingga kini, masyarakat sekitar masih percaya, di malam-malam tertentu, jika angin laut berhembus lembut, terdengar suara merak menari di kejauhan pertanda cinta sejati yang tak lekang oleh waktu.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
