Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
LEGENDA PANCURAN EMAS Oleh   Riswo, S.E., M.Si.

LEGENDA PANCURAN EMAS Oleh Riswo, S.E., M.Si.

Di kaki Gunung Rajabasa yang menjulang megah, terhampar sebuah perkampungan kecil bernama Kampung Kahai. Di antara lembah hijau dan ladang-ladang padi yang bergoyang diterpa angin laut, hiduplah seorang pemuda sederhana bernama Saka.

Saka dikenal sebagai lelaki jujur dan pekerja keras. Ia hidup sebatang kara setelah orang tuanya wafat, menempati gubuk kecil di tepi hutan bambu. Meski hidup pas-pasan, wajahnya selalu teduh dan hatinya lapang. Ia gemar menolong tetangga, menimba air bagi janda tua, atau membantu menggiling padi di lumbung desa.

Namun, di balik kesederhanaan itu, ada sesuatu yang disimpannya rapat-rapat, cinta. Cinta yang tumbuh diam-diam untuk seorang gadis cantik dari Kampung Ketapang, bernama Lestari, putri seorang nelayan di pelelangan ikan.

Pertemuan pertama mereka terjadi pada suatu pagi yang cerah di pelelangan ikan. Saka datang untuk menjual hasil kebunnya ubi, kelapa, dan sedikit madu hutan. Di sanalah ia melihat Lestari untuk pertama kali, sedang menimbang ikan dengan senyum yang menawan.

Saka tertegun. Cahaya mentari yang jatuh di wajah gadis itu seperti menyalakan bara di dadanya. Sejak hari itu, bayangan Lestari menari-nari dalam pikirannya. Ia sengaja sering datang ke pelelangan ikan, kadang tanpa tujuan, hanya untuk melihat gadis itu dari kejauhan.

Berbulan-bulan kemudian, berbekal tekad dan keberanian, Saka memberanikan diri melamar Lestari. Meskipun keluarganya sederhana, ketulusan hatinya meluluhkan sang ayah nelayan. Setelah melalui restu dan doa, keduanya resmi menikah.

Hari pernikahan itu sederhana, diiringi tabuhan rebana dan tawa anak-anak. Namun bagi Saka, hari itu adalah hari paling indah dalam hidupnya. Di hadapan para tetua dan langit biru Rajabasa, ia berjanji akan melindungi Lestari seumur hidupnya.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Rumah tangga mereka tampak bahagia. Saka selalu berangkat ke ladang pagi-pagi dan pulang sore membawa hasil panen, sementara Lestari menjaga rumah, menenun tikar pandan, dan sesekali membantu tetangga.

Namun, satu hal membuat Lestari bertanya-tanya, sang suami melarangnya mandi di sungai. “Air sungai itu berbahaya, Lestari. Banyak lubang dan arusnya kuat,” kata Saka setiap kali Lestari meminta izin.

“Tapi semua perempuan di kampung mandi dan mencuci di sana. Tak ada yang celaka, Kak,” jawab Lestari heran.

“Bukan untukmu,” ucap Saka tegas namun lembut. “Aku hanya takut kehilanganmu.”

Saka selalu menimba air sendiri untuk kebutuhan rumah. Bahkan saat malam turun dan kabut menebal, ia rela menembus gelap demi membawa air jernih pulang. Lestari melihat kelelahan di wajah suaminya, tapi ia tak pernah membantah. Hingga rasa penasaran itu tumbuh seperti bara yang menunggu angin.

Suatu pagi, ketika Saka pergi ke ladang, Lestari akhirnya tak tahan lagi. Ia membawa kendi tanah liat dan berjalan diam-diam menyusuri jalan kecil menuju sungai yang selalu dilarang itu.

Langit biru, embun masih bergelayut di ujung dedaunan, dan burung-burung hutan bernyanyi riang. Namun setiap langkah Lestari terasa semakin berat, seperti ada sesuatu yang mengawasi dari balik pepohonan.

Setelah menembus semak belukar dan rumpun bambu, ia tiba di sebuah mata air yang tersembunyi di balik pohon nibung besar. Dari balik batu-batu hitam, mengalir air yang bening dan di tengahnya, sebuah pancuran aneh memancarkan cahaya kuning keemasan.

“A… apa ini?” bisiknya takjub.

Pancuran itu tampak seperti bilah batang nibung yang dilubangi, tapi sinarnya menyilaukan, seolah di dalamnya mengalir emas cair. Air yang jatuh ke kolam memantulkan kilauan seperti ribuan bintang kecil. Lestari mendekat, menunduk, dan melihat dengan mata kepala sendiri: pancuran itu terbuat dari emas murni!

Dengan hati berdebar, Lestari menimba air. Namun saat kakinya terpeleset batu licin, ia reflek berpegangan pada pancuran emas itu.

Krak! Sebuah suara lirih terdengar. Ujung pancuran patah, meninggalkan serpihan kecil emas di tangannya. Gemetar, Lestari menatap air yang kini beriak tenang, seolah menyembunyikan rahasia besar. Ia menyimpan serpihan itu di balik kainnya dan berlari pulang, dadanya sesak oleh campuran kagum dan takut.

Malamnya, ketika bulan naik tinggi dan jangkrik bernyanyi, Lestari menceritakan semuanya kepada Saka. “Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku, Kak. Aku pergi ke sungai… dan menemukan pancuran dari emas!”

Wajah Saka memucat. Ia menatap istrinya dengan mata yang berkilat. “Kau berbohong! Aku sudah melarangmu ke sana!”

“Aku tidak bohong. Ini buktinya…” kata Lestari sambil mengeluarkan serpihan kecil emas yang berkilau di bawah cahaya lampu minyak.

Saka terdiam. Jemarinya bergetar saat menyentuh logam itu. Cahaya emas itu menari di matanya yang kini basah oleh rasa takut.

“Kau tak seharusnya menyentuhnya…” suaranya lirih.

“Kenapa, Kak? Apa rahasia air itu?”

“Itu… bukan pancuran biasa. Itu peninggalan leluhur, penjaga harta bumi yang tak boleh diganggu.”

Di luar rumah, angin tiba-tiba bertiup kencang. Daun-daun bambu bergesekan, mengeluarkan suara seperti desahan roh yang baru terbangun dari tidur panjang.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, kabar tentang “pancuran emas” menyebar dari mulut ke mulut. Sampai akhirnya, seorang warga dari Desa Hargo Pancuran bermimpi aneh. Dalam mimpinya, seorang lelaki berjubah putih berkata, “Di selatan kampungmu, di bawah mata air, tersimpan emas sebesar lesung. Ambillah untuk kesejahteraan rakyatmu, tapi ingat… hanya bisa diangkat dengan satu syarat: persembahkan seorang bayi laki-laki.”

Kabar mimpi itu menggemparkan. Kepala desa memanggil seluruh warga untuk bermusyawarah di balai bambu. “Apakah kita harus mengorbankan bayi manusia demi emas?” tanya seseorang.

“Tidak,” jawab seorang tetua. “Kita buat saja patung bayi dari tanah liat. Jika niat kita baik, leluhur pasti merestui.”

Dengan doa dan sesajen, mereka menuju mata air. Benar saja di dasar kolam, tampak seonggok emas besar berkilau seperti matahari. Bersama-sama, mereka mengangkatnya dengan hati-hati, menaruh di atas tandu bambu. Sorak gembira menggema.

Namun dalam perjalanan pulang, seorang muda yang congkak berseru, “Ha! Hanya dengan patung bayi tanah liat, kita bisa mendapatkan emas sebesar ini! Tak perlu korban manusia! Ternyata roh leluhur itu mudah ditipu!”

Sekonyong-konyong langit bergemuruh, petir menyambar bukit, dan tanah bergetar hebat. Emas itu meluncur turun dari tandu, menggelinding sendiri menembus pepohonan. Dalam sekejap, benda berkilau itu lenyap ditelan hutan arah barat, menuju Tanjungtua.

Warga terpaku, sebagian berteriak histeris. Kepala desa berlutut menangis. “Kesombongan telah membuat kita kehilangan berkah…” ucapnya lirih.

Sejak saat itu, mata air di tempat itu berubah arah. Airnya mengalir lembut, dan pancurannya tampak bagai emas di bawah cahaya senja. Masyarakat menamainya Pancuran Mas, karena dipercaya emas yang hilang tadi bersemayam di bawah tanah, memancarkan sinar keemasan setiap malam bulan purnama.

Hingga kini, bila malam purnama menggantung di atas hutan Tanjungtua, kadang cahaya keemasan tampak memancar dari dasar air. Seperti bisikan harta yang tak boleh disentuh manusia.

Para tetua kampung selalu berpesan kepada anak cucunya, “Ingatlah kisah Pancuran Emas. Kekayaan sejati bukanlah yang berkilau di mata, tapi yang bersemayam di hati. Keserakahan akan selalu menggelinding menjauh, tapi hati yang tulus akan selalu memantulkan cahaya emas sejati.”

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post