Keren! Riswo dan Anak-Anak Binaannya Terbitkan Buku Langit Putih Abu-Abu
Kalianda, 10 November 2025
Semangat literasi di SMA Negeri 1 Kalianda kembali menorehkan prestasi membanggakan. Di bawah bimbingan penulis nasional sekaligus guru inspiratif Riswo, S.E., M.Si.,yang pernah penulis tujuh novel dan lebih dari dua puluh buku antologi, para siswa Kelas XI Merdeka 8 berhasil menerbitkan sebuah karya monumental berupa buku antologi cerpen berjudul Langit Putih Abu-Abu.
Buku setebal 269 halaman ini memuat puluhan kisah yang merekam denyut kehidupan remaja di bawah langit sekolah, tentang pencarian jati diri, makna persahabatan, pergulatan batin, dan cinta yang tulus sekaligus polos. Dengan bahasa yang segar, jujur, dan penuh perasaan, setiap cerita menghadirkan kehangatan sekaligus refleksi mendalam bagi pembaca.
Menurut Riswo, yang juga dikenal sebagai mantan Kepala Sekolah Berprestasi dan Ketua Forum Guru Motivator Penggerak Literasi (FGMPL) Lampung Selatan, karya ini lahir dari semangat serta kekompakan luar biasa para siswanya.
“Anak-anak XI Merdeka 8 ini benar-benar luar biasa. Saat ide untuk menulis dan menerbitkan buku saya sampaikan, mereka menyambutnya dengan antusias. Dalam waktu singkat, mereka saling mendukung, berbagi ide, dan menulis dengan sepenuh hati. Hasilnya sungguh melampaui harapan,” ujar Riswo dengan bangga.
Kerja keras dan kolaborasi itu pun berbuah manis. Langit Putih Abu-Abu bukan sekadar buku, melainkan simbol kreativitas dan kebangkitan literasi di lingkungan SMA Negeri 1 Kalianda, yang bermula dari sebuah kelas kecil bernama XI Merdeka 8. Tak heran, para guru dan warga sekolah menjuluki kelas ini sebagai “Kelas Inspiratif.”
Momen peluncuran buku ini terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, Senin (10/11/2025). Sebagai wali kelas sekaligus pembimbing, Riswo menyampaikan rasa syukur dan kebanggaan mendalam atas capaian anak didiknya.
“Apa yang dilakukan anak-anak ini adalah bentuk kepahlawanan masa kini. Mereka berjuang bukan dengan senjata, melainkan dengan pena. Karya mereka menjadi bukti bahwa semangat literasi mampu menyalakan perubahan positif di hati generasi muda,” tutur aktivis Penggerak Literasi Lampung ini dengan mata berbinar.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa program literasi di SMA Negeri 1 Kalianda bukan sekadar slogan, melainkan telah tumbuh menjadi budaya hidup di kalangan siswa.
“Saya berharap praktik baik ini akan diikuti oleh kelas lainnya. Buku ini adalah tonggak sejarah yang membuktikan bahwa generasi muda bisa memberi kontribusi nyata bagi dunia pendidikan dan kebudayaan,” tambah Riswo, yang juga dikenal sebagai mantan wartawan Harian Lampung Ekspres.
Dengan terbitnya Langit Putih Abu-Abu, SMA Negeri 1 Kalianda kian menegaskan diri sebagai sekolah penggerak literasi di Kabupaten Lampung Selatan. Buku ini bukan hanya menjadi kebanggaan Kelas XI Merdeka 8, tetapi juga sumber inspirasi bagi seluruh siswa untuk menumbuhkan budaya menulis dan membaca.
Para penulis muda yang tergabung dalam karya kolaboratif ini antara lain: Riswo, S.E., M.Si. (penulis utama sekaligus pembimbing), Keisya Raihatul Zuhra, Waila Afna Azzani, Abid Ferza Gunawan, Zaskia Tasniim Gunawan, M. Ifqi Pramanda, Desvia Zahra Amelia, Intan Zakiah Fitrya, Lutfia Zhulian Naisya, Warda May Assyfa, Aghny Dwi Putri, Syah Reihan Dandi Musyafa, Najwa Chairun Annisa, Ni Luh Ayu Puspita Sari, Fazyra Azzahra Gunawan, Chantika Nur Anzani.
Penulis selanjutnya adalah Litha Ratu Amanda, Vadia Auliyantoni, Desti Nurhajijah, Alya Faiza, M. Atha Ghaisani Irawan, Bianca Aurelia, Nadzatul Nazwa Fortuna, Ristara Kurnia, Muhammad Hannafi, Kaisah Majdiah Shahirah, Desy Auliani Maharani, Hafidz Hartama, Chatiya Meisya Putri, Fizal Rismawan, Yunessa, Aditya Fathan, Madina Akmelia Putri, M. Fikas Anugrah, Laila Ramadani, Rangga Aditia, dan Celine Aura Salsabila.
Pemilihan judul Langit Putih Abu-Abu memiliki makna yang dalam. Ia menjadi metafora perjalanan remaja, masa yang tak selalu biru cerah, namun juga tak sepenuhnya kelam. Di bawah langit yang putih abu-abu itulah, para siswa belajar memahami diri, menata mimpi, serta menulis kisah mereka sendiri.
Melalui karya ini, para penulis muda membuktikan bahwa pena bisa menjadi jembatan antara imajinasi dan perubahan. Di tengah derasnya arus digital, mereka memilih menulis, berpikir, dan berkarya untuk meninggalkan jejak kebaikan.
Sebuah langkah kecil, namun berdampak besar. Karena dari satu kelas kecil di SMA Negeri 1 Kalianda, telah lahir cahaya literasi yang menyinari langit pendidikan Indonesia.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
