Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Laki-Laki Panggilan

Laki-Laki Panggilan

Oleh : Riswo

Langit sore itu menggantung kelabu, seakan menahan tangis yang tak sempat turun. Di ujung kampung kecil di Lampung Selatan, seorang remaja berjalan pelan menenteng tas sekolah yang warnanya telah pudar. Seragam putih abu-abunya tampak lusuh, dan sepatunya basah oleh lumpur. Namanya Manto, siswa kelas XI SMA Negeri di kecamatan itu.

Wajahnya pucat, matanya letih, tapi sorotnya menyimpan sesuatu yang tak semua orang punya: tekad untuk bertahan hidup.

Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu akibat kecelakaan di pabrik semen, Manto menjadi tulang punggung keluarga. Ibunya sakit-sakitan, dan adiknya, Lela, baru kelas tiga SD. Hidup mereka hanya bertumpu pada uang yang Manto bawa pulang setiap hari.

Pagi hari, ia tetap mengenakan seragam sekolah dan berangkat seperti siswa lain. Tapi begitu sore menjelang, hidupnya berubah menjadi perjuangan.

Setelah menaruh buku di meja kayu rumah panggungnya, Manto berganti pakaian, kaus lusuh, celana pendek, dan sandal jepit. Ia mengambil tas kecil berisi minyak urut, handuk, dan tikar gulung. Dari rumah-rumah kecil di kampung itu, mulai terdengar panggilan, “To, mampir ya, Bahu Budi pegal-pegal lagi.”

“To, nanti malam ke rumah Bu Yati, ya. Suamiku habis dari ladang.”

Manto tersenyum kecil. Panggilan-panggilan itu yang membuat dapur rumahnya tetap mengepul. Ia tahu, malam nanti tubuhnya akan remuk, tapi tidak apa. Yang penting Lela tetap sarapan nasi, bukan air garam.

Namun dunia memang tidak selalu adil. Orang-orang hanya melihat dari luar, tanpa mau tahu dalamnya luka seseorang. Karena sering terlihat keluar malam dan pulang lewat tengah malam, gosip pun tumbuh liar.

“Katanya Manto itu laki-laki panggilan…”

“Serius? Malam-malam ke rumah orang, bawa tas kecil… entah ngapain!”

Bisikan itu mulai terdengar di kantin, lorong kelas, hingga grup WhatsApp sekolah. Tawa kecil menyertai setiap kata. Manto tidak membantah. Ia tahu, melawan gosip hanya menambah apinya. Tapi diamnya justru membuat orang makin yakin ia bersalah. Dan pada suatu pagi yang basah oleh gerimis, fitnah itu meledak.

Suara ribut terdengar dari depan kelas XI Merdeka 8. Di sana berdiri Niluh, gadis tinggi jangkung berambut kuncir kuda, terkenal galak dan pemberani. Begitu Manto melangkah masuk, tamparan keras mendarat di pipinya.

“Berani-beraninya kau berpura-pura polos di sekolah! Dasar laki-laki panggilan!”

Semua mata menatap. Manto tertegun. Sebelum sempat bicara, tamparan kedua menyusul, membuat buku-bukunya berjatuhan ke lantai.

“Jawab, To! Berapa perempuan yang sudah kau ‘panggil’ malam-malam itu!?”

Suara tawa dan bisikan menyebar seperti api. Beberapa siswa menutup mulut, sebagian lagi merekam dengan ponsel. Manto hanya menunduk. Ia tak mau membalas. Tapi Niluh tak berhenti. Ia mendorong meja hingga jatuh, menarik kerah baju Manto dan meninju dadanya.

Darah menetes dari bibir Manto. Ruangan bergetar oleh teriakan dan kamera yang merekam semuanya.

Tiba-tiba, terdengar suara lembut namun tegas.

“Niluh! Cukup!”

Itu suara Litha, siswi pendiam yang terkenal cerdas dan berakhlak baik. Ia berlari ke arah mereka, menahan tangan Niluh.

“Jangan main tangan, Niluh! Kita belum tahu kebenarannya!”

Niluh menatap tajam. “Kau belain dia karena suka sama dia, ya? Dasar polos, mudah ditipu!”

Litha terdiam sejenak, tapi suaranya tetap tenang. “Bukan soal suka atau tidak. Ini soal benar dan salah.”

Suasana semakin panas, sampai Iqbal, ketua OSIS, datang bersama dua teman laki-laki dan melerai mereka.

“Cukup! Jangan bikin sekolah kayak pasar! Manto, jelaskan semua!”

Manto menatap seisi kelas. Bibirnya berdarah, tapi matanya jernih. Ia menghela napas panjang. “Benar, aku laki-laki panggilan,” katanya lirih.

Tawa, ejekan, dan gumaman langsung pecah. Tapi Manto melanjutkan dengan suara yang tenang, menusuk, dan jujur, “Tapi bukan seperti yang kalian pikirkan.

Sejak ayah meninggal, aku harus mencari uang. Ibu sakit, adikku kecil. Aku memijat orang-orang yang kelelahan bekerja. Kadang malam hari, karena siang mereka sibuk di ladang atau pelabuhan. Mereka memanggilku untuk memijat, bukan untuk hal kotor. Aku hanya berusaha hidup dengan cara yang halal.”

Ruangan yang tadinya gaduh mendadak hening. Litha menunduk, air mata jatuh pelan di pipinya. Niluh terdiam kaku.

“Manto…” suaranya bergetar, “aku… aku salah paham.”

Namun sebelum Manto sempat menjawab, pintu kelas terbuka keras. Guru piket masuk dengan wajah merah padam.

“Semua ke ruang BK sekarang juga!”

Di ruang BK, suasana tak kalah tegang. Bu Ratna, guru pembimbing yang dikenal tegas, duduk di kursinya. Tatapannya tajam, tapi matanya lembut saat memandang Manto.

“Kekerasan tidak bisa dibenarkan di sekolah ini. Tapi fitnah juga tidak boleh dibiarkan,” ujarnya perlahan.

“Manto, kamu bekerja untuk keluargamu, ya?”

Manto mengangguk. Bu Ratna menghela napas panjang. “Nak, kamu anak yang luar biasa. Jangan malu bekerja keras. Yang memalukan adalah menghakimi tanpa tahu apa-apa.”

Semua diam. Hanya terdengar suara hujan di luar jendela. Tapi tiba-tiba, pintu ruang BK terbuka. Seorang siswa masuk tergopoh-gopoh.

“Bu Ratna! Manto! Cepat pulang! Ibumu pingsan!”

Manto terperanjat. Ia berlari keluar tanpa sempat berpamitan. Hujan turun deras, membasahi jalanan tanah yang licin. Sepatunya terlepas, tapi ia terus berlari, melewati sawah, jembatan bambu, dan kebun pisang.

Ketika tiba di rumah, tubuhnya menggigil. Di tikar bambu yang lembap, ibunya terbaring lemah. Wajahnya pucat, napasnya berat.

“Ibu… bangun, Bu. Manto sudah pulang…”

Ibu membuka mata perlahan, menatap wajah anaknya dengan senyum samar. “Manto… jangan menangis. Ibu hanya… lelah. Jangan berhenti berbuat baik, Nak. Allah… selalu melihat.” Tangan itu menggenggam erat jemari Manto, lalu perlahan melemah.

“Ibu? Ibu!”

Suara tangis Manto pecah, menembus gemuruh hujan. Dunia seakan berhenti. Di luar, petir menyambar, seolah ikut menangis.

Keesokan harinya, kabar duka menyebar. Semua siswa datang ke pemakaman sederhana di bawah pohon jambu. Niluh berdiri di antara kerumunan, wajahnya sembab. Saat tanah terakhir ditimbun, ia berbisik lirih di samping nisan, “Maafkan aku, Manto. Aku menuduhmu tanpa tahu apa-apa.”

Manto hanya menatap langit abu-abu, lalu menunduk. “Ibu selalu bilang, memaafkan itu bukan tanda kalah. Justru tanda kita menang melawan kebencian.” Niluh meneteskan air mata. Ia tak menjawab, hanya menatap tanah merah itu dengan hati yang luluh.

Hari-hari berikutnya berjalan pelan. Niluh sering datang membantu Manto menjaga Lela. Ia menyiapkan bekal, mencucikan baju, bahkan ikut menemaninya bekerja. Litha pun diam-diam menggalang dana bersama teman-teman Rohis agar Manto tetap bisa bersekolah.

Kini, setiap sore, ketika langit memerah di atas sawah, tampak dua remaja berjalan bersama membawa tikar dan minyak urut. Mereka bukan lagi bahan gosip. Orang-orang memanggil mereka dengan hormat, “To! Sini, bantu urut kakek, ya!”

“To! Litha, Niluh, mampir dulu minum teh!”

Manto tersenyum, menatap senja yang perlahan berubah jingga.

“Ibu, lihatlah…” bisiknya pelan.

“Sekarang aku masih laki-laki panggilan… tapi panggilan itu bukan lagi karena uang. Tapi karena cinta, kebaikan, dan rasa syukur.”

Langit menjawab dengan tetes hujan lembut yang jatuh ke pipinya. Di bawah rintik itu, Manto menatap ke depan, melangkah dengan hati yang lapang, memanggul beban hidup dengan keyakinan bahwa setiap panggilan kebaikan akan dibalas oleh langit.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post