Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
AUMAN TERAKHIR RAJABASA
Sebuah Legenda Penjaga Gunung Rajabasa

AUMAN TERAKHIR RAJABASA

Legenda Raden Intan II dan Naga Ratu Penjaga Gunung

Oleh : Riswo, S.E.,M.Si.

Kabut turun perlahan di lereng Gunung Rajabasa, seperti tirai gaib yang ditarik tangan tak kasatmata. Gunung itu tak sekadar menjulang, ia bernafas, mengingat, dan menyimpan sumpah darah.

Di antara rimba yang rimbun dan jurang-jurang sunyi, berdirilah seorang pemuda dengan sorot mata tajam, Raden Intan II. Anak tanah Lampung yang tumbuh bersama luka penjajahan.

Ia menatap laut dan dataran rendah yang berkilau redup, seakan melihat masa depan bangsanya terpenjara.

“Rajabasa bukan hanya tempat berlindung,” gumamnya lirih, suaranya tenggelam oleh angin gunung.

“Di sinilah darah akan berbicara.”

Angin mendesir berat. Tanah bergetar pelan, seolah jantung bumi berdetak. Dari kawah berasap, batu-batu kecil melompat gentar. Malam membuka rahasianya.

Dari kegelapan purba, Naga Ratu terbangun. Sisiknya hitam legam berkilau emas, matanya menyala seperti matahari tua yang murka. Tubuhnya melingkar di kawah Rajabasa, panjangnya melampaui bayangan pohon-pohon tertinggi.

“Aku mengenal bau darahmu,” gaung suaranya berlapis gema, menggetarkan tulang dan doa. “Wahai cucu tanah Lampung, selama kau berdiri untuk kebenaran, aumanku adalah aumanmu.”

Raden Intan II menunduk hormat. “Selama bumi ini diinjak penjajah,” ucapnya mantap, “aku takkan mundur, wahai penjaga Rajabasa.”

Malam-malam berikutnya menjadi saksi. Di bawah cahaya obor dan bintang, strategi disusun, sumpah diikat. Pasukan kecil bertopeng bergerak laksana bayangan, menyergap, menghilang, memukul, lalu lenyap.

Rimba menjadi sekutu, jurang menjadi pelindung, kabut menjadi selimut perang. Meriam Belanda menggelegar, namun Rajabasa menjawabnya. Dari kawah, Naga Ratu menjelma Harimau Hitam raksasa bermata merah. Aumannya mengguncang gunung. Pepohonan merunduk. Tanah meraung.

“Apa itu?!” teriak prajurit Belanda panik.

“Itu bukan harimau… itu iblis gunung!”

Pasukan penjajah porak-poranda, lari tanpa arah, meninggalkan senjata dan nyali. Namun penjajah selalu belajar, dan kejahatan paling licik tak datang dari moncong senapan, melainkan dari pengkhianatan. Seorang paman, dibutakan dendam dan takut mati, menjual kehormatan darahnya sendiri.

Malam itu Raden Intan II diundang pulang. Meja terhidang, senyum dipaksakan. “Keponakanku,” ucap sang paman lembut, “malam ini kita berdamai. Kita keluarga.”

Raden Intan II tersenyum kecil. “Lampung membutuhkan persatuan.” Mereka makan. Sunyi menyelinap di sela doa. Tubuh Raden Intan II mulai limbung.

“Paman… apa yang… kau lakukan?”

Sang paman menunduk, suaranya dingin, “Maafkan aku. Hidupku lebih penting daripada nyawamu.”

Derap kaki terdengar. Pintu dijebol. Senapan diarahkan. “Tangkap! Ia tak lagi bisa melawan!” teriak perwira Belanda.

Namun jiwa pejuang tak mengenal racun. Dengan sisa tenaga, Raden Intan II bangkit, menghunus kerisnya.

“Kau salah,” katanya lantang, “selagi aku bernapas, Lampung tidak padam!” Ia menyerang. Denting senjata, teriakan, dan api keberanian membakar malam terakhirnya.

Namun jumlah musuh terlalu banyak. Peluru menembus tubuhnya. Ia terjatuh, bersimbah darah di tanah kelahirannya. Dengan napas terakhir, ia berbisik, “Jika tubuhku gugur…biarkan semangatku hidup pada rakyat Lampung.”

Pada usia dua puluh dua tahun, seorang manusia kembali ke tanah. Seorang legenda lahir. Langit menggelap. Petir menyambar puncak Rajabasa. Dari kawah, Naga Ratu bangkit sekali lagi, matanya memerah oleh duka dan murka.

“Aku bersumpah,” gaung suaranya mengguncang alam, “selama darah tumpah tanpa keadilan, aku akan menjaga gerbang gaib Rajabasa.”

Sejak hari itu, Raden Intan II gugur sebagai manusia, namun hidup sebagai legenda. Namanya mengalir di sungai-sungai Lampung, berkibar di angin gunung, berdenyut di dada anak negeri.

Kadang, di malam sunyi, Naga Ratu menjelma Harimau Hitam bermata emas, muncul di batas dunia kasatmata dan gaib.

Aumannya dipercaya sebagai peringatan, bahwa Rajabasa masih hidup, bahwa darah pejuang belum dilupakan. Di antara kabut dan angin, suara itu masih terdengar, “Perjuangan tidak mati…ia hanya berubah wujud.”

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post