GUGURNYA RADEN INTAN II
Oleh : Riswo, S.E., M.Si.
Di ufuk timur Sumatera, ketika mentari baru saja mengusap punggung bukit, tanah Lampung bernafas dengan aroma lada yang menguar hingga ke langit. Negeri ini dahulu hanyalah bagian dari karesidenan Sumatera Selatan. Namun sejak lama, Lampung bukanlah tanah biasa. Ia adalah permata yang dikejar oleh banyak tangan, tangan perdagangan, tangan kekuasaan, tangan pengkhianatan.
Pada abad ke-17, Lampung berada di bawah naungan Kesultanan Banten di masa Sultan Agung Tirtayasa. Di saat rakyat Lampung memegang kesetiaan sebagai cahaya, badai pengkhianatan justru muncul dari dalam istana.
Angin menerpa tirai istana. Sultan Agung Tirtayasa berdiri menatap peta Lampung, anaknya, Sultan Haji, melangkah pelan namun mata mengilat penuh ambisi.
"Anakku… Lampung bukan sekadar tanah. Ia adalah amanah."
Sultan Haji dingin, "Amanah? Atau sumber kekuasaan? VOC menawarkan tahta, Ayah. Tawaran yang tak mungkin kutolak."
"Kau hendak menjual rakyatmu demi kekuasaan semu?"
"Jika tahta bisa kudapat, biarlah rempah Lampung menjadi harganya."
Sultan Haji menyerahkan monopoli lada Lampung kepada VOC. Namun rempah-rempah boleh dikuasai, tetapi hati rakyat Lampung tidak pernah tunduk. Mereka tetap mengirimkan doa dan kesetiaan pada Sultan Agung Tirtayasa.
Masuk awal abad ke-19, Belanda memperkuat cengkeraman di Lampung. Namun api perlawanan telah membara dalam diri seorang pemuda bangsawan, Raden Intan I.
Ketika Belanda menawarkan bantuan keuangan sebagai perangkap, ia menolaknya bulat-bulat.
Utusan Belanda, "Tuan Raden… terimalah bantuan kami. Persahabatan akan menguntungkan pihak tuan."
Raden Intan I (tegak, penuh wibawa), "Tanah ini bukan untuk dijual. Harga diri Lampung tak bisa dibeli."
Utusan Belanda (mengeras), "Penolakanmu akan menjadi musibah!"
Raden Intan I, "Biarlah. Lebih baik musnah daripada hidup dijajah."
Penolakannya menyulut kemarahan Belanda. Tahun 1825, ia menewaskan perwira Belanda bernama Dilifer. Sebagai balas dendam, Belanda menangkap dan mengasingkannya.
Namun kisah Lampung tidak berhenti. Perjuangan diteruskan oleh cucunya, pemuda yang kelak menjadi legenda, Raden Intan II.
Lahir 1 Januari 1834, dari pasangan Raden Imba II dan Ratu Mas, ia tumbuh dalam bayang-bayang penjajahan. Masa kecilnya bukanlah tentang bermain, melainkan mendengar cerita perlawanan, pengkhianatan, dan penindasan.
Ketika ayahnya ditangkap dan diasingkan ke Pulau Timor, beban Lampung berpindah ke bahunya. Ia tidak sendiri. Ada Haji Wahiya ahli strategi dari Banten. Ada Singa Berantah pemimpin Marga Rajabasa yang gagah.
Bersama, mereka memukul mundur pasukan Belanda berkali-kali. Api unggun menyala. Para pejuang berkumpul. Raden Intan II berdiri dalam sorot cahaya merah api.
Raden Intan II, "Selama lada tumbuh di tanah ini, selama ombak menyentuh Kalianda, kita tidak akan menyerah!"
Haji Wahiya, "Strategi kita jelas: sergap mereka dari hutan, lumpuhkan logistiknya."
Singa Berantah, "Kami, Marga Rajabasa, siap mati untuk Lampung!"
Para pejuang mengangkat senjata, gema tekad memenuhi malam. Belanda tahu, Raden Intan II terlalu sulit dikalahkan di medan perang. Maka mereka menggunakan cara paling keji, pengkhianatan darah sendiri.
Seorang paman tercela oleh dendam pribadi menjual kehormatan keluarga sendiri kepada Belanda. Ia mengundang Raden Intan II ke rumahnya. Dengan makanan yang telah dicampur racun.
Raden Intan II duduk. Wajah pamannya tenang, namun matanya menyimpan gelap. "Keponakanku… malam ini kita berdamai. Kita keluarga."
Raden Intan II (tersenyum kecil), "Lampung membutuhkan persatuan."
Mereka makan. Lalu Raden Intan II mulai limbung. "Paman… apa yang… kau lakukan?"
Paman (dingin, menunduk), "Maafkan aku. Hidupku… lebih penting daripada nyawamu." Dari luar, terdengar derap kaki pasukan Belanda. Pintu jebol. Senapan diarahkan. Tubuh melemah, namun jiwa tetap menyala. Raden Intan II bangkit dengan sisa tenaga.
Perwira Belanda, "Tangkap! Ia tak lagi bisa melawan!"
Raden Intan II (menghunus keris), "Kau salah… selagi aku bernapas, Lampung tidak padam!" Ia menyerang. Diikuti beberapa pengikutnya. Teriakan, denting senjata, dan kobaran semangat memenuhi rumah itu.
Namun jumlah musuh terlampau banyak. Peluru menembus tubuhnya. Ia terjatuh, bersimbah darah di tanah kelahirannya.
Raden Intan II (bisik terakhir), "Jika tubuhku gugur… biarkan semangatku hidup pada rakyat Lampung." Dan malam itu, pada usia 22 tahun, seorang pahlawan kembali ke tanah.
Tahun 1986, Pemerintah Republik Indonesia mengukuhkan Raden Intan II sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 082/TK/1986.
Kini, namanya mengalir dalam sungai-sungai Lampung, berkibar pada angin gunung Rajabasa, hidup di dada setiap anak negeri. Ia memang gugur, namun semangatnya tidak pernah mati. Ia adalah kesuma bangsa, api yang tak pernah padam di langit Lampung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
