Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
LEGENDA AIR TERJUN SEMBILAN PUTRI
Sebuah Legenda Air Terjun 9 Putri

LEGENDA AIR TERJUN SEMBILAN PUTRI

Oleh : Riswo, S.E., M.Si.

Di kaki Gunung Rajabasa yang menjulang anggun, di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Canti, tersimpan sebuah kisah tua yang diwariskan dari bisik ke bisik, dari api unggun ke pelataran adat. Kisah itu adalah Legenda Air Terjun Sembilan Putri, legenda tentang kesucian, pengorbanan, dan murka alam.

Pada masa silam, hiduplah seorang pertapa sakti bernama Ki Mahesa Cakti. Ia memilih menetap di kaki Gunung Rajabasa untuk menyucikan diri dan menjaga keseimbangan alam. Dari laku tapa dan doa-doanya, ia dianugerahi sembilan orang putri, yang tumbuh menjadi gadis-gadis berparas elok dan berhati bersih.

Kesembilan putri itu hidup sederhana dan menjunjung tinggi ajaran ayahandanya, menjaga kesucian diri, menghormati alam, dan tidak menyakiti sesama.

Setiap pagi, mereka turun ke sebuah ceruk batu di lereng gunung, tempat air jernih mengalir tenang dari perut bumi. Di sanalah mereka mandi dan berdoa.

“Alam adalah saudara kita,” tutur Putri Sulung sambil menyibak rambutnya yang basah.

“Jika kita menjaganya, alam akan menjaga kita,” sahut Putri Bungsu dengan senyum bening.

Namun, pada suatu hari yang kelam, datanglah seorang pemburu asing yang tersesat di hutan Rajabasa. Ketika matanya menangkap bayangan sembilan putri di balik tirai air, akal sehatnya dikalahkan oleh nafsu. Ia melangkah mendekat tanpa izin, melanggar batas kesucian.

Kesembilan putri terkejut. Ketakutan menyelimuti mereka. Dengan suara gemetar, mereka berseru, “Wahai Yang Maha Kuasa, lindungilah kami dari niat jahat manusia!”

Seketika, Gunung Rajabasa bergetar. Langit yang cerah berubah kelabu. Angin menderu membawa amarah alam. Dari tebing batu, air memancar deras, jatuh bertingkat-tingkat, terbelah menjadi sembilan aliran air yang mengaum bersamaan.

Dalam cahaya putih menyilaukan, kesembilan putri lenyap menyatu dengan alam, dipercaya diangkat menjadi penjaga mata air suci Gunung Rajabasa. Sang pemburu terhempas oleh derasnya air, tersungkur, lalu lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu dengan penyesalan mendalam.

Tak lama kemudian, Ki Mahesa Cakti tiba. Di hadapannya kini berdiri air terjun bertingkat sembilan, mengalir abadi dengan suara lirih seperti doa yang tak pernah putus.

Dengan air mata membasahi wajahnya, sang pertapa bersujud. “Jika ini kehendak-Mu, jadikanlah anak-anakku penjaga alam, agar manusia belajar tentang batas dan kesucian.”

Sejak itulah, tempat tersebut dikenal sebagai Air Terjun Sembilan Putri. Masyarakat Desa Canti meyakini, air terjun ini bukan sekadar keindahan alam, melainkan peringatan abadi, bahwa alam harus dihormati, dan kesucian tak boleh dinodai.

Hingga hari ini, gemericik Air Terjun Sembilan Putri dipercaya sebagai doa yang terus mengalir, doa tentang keharmonisan manusia dan alam di kaki Gunung Rajabasa.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post