LEGENDA AIR TERJUN WAY KALAM
Oleh: Riswo, S.E., M.Si.
Di tanah Lampung Selatan yang hijau dan makmur, berdirilah Gunung Rajabasa, gunung yang menjulang laksana singgasana para leluhur. Setiap desir angin yang turun dari puncaknya membawa kisah, menyelip di sela-sela dedaunan, dan bersemayam dalam bibir para tetua kampung.
Dari sekian banyak kisah, satu legenda tetap hidup, seperti air yang terus mengalir: Legenda Air Terjun Way Kalam, air yang berbicara, air yang menangis, air yang mengaduh rindu.
Pada zaman dahulu, di lereng Gunung Rajabasa, hiduplah sepasang suami-istri muda, Raka, lelaki saleh yang tekun menuntut ilmu, dan Putri, wanita lembut berparas jelita, berhati bening seperti embun pagi.
Suatu pagi, ketika kabut masih menari di antara pepohonan, Raka menggenggam tangan istrinya. “Istriku, izinkan aku pergi ke Tanah Suci. Aku ingin kembali membawa cahaya ilmu, agar kelak bisa menuntunmu menuju surga.”
Putri menatapnya. Mata bening itu bergetar menahan duka. Air mata mengalir, tetapi senyumnya tetap lembut. “Pergilah, suamiku. Bila rindu adalah ujian, aku akan melaluinya. Meski seribu musim berganti, aku tetap menunggu. Cinta yang tulus takkan kalah oleh jarak dan waktu.”
Angin pagi membawa kepergian Raka, meninggalkan rumah kecil mereka yang dikelilingi sungai jernih dan pepohonan rimbun.
Hari-hari berlalu. Beberapa minggu setelah Raka pergi, tubuh Putri melemah. Ia sering mual, sering terhuyung. Suatu malam, ia memegang perutnya sambil berbisik pelan. “Ya Allah… aku mengandung.”
Air matanya jatuh, bukan karena sedih, melainkan karena bahagia. Dan sembilan bulan kemudian, lahirlah seorang bayi perempuan yang mempesona, kulit bening, mata sebening embun. Putri menamainya Cantik.
Bertahun-tahun Putri membesarkan anak itu sendiri. Setiap malam ia menatap langit dan berkata, “Cantik… ayahmu sedang menuntut ilmu di tanah jauh. Suatu hari ia akan pulang membawa kebahagiaan bagi kita.”
Cantik tumbuh menjadi gadis kecil yang ramah dan rupawan, mewarisi ketulusan hati ibunya. Sepuluh tahun berlalu. Suatu sore, kabar mengejutkan datang, Raka kembali! Putri langsung menggandeng Cantik, berlari menuruni jalan setapak menuju rumah.
Namun begitu Raka melihat mereka… wajahnya berubah kaku. “Siapa anak itu, Putri?”
Putri menggenggam tangan Cantik. Senyumnya rapuh, tetapi ia tetap berusaha tegar. “Dia Cantik… anak kita, Raka. Buah cinta kita sebelum kau pergi.”
Namun mata Raka menggelap, penuh amarah. Raka menghardik, “Jangan dusta! Sepuluh tahun aku pergi. Mustahil anak ini lahir dariku! Kau telah mengkhianatiku!”
Putri tersungkur. Air mata membasahi tanah. Putri menangis, memohon,
“Demi Allah, aku tak pernah berpaling. Cantik lahir dari rahimku… dari darahmu, Raka.”
Namun, telinga Raka telah tertutup oleh prasangka. “Cukup! Pergi! Aku tak ingin melihat wajahmu lagi!”
Cantik berlari memeluk ibunya. Cantik menangis,“Ibu… Ayah marah kenapa? Apa aku salah?”
Putri memeluk anak itu erat-erat, menahan gejolak hatinya yang hancur. “Bukan salahmu, nak… waktu belum menghapus prasangka.”
Hujan turun lebat seperti langit ikut menangis. Putri dan Cantik berjalan terseret angin, tanpa arah, menuju lereng Gunung Rajabasa. Di bawah kilatan petir, Putri menengadah, berdoa dengan suara menggigil namun penuh keteguhan. “Ya Allah… bila kesetiaanku benar, tunjukkanlah kebenaran. Jadikan kami tanda bagi manusia yang mudah menuduh tanpa bukti.”
Tiba-tiba, BRARAK!!
Petir mengoyak langit. Tanah licin. Putri dan Cantik terpeleset, jatuh menuju jurang. Namun sebelum tubuh mereka menyentuh dasar tebing, cahaya putih membungkus mereka seperti pelukan malaikat.
Dalam sekejap, tubuh ibu dan anak itu berubah menjadi dua aliran air yang jernih. Satu deras dan agung, Sang Induk, satu lembut dan bening, Sang Anakan. Gemercik air itu terdengar seperti bisikan dua sosok yang berbicara… dan menangis bersama
Berhari-hari Raka mencari Putri dan Cantik, hingga ia tiba di kaki gunung. Di sana ia mendengar suara lirih dari sela-sela gemercik air. Suara Putri dari dalam air, “Raka… mengapa kau tak percaya? Cantik adalah darah dagingmu.”
Suara Cantik halus seperti embun, “Ayah… kami tak pernah meninggalkanmu…”
Raka tersungkur. Seluruh penyesalan menghantam dadanya. Raka menjerit, mengguncang bebatuan, “Ampuni aku! Aku dibutakan prasangka! Putri! Cantik! Kembalilah!”
Namun air hanya mengalir…mengalir…mengalir…seolah membalas tangisnya dengan kesunyian yang menyakitkan. Penduduk menamai tempat itu Way Kalam. Way berarti air, Kalam berarti bicara. Air yang berbicara. Air yang mengingatkan manusia.
Hingga kini, ketika malam sunyi dan bulan purnama menggantung di langit Rajabasa, orang-orang masih sering mendengar gemercik air seperti suara wanita dan anak kecil. Konon itu adalah Putri dan Cantik yang terus berpesan, “Jangan biarkan prasangka mengalahkan cinta.”
Jangan menuduh tanpa bukti. Kesetiaan tak membutuhkan saksi, cukup kejujuran dan doa yang tulus. Sebab satu tuduhan yang salah dapat menghancurkan kehidupan, dan penyesalan akan mengalir selamanya…. Seperti air yang tak pernah berhenti jatuh dari Air Terjun Way Kalam.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
