Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
LEGENDA JEJAK JATI DI TANAH SWARNADWIPA
Sebuah Legenda Asal-Usul nama Jati Indah dan Jati Agung

LEGENDA JEJAK JATI DI TANAH SWARNADWIPA

Hikayat Air, Kebaikan, dan Kutukan Sunan Gunung Jati

Oleh : Riswo, S.E., M.Si.

Pagi merekah perlahan di ufuk timur. Langit membentang laksana kain sutra biru pucat. Sementara matahari bangkit dari peraduannya, menyiram Selat Sunda dengan cahaya keemasan. Pagi itu, Sultan Syarief Hidayatullah yang kelak dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, meninggalkan Kesultanan Banten. Ia tidak membawa iring-iringan, tidak pula panji kebesaran. Hanya sebuah sampan kecil, dayung kayu, dan keteguhan hati seorang wali.

Deburan ombak saling berkejaran, menghantam, lalu pecah menjadi buih putih di tepian pantai. Buih-buih itu menjadi mainan bocah-bocah plontos yang berlarian tanpa beban dunia.

“Hahaha… kena kau, Sep!” Tatang melempar segenggam buih ke wajah Asep.

“Aduh! Tatang nakal!” Asep mengusap wajahnya sambil mendengus kesal.

“Hahaha… ayo kejar aku kalau berani!” Tatang berlari menuju ombak, tawanya bersatu dengan riuh samudra.

“Awas kamu, Tatang!” Asep mengejar, menangkap sahabatnya, dan keduanya terguling di pasir basah, disambut gelombang yang seolah ikut tertawa.

Sunan Gunung Jati menghentikan kayuhannya sejenak. Matanya teduh menyaksikan kepolosan itu. “Beginilah kebahagiaan sejati,” gumamnya lirih.

“Tertawa tanpa dendam, bermain tanpa dusta.”

Ia tersenyum, lalu kembali mendayung. Perlahan pantai Banten menjauh, bersama tawa bocah-bocah yang menjadi doa diam bagi perjalanannya.

Matahari tepat di atas kepala ketika sampan itu merapat di sebuah perkampungan sunyi. Tanahnya kering, rumah-rumahnya jarang, dan angin berembus pelan seolah enggan singgah. Sunan Gunung Jati mengubah penampilannya. Berpakaian ala rakyat jelata. Ia melangkah menuju sebuah pondok kecil. Di depan rumah itu, sepasang suami istri muda tengah mengayak padi.

“Maaf, kisanak,” ucapnya lembut.

“Bolehkah saya minta air minum untuk mengisi kendi ini?”

Sang suami hendak melangkah masuk, namun tangannya ditahan sang istri. “Kami tidak punya air,” kata perempuan itu cepat, matanya berkedip memberi isyarat.

“Kalau begitu,” kata Sunan Gunung Jati tenang, “Bolehkah saya minta seteguk saja, sekadar melepas dahaga?”

“Tidak ada!” bentaknya ketus.

“Cari saja ke tempat lain!” Nada suaranya keras, lebih kering dari tanah di bawah kakinya.

Sunan Gunung Jati menghela napas panjang. “Bukan air yang kalian tak miliki,” ucapnya perlahan, “melainkan kebaikan.” Tangannya merogoh kantung baju. Butiran kecil berjatuhan ke tanah.

Sekejap kemudian, tanah bergetar, daun berdesir, dan puluhan pohon jati tumbuh menjulang, rimbun, indah, dan megah.

“Ampun, tuan!” Sepasang suami istri itu tersungkur ketakutan.

“Siapakah tuan sebenarnya?”

“Panggil aku… Jati,” jawabnya.

“Mulai hari ini,” lanjutnya lirih namun menggema, “kampung ini akan sulit air.

Pohon-pohon ini akan menjadi saksi, bahwa aku pernah meminta air, dan ditolak oleh hati yang kering.”

Ia pergi tanpa menoleh. Tak lama kemudian… “Bu… air kita kering semua!” Perempuan itu berlari ke sumur. Kosong. Tempayan? Kering. Air pun sirna seketika.

Tangis penyesalan pecah, namun semuanya telah terlambat. Sejak hari itu, kampung itu dikenal sebagai Kampung Jati Indah, sebuah nama yang indah, namun menyimpan luka akibat kekikiran.

Perjalanan berlanjut. Di sebuah kampung lain, Sunan Gunung Jati mengetuk pintu rumah bambu sederhana. Sepasang suami istri paruh baya menyambutnya dengan senyum hangat.

“Silakan masuk, tuan,” kata sang suami ramah.

“Apa yang bisa kami bantu?”

“Bolehkah saya minta air minum?” tanya Sunan Gunung Jati.

“Dengan senang hati,” jawab mereka serempak.

Singkong rebus disuguhkan, air putih dihidangkan, tanpa banyak tanya. Setelah kendinya terisi, Sunan Gunung Jati menatap mereka penuh kasih.

“Terima kasih, kisanak,” ucapnya.

“Semoga Allah segera mengabulkan doa-doa kalian.”

Butiran biji jati ditaburkan. Sekejap tumbuh berjejer di sisi rumah. “Ampun, Wong Agung,” kata mereka berlutut.

“Siapakah tuan sebenarnya?”

“Bangunlah,” ucapnya lembut.

“Panggil aku… Jati.”

Beberapa bulan berlalu. Doa yang lama dipanjatkan akhirnya bersemi. Sang istri mengandung. Tangis bahagia menggema di rumah bambu itu. Anak lelaki lahir, tampan dan berhati luhur. Ia diberi nama Jati Agung.

Kelak, kampung itu dikenal sebagai Kampung Jati Agung, sebuah nama yang lahir dari kebaikan dan keikhlasan.

Legenda ini hidup dalam tanah Lampung Selatan. Ia bukan sekadar kisah, melainkan cermin bagi manusia, bahwa air adalah rezeki, dan kebaikan adalah sumbernya. Karena siapa menutup hati, akan mengeringkan hidupnya sendiri. Dan siapa membuka tangan, akan diwarisi berkah hingga anak cucu.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post