Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
LEGENDA KALIANDA DAN PEMANDIAN WAY BELERANG
Sebuah Legenda tentang Asal-Usul nama Kalianda dan Pemandian Way Belerang Kalianda

LEGENDA KALIANDA DAN PEMANDIAN WAY BELERANG

Oleh: Riswo, S.E., M.Si

Di kaki Gunung Rajabasa, ketika fajar masih ragu menembus kabut dan laut berkilau bagai cermin para dewa, hiduplah seorang ratu yang namanya menggema dari dasar lembah hingga puncak awan, Ratu Balarang.

Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah cahaya yang dipinjam dari rembulan, kecantikan yang dilahirkan dari kesunyian hutan, dan kebijaksanaan yang menetes dari rahim bumi.

Kulitnya sebening pualam yang disiram embun pagi, alisnya seperti busur dewa yang menggantung di langit purba, dan tatapan matanya, tatapan itu mampu menembus hati siapa pun yang berani memandang terlalu lama. Lesung pipinya bagaikan guci anggur yang membuat dunia terhuyung.

Keratuan yang ia pimpin menjelma taman surga, sungai mengalir jernih, sawah menguning, ladang berbunga. Semua karena doa dan kerja Ratu Balarang.

Namun satu hal yang membuat seluruh negeri menunduk kagum, ia tak ingin menikah sebelum rakyatnya hidup makmur. Ketika negeri itu telah kaya dan tenteram, Ratu Balarang membuka pintu hatinya. Ia mengumumkan sayembara, “Siapa pun yang dapat mengetuk hatiku dengan ketulusan, bukan harta, bukan kemewahan, dialah yang akan menjadi pendamping hidupku.”

Kabar itu meluncur seperti anak panah ke segala penjuru. Datanglah seorang pangeran dari negeri seberang, membawa peti emas, permata yang berkilau seperti bintang yang dirampas dari langit. Namun tutur katanya kasar, tawanya congkak, dan matanya penuh kesombongan.

Ratu Balarang tersenyum lembut, namun tatapannya setajam pedang, “Kembalikan emasmu. Aku tak membutuhkan kekayaan dari hati yang gelap.” Pangeran itu pergi sambil menjerit marah, membawa dendam yang menetes seperti racun.

Menyusul kemudian seorang saudagar kaya. Kata-katanya manis, tetapi sorot matanya menyimpan ribuan jerat. “Ambillah seluruh hartaku, Ratu. Aku datang untuk memilikimu.”

Ratu Balarang menggeleng pelan. “Harta tanpa kesucian niat hanyalah jebakan. Pulanglah.” Wajah saudagar itu mengeras. Ia pun pergi dengan bara dendam yang berasap.

Ketika matahari hampir tenggelam di balik bayang Gunung Rajabasa, datanglah seorang pemuda lusuh: pakaiannya compang-camping, kakinya berdebu, namun matanya jernih. Di tangannya hanya ada sebuah boneka kayu sederhana.

Pengawal menertawakan keberaniannya. Namun Ratu Balarang merasakan sesuatu kehangatan yang tidak ia temukan pada para bangsawan.

Pemuda itu berlutut. “Hamba tak membawa emas, Paduka. Hanya boneka ini. Rambutnya berasal dari rambutku sendiri, bajunya dari kain satu-satunya yang kupunya. Semuanya kupersembahkan sebagai bukti cinta.”

Pendopo hening. Hening yang meresap hingga ke tulang. Ratu Balarang menatap boneka kecil itu, dan tiba-tiba hatinya bergetar. Di dalam kesederhanaan itu, ia melihat ketulusan yang tak dimiliki para lelaki berharta.

“Wahai pemuda,” bisiknya, “Aku menerima pinanganmu.” Dan kabar itu menggelegar ke seluruh negeri.

Pangeran congkak dan saudagar licik tak terima. Mereka bersatu, mendatangi seorang dukun hitam yang tinggal di balik kabut belerang. Dukun itu tertawa serak. Ia menaburkan mantra ke Sungai Rajabasa. Bumi bergetar.

Keesokan hari, air sungai menjadi keruh dan berbau racun. Rakyat mulai gatal, kulit mereka melepuh, tubuh membusuk pelan. Teriakan kesakitan menggema dari dusun ke dusun. Namun anehnya, Ratu Balarang tidak tersentuh penyakit itu.

Ia memohon kepada langit, “Tuhan… biarkan aku menanggung semuanya. Jangan rakyatku…” Namun penyakit itu tak kunjung pergi.

Suatu malam penuh tangis, Ratu Balarang bermimpi. Seorang kakek tua berjubah putih datang dan berbisik, “Cucuku… penyakit ini bukan penyakit biasa. Itu kutukan dari hati yang dipenuhi dengki. Jika ingin menyembuhkan rakyatmu, pergilah ke kaki Gunung Rajabasa. Berpuasalah. Biarkan air matamu menjadi penawar.”

Saat fajar pertama menari di langit, Ratu Balarang mengenakan jubah putih dan pergi seorang diri, tanpa prajurit, tanpa pengawalan. Hanya doa yang menuntunnya.

Ratu Balarang tiba di Tebing Simpur Kecapi. Di sana ia melakukan patigeni, tujuh hari tujuh malam. Tanpa makan, tanpa minum, tanpa tidur.

Petir menggelegar. Kabut mengalir seperti roh-roh gunung. Seekor kera putih turun dari puncak, duduk menjaga sang ratu dalam kesunyian. Pada malam ketujuh, kakek berjubah putih muncul kembali.

“Waktumu tiba, Balarang. Air matamu akan menjadi kehidupan bagi rakyatmu. Tapi kau harus melebur dengan bumi Rajabasa.” Ratu Balarang menunduk. Air matanya jatuh. Tetes pertama menembus tanah, memancar menjadi air panas berbau belerang di Simpur Kecapi.

Tetes kedua muncul di Buah Berak, panas namun menyembuhkan. Tetes ketiga mengalir ke Kalianda Bawah, memancarkan uap panas yang membersihkan penyakit. Rakyat yang mandi di sumber air itu seketika sembuh.

Namun ketika mereka hendak berterima kasih…Ratu Balarang telah lenyap. Ia telah menyatu dengan bumi Rajabasa, meninggalkan hanya selembar jubah putih yang berkilau di antara bebatuan.

Sungai yang semula keruh berubah bening, bercahaya seperti perak cair. Rakyat berteriak gembira, “Way Handak! Way Handak!” (Air yang putih bercahaya!)

Dari sinilah nama Way Handak dan akhirnya Kalianda muncul sebagai sebutan tanah keratuan itu.

Air panas berbau belerang dari tiga titik sumber itu kini dikenal sebagai bagian dari Pemandian Way Belerang, tempat penyembuhan yang lahir dari pengorbanan seorang ratu suci.

Dan sampai hari ini, ketika kabut turun di kaki Gunung Rajabasa, orang percaya bahwa suara lembut Ratu Balarang masih berbisik di antara uap belerang, “Jangan tangisi kepergianku…Sebab dari air mataku, kehidupan kalian bermula.”

Legenda ini mengajarkan, Kepemimpinan sejati bukan soal tahta, tetapi pengorbanan. Cinta sejati bukan tentang harta, tetapi ketulusan yang sanggup menjelma air kehidupan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post