Legenda Pantai Aruna Kalianda
Oleh : Riswo, S.E., M.Si.
Pada zaman ketika gunung dan laut masih saling berbisik, berdirilah sebuah kerajaan tua di pesisir selatan Lampung, menghadap samudra luas yang berkilau seperti cermin para dewa. Kerajaan itu makmur, tanahnya subur, dan rakyatnya hidup dalam damai.
Namun di balik kemegahan istana, tersimpan kegelisahan yang tak terucap. Raja dan permaisuri telah lama memerintah, tetapi tak satu pun tangisan bayi pernah menggema di balairung istana.
Setiap malam, sang raja berdiri di serambi, menatap laut yang gelap. “Wahai semesta… kepada siapa kelak kuwariskan tahta ini?”
Sang permaisuri, dengan mata basah oleh doa yang tak terhitung jumlahnya, berlutut di hadapan altar Dewata. “Jika takdir masih berkenan, berilah hamba seorang anak… meski hanya satu.”
Pada malam purnama yang sunyi, langit tiba-tiba bergetar. Angin berhenti berhembus, ombak membeku sejenak. Dari ufuk timur, sebuah cahaya kemerahan menyala, turun perlahan seperti api yang membakar.
Istana bergetar. Rakyat berlarian ketakutan. Dari cahaya itu, muncullah Dewa Surya, bercahaya bagai matahari pagi, mengendarai kereta kencana beroda api, ditarik oleh kuda-kuda langit.
Suara dewa menggema, berat namun penuh welas asih. “Wahai Raja dan Permaisuri, doa kalian telah sampai ke singgasana Dewata.
Raja dan permaisuri tersungkur. “Ampuni hamba, Dewa Agung… kami hanya memohon penerus bagi kerajaan ini.”
Dewa Surya mengangguk. “Kalian akan dikaruniai seorang putri. Namanya Aruna, cahaya fajar yang lahir dari harapan.”
Namun suara dewa kemudian berubah lirih, mengandung takdir yang berat. “Ingatlah… Aruna bukan anak manusia sepenuhnya. Saat ia bertemu jodohnya, tubuhnya akan menghilang. Ruhnya akan bersemayam di pantai ini, menjaga keselamatan rakyat dan negeri ini selamanya.”
Tangis permaisuri pecah. “Jika itu harga dari doa kami… kami menerimanya, Dewa.” Cahaya itu pun lenyap, meninggalkan keheningan yang suci.
Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang putri yang bercahaya kulitnya seperti senja. Saat ia menangis, langit memerah sejenak, seolah fajar turun menyapanya. Putri itu dinamai Aruna.
Ia tumbuh menjadi gadis yang lembut, bijaksana, dan dicintai rakyat. Ke mana pun Aruna melangkah, angin laut mengikuti, dan ombak seolah menunduk hormat.
Namun setiap senja, Aruna sering duduk sendiri di pantai, menatap matahari tenggelam. “Mengapa hatiku selalu bergetar saat cahaya itu padam?”
Suatu hari, datanglah seorang pemuda asing, berani, jujur, dan berhati tulus. Saat pandangan mereka bertemu di tepi pantai, cahaya kemerahan kembali menyala. Aruna terhuyung.
“Ayahanda… inikah saatnya?”
Raja menggenggam tangan putrinya dengan gemetar. “Anakku… engkau adalah anugerah dan pengorbanan kami.”
Langit bergemuruh. Angin mengamuk. Ombak menghantam karang dengan murka. Tubuh Aruna perlahan memudar, berubah menjadi cahaya merah keemasan. “Jangan bersedih… selama ombak berdebur, aku akan menjaga kalian.”
Dalam satu tarikan napas, Aruna lenyap, menyatu dengan laut dan pantai. Sejak hari itu, pantai tersebut dinamai Pantai Aruna. Konon, saat senja memerah dan angin berhembus lembut, itu adalah Aruna yang berkeliling menjaga nelayan, pelaut, dan rakyat Kalianda.
Jika ombak tiba-tiba tenang di tengah badai, orang-orang berbisik, “Putri Aruna sedang berjaga.”
Dan hingga kini, Pantai Aruna Kalianda tetap berdiri, bukan hanya sebagai hamparan pasir dan laut, melainkan tempat bersemayamnya cinta, pengorbanan, dan cahaya abadi dari seorang putri Dewata.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
