LEGENDA PANTAI BATU RAME
Oleh: Riswo, S.E., M.Si.
Di tanah Lampung Selatan, di negeri yang dipeluk biru samudra dan diselimuti angin garam, hidup sebuah cerita lama yang tak pernah usai dibisikkan ombak. Cerita itu lahir dari duka, tumbuh dari cinta, dan abadi sebagai peringatan bagi siapa pun yang berjalan di pesisir Kalianda. Cerita itu bernama Legenda Pantai Batu Rame.
Pada masa ketika kata-kata lebih tajam dari bilah parang, masyarakat Lampung Selatan hidup di bawah naungan adat yang dijunjung setinggi langit. Setiap warga wajib menjaga kehormatan dirinya dan kampungnya. Pelanggaran adat bukan hanya aib, namun kutukan yang bisa merembet hingga tujuh turunan.
Namun sebuah dusta, sekecil pasir yang terselip di sela kaki, mampu mengundang badai besar. Dan badai itu bermula dari seorang pemuda yang patah hati.
Di sebuah malam ketika rembulan menggelayut lembut di balik daun cengkeh, seorang pemuda bernama Putra melangkah menyusuri jalan setapak. Sarung yang disampirkannya membuat tubuhnya tampak seperti bayang-bayang pocong bermotif papan catur. Di tangannya, keberanian bergetar, mengiringi pantun yang ia ketuk melalui dinding rumah panggung.
Namun Putri, gadis yang membuatnya mabuk rindu menolak cintanya dengan halus. Penolakan itu memecah hatinya menjadi serpihan yang tak bisa ia pungut kembali.
Dalam perjalanan pulang, ia melantunkan syair pilu berbahasa Lampung, membiarkan luka mengalir bersama desir angin malam
“Bingi inji, hati ku pekhih,
bagai diikhis sembilu…
Cinta pertama jama Putri,
patoh di tengah sungi…”
Tangisnya pecah. Tetapi dari kepedihan itu tumbuh benih gelap, dendam. Sejak hari itu, Putra membiarkan dirinya tenggelam dalam cemburu. Suatu malam, ia melihat seorang pemuda tampan, Betik Hati datang bertamu ke rumah Putri. Cinta Putri kepada Betik Hati menjadi bagaikan tombak yang menembus dadanya tanpa ampun.
Akalnya keruh. Nurani terkubur. Ia datang kepada warga dan menebar dusta. Betik Hati dituduh melanggar adat, mencemari kehormatan Putri.
Warga yang buta oleh amarah berbondong-bondong menuju rumah Putri. Obor-obor menyala seperti lidah naga. Dalam sekejap rumah panggung beratapkan daun itu menjadi lautan api. Putri meraung, namun tak mampu menyelamatkan ibunya yang terperangkap dalam tidur panjangnya.
Betik Hati menarik Putri, menembus pekat malam, berlari menuju hutan demi menyelamatkan cinta yang ingin dirampas paksa. Puluhan warga mengejar.
Hutan yang biasanya teduh, malam itu berubah menjadi medan perburuan. Sebatang ranting pun tak dibiarkan utuh, tanah menjadi gundul oleh amarah manusia.
Hingga akhirnya Betik Hati dan Putri terkepung di ujung pantai. Di hadapan mereka terbentang laut hitam berkilau, dan di belakangnya puluhan mata menyala marah.
Putri menggenggam tangan kekasihnya, matanya sebening cahaya bintang. “Jangan takut, bang. Ke mana abang melangkah, adik ikut. Bila mati yang memisahkan, biarlah kita mati bersama.”
Betik Hati menatapnya. Dalam pandangan itu, ia menemukan keberanian yang tak pernah ia miliki. Mereka saling tersenyum, memeluk nasib yang mereka pilih sendiri. Dalam satu langkah yang mematahkan waktu, keduanya melompat ke laut. Ombak menyergap, menelan, dan membawa mereka ke kedalaman yang tak tersentuh manusia.
Tak lama setelah keduanya hilang, laut tiba-tiba surut dengan dahsyat. Air menghilang begitu cepat hingga warga tertegun. Itu bukan pertanda baik, melainkan teguran dari alam. Dengan desakan, warga menginterogasi Putra. Dan di situlah semuanya terbongkar. Putra mengaku. Fitnah itu lahir dari hati yang patah.
Warga menjerit menyesal. Mereka turun ke dasar laut yang mengering, berlari, berteriak memanggil nama Betik Hati dan Putri. Namun yang mereka dapatkan hanya keheningan.
Lalu tiba-tiba, gelombang raksasa bangkit, menerjang mereka, menyeret banyak tubuh ke tengah laut, mengembalikan kesalahan manusia kepada hukum alam.
Sejak malam itu, pada malam-malam tertentu, suara ramai terdengar dari arah pantai. Suara panggilan, suara tangis, suara rindu yang tak terbalas. Tapi saat warga mencoba mencari sumbernya, yang tampak hanyalah deretan batu besar yang saling bertumpuk di sepanjang bibir pantai.
Dari suara-suara “rame” yang terdengar di antara batu-batu itulah masyarakat menamai tempat itu, Pantai Batu Rame. Kini batu-batu itu menjadi saksi bisu cinta yang disalahmengerti dan fitnah yang merenggut segalanya.
Legenda ini meninggalkan pesan yang tak boleh dilupakan. Bahwa satu kata dusta mampu menghanguskan rumah, menghancurkan cinta, dan menenggelamkan banyak nyawa. Dan bahwa kebenaran harus selalu dipastikan, sebelum penyesalan datang terlambat.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
