Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
LEGENDA PANTAI MARINA
Sebuah Lrgenda tentang asal-usul nama Pantai Marina Kalianda Lampung Selatan.

LEGENDA PANTAI MARINA

Oleh : Riswo, S.E., M.Si.

Di pesisir Kalianda Lampung Selatan, tempat langit dan laut seolah dijahit garis tipis berwarna perak. Terdapat sebuah pantai yang tak pernah tidur, Pantai Marina.

Ketika ombak menghantam karang, sering terdengar suara lirih, seolah seseorang memanggil dari dasar samudra, “Marina… Marina…”

Tak seorang pun tahu dari mana suara itu berasal. Penduduk percaya itu adalah sisa harapan seorang penari yang hidup berabad-abad lalu, Marina Larasati.

Inilah kisahnya. Kisah tentang cinta yang tak selesai, takdir yang tak bisa ditawar, dan laut yang selalu menagih kembali apa yang pernah menjadi miliknya.

Marina lahir pada malam gerhana bulan. Orang-orang kampung berkumpul di depan rumah Ki Jagastana dan Nyi Rengganis. Nyi Welas berbisik, “Anak gerhana itu… biasanya membawa garis hidup yang tak lumrah.”

Namun ketika bayi itu menangis untuk pertama kalinya, ombak tiba-tiba berhenti sekejap, seolah laut mendengarkan.

Marina tumbuh menjadi anak yang berbeda. Pada usia lima tahun, ketika anak-anak lain bermain kejar-kejaran di pantai, Marina menancapkan kedua kakinya ke pasir basah, mengangkat tangannya, dan menari mengikuti irama ombak.

Langkahnya melingkar lembut, rambutnya terayun seperti suara angin. Orang-orang yang kebetulan melihat hanya bisa tertegun. Nyi Asih menatap takjub. “Geraknya halus sekali… seperti penari keraton.”

Nyi Rengganis tersenyum gugup, “Dia… belajar dari laut.”

Marina sering duduk di karang sendirian, menatap lautan yang seolah hidup. Terkadang ia bertanya lirih, “Siapa… yang mengamatiku dari bawah sana?”

Namun yang menjawab hanya debur ombak yang berkejaran. Tanpa ia sadari, dari kedalaman laut, Dewi Samudra Maya, penjaga Pantai Kalianda memperhatikannya. Marina bukan gadis biasa. Ia memiliki jiwa penari laut, calon penyeimbang antara manusia dan samudra.

Tahun berganti, Marina tumbuh menjadi gadis jelita. Tarian pantainya terkenal hingga ke daerah utara. Orang-orang datang jauh-jauh hanya untuk melihatnya menari di senja hari.

Suatu sore, rombongan bangsawan melintasi pantai. Pemimpinnya adalah pemuda tampan berusia dua puluh empat tahun, Raden Wiradipa. Putra pejabat tinggi dari kerajaan utara.

Saat melihat Marina menari, langkah kudanya terhenti. “Siapakah gadis itu?” tanya Wiradipa tanpa mengalihkan pandangan.

“Marina Larasati, Raden. Penari pantai paling masyhur,” jawab pengawalnya.

Wiradipa turun. Sorot matanya tak bergerak dari Marina. Ketika tarian berakhir, dialah yang bertepuk tangan paling keras. Marina tersipu. Angin berhembus hangat sore itu. Tetapi hati Marina bergetar seperti disambar petir lembut.

Hari demi hari, Wiradipa selalu datang. Membawa bunga, buah, atau hanya duduk diam menyaksikan Marina menari.

Suatu petang ia berkata lembut, “Marina… jika gerakmu adalah ombak, maka aku adalah angin yang menggerakkannya.”

Marina tertunduk malu, “Aku hanya menari mengikuti suara laut, Raden.”

Wiradipa menatapnya hangat. “Aku ingin mengikuti takdirmu, Marina. Dan bila takdirmu adalah aku, apakah kau bersedia… menjadi istriku?”

Nyi Rengganis menangis bahagia. Penduduk bersorak. Namun kebahagiaan yang terlalu indah sering mengundang badai.

Tak jauh dari pantai, tinggal seorang wanita berparas cantik bernama Nyai Sraya Wulan. Ia sejak lama mencintai Wiradipa, namun pemuda itu tak pernah menoleh padanya. Ketika mendengar kabar bahwa Wiradipa memilih Marina, hatinya remuk.

“Marina… gadis nelayan itu? Tidak mungkin! Tidak mungkin dia lebih dipilih daripada aku!” suaranya bergetar oleh iri dan dendam.

Pada malam Jumat Kliwon, ia membawa sesaji ke Goa Penantian, goa terdalam yang dipercaya terhubung langsung ke Laut Selatan. Ia mengetuk batu karang dengan tangan gemetar. Tiba-tiba air goa bergolak. Kabut naik perlahan. Dari dalam muncul sosok perempuan cantik dengan mata berpendar biru laut, Dewi Samudra Maya.

“Manusia… apa yang membuatmu berani memanggilku?” suara Dewi menggema seperti dari kedalaman bumi.

Nyai Sraya menunduk, namun suaranya tetap keras, “Aku ingin Marina Larasati dijauhkan dari Wiradipa!”

“Untuk apa?” tanya Dewi, matanya menyipit.

“Karena akulah perempuan yang pantas menjadi pendamping Wiradipa! Bukan dia!”

Air di sekitar mereka menjadi gelap. Dewi Samudra Maya mendekat, suaranya dingin. “Kau ingin mengubah takdir. Laut tidak pernah menolak permintaan… namun semua ada balasannya.”

Nyai Sraya tidak memedulikan peringatan itu. Laut pun mulai bekerja menjalankan permintahannya. Sejak malam itu, Marina mengalami keanehan. Bunga melati di kamarnya selalu layu setiap malam.

Suaranya serak tanpa sebab. Dan setiap senja, ia melihat bayangan putih berdiri jauh di tengah ombak. Kadang suara perempuan berbisik, “Pergi… jangan menikah… laut menantimu… Marina…”

Marina menggigil ketakutan. Namun ia tidak ingin membuat keluarganya gelisah. Suatu sore Wiradipa memegang tangannya. “Marina, wajahmu pucat. Apa yang mengganggumu?”

Marina menjawab lirih, “Aku… takut ombak malam-malam ini, Raden.”

Wiradipa menggenggam tangannya lebih erat. “Selama aku hidup, tak ada yang akan menyakitimu.” Ia tidak tahu bahwa malapetaka sudah mengintai.

Pagi itu cerah. Penduduk menghias pelaminan. Burung-burung beterbangan riang.

Marina mengenakan kebaya putih, Wiradipa gagah dengan pakaian biru laut. Namun tepat sebelum ijab kabul, angin berhenti.

Langit mendadak menghitam seperti dilumuri tinta. Burung-burung berlarian kacau. Dari arah pantai terdengar suara gamelan, ting… ting… dung… dang… deng…Semua orang terdiam. Tak ada yang bernafas. Lalu…DUUARRR!!

Ombak naik setinggi rumah dan menyembur masuk ke daratan. Dari tengah gulungan ombak, muncullah Dewi Samudra Maya. Gaunnya menjuntai seperti ekor gelombang.

Dengan suara yang merobek udara, ia berkata, “Marina Larasati! Engkau adalah anak laut. Takdirmu menuntutmu kembali.” Marina terpaku.

Wiradipa berdiri di depan Marina, melindunginya. “Tidak!” teriak Wiradipa. “Dia adalah calon istriku! Tidak ada yang boleh mengambilnya!”

Dewi Samudra Maya menatap tajam. “Takdir manusia tidak pernah menang melawan panggilan samudra.”

Tiba-tiba pusaran air muncul di bawah kaki Marina. “Wiradipa! Tolong aku!!” jerit Marina.

Wiradipa memegang tangannya erat. “Aku tidak akan melepaskanmu! Marinaaa!!”

Namun kekuatan laut bukanlah lawan manusia. Pusaran itu menariknya perlahan, gamelan semakin keras, seolah mengiringi tarian kematian.

Dalam detik paling menyayat…Tangan Wiradipa terlepas. Marina ditelan oleh laut. “MARINAAAAA!!!” jerit Wiradipa, suaranya menggetarkan seluruh hati yang mendengar.

Penduduk panik. Desas-desus menyebar tentang Nyai Sraya yang sering pergi ke goa malam-malam ganjil. Malam itu, suara gamelan terdengar jauh lebih keras. Nyai Sraya keluar rumah, wajahnya pucat. Kabut turun.

Dari tengah kabut, Dewi Samudra Maya muncul lagi. “Kau yang mengusik garis takdir…” Suaranya dingin dan menusuk.

“Laut memberi… laut juga mengambil.”

“A-aku tidak bermaksud… aku hanya…” Belum selesai ia bicara, angin menyapu tubuhnya. Ia berubah menjadi asap putih dan menjerit, sebelum tubuhnya melayang menuju Goa Penantian dan lenyap untuk selamanya.

Sebulan setelah hilangnya Marina, keanehan terus terjadi. Nelayan melihat gadis berbaju putih menari di atas ombak. Setiap malam purnama, suara gamelan bergema dari tengah laut. Pagi harinya, melati putih bertebaran di sepanjang pantai, seolah seseorang menaruhnya dengan hati-hati.

Suatu malam, Wiradipa kembali ke pantai. Matanya sembab, wajahnya tak terurus. Ketika ombak mengambang tenang, muncul bayangan putih menari lembut.

“Marina… apakah itu kau?” suara Wiradipa bergetar.

Bayangan itu menoleh. Senyum lembut menghias wajahnya. “Wiradipa… maafkan aku…”

Suara itu adalah suara Marina. Lalu ia menghilang perlahan, seperti asap ditiup angin.

Wiradipa berlutut dan menangis seperti anak kecil. Ia tak pernah menikah. Sisa hidupnya ia habiskan menjaga pantai, menunggu cinta yang tak akan kembali. Sejak hari itu, pantai tersebut dinamakan PANTAI MARINA. Sebuah pantai yang menawarkan sejuta keindahan.

Penduduk pesisir membuat peraturan, jangan membawa pulang batu atau pasir dari pantai. Jangan bersiul di tepi pantai saat malam. Jangan membicarakan pernikahan dekat goa-goa suci. Dan yang paling penting: jangan menari di pantai saat bulan purnama.

Karena mereka percaya…Marina Larasati masih menari di malam hari, menjaga keseimbangan manusia dan laut, ditemani gamelan yang mendayu dari kedalaman samudra. Terkadang, ombak yang memecah karang memanggil namanya, “Marina…”

Dan legenda itu terus hidup. Ditulis oleh ombak, dijaga angin, dan disimpan pantai, sebagai kisah cinta yang tak pernah selesai.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post