LEGENDA PANTAI ONARIA PURI DEWATA
Oleh: Riswo, S.E., M.Si.
Pada masa ketika angin Laut Selatan masih mengusung gema mantra para dewa, ketika kabut pagi masih menari-nari di pucuk-pucuk kelapa, berdirilah Kerajaan Puri Dewata di Desa Tri Dharma Yoga Ketapang Lampung Selatan. Kerajaan kecil yang berkilau laksana kendi emas tersiram cahaya surya pagi.
Pemimpinnya, Prabu Surya Adhiwangsa, adalah raja yang keberadaannya bagaikan lampu pelita bagi rakyatnya, menerangi, menuntun, dan memberi hangat. Namun, cahaya paling indah di istana itu bukanlah emas atau permata.
Ia adalah Putri Dewi Santhiraya, gadis berwajah fajar, lembut seperti embun yang jatuh perlahan di kelopak bunga, tetapi teguh seperti karang yang tak gentar dihantam badai. Rakyat percaya kecantikannya adalah titisan kahyangan. Namun di balik keindahan itu, takdir telah mengintai… dalam wujud yang gelap.
Dari seberang laut, kabar buruk melaju secepat burung badai. Tentang seorang penguasa lembah hitam, raja para perampok, menguasai ilmu gaib, kebal terhadap segala pusaka. Namanya
GADING SARPA. Manusia berhati besi, bertangan iblis, bernafas amarah.
Suatu hari, tanah Puri Dewata bergetar oleh langkah rombongannya yang bagai badai menuruni gunung. Debu mengepul, bayangan hitam menyelimuti istana. Gading Sarpa melangkah masuk ke balairung. Suaranya berat, bergemuruh.
“Prabu Surya Adhiwangsa… kabar kecantikan putrimu telah menembus langit. Aku datang bukan untuk memohon, melainkan untuk mengambil. Serahkan Putri Santhiraya padaku. Atau istanamu akan jadi abu.”
Putri Santhiraya berdiri tegak. Mata bagaikan cahaya bintang yang tidak sudi padam. “Ayahanda… Ampun. Hamba tak rela menjadi permaisuri seseorang yang datang membawa ketakutan.”
Prabu Surya mengangkat wajahnya dengan wibawa hening. “Gading Sarpa… putriku tidak memilihmu. Kembalilah sebelum kehancuran jatuh pada siapa pun.”
Senyuman Gading Sarpa tipis, lebih tajam daripada sebilah keris. Lalu, NERAKA PUN TUMPAH. Ia mengaum, dan seluruh istana digulung amukannya.
Prajurit-prajurit terbaik Puri Dewata tumbang seperti dedaunan diterkam angin. Keris, tombak, pedang pusaka, semua remuk oleh satu genggamannya. Prajurit yang sekarat, “Tuanku… ia…bukan manusia…”
Istana runtuh. Rakyat berlarian. Jeritan memenuhi angkasa. Prabu Surya terdiam dalam pilu yang menyesakkan, melihat cahaya kerajaannya hampir padam.
Di tengah asap dan reruntuhan, sang Prabu berdiri di pelataran istana. “Dengarlah, rakyatku! Barang siapa mampu menaklukkan Gading Sarpa, akan kunikahkan dengan Putri Santhiraya…dan kuangkat menjadi Raja Puri Dewata!”Sayembara pun diumumkan.
Para pendekar dari segala penjuru berdatangan, membawa pusaka berkilat, membawa doa dari pertapa gunung. Namun satu demi satu mereka roboh. Kesaktian Gading Sarpa memakan harapan rakyat seperti bara yang melahap kertas kering.
Puri Dewata mulai kehilangan keyakinan…hingga pada suatu sore, ketika langit merah seperti luka, suara langkah ringan terdengar di gerbang kerajaan.Seorang pemuda tampan berjalan perlahan, wajahnya teduh, langkahnya tidak congkak, namun memancarkan keyakinan aneh yang sulit dijelaskan. Dialah Mandala Girinata.
“Tuanku Prabu… izinkan hamba ikut mencoba menunaikan sayembara.”
“Pemuda… engkau tanpa senjata? Pusaka apa pun tak bisa menyentuh Gading Sarpa.”
Mandala menunduk sedikit. “Terkadang… yang tak terlihat jauh lebih berbahaya
daripada yang terhunus.” Pandangan Putri Santhiraya terpaut padanya tenang, bersih, namun menyimpan rahasia.
Mandala berjalan ke alun-alun. Gading Sarpa sudah menunggu sambil tertawa pecah. “Hahaha! Anak ingusan! Kau datang hendak menyerahkan nyawamu?”
“Aku datang untuk menghentikan terormu.”
Pertarungan pun dimulai. Gading Sarpa menyerang bak banteng neraka. Namun Mandala lincah seperti angin gunung. Mereka bertarung dari alun-alun, menembus hutan kecil, menghancurkan bebatuan, hingga akhirnya mencapai tebing dan terseret menuju bibir laut.
Ombak menghantam karang seperti genderang perang. Mandala mundur perlahan, mengarahkan musuh ke pasir basah. Ia berbisik pada dirinya sendiri, “Air laut… itu kuncinya.”
Gading Sarpa mengaum, menjejak pasir basah tanpa curiga. Lalu, BRUUUAAAK! Ombak besar menerjang kakinya. Kulitnya bergetar. Aura kesaktiannya meretak, luntur bagai cat terkelupas dihantam ombak asin.
“A… apa ini?! Tubuhku… panas! Pedih!”
Mandala tersenyum tipis. Dari balik bajunya, ia mengeluarkan sehelai daun kelor kecil, sederhana, namun membawa kekuatan yang tak dimiliki pusaka mana pun. Ia melompat. Menghantam kepala Gading Sarpa.
BRAAAAK!
Kesaktian sang perampok runtuh seketika. Mandala berteriak, “Ini untuk Puri Dewata!”
Dua jarinya menghujam mata Gading Sarpa, darah muncrat, teriakannya menggema panjang. Tubuhnya oleng, jatuh, dan laut membawanya pergi…menenggelamkan onar terakhir yang pernah menakuti kerajaan ini.
Pantai menjadi sunyi. Angin berhenti. Seakan para dewa menundukkan kepala. Mandala kembali dalam keadaan luka namun tegak. Rakyat menyambut dengan sorakan, tangis bahagia, dan pekik kemenangan.
Prabu Surya menghampiri, air mata menetes. “Mandala Girinata…engkau bukan hanya penyelamat kerajaanku…engkaulah cahaya baru bagi Puri Dewata.”
Putri Santhiraya berdiri di samping Mandala, suaranya lirih namun penuh rasa. “Mandala…engkau menyelamatkan hidupku…dan seluruh takdir negeri ini.”
Prabu Surya mengangkat tangan Mandala. “Mulai hari ini, engkau menjadi menantuku…
dan Raja Puri Dewata!”
Rakyat bersorak. Upacara agung digelar, lilin seribu dinyalakan, gamelan bersahut-sahutan, dan bunga-bunga kasturi ditebarkan ke udara. Mandala dan Putri Santhiraya menikah dalam kebahagiaan.
Sejak itulah pantai tempat Gading Sarpa tewas kemudian dinamakan, PANTAI ONARIA PURI DEWATA “Onaria” berasal dari kata onar yang berakhir. Tempat di mana kejahatan terakhir sang perampok dilenyapkan oleh gelombang suci laut Selatan.
Dan hingga kini, angin yang lewat di pantai itu masih membawa bisik-bisik tentang keberanian Mandala, keteguhan Putri Santhiraya, dan cahaya abadi Puri Dewata.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
