Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
LEGENDA PANTAI TAPAK KERA
Sebuah kisah seorang raja dan rakyatnya dikutuk menjadi kera, lantaran menolak pinangan raja jahat untuk mempersunting putrinya.

LEGENDA PANTAI TAPAK KERA

Oleh : Riswo, S.E., M.Si.

Pada masa ketika bumi masih muda, ketika angin Laut Selatan masih belajar menyanyikan iramanya, berdirilah sebuah kerajaan kecil di pesisir Lampung Selatan. Kerajaan itu sederhana, namun kedamaiannya memancar bagai cahaya fajar yang menembus kabut. Di sanalah bertahta seorang raja arif bernama Garungga, penjaga rakyat, peneduh badai, dan mata air kebijaksanaan bagi seluruh negeri.

Namun bukan hanya sang raja yang mengharumkan kerajaan mungil itu. Dari rahim istana lahirlah seorang putri yang kecantikannya sering dibandingkan dengan rembulan purnama yang menari di pucuk ombak, Centik Manis. Bening matanya seteduh embun pagi, langkahnya selembut pasir pantai, dan tutur katanya menyejukkan hati siapa pun yang mendengarnya. Namanya terseret angin, melintasi lautan, hingga memasuki telinga seorang raja yang jauh lebih besar, Raja Halakumba, penguasa dari negeri seberang.

Halakumba berkuasa, disegani, namun jiwanya digerogoti kekosongan. Ilmu sihir hitam ia kuasai, dan kutukan adalah senjata yang paling sering ia layangkan. Istri-istrinya banyak bak bintang di angkasa, namun dahaga nafsunya tak pernah padam. Dan ketika ia mendengar kabar tentang kecantikan Centik Manis, api keserakahannya langsung berkobar.

“Putri itu harus menjadi milikku,” gumamnya, penuh angkara.

Maka ia berlayar dengan kapal megah, membawa pasukan, kesombongan, dan hadiah yang mampu mengguncang kerajaan mana pun. Namun Halakumba lupa satu hal, cinta bukan barang dagangan, dan kehormatan tidak dapat dibeli.

Raja Garungga menolak lamaran itu dengan tegas, “Aku tidak rela putriku menjadi budak nafsumu!”

Halakumba tertawa. Tawa yang dingin, beracun, dan mengguncang udara. “Berani kau menolak aku? Jika begitu… aku kutuk seluruh rakyatmu menjadi kera!”

Sebelum pedang Garungga sempat terangkat, tongkat sihir Halakumba telah diputar ke langit. Cahaya hitam meledak, dan seketika prajurit serta rakyat yang berada di pelataran istana berubah menjadi kera. Gunung dan pantai pun menggema oleh rintih mereka.

“Halakumba! Pengkhianat kehormatan! Kembalikan rakyatku!” Garungga mengamuk, mencabut pusakanya dengan amarah membara.

Namun kesaktiannya tak mampu menembus tirai sihir. Dalam sekejap, Halakumba mengacungkan tongkatnya sekali lagi dan Raja Garungga pun berubah menjadi seekor kera, melolong ke langit dengan air mata yang tak lagi bisa berbicara.

Halakumba lalu menoleh kepada Centik Manis. “Lihatlah. Rajamu dan rakyatmu kini tunduk padaku. Sekarang hanya kau yang masih manusia. Menyerahlah, jadilah permaisuriku.”

Centik Manis menunduk. Suaranya tetap jernih dan lembut namun seteguh karang. “Paduka Halakumba, hamba lebih pantas menjadi putrimu… daripada menjadi permaisuri tiran sepertimu.”

Penolakan itu menusuk harga diri Halakumba. Amarahnya meledak bagai petir yang memecah langit. “Berani kau menolak aku? Tangkap dia!”

Centik Manis berlari ke hutan, dikejar prajurit-prajurit berkuda. Daun-daun bergetar, angin berebut memperingatkannya, dan bumi pun seakan memeluk langkahnya. Namun akhirnya Halakumba berhasil menghadangnya.

“Ke mana kau akan lari, wahai putri jelita?”

Centik Manis berdiri tenang. Ia merapatkan kedua telapak tangannya, berbisik lirih memanggil kekuatan semesta. Saat Halakumba mencoba merengkuhnya, tubuh sang putri perlahan memudar, seolah ditelan cahaya hijau.

Dalam sekejap, tubuhnya menghilang, menjelma menjadi sebuah tanaman hijau yang harum dan teduh. Tanaman yang kini dikenal masyarakat Lampung sebagai tanaman Centik Manis.

Halakumba terkejut. Untuk pertama kalinya kekuasaan tak mampu meraih keinginannya. Ia mengaumkan kemarahan, namun semuanya terlambat. Putri itu telah kembali kepada alam yang melindunginya.

Sejak hari naas itu, kerajaan kecil tersebut menjadi sepi. Raja Garungga dan rakyatnya yang berubah menjadi kera hidup di tepi pantai, menatap lautan dengan mata penuh penyesalan. Seakan masih mencari wujud sang putri yang tak lagi dapat mereka peluk. Dan ketika air surut, tampaklah di pasir jejak-jejak kera, tapak-tapak bisu yang diyakini sebagai langkah mereka mencari Centik Manis.

Karena itulah pantai itu dinamakan Pantai Tapak Kera. Kini, Pantai Tapak Kera menjadi permata wisata di Kalianda, Lampung Selatan. Pasir putihnya memantulkan cahaya, laut birunya sejernih doa, dan batu karangnya menjulang seolah menjadi saksi bisu tragedi cinta, kutukan, dan pengorbanan yang telah terukir berabad-abad lalu.

Di sanalah legenda bernafas, di antara debur ombak yang tak pernah lelah mengisahkan kembali tentang Centik Manis, Garungga, dan Pantai Tapak Kera.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post