Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
LEGENDA PANTAI TITIAN MUTIARA
Sebuah kisah yang menceritakan Legenda Pantai Titian Mutiara. Seorang Putri Raja yang berhasil menyelamatkan rakyatnya dari serangan raksasa Naga Laut.

LEGENDA PANTAI TITIAN MUTIARA

Oleh: Riswo, S.E., M.Si.

Di ujung selatan bumi Lampung, ketika angin masih membawa doa para leluhur dan ombak bergulung bagai barisan prajurit samudra, berdirilah sebuah kerajaan megah bernama Sagara Pura. Kerajaan yang membentang dari kaki Gunung Rajabasa hingga ke tepi lautan yang memantulkan cahaya bulan seperti serpih-serpih perak.

Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja agung, Prabu Adityaraja, seorang raja yang berhati teduh namun berwibawa bak cakrawala yang tak bertepi. Permaisurinya, Dewi Raras Ayuningrum, adalah perempuan lembut yang dicintai seluruh rakyat karena kebijaksanaannya.

Pada malam ketika Dewi Raras mengandung tua, langit tiba-tiba menghitam. Angin menggulung bagai harimau lapar. Petir mencabik-cabik malam hingga istana bergetar.

Tiba-tiba Dewi Raras memegangi perutnya seraya menahan jeritan. “Kanda… ada sesuatu yang tak beres… tolong…” Nafasnya tersengal. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Prabu Adityaraja segera memeluknya. “Bertahanlah, Ayu. Aku di sini. Wongkara! Cepat kemari!”

Datanglah Wongkara Dirgapati, orang kepercayaan raja. Wajahnya tampak tegang, namun di balik matanya, ada bara ambisi yang tak pernah padam.

“Segera panggil penolong persalinan! Selamatkan permaisuriku!” seru Prabu Adityaraja.

Wongkara membungkuk. “Sabda Paduka adalah titah hamba.”

Ia memanggil istrinya, Nyi Wongkara, seorang dukun tua yang terkenal cakap namun berhati licin. Ketika Nyi Wongkara masuk ke keputren, hawa dingin merayap. Lampu minyak berkedip-kedip seolah takut menyaksikan apa yang akan terjadi.

Lama suara rintihan terdengar. Hingga akhirnya, WAANG… WAANG…! Tangis bayi pecah, suaranya nyaring menggetarkan langit-langit istana.

“Putri… cantik sekali… kulitnya sebening mutiara…” gumam Nyi Wongkara.

Namun kegembiraan itu dipatahkan oleh isakan lain. Dewi Raras Ayuningrum menghembuskan napas terakhir. Prabu Adityaraja jatuh berlutut memeluk tubuh istrinya yang dingin.

“Raras… Raraaaas!!! Kenapa harus begini…?” Jeritannya menembus malam, membuat seluruh penjuru istana membisu.

Di sudut kelam ruangan itu, Wongkara menatap bayi mungil bercahaya itu. Matanya menyipit penuh rencana gelap. “Nyi… kau lihat? Ini kesempatan kita.”

“Jangan gegabah! Itu bayi raja!” bisik Nyi Wongkara gelisah.

“Justru itu! Jika anak ini tumbuh, ia akan menjadi ahli waris. Tukar ia… dengan cucu kita, Jagadnara. Bila kelak tahta jatuh pada keturunanku… maka kekuasaan Sagara Pura menjadi milik kita.”

Dalam keheningan yang penuh dosa, bayi perempuan itu, Putri Sekar Mutiara diam-diam dititipkan kepada seorang abdi setia yang tak berani membantah. Sementara Jagadnara, cucu Wongkara, diangkat sebagai pangeran kerajaan.

DUA PULUH TAHUN KEMUDIAN, Laut Sagara tiba-tiba murka. Pada suatu malam bulan purnama, air laut mendidih seperti kuali raksasa. Ombak memukul pantai hingga batu-batu pecah. Lalu dari kedalaman samudra, GROOAAAAARRRR!!!

Seekor siluman naga laut bangkit, tubuhnya sebesar bukit, sisiknya berkilau kelam, matanya merah membara laksana bara neraka.

Nelayan berlari tunggang-langgang. “Ampunilah kami!!! Naga laut itu bangun lagi!!!”

“Lari!!! Ia menghancurkan bagan!!”

Perahu-perahu diterjang. Bagan-bagan hancur. Ikan-ikan punah dimangsa. Kelaparan melanda. Melihat rakyatnya menderita, Prabu Adityaraja menggelar sidang di balairung. Ia menancapkan tongkat kerajaan ke lantai hingga gema keras memantul ke seluruh ruangan.

“Dengar seluruh rakyat Sagara Pura! Barang siapa berhasil menumpas siluman naga laut itu… akan kuangkat menjadi penerus tahta!”

Wongkara maju dan membungkuk pura-pura hormat. “Paduka… izinkan Pangeran Jagadnara memimpin. Biarkan ia membuktikan darah bangsawan yang mengalir dalam dirinya.”

Prabu Adityaraja terdiam. Hatinya terasa berat, namun ia mengangguk. Jagadnara berangkat bersama barisan prajurit terbaik. Ombak bergemuruh seolah menantang mereka. Belum sempat mereka mengangkat senjata, BRAAAK!!

Air laut meledak. Naga laut menerjang. Api biru menyembur dari mulutnya. Barisan prajurit terpental.

“Pangeran!! Awas!!”

Tapi terlambat. Dalam sekejap, siluman itu membuka mulutnya dan CUAPPP!!! Jagadnara dilahap hidup-hidup. Hanya pedangnya yang tersisa, terapung di atas air yang memerah, lalu tenggelam.

“JAGADNARA!!! PUTRAKU!!!” Prabu Adityaraja meraung, tubuhnya bergetar keras.

Wongkara terpaku, wajahnya pucat. Untuk pertama kalinya ia merasakan ketakutan karena ia kehilangan kartu terkuatnya.

Di malam yang penuh duka itu, seorang gadis sederhana yang tumbuh di dalam istana, Sekar Mutiara tertidur di bawah cahaya bulan. Kepribadiannya lembut, namun auranya selalu memancar seperti seseorang yang lahir untuk memimpin.

Tiba-tiba cahaya putih turun menyelimuti mimpinya. “Sekar… penjaga lama telah runtuh… saatmu tiba. Titian akan muncul… engkaulah penerus.”

Sekar terbangun. Nafasnya memburu. “Siapa… siapakah engkau? Apa maksud semua ini?”

Ditarik oleh panggilan tak kasat mata, ia berjalan ke pantai. Angin mendadak mengaum liar. Ombak menghitam. Dan dari kedalaman laut, Naga itu muncul.

“Gadis manusia… apakah kau berani menantangku?” Suara siluman itu menggema bagai badai mengoyak langit.

Sekar menggenggam tombak pusaka, warisan ibunya yang tak pernah ia ketahui berasal dari darah bangsawan. Wajahnya tegar. “Jika kau pemangsa rakyatku… akulah yang akan mengakhiri hidupmu!”

Siluman naga mengibaskan ekor. Ombak membentuk pusaran raksasa. WUUUSHH!!! Sekar hampir terhempas, namun ia menancapkan tombak ke tanah pasir. Naga itu menyemburkan api biru. Sekar melompat, memutar tombaknya dan menusuk sisik naga.

“KEKECHIITTT!!” Sisik itu retak namun belum jebol.

Naga meraung. “Berani kau mencederai aku?!” Dengan amarah yang membara, naga memutar tubuh, menciptakan gelombang setinggi istana.

BRAAAAKKK!!

Ombak menyapu pantai. Prajurit dan rakyat berteriak dari kejauhan. Namun Sekar berdiri tegap, matanya menyala oleh cahaya bulan. “Ini untuk tanahku… untuk negeriku… untuk jiwa-jiwa yang kau ragut!”

Ia melakukan lompatan terakhir, menusukkan tombak itu tepat ke jantung naga. DUGGG!!!

Cahaya putih meledak dari dalam tubuh siluman. Naga menggelepar hebat lalu runtuh kembali ke dasar laut. Laut menjadi hening, seperti baru saja menyaksikan runtuhnya raksasa purba.

Namun kemenangan itu tidak membawa kegembiraan sepenuhnya. Semua ikan telah lenyap. Laut seperti padang mati. Rakyat kembali menangis. Sekar bersimpuh di atas pasir. “Duh Dewata… bimbinglah hamba… apa yang harus kulakukan demi kehidupan rakyatku?”

Tiba-tiba cahaya putih turun dari langit. Mengalir ke permukaan laut. Menyatu. Membentuk jembatan bercahaya. Titian yang berpendar bagai sinar rembulan. Rakyat terperangah. Prajurit menunduk takjub.

Sekar berdiri, menatap titian itu. “Apakah ini… jalanku?” Ia melangkah. Setiap langkah membuat cahaya menyala lebih terang. Ia berjalan jauh ke tengah samudra hingga tubuhnya nyaris hilang ditelan cahaya putih.

“Sekar! Kembalilah! Anakku!” Suara Prabu Adityaraja pecah oleh rasa takut. Beberapa lama kemudian, cahaya itu berkedip, lalu muncul kembali.

Sekar melangkah turun dari titian sambil membawa mutiara raksasa, sebesar kepala manusia, bercahaya lembut seperti bulan purnama.

“Tanam mutiara ini di dasar laut. Ia akan menjadi sumber kehidupan. Ikan-ikan akan kembali. Terumbu akan pulih.” Rakyat bersorak, sebagian menangis haru.

Keesokan harinya laut benar-benar kembali hidup lebih subur dari sebelumnya. Ketika seluruh rakyat merayakan kemenangan, seorang abdi tua berjalan tertatih ke hadapan raja. Ia bersujud gemetar.

“Ampuni hamba, Paduka… hamba membawa rahasia dua puluh tahun lalu… Putri Sekar Mutiara… dialah putri kandung Paduka. Bayi Paduka dulu ditukar oleh Wongkara dan istrinya…” Seluruh balairung terkejut.

Prabu Adityaraja menutup wajahnya. Air mata luruh jatuh ke lantai marmer. “Sekar… Sekar anakku… maafkan ayah… maafkan ayah yang tak tahu…” Sekar memeluk ayahnya, menenangkan raja yang selama ini menanggung duka mendalam. Wongkara dan Nyi Wongkara segera ditangkap.

Prabu Adityaraja berdiri tegap di depan mereka. “Atas dosa kalian mengkhianati darah raja… kalian dihukum seumur hidup di bawah penjara batu. Biarlah bumi menebus dosa kalian.”

Prabu Adityaraja kemudian menggenggam tangan Sekar di hadapan rakyat. Ia menuntunnya menuju singgasana kerajaan. “Mulai hari ini, Putri Sekar Mutiara… engkau adalah Ratu Sagara Pura. Engkau pembawa cahaya, penuntun harapan, penyelamat rakyat.”

Rakyat bersorak. Ombak berkilau. Angin memuja-muja nama sang ratu. Sejak hari itu, pantai tempat Sekar berjalan di atas cahaya disebut PANTAI TITIAN MUTIARA. Tempat seorang putri menghubungkan dunia manusia dengan anugerah para dewa.

Keindahan panoramanya masih memantulkan kisah sang ratu. Airnya yang biru seolah mencerminkan darah biru yang mengalir dalam diri Ratu Sekar Mutiara, pemimpin yang adil, welas asih, dan membawa Sagara Pura menuju masa keemasan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post