Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
PANTAI BENTENG, NYALA LIMA JAM DI BAWAH LANGIT KEMERDEKAAN
Kisah perjuangan rakyat Kalianda Lampung Selatan mempertahankan tanah kelahirannya dari penjajah Belanda, dan keterkaitannya dengan nama Pantai benteng

PANTAI BENTENG, NYALA LIMA JAM DI BAWAH LANGIT KEMERDEKAAN

Oleh: Riswo, S.E., M.Si.

Di selatan Pulau Sumatra, angin Laut Kalianda selalu membawa bisik-bisik masa lalu. Di Pantai Benteng yang kini tampak teduh di bawah cahaya senja, dulu berdiri sebuah arca bisu penindasan. Benteng tua peninggalan Belanda, menatap laut dengan mata kosong yang pernah menyimpan gelisah perang.

Hari ini, tempat itu menjadi tujuan wisata, tetapi pada 21 Maret 1949, pantai ini menjelma menjadi gelanggang pertempuran yang menggetarkan bumi, lima jam yang menentukan harga diri sebuah kota.

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan dengan dada lapang. Namun jauh di balik itu, kekuatan kolonial menolak tunduk. Tahun 1949, agresi militer kedua dilancarkan.

Di Kalianda, serdadu Marinir KL bergerak dari arah Pantai Masin. Malam itu langit pekat, bulan bagaikan mata yang diselimuti awan duka.

Di pos jaga Way Urang, dua prajurit TNI merapatkan tubuh, menembus dingin malam. Prajurit Jaga 1 (berbisik), “Dengar itu... bukan suara sandal rakyat kita.”

Prajurit Jaga 2 (gelisah), “Langkahnya berat... sepatu lars. Mereka datang.”

Prajurit Jaga 1, “Laporkan! Belanda bergerak dari Masin!”

Laporan itu melesat menuju pangkalan. Letnan Muda Makmun Rasyid wajahnya tegas, matanya menyala mengambil alih komando. Komandan utama, Abdul Kadir Kesuma Ratu, masih berada di Kuripan bersama sebagian pasukan.

Makmun menatap gelap yang seolah bergerak. Letnan Makmun, “Semua pasukan, bersiap! Kita bertahan di Jembatan Way Urang! Tidak ada yang mundur tanpa perintah! Malam ini kita berdiri atas nama kemerdekaan!”

Para prajurit bergerak. Senjata tua, bedil rakitan, dan granat Jepang yang hampir usang menjadi harapan terakhir. Ketika jam menunjuk angka 02.00, kesunyian jembatan pecah.

DORRR!

Letusan pertama menghantam malam seperti petir dari neraka. Sersan Hidup Mara, pemimpin Regu Terup, berdiri paling depan. Sersan Hidup Mara, “Tahan posisi! Bidik yang pasti! Ini tanah kita, jangan biarkan mereka melangkah sejengkal pun!”

Kilatan api senjata bersahut-sahutan. Air sungai memercik terkena peluru. Namun senjata tak seimbang. Belanda membawa senapan otomatis.

Prajurit TNI (panik), “Pak Sersan! Amunisi menipis!”

Sersan Hidup Mara (menggertakkan gigi), “Kalau peluru habis, gunakan bayonet! Jangan pernah menyerah!” Letusan, jeritan, doa. Jembatan menjadi lidah api sejarah yang menjilat malam.

Pasukan TNI mundur teratur ke Kampung Karet. Sawah gelap, rawa berkabut, dan ranting-ranting pecah menjadi saksi. Belanda melepaskan mortir kecil. Tanah meledak, lumpur beterbangan.

Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar pekikan lantang, “Allahu Akbar! Untuk tanah kita!” Laskar rakyat dari Pematang dan Tajimalela datang berlari, dipimpin Sersan Yusuf dan Sersan Rohani.

Sersan Yusuf (napas terengah, mata membara), “Maaf terlambat, Letnan! Kami datang untuk melawan bersama!”

Letnan Makmun, “Kalian datang tepat waktu! Bentengi sisi kanan! Kita tidak boleh terkepung!”

Kabut rawa bercampur asap senjata. Cahaya fajar belum datang, namun medan perang telah terbakar oleh semangat manusia yang menolak tunduk.

Fajar merah merayap di timur ketika pertahanan terakhir dibangun di Way Kiyai. Di sana berdiri Sersan Abdul Murad dan pasukannya. Sersan Abdul Murad, “Ini garis terakhir. Jika mereka lewat… kota jatuh!”

Prajurit (menggenggam senjata), “Kami siap, Komandan! Sampai tetes darah terakhir!”

Pertempuran pecah. Benturan senjata, teriakan, debu tanah, dan bau mesiu mengiris pagi yang masih muda. Namun kekuatan tidak seimbang. Senjata otomatis Belanda menghantam pertahanan yang makin rapuh.

Letnan Makmun menatap medan, matanya merah oleh duka dan asap. Letnan Makmun (suara berat), “Pasukan mundur ke Bukit Beringin! Jika kita bertempur siang hari, korban akan berlipat! Lindungi rakyat!”

Prajurit ingin bertahan, tetapi mereka patuh. Belanda memasuki Kalianda pukul 07.00. Rumah digeledah. Barang dirampas. Warga dipaksa ketakutan. Seorang ibu memeluk anaknya sambil berbisik, “Tenanglah… pahlawan kita pasti kembali.”

Pasukan mundur melalui jalur yang berat. Bukit Beringin → Wai Belerang → Sumur Kumbang → kaki Gunung Rajabasa → Way Batu Putang → Way Pekhos → Pematang. Di Pematang, rakyat menyambut bagaikan menyambut anak sendiri.

Ibu Kampung (mengusap keringat prajurit), “Masuklah, Nak... makanlah dulu. Kalian telah menjaga kami.”

Prajurit (mata berkaca-kaca), “Terima kasih, Bu… doakan kami agar kuat.” Di kampung ini, mereka bertahan hingga pukul 11.00 WIB.

Siang hari, hingga hari mulai panas, Belanda meninggalkan Kalianda melalui laut, membawa rampasan dengan kapal motor dan enam perahu kecil. Berita itu sampai ke Letnan Makmun. Ia mengepalkan tangan, suaranya menggema. Letnan Makmun, “Kita kembali! Kalianda harus berdiri lagi!”

Pasukan 114-XIX STL bergerak kembali ke kota. Di rumah Bapak Muhammad Saleh Ali, pemerintahan sipil dan militer diaktifkan kembali. Kewedanaan Kalianda hidup lagi di bawah kepemimpinan Camat Moh. Yusuf.

Dalam lima jam itu, 12 putra terbaik Kalianda gugur, dua lainnya luka berat. Nama-nama itu kini menjadi gema kemerdekaan: Ibnu Hasim, Sersan Mayor PT Komando CPM, Moh. Tayib, Kopral TNI AL, Moh. Yusuf, Prajurit I (Anumerta), Juaher, Laskar luka berat, Sappot, Laskar luka berat. Dua pahlawan dari Babatan, Ishak dan Nasrun, gugur pada 8 Maret 1949 dan kini beristirahat di Makam Pahlawan Kesuma Bangsa.

Kini Pantai Benteng penuh tawa wisatawan, aroma ikan bakar, dan suara kamera. Namun jika angin sore berhembus dari arah laut, dengarkanlah baik-baik…Di sela riak ombak kadang terdengar gema langkah, bisikan perintah, dan teriakan keberanian dari para pejuang yang tak ingin sejarah dilupakan.

Mereka seolah berkata, “Kami telah menjaga tanah ini dengan darah. Kalian jagalah dengan ingatan.”

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post