Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
RATU DARAH PUTIH DAN PUTRI TUN PENATIH
Sebuah kisah Ratu Darah Putih dan Putri Tun Penatih.

RATU DARAH PUTIH DAN PUTRI TUN PENATIH

Oleh : Riswo, S.E., M.Si.

Di bawah kaki Gunung Rajabasa yang menjulang megah, senja turun perlahan, menumpahkan warna jingga ke seluruh hamparan bumi Kahuripan. Angin membawa harum rempah, bersatu dengan desir laut dari Selat Sunda. Pada petang itulah seorang pemuda tampan berkulit cerah duduk sendu di pendopo keratuan. Dialah Ratu Darah Putih, titisan para wali, pewaris darah suci dari Sunan Gunung Jati.

Ia menatap sekawanan burung kuntul yang terbang rendah, seakan membawa pesan yang tak kunjung tiba. “Sudah tiga bulan… tiga bulan aku menunggu kabar darimu, Dinda Putri Tun Penatih… namun surat-suratku seolah hilang ditelan semesta,” gumamnya lirih, matanya mengerjap menahan rindu.

Tiba-tiba, dari balik sinar sore, tampak wajah Putri Tun Penatih tersenyum, bayangannya lembut, hangat, namun samar seperti kabut. Pemuda itu bangkit, menatapnya dengan harap, mengulurkan tangan… Namun langkahnya tertahan. Sosok itu hanya bayangan hati, bukan nyata.

Ratu Darah Putih memejamkan mata, merasakan sesak yang mengalir di dadanya. “Ya Allah… mengapa bayangannya terus datang? Apa engkau sedang dirundung duka, wahai Putri?”

Ia berjalan mondar-mandir, gelisah, memandang Gunung Rajabasa yang diselimuti awan jingga. “Jangan-jangan… apakah engkau telah melupakanku?”

Namun ia menggeleng keras. “Tidak! Bukan itu. Bukan engkau wanita yang mudah mengingkari janji.”

Kerinduannya begitu menghimpit sampai ia tak mampu memejamkan mata. Ia mengambil air wudu, mengangkat kedua tangan, lalu sujud panjang. Lantunan Qur’annya menggema, merambat melewati angin, menembus batas waktu dan jarak.

Di kejauhan, di Cirebon, Sunan Gunung Jati membuka mata dari semedinya. “Subhanallah… suara ini… lantunan ayat ini… suara putraku dari seberang lautan.”

Ketika zikirnya memuncak, sebuah cahaya menyinari pendopo. Sosok kharismatik muncul di hadapannya. “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”

Ratu Darah Putih tersentak. “Waalaikumsalam… Ayahanda… Kanjeng Sunan?”

Sunan Gunung Jati mendekat, suaranya tegas namun teduh, “Putraku, berangkatlah engkau ke Kesultanan Aceh. Kekasihmu… Putri Tun Penatih… sedang dalam cengkeraman bahaya.”

“Bahaya? Apa yang...” Namun belum sempat ia selesai, Sang Sunan telah hilang bagai buih diterpa angin. Lelaki muda itu terduduk, hatinya tercabik rasa takut.

“Ayahanda tak pernah datang tanpa sebab. Putri… dinda Putri… apa yang terjadi padamu?” Malam itu ia tertidur sejenak karena lelah. Namun dalam tidurnya, sebuah mimpi mengoyak jiwanya.

Dalam gelap yang pekat, ia melihat Putri Tun Penatih berlari ketakutan. “Tidak… jangan! Lepaskan aku!” suara Putri menggema. Di belakangnya, sesosok raksasa berwajah mengerikan mengejar, tubuhnya tinggi menjulang, matanya menyala merah seperti bara.

Raksasa itu mengguncang bumi setiap langkahnya. “Aku akan memilikimu, Putri!” Ia meraih Putri, mengikatnya dengan rantai besi, menyeretnya ke goa gelap.

“Tidak…! Tidak…!” Teriakan Putri menggema.

Ratu Darah Putih terbangun dengan tubuh bergetar. “Ya Allah! Mimpi ini… petunjuk dari-Mu! Aku harus pergi. Sekarang juga!”

Setibanya di Kesultanan Aceh, ia disambut Sultan dan Permaisuri. “Selamat datang, Ratu Darah Putih. Kedatanganmu telah kami tunggu,” ujar Sultan, dengan mata penuh duka.

“Apa yang telah terjadi, Tuanku?”

Sultan menarik napas panjang. “Putriku… sejak menolak lamaran seorang pangeran congkak, ia jatuh sakit tanpa sebab. Semua tabib menyerah.”

Permaisuri menambahkan lirih, “Seakan ada kekuatan gelap yang merenggut kesadarannya.”

Ratu Darah Putih segera menuju kamar Putri. Ketika langkahnya memasuki ruangan itu, hatinya seakan diremas. “Ya Allah… Dinda Putri… mengapa engkau sekurus ini…”

Ia duduk, mulai membaca ayat suci Al-Qur'an. Tiba-tiba BUUUMMM!! Tubuhnya terpental ke belakang seperti dihantam energi gaib. Sultan kaget. Permaisuri menjerit kecil. Namun Ratu Darah Putih bangkit, wajahnya tegas.

“Allahu Akbar! Lahaulawalaquwwata illa billah! Aku tidak takut pada sihir syaitan!”

Ia kembali membaca ayat-ayat Allah, suaranya membelah udara seperti kilat yang memecah malam. Cahaya redup memenuhi kamar. Rantai tak kasat mata terputus.

Tiba-tiba, kelopak mata Putri Tun Penatih bergetar… lalu terbuka. “Di mana… di mana aku?” suara Putri gemetar.

Permaisuri memeluknya. “Anakku… syukur engkau kembali.”

Putri menatap Ratu Darah Putih yang terengah-engah namun tetap tersenyum. “Tuanku… kanda Ratu Darah Putih… apakah benar engkau yang menyembuhkanku?”

“Dengan izin Allah, Dinda.”

Putri kemudian menceritakan kesengsaraannya, tentang pangeran congkak yang ia tolak, tentang raksasa yang berkali-kali datang dalam mimpi, mengikat tubuhnya, menjerat jiwanya. Setiap kata membuat hati Ratu Darah Putih kian perih.

“Kanda… mengapa kanda menangis?”

“Aku tidak menangis, Dinda. Hanya… kelilipan,” katanya sambil berpaling.

Putri tersenyum lembut, “Hamba tahu, kanda sedang menyembunyikan hatimu.”

Sultan Aceh dan Permaisuri kemudian membicarakan masa depan sang Putri. Permaisuri berkata lirih, “Hati seorang ibu akan tenang… bila Putri memiliki pendamping.”

Sultan menatap kedua muda-mudi itu. “Aku serahkan semuanya pada kalian.”

Putri menunduk malu. “Dinda… terserah kanda Ratu Darah Putih.”

Ratu Darah Putih tersentak. “Loh… kok terserah?” Putri mencubit lengannya pelan.

“Aduh!” serunya.

“Jangan mengejek dinda lagi!”

Ratu Darah Putih tertawa kecil. “Aku rela dicubit berkali-kali… asalkan kita selalu bersama, Dinda.”

Wajah Putri merona. Pada hari itu, dengan langkah mantap, Ratu Darah Putih menghadap Sultan, “Ampun beribu ampun, Tuanku… hari ini hamba meminang Putri Tun Penatih.”

Sultan menatap permaisuri, lalu menatap putrinya yang tersipu. Akhirnya, dengan suara penuh kewibawaan, ia mengangguk, “Dengan mengucap syukur Alhamdulillah… kami terima pinanganmu, wahai Ratu Kahuripan.” Ratu Darah Putih sujud syukur, Putri meneteskan air mata bahagia.

Pernikahan megah pun digelar. Raja-raja dari negeri jauh datang membawa hadiah. Aceh bersinar dengan ribuan pelita. Putri Tun Penatih dan Ratu Darah Putih tampil bagaikan Dewi dan Dewa kahyangan.

Setelah hari bahagia itu, Putri diboyong ke Kahuripan. Rakyat Aceh mengantar kepergiannya dengan tangis haru. Sultan dan Permaisuri memeluknya erat.

Di Kahuripan, Putri hidup bahagia mendampingi Muhammad Aji Saka. Keratuan Darah Putih berkembang pesat, berdagang rempah sampai ke Banten, Aceh, dan Riau. Cinta mereka tak hanya mempersatukan dua hati, tapi dua kerajaan, dua budaya, dua kekuatan yang kini berdiri tegak di bawah ridha Illahi.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post