Riswo M.Si

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
TRADISI BUDAYA NGIBAN
Riswo, S.E., M.Si Ketua FGMPL Lampung Selatan

TRADISI BUDAYA NGIBAN

Oleh : Riswo, S.E., M.Si

Ketua Forum Guru Motivator Penggerak Literasi (FGMPL)

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Begitulah Indonesia hidup sebagai bangsa yang majemuk. Setiap daerah memiliki adat, cara berpikir, dan budaya yang dibentuk oleh lingkungan, sejarah, dan kearifan para leluhurnya. Karena itu pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” menjadi penuntun agar kita selalu menghormati adat di manapun kita hidup.

Wherever we step on the earth, there we must uphold the sky. Begitulah nilai itu bergema dalam bahasa internasional, menegaskan bahwa penghormatan terhadap kearifan lokal adalah bahasa kemanusiaan yang universal.

Sebagai masyarakat Lampung, kita memikul amanah untuk menjaga warisan budaya daerah yang telah mengakar selama berabad-abad. Budaya Lampung bukan sekadar tarian, busana, atau upacara adat, tetapi juga penanda identitas, pembentuk watak, dan penyangga martabat masyarakatnya. Karena itu berbagai tradisi seperti Gawi, Djujokh, Ngumbai Lawok, Balimau, Tayuhan, Ngambabekha, dan sebagainya tetap dijaga oleh masyarakat, sebagai bentuk penghormatan kepada jejak leluhur.

Namun sayangnya, tidak semua tradisi mampu bertahan menghadapi derasnya perubahan zaman. Salah satu tradisi yang kini hanya tersisa sebagai kenangan adalah Tradisi Budaya Ngiban, sebuah tradisi kuno di Kalianda, Lampung Selatan. Jejaknya kian memudar, ditelan modernisasi dan minimnya perhatian generasi muda. Banyak anak muda hari ini bahkan tidak pernah mendengar nama Ngiban, apalagi memahami tata cara dan nilai-nilai yang tersimpan di dalamnya.

Sungguh menyedihkan ketika sebuah tradisi yang pernah hidup puluhan tahun, hilang tanpa banyak yang menyadari.

Sebagai pegiat literasi dan pencinta budaya di Lampung Selatan, penulis merasa terpanggil untuk menelusuri kembali tradisi ini. Tujuan utama dari upaya ini bukan untuk membawa masyarakat kembali ke masa lalu, melainkan untuk mengingatkan bahwa Lampung Selatan pernah memiliki tradisi yang unik, penuh estetika, dan kaya nilai moral.

Tradisi yang hilang tetap memiliki makna, asal kita mau menggali dan menghidupkannya kembali melalui tulisan, penelitian, video dokumenter, pembelajaran di sekolah, maupun pengenalan di ruang publik.

Mengapa Tradisi yang Hilang Perlu Digali Kembali? Jawabannya sederhana namun sangat mendasar: budaya nasional tumbuh dari akar budaya daerah. Tanpa budaya daerah, tidak mungkin ada budaya nasional. Jika budaya daerah punah satu per satu, maka budaya nasional akan kehilangan fondasinya dan pada akhirnya hanya tinggal simbol tanpa ruh.

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya budaya bukan karena satu budaya besar yang mendominasi, melainkan karena keragaman budaya dari Sabang sampai Merauke yang saling menopang. Dari tarian, pantun, ritual, seni musik, hingga sistem nilai. Semuanya menyusun mozaik besar bernama Indonesia.

Karena itu melestarikan budaya lokal merupakan tanggung jawab bersama. Tradisi tidak hanya diwariskan, tetapi juga harus didokumentasikan, diajarkan kepada generasi muda, dan dikenalkan kembali dalam berbagai bentuk agar tidak hilang ditelan modernitas.

Jika tidak, anak cucu kita kelak hanya akan mengenal budayanya dari foto-foto pudar atau catatan sejarah yang tidak lagi hidup dalam keseharian mereka.

Apa Itu Tradisi Ngiban?

Dalam istilah anak muda sekarang, Ngiban bisa diartikan sebagai ngapel atau nganjang. Secara sederhana, Ngiban adalah kegiatan seorang mekhanai (pemuda) yang ingin mengunjungi muli (gadis) yang sedang ia sukai. Namun, esensi Ngiban jauh lebih halus, beradab, dan penuh aturan dibanding sekadar kunjungan biasa.

Berbeda dengan budaya Jawa, di mana seorang pemuda datang secara terang-terangan ke rumah gadis dan diterima oleh keluarga, tradisi Ngiban dilakukan dengan penuh kerahasiaan dan tata kesopanan yang ketat.

Tata Cara Ngiban

Dilakukan pada malam hari, ketika suasana tenang dan kampung mulai sepi. Dilakukan secara diam-diam, tanpa sepengetahuan keluarga sang gadis, khususnya orang tua. Mekhanai masuk melalui pintu dapur, bukan melalui pintu depan.

Sang muli tidak keluar kamar. Ia berbicara dari sisi dalam rumah, sementara mekhanai berada di dapur atau luar dinding. Mereka tidak saling bertemu wajah, karena pertemuan mereka dibatasi oleh dinding atau ruang pemisah.

Pada masa itu lampu listrik belum tersedia. Rumah hanya diterangi lampu tempel, lampu sentir, atau patromaks yang memberi cahaya temaram. Suasana remang inilah yang menjadikan tradisi Ngiban terasa lebih syahdu sekaligus menjaga kesopanan.

Sagata: Bahasa Cinta dalam Budaya Lampung

Keindahan Ngiban terletak pada cara mekhanai menyampaikan isi hatinya. Ia tidak langsung mengutarakan perasaan, melainkan menggunakan Sagata, yakni pantun Lampung yang dilantunkan dengan nada lembut.

Sang muli kemudian menjawabnya dengan Sagata pula. Terjadilah dialog sastra lisan yang halus, terukur, dan penuh adab. Dengan cara ini, tidak ada kata yang terlalu terang-terangan, tetapi setiap makna tersampaikan dengan elegan.

Contoh Sagata oleh Mekhanai

Robbikum ya robbikum

Robbikum sollu ala

Assalamualaikum

Jama niku sai di dija

Jawaban Muli

Robbikum ya robbikum

Robbikum sollu alah waalaikum

Jama niku sai di luah

Dari Sagata ini, kita melihat bahwa tradisi Ngiban bukan hanya pertemuan dua hati, tetapi juga ruang bagi sastra Lampung untuk hidup dan berkembang. Pantun-pantun ini menjadi media komunikasi yang menjaga kesopanan sekaligus memperindah suasana.

Kias: Ketika Langkah Pulang Menjadi Ungkapan Hati

Setelah pertemuan selesai, mekhanai berjalan pulang menuju batas kampung sambil melantunkan Kias, yaitu syair berbahasa Lampung yang berisi ungkapan hati. Jika cintanya diterima, Kias yang ia lantunkan bercorak bahagia. Namun bila cintanya ditolak, syairnya akan bernada sendu dan penuh kekecewaan.

Contoh Kias

Sayang hanggum diniku

Mak ngedok banding lagi

Judu semakkung liu

Gata pulipang mati

(Oleh: Imam Rojali)

Artinya:

Sayang haruku padamu

Tiada bandingnya lagi

Jodoh sebelum bertemu

Kini berpisah mati

Kias bukan sekadar syair. Ia adalah cara orang Lampung memaknai rasa; mengubah cinta, duka, rindu, atau kecewa menjadi untaian bahasa yang indah.

Ngiban: Tradisi yang Hilang, Nilai yang Tetap Hidup

Meski Ngiban sudah tidak lagi dilakukan, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya masih relevan. Kesopanan, penghormatan terhadap perempuan, kehalusan budi, dan penggunaan sastra dalam komunikasi.

Nilai-nilai ini sangat berharga untuk generasi sekarang yang hidup dalam budaya serba cepat dan langsung.

Jika tradisi seperti ini kembali dikenalkan dalam bentuk kajian budaya, festival adat, pembelajaran di sekolah, atau karya film, maka generasi muda dapat mengetahui bahwa Lampung memiliki kekayaan budaya yang tidak kalah indah dibanding budaya manapun.

Melestarikan budaya bukan berarti memaksa kembali ke masa lalu, tetapi menjaga agar nilai-nilai luhur tetap hidup dalam ingatan kolektif bangsa. Tradisi Ngiban, meskipun telah punah tetap memiliki tempat dalam sejarah dan identitas masyarakat Lampung Selatan.

Untuk mengenal lebih dekat tradisi ini, silakan menyimak film pendek yang ditulis dan disutradarai oleh Riswo, diperankan oleh siswa kelas X SMA Negeri 1 Kalianda Lampung Selatan:

**(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post