LEGENDA POHON BAMBU
Oleh: Riswo, S.E., M.Si
Pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung di daerah Kalianda, Lampung Selatan, hiduplah seorang ibu bersama tiga anaknya. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil dekat sungai yang airnya jernih dan mengalir tenang.
Ketiga anak itu bernama Bintang, Ambar, dan Budi. Ayah mereka telah lama meninggal dunia, bahkan saat sang ibu masih mengandung Budi yang bungsu. Sejak saat itu, ibu mereka bekerja sendiri untuk membesarkan ketiga buah hatinya.
Walau hidup sederhana dan serba kekurangan, keluarga kecil itu tetap penuh cinta dan kebahagiaan. Suatu sore, ketika langit mulai berwarna jingga, Bintang berkata kepada ibunya,
“Ibu, bolehkah kami pergi ke sungai untuk mencari ikan?”
Ambar ikut menimpali, “Iya, Bu. Kami ingin membantu Ibu. Nanti ikannya bisa kita masak bersama.” Budi yang paling kecil hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum.
Sang ibu tersenyum lembut. “Baiklah. Tapi ingat, jangan terlalu lama. Pulanglah sebelum magrib. Dan hati-hati di sungai.”
“Iya, Bu!” jawab mereka bersamaan.
Ketiganya pun berlari kecil menuju sungai. Airnya jernih dan banyak ikan kecil berenang di antara batu-batu. Mereka sangat gembira. Bintang menangkap ikan paling banyak. Ambar dan Budi tak mau kalah.
Tanpa terasa, matahari mulai tenggelam. Suara azan magrib pun terdengar dari kejauhan.
“Kak Bintang, ayo pulang. Sudah magrib,” kata Ambar cemas.
“Iya, Kak. Ibu pasti menunggu,” tambah Budi pelan.
Namun Bintang masih ingin mencari lebih banyak ikan. “Sebentar lagi, Dek. Lihat, kendi kita belum penuh. Setelah penuh, baru kita pulang.”
Ambar dan Budi saling berpandangan. Mereka ragu, tetapi akhirnya tetap mengikuti kakaknya. Tiba-tiba angin berembus kencang. Air sungai bergelombang. Daun-daun beterbangan. Suasana menjadi gelap dan mencekam. Lalu terdengar suara berat menggema dari arah sungai.
“Anak-anak yang tak patuh! Kalian telah melupakan pesan ibu kalian. Waktu magrib telah lewat, namun kalian masih bermain. Karena kelalaian kalian, kalian akan menjadi bambu!”
Ketiganya ketakutan. “Kami minta maaf!” teriak Ambar sambil menangis.
“Kami ingin pulang!” seru Budi.
Namun semuanya sudah terlambat. Angin berputar semakin kencang, mengelilingi tubuh mereka. Perlahan-lahan kaki mereka terasa kaku. Tangan mereka memanjang. Tubuh mereka meninggi dan mengeras. Dalam sekejap, Bintang, Ambar, dan Budi berubah menjadi tiga batang pohon tinggi yang lurus dan tidak bercabang.
Penduduk kampung terkejut melihat tiga batang pohon aneh tumbuh di tepi sungai. Pohon itu ramping, beruas-ruas, dan berayun ketika tertiup angin.
Sejak saat itu, pohon itu disebut pohon BAMBU, singkatan dari nama mereka: Bintang, AMbar, dan BUdi.
Konon, jika hujan turun disertai angin kencang, bambu-bambu di tepi sungai akan bergesekan dan mengeluarkan suara lirih seperti tangisan. Orang-orang tua di kampung percaya, itu adalah tangisan Bintang, Ambar, dan Budi yang menyesali kesalahan mereka karena tidak mematuhi pesan ibu.
Sejak legenda itu tersebar, anak-anak di kampung tidak pernah lagi berani bermain hingga larut magrib. Mereka selalu ingat untuk pulang tepat waktu. Karena bermain itu boleh, membantu orang tua itu baik, tetapi mendengarkan pesan ibu adalah yang paling utama.
Dan hingga kini, jika kita mendengar suara bambu berderit tertiup angin, mungkin itu adalah pengingat agar kita selalu patuh dan tidak menunda kebaikan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
