LEGENDA GUNUNG RAJABASA
Oleh : Riswo, S.E., M.Si.
Pada zaman dahulu, di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Kahuripan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, berdirilah sebuah keratuan yang disegani. Keratuan itu dipimpin oleh seorang raja muda yang bijaksana bernama Ratu Darah Putih.
Ratu Darah Putih adalah putra dari seorang tokoh besar, Sunan Gunung Jati, dan ibunya adalah Putri Sinar Alam dari Keratuan Pugung di Lampung Timur. Dari darah kedua orang tuanya, mengalir kebijaksanaan, keberanian, dan kesaktian. Kerajaan yang dipimpinnya dikenal dengan nama Keratuan Darah Putih, sebuah negeri yang makmur dan damai.
Namun suatu hari, hati sang raja muda terpikat oleh kecantikan seorang putri dari tanah jauh. Ia adalah Putri Tun Penatih, putri dari Kesultanan Aceh. Kabar tentang kecantikan dan kelembutan budi sang putri telah lama terdengar hingga ke Lampung. Akhirnya Ratu Darah Putih mengirim utusan untuk menyampaikan pinangannya.
Beberapa waktu kemudian, Putri Tun Penatih datang ke Keratuan Darah Putih. Sang putri menyambut lamaran itu dengan tenang, namun ia mengajukan sebuah syarat. Putri Tun Penatih berkata dengan lembut kepada sang raja.
“Wahai Ratu Darah Putih, aku tidak menolak pinanganmu. Namun ada satu syarat yang harus engkau penuhi.”
Ratu Darah Putih menatapnya penuh harap. “Sebutkanlah syarat itu, wahai Putri. Selama aku mampu, akan kupenuhi.”
Putri Tun Penatih lalu berkata, “Aku ingin sebuah danau yang indah sebagai tempat aku mandi. Di sana juga harus ada tempat berganti pakaian untukku dan para gadis yang menemaniku.”
Ratu Darah Putih tersenyum. “Jika hanya itu permintaanmu, maka akan kuusahakan.” Namun diam-diam ia menyadari bahwa membuat sebuah danau bukanlah perkara mudah. Dalam kebingungannya, ia memohon petunjuk kepada ayahnya, Sunan Gunung Jati. Sang ayah kemudian menurunkan sebuah ilmu yang sangat sakti kepada putranya. Ilmu itu bernama Ajian Raja Bahasa.
Sunan Gunung Jati berpesan, “Anakku, ajian ini terletak pada lisanmu. Apa pun yang engkau ucapkan dengan niat yang kuat, akan menjadi nyata. Tetapi gunakanlah dengan bijaksana.”
Ratu Darah Putih menundukkan kepala. “Aku akan menjaganya dengan sebaik-baiknya, Ayahanda.”
Dengan ajian tersebut, Ratu Darah Putih kemudian berdiri di sebuah lembah sunyi. Ia memejamkan mata dan mulai komat-kamit mengucapkan ajian Raja Bahasa. Tak lama kemudian, bumi bergetar pelan.
Tiba-tiba muncul sebuah danau yang jernih dan indah. Airnya tenang seperti kaca. Di tepinya berdiri sebuah batu besar yang dapat berubah sesuai kebutuhan. Batu itu kemudian dinamakan Batu Cukup, karena selalu cukup untuk apa pun yang dibutuhkan.
Ketika melihat danau itu, Putri Tun Penatih sangat gembira. “Danau ini sangat indah,” kata sang putri.
“Aku belum pernah melihat tempat seindah ini.”
Sejak saat itu Putri Tun Penatih sering mandi di danau tersebut bersama para gadis pengiringnya. Namun suatu hari, ketika mereka sedang mandi, tiba-tiba ombak laut di pesisir bergolak hebat. Dari kejauhan, terdengar suara tawa yang menggelegar. Ternyata penguasa laut di sepanjang pesisir merasa terusik oleh kehadiran sang putri.
Putri Tun Penatih dan para pengiringnya ketakutan. “Cepat kita kembali ke keratuan!” kata salah satu pengiringnya.
Dengan wajah pucat, Putri Tun Penatih segera kembali dan menceritakan kejadian itu kepada Ratu Darah Putih.“Tuanku,” kata Putri Tun Penatih dengan cemas,
“ketika aku mandi di danau, ada penguasa laut yang mengganggu kami. Kami sangat ketakutan.”
Mendengar cerita itu, wajah Ratu Darah Putih berubah murka. “Tidak seorang pun boleh mengganggu putri!” katanya dengan suara tegas. Ia kemudian berdiri menghadap ke arah laut. Bibirnya mulai komat-kamit mengucapkan Ajian Raja Bahasa.
Angin bertiup kencang. Tanah bergetar. Dari sepanjang pesisir, tanah perlahan-lahan terangkat ke langit. Dalam sekejap, berdirilah sebuah gunung besar yang menjulang tinggi, seolah menjadi dinding raksasa antara daratan dan lautan. Gunung itu kemudian dikenal dengan nama Gunung Rajabasa.
Sejak saat itu, penguasa laut tidak pernah lagi mampu mengganggu Putri Tun Penatih. Gunung besar itu menjadi pelindung bagi negeri Keratuan Darah Putih. Putri Tun Penatih pun dapat mandi dengan tenang di danau yang diciptakan oleh Ratu Darah Putih.
Keratuan Darah Putih tetap hidup dalam kedamaian, dan kisah tentang kesaktian Ajian Raja Bahasa serta berdirinya Gunung Rajabasa terus diceritakan turun-temurun oleh masyarakat Lampung hingga hari ini.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
