Kas Pani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Cerpen Wangi Melati yang Hilang

Cerpen Wangi Melati yang Hilang

Cerpen

Wangi Melati yang Hilang

* Kas Pani

Indri mendekatkan hidungnya ke pipi lelaki itu. Ada aroma melati berhembus dari napasnya, lembut, meresap, seperti doa yang ia sematkan setiap malam. Tapi tak ada reaksi. Lelaki itu lelap.

Diulanginya lagi. Hidungnya nyaris menyentuh kulit pipi yang mulai ditumbuhi janggut tipis. Juga tak ada reaksi.

Kali ketiga. Sama. Tak ada reaksi.

Mas Pri benar-benar lelap dalam tidurnya. Mungkin kelelahan, gumam Indri perlahan. Menjelang subuh, suaminya itu tiba dari Medan dengan bus malam. Tiga hari meninggalkan rumah, katanya ada keperluan dinas.

Indri memanggil pria bertubuh sedang itu dengan Mas Pri, bukan karena ia orang seberang, tapi atas permintaan Mas Pri sendiri.

"Panggil saja aku Mas Pri," ucapnya saat perkenalan pertama di sebuah pesta pernikahan teman. Waktu itu Supriyono tersenyum lebar, khas pria desa yang hangat. Sejak itu Indri selalu memanggilnya Mas Pri, hingga ke pelaminan mereka.

Kini usia pernikahan mereka merangkak di tahun ketiga. Belum ada momongan. Ingin sekali Indri mendengar tangisan bayi di rumahnya, suara yang dapat mengusik kelelapannya sebagai ibu. Tapi harapan itu tinggal mimpi. Dokter menyampaikan dengan hati-hati, ada sesuatu di rahim Indri yang mustahil untuk dilalui seorang bayi keluar. Saat itu Indri terpukul, lalu pasrah. Apa lagi yang bisa ia perbuat selain menerima?

Sebelum Indri melangkah ke luar kamar, kembali ia menatap pria yang lelap itu. Ada perasaan lain, sedih, bahagia, sekaligus takut. Apakah takut ditinggalkan? Entahlah.

Pernah menggantung di benak Indri untuk merelakan Mas Pri mencari perempuan lain yang lebih subur, tanpa harus menceraikannya. Niat itu ia urungkan. Bukan karena egois, tapi karena ia tahu Mas Pri bukan tipe laki-laki yang tega. Atau begitulah Indri meyakinkan dirinya.

Di posisi ini ia serba salah. Antara bertahan atau merelakan Mas Pri jadi milik perempuan lain.

Aku mesti kuat, ungkap batinnya.

Hari berjalan seperti melambat. Indri bertahan dengan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga. Ia masakkan nasi uduk kesukaan Mas Pri setiap pagi. Ia setrika kemeja kantornya dengan rapi. Ia diamkan rasa cemas yang menggerogoti dadanya setiap malam.

Hingga seminggu setelah dinas dari Medan, Indri merasakan perubahan. Mas Pri mulai dingin, sedikit acuh. Pulang kantor biasanya sore, tapi kini mulai malam. Wangi pakaiannya pun berbeda, ada parfum floral yang tidak pernah Indri belikan. Bukan melati yang biasa ia semprotkan ke bantal suaminya, melainkan aroma lain yang lebih tajam, lebih asing.

Apakah Mas Pri punya perempuan lain? Pikiran Indri melayang.

Jangan-jangan Mas Pri selingkuh? Duganya membuat tubuhnya gemetar. Sebagai perempuan yang di posisi lemah, wajar ia takut. Tapi ia mencoba melawan ketakutan itu. Setiap malam ia masih mendekatkan hidungnya ke pipi Mas Pri, masih menghembuskan aroma melati dari napasnya, berharap suaminya itu sadar bahwa ia masih bersama Indri.

Hingga pada suatu hari yang mendung, Mas Pri mengajaknya bicara di ruang tamu. Langit di luar jendela kelabu, seperti ikut menahan napas.

"Indri," Mas Pri memulai dengan suara yang bergetar, "izinkan aku menikah lagi."

Bagai halilintar di siang hari, Indri mendengar permintaan itu. Bayangan yang dulu bergantung di otaknya kini terbukti, sekalipun ia sudah menduganya. Tapi kenyataan tetap tak sanggup dihadapi.

Indri hanya tertunduk diam. Seakan darah tak mengalir di tubuhnya. Ia mati rasa. Hanya lelehan air mata yang membasahi pipinya, hangat namun terasa dingin.

Mas Pri mencoba meraih tangannya. "Dia perempuan Kota Medan. Aku tidak sengaja, dia telah mengandung anakku."

Kata anakku itu seperti pisau. Indri menarik tangannya perlahan. Ia berdiri, berjalan ke kamar, meraih botol parfum melati dari meja riasnya. Ia menyemprotkannya ke udara, menghirup dalam-dalam. Wangi itu dulu selalu membuatnya tenang. Kini hanya terasa perih.

Ia buka lemari. Mulai memasukkan pakaiannya ke koper. Bukan karena marah atau menyerah.

Indri sadar, kadang cinta tak harus bertahan di tempat yang sama. Kadang cinta adalah membiarkan seseorang bahagia di pelukan lain, sekalipun itu menghancurkan perlahan.

Sebelum melangkah keluar rumah, ia kembali ke kamar. Mas Pri masih duduk di ruang tamu dengan kepala tertunduk. Indri mendekati tempat tidur, bukan berniat tidur sungguhan, tapi dia ingin merasakan adakah kehangatan di mana dulu mereka biasa berbagi mimpi. Ia mencium bantal itu. Wangi melati mulai memudar.

Selamat tinggal, Mas Pri.

Ia tidak tahu apakah suaminya mendengar. Tapi biarlah. Untuk terakhir kalinya, Indri berbisik pelan,

"Aku merelakanmu. Tapi jangan pernah minta aku melihat pernikahanmu. Karena sekuat apa pun, aku tak sanggup, aku terlalu rapuh. "

Pintu rumah tertutup perlahan. Hujan mulai turun di luar. Dan di dalam rumah yang sunyi, Mas Pri menangis untuk pertama kalinya, menyadari bahwa kehilangan bukan hanya tentang siapa yang pergi, tapi tentang aroma melati yang tak akan pernah kembali.]]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post