Etos Kerja Tenaga Kependidikan dan Non kependidikan.
Etos Kerja Tenaga Kependidikan dan. NON kependidikan.
Oleh : Kas Pani, M.Pd *
Ada 3 Kata Kunci dalam makalah ini, yaitu Etos Kerja, Tenaga Kependidikan dan Non Kependidikan.
Istilah atau sebutan Tenaga Kependidikan dan Non Kependidikan kita ganti saja kata yang sesuai dengan regulasi atau peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang sering di singkat PTK, atau bisa juga GTK, Guru dan Tenaga Kependidikan.
Siapa Pendidik ? Pendidik adalah mereka yang diberi wewenang atau bertanggung jawab terhadap perkembangan potensi peserta didik baik kognitif ( pengetahuan ) afektif (sikap ) maupun psikomotorik ( keterampilan ).
Pendidik adalah para profesional. Mereka bisa saja guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, instruktur dan fasilitator.
Sedangkan Tenaga Kependidikan, adalah Anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.
Mereka bisa dari Wakil kepala sekolah yang mengurus bagian tertentu, pengawas sekolah, pustakawan, laboran, penjaga sekolah, dan petugas kebersihan. Artinya, Tenaga Kependidikan bukan mereka yang berdiri di ruang kelas atau mendidik siswa. Walaupun tidak mengajar dan mendidik, tenaga kependidikan besar kontribusinya atas terselenggaranya proses dan mutu pembelajaran.
Etos Kerja PTK
Menurut Wikipedia, Etos kerja adalah sebuah nilai yang didasarkan pada kerja keras dan ketekunan. Etos kerja biasanya mencakup nilai-nilai seperti disiplin, kerja keras, tanggung jawab, dedikasi, kerjasama, integritas, dan kejujuran. Bisa juga mencakup aspek-aspek produktivitas, inovasi, motivasi, dan komitmen terhadap tujuan organisasi.
Pengertian lain, etos kerja dapat juga dimaknai sebagai semangat, pola pikir dan mentalitas yang mewujud menjadi seperangkat perilaku kerja yang khas dan berkualitas.
Menurut bapak Etos Indonesia, Jansen Sinamo dalam bukunya, Ehos 21, Etos kerja adalah elemen paling primer, ibarat pohon, katanya, etos kerja adalah akarnya, pengetahuan adalah batangnya, dan keterampilan organisasional adalah daun dan rantingnya. Sedangkan uang dan barang-barang material adalah buahnya.
Jadi, dengan etos yang baik (akar yang baik ) seseorang bisa membangun dan meningkatkan pengetahuannya ( batang ). Berdasarkan pengetahuan yang ditopang oleh etos kerja yang baik tersebut, selanjutnya keterampilan organisasional bisa dibangun pula ( ranting dan daun ). Dari ketiga komponen primer inilah kemudian dibangun barang dan jasa yang berguna bagi kehidupan.
Tapi perlu diingat, urutan ini tidak bisa dibalik. Artinya, tanpa ketiga komponen primer itu, kinerja dan buah-buah material dan jasa tidak akan muncul. Tanpa etos kerja dan pengetahuan, keterampilan tidak bisa dibangun. Dan tanpa etos kerja yang kuat, pengetahuan tidak bisa dibangun. Jadi tegasnya, etos kerja merupakan komponen sukses yang paling primer ( utama ).
Puncak dari etos kerja adalah kesuksesan dan keberhasilan baik keberhasilan pada tingkat personal, organisasional, maupun sosial. Dengan kata lain etos kerja adalah fondasi keberhasilan yang oleh E.F. Schumacher menyebutnya Sumber Daya Manusia ( SDM ).
Pada lembaga pendidikan seperti sekolah, paling tidak ada 2 jenis SDM disana, yaitu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Seperti yang telah saya paparkan sebelumnya, pendidik sebutan lain dari guru. Guru adalah profesi mulia.
Di depan para guru, saya sering sampaikan, profesi guru adalah pekerjaan para nabi dan rasul. Karena mendidik, mengajar, dan memberi keterampilan adalah risalah nabi dan rasul itu sendiri.
Beruntunglah, bagi orang - orang menceburlan dirinya dalam profesi ini. Mereka telah menjadi orang terpilih mendedikasikan waktu dan tenaga untuk membangun peradaban melalui pendidikan.
Tentu saja, apa yang saya katakan ini tidak mewakili pikiran sebagian besar guru. Masih ada, pola pikir ( mindset ), bahwa menjadi guru adalah pekerjaan yang melelahkan dan membosankan. Apa lagi guru di era digital.
Sekarang ini tugas guru sebagian besar dipusingkan dengan tugas -tugas non teknis pembelajaran, mereka nyaris jarang berada di ruang-ruang kelas bersama murid-muridnya, tetapi lebih pada penyiapan teknis administrasi pembelajaran seperti pembuatan rencana pembelajaran berlembar-lembar, ikut Webinar, dan membuat aneka jenis laporan yang mesti diisi pada platform merdeka mengajar ( PMM ) yang sifatnya personal.
Mental seperti inilah yang membuat oknum guru tidak mampu menikmati profesia mulia ini. Imbasnya, guru kehilangan inovasi dan kreativitas diri dalam profesinya.
Inovasi dan kreativitas adalah komponen dari Etos Kerja. Seorang guru yang memiliki etos kerja yang baik, tidak akan merasa puas kalau hanya memindahkan isi text book ke kepala murid-muridnya. Begitu pula, guru yang punya etos kerja tinggi tidak akan merasa hebat kalau murid-muridnya dapat nilai rata-rata di atas 80, tetapi, sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif, namun kurang menguasai semua subjek pembelajaran.
Yang kita butuhkan saat ini adalah guru-guru yang punya inovasi, kreativitas, disiplin, jujur, profesional penuh dedikasi akan tugasnya, dan motivasi besar untuk kemajuan anak didiknya.
Sebagai kepala sekolah atau guru, bapak/ibu sangat tahu benar, mana Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang beretos kerja tinggi mana yang rendah. GTK yang beretos kerja tinggi, merupakan aset sejati bagi sekolah, sedangkan yang beretos kerja rendah adalah sumber masalah dan penyakit, membuat pusing kepala sekolah, rekan guru, dan bikin marah orang tua murid.
GTK Beretos Kerja Tinggi
Di kesempatan ini, saya akan memberikan indikator atau penanda mana GTK yang memiliki etos kerja tinggi dan mana GTK yang beretos kerja yang rendah.
Pertama, GTK beretos kerja tinggi, ia bagian dari penyelesaian masalah, andalan bagi sekolah untuk mengejar prestasi. Sedangkan GTK beretos kerja rendah, adalah bagian dari masalah itu sendiri, tidak bisa diandalkan untuk kemajuan sekolah, karena mentalnya didominasi oleh pikiran, " apa untungnya bagi ku. "
Kedua, GTK beretos kerja tinggi, ia bekerja penuh semangat, I am doing my best, my utmost. Yang beretos kerja rendah, bekerja seadanya, ala kadarnya, minimalis, bahkan kerjanya tidak bermutu.
Ketiga, GTK beretos kerja tinggi memiliki disiplin tinggi, sehingga ia bisa menjadi contoh bagi orang lain. Ia bersemangat, menularka antusiasme kepada orang-orang di sekitarnya. Tetapi GTK yang etos kerjanya rendah bersikap seenaknya, lesu darah, malas dan suka mencari kambing hitam. Ia juga suka menebarkan virus beracun, yaitu kebiasaan " 5 M " ( mengeluh, mengedumel, menggosip, mengomel, dan mengeyel ).
Keempat, GTK beretos kerja tinggi berani menghadapi masalah, kreatif memecahkan masalah, dan jeli melihat peluang dalam setiap kesulitan. Tetapi GTK yang beretos kerja rendah mudah menyerah, tidak kreatif, dan selalu melihat kesulitan dalam setiap peluang.
Kelima, GTK beretos kerja tinggi, maju kariernya. Karena ia rajin belajar, gemar berguru, dan senang mengasah kemampuan dirinya. Sedangkan GTK beretos kerja rendah, lambat majunya, karena malas belajar, tidak suka berguru, dan tidak mau memperbaharui keterampilannya.
Keenam, GTK beretos kerja tinggi, datang ke sekolah lebih awal dan pulang lebih sore sampai tugasnya tuntas. GTK beretos kerja rendah, selalu datang terlambat, senang sekali curi waktu, tidak sabar menunggu jam sekolah usai, dan sangat senang jika ada hari libur.
Ketujuh, GTK beretos kerja tinggi punya sense of belonging, kepedulian yang besar terhadap lingkungan sekolahnya. Ia pelihara, ia rawat sekolahnya dengan sikap menyayangi. Tetapi GTK yang beretos kerja rendah ia tidak peduli dengan sekolah, ia punya semboyan EGP, emangnga gue pikirin.
Kedelapan, GTK beretos kerja tinggi, tidak butuh pengawasan. Ada atau tidaknya kepala sekolah atau pengawas sekolah datang ke sekolah, ia dengan sungguh hati menjalankan tugasnya. Sedangkan GTK beretos kerja rendah, bagaikan kuda liar yang selalu memerlukan tali kekang.
Kesembilan, GTK beretos kerja tinggi, hatinya dipenuhi emosi gembira, semangat, dan sukacita dengan loyalitas yang tulus. Tetapi, yang beretos kerja rendah tidak pernah puas, selalu resah.
Kesepuluh, GTK beretos kerja tinggi dapat berkonsentrasi pada tugasnya, sehingga hasil kerjanya bermutu baik. Sebaliknya GTK beretos rendah, gampang kejangkitan isu, takut dengan banyak hal, cepat bosan, dan suka berpikir negatif.
Selain sepuluh macam indikator GTK disebut sebagai aset sekolah, ada delapan etos keguruan yang harus dimiliki seorang guru profesional, yaitu :
1. Etos Belajar - Guru harus senantiasa belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensinya.
2. Etos Mengajar - Guru harus memiliki semangat dan dedikasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas mengajar.
3. Etos Melayani - Guru harus memiliki sikap melayani dan membantu siswa dengan tulus.
4. Etos Disiplin - Guru harus disiplin dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
5. Etos Kreatif - Guru harus kreatif dalam menyampaikan materi dan membuat pembelajaran yang menarik.
6. Etos Inovatif - Guru harus terbuka pada ide-ide baru dan melakukan inovasi dalam pembelajaran.
7. Etos Komitmen - Guru harus memiliki komitmen yang kuat dalam menjalankan profesinya.
8. Etos Bertanggung Jawab - Guru harus bertanggung jawab atas seluruh proses dan hasil pembelajaran.
Yang jadi pertanyaan, etos kerja yang bagaimanakah yang dibutuhkan agar GTK kita sukses dan menjadi pemenang di era digital ini ?
Jansen H Sinamo dalam bukunya, 8 Etos Kerja, menyebutkan, " kita membutuhkan seperangkat etos kerja positif yang ia sebut dengan Roh Keberhasilan.
Etos 1 : Kerja adalah Rahmat ; Aku bekerja tulus penuh syukur.
Etos 2 : Kerja adalah Amanah ; Aku bekerja benar penuh tanggung jawab.
Etos 3 : Kerja adalah Panggilan ; Aku bekerja tuntas penuh integritas.
Etos 4 : Kerja adalah Aktualisasi ; Aku bekerja keras penuh semangat.
Etos 5 : Kerja adalah Ibadah ; Aku bekerja serius penuh kecintaa.
Etos 6 : Kerja adalah Seni ; Aku bekerja kreatif penuh suka cita.
Etos 7 : Kerja adalah Kehormatan ; Aku bekerja tekun penuh keungguln.
Etos 8 : Kerja adalah Pelayanan ; Aku bekerja sempurna penuh kerendahan hati.
Inilah beberapa pemikiran saya berkaitan Etos Kerja Pendidik dan Tenaga Kependidikan, yang apabila diaplikasikan kepada para GTK, khususnya 8 Etos Kerja Profesional akan memberikan dampak besar bagi kemajuan pendidikan di Aceh.3
* Ketua MKPS SMA/SLB/ SMK Cabdindik Wil. Kabupaten Aceh Singkil
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
