Kas Pani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kerutan Bercerita, Namun, Tawa Tak Tua

Kerutan Bercerita, Namun, Tawa Tak Tua

Kerutan Bercerita, Namun, Tawa Tak Tua

* Kas Pani

Aku menatap wajah mereka satu per satu. Ada yang ku kenali dari senyumnya, ada yang baru kukenali setelah mataku menyipit lama. Di pantai itu, Pantai Lhok Rukam, waktu seperti berhenti, tapi juga sekaligus berlari kencang, meninggalkan jejak di sudut wajah kami.

" Kita memang sudah tua, " desah ku pelan.

Kerutan-kerutan halus itu tak bisa dipungkiri, meski riasan dan skincare modern berusaha menyembunyikannya. Dulu, kami berlari di lapangan sekolah dengan langkah lebar, berlomba mengejar bola atau sekadar mengejar angin siang. Kini, langkah-langkah itu memendek. Tak setegap dulu. Pinggang yang dulu tegap kini mulai terbungkuk oleh waktu dan beban hidup.

Tapi anehnya, di balik semua itu, keceriaan tetap ada. Malah terasa lebih hangat dari yang kuingat.

Reuni Akbar Alumni SPG Negeri Tapaktuan beberapa hari lalu menjadi saksi. Kafe Bunda yang dipenuhi umur lima puluh tahun lebih berdesir oleh tawa. Bukan tawa malu-malu remaja, tapi tawa pecah yang keluar dari dada-dada yang telah banyak menahan sesak. Ada yang tertawa sampai menitikkan air mata, lalu buru-buru menyekanya, karena tak ingin ketahuan menangis.

" Kau masih senang baca puisi dan menulis ya, " seru seorang teman setelah aku membacakan obituari seorang guru.

" Kau sendiri masih suka melawak, " balasku sehingga membuat pondok yang kami tempati seperti meledak.

Kami tertawa untuk hal-hal kecil. Untuk kenangan yang dulu terasa biasa, tapi kini terasa seperti harta karun. Untuk nama-nama guru yang dulu kami takuti, yang kini kami kenang dengan doa. Untuk bangku-bangku kayu di kelas yang dulu terasa keras, yang kini kami rindukan.

Di sela obrolan, seorang teman membuka cerita lama. Kami berkerumun mendengarkannya, apalagi ia tukang cerita penuh humor. Wajah-wajah yang tak lagi mulus dengan rambut yang mulai memutih senyum tanpa beban. Ada yang terkekeh dan ada yang terdiam lama.

"Kita benar-benar muda dulu, ya?" bisik seorang di sebelahku.

"Dan kita benar-benar tua sekarang," jawabku.

Dia menepuk pundakku. "Tapi semangat kita? Lihatlah. Masih sama."

Dan dia benar. Ketika kami menyanyikan lagu-lagu lama yang dulu sering kami nyanyikan di ruang kelas, suara-suara serak itu justru terdengar lebih berisi. Ada getar di dalamnya dan rasa syukur.

Kami memang tidak segagah dan secantik dulu. Rambut memutih, kulit mengendur, punggung mulai melengkung. Tapi semangat itu tidak pernah pudar. Malah mengilap, karena telah ditempa oleh waktu dan segala liku kehidupan yang dilalui.

Saat acara hendak usai, kami foto bersama, mungkin bisa jadi kenangan. Kami berjabat tangan. Dulu, kami tangan ini untuk berdoa sebelum ujian. Kini, kami berjabat tangan untuk berdoa bagi satu sama lain, agar sehat, panjang umur, dan dipertemukan kembali.

Saat berjabat tangan itu,, aku menatap mereka sekali lagi. Kerutan di wajah bukan lagi tanda tua, bagiku hari itu, kerutan adalah peta. Peta dari perjalanan yang mereka tempuh dan lalui dari suka. Dan aku merasa terhormat, masih bisa membaca peta itu bersama mereka.

Sore sudah menjemput. Satu per satu pamit pulang. Ada pelukan erat yang terasa lebih bermakna dari ratusan jabat tangan.

"Jaga dirimu, kawan."

Aku melambaikan tangan sambil menuju Avanza tua yang terparkir di depan kafe. Langit Lhok Rukam bercahaya, dan deburan ombak terdengar sesekali. Ada kehangatan di dadaku.

Kita memang sudah tua. Tapi tua bukanlah akhir. Tua adalah bukti kita masih bisa bertahan. Makanya kita masih di sini. Kita masih punya tawa untuk dibagikan, cerita untuk dikenang, dan semangat untuk terus melangkah, meski langkah itu kini pendek-pendek.

" Kawan semangat tak mengenal usia. Dan persahabatan sejati tak pernah pudar oleh waktu, " bisikmu sendiri sambil menutup pintu mobil.]]

Hotel Dian Rana Tapaktuan, 22 Juni 2026.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post