Kas Pani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
LITERASI BUKAN SEKADAR MEJENG ATAU NGECENG

LITERASI BUKAN SEKADAR MEJENG ATAU NGECENG

Literasi Bukan Sekadar Mejeng atau Ngeceng

Kas Pani

Di tengah ramainya obrolan warung kopi, seorang kawan melontarkan sindiran khas Jakarta, “ Literasi sekarang mah banyak yang cuma buat mejeng atau ngeceng aja. Kelihatan keren bawa buku, tapi isinya nggak dibaca ! “

Memang, di era media sosial, ada godaan besar untuk menjadikan literasi sekadar aksesori, simbol agar "terlihat" orang berpendidikan, tanpa benar-benar menghayati isinya.

Tapi bagi sebagian orang, membeli buku bukan sekadar gaya-gayaan. Ada upaya nyata untuk belajar, meski harga buku kerap melangit dan kebutuhan hidup lain terus menuntut prioritas.

Seperti yang kulakukan hari ini, tiga buku masuk ke dalam tas belanjaan, Teach Like Finland karya Timothy D. Walker, Menjadi Guru Hebat, tulisan Robert Bala, dan novel sastra, Cantik Itu Luka daru Eka Kurniawan. Bukan untuk dipajang di rak, tapi untuk dibaca, dicerna, dan semoga diamalkan.

Harga buku semakin mahal, beberapa judul bisa mencapai Rp150 ribu hingga Rp300 ribu per eksemplar, membeli buku bukanlah keputusan yang sembrono. Bagi banyak orang, ini adalah komitmen.

Gaji saya sebagai pengawas sekolah pas-pasan. Tapi setiap bulan, saya sisihkan sedikit uang untuk beli buku pendidikan. Kadang harus nabung beberapa bulan baru bisa dapat satu buku bagus.

Inilah realitanya, di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik, buku seringkali terpaksa dinomor-sekiankan. Tapi justru di situlah letak keteguhan hati pembeli. Mereka rela mengorbankan jatah kopi atau nongkrong demi sebuah buku biasanya bukan sekadar pencari penampilan, mereka pembelajar sejati.

Ketiga buku yang kubeli, telah lama aku incar, tapi baru kali ini bisa belinya. Teach Like Finland kupilih, karena ingin memahami metode pendidikan negara dengan sistem terbaik di dunia ini. Menjadi Guru Hebat adalah investasi untuk mengasah profesi sebagai pendamping guru.

Sementara Cantik Itu Luka, adalah mempertajam bagaimana sastra bisa mengajarkan kita tentang sejarah, manusia, dan kehidupan.

Buku-buku semacam ini tidak dibeli untuk difoto lalu dilupakan. Dan juga bukan cuma pamer buku di story, tapi dibaca sampai habis.

“ Biar nggak cuma ngeceng, tapi juga ngeh, “ ungkap orang Betawi.]]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post