MENYULUT API KASIH SAYANG DI SEKOLAH
Menyulut Api Kasih Sayang di Sekolah
* Kas Pani
Beberapa waktu lalu, kita disentakkan dengan berita, seorang murid SMP di Pringsurat, Temanggung, Jawa Tengah nekat membakar sekolahnya sendiri. Pelaku oknum murid pakaian putih biru itu menyentakkan kesadaran kita. Sudah sebegitu nekat dan beraninya murid-murid saat ini, sehingga gedung tempat dia mencari ilmu dibakarnya.
Di zaman ketika saya menjadi murid dulu, bila sedang tidak suka atau jengkel sama guru, paling beraninya hanya sebatas corat-coret dengan kata makian. Kalau pun kadung sakit hati, paling-paling dinding sekolah dilumer ( maaf ) dengan taik, itu pun keberanian yang sudah luar biasa.
Terlepas apapun asbabul nuzul murid membakar sekolah, corat-coret, dan melumer dinding sekolah dengan "sesuatu " tentu sangat disesali, apalagi pelakunya murid sekolah itu sendiri, yang nota benenya diharapkan kelak oleh gurunya menjadi manusia yang berperilaku santun dan berbudi pekerti luhur.
Tetapi, secara jujur tidak bisa juga dipungkiri, perilaku violence dari siswa juga berkaitan dengan kontribusi dari fenomena lingkungan murid yang tidak kondusif. Sekolah sebagai salah satu varian, ternyata belum mampu memberikan rasa nyaman dalam diri murid-muridnya. Perilaku membully, mengolok-olok, mengejek, memeras, dan mengoroyok sebagai indikator hingga hari ini sekolah belum menjadi ekosistem pendidikan yang baik.
Kenyataannya, sekolah nyaman dan bebas bully yang digembar-gemborkan masih sebatas angan dan mimpi yang belum tahu kapan terwujudnya.
Sangat utopis, bila perilaku pelaku pendidikan belum mau berubah dan selalu berpikir seolah-olah sudah berubah. Pada hal masih berputar dan lingkaran itu-itu saja.
" Zaman boleh saja berubah, tapi tradisi kekerasan yang telah berakar tidak begitu saja nyisih oleh perubahan zaman, " kata Bre Redana di sebuah tulisannya.
Kalau begitu, apa yang perlu dilakukan ? Sebuah pertanyaan sederhana tapi jawabannya sangat jelimet.
Paling tidak, solusi alternatif harus ada dalam menapaki arus zaman yang makin edan ini.
Menyulut kembali api kasih sayang, mengayom, mendinginkan suasana bathin murid adalah salah satu solusi. Contoh teladan, adalah perilaku yang paling solutif dari pada kalimat-kalimat beku yang hanya bermakna dikertas atau kata pemanis kalau cuma sekedar life servis, ingarso sung tulodo, kata Kihajar Dewantara, yang di depan -- pemimpin sebagai teladan.
Lebih indah berkata baik dari pada kata-kata yang menyakitkan, menusuk jantung hati anak. Kompetensi pedagogik dan memahami psikolgi anak sudah saat diaplikasikan seorang guru ketika berhadapan dengan muridnya. Sehingga asumsi murid cari perhatian ( caper ) akan nihil diucapkan oleh seorang pendidik. ]]
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
