SEMOGA TIDAK ADA YANG BERCELOTEH, 'BICARA SIH, MUDAH ! '
SEMOGA TIDAK ADA YANG BERCELOTEH, "BICARA SIH, MUDAH
Kas Pani
Kemarin, Senin 15/06/2026, saya didaulat sebagai nara sumber pelatihan strategi guru dalam meningkatkan literasi murid. Pelatihan yang dilaksanakan oleh guru SMA Negeri 1 Danau Paris Kabupaten Aceh Singkil ini sebagai realisasi program guru belajar bersama.
Di awal paparan, untuk mengetahui kondisi capaian literasi murid, saya menanyakan data literasi hasil TKA dan Rapor Pendidikan. Ternyata dari jawaban, indikator literasi dan numerasi masih berwarna merah dan tahun ini mengalami penurunan.
Dari latar belakang inilah, saya sampaikan perlu ada strategi untuk meningkatkan literasi para murid sekolah ini.
" Selain meningkatkan mutu pembelajaran, guru perlu ada strategi untuk meningkatkan capaian literasi. Bukan hanya sekadar meningkatnya nilai, tetapi bagaimana caranya kegiatan literasi ini menjadi budaya di sekolah, keluarga dan masyarakat. "
Karena itu, saya memberi beberapa strategi yang dapat mereka lakukan.
Literasi bukan hanya sekadar membaca dan menulis, kata kunci yang saya lemparkan kepada guru.
" Kalau begitu, apa? " Tanya saya memantik pengetahuan mereka.
Diskusi dimulai. Salah seorang guru menanggapi.
" Lebih dari sekadar membaca dan menulis, literasi adalah kemampuan murid untuk memahami, menilai dan menggunakan informasi secara cerdas dalam hidup sehari-hari. "
" Konkretnya, bagaimana? " Kejar saya atas tanggapan tersebut.
Di pojok kelas, seorang peserta menjelaskan, " Dari bacaannya seorang murid juga dituntut berpikir kritis dan mampu menyaring hoaks dan berita palsu. "
"Seorang murid juga harus memahami pelajaran dengan lebih baik dan bermakna, dan literasi juga sebagai bekal hidup di era banjir dan data dan informasi." Tambah seorang ibu guru dengan semangat.
Saya terbengong-bengong, bercampur kagum atas jawaban para guru.
" Iya, pelatihan sampai di sini. Ternyata ibu dan bapak guru telah memahami literasi, kita bubar saja, " Saya pura-pura keluar kelas.
Hanya bercanda. Saya masuk kembali. Tapi, Tiba-tiba guru yang duduk di pojok kelas berdiri.
" Bagaimana cara kami untuk meningkatkan literasi di kalangan murid, apa strategi yang kami lakukan? " tanyanya ingin tahu.
Saya menatap wajah keingintahuan itu. Pointer ditangan saya tekan. Muncul judul slide seperti pertanyaan itu.
Saya jelaskan, lemahnya literasi murid, karena mereka malas membaca. Ada beberapa penyebabnya.
" Buku, bisa saja bagi murid membosankan karena tampilan yang kurang menarik, gadget dan game buat mereka lebih menarik, membaca selalu dikaitkan dengan PR, ujian dan laporan panjang, dan tidak ada contoh dari orang tua dan guru untuk membaca. "
Sebagai solusinya, saya menawarkan kepada para guru, untuk membuat dan membenahi pojok baca. Selain itu, gerakkan kembali gerakan 15 menit membaca. Dan tak kalah pentingnya guru sebagai role model. Tak bisa diabaikan, tantang para murid untuk membaca lebih banyak dengan membentuk kelompok - kelompok kecil, tugaskan murid untuk membuat video review buku satu menit, membuat jurnal, dan jangan lupa libatkan orang tua murid.
Strategi itu, saya jelaskan dengan cara mendalam dengan memberi contoh konkret yang bisa dilakukan oleh guru.
Di akhir pertemuan, saya berpesan kepada para guru, untuk menciptakan ekosistem literasi yang hidup, bukan sekadar perpustakaan yang mati.
Dan tidak berceloteh, Bicara sih, mudah. Praktiknya susah. ]]
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
