SEPI APRESIASI DI GURUSIANA, KETIKA PENULIS ENGGAN MEMBACA
SEPI APRESIASI DI GURUSIANA, KETIKA PENULIS ENGGAN MEMBACA
* Kas Pani
Beberapa hari lalu, saya kembali membuka Gurusiana, platform berbagi tulisan yang dulu begitu hangat dengan interaksi. Saya scroll, scroll, dan scroll lagi. Harapan saya sederhana, ingin menemukan diskusi, komentar, atau setidaknya tanda like yang menghidupkan setiap unggahan.
Tapi yang saya temukan? Nol. Kosong. Sepi.
Halaman demi halaman artikel terpampang tanpa satu pun respons. Padahal, tulisan-tulisan itu sudah mengendap berhari-hari, mungkin menunggu siapa tahu ada yang membaca dan merasa tersentuh. Tapi tidak ada yang datang.
Bukannya saya tidak paham. Saya sadar betul, membaca, menyukai, apalagi mengomentari tulisan orang lain, itu sepenuhnya hak pembaca. Jika seseorang merasa terhibur, tercerahkan, atau bahkan tidak setuju dengan sebuah tulisan, wajar jika ia bereaksi. Tapi yang terjadi sekarang, reaksi itu seolah mandek. Seperti semua orang yang bergabung di Gurusiana hanya ingin menulis, tetapi tidak tertarik membaca karya sejawatnya.
Padahal, seorang penulis yang baik sudah semestinya juga seorang pembaca yang baik. Tidak ada penulis hebat yang tumbuh tanpa merendahkan hati untuk membaca. Dulu, ketika saya pertama kali bergabung, setiap kali tulisan naik tayang, nyaris tak pernah sepi dari komentar, like, atau sekadar sapaan singkat. Ada kehangatan yang membuat semangat menulis terus menyala.
Kini, yang tersisa hanya "cuek bebek" dan rasa masa bodoh terhadap tulisan orang lain. Masing-masing sibuk menjadi narsis di tulisannya sendiri, melupakan bahwa literasi tumbuh bukan dari keegoisan, melainkan dari kebiasaan saling menyimak.
Benar, judul yang menarik memang penting. Tapi bukan hanya itu. Apresiasi terhadap sebuah tulisan, entah positif atau negatif, lahir dari kesadaran bahwa dari tulisan orang lain, kita bisa mendapat informasi, ilmu, bahkan hiburan. Dan jika kesadaran itu mati, maka literasi pun akan mandek. Bukan berkembang, tetapi justru berjalan di tempat.
Gurusiana dulu adalah ladang subur untuk bertukar gagasan. Sekarang, saya bertanya-tanya, apakah para penulis di sana masih peduli membaca? Atau semua hanya ingin didengar, tanpa pernah mau mendengar?
Jika iya, maka jangan heran jika kemudian setiap unggahan hanya menjadi monumen sepi di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Karena literasi sejati tak pernah berjalan searah. Ia selalu butuh dua mata yang membaca, dan satu hati yang merespons.]]
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
