SOLO, LIDAH PUN HARUS BERADAPTASI
SOLO, LIDAH PUN HARUS BERADAPTASI
* Kas Pani
Pesawat mendarat mulus di Bandara Adi Sumarmo, Solo. Ketika itu, senja mulai berganti malam. Saya memesan Grab langsung menuju hotel. Tak perlu repot check-in, Mas Gilang dari Nyalanesia sudah mengurus semuanya. Tinggal ambil kunci.
"Kamarnya di lantai tiga, Mas," ujar petugas hotel sambil menunjuk ke arah lift.
Tuss. Saya menekan tombol. Pintu lift menutup perlahan.
Tiga kosong enam. Nomor itu tergenggam erat. Kamar bersih, rapi. Saya berbenah sebentar, melepas lelah, lalu perut mulai bersuara. Waktunya mencari makan.
Di depan hotel, sederet warung tenda masih terang. Lampu temaram menerangi meja-meja plastik. Menunya beragam, tapi saya memilih aman, nasi putih dengan ikan gurami goreng. Tak lama, pesanan tiba.
Tapi ternyata, ada yang aneh. Rasa manis menyergap lidah. Bukan manis alami, tapi seperti ada gula berlebih. Saya orang yang terbiasa dengan makanan rumah, asin, gurih, sedikit pedas. Ini terlalu jauh.
Ah, tapi perut sudah keroncongan. Saya paksa menelan. Sesaat kemudian, perut mulai protes. Lemas, mual, tak nyaman. Saya berhenti sebelum semuanya keluar.
Solo memang kota kuliner. Malam hari, warung-warung tenda berjejer di trotoar dan taman, menawarkan segalanya. Tapi bagi lidah yang terbiasa dengan cita rasa tertentu, mencari makanan yang cocok adalah perjuangan.
Pengalaman pahit terulang di malam lain. Saya terlambat makan. Perut kosong, cacing-cacing di dalamnya seakan sudah mulai menendang. Di meja hanya tersedia camilan kecil. Tak cukup sebagai pengganjal. Saya tipe orang yang belum merasa "makan" kalau nasi belum masuk ke perut.
Lalu muncul kudapan, nasi berbentuk tumpeng mungil dengan lauk yang entah apa namanya.
Tanpa pikir panjang, saya santap. Tidak butuh waktu lama untuk menyesal. Rasa tak enak menjalar di ulu hati. Entah karena asam lambung yang kambuh akibat perut kosong atau karena makanan itu sendiri. Saya tak tahu.
Sampai acara usai dan saya kembali ke hotel, badan terasa berat. Perut kembung dan berangin. Semalaman saya bolak-balik di tempat tidur, tak bisa memejamkan mata.
Pagi harinya, saya keluar lagi, lapar tapi ada rasa takut. Di ujung jalan ada penjual soto. Saya duduk, berharap ini berbeda.
Ternyata, lagi-lagi manis. Dalam kondisi tubuh yang tak fit, hampir saja saya muntah. Untung tak keterusan.
Saya melihat seorang tukang becak sedang mangkal di tepi jalan. Wajahnya ramah, khas Solo.
"Pak, tahu warung Padang yang dekat sini?"
Dia mengerutkan dahi sebentar, lalu menunjuk ke arah beberapa lampu jalan yang samar di kejauhan.
"Di seputaran sini, Mas, tak ada. Harus agak jauh."
Hati saya kecil merintih. Penderitaan lagi.
Hari-hari berikutnya, perut tak kunjung damai. Rasa sesak dan mual terus menemani setiap acara. Akhirnya, saya menyerah. Harus berobat jalan ke rumah sakit dekat hotel.
Di ruang tunggu, saya termenung. Solo indah, orang-orangnya ramah, tapi perut saya seperti belum diajak berdamai dengan kota ini.
Seorang perawat memanggil nama saya. Saya tersenyum getir.
Inilah perjalanan. Semuanya harus beradaptasi, termasuk rasa lidah.]]
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
