TIDAK PERLU MENIRU MASA LALU, KUNJUNGAN KE MUSEUM RADYA PUSTAKA SOLO
Oleh : Kas Pani
Solo, kota yang adem, tidak berisik, namun hangat di ingatan. Di sela bunyi terompet kereta api yang sayu dikejauhan, aku langkahkan kaki menuju gedung tua, ada se sosok berbentuk batu depannya, patung Ronggawarsito, Museum Radya Pustaka namanya.
Aku ke sini, bukan hendak menjadi penyalin masa lalu, dan bukan pula karena ingin meniru jejak para pendahulu yang dikatakan agung itu. Tetapi, karena ada kenikmatan rahasia saat memahami jejak dan karya mereka.
Memasuki museum, ada aroma mistis, apakah itu wangi buku-buku lawas dan kain-kain usang menyambut, atau besi-besi berkarat dalam bentuk tombak, gamelan, patung-patung batu kuno yang ingin bersuara. Entahlah... .
Aku ingat pada narasi dan imajinasi yang menggantung di benakku, bukan melulu soal masa lalu yang jejaknya tidak mudah ditiru. Oleh siapa? Siapapun.
Lalu mengapa aku datang? Mengapa pula aku masih perlu menyusuri lorong-lorong penuh debu masa lalu itu ?
Jawabannya sederhana. Di dalam etalase kaca, tersimpan naskah-naskah lontar, wayang kulit, dan keris-keris yang tak lagi dipakai untuk menaklukkan musuh. Semua itu bukanlah panduan hidup yang kaku. Melainkan cermin. Ketika aku berdiri di depan topeng-topeng Panji, aku tak ingin meniru bagaimana Panji jatuh cinta, tetapi aku bisa merasakan getar rindu yang sama. Ketika mataku menatap tulisan Jawa pada lembaran usang, aku tak perlu meniru aksara itu, tetapi aku bisa menikmati bagaimana setiap lengkungannya menari di atas lilin dan lidi.
Di sudut ruang, seorang perempuan separuh umur, menjelaskan tentang gamelan kuno kepada murid berpakaian abu-abu putih.
Ibu itu berkata, " Suaranya berbeda dengan gamelan sekarang. Tidak bisa ditiru karena perunggunya sudah berusia ratusan tahun. ”
Dengan ekor mata aku lihat, anak-anak itu mengangguk, lalu tersenyum. Bukan karena mereka hendak memainkan gamelan itu, tetapi mereka ingin memahami bahwa setiap nada menyimpan cerita tentang hujan, doa, dan kerajaan yang telah runtuh.
Aku pun duduk di teras museum. Angin dari depan menampar wajahku. Di jalan raya, warga Solo masih bergerak cepat dengan motornya. Namun di dalam sini, waktu berjalan seperti sungai yang tenang. Aku sadar, kunjunganku bukanlah ziarah untuk meniru. Bukan pula untuk membandingkan masa lalu dengan masa kini.
Aku datang hanya ingin menikmati bagaimana rasa takut manusia dulu diukir pada arca penjaga pintu, bagaimana rindu ditulis pada tembang Macapat, dan bagaimana kemenangan dirayakan tanpa memandang siapa yang kalah.
Menjelang pulang, aku berhenti di gerbang museum. Aku alihkan tatapan kembali ke belakang, seorang pemuda tengah memfoto patung yang berdiri di sisi kiri - kanan museum dengan ponselnya. Aku tersenyum. Dia tak mungkin meniru arsitek seniman yang membentuknya. Tapi mungkin, seperti aku, dia sedang menikmati sebuah misteri indah, bahwa karya-karya besar tidak perlu ditiru untuk bisa dirasakan. Cukup dipahami dan dinikmati.
Solo, 22 Mei 2026.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
