RINDU PENGORBANAN SEPERTI EKALAYA
RINDU PENGORBANAN SEPERTI EKALAYA
* Kas Pani
Saya tidak begitu suka nonton wayang, apalagi wayang kulit. Tapi, sangat menggemari cerita pewayangan yang ditulis di buku - buku.
Saya pernah baca sebuah skrip, relasi seorang resi dengan muridnya yang penuh bakti, rasa hormat, dan pengabdian totalitas kepada gurunya.
Adalah Ekalaya yang rela memotong jarinya sendiri sebagai bentuk pengorbanan untuk Resi Drona.
Kisah Ekalaya dan Drona adalah salah satu episode paling tragis dan penuh dilema dalam epik Mahabharata. Ini bukan sekadar kisah bakti, tetapi juga tentang ketidakadilan, kasta, dan ambisi politik. Siapa Ekalaya ?
Ekalaya adalah putra dari kepala suku Nishada, suku yang hidup di hutan, sering dianggap di luar kasta atau " lowborn " dalam struktur sosial masa itu. Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi pemanah terhebat di dunia. Ia mendengar bahwa Resi Drona, guru terhebat dalam ilmu perang dan panah, sedang melatih para pangeran Korawa dan Pandawa di istana Hastinapura.
Dengan penuh harapan, Ekalaya mendatangi Drona dan memohon dengan hormat untuk diterima sebagai murid. Namun, Drona menolaknya. Alasannya, Drona telah berjanji hanya akan mengajari para pangeran Hastinapura, dengan menerima Ekalaya akan menimbulkan masalah sosial dan politik. Penolakan ini juga didasari oleh norma kasta yang ketat saat itu.
Hati Ekalaya hancur dengan penolakan itu, tetapi tekadnya tak pudar. Ia menemukan cara lain, yaitu dengan membuat patung tanah liat yang menyerupai Resi Drona, mengenakan jubah dan atribut seorang guru.
Di hadapan patung itu, di tengah hutan, Ekalaya berlatih memanah siang dan malam. Ia menyapa patung itu sebagai " Guruku ", mematuhi semua tata krama seorang murid, dan berlatih dengan disiplin tinggi. Melalui kesungguhan dan baktinya yang luar biasa, Ekalaya menjadi pemanah yang sangat mahir, bahkan mungkin melebihi bakat alam Arjuna, murid kesayangan Drona.
Suatu hari, para pangeran dan Drona berburu di hutan. Anjing peliharaan mereka menggonggong. Tiba-tiba, dari balik semak, meluncur tujuh anak panah berturut-turut yang dengan sangat teratur memasukkan gonggongan anjing itu ke dalam mulutnya tanpa melukainya. Semua terpana melihat keahlian memanah yang luar biasa itu.
Drona dan murid-muridnya mencari sumbernya, dan menemukan Ekalaya. Saat ditanya siapa gurunya, dengan bangga dan tulus Ekalaya menjawab,
"Anda, Guruku! " sambil menunjuk patung Drona yang ia buat.
Drona tercengang, tetapi di hatinya muncul kecemburuan dan kekhawatiran. Ia telah berjanji kepada Arjuna, bahwa Arjuna akan menjadi pemanah terhebat di dunia. Jika Ekalaya ada, janjinya akan terancam. Dalam dilema yang penuh tipu daya, Drona mengakui " status guru " nya, lalu meminta " Guru Dakshina " (upah yang diminta guru setelah ilmu diberikan).
Ekalaya, dengan penuh sukacita karena diakui gurunya, berkata, " Apa pun yang Guru minta, akan kuberikan, bahkan nyawaku sekalipun. "
Drona kemudian berkata, " Berikan aku ibu jari tangan kananmu sebagai guru dakshina. "
Permintaan itu mengerikan. Tanpa ibu jari, seorang pemanah tidak akan bisa lagi menarik busur dan memanah dengan sempurna. Artinya, Drona meminta Ekalaya mengorbankan keahliannya, dan impiannya.
Tanpa ragu, tanpa protes, dan tanpa kebencian, Ekalaya tersenyum. Ia segera menghunus pisau, dan memotong ibu jari kanannya sendiri. Ia menyerahkan jari itu kepada Drona dengan sikap hormat seorang murid.
Dengan itu, karir Ekalaya sebagai pemanah terhebat pun berakhir. Drona pergi, mungkin dengan perasaan lega dan bersalah. Ekalaya, meski cacat, tetap berlatih memanah dengan caranya sendiri, meski tak pernah lagi mencapai kehebatannya yang dulu.
Pengorbanan Ekalaya adalah simbol tertinggi dari bakti seorang murid. Ia membuktikan bahwa penghormatan sejati kepada guru bukan dari pengakuan formal, tetapi dari ketulusan hati dalam belajar dan berbakti.
Dengan alam saat ini, masih adakah Ekalaya - Ekalaya lainnya yang mau berkorban untuk gurunya ? Apakah bukan sebaliknya, guru menjadi " hajaran " muridnya.
Begitu pula seorang guru sejati, semestinya tidak pernah meminta pengorbanan yang menghancurkan potensi terbesar seorang murid.]]
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
