Kas Pani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MENGULIK UNDANGAN ORTU DI SEKOLAH

MENGULIK UNDANGAN ORTU DI SEKOLAH

MENGULIK UNDANGAN ORTU DI SEKOLAH

* Kas Pani

Di sebuah sekolah, tidak perlu disebutkan namanya, beberapa guru curah hati atas kurang pedulinya orang tua terhadap proses belajar anaknya.

" Orang tua di sekolah ini, kurang peduli, Pak! "

" Jika diundang rapat sering tidak hadir, murid sering terlambat dengan telat bangun, di kelas ngantuk, dan melawan guru, " Cerita guru dengan nada lelah.

Komplain di atas, hanya beberapa titik masalah yang dihadapi guru. Belum lagi daya serap belajar, murid yang bingung dengan perkalian dan pembagian, atau PR yang tidak dikerjakan. Kalau dirinci kata si guru, bosan bacanya.

Kata si guru, " seakan-akan, kami bertempur sendiri. Pada hal kami sudah mengajar sepenuh hati, sementara sampai di rumah lenyap begitu saja tanpa bekas. "

Tapi, sesekali mari kita balik kacamata.Tidak perlu melulu salahkan orang tua. Mari kita sempatkan merefleksi diri, sudah sesering apa guru- guru kita menghubungi orang tua murid. Jika boleh jujur, Rata-rata komunikasi guru dengan ortu murid biasanya ketika murid ada masalah, apa karena bolos, berkelahi, di bully atau membully, dan membuat onar di kelas, lalu setelah itu diam, menunggu masalah berikutnya.

Di suatu hari, ada ortu murid yang komplain pada saya, setiap WA yang ia terima dari sekolah, selalu berita yang kurang mengenakkan, yang membuat dadanya berdegup kencang. Baginya, ponsel sepertinya menjadi simbol ancaman, bukan kemitraan.

" Akibatnya, saya mulai menarik diri, bukan karena tak peduli, tapi karena lelah selalu menjadi tersangka di mata sekolah. Apakah guru tidak punya cara komunikasi yang lebih manusiawi? Tanyanya ingin tahu.

Saya sempat tercenung, tak mampu menjawab. Lalu saya minta pendapatnya, " Sebaiknya, cara terbaik bagaimana yang harus dilakukan. "

Karena saya yakin ia punya saran. Ia jelaskan masalahnya hanya persoalan komunikasi.

" Apa salahnya, kalau menelepon, katakan, Pak maaf mengganggu. Saya ingin bertanya, sebenarnya anak bapak kalau belajar di rumah suka pakai cara apa? Apa ia lebih mudah paham kalau dibacakan atau dengan cara menulis ulang? Supaya saya bisa menyesuaikan metode di kelasnya. "

Kalimat itu tidak butuh lama, hanya butuh tiga menit. Tapi dampaknya luar biasa. Orang tua merasa dihormati, diajak berpikir, dan menjadi mitra bukan sebagai objek laporan. Si orang tua tidak disudutkan, tapi digandeng. Dari sinilah, lahir percakapan jujur, penyebab anak mengantuk di kelas, bukan karena malas, tapi karena lelah, PR yang tidak dikerjakan, bukan karena bandel, tapi karena tidak ada meja belajar yang nyaman di rumah.

Jujur saja, yang hilang selama ini bukannya tidak peduli, melainkan lenyapnya undangan untuk peduli bersama. Diibaratkan, guru dan ortu, dua sayap burung yang serupa. Jika satu sayap dipukul dengan tuduhan, dan syap lain dijaga jarak, burung itu tak akan pernah terbang. Tapi jika keduanya saling memahami irama dan beban masing-masing, maka anak yang berada di tengah akan melayang dengan percaya diri.

Sesekali sebelum menyalahkan ortu yang cuek, coba tanyakan ke diri sendiri, " Apakah saya sudah cukup sering menghubungi mereka untuk hal-hal baik? Atau hanya diundang saat ada masalah? " ]]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post