Kas Pani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
ORANG TUTUPAN

ORANG TUTUPAN

ORANG TUTUPAN

* Kas Pani

Dengan berbisik Ayah mengingatkan kami, murid-murid yang baru naik ke kelas tiga Sekolah Rakyat agar tidak jauh-jauh bermain. Sudah tiga hari ini, ada " pendatang baru " ke kampung kami, rambutnya gondrong, bertato naga di bahu dan lengan kirinya. Kulitnya berwarna gelap dengan tatapan yang sangat tajam. Ayah mengatakan ia pelarian dari sebuah rumah tutupan di Medan. .

Rumah tutupan kira-kira sama dengan penjara saat ini. Sedangkan yang meringkuk di dalamnya disebut orang tutupan, narapidana kira-kira begitu.

Beberapa dari kami, tidak percaya dengan cerita Ayah, termasuk aku. Hingga pada suatu hari, ketika beberapa orang kami mandi-mandi di Sungai Ujung Tanah yang airnya bening, tidak keruh seperti sekarang, di dekat Umpo sebuah kebun kelapa tanpa penghuni, di kejauhan terlihat seseorang yang cirinya digambarkan Ayah beberapa hari lalu, memanggil-manggil kami dengan tangannya. Kami yang lagi asyik berenang dan mencumbratkan air terkejut.

" Liek tu, ado mangimbo-imbo kito, " Leman berteriak sambil menunjuk ke arah kebun kelapa. Betul, di sana ada seorang laki-laki sedang berdiri dengan mengibarkan tangannya ke arah kami.

Kami saling berpandangan, aku teringat cerita ayah, tentang Orang Tutupan. Bergegas aku mengajak teman-teman naik ke darat tanpa sempat mengenakan pakaian. Masing-masing kami memegang celana dan baju sambil berlari. Buran yang paling kecil menangis ketakutan.

Kami berkumpul di belakang masjid persis dekat pohon kelapa condong ke sungai dengan nafas terengah-engah. Kami kembali memakai baju dan celana setelah sempat sesaat bertelanjang bulat. Untung saja, tidak ada teman perempuan yang melihat. Kalau tidak betapa malunya akan diolok-olok mereka di sekolah.

Setelah merasa aman, kami menuju lapau kopi Ayah. Aku menceritakan yang baru saja kami alami.

" Batat kalian lagi, " Ucap Ayah dongkol.

" Sekarang lagi banyak pembangunan jembatan, jadi butuh kepala anak-anak untuk ditanam di kepala jembatan agar tidak mudah rubuh. " Ayah menyebut pemburu kepala manusia itu dengan Jogak.

" Berarti, yang memanggil-manggil kami tadi Jogak, Yah? " Aku menimpali cerita ayah.

" Bisa jadi, ia Jogak yang awalnya sebagai orang tutupan, " Jawab Ayah yang membuat kami semakin ketakutan.

Besoknya orang ramai-ramai lewat di depan lapau Ayah, menggiring seorang laki-laki dengan tangan digari. Ada seorang polisi memegangnya. Lelaki ini persis sama dengan yang diceritakan Ayah beberapa waktu lalu. Tato Naganya jelas terlihat dan matanya seperti pisau tajamnya. ]]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post