SELENDANG MENDIANG ISTRI
SELENDANG MENDIANG ISTRI
Oleh: Kas Pani
Ke mana pun lelaki itu pergi, selendang tersebut tak pernah lepas dari tubuhnya, dililitkan rapi di leher melingkupi kepala, serupa jilbab perempuan. Di atasnya, bertengger sebuah songkok yang tertutup sorban. Semuanya adalah peninggalan almarhumah istrinya. Tak lupa, semprotan parfum beraroma melati selalu merebak dari pakaiannya setiap kali ia melangkah keluar rumah, meninggalkan jejak harum hingga beberapa meter ke belakang.
Sementara itu, di beranda rumah, pojok-pojok gang, hingga pasar kaget tempat Bang Maman mangkal dengan gerobak sayurnya, ibu-ibu hebring sibuk bergosip.
"Lihat tuh! Teungku kita belum move on juga," cetus seorang perempuan dengan nada sinis, menunjuk lelaki yang sedang berjalan menuju musala kecil untuk shalat Dhuha.
Padahal, bisa saja perempuan itu hanya iri. Cinta sedalam yang dimiliki lelaki itu adalah jenis kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Sejak Esti meninggal enam bulan lalu, Kaher,lelaki jangkung kurus bersuara lembut itu, memang tak pernah absen mengenakan atribut peninggalan sang istri.
"Terasa dekat jika aku mengenakan selendang ini. Rinduku rasanya sedikit terobati," ungkap Kaher pada suatu senja ketika kami berjalan menuju masjid. Padahal, aku sama sekali tak pernah menanyakan alasannya.
Aku dan beberapa teman sempat menyarankan agar ia mau menjalani ritual cerai sumangek,cara tradisional di kampung kami untuk melepaskan bayang-bayang orang yang telah wafat. Namun, saran itu ia tolak mentah-mentah.
"Mengapa rasa kasih dan sayang harus dipisahkan? Bukankah mencintai itu wajar?" alasannya dengan suara lirih.
"Aku hanya mengingat Esti, apakah itu salah?" lanjutnya dengan nada retoris yang memendam emosi.
"Tidak ada yang salah, Her."
"Lantas, mengapa orang-orang menjadikannya gunjingan?"
Sabri, temanku, berusaha menepuk bahu Kaher dan meyakinkannya. "Realistis saja, Bro. Istrimu sudah meninggal, kau harus mengikhlaskannya."
"Kamu harus bisa menerima kenyataan ini. Kalau tidak bisa melupakan sepenuhnya, setengahnya pun cukuplah. Kau tidak bisa terus-terusan begini, terlihat tidak normal di mata orang," tambah Sabri lagi.
Wajah Kaher seketika memerah padam, menyatukan rasa malu dan kepedihan yang teramat sangat.
"Aku tidak mungkin melupakan Esti. Aku akan selalu mengingatnya," ucap Kaher pelan seraya menundukkan kepala.
Melihat responsnya, aku dan Sabri tak tega lagi mendebat. Kami sadar, duka mendalam telah mengguncang jiwa Kaher. Kematian orang yang paling dicintai menanamkan kenangan yang terlalu dalam di benaknya, mustahil terhapus dalam waktu singkat. Bagi Kaher, merawat ingatan tentang Esti ibarat menikmati pertunjukan musik yang menenangkan dan menghibur jiwanya yang sepi.
Sejak hari itu, tiap kali bertemu Kaher, kami tak pernah lagi mengusik penampilannya. Kami membiarkannya menikmati tiap jengkal kenangan bersama mendiang istrinya.
Dalam beberapa kesempatan, kulihat Kaher tersenyum dan tertawa sendiri. Di saat lain, ia tiba-tiba menangis sesenggukan. Aku dan Sabri tak lagi bergairah untuk menanyakan alasan di balik tawa maupun air matanya.
Namun, memasuki dua bulan terakhir, ada yang berubah. Aroma melati yang biasa merebak kini berganti bau apek yang menyengat. Kaher mulai jarang mandi dan membiarkan tubuhnya kotor. Songkok, sorban, dan selendang peninggalan Esti yang dulu bersih kini menghitam dan lusuh. Ia tak lagi peduli untuk mencucinya.
Kaher perlahan benar-benar kehilangan pikiran normalnya. Sore itu, di bawah rindangnya pohon beringin di alun-alun kota, kulihat ia duduk sendirian, tertawa, tersenyum manis, lalu sejurus kemudian menangis histeris memeluk selendang kusamnya.]]
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
