Kunci yang Tak Terambil.
* Kas Pani
Andri menghentikan langkahnya. Tangannya yang hampir menyentuh kunci mobil di gantungan itu perlahan ditarik kembali, seolah ada kekuatan tak terlihat menahan.
"Batalkan saja," bisiknya pada diri sendiri.
Namun hatinya berperang. Ada dua suara yang saling bertarung di dadanya, satu mendesak agar ia berangkat, satu lagi menahan dengan alasan yang tak bisa ia bantah.
Ia terduduk lemas di kursi kerjanya. Rasa ragu kembali mengusik batinnya, menusuk-nusuk seperti jarum halus yang tak terlihat.
"Batal."
Kata itu akhirnya keluar, membawa kelegaan sekaligus luka yang aneh. Hatinya memilih untuk tidak hadir di pesta itu. Ada yang akan tersakiti jika ia pergi. Dan mengalah, meski berat pilihan yang lebih baik.
Jemarinya perlahan melepas kancing kemeja batik yang sedari tadi ia kenakan. Kemeja itu ia gantungkan kembali dengan hati-hati, lalu digantinya dengan kemeja kerja biasa. Seolah dengan melepas pakaian itu, ia juga melepas semua kerinduan yang sempat menggebu.
Sebenarnya, undangan itu datang tiga hari lalu. entah siapa yang mengantarnya, tiba-tiba saja muncul di meja kerjanya. Nama Rudi dan Meli tertera jelas di sana sebagai yang mengundang, Meli nama yang sudah lama ia kubur dalam-dalam, kini yang membuat jantungnya berdebar kembali.
Anak mantan pacarnya akan menikah. Dan Meli, perempuan yang dulu pernah mengisi hari-harinya saat masih di bangku kuliah, sebagai ibu dari mempelai.
Andri ingin sekali bertemu. Ingin melihat bagaimana Meli setelah bertahun-tahun tak bersua. Ingin tahu apakah senyumnya masih sama, apakah tawanya masih sehangat dulu. Rasa penasaran itu membakar dadanya, membuatnya nyaris tak bisa tidur beberapa malam terakhir.
Tapi setiap kali bayangan Meli muncul, bayangan lain menyusul wajah Nita, istrinya.
Nita sedang sakit. Nita sedang berjuang dalam proses penyembuhannya. Nita yang setiap pagi masih tersenyum lemah padanya, meski tubuhnya lemah dan rambutnya mulai menipis karena pengobatan.
Bagaimana perasaannya jika tahu aku pergi, hadir di pesta itu ?
Pertanyaan itu menghantam Andri seperti gelombang yang tak bisa ia hindari. Ia tahu Nita tak akan melarang. Nita terlalu baik untuk itu. Tapi justru karena itulah Andri merasa semakin tak tega. Jika Nita tahu ia hadir di pesta pernikahan anak mantan pacarnya, perempuan yang dulu pernah ia cintai.
Mungkin Nita akan tersenyum dan berkata, "Pergilah, tidak apa-apa." Tapi Andri tahu, di balik senyum itu, pasti ada luka yang tersembunyi. Luka yang mungkin tak akan pernah Nita tunjukkan, tapi akan menggerogotinya perlahan.
Andri menatap ponselnya. Ada pesan dari teman kuliahnya yang juga diundang.
"Bro, jadi berangkat? Nanti kita ketemu di sana. Banyak teman lama yang datang. "
Jempol Andri menggantung di atas layar. Ia ingin membalas, tapi kata-kata apa yang harus ia tulis?
"Maaf, aku tidak bisa datang."
"Istriku sedang sakit."
"Aku takut menyakiti seseorang."
Semua alasan itu terasa benar, tapi juga terasa seperti pelarian. Andri menghela napas panjang, lalu meletakkan ponselnya tanpa membalas.
Ia menoleh ke arah pintu kamar. Di sana, Nita sedang tidur. Obat-obatan membuatnya cepat lelah akhir-akhir ini. Andri berdiri, berjalan perlahan ke kamar, dan membuka pintu dengan hati-hati.
Nita terbaring di ranjang, wajahnya pucat tapi tenang. Napasnya teratur, damai. Andri duduk di sisi ranjang, menatap wajah istrinya lama-lama.
Inilah pilihanku, batinnya. Bukan masa lalu, tapi masa kini. Bukan Meli, tapi Nita.
Ia meraih tangan Nita dan menggenggamnya lembut. Dalam tidurnya, Nita seperti merasakan kehadiran suaminya. Sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyum tipis yang membuat hati Andri menghangat.
"Maafkan aku," bisik Andri pelan.
"Maafkan karena sempat ragu."
Ia menundukkan kepala, mencium kening Nita dengan penuh kasih. Di luar, undangan itu masih tergeletak di meja kerja. Tapi Andri sudah mengabaikannya. Ia sudah ada pilihan.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga hari terakhir, hatinya terasa tenang.
Malam itu, Andri mengirim pesan singkat pada temannya.
"Maaf bro, aku tidak bisa datang. Istriku sedang sakit. Titip salam untuk semua."
Hatinya terasa lega.]]
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
